PREDIKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN PROPERTY AND REAL ESTATE...

download PREDIKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN PROPERTY AND REAL ESTATE ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/23783/1/PREDIKSI... · real estate which listed in Indonesia stock

If you can't read please download the document

Embed Size (px)

Transcript of PREDIKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN PROPERTY AND REAL ESTATE...

  • 1

    PREDIKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN PROPERTY

    AND REAL ESTATE YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK

    INDONESIA MENGGUNAKAN DISCRIMINANT ANALYSIS

    DAN REGRESI LOGISTIK PERIODE 2007-2010

    SKRIPSI

    Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

    Untuk Memenuhi Syarat-syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

    Oleh:

    IMAS A. AISYAH

    NIM : 109081000008

    FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1434 H/2013

  • 2

    PREDIKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN PROPERTY AND REAL

    ESTATE YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

    MENGGUNAKAN DISCRIMINANT ANALYSIS DAN REGRESI

    LOGISTIK PERIODE 2007-2010

    Skripsi

    Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

    Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

    Oleh:

    IMAS A. AISYAH

    NIM: 109081000008

    Di Bawah Bimbingan

    Pembimbing I, Pembimbing II,

    Prof. Dr. Ahmad Rodoni Dito Rinaldo, SE.,MM

    NIP. 19690203 20112 1 003 NIP.-

    JURUSAN MANAJEMEN

    FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1434 H/2013

  • 3

    LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF

    Hari ini Selasa, 09 April 2013telah dilakukan ujian komprehensif atas mahasiswa:

    Nama : Imas A. Aisyah

    NIM : 109081000008

    Jurusan : Manajemen

    Judul Skripsi : Prediksi KebangkrutanPadaSektorProperty And Real Estate Yang

    Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia : Menggunakan Discriminant

    Analysis, dan Regresi LogistikPeriode 2007-2010

    Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang

    bersangkutan selama proses ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa

    mahasiswa tersebut diatas dinyatakan LULUS dan diberi kesempatan untuk

    melanjutan ke tahap Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

    gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam

    Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Jakarta, 09 April 2013

    1. Utami Baroroh, S.Pi., M.Si NIP: - (Ketua)

    2. Leis Suzanawaty, SE., M.Si

    NIP: 19720809 200501 2004 (Sekretaris)

    3. Titi Dewi Warninda, SE., M.Si

    NIP: 19731221 200501 2002 ( Penguji Ahli)

  • 4

    LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

    Hari ini 22 Juli 2013, telah dilakukan Ujian Skripsi atas mahasiswa:

    Nama : Imas A. Aisyah

    NIM : 109081000008

    Jurusan : Manajemen

    Judul Skripsi : Prediksi KebangkrutanPada Sektor Property And Real Estate

    Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia : Menggunakan

    Discriminant Analysis, dan Regresi LogistikPeriode 2007-2010

    Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang

    bersangkutan selama proses ujian skripsi, maka diputuskan bahwa mahasiswa

    tersebut diatas dinyatakan LULUS dan skripsi ini diterima sebagai salah satu

    syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan

    Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Jakarta,Juli 2013

    1. Prof. Abdul Hamid MS

    NIP: 19570617 1985 03 1 002 (Ketua)

    2. Titi Dewi Warninda, SE., M.Si

    NIP: 19731221 2005 01 2002 (Sekretaris)

    3. Amalia, SE., M.S.M

    NIP: 19740821 2009 01 2 005 ( Penguji Ahli)

    4. Prof. Dr. Ahmad Rodoni

    NIP. 19690203 20112 1 003 ( Pembimbing 1)

    5. Dito Rinaldo, SE.,MM

    NIP :- (Pembimbing 2)

  • 5

    LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

    Yang bertanda tangan di bawah ini :

    Nama : Imas A. Aisyah

    No. Induk Mahasiswa : 109081000008

    Fakultas : Ekonomi dan Bisnis

    Jurusan : Manajemen

    Konsentrasi : Keuangan

    Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya:

    1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan mempertanggungjawabkan.

    2. Tidak melakukan plagiat terhadap naskah karya orang lain. 3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber

    asli atau tanpa ijin pemilih karya.

    4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data. 5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas

    karya ini.

    Jikalau di kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan

    telah melalui pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan, ternyata memang

    ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar peryataan di atas, maka saya siap

    untuk dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan

    Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

    Ciputat, Mei 2013

    Yang Menyatakan,

    (Imas A. Aisyah)

  • 6

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    I. IDENTITAS PRIBADI

    1. Nama : Imas A. Aisyah

    2. Tempat tanggal lahir : Sumedang, 04 Mei 1991

    3. Alamat : Jl. Alpukat 5 Blok E 18 No. 08 RT 004/018

    Benda Baru, Pamulang

    4. Telepon : 087808873734

    5. E-mail : [email protected]

    II. PENDIDIKAN

    1. SDN Sarua X Tahun 1997-2003

    2. SMPN 2 Pamulang Tahun 2003-2006

    3. SMA Muhammadiyah 25 Pamulang Tahun 2006-2009

    4. S1 Ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2009

    III. LATAR BELAKANG KELUARGA

    1. Ayah : Yeye Use

    2. Ibu : Minarsyah

    3. Alamat : Jl. Alpukat 5 Blok E 18 No. 08 RT 004/18 Benda

    Baru, Pamulang

    IV. PENGALAMAN ORGANISASI

    2004:

    Kepanitian Orientasi Siswa SMPN 2 Pamulang.

    Anggota Kesehatan Organisai Intra Sekolah SMPN 2 Pamulang

    2005: Ketua Palang Merah Remaja SMPN 2 Pamulang.

    2006: Anggota Paskibraka SMA Muhammadiyah 25 Pamulang

  • 7

    V. PELATIHAN DAN SEMINAR YANG DIIKUTI

    1. 24 November 2002 : Kursus Bahasa Inggris New Concept English

    Education Centre Level Introduction.

    2. 21Desember 2003 : Kursus Bahasa Inggris New Concept English

    Education Centre Level Pre Beginner.

    3. 20 Mei 2010 : Seminar Nasional Insurance Goes To Campus

    Peran Asuransi Dalam Era Globalisasi.

    4. 11 Juni 2010 : Public Discussion Membangun Brand Image

    Melalui Strategi Public Relation dan Event

    5. 03 Agustus 2010 : Mata Kuliah Praktikum Qira`at dan Ibadah.

    6. 10 Mei 2011 : CAFTA dan Tantangan Ekonomi Kerakyatan

    dalam MenghadapiPerekonomian Global.

    7. 8 Juni 2012 : A Training Course On: Sekolah Pasar Modal

    Basic Training of Fundamental & Technical

    Analysis.

    8. 3 September 2012 : Kuliah Kerja Sosial Bebas Terkendali (KKSBT)/

    Magang

  • 8

    PREDICTION BANKRUPTCY IN SECTOR PROPERTY AND REAL

    ESTATE WHICH LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE: USING

    DISCRIMINANT ANALYSIS AND LOGISTIC REGRESSION PERIOD

    2007-2010

    ABSTRACK

    This research objective is to predict the bankruptcy in sector property and

    real estate which listed in Indonesia stock exchange: using discriminant

    analysis and logistic regression period 2007-2010. Sampling methods used in

    the research was purposive sampling. The hypothesis examination is tested by

    discriminant analysis and logistic regression analysis to determine significant

    differences in financial ratios such as current ratio, leverage ratio, net profit

    margin, debt to equity, operating profit margin, total asset turnover to

    distinguish a group of companies that are considered insolvent andnot

    statistically bankrupt on listed companies in Indonesia stock exchanges in

    sector property and real estate during the period of 2007-2010. The data source

    of this research come from Indonesian Capital Market Directory (ICMD).

    The result of this research showed that the methodology using

    Discriminant analysis and Logistic Regression Analysis where the accuracy of

    the models was 64.35% and 66.2 %. In the logistic regression showed that the

    significant debt to equity that could affect the company's bankruptcy prediction

    Property and Real Estate sector in the period 2007 to 2010. As for the second

    discriminant variable for financial ratio variables can beused that debt to

    equity. The significant level used in this research is 5%

    Key words: bankruptcy, current ratio, leverage ratio, net profit margin, debt to

    equity, operating profit margin, total asset turnover, logistic regression.

    discriminant analysis.

    .

  • 9

    PREDIKSI KEBANGKRUTAN PADA SEKTOR PROPERTY AND REAL

    ESTATEYANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA :

    MENGGUNAKAN DISCRIMINANT ANALYSIS, DAN REGRESI

    LOGISTIKPERIODE 2007-2010

    ABSTRAK

    Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kebangkrutan di sektor

    properti and real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia: menggunakan

    analisis diskriminan dan regresi logistik periode 2007-2010. Metode sampling

    yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Pengujian

    hipotesis diuji dengan analisis diskriminan dan analisis regresi logistik untuk

    mengetahui perbedaan yang signifikan dalam rasio keuangan seperti current,

    rasio leverage, net profit margin, debt to equity, operating profit margin, total

    assets turnover untuk membedakan kelompok perusahaan yang dianggap

    bangkrut dan tidak bangkrut secara statisik pada perusahaan yang terdaftar di

    bursa efek Indonesia dalam sektor property dan real estate selama periode 2007-

    2010. Sumber data penelitian ini berasal dari Indonesian Capital Market

    Directory (ICMD).

    Hasil penelitian ini menunjukan tingkat keakuratan penggunaan metode

    Discriminant Analysis dan Regresi Logistik adalah sebesar 64.35% dan 66.2%.

    Pada regresi logistik menunjukkan bahwa yang signifikan yaitu debt to equity

    yang dapat mempengaruhi prediksi kebangkrutan perusahaan pada sektor

    property and real estate periode tahun 2007 sampai dengan 2010. Sedangkan

    untuk metode Discriminant Analysis menunjukkan variabel rasio keuangan yang

    signifikan adalah debt to equity. Tingkat signifikansi yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah 5%.

    Kata kunci :kebangkrutan , current ratio, leverage ratio, net profit margin, debt to

    equity, operating profit margin, total asset turn over, regresi logistik.

    diskriminan analisis.

  • 10

    KATA PENGANTAR

    Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Puji syukur kehadirat Allah Swt atas limpahan rahmat hidayah dan

    karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

    judul Prediksi Kegagalan PadaSektorProperty And Real Estate Yang Terdaftar

    Di Bursa Efek Indonesia : Menggunakan Discriminant Analysis, Regresi

    LogistikPeriode 2007-2010. Penyususnan skripsi ini dimaksudkan untuk

    memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen

    Keuangan.

