PRESENTASI BANTALAN 2012

23
BEARING MOUNTING AND MAINTENANCE

Transcript of PRESENTASI BANTALAN 2012

Page 1: PRESENTASI BANTALAN 2012

BEARING MOUNTING AND MAINTENANCE

Page 2: PRESENTASI BANTALAN 2012

BANTALAN/BEARING1. PENGERTIAN : Bantalan merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang peranan cukup penting karena fungsi dari bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup kuat untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik.

Page 3: PRESENTASI BANTALAN 2012

2. KLASIFIKASI BANTALANPada umumya bantalan dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu:a. Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros • Bantalan luncurPada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantaraan lapisan pelumas.• Bantalan gelindingPada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola, rol, dan rol bulat.

b. Berdasarkan arah beban terhadap poros• Bantalan radialArah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak lurus sumbu.• Bantalan aksialArah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros.• Bantalan gelinding khususBantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros.Meskipun bantalan gelinding menguntungkan, Banyak konsumen memilih bantalan luncur dalam hal tertentu, contohnya bila kebisingan bantalan menggangu, pada kejutan yang kuat dalam putaran bebas.

Page 4: PRESENTASI BANTALAN 2012

Bantalan luncur

Page 5: PRESENTASI BANTALAN 2012

1) Roller Bearings:

Bantalan gelinding

Page 6: PRESENTASI BANTALAN 2012

2) Ball Bearings:

Page 7: PRESENTASI BANTALAN 2012

3) Thrust Bearings:

Page 8: PRESENTASI BANTALAN 2012

Tapered Thrust Bearings

Cylindrical Thrust Bearings

Spherical Thrust Bearings

Roller Thrust Bearings

Page 9: PRESENTASI BANTALAN 2012

3. PEMBACAAN NOMOR NOMINAL PADA BANTALAN GELINDINGNomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan nomor pelengkap. Nomor dasar yang ada merupakan lambang jenis, lambang ukuran(lambang lebar, diameter luar).Bagian Nomor nominalA B C DA menyatakan jenis dari bantalan yang ada.Jika A berharga0 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, double row.1 maka hal tersebut menunjukkan jenis Self-aligning ball bearing.2 maka hal tersebut menunjukkan jenis spherical roller bearings and spherical roller thrust bearings.3 maka hal tersebut menunjukkan jenis taper roller bearings.4 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, double row.5 maka hal tersebut menunjukkan jenis thrust ball bearings.6 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, single row.7 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, single row.8 maka hal tersebut menunjukkan jenis cylindrical roller thrust bearings.

Page 10: PRESENTASI BANTALAN 2012

B menyatakan lambang diameter luar.Jika B berharga 0 dan 1 menyatakan penggunaan untuk beban yang sangat ringan.Jika B berharga 2 menyatakan penggunaan untuk beban yang ringan.Jika B berharga 3 menyatakan penggunaan untuk beban yang sedang.Jika B berharga 4 menyatakan penggunaan untuk beban yang berat.C dan D menyatakan lambang diameter dalamUntuk bearing yang berdiameter 20 - 500 mm, kalikanlah 2 angka lambang tersebut untuk mendapatkan diameter lubang sesungguhnya dalam mm. Nomor tersebut biasanya bertingkat dengan kenaikan 5 mm tiap tingkatnya.

LANJUTAN PEMBACAAN NOMOR NOMINAL PADA BANTALAN GELINDING

Page 11: PRESENTASI BANTALAN 2012

CONTOH : PEMBACAAN KODE BANTALAN

Page 12: PRESENTASI BANTALAN 2012

4. Penyebab-penyebab kerusakan pada bearing:1. Kesalahan bahan faktor produsen: yaitu retaknya bantalan setelah produksi baik retak halus maupun

berat, kesalahan toleransi, kesalahan celah bantalan. o faktor konsumen: yaitu kurangnya pengetahuan tentang karakteristik pada bearing.

2. Penggunaan bearing melewati batas waktu penggunaannya (tidak sesuai dengan petunjuk buku fabrikasi pembuatan bearing).

3. Pemilihan jenis bearing dan pelumasannya yang tidak sesuai dengan buku petunjuk dan keadaan lapangan (real).

4. Pemasangan bearing pada poros yang tidak hati-hati dan tidak sesuai standart yang ditentukan. Kesalahan pada saat pemasangan, diantaranya: o Pemasangan yang terlalu longgar, akibatnya cincin dalam atau cincin luar yang

berputar yang menimbulkan gesekan dengan housing/poros. o Pemasangan yang terlalu erat, akibatnya ventilasi atau celah yang kurang sehingga

pada saat berputar suhu bantalan akan cepat meningkat dan terjadi konsentrasi tegangan yang lebih.

o Terjadi pembenjolan pada jalur jalan atau pada roll sehingga bantalan saat berputar akan tersendat-sendat.

