Ppt Makalah Maya

download Ppt Makalah Maya

of 118

  • date post

    15-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    27
  • download

    2

Embed Size (px)

description

ppt gilut

Transcript of Ppt Makalah Maya

I. ANODONTIA (KOMPETENSI 1)A. Pengertian

Anodontia, atau tidak bergigi, terjadi apabila tidak terbentuk benih gigi. Anodontia total sering terjadi pada dysplasia ektodernal. Anodontia parsial adalah akibat gangguan letak normal inisiasi (misalnya daerah pada celah palatum) atau akibat kegagalan genetic (sering familial) yang member kode untuk pembentukan gigi khusus (Nelson, 2000).

Terdapat 3 macam anodontia, yaitu complete anodontia, hipodontia dan oligodontia. Complete anodontiaadalah kelainan genetik berupa tidak tumbuhnya semua gigi di dalam rongga mulut.Hipodontiaadalah kelainan genetik yang biasanya berupa tidak tumbuhnya 1-6 gigi di dalam rongga mulut.Oligodontiaadalah kelainan genetik berupa tidak tumbuhnya lebih dari 6 gigi di dalam rongga mulut (Adulgopar, 2009).B. Etiologi

Penyebab dari Anodontia dan hypodontia kadang ditemukan sebagai bagian dari suatu sindrom, yaitu kelainan yang disertai dengan berbagai gejala yang timbul secara bersamaan, misalnya pada sindrom Ectodermal dysplasia, Rieger Syndrome, Incontinentia Pigmen, dsb. Kelainan ini juga merupakan kelainan herediter yang diturunkan.

Hypodontia dapat timbul pada seseorang tanpa adariwayat kelainan pada generasi keluarga sebelumnya, tapi bias juga merupakan kelainan yang diturunkan.

C. Klasifikasi1. Anodontia adalah kelainan kongenital dimana semua gigi tidak tumbuh disebabkan tidak terdapatnya folikel gigi. Anodontia dapat dibagi menjadi:

a) Anodontia total adalah keadaan dimana pada rahang tidak ada gigi susu maupun gigi tetap.

b) Anodontia parsial adalah keadaan dimana pada rahang terdapat satu atau lebih gigi yang tidak tumbuh dan lebih sering terjadi pada gigi permanen daripada gigi susu.

2. Hipodontia adalah keadaan dimana benih gigi yang tidak terbentuk berjumlah antara 1-6 gigi. Pada hipodontia, gigi-gigi yang paling sering tidak terbentuk adalahgigi premolar dua rahang bawah, insisif dua rahang atas, dan premolar dua rahang atas.

3. Oligodontia adalah keadaan dimana benih gigi yang tidak terbentuk berjumlah lebih dari 6 gigi.

D. Patogenesis

Gigi berasal dari dua jaringan embrional, ektoderm, yang membentuk enamel, dan mesoderm yang membentuk dentin, sementum, pulpa, dan juga jaringan-jaringan penunjang. Perkembangan gigi geligi pada masa embrional dimulai pada minggu ke-6 intrauterin ditandai dengan proliferasi epitel oral yang berasal dari jaringan ektodermal membentuk lembaran epitel yang disebut dengan primary epithelial band. Primary epithelial band yang sudah terbentuk ini selanjutnya mengalami invaginasi ke dasar jaringan mesenkimal membentuk 2 pita pada masing-masing rahang yaitu pita vestibulum yang berkembang menjadi segmen bukal yang merupakan bakal pipi dan bibir serta pita lamina dentis yang akan berperan dalam pembentukan benih gigi.

Pertumbuhan dan perkembangan gigi dibagi dalam 3 tahap, yaitu perkembangan, kalsifikasi, dan erupsi. Tahap perkembangan gigi dibagi lagi menjadi inisiasi, proliferasi, histodiferensiasi, morfodiferensiasi, dan aposisi. Penderita anodontia mengalami halangan pada proses pembentukan benih gigi dari epitel mulut, yakni pada tahap inisiasi (De Muynckd, 2004).

E. Diagnosis

Anodontia ditandai dengan tidak terbentuknya semua gigi dan lebih sering mengenai gigi-gigi tetap dibandingkan gigi-gigi sulung. Pada hipodontia, gigi-gigi yang paling sering tidak terbentuk adalah gigi premolar dua rahang bawah, incisivus dua rahang atas, dan premolar dua rahang atas. Kelainan ini dapat terjadi hanya pada satu sisi rahang atau keduanya

Diagnosa anodontia biasanya membutuhkan pemeriksaan radiografik untuk memastikan memangsemua benih gigi benar-benar tidak terbentuk. Pada kasus hipodontia, pemeriksaan radiografikpanoramik berguna untuk melihat benih gigi mana saja yang tidak terbentuk.F. TerapiApabila diagnosa telah ditegakkan melalui pemeriksaan, terapi yang dapat dilakukan adalah pembuatan gigi tiruan.

II. GIGI IMPAKSI (KOMPETENSI 1)A. Definisi

Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya terhalang atau terhambat,biasanya oleh gigi didekatnya atau jaringan patologis sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal didalam deretan susunan gigi geligi lain yang sudah erupsi (Fadillah,dkk. 2010).

Gambar 1.Gigi yang impaksi Gambar 2. Radiografi pada gigi impaksi

Umumnya gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi posterior dan jarang pada gigi anterior.Namun gigi anterior yang mengalami impaksi terkadang masih dapat ditemui.