    Pada kesempatan kali ini penyususn meyampaikan rasa terimakasih yang

    sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan,

    pengarahan, bimbingan serta memberikan dukungan semangat sehingga dapat

    diajukan dan menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.

    Adapun pihak-pihak tersebut adalah sebagai berikut :

    1. Allah SWT, Alhamdulillah yang selalu memberikan penulis kemudahan.

    Terimakasih atas jalan terbaik-Nya.

    2. Bapak Yeye Use dan Ibu Minarsyah selaku orang tua yang tidak pernah

    berhenti membimbing dan memanjatkan do`a serta selalu mengiringi

    langkahku dengan penuh keikhlasan. Karena restu merekalah penyusun

    dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta untuk saudaraku Maya Lestari yang

    selalu memberikan semangat agar bisa cepat menyelesaikan skripsi ini.

    3. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan

    Bisnis UIN Syarifhidayatullah Jakarta.

    4. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM selaku pembimbing I, yang telah

    memberikan bimbingan, motivasi, arahan kepada penulis dengan tegas dan

    bijaksana sehingga terselesaikan skripsi ini.

    5. Bapak Dito Rinaldo, SE.,MM selaku pembimbing II, yang telah banyak

    membantu dan meluangkan waktunya untuk memberikan arahan kepada

    penulis sehingga terselesaikan skripsi ini.

  • 11

    6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan FEB UIN Jakarta, yang

    telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat.

    7. Maulana Fattah yang selalu sabar dan tidak bosan untuk mendengar segala

    keluh kesah yang dihadapi, serta terimakasih atas semangat dan

    dukungannya yang diberikan kepada penulis.

    8. Teman-teman Manajemen A : Yessika Al Istiqomah, Ati Astuti, Rizanty

    Amanda, Tsurumi Bunga, Selfi Stefani, Raissa Andrawina, Suci Ramida

    dan Tria Raina Pangestu yang selalu memberikan warna kehidupan, dan

    memberikan masukan selama hampir 3 tahun kita bersama dan selebihnya

    sudah jarang bertemu. Walaupun begitu kita akan selalu berteman.

    9. Teman-teman seperjuangan dalam penyusunan skripsi Ika Wulandari,

    Fitria Saraswati, Ade Tiyar, dan Dety Inayati yang telah memberikan

    dukungan serta semangat saat penulis menghadapi kesulitan.

    10. Kepada semua pihak-pihak yang telah banyak membantu dari awal hingga

    skripsi ini selesai dengan baik, yang tidak bisa penulis sebutkan satu per

    satu.

    Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak segala

    kekurangan dan masih jauh dari sempurna, oleh karena itu semua saran dan

    kritik dari pembaca akan diterima guna memperbaiki dan mengembangkan

    penelitian ini.

    Wassaluamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Jakarta, Mei 2013

    Penyusun

  • 12

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

    LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ............................................................. ii

    LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ............................... iii

    LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ............................................... iv

    LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ........................ v

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... vi

    ABSTRACT ........................................................................................................ viii

    ABSTRAK ......................................................................................................... ix

    KATA PENGANTAR ....................................................................................... x

    DAFTAR ISI ..................................................................................................... xii

    DAFTAR TABEL ............................................................................................. xv

    DAFTARGAMBAR........................................................................................xvi

    BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1

    A. LatarBelakang .......................................................................... 1

    B. PerumusanMasalah .................................................................... 12

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................... 13

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 15

    A. Laporan Keuangan ...................................................................... 15

    1. Jenis Laporan Keuangan ....................................................... 17

    2. Tujuan Laporan Keuangan .................................................... 22

    3. Keterbatasan Laporan Keuangan .......................................... 24

    4. Analisis Rasio Keuangan ...................................................... 25

    5. Keterbatasan dari Analisis Rasio .......................................... 30

    B. Teori Kebangkrutan .................................................................... 31

    1. Pengertian Financial Distress ..............................................33

    2. Faktor-faktor Penyebab Kegagalan ......................................39

    3. Masalah Keuangan Tanpa Kebangkrutan .............................42

    4. Pengertian Multiple Discriminant Analysis ..........................43

    5. Pengertian Regresi Logistik .................................................45

  • 13

    C. Penelitian Terdahulu .................................................................48

    D. Kerangka Pemikiran ..................................................................52

    E. Hipotesis Penelitian ...................................................................53

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................... 56

    A. RuangLingkupPenelitian ............................................................. 56

    B. Metode Pengambilan Sampel ...................................................... 57

    C. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 59

    D. Metode Analisis Data ................................................................. 60

    1. Pengujian Statistik Deskriptif ............................................... 60

    2. Uji Asumsi Diskriminan ........................................................ 61

    3. Independent Sample t-Test .................................................... 62

    4. Uji Linearitas ......................................................................... 63

    5. Analisis Diskriminan ............................................................. 63

    6. Analisis Regresi Logistik ...................................................... 66

    E. Variabel Operasional ................................................................... 70

    1. Variabel Dependen ................................................................. 70

    2. Variabel Independen ............................................................. 71

    a. Current Asset ................................................................... 71

    b. Leverage Ratio ................................................................. 71

    c. Net Profit Margin ............................................................ 72

    d. Debt to Equity .................................................................. 72

    e. Operating Profit Margin ................................................. 72

    f. Total Assets Turnover ...................................................... 73

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 74

    A. GambaranUmum Pasar Modal .................................................... 74

    B. Hakikat Pasar Modal ................................................................... 75

    C. Pengembangan Pasar Modal ........................................................ 77

    D. Gambaran Umum Aktivitas Industri Real Estate ........................ 81

    E. Metode Analisis Data................................................................... 82

    1. Statistik Deskriptif ................................................................... 82

    2. Uji Asumsi Diskriminan .......................................................... 84

  • 14

    3. Analisis Diskriminan ............................................................... 87

    4. Analisis Regresi Logistik ........................................................ 95

    5. Ketepatan Dalam Model Prediksi ............................................ 97

    6. Ketepatan Cox & Snell`s R Square and Negelkerke ................ 98

    7. Uji Chi-square ......................................................................... 99

    8. Ketepatan Prediksi Regresi Logistik ....................................... 100

    9. Variabel in the Equation ......................................................... 101

    BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI ............................................... 107

    A. Kesimpulan .................................................................................. 107

    B. Implikasi & Saran ........................................................................ 109

    DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 110

    LAMPIRAN

  • 15

    DAFTAR TABEL

    No. Keterangan Halaman

    1.1 Net Profit Margin Perusahaan Property and Real Estate ............ 7

    2.1 Titik cut-off points Altman ......................................................... 44

    2.2 Penelitian Terdahulu ................................................................... 48

    3.1 Sampel Perusahaan yang diteliti ................................................. 58

    4.1 Pergerakan Pasar Modal di Dunia ............................................. 80

    4.2 Perkembangan Perdagangan Saham di Bursa Efek Indonesia .. 81

    4.3 Hasil Uji Statistik Deskriptif ..................................................... 83

    4.4 Hasil Uji One Sample Kolmogorov-Smirnov Test ..................... 84

    4.5 Hasil Uji Independent Sample t-Test ......................................... 85

    4.6 Hasil Uji Linearitas .................................................................... 86

    4.7 Analysis Case Procassing Summary ......................................... 87

    4.8 Hasil Uji Test Of Equality Of Group Means ............................. 88

    4.9 Variables Entered ...................................................................... 91

    4.10 Wilks` Lambda ......................................................................... 91

    4.11 Eigenvalues ......................................................................... 92

    4.12 Canonical Discriminant Function Coefficients ......................... 93

    4.13 Penentuan titik cut-off ................................................................ 94

    4.14 Hasil Ketepatan Prediksi Model MDA ...................................... 95

    4.15 Hasil Uji Procassing Summary ................................................. 96

    4.16 Hasil Uji Variabel Dependen ..................................................... 96

    4.17 Ketepatan Model Prediksi Kebangkrutan (blok 0) .................... 97

    4.18 Ketepatan Model Prediksi Kebangkrutan (blok 1) .................... 98

    4.19 Hasil Cox & Snell`s and Negelkerke R Square.......................... 99

    4.20 Hasil Uji Chi-Square ................................................................. 100

    4.21 Hasil Prediksi Model Regresi Logistik ...................................... 100

    4.22 Hasil Variables Uji Equation .................................................... 101

  • 16

    DAFTAR GAMBAR

    No. Keterangan Halaman

    2.1 Tahap Financial Distress .......................................................... 37

    4.2 Kerangka Pemikiran .................................................................. 52

  • 17

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Penelitian

    Selama ini, perusahaan didirikan tidak luput dari harapan pemilik

    bahwa perusahaan akan tetap eksis dalam jangka waktu yang lama. Hal

    tersebut sesuai dengan asumsi going concern yang dianut oleh standar

    akuntansi. Tetapi asumsi tersebut tidak selamanya benar. Perusahaan pada

    suatu titik tertentu bisa mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan yang

    dialami perusahaan dapat mengakibatkan kerugian bagi banyak pihak.

    Maka dari itu, banyak penelitian yang dilakukan untuk memprediksi

    kelangsungan hidup perusahaan. Dalam kenyataannya, banyak perusahaan

    yang diprediksi mengalami penurunan masih tetap eksis sampai sekarang.

    Bahkan laporan keuangan mereka menunjukkan adanya peningkatan

    prospek usaha yang dinyatakan sehat. Hal ini membuat ragu apakah

    laporan keuangan itu menunjukkan keadaan perusahaan yang sebenarnya

    (Agnes Widyaningdyah, 2009 : 19-20).

    Kesehatan suatu perusahaan akan mencerminkan kemampuan

    dalam menjalankan usahannya, distribusi aktiva, keefektifan penggunaan

    aktiva, hasil usaha yang telah dicapai, kewajiban yang harus dilunasi dan

    potensi kebangkrutan yang akan terjadi. Masalah keuangan yang dihadapi

    suatu perusahaan apabila dibiarkan berlarut-larut dapat mengakibatkan

    terjadinya kebangkrutan. Beberapa perusahaan yang mengalami masalah

    keuangan mencoba mengatasi masalah tersebut dengan melakukan

  • 18

    pinjaman dan penggabungan usaha, atau sebaliknya ada yang menutup

    usahanya (Wahyu Widarjo, 2009 : 108).

    Kesulitan keuangan merupakan istilah dalam keuangan perusahaan

    yang dipakai untuk menunjukkan kondisi dari harapan yang dapat

    diberikan kepada kreditur sebuah perusahaan ketika perusahaan

    menghadapi resiko kegagalan atau ditimpa kesulitan keuangan. Kadang-

    kadang kesulitan keuangan dapat mendorong kearah kebangkrutan.

