Ppt Mual Muntah Study Kasus

download Ppt Mual Muntah Study Kasus

of 24

  • date post

    02-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    550
  • download

    51

Embed Size (px)

description

mual muntah

Transcript of Ppt Mual Muntah Study Kasus

PowerPoint Presentation

MUAL MUNTAHSTUDI KASUS FARKOTERAPI

Nama Anggota Kelompok 1Angela Merici132210101001Marsalita Irine P.132210101002Vabella Eka R.132210101003Qurnia Wahyu F.132210101004Herlina Ekawati132210101005Putri Sakinah132210101007Nurul Shalikha132210101011Elsa Dwi132210101013Linda Hadi S132210101015PengertianChemotherapy Induced Nausea and Vomiting (CINV). Patofisiologi Mual MuntahBeberapa mekanisme patofisiologi diketahui menyebabkan mual muntah yaitu pada kumpulan saraf-saraf yang berlokasi di medulla oblongata. Saraf saraf ini menerima input dari :Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ) di area postremaSistem vestibular (yang berhubungan dengan mabuk darat dan mual karena penyakit telinga tengah)Nervus vagus (yang membawa sinyal dari traktus gastrointestinal)Sistem spinoreticular (yang mencetuskan mual yang berhubungan dengan cedera fisik)Nukleus traktus solitarius (yang melengkapi refleks dari gag refleks)

ETIOLOGIPenyakit psikogenikProses-proses sentral (misal : tumor otak)Proses sentral tak langsung (misal : obat-obatan, kehamilan)Penyakit perifer (misal : peritonitis)Iritasi lambung atau usus (Walsh, 1997: 310).

Studi KasusKJ adalah seorang peremuan berusia 65 tahun. Dia datang ke klinik kanker untuk menjalani kemoterapi yang pertama. Dia Didiagnosa kanker ovarium stage II. Dia direncanakan akan menerima kemoterapi sebanyak 5 kali dengan regimen Carboplatin dan Paclitaxel (Carboplatin AUC 6 IV selama 30 menit setiap 21 hari sekali + Paclitaxel 175 mg/ m2 i.v selama 3 jam setiap 21 hari sekali). Pada hari pertama kemoterapi dia mendapatkan obat sebagai berikut:Carboplatin AUC 6 i.v selama 30 menitPaclitaxel 175 mg/ m2 i.v. selama 3 jamOndensetron 24 mg p.o. 30 menit sebelum chemotheraphyDipenhydramine 25 mg i.v. 30 menit sesudah chemotherapyNy. KJ juga mendapatkan resep:Ondensetron 8 mg p.o. setiap 6 jam jika mual muntahMetclopraminde + dexamathasone selama 4 hariKanker OvariumFaktor-faktor penyebab kanker ovarium Kemoterapi merupakan salah satu modalitas pengobatan pada kanker secara sistemik yang sering dipilih terutama untuk mengatasi kanker stadium lanjut, local maupun metastatis. Kemoterapi sangat penting dan dirasakan besar manfaatnya karena bersifat sistemik mematikan/membunuh sel-sel kanker dengan cara pemberian melalui infuse, dan sering menjadi pilihan metode efektif dalam mengatasi kanker terutama kanker stadium lanjut local (Desen, 2008). Teknik pemberian kemoterapi ditentukan dari jenis keganasan dan jenis obat yang diperlukan (Adiwijono,2006).

KemoterapiOBAT UNTUK PASIEN KEMOTERAPIPada pasien kemo digunakan dua atau lebih obat sebagai suatu kombinasi. Alasan terapi kombinasi: untuk menggunakan obat yang bekerja pada bagian yang berbeda dari proses metabolisme sel, sehingga akan meningkatkan kemungkinan dihancurkannya jumlah sel-sel kanker. Selain itu, efek samping yang berbahaya dari kemoterapi dapat dikurangi jika obat dengan efek beracun yang berbeda digabungkan, masing-masing dalam dosis yang lebih rendah dari pada dosis yang diperlukan jika obat itu digunakan tersendiri.

CONTOH resimen kemoterapi untuk kanker ovarium adalah paclitaxel-carboplatin paclitaxel-cisplatinNy. KJ menjalankan terapi kemoterapi untuk pengobatan kanker ovarium yang dia derita. Digunakan kombinasi obat Carboplatin AUC 6 i.v selama 30 menit dan Paclitaxel 175 mg/ m2 i.v. selama 3 jam. Kedua obat tersebut adalah golongan obat sitotoksik yang merupakan pilihan utama dalam pengobatan kanker menggunakan kemoterapi (first line therapy) karena keduanya memiliki efek sinergis untuk menghambat pertumbuhan dan penyebaran sel-sel kanker.

First LineCarboplatinIndikasi : terapi kanker ovarium stadium lanjut

PaclitaxelIndikasi : terapi untuk kanker ovarium dan kanker payudara yang sudah bermetastasis

Terapi non farmakologiPasien dengan keluhan ringan,mungkin berkaitan dengan konsumsi makanan dan minuman di anjurkan untuk menghindari masuknya makananIntervensi non farmakologi di klasifikasikan sebagai intervensi perilaku termasuk relaksasi,biofeedback,self-hypnosis, distraksi kognitif dan desensitisasi sistematik.Muntah psikogenik mungkin diatasi dengan intervensi psikologik.