Pada gigi posterior,yang sering mengalami impaksi adalah sebagai berikut:

1. Gigi molar tiga(48 dan 38) mandibula

2. Gigi molar tiga(18 dan 28) maksila

3. Gigi premolar (44,45,34 dan 35) mandibula

4. Gigi premolar (14,15,24 dan 25) maksila

Sedangkan gigi anterior yang dapat ditemui mengalami impaksi adalah sebagai berikut:

1. Gigi caninus maksila dan mandibular(13,23,33,dan 43)

2. Gigi incisivus maksila dan mandibular(11,21,31,dan 41) (Fadillah,dkk. 2010).

B. Etiologi

Gigi impaksi disebabkan oleh banyak faktor,menurut Berger penyebab gigi terpendam yakni :

1. Kausa Lokal. Faktor lokal yang dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi adalah

a. Abnormalnya posisi gigi

b. Tekanan dari gigi tetangga pada gigi tersebut

c. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut

d. Kekurangan tempat untuk gigi tersebut bererupsi

e. Gigi desidui persistensi(tidak mau tanggal)

f. Pencabutan prematur pada gigi

g. Inflamasi kronis penyebab penebalan mukosa disekitar gigi

h. Penyakit yang menimbulkan nekrosis tulang karena inflamasi atau abses

i. Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada anak-anak.

2. Kausa Umur. Faktor umur dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksiwalaupun tidak ada kausa lokal,yakni:

a. Kausa Prenatal, yaitu keturunan dan miscegenation.

b. Kausa Postnatal, yaitu ricketsia, anemi, syphilis congenital, TBC, gangguan kelenjar endokrin, dan malnutrisi.

c. Kelainan Pertumbuhan, yaitu Cleido cranial dysostosis, oxycephali, progeria, achondroplasia, celah langit-langit.

C. Klasifikasi

Klasifikasi Menurut Pell Dan Gregory1. Berdasarkan Hubungan antara ramus mandibula dengan molar kedua dengan membandingkan lebar mesio-distal molar ketiga dengan jarak antara distal molar kedua ke ramus mandibula.

Klas I: Ukuran mesio-distal molar ketiga lebih kecil dibandingkan jarak antara distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula.

Gambar 3. Klas I menurut Pell dan Gregory

Klas II: Ukuran mesio-distal molar ketiga lebih besar dibandingkan jarak antara distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula.

Gambar 4. Klas II menurut Pell dan Gregory

Klas III: Seluruh atau sebagian besar molar ketiga berada dalam ramus mandibula.

Gambar 5. Klas III menurut Pell dan Gregory

2. Berdasarkan letak molar ketiga di dalam rahang

Posisi A: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada setinggi garis

oklusal.

Posisi B: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada dibawah garis

oklusal tapi masih lebih tinggi daripada garis servikal

molar kedua.

Posisi C: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada dibawah garis

servikal molar kedua.

Gambar 6. Posisi A,B,dan C menurut Pell dan Gregory

Kedua klasifikasi ini digunakan biasanya berpasangan.Misalnya,Klas I tipe B artinya panjang mesio-distal molar ketiga lebih kecil dibandingkan jarak distal molar kedua ramus mandibula dan posisi molar ketiga berada dibawah garis oklusal tapi masih di atas servikal gigi molar kedua (Fadillah,dkk. 2010).

Klasifikasi Menurut George Winter

Klasifikasi yang dicetuskan oleh George Winter ini cukup sederhana. Gigi impaksi digolongkan berdasarkan posisi gigi molar ketiga terhadap gigi molar kedua.Posisi-posisi meliputi: (Fadillah,dkk. 2010).

1. Vertical

2. Horizontal

3. Inverted

4. Mesioangular(miring ke mesial)

5. distoangular(miring ke distal)

6. bukoangular(miring ke bukal)

7. linguoangular(miring ke lingual)

8. posisi tidak biasa lainnya yang disebut unusual position

ABC

A.Vertical Impaction,B.Soft Tissue Vertical Impaction,dan C.Bony Vertical Impaction menurut George Winter

A B C

A.Distal Impaction(distoangular),B.Mesial Impaction(mesioangular) dan C.Horizontal Impaction

Klasifkasi menurut ArcherAcher memberikan klasifikasi untuk impaksi yang terjadi di rahang atas.

1. Klasifikasi ini sebetulnya sama dengan klasifikasi Pell dan Gregory. Bedanya,klasifikasi ini berlaku untuk gigi atas.

Kelas A : Bagian terendah gigi molar ketiga setinggi bidang oklusal molar

kedua.

Kelas B : Bagian terendah gigi molar ketiga berada diatas garis oklusal

molar kedua tapi masih dibawah garis servikal molar kedua.

Kelas C: Bagian terendah gigi molar ketiga lebih tinggidari garis servikal

molar kedua.

2. Klasifikasi ini sebetulnya sama dengan klasifikasi George Winter.Berdasarkan hubungan molar ketiga dengan sinus maksilaris.

Sinus Approximation: Bila tidak dibatasi tulang,atau ada lapisan tulang yang tipis di antara gigi impaksi dengan sinus maksilaris.

Non Sinus Approximation : Bila terdapat ketebalan tulang yang lebih dari 2 mm antara gigi molar ketiga dengan sinus maksilaris.

Klasifikasi diatas didasarkan pada klasifikasi untuk gigi molar tiga yang impaksi dan berbeda dengan pengklasifikasian gigi lain..Namun klasifikasi gigi lain