    Kesulitan keuangan biasanya berasosiasi dengan berbagai biaya yang

    dipikul perusahaan dan ini dikenal sebagai biaya dari kesulitan keuangan

    (Haming & Imaduddin, 2011 : 24).

    Kebangkrutan perusahaan dapat mempengaruhi yang memiliki

    kepentingan dalam perusahaan termasuk para pemegang saham, pemasok,

    kreditur pelanggan, karyawan, dan manajemen perusahaan itu sendiri.

    Dalam insiden kebangkrutan perusahaan khususnya pada perusahaan yang

    memperkerjakan banyak orang dapat secara signifikan mempengaruhi

    mata pencaharian banyak orang dan perekonomian di mana perusahaan

    tersebut berlokasi. Pemegang saham dan investor dapat menderita

    kerugian ekonomi yang besar karena mereka adalah pihak terakhir yang

    berkepentingan untuk melunasi dalam masalah likuidas perusahaan (Yap

    et.al, 2012 : 332).

    Pada prinsipnya kebangkrutan hanyalah mekanisme hukum yang

    mengizinkan kreditor (yaitu, peminjam) mengambil alih perusahaan ketika

    penurunan nilai asetnya memicu kegagalan pembayaran utang yang ada.

  • 19

    Jika perusahaan tidak membayarkan utangnya, perusahaan diambil alih

    oleh kreditor, yang menjadi pemilik baru; pemegang saham lama tidak

    mendapat apa-apa. Kebangkrutan bukan penyebab penurunan nilai

    perusahaan. Kebangkrutan merupakan hasil penurunan nilai perusahaan

    (Brealey et.al, 2008 : 19).

    Selain itu, perekonomian Indonesia dinilai paling rentan terhadap

    tekanan efek perekonomian terlalu panas atau overheating dan masuk

    jebakan negara berpendapatan menengah alias middle income trap. Hal ini

    dipengaruhi tingginya aktivitas kredit yang sebagian besar bersifat

    konsumtif dan tingginya konsumsi domestik. Ketahanan Indonesia

    terhadap perlambatan ekonomi global dan domestik telah menjadi magnet

    bagi investasi asing dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ekspor yang

    lemah telah menekankan kuartal keempat produk domestik bruto (PDB)

    sebesar 6,1 persen dari tahun lalu, lebih lemah dari yang diharapkan.

    Middle income trap merupakan istilah bagi negara yang berpendapatan

    menengah alias middle-income economies (MIE) yang terjebak diposisinya

    yang tidak bisa melakukan lompatan untuk masuk menjadi negara baru.

    Dengan kata lain, suatu negara telah mencapai suatu level pendapatan

    perkapita tertentu yang relatif makmur, namun tidak mampu lagi

    mempertahankan momentum pertumbuhan yang tinggi. Karena itu, negara

    itu tak kunjung naik level masuk jajaran negara maju (Koran

    Jakarta/Rabu,1 Mei 2013).

  • 20

    Sedangkan penelitian mengenai kebangkrutan pernah dilakukan

    oleh Luciana dan Kristijadi (2003) menunjukkan bahwa rasio-rasio

    keuangan dapat digunakan dalam memprediksi financial distress suatu

    perusahaan. Rasio keuangan yang paling dominan dalam penelitian ini

    adalah net income to sales (NI/S), current liabilities to total assets

    (CL/TA), current asset to current liabilities (CA/CL). Dari hasil

    persamaan logit ini juga diketahui bahwa variabel net income to sales

    (NI/S) signifikan pada tingkat 5%. Koefisien regresi untuk variabel NI/S

    sebesar -42.9435 dan bertanda negatif, yang menunjukkan bahwa variabel

    NI/S berpengaruh negatif terhadap financial distress suatu perusahaan.

    Variabel CL/TA signifikan pada tingkat 10%. Koefisien regresi untuk

    variabel CL/TA sebesar -6.2406 dan bertanda negatif, yang menunjukkan

    bahwa variabel CL/TA berpengaruh negatif terhadap financial distress

    suatu perusahaan. Variabel CA/CL signifikan pada tingkat 5%. Koefisien

    regresi untuk variabel CA/CL sebesar -10.2834 dan bertanda negatif, yang

    menunjukkan bahwa variabel CA/CL berpengaruh negatif terhadap

    financial distress suatu perusahaan. Variabel GROWTH NI/TA signifikan

    pada tingkat 5%. Koefisien regresi untuk variabel GROWTH NI/TA

    sebesar 0.5076 dan bertanda positif, yang menunjukkan bahwa variabel

    GROWTH NI/TA berpengaruh positif terhadap financial distress suatu

    perusahaan. Sedangkan variabel NFA/TA tidak signifikan baik pada

    tingkat 5% ataupun 10%.

  • 21

    Bi-Huei Tsai (2012) sampel penelitian yang digunakan terdiri dari

    perusahaan Taiwan yang terdaftar termasuk industri keuangan karena sifat

    yang berbeda, dan perusahaan tanpa data yang memadai. Data pada tahun

    2003 sampai 2006 sampel pelatihan, sedangkan data tahun 2007 dan 2008

    adalah sampel uji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja

    perkiraan dari model multinomial logit, yang mengklasifikasikan peristiwa

    kegagalan perusahaan sebagai perusahaan yang sedikit tertekan dan

    kebangkrutan dan reorganisasi perusahaan, tidak lebih akurat

    dibandingkan model logit biner yang mengkategorikan baik perusahaan

    yang sedikit-tertekan dan perusahaan kebangkrutan dan reorganisasi

    sebagai kegagalan perusahaan.

    Wang dan Michael (2010) penelitian yang dilakukan dengan

    menggunakan model Ohlson, sampel data yang diteliti yaitu perusahaan-

    perusahaan China yang go public dan mencangkup kisaran 11 tahun

    (1998-2008). Prediksi model tingkat akurasi pada umumnya diatas 95%

    tergantung titik cut off yang akan dipilih. Variabel yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah TLTA, WCTA, CLCA, OENEG. Hasilnya

    menunjukkan bahwa OENEG (jika total kewajiban melebihi total asset

    maka nilainya 1,0 sebaliknya) dan INTWO (jika laba bersihnya negatif

    selama dua tahun terakhir maka nilainya 1,0 sebaliknya) adalah dua

    variabel yang paling berpengaruh dalam prediksi kegagalan dan signifikan

    pada P < 0 .01.

  • 22

    Rayenda K. Brahmana (2007) penelitian yang digunakan

    merupakan perusahaan manufaktur Indonesia. Sampel yang digunakan

    adalah perusahaan yang delisting dari Bursa Efek Jakarta pada periode

    2000-2003 dan semua perusahaan manufaktur yang terdaftar hingga saat

    ini. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio

    keuangan disesuaikan memiliki tinggi daya klasifikasi dari rasio industri

    relatif. Sorot penting lainnya adalah reputasi auditor memiliki hubungan

    signifikan terhadap kondisi financial distress. Sebagai kesimpulan, ada 1%

    dari perusahaan manufaktur Indonesia yang menunjukkan kondisi

    financial distress. Pemegang Saham, Investor, Kreditor dan manajemen

    harus memperhatikan fenomena ini.

    Khania Vissiani Amrullah (2010) yaitu prediksi financial distress.

    Hasil penelitian ini variabel yang dapat digunakan untuk memprediksi

    financial distress yaitu Working Capital/Total Assets, Total Equity/Total

    Asstes, Net Income/Total Assets, dan Total Liabilities/Total Assets.

    Andi Pradana (2011) yaitu peranan analisis rasio keuangan model

    Altman, Springate, dan Zmijewski penerapannya pada perusahaan

    property dan real estate di BEI dari penelitian tersebut dalam model

    Altman yang paling dominan dalam membedakan perusahaan yang sehat

    dan tidak sehat berdasarkan hasil standartdized canonical discriminant

    function coefficients yaitu rasio retained earnings to total assets (RETA),

    pada model Foster yaitu rasio time interest expense (TIE), pada model

  • 23

    Springate yaitu rasio working capital to total asset (WCTA), dan pada

    model Zmijewski yaitu rasio net income to total assets (NITA).

    Analisa laporan keuangan dapat menjadi salah satu alat untuk

    memprediksi kebangkrutan. Laporan keuangan dapat dijadikan dasar

    untuk mengukur kesehatan suatu perusahaan melalui rasiorasio keuangan

    yang ada. Kesehatan suatu perusahaan akan mencerminkan kemampuan

    perusahaan dalam menjalankan usahanya, distribusi aktivanya, keefektifan

    penggunaan aktivanya, hasil usaha atau pendapatan yang telah dicapai,

    beban-beban tetap yang harus dibayar, serta potensi kebangkrutan yang

    akan dialami (Brahmana, 2008:3). Dibawah ini merupakan data survey

    untuk perusahaan sektor property and real estate.

    Tabel 1.1

    Net Profit Margin Perusahaan Property and Real Estate Tahun 2007-2010

    KODE 2007 2008 2009 2010

    ASRI 0.07 0.14 0.23 0.38

    BAPA 0.02 0.01 0.14 0.23

    BCIP 6.31 6.38 11.65 22.14

    BSDE 0.07 0.16 0.24 0.16

    COWL 0.09 0.08 0.14 0.08

    CTRA 0.12 0.16 0.1 0.15

    CTRP 0.27 0.58 0.22 0.44

    DART 0.21 0.27 0.1 0.08

    DGIK 0.08 0.04 0.05 0.05

    DILD 0.08 0.04 0.07 0.42

    DUTI 0.05 0.04 0.21 0.27

    ELTY 0.17 0.26 0.13 0.13

    GMTD 0.13 0.13 0.21 0.23

    GPRA 0.09 0.04 0.1 0.11

    JRPT 0.21 0.23 0.29 0.34

    LAMI 0.03 0.08 0.09 0.15

    LPCK 0.07 0.05 0.08 0.16

    LPKR 0.17 0.15 0.15 0.17

  • 24

    MDLN 0.11 0.01 0.01 0.15

    MKPI 40.99 43.11 34.74 37.01

    PJAA 18.46 15.48 15.29 15.38

    PNSE 0.1 0.13 0.17 0.15

    PSAB 0.02 0.01 0.01 0.01

    PUDP 0.1 0.08 0.12 0.17

    SMRA 0.16 0.07 0.14 0.14

    SSIA 0.01 -0.01 0.01 0.07

    Maks 40.99 43.11 34.74 37.01

    Min 0.01 -0.01 0.01 0.01

    Rata 2.622692 2.604615 2.488077 3.029615

    Sumber : Olah data ICMD 2011

    Pada tabel 1.1 menunjukkan bahwa rata-rata tertinggi dari

    keseluruhan tahun yaitu tahun 2010 dengan nilai rata-rata sebesar

    3.029615 hal ini sama dengan yang dimiliki Badan Pusat Statistik,

    pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 mencapai 4,5% atau

    turun sebesar 1,6% dari tahun 2008. Kondisi pertumbuhan ekonomi makro

    yang membaik mulai semester pertama 2010 ditandai dengan

    meningkatnya PDB semester pertama yang mencapai 5,8%. Hal ini

    tampak pada mulai menguatnya ekonomi dan meningkatnya daya beli

    masyarakat. Berdasarkan indikator ekonomi di atas, analis memprediksi

    pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan bisa

    mencapai 5,5% - 6,0%. Peningkatan pertumbuhan ekonomi juga didorong

    oleh meningkatnya nilai ekspor dan derasnya arus investasi yang masuk ke

    Indonesia sepanjang awal tahun 2010. Iklim investasi yang semakin

    kondusif di Indonesia pada tahun 2010 merupakan salah satu faktor

    pendukung lainnya. Berdasarkan indikator tersebut, Analis memperkirakan

  • 25

    pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan akan

    mencapai 6,0 - 6,4% dan tingkat inflasi diperkirakan sebesar 6%, BI Rate

    sebesar 6,5% dan kurs rupiah terhadap dollar diperkirakan akan stabil pada

    Rp 9.000 s/d Rp 9.500. (www.bisnisrumah.co.id/newsbisnisproperti/2010).