Page 13: PRESENTASI BANTALAN 2012

5. Terjadi misalignment, dimana kedudukan poros pompa dan penggeraknya tidak lurus, bearing akan mengalami vibrasi tinggi. Pemasangan yang tidak sejajar tersebut akan menimbulkan guncangan pada saat berputar yang dapat merusak bearing. Kemiringan dalam pemasangan bearing juga menjadi faktor kerusakan bearing, karena bearing tidak menumpu poros dengan tidak baik, sehingga timbul getaran yang dapat merusak komponen tersebut.

6. Karena terjadi unbalance (tidak imbang), seperti pada impeller, dimana bagian-bagian pada impeller tersebut tidak balance (salah satu titik bagian impeller memiliki berat yang tidak seimbang). Sehingga ketika berputar, mengakibatkan putaran mengalami perubahan gaya disalah satu titik putaran (lebih terasa ketika putaran tinggi), sehingga berpengaruh pula pada putaran bearing pada poros. Unbalance bisa terjadi pula pada poros, dan pengaruhnya pun sama, yaitu bisa membuat vibrasi yang tinggi dan merusak komponen.

7. Bearing kurang minyak pelumasan, karena bocor atau minyak pelumas terkontaminasi benda asing dari bocoran seal gland yang mempengaruhi daya pelumasan pada minyak tersebut.

Page 14: PRESENTASI BANTALAN 2012

5. Cara mengatasi kerusakan pada bearing:1. Melakukan penggantian bearing sesuai umur waktu kerja yang telah ditentukan.

2. Mengganti bearing yang sesuai dengan klasifikasi kerja pompa tersebut.

3. Melakukan pemasangan bearing dengan hati-hati sesuai standar yang telah

ditentukan.

4. Melakukan alignment pada poros pompa dan penggeraknya.

5. Melakukan tes balancing pada poros dan impeller.

6. Memasang deflektor pada poros dan pemasangan rubber seal pada rumah

bantalan dan perbaikan pada seal gland, untuk mengantisipasi kebocoran.

Page 15: PRESENTASI BANTALAN 2012

6. Proses pemasangan bearing.- Proses balancing. Pemasangan bearing pada komponen mesin, komponen

tersebut pertama-tama harus benar-benar balance agar bearing dapat bertahan

dengan baik.

- Alignment (pengaturan sumbu poros pada mesin harus benar-benar sejajar).

- Proses pemberian beban. Pemberian beban ini harus sesuai dengan jenis bearing

yang digunakan apakah itu beban radial atau beban aksial.

- Pengaturan posisi bearing pada poros.

- Clearance bearing. Metode pemasangan dan peralatan yang digunakan.

- Toleransi dan ketepatan yang diperlukan. Pada saat pemasangan bearing pada

poros, maka toleransi poros pada proses pembubutan harus diperhatikan karena

hal tersebut mempengaruhi keadaan bearing.

Page 16: PRESENTASI BANTALAN 2012

Mounting and Dismounting

Page 17: PRESENTASI BANTALAN 2012

Mounting and Dismounting

Page 18: PRESENTASI BANTALAN 2012

Mechanical method

Page 19: PRESENTASI BANTALAN 2012

Induction Heating

Page 20: PRESENTASI BANTALAN 2012
Page 21: PRESENTASI BANTALAN 2012

The principal types of surface wear are:-

Abrasive wear: It occurs when the bearing is made to operate in an environment with dust, foreign particles, rust or spatter.

Corrosive wear: The corrosion of the surface of bearing parts is caused by the entry of water or moisture and also corrosive elements present in the extreme pressure additives that are added in the lubricating oil. This results in fine wear uniformly distributed over the entire surface.

Page 22: PRESENTASI BANTALAN 2012

Pitting: It is a surface fatigue failure that occurs when the load on the bearing part exceeds the surface endurance strength of the material. This type of failure is characterized by pits, which continue to grow resulting in complete destruction of the bearing surface.

Scoring: Excessive surface pressure, high surface speed and inadequate supply of lubricant result in breakdown of the lubricant film. This results in excessive frictional heat and overheating at the contacting surfaces. Scoring is a stick-slip phenomenon, in which alternate welding and shearing takes place rapidly at high spots.

Page 23: PRESENTASI BANTALAN 2012