Terapi farmakologi1. ONDANSETRONIndikasi :Untuk menangani mual dan muntah yang diinduksi oleh obat kemoterapi dan radioterapi sitotoksik, pencegahan mual dan muntah pasca operasi, narfoz sebaiknya tidak digunakan pada keadaan mual atau muntah karena sebab lain.Kontra indikasi: narfoz jangan diberikan kepada penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap Ondansetron.Efek samping : Efek samping yang biasanya terjadi adalah sakit kepala, sensasi kemerahan atau hangat pada kepala dan epigastrium, gangguan irama jantung.Mekanisme kerja : Ondansetron termasuk kelompok obat Antagonis serotonin 5-HT3, yang bekerja dengan menghambat secara selektif serotonin 5-hydroxytriptamine (5HT3) berikatan pada reseptornya yang ada di CTZ (chemoreseceptor trigger zone) dan di saluran cerna.Dosis :30 menit sebelum kemoterapi. Diberikan 30 menit sebelum kemoterapi.

2.DIPENHIDRAMINIndikasi : antihistaminEfek samping : sedative,hipotensi,mengantuk,pusing,gangguan koordinasi, sakit kepala,kelelahan, insomnia.Mekanisme kerja : Dipenhidramin berkompetisi dengan histamine bebas untuk mengikat reseptor H1.obat ini bersifat antagonis kompetitif terhadap efek histamine pada saluran GI,uterus,pembuluh darah besar,dan otot bronchial.penghambatan reseptor H1 juga menekan pembentukan edema, panas gatal yang di sebabkan histamine

Dosis :10 gram secara intravena. Pemberian 30-60 menit sebelum kemoterapiOnset :efek sedatif maksimum 1-3 jamDurasi :4-7 jam3. FAMOTIDINE Indikasi : antikolinergik, tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, Dosis : 20 mg tiap 6 jam (dosis lebih tinggi pada pasien yang sebelumnya telah menggunakan antagonis reseptor H2 lain)Efek samping : kebiasaan buang air besar berubah,pusing,ruam kulit, letih, keadaan bingung yang reversible, sakit kepala, jarang terjadi gangguan darah, nyeri otot atau sendi, hipersensitivitas,bradikardi dan blok AV,nefritis interstitial dan pankreatiti akut,ginekomastia kadang-kadang. Pasien mengalami gejala mual dan muntah sebagai efek samping dari kemotrapi yang dijalaninyaMekanisme kerja : Famotidin bekerja dengan menghambat secara kompetitif reseptor histamin H2 menghambat kerja histamin secara kompetitif pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung.

4. METOKLOPRAMINDEIndikasi : meningkatkan tonus stingfer esophagus,membantu pengosongan lambung dan meningkatkan perpindahan usus halus,kemungkinan lewat pelepasan asetilkolin.Dosis :Ini diberikan untuk pencegahan dan antisipasi efek samping pemberian iv difenhidramin 20-50 mgMekanisme kerja : Mekanisme yang pasti dari sifat antiemetik metoklopramida tidak jelas, tapi mempengaruhi secara langsung CTZ (Chemoreceptor Trigger Zone) medulla yaitu dengan menghambat reseptor dopamin pada CTZ

5. DEXAMATHASONEIndikasi : asma bronchial kronik, rhinitis alergi, dermatitis kontak dan atopic, alergi obat, serum sickness, konjungtivitis alergi, keratitis.Dosis : 8-20 mg secara intravena. Diberikan 30 menit sebelum kemoterapiEfek samping : retensi garam & cairan, susah BAK, gangguan pencernaan, nafsu makan meningkat, hambatan pertumbuhan, gangguan haid, pelemasan otot.

Mekanisme kerja : Mekanisme kerjanya berhubungan dengan mencegah pembentukan prostaglandin dan merangsang pelepasan endorphin, yang mempengaruhi mood dan tingkat ketenangan. Melalui mekanisme menghambat pelepasan prostaglandin secara sentral sehingga terjadi penurunan kadar 5-HT3 di sistem saraf pusat, menghambat pelepasan serotonin di saluran cerna sehingga tidak terjadi ikatan antara serotonin dengan reseptor 5-HT3, pelepasan endorphin, dan anti inflamasi yang kuat di daerah pembedahan.

Daftar PustakaAbdulmuthalib. 2006. Prinsip dasar terapi sistemik pada kanker, dalam Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.K., & Setiati, S. (2006). Buku ajar ilmu penyakit dalam. (3 rd Ed.). (hlm 1879-1881). Jakarta: Pusat Penerbit Departemen Penyakit Dalam FKUI Adiwijono. 2006. Teknik-teknik pemberian kemoterapi, dalam Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.K., & Setiati, S. (2006). Buku ajar ilmu penyakit dalam. (3rd Ed.). Jakarta: Pusat Penerbit Departemen Penyakit Dalam FKUIAnonin. 2009. Informasi Spesialite Obat. Jakarta: PT. ISFI PenerbitanChabner BA, Longo L. 2006. Cancer chemotherapy and biotherapy, principles and practice. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins

Davey, Patrick.2006. Kanker Payudara. Dalam: Davey, Patrick, ed. At a Glance. Medicine. Jakarta : Penerbit ErlanggaNeal M.J. 2006. At Glance Farmakologi Medis Edisi V. Penerbit Erlangga.JakartaPazdur. 2001. Mual dan Muntah PadaPasien dengan Kemoterapi. Diunduh di http//www.scribd.com/doc/35152956/Evaluasi-Mual-Muntah-Paien-kemoterapi.html pada tanggal 10 N0vember 2014Solimando, D.A.2003. Drug Information Handbook for Oncology. Ohio: Lexi-Comp, Inc. Sukandar,E.Y dkk. 2008.ISO Farmakoterapi. Jakarta: PT.ISFILTan. 2008. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT. Alex Media KompetindoWalsh,T.D. 1997. Kapita Selekta Penyakit dan Terapi. Jakarta: EGC Buku Kedokteran