    Hal inilah yang mendasari penulis untuk meneliti perusahaan pada

    sektor property and real estate, jika dilihat dari net profit margin pada

    perusahaan sektor property and real estate dari tahun 2007 sampai dengan

    2010. Objek penelitian ini adalah seluruh pada perusahaan sektor property

    and real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2007

    sampai dengan 2010. Disini penulis memilih pada perusahaan sektor

    property and real estate untuk dijadikan sampel penelitian ini karena

    perkembangan bisnis property di Indonesia dinilai akan semakin pesat dan

    memuncak di tahun 2014. Bahkan dari 15 kota di Asia Pasifik,

    Jakarta termasuk menjadi salah satu kota terbaik untuk berbisnis property

    (Tempo.com, 6/12/12). Alasan lainnya yang mendukung tumbuh pesatnya

    bisnis property di Indonesia juga dilontarkan oleh seorang pengamat

    property, Panangian Simanungkalit (Kompas.com, 20/01/12). Ia

    menyatakan terdapat 3 alasan yang menjadikan investasi property di

    Indonesia menjadi yang terbaik di dunia. Pertama, BI Rate yang

    turun menjadi 6% pada November 2011 dan sekarang bertahan di angka

    5,7% merupakan suku bunga terendah sepanjang sejarah. Kedua, masih

    terdapat sekitar 14 juta dari 61 juta keluarga yang belum memiliki rumah

    dengan permintaan 900.000 unit pertahun. Ketiga, semua segmen pasar

    http://www.bisnisrumah.co.id/newsbisnisproperti/2010

  • 26

    property di Indonesia terbuka sebagai lahan investasi termasuk ke pasar

    kelas paling bawah.melihat siklus perkembangan beberapa produk properti

    saat ini diketahui arah perkembangannya kedepan sangat diperkirakan

    lebih positif karena pertambahan penduduk di Indonesia yang tinggi

    menyebabkan kebutuhan hunian yang akan terus meningkat dan akan

    semakin tinggi persaingan antar perusahaan maka akan mengakibatkan

    semakin tinggi pula biaya yang dikeluarkan perusahaan tersebut. Apabila

    usaha tersebut gagal dalam arti kalah dalam persaingan maka perusahaan

    tersebut akan mengalami kerugian, yang pada akhirnya akan

    memperngaruhi keuangan perusahaan yang akan menyebabkan perusahaan

    tersebut mengalami financial distress.

    Berdasarkan latar belakang mengenai prediksi kebangkrutan

    peneliti tertarik untuk meneliti tentang kebangkrutan dengan menggunakan

    rasio-rasio keuangan berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu.

    Penelitian ini dilakukan selama periode 4 tahun pada perusahaan yang

    tidak mengalami kebangkrutan dan yang mengalami kebangkrutan. Rasio

    keuangan yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan pada penelitian

    terdahulu. Dan pada perusahaan sektor property and real estate yang akan

    diteliti sebagai perusahaan yang mengalami kebangkrutan yaitu

    perusahaan yang memiliki net income (laba bersih) negatif dan tidak

    melakukan pembayaran deviden selama dua tahun berturut-turut pada

    tahun 2007 sampai dengan 2010 sebagai perusahaan yang mengalami

    kebangkrutan diproksikan dengan nilai 0 dan perusahaan yang mengalami

  • 27

    kebangkrutan diproksikan dengan nilai 1 dengan indikasi : Beberapa tahun

    mengalami laba bersih operasi (net operating income negatif) dan selama

    lebih dari satu tahun tidak melakukan pembayaran deviden, digunakan

    oleh Almilia dan Kristijadi (2003). Dengan adanya pernyataan-pernyataan

    diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

    Prediksi Kegagalan Pada Perusahaan Sektor Property and Real Eestate

    Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia: Menggunakan Multiple

    Discriminant Analysis, dan Regresi Logistik Periode 2007-2010.

  • 28

    B. Perumusan Masalah

    Berdasarkan uraian yang yang telah dijelaskan di atas dalam

    penelitian ini peneliti ingin menemukan bukti empiris dengan

    menggunakan rasio keuangan. Maka rumusan masalah dalam penelitian ini

    adalah :

    1. Apakah model prediksi kebangkrutan Multiple Discriminant

    Analysis, dan Regresi Logistik, dapat mengetahui terjadinya

    kebangkrutan pada perusahaan sektor property and real estate

    yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode (2007-2010).

    2. Berapakah tingkat akurasi/ketepatan pada metode Multiple

    Discriminant Analysis, dan Regresi Logistik pada perusahaan

    sektor property and real estate yang terdaftar di Bursa Efek

    Indonesia periode (2007-2010).

    3. Manakah variabel yang signifikan dalam analisis prediksi

    kebangkrutan metode Multiple Discriminant Analysis, dan

    Regresi Logistik, pada pada perusahaan sektor property and

    real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode

    (2007-2010).

  • 29

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    Adapun tujuan yang dilakukan penulis untuk penelitian ini

    berdasarkan rumusan masalah, diantaranya sebagai berikut :

    1. Untuk menganalisis dengan menggunakan metode

    kebangkrutan Multiple Discriminant Analysis dan Regresi

    Logistik agar dapat mengetahui terjadinya kebangkrutan

    dimana tingkat akurasi metode Regresi Logistik sektor

    property and real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

    periode (2007-2010).

    2. Untuk menganalisis tingkat akurasi/ketepatan pada metode

    Multiple Discriminant Analysis dan Regresi Logistik pada

    perusahaan sektor property and real estate yang terdaftar di

    Bursa Efek Indonesia periode (2007-2010).

    3. Untuk mengetahui variabel yang signifikan dalam analisis

    prediksi kebangkrutan pada metode Multiple Discriminant

    Analysis dan Regresi Logistik pada perusahaan sektor property

    and real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode

    (2007-2010).

    Adapun manfaat dari penelitian ini yang diharapkan dari tujuan

    peneliti yang dilakukan diantaranya sebagai berikut :

    1. Bagi Peneliti

    Sebagai penerapan dari teori-teori yang didapat peneliti di

    bangku kuliah dan mata kuliah yang sudah pernah diberikan

  • 30

    oleh dosen khususnya pada teori analisis kebangkrutan suatu

    perusahaan dan sebagai pengetahuan tambahan bagi peneliti di

    bidang manajemen keuangan

    2. Bagi Pemberi pinjaman (seperti pihak Bank).

    Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil

    keputusan siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian

    bermanfaat untuk kebijakan memonitor pinjaman yang ada.

    3. Bagi Investor.

    Investor yang menganut strategi aktif akan mengembangkan

    model prediksi kebangkrutan untuk melihat tanda-tanda

    kebangkrutan seawal mungkin dan kemudian mengantisipasi

    kemungkinan tersebut.

    4. Bagi Pihak Lain.

    Sebagai bahan referensi untuk karya ilmiah atau penelitian yang

    dilakukan selanjutnya.

  • 31

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Laporan Keuangan

    Laporan keuangan merupakan hasil akhir proses akuntansi

    keuangan yang menyajikan berbagai informasi tentang aktivitas ekonomi

    suatu perusahaan. Informasi tersebut ditunjukkan bagi semua pihak, baik

    ekstren maupun intern, pihak ekstren perusahaan adalah pihak luar yang

    berkepentingan terhadap perusahaan. Pihak ekstren terdiri atas para

    pemegang saham, investor yang ingin menanamkan sahamnya dalam

    perusahaan, dan pihak lain yang menggunakan laporan keuangan untuk

    kepentingannya. Setiap pihak memiliki kepentingan yang berbeda terhadap

    perusahaan. Oleh karena itu, dalam penyusunan laporan keuangan perlu

    didasarkan pada konsep dasar dan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima

    umum. IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia) sebagai organisasi profesi

    akuntan telah menyusun SAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang

    menjadi pedoman dalam penyusunan laporan keuangan. Laporan keuangan

    menggambarkan posisi keuangan perusahaan, pencapaian kinerja, dan

    perubahan permodalan perusahaan selama periode berjalan. Laporan

    keuangan merupakan salah satu sumber informasi utama dan penting bagi

    investor dalam proses pengambilan keputusan investasi dimasa depan.

    PSAK No. 1 (Revisi 1998) menyatakan bahwa:

    tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan

    informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan

    yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan

    dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta

  • 32

    menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas

    penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada

    mereka (IAI, 2002 : 1-2).

    Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan

    merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik

    perusahaan yang memberikan informasi tentang aktivitas ekonomi

    perusahaan selama satu periode tertentu dan merupakan salah satu sumber

    informasi utama dan penting bagi para pengguna laporan dalam proses

    pengambilan keputusan ekonomi (Mustika Diah, 2008 : 7-8). Laporan

    keuangan adalah sebagai alat yang paling baik untuk menyajikan kinerja

    keseluruhan perusahaan, laporan keuangan yang sering digunakan sebagai

    alat peringatan dan penilaian marabahaya keuangan (Shih, Kuang et.al,

    2011 : 55).

    Laporan keuangan yang disajikan perusahaan sangat penting bagi

    manajemen dan pemilik perusahaan. Disamping itu, banyak pihak yang

    memerlukan dan berkepentingan terhadap laporan keuangan yang dibuat

    oleh perusahaan, seperti pemerintah, kreditor, investor, maupun para

    supplier. Ada beberapa pengertian laporan keuangan dari para ahli

    diantaranya. Menurut Kieso, et.al (2008 : 2) laporan keuangan merupakan

    sarana pengkomukasian informasi keuangan utama kepada pihak-pihak

    diluar korporasi. Laporan keuangan (financial statement) yang sering

    disajikan adalah neraca, laba rugi, laporan arus kas, laporan ekuitas

    pemilik atau pemegang saham dan catatan atas laporan keuangan atau

  • 33

    pengungkapan juga merupakan bagian intergral dari setiap laporan

    keuangan.

    Menurut Harahap (2007 : 105) laporan keuangan menggambarkan

    kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau

    jangka waktu tertentu. Laporan keuangan yang akan menjadi bahan sarana

    informasi (screen) bagi analisis dalam proses pengambilan keputusan.

    Laporan keuangan dapat mengambarkan posisi keuangan perusahaan, hasil

    usaha perusahaan dalam suatu periode, dan arus dana (kas) perusahaan

    dalam periode tertentu. Dari laporan keuangan, akan tergambar kondisi

    keuangan suatu perusahaan khususnya untuk mengantisipasi sinyal

    financial distress.

    1. Jenis Laporan Keuangan

    Analisis laporan keuangan sangat bergantung pada informasi

    yang diberikan oleh laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan

    merupakan salah satu sumber informasi yang penting di samping

    informasi lain seperti informasi industri, kondisi perekonomian, pangsa

    pasar perusahaan, kualitas manajemen dan lainnya. Ada tiga macam

    laporan keuangan yang pokok yang dihasilkan, (1) Neraca, (2) Laporan

    Laba-Rugi, (3). Laporan Aliran Kas. Di samping ketiga laporan pokok

    tersebut, dihasilkan juga laporan pendukung seperti laporan laba yang

    ditahan, perubahan modal sendiri, dan diskusi-diskusi oleh pihak

    manajemen.

  • 34

    a. Neraca

    Salah satu tujuan pelaporan keuangan biasanya dikatakan untuk

    membantu investor, kreditur, dan pihak-pihak lain menaksir besar,

    waktu (timing), serta tingkat ketidakpastian aliran kas suatu

    perusahaan atau entitas. Tujuan yang lebih spesifik adalah untuk

    memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban,

    modal sendiri dari suatu entitas atau perusahaan.informasi tersebut

    diringkas dalam neraca. Neraca dengan demikian meringkaskan posisi

    keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Neraca

    menampilkan sumber daya ekonomis (aset), kewajiban ekonomis

    (hutang), modal saham, dan hubungan antaritem tersebut. Neraca juga

    menunjukkan posisi keuangan berupa aktiva (harta), kewajiban

    (utang), dan modal perusahaan (ekuitas) pada saat tertentu. Artinya

    neraca dapat dibuat untuk mengetahui kondisi (jumlah dan jenis)

    harta, utang, dan modal perusahaan (Kieso et.al, 2008 : 190).

    Neraca (balance sheet) melaporkan aktiva, kewajiban, dan

    ekuitas pemegang saham pada suatu tanggal tertentu. Neraca

    menggambarkan posisi keuangan. Dengan menyediakan informasi

    mengenai aktiva, kewajiban dan ekuitas pemegang saham, neraca dapat

    dijadikan sebagai dasar untuk mengevaluasi tingkat likuiditas, struktur

    modal, dan efisiensi perusahaan, serta menghitung tingkat

    pengembalian aktiva atas laba bersih (Hery, 2009 : 158).

  • 35

    Necara memperlihatkan gambaran tentang aktiva dan sumber-

    sumber keuangan untuk membeli aktiva tersebut pada suatu saat.

    Neraca terdiri atas 2 sisi: (1) aktiva yang menunjukkan aktiva yang

    dimiliki oleh perusahaan, dan (2) pasiva yang menunjukkan dari mana

    dana untuk memperoleh aktiva tersebut. Sisi aktiva terdiri atas aktiva

    lancar (current assets) dan aktiva tetap (fixed assets). Sisi pasiva terdiri

    atas hutang lancar (current liabilities), hutang jangka panjang (long-

    term debt) dan modal sendiri pemegang saham (shareholders equity)

    (Atmaja, 2008 : 411).

    b. Laporan Laba Rugi

    Laporan laba-rugi (income statement), yang sering disebut

    statement of income atau statement of earnings, adalah laporan yang

    mengukur keberhasilan operasi perusahaan selama periode waktu

    tertentu. Kegunaan laporan laba-rugi untuk membantu pemakai laporan

    keuangan memprediksi arus kas masa depan dengan berbagai cara

    (Kieso et.al, 2008 : 140).

    Laporan laba rugi merupakan laporan prestasi perusahaan selama

    jangka waktu tertentu. Berbeda dengan neraca yang merupakan snapsot,

    Laporan laba rugi juga berisi jumlah pendapatan yang diperoleh

    tertentu.Laporan laba rugi juga berisi jumlah pendapatan yang diperoleh

    dan jumlah biaya yang dikeluarkan (Hanafi & Halim, 2009 : 15).

  • 36

    Menurut Brealey, et.al (2008 : 61) laporan laba rugi merupakan

    laporan keuangan yang memperlihatkan pendapatan, beban, dan laba

    bersih perusahaan selama periode tertentu.

    Laporan laba rugi (income statement) adalah laporan yang

    menyajikan ukuran keberhasilan operasi perusahaan selama periode

    waktu tertentu. Lewat laporan laba rugi, investor dapat mengetahui

    besarnya tingkat profitabilitas yang dihasilkan investee. Lewat laporan

    laba rugi, kreditur juga dapat mempertimbangkan kelayakan kreditur

    debitur. Penetapan pajak yang nantinya akan disetorkan ke kas negara,

    juga diperoleh berdasarkan jumlah laba bersih yang ditunjukkan lewat

    laporan laba rugi. Ukuran laba menggambarkan kinerja manajemen

    dalam menghasilkan profit untuk membayar bunga kreditur, deviden

    investor, dan pajak pemerintah. Informasi laba juga dapat dipakai

    untuk mengestimasi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba

    di masa yang akan datang (memprediksi atau menafsir earning power),

    menafsir resiko dalam berinvestasi, dan lain-lain (Hery, 2009 : 100).

    c. Laporan Arus Kas

    Fokus utama dari laporan keuangan adalah laba, dan informasi

    mengenai laba merupakan indikator yang baik untuk menentukan atau

    menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas di masa yang

    akan datang (Hery, 2009 : 201). Laporan arus kas dibutuhkan karena :

  • 37

    1. Kadangkala ukuran laba tidak menggambarkan kondisi

    perusahaan yang sesungguhnya.

    2. Seluruh informasi mengenai kinerja perusahaa selama periode

    tertentu dapat diperoleh lewat laporan ini.

    3. Dapat digunakan sebagai alat untuk memprediksi arus kas

    perusahaan di masa mendatang.

    Laporan arus kas melaporkan arus kas masuk maupun arus kas

    keluar perusahaan selama periode. Laporan arus kas ini memberikan

    informasi yang berguna mengenai kemampuan perusahaan dalam

    menghasilkan kas dari aktivitas operasi, melakukan investasi, melunasi

    kewajiban, dan membayar deviden. Laporan arus kas digunakan oleh

    manajemen untuk mengevaluasi kegiatan operasional yang telah

    berlangsung, dan merencanakan aktivitas investasi dan pembiayaan di

    masa yang akan datang. Laporan arus kas yang digunakan oleh kreditur

    dan investor dalam menilai tingkat likuiditas maupun potensi

    perusahaan dalam menghasilkan laba (keuntungan). Dalam laporan arus

    kas, penerimaan dan pembayaran kas dikualifikasikan menurut tiga

    kategori utama, yaitu aktivitas operasi, investasi, dan pembiayaan

    (Hery, 2009 : 203).

    PSAK No. 2 mengharuskan penyajian laporan arus kas sebagai tak

    terpisahkan dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian.

    Dalam hal ini arus kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi,

    investasi dan pendanaan (IAI, 2002 : 2-1). Informasi dalam laporan arus

  • 38

    kas dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang

    berbeda terhadap transaksi dan peristiwa yang sama sehingga

    meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai

    perusahaan (Mustika Diah, 2008 : 10).

    Laporan arus kas adalah laporan keuangan yang memperlihatkan

    penerimaan kas dan pengeluaran kas suatu perusahaan selama suatu

    periode waktu. Terdapat perbedaan antara arus kas dengan penghasilan

    yang ada di laporan rugi laba. Perbedaan ini terjadi karena: (1) Laporan

    rugi laba tidak mencatat pengeluaran modal sebagai biaya pada tahun

    dimana terjadi pengeluaran, tetapi di bagi-bagi dalam bentuk biaya

    depresiasi, dan (2) Laporan rugi laba menggunakan konsep accrual

    accounting dimana pendapatan dan biaya dicatat saat terjadi, bukan saat

    akan diterima atau dibayar (Atmaja, 2008 : 414).

    2. Tujuan Laporan Keuangan

    Seperti diketahui bahwa setiap laporan keuangan yang dibuat

    sudah pasti memiliki tujuan tertentu. Dalam praktiknya terdapat

    beberapa tujuan yang hendak dicapai, terutama bagi pemilik usaha dan

    manajemen perusahaan. Di samping itu, tujuan laporan keuangan

    disusun guna memenuhi kepentingan berbagai pihak yang

    berkepentingan terhadap perusahaan. Secara umum laporan keuangan

    bertujuan untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan,

    baik pada saat tertentu maupun pada periode tertentu.Laporan keuangan

  • 39

    juga dapat disusun secara mendadak sesuai kebutuhan perusahaan

    maupun secara berkala. Jelasnya adalah laporan keuangan mampu

    memberikan informasi keuangan kepada pihak dalam dan luar

    perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Berikut ini

    beberapa tujuan atau penyusunan laporan keuangan yaitu :

    a. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta)

    yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

    b. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan

    modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

    c. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan

    yang diperoleh pada suatu periode tertentu.

    d. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya

    yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.

    e. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang

    terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan.

    f. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan

    dalam suatu periode.

    g. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan

    keuangan.

    h. Informasi keuangan lainnya.

    Jadi, dengan memperoleh laporan keuangan suatu perusahaan,

    akan dapat diketahui kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.

    Kemudian, laporan keuangan tidak hanya sekedar cukup dibaca saja,

  • 40

    tetapi juga harus dimengerti dan dipahami tentang posisi keuangan

    perusahaan saat ini. Caranya adalah dengan melakukan analisis keuangan

    melalui berbagai rasio keuangan yang lazim dilakukan (Kasmir, 2012 :

    10-11).

    Menurut Harahap (2010 : 136) laporan keuangan menunjukkan

    apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau

    pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan

    kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau

    pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat

    membuat keputusan ekonomi.

    3. Keterbatasan Laporan Keuangan

    Dalam praktiknya hal-hal dan jumlah-jumlah yang dilaporkan

    dalam neraca belum tentu menunjukkan nilai yang realisasi (likuiditas),

    Hal ini disebabkan karena penyusunan laporan keuangan tidak terlepas

    dari pendapat pribadi, baik oleh manajemen maupun akuntan. Laporan

    keuangan juga bukan laporan final dan sifatnya hanya sementara waktu

    saja. Anggapan yang digunakan bahwa perusahaan akan berjalan terus

    sehingga aktiva tetap dinilai berdasarkan nilai-nilai historis, harga

    perolehan dan pengurangan aktiva tetap berdasarkan akumulasi

    penyusutannya yang mengakibatkan angka atau jumlah yang tertera

    dalam laporan keuangan terlihat pasti. Laporan keuangan belum

    dikatakan mencerminkan keadaan keuangan perusahaan secara

    keseluruhan. Hal ini disebabkan adanya hal-hal yang belum atau tidak

  • 41

    tercatat dalam laporan keuangan tersebut. Berikut ini beberapa

    keterbatasan laporan keuangan yang dimiliki perusahaan.

    a. Pembuatan laporan keuangan disusun berdasarkan sejarah

    (historis), di mana data-data yang diambil dari masa lalu.

    b. Laporan keuangan dibuat umum, artinya untuk semua orang,

    bukan hanya untuk pihak tertentu saja.

    c. Proses penyusunan tidak terlepas dari taksiran-taksiran dan

    pertimbangan-pertimbangan tertentu.

    d. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi

    situasi ketidak pastian.

    e. Laporan keuangan selalu berpegang teguh kepada sudut

    pandang ekonomi dalam memandang peristiwa-peristiwa yang

    terjadi bukan kepada sifat formalnya.

    Ketebatasan laporan keuangan tidak akan mengurangi arti nilai

    keuangan secara langsung karena hal ini memang harus dilakukan agar

    dapat menunjukkan kejadian yang mendekati sebenarnya, meskipun

    perubahan berbagai kondisi dari berbagai sektor terus terjadi (Kasmir,

    2012 : 15-17).

    4. Analisis Rasio Keuangan

    Pengertian rasio keuangan menurut James C Van Horne

    merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan

    diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya.Rasio

    keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja

  • 42

    perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan terlihat kondisi kesehatan

    perusahaan yang bersangkutan. Hasil rasio keuangan ini digunakan untuk

    menilai kinerja manajemen dalam satu periode apakah mencapai target

    seperti yang telah ditetapkan (Kasmir, 2012 : 104).

    Rasio keuangan adalah angka yang dperoleh dari hasil

    perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang

    mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.Rasio keuangan ini

    hanya menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan

    antara pos tertentu dengan pos lainnya. Dengan penyederhanaan ini kita

    dapat menilai secara cepat hubungan antara pos tadi dan dapat

    membandingkannya dengan rasio lain sehingga kita dapat memperoleh

    informasi dan memberikan penilaian (Harahap, 2010 : 279).

    Rasio keuangan telah digunakan untuk membandingkan data

    keuangan perusahaan di berbagai titik dalam waktu atau dengan

    perusahaan lain. Mereka sering digunakan untuk memberikan petunjuk

    untuk sejumlah pertanyaan concering kesehatan keuangan perusahaan.

    Secara umum, rasio keuangan memberikan informasi tentang

    profitabilitas, leverage, likuiditas, dan efisiensi perusahaan. Rasio

    profitabilitas membantu memberikan petunjuk untuk perusahaan

    kemampuan untuk menghasilkan keuntungan per setiap unit penjualan.

    Rasio leverage memberikan informasi mengenai sejauh mana perusahaan

    mendanai investasi dengan menggunakan dana dari sumber selain

    pemilik perusahaan. Rasio likuiditas memberikan indikasi apakah

  • 43

    perusahaan memiliki kas yang cukup atau uang tunai dekat untuk

    membayar kewajibannya pada saat jatuh. Rasio efisiensi membantu

    untuk menentukan sejauh mana perusahaan menggunakan sumber

    dayanya untuk menghasilkan penjualan (Sulaiman et.al, 2001 : 100).

    Hanafi & Halim (2009 : 79) mengkatagorikan analisis rasio kedalam

    lima kelompok :

    a. Rasio Likuiditas, mengukur kemampuan likuiditas jangka

    pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan

    relative terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini

    merupakan kewajiban perusahaan). Rasio likuiditas terbagi

    menjadi dua bagian :

    1) Rasio Lancar, merupakan perbandingan antara aktiva lancar

    dengan hutang lancar.

    2) Rasi cepat (quick), dihitung dengan mengurangkan

    persediaan dari aktiva lancar, kemudian membagi sisanya

    dengan hutang lancar.

    b. Rasio Aktivitas, rasio ini melihat pada beberapa asset kemudian

    menentukan beberapa tingkat aktivitas aktiva-aktiva tersebut

    pada tingkat kegiatan tertentu. Rasio ini juga mengukur seberapa

    efektif perusahaan menggunakan sumber-sumber daya

    perusahaan. Rasio aktivitas meliputi: perputaran piutang,

    perputaran persediaan, perputaran aktiva tetap dan perputaram

    total aktiva.

  • 44

    c. Rasio Solvabilitas, rasio ini mengukur kemampuan perusahaan

    memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan

    yang tidak solvable adalah perusahaan yang total hutangnya

    lebih besar dibandingkan total assetnya. Rasio Solvabilitas

    terdiri dari :

    1) Total debt to total assets, mengukur presentasi penggunaan

    dana dari kreditur yang dihitung dengan cara membagi total

    hutang dengan total aktiva.

    2) Debt equity ratio, perbandingan antara total hutang dengan

    modal.

    3) Time interest earned, dihitung dengan membagi laba

    sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan beban bunga.

    Rasio ini mengukur seberapa jauh laba bisa berkurang tanpa

    menyulitkan perusahaan dalam memenuhi kewajiban

    membayar bunga tahunan.

    d. Rasio Profitabilitas, rasio ini mengukur kemampuan perusahaan

    menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat

    penjualan, asset, dan modal saham yang tertentu atau digunakan

    untuk mengukur seberapa efektif pengelolaan perusahaan

    sehingga menghasilkan keuntungan. Rasio profitabilitas terdiri

    dari :

    1) Profit margin and sale, dihitung dengan cara membagi laba

    setelah pajak dengan penjualan.

  • 45

    2) Return on total asset, perbandingan antara laba setelah

    pajak dengan total aktiva guna mengukur tingkat

    pengembalian.

    3) Return on net worth, perbandingan antara laba setelah pajak

    dengan modal sendiri guna mengukur tingkat keuntungan

    investasi pemilik modal sendiri.

    e. Rasio Pasar, rasio yang mengukur harga pasar relative terhadap

    nilai buku. Sudut pandang rasio ini lebih banyak berdasarkan

    sudut pandang investor atau mengukur kemampuan perusahaan

    dalam menciptakan nilai terutama pada pemegang saham dan

    calon investor. Rasio pasar terdiri dari :

    1) Price earning ratio, rasio antara harga pasar saham dengan

    laba per lembar saham. Jika rasio ini lebih rendah dari rasio

    industri sejenis, bisa menjadi indikasi bahwa investasi pada

    saham perusahaan ini lebih beresiko dari pada rata-rata

    industri.

    2) Dividend yield, rasio antara deviden per lembar yang

    diberikan perusahaan dengan harga pasar saham per lembar.

    3) Dividen payout ratio, rasio ini melihat bagian earning

    (pendapatan) yang dibayarkan sebagai kepada investor.

    Rasio arus kas cukup menjadi hal yang diperhatikan dalam

    pengukuran kesehatan, kesulitan dan kebangkrutan suatu usaha. Hal ini

    wajar karena perusahaan memerlukan kas untuk membeli pabrik dan

  • 46

    mesin baru atau ketika membayar hutang dan deviden pada pemegang

    saham (Yuliantika, 2011 : 17-20).

    5. Keterbatasan dari Analisis Rasio

    Dibawah ini beberapa kelemahan penting yang dapat ditemukan

    dalam menghitung dan menginterpretasikan rasio keuangan :

    a. Kadang sulit untuk mengidentifikasi kategori industri di

    mana perusahaan berada jika perusahaan beroperasi dengan

    beberapa bidang usaha.

    b. Rasio keuangan dapat menjadi terlalu tinggi atau terlalu

    rendah.

    c. Rata-rata industri mungkin tidak memberikan target rasio

    atau norma yang diinginkan. Rata-rata industri hanya dapat

    memberikan panduan atas posisi keuangan perusahaan rata-

    rata dalam suatu industri.

    d. Banyak perusahaan mengalami situasi musiman dalam

    kegiatan operasinya. Jadi pos neraca dan rasionya akan

    berubah sepanjang tahun saat laporan disiapkan. Untuk

    menghindari masalah tersebut, maka metode saldo rata-rata

    haruslah digunakan (untuk beberapa bulan atau kuartal,

    sepanjang tahun) dan bukan saldo total pada akhir tahun.

    Di luar keterbatasannya, rasio keuangan dapat menjadi alat yang

    sangat berguna untuk menilai kondisi keuangan perusahaan. Namun kita

    juga harus menyadari kelemahan yang potensial saat melakukan analisis

  • 47

    rasio. Manfaat sesungguhnya yang dihasilkan dari menganalisis rasio

    keuangan adalah bahwa angka-angka tersebut memberitahukan kita

    pertanyaan-pertanyaan apa yang harus diajukan (Keown et.al, 2001 :

    105-107).

    B. Teori Kebangkrutan

    Kebangkrutan biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan

    dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba.

    Kebangkrutan juga sering disebut likuidasi perusahaan atau penutupan

    perusahaan atau insolvabilitas. Kebangkrutan sebagai kegagalan

    disefinisikan dalam beberapa arti (Adnan et al. 2000) :

    a. Kegagalan Ekonomi (economic failure) dalam arti ekonomi

    biasanya berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau

    pendapatan perusahaan tidak menutup biaya sendiri, hal ini

    berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau

    nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari pada

    kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari

    perusahaan tersebut jatuh dibawah arus kas yang

    diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa

    tingkat pendapatan atas biaya historis dari investasinya

    lebih kecil daripada biaya modal perusahaan.

    b. Kegagalan Keuangan (financial failure), bisa diartikan

    sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas

  • 48

    dan dasar saham. Insolvensi atas dasar arus kas ada dua

    bentuk, yaitu :

    1) Insolvensi teknis (tecnical ilnsovency), perusahaan

    dapat dianggap gagal jika perusahaan tidak dapat

    memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo. Walaupun

    total aktiva melebihi total hutang atau terjadi bila suatu

    perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih

    kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio aktiva

    lancar terhadap utang lancar yang telah ditetapkan atau

    rasio kekayaan bersih terhadap total aktiva yang

    disyaratkan.

    2) Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan, dalam

    penelitian ini kebangkrutan didefinisikan dalam ukuran

    sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca

    konvensional atau nilai sekarang dari arus kas yang

    diharapkan lebih kecil dari kewajiban.

    Menurut Hanafi & Halim (2009), analisis kebangkrutan

    dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan (tanda-tanda

    awal kebangkrutan). Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan tersebut,

    semakin baik bagi pihak manajemen karena pihak manajemen bisa

    melakukan perbaikan-perbaikan. Pihak kreditur dan juga pihak

    pemegang saham bisa melakukan persiapan-persiapan untuk mengatasi

  • 49

    berbagai kemungkinan yang buruk. Tanda-tanda kebangkrutan tersebut

    dalam hal ini dilihat dalam menggunakan data-data akuntansi.

    1. Pengertian Financial Distress

    Menurut Rodoni & Ali (2010) Financial distress pada dasarnya

    sukar untuk didefinisikan secara tepat. Hal ini disebabkan oleh

    bermacam-macam kejadian kejatuhan perusahaan pada saat financial

    distress. Peristiwa kejatuhan perusahaan yang disebabkan financial

    distress hampir tidak ada akhirnya, seperti berikut ini : terjadinya

    pengurangan deviden, penutupan perusahaan, kerugian-kerugian,

    pemecatan, pengunduran direksi dan jatuhnya harga saham. dalam

    penelitian terdahulu financial distress dapat diartikan sebagai berikut :

    a. Jika beberapa tahun perusahaan mengalami laba bersih

    operasi (net operating income) negatif, digunakan oleh

    Hofer (1980) dan Whitaker (1999).

    b. Adanya pemberhentian tenaga kerja atau menghilangkan

    pembayaran deviden, digunakan oleh Lau (1987) dan Hill,

    et al. (1996).

    c. Arus kas hasil operasi perusahaan tidak cukup untuk

    memenuhi kewajiban perusahaan, digunakan oleh Karen

    Wruck (1990).

  • 50

    d. Rendahnya Interest Coverage Ratio, atau EBITDA negatif,

    diguanakan oleh Asquith, et. al. (1991) dan Pindando, et. al.

    (2006).

    e. Perubahan harga ekuitas atau EBIT negatif, diguanakan

    oleh John, et. al. (1992) dalam Platt (2004).

    f. Stockbased insolvency yaitu kekayaan bersih negatif dan

    nilai asset kurang dari nilai hutang dan flowbased

    insolvency yaitu arus kas yang berjalan tidak cukup untuk

    memenuhi kewajiban, digunakan oleh Altman (1993).

    g. Adanya arus kas yang lebih kecil dari hutang jangka

    panjang saat ini digunakan Whitaker (1999).

    h. Perusahaan diberhentikan operasinya atas wewenang

    pemerintah dan perusahaan tersebut dipersyaratkan untuk

    melakukan perencanaan restrukturisasi, digunakan oleh

    Tirapat dan Nittayagasetwat (1999).

    i. Negatif EBITDA interest coverage, Negatif EBIT, Negative

    Net Income digunakan oleh Platt (2004).

    j. Beberapa tahun mengalami laba bersih operasi (net

    operating income negatif) dan selama lebih dari satu tahun

    tidak melakukan pembayaran deviden, digunakan oleh

    Almilia dan Kristijadi (2003).

  • 51

    k. Perusahaan mengalami delisted akibat laba bersih dan nilai

    buku ekuitas negatif berturut-turut, serta perusahaan

    tersebut telah merger, digunakan oleh Almilia (2004).

    Ketidak mampuan membayar hutang (insolvency), kondisi dari

    asset atau milik kewajiban seseorang yang dahulunya tersedia menjadi

    tidak cukup untuk melunasi hutang. Definisi ini mempunyai dua bagian

    yaitu Stock dan Flow. Keduanya menggambarkan mengenai

    ketidakmampuan membayar hutang (insolvency) stock-based insolvency

    terjadi ketika perusahaan memiliki kekayaan bersih yang negatif dan nilai

    asset kurang dari nilai hutang. Flow-based insolvency terjadi ketika arus

    kas yang berjalan tidak cukup untuk memenuhi kewajiban yang diminta

    (Rodoni & Ali, 2010 : 176).

    Flow-based insolvency mengacu pada ketidakmampuan

    perusahaan untuk membayar hutang. Hofer (1980) dalam Platt (2004)

    mendefinisikan financial distress bilamana perusahaan mempunyai

    negative Net Income. Whitaker (1999) menerangkan financial distress

    sebagai penurunan kondisi perusahaan dari kondisi sebelumnya.

    Penurunan kondisi perusahaan turun disebabkan economic distress,

    penurunan industri operating income dan poor management, atau

    penurunan kondisi perusahaan relative terhadap industri. Poor

    management didefinisikan sebagai kecenderungan penurunan Operating

    Income, selama lima tahun sebelumnya. Operating Income didefinisikan

    sebagai net sales dikurangi cost of good sold dikurangi penjualan, biaya

  • 52

    umum dan administratif sebelum depresiasi dan sebelum gains dan losses

    pada penjualan asset. Financial distress pada perusahaan dapat diatasi

    dengan beberapa cara yaitu (Rodoni & Ali, 2010 : 175) :

    1. Berhubungan dengan asset perusahaan, yaitu dengan

    menjual aset-aset utama, melakukan merger dengan

    perusahaan lain, menurunkan pengeluaran dan biaya

    penelitian dan pengembangan.

    2. Berhubungan dengan rekstrukturisasi aset ataupun

    rekstrukturisasi keuangan.

  • 53

    Gambar 2.1 Tahap Financial Distress

    49% 51%

    53% 47%

    3% 7% 10%

    Sumber: Manajemen keuangan (Rodoni dan Ali, 2010 : 175)

    Gambar 2.1 menjelaskan tahap-tahap financial distress

    perusahaan sampai dengan kepada kebangkrutan. Sejumlah 49 persen

    perusahaan mendapatkan manfaat dari financial distress dengan

    merestrukturisasi aset mereka. Perusahaan yang tidak melakukan

    restrukturisasi keuangan melakukan penyehatan terhadap hutang

    sehingga mengubah perilaku perusahaan dan mendesak perusahaan untuk

    membuang bisnis mereka yang tidak berhubungan (Rodoni & Ali, 2010 :

    171-176).

    Financial Distress

    Tidak melakukan

    rekstrukturisasi

    keuangan

    Melakukan

    rekstrukturisasi

    keuangan

    Melaksanakan

    atas perkara

    sendiri

    Melaksanakan atas

    putusan pengadilan

    Merger dengan

    perusahaan lain

    Likuidasi Melakukan

    reorganisasi dan

    berhasil bangkit

  • 54

    Restrukturisasi keuangan dapat dilakukan sendiri atau dilakukan

    atas putusan pengadilan. Dalam gambar tersebut dijelaskan juga, bahwa

    hampir separuh restrukturisasi atas perkara sendiri. Dan yang

    melaksanakan restrukturisasi berdasarkan putusan pengadilan sejumlah

    53 persen dapat melakukan reorganisasi dan meneruskan usahanya

    (Rodoni & Ali,2010 : 171-176)

    Lebih lanjut, dari kerugian yang terjadi akan mengakibatkan

    defisiensi modal dikarenakan penurunan nilai saldo laba yang terpakai

    untuk melakukan pembayaran dividen, sehingga total ekuitas secara

    keseluruhan pun akan mengalami defisiensi. Jika hal ini terus terjadi,

    maka tidak mustahil bahwa suatu saat total kewajiban perusahaan akan

    melebihi total aktiva yang dimilikinya. Kondisi seperti yang telah

    disebutkan di atas mengasosiasikan suatu perusahaan sedang mengalami

    kesulitan keuangan (financial distress) yang pada akhirnya jika

    perusahaan tidak mampu keluar dari kondisi tersebut di atas, maka

    perusahaan tersebut akan mengalami kepailitan. Untuk mendeteksi

    kesulitan keuangan perusahaan dapat digunakan analisis rasio keuangan.

    Secara umum rasio-rasio seperti profitabilitas, likuiditas, leverage dan

    cakupan arus kas berlaku sebagai indikator yang paling signifikan dalam

    memprediksi kesulitan keuangan maupun kebangkrutan (Andre, Orina.

    2009 : 2-3).

  • 55

    2. Faktor-faktor Penyebab Kebangkrutan

    Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kebangkrutan pada suatu

    perusahaan adalah (Akhyar, 2000:139) :

    1. Faktor Umum

    a. Sektor Ekonomi.

    Faktor-faktor penyebab kebangkrutan dari sektor

    ekonomi adalah gejala inflasi dan deflasi dalam harga

    barang dan jasa, kebijakan keuangan, suku bunga dan

    devaluasi atau revaluasi uang dalam hubungannya

    dengan uang asing serta neraca pembayaran, surplus atau

    defisit dalam hubungannya dengan perdagangan luar

    negeri.

    b. Sektor Sosial

    Faktor sosial sangat berpengaruh terhadap kebangkrutan

    cenderung pada perubahan gaya hidup masyarakat yang

    mempengaruhi permintaan terhadap produk dan jasa

    ataupun cara perusahaan berhubungan dengan karyawan.

    Faktor sosial yang lain yaitu kerusuhan atau kekacauan

    yang terjadi di masyarakat.

    c. Teknologi

    Penggunaan teknologi informasi juga menyebabkan

    biaya yang ditanggung perusahaan membengkak

    terutama untuk pemeliharaan dan implementasi.

  • 56

    Pembengkakan terjadi, jika penggunaan teknologi

    informasi tersebut kurang terencana oleh pihak

    manajemen, sistemnya tidak terpadu dan para manajer

    pengguna kurang professional.

    d. Sektor Pemerintah

    Pengaruh dari sektor pemerintah berasal dari kebijakan

    pemerintah terhadap pencabutan subsidi pada perusahaan

    dan industri, pengenaan tarif ekspor dan impor barang

    berubah, kebijakan undang-undang baru bagi perbankan

    atau tenaga kerja dan lain-lain.

    2. Faktor Eksternal Perusahaan

    a. Faktor Pelanggan/Konsumen

    Perusahaan harus bisa mengidentifikasi sifat konsumen,

    karena berguna untuk menghindari kehilangan

    konsumen, juga menciptakan peluang untuk menemukan

    konsumen baru dan menghindari menurunnya hasil

    penjualan dan mencegah konsumen berpaling ke

    pesaing.

    b. Faktor Kreditur

    Kekuatannya terletak pada pemberian pinjaman dan

    mendapatkan jangka waktu pengembalian hutang yang

    tergantung kepercayaan kreditur terhadap kelikuiditasan

    suatu perusahaan.

  • 57

    c. Faktor Pesaing

    Faktor ini merupakan hal yang harus diperhatikan karena

    menyangkut perbedaan pemberian pelayanan kepada

    konsumen, perusahaan juga jangan melupakan

    pesaingnya karena jika produk pesaingnya lebih diterima

    oleh masyarakat perusahaan tersebut akan kehilangan

    konsumen dan mengurangi pendapatan yang diterima.

    3. Faktor Internal Perusahaan

    Faktor-faktor yang menyebabkan kebangkrutan secara

    internal adalah sebagai berikut (Akhyar, 2000:140) :

    a. Terlalu besarnya kredit yang diberikan kepada nasabah

    sehingga akan menyebabkan adanya penungkkan dalam

    pembayaran sampai akhirnya tidak dapat membayar.

    b. Manajemen tidak efisien yang disebabkan karena kurang

    adanya kemampuan, pengalaman, keterampilan, sikap

    inisiatif dari manajemen.

    c. Penyalahgunaan wewenang dan kecurangan dimana

    sering dilakukan oleh karyawan, bahkan manajer puncak

    sekalipun sangat merugikan apalagi yang berhubungan

    dengan keuangan perusahaan.

  • 58

    3. Masalah Keuangan Tanpa Kebangkrutan

    Tidak semua perusahaan yang mendapat masalah menjadi

    bangkrut. Sepanjang perusahaan dapat mengumpulkan cukup banyak

    uang tunai untuk membayar bunga utangnya, perusahaan mungkin dapat

    menunda kebangkrutan untuk bertahun-tahun lamanya. Pada akhirnya

    perusahaan bisa pulih, sekaligus membayar utangnya dan tidak bangkrut

    (Bearly et.al, 2008 : 20).

    Jalan keluar yang sempit dari kebangkrutan tidak berarti bahwa

    biaya masalah keuangan terhindarkan. Ketika perusahaan mendapat

    masalah, pemasok khawatir bahwa mereka mungkin tidak dibayar,

    pelanggan potensial takut bahwa perusahaan tidak akan mampu

    memberikan jaminannya, dan karyawan mulai mencuri-curi waktu untuk

    wawancara kerja. Baik pemegang obligasi maupun saham perusahaan

    ingin perusahaan pulih, tetapi sebaliknya, kepentingan mereka mungkin

    bertentangan. Dalam masa terjadinya masalah keuangan, pemegang

    sekuritas mirip dengan partai-partai politik bersatu dalam hal umum

    tetapi terancam menikam dari belakang dalam masalah-masalah khusus.

    Masalah keuangan mahal harganya ketika konflik menghalangi jalannya

    bisnis. Pemegang saham berusaha mengabaikan tujuan umum

    pemaksimalan keseluruhan nilai pasar perusahaan dan sebagai gantinya

    mengejar kepentingan diri sendiri yang lebih sempit (Bearly et.al, 2008 :

    20-21).

  • 59

    4. Pengertian Multiple Discriminant Analysis

    Menurut Ramadhani dan Lukviarman (2009) dalam Nugroho

    (2012) Dalam menyusun model Z Altman mengambil sampel 33

    perusahaan manufaktur yang bangkrut pada periode 1960 sampai 1965

    dan 33 perusahaan tidak bangkrut dengan lini industri dan ukuran yang

    sama. Dengan menggunakan data laporan keuangan dari 1 sampai 5

    tahun sebelum kebangkrutan, Altman menyususn 22 rasio keuangan yang

    paling memungkinkan dan mengelompokkannya dalam 5 kategori :

    likuiditas, profitabilitas, leverage, solvabilitas, dan kinerja. Hasil studi

    Altman ternyata mampu memperoleh ketepatan prediksi sebesar 95%

    untuk data satu tahun sebelum kebangkrutan, untuk data dua tahun

    sebelum kebangkrutan sebesar 72%. Selain itu diketahui bahwa

    perusahaan dengan profitabilitas yang rendah sangat berpotensi

    mengalami kebangkrutan. Sampai saat ini, Z-score masih lebih banyak

    digunakan oleh para peneliti, praktisi, dan serta para akademis di bidang

    akuntansi dibandingkan model prediksi lainnya.

    Menurut Jehan & Khan et al. (2012 : 43), Altman berpendapat

    bahwa "analisis regresi diskriminan digunakan untuk mengklasifikasikan

    atau membuat prediksi dalam masalah di mana variabel dependen

    muncul dalam bentuk kualitatif, misalnya, laki-laki atau perempuan,

    bangkrut atau tidak bangkrut ". dalam melakukan analisis diskriminan

    ganda, pertama-tama diperlukan kelompok yang tepat untuk membuat

    klasifikasi. Jumlah kelompok bisa lebih dari satu. Namun, banyak

  • 60

    peneliti menganggap analisis sebagai "analisis diskriminan multivariat"

    hanya ketika jumlah kelompok melebihi dua, sementara itu mengacu

    pada sifat multivariat analisis. Fungsi diskriminan, yang digunakan

    dalam analisis diskriminan, adalah variabel laten yang dibentuk sebagai

    pengaturan linear yang membedakan variabel (independen). Diskriminan

    seperti fungsi, sebuah bentuk untuk mengubah nilai variabel individu

    untuk diskriminan tunggal skor, atau nilai Z, yang kemudian digunakan

    untuk mengklasifikasikan obyek.

    Menurut Hanafi & Halim (2009), pada tahap berikutnya,

    Altman menguji keandalan dari model diskriminan tersebut. Altman

    menemukan cut-off points dari variabel Z sebagai berikut :

    Tabel 2.1

    Titik cut-off points Altman

    Dengan Nilai Pasar Dengan Nilai Buku

    Tidak Bangkrut

    Jika Z >

    Bangkrut

    Jika Z <

    Daerah Rawan

    2.99

    1.81

    1.81-2.99

    2.90

    1.20

    1.20-2.90

    Sumber : Analisis Laporan Keuangan Hanafi & Halim (2009 : 275)

    Z = 1Va + 2Vb +.+ nVn

  • 61

    5. Pengertian Regresi Logistik

    Regresi logistik adalah model regresi yang digunakan untuk

    menganalisis variabel dependen dengan kemungkinan diantara 0 dan 1.

    Pada dasarnya logistic regression (reregresi logistik) sama dengan

    analisis diskriminan, perbedaan ada pada jenis data dari variabel

    dependen. Jika pada analisis diskriminan vaiabel dependennya adalah

    data rasio, maka pada regresi logistik variabel dependen adalah data

    nominal. Data nominal disini lebih khusus adalah data binary (Wing

    Wahyu, 2007:6-10).

    Dengan demikian, tujuan regresi logistik adalah pembuatan

    sebuah model regresi untuk memprediksi besar variabel dependen yang

    berupa sebuah variabel binary menggunakan data variabel independen

    yang sudah diketahui besarnya (Singgih Santoso, 2010:206).

    E (logit) = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 +.+ bnxn

    Dimana :

    a = konstanta ,

    b = beta,

    Pi = 1

    1+

  • 62

    e = bilangan natural (2,71828),

    x = variabel bebas yang akan digunakan

    Analisis logit mencoba untuk menghitung probabilitas,

    berdasarkan distribusi probabilitas. Seperti analisis diskriminan,

    beratnya variabel independen dan memberikan skor dalam bentuk

    probabilitas kegagalan untuk masing-masing perusahaan dalam sampel.

    Prosedur statistik ini tidak hanya kelompok perusahaan baik untuk gagal

    atau sehat tetapi murni berdasarkan faktor keuangan yang ada lainnya

    faktor eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam menganalisis risiko

    dan default, seperti peristiwa acak yang tak terduga, faktor makro-

    ekonomi dan peraturan pemerintah dan peraturan baru. Keuntungan

    dari analisis regresi logistik adalah bahwa hal itu tidak menganggap

    normalitas multivariat dan matriks kovarians yang sama (Yap, et.al

    2012:336).

    Model logit menggunakan koefisien dari variabel independen

    untuk memprediksi probabilitas variabel dependen gagal atau non-gagal.

    Teknik bobot independen variabel dan menciptakan skor untuk masing-

    masing perusahaan untuk mengklasifikasikan sebagai gagal atau tidak

    gagal. Fungsi dipertimbangkan dalam regresi logistik disebut fungsi

    logistik. Ukuran goodness of fit akan ditentukan melalui Pearson dan

    nilai-nilai yang Deviance Chi-Square dan signifikansi dari variabel yang

  • 63

    digunakan. Jika nilai p> 0,05 maka nilai tidak signifikan dan model fit

    yang baik (Yap, et.al 2012:337).

    Sebuah uji rasio kemungkinan digunakan untuk melihat apakah

    variabel yang dimasukkan dalam model akhir yang signifikan dalam

    menjelaskan beberapa variabilitas dalam data. Chi Square statistik adalah

    perbedaan -2 Log Likelihood (-2LL) antara model akhir dan model

    berkurang. Menurunnya Model dibentuk dengan menghilangkan efek

    dari model akhir. Hipotesis nol adalah bahwa semua parameter efek yang

    0. Tes ini sebanding dengan uji F keseluruhan untuk regresi analisis.

    Dalam regresi, R merupakan ukuran intuitif seberapa baik model

    memprediksi nilai-nilai dari variabel dependen. Namun, dalam regresi

    logistik, tidak ada tindakan serupa yang mudah ditafsirkan. The pseudo

    Rsquare (Cox dan Snell dan Nagelkerke) merupakan upaya untuk

    mengukur proporsi variasi dijelaskan dalam variabel dependen. Cox dan

    Snell tindakan biasanya

  • 64

    C. Penelitian Terdahulu.

    Beberapa penelitian untuk memprediksi kegagalan perusahaan

    telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya adalah

    sebagai berikut :

    No. Peneliti Judul

    Penelitian

    Variabel Kesimpulan

    1.

    Hazem B .

    Al-khatib

    et.al (2011)

    Predicting

    Financial Distress

    of Public

    Companies Listed in

    Amman Stock

    Exchange

    Current Ratio,

    Curr