Ppt Bipolar

Click here to load reader

  • date post

    23-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    102
  • download

    12

Embed Size (px)

description

NNNN

Transcript of Ppt Bipolar

MAKALAH KOMUNIKASI KONSELING BIPOLAR

BIPOLAR

Kelompok 11:Novi Windari S.FarmNovely Guling .M S.FarmNova Lestari S.FarmSarfina S.FarmBIPOLARGangguan bipolar dikenal sebagai gangguan manik depresif, yaitu gangguan kronik dari regulasi mood yang dihasilkan pada episode depresi dan mania. tipe gangguan jiwa bipolar1. Gangguan Bipolar Tipe I. Gangguan perasaan sangat mengganggu sehingga penderita kesulitan mengikuti sekolah atau pekerjaan, dan pertemanan. Ketika dalam kondisi mania, penderita ini sering dalam kondisi berat dan berbahaya. 2. Gangguan jiwa Bipolar Tipe II. Pada Tipe II, kondisi perasaan tidak seberat Tipe I sehingga penderita masih bisa berfungsi melaksanakan kegiatan harian rutin. Penderita mudah tersinggung. Ketika perasaan naik, penderita hanya mencapai tingkat hipomania. Pada Tipe II, kondisi depresi biasanya berlangsung lebih lama dibandingkan dengan kondisi hipomania-nya. 3. Gangguan Cyclothymic, juga dikenal sebagai cyclothymia. Merupakan bentuk ringan dari Gangguan jiwa bipolar. Kondisi mania dan depresi bisa mengganggu, namun tidak seberat pada Gangguan Bipolar I dan Tipe II.

Pada kondisi mania, beberapa gejala yang muncul antara lain: Euphoria (gembira) Inflated self-esteem (percaya diri berlebihan) Poor judgment (kemampuan menilai menjadi jelek) Bicara cepat Racing thoughts (pikiran saling berkejar-kejaran) Aggressive behavior (perilaku agresif) Agitation or irritation (agitasi atau iritasi) Kegiatan fisik meningkat Risky behavior (perilaku yang berbahaya) Spending sprees or unwise financial choices (tidak mampu mengelola uang, mengeluarkan uang tanpa perhitungan) Meningkatnya dorongan untuk berprestasi atau mencapai tujuan Meningkatnya dorongan seksual Berkurangnya dorongan untuk tidur, tidak merasa mengantuk. Gampang terganggu konsentrasi Berlebihan dalam mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan Sering bolos sekolah atau kerja Mempunyai waham atau keluar dari realitas Prestasi kerja atau sekolah menurun

Gejala-gejala sebagai berikut: Seasonal changes in mood, perubahan suasana hati musiman, suasana hati atau mood penderita bipolar dapat berubah selaras dengan perubahan musimRapid cycling bipolar disorder. Pada beberapa penderita gangguan bipolar perubahan suasana hati berlangsung cepat, yaitu mengalami perubahan mood (suasana hati) 4 kali atau lebih dalam setahun. Namun kadang kadang, perubahan perasaan bisa berlangsung lebih cepat, yaitu dalam hitungan jam. 3. Psikosis. Pada penderita bipolar dengan gejala mania atau depresi berat, sering muncul gejala psikosis yaitu pemikiran yang tidak berdasar realita. Gejalanya bisa berupa halusinasi (suara atau penglihatan) dan delusi (percaya sesuatu yang berbeda dengan kenyataan).

penyebab gangguan jiwa bipolarGenetika dan riwayat keluargapsikologis Lingkungan yang menekan (stressful) dan kejadian dalam hidup (live events). Gangguan neurotransmitter di otak. Gangguan keseimbangan hormonal.Faktor biologis

Manisfestasi Klinik1. Episode manik: Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami mood yang elasi, ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara menetap, tiga atau lebih gejala berikut (empat atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu:- grandiositas atau percaya diri berlebihan- berkurangnya kebutuhan tidur- cepat dan banyaknya pembicaraan- lompatan gagasan atau pikiran berlomba- perhatian mudah teralih- peningkatan energi dan hiperaktivitas psikomotor- meningkatnya aktivitas bertujuan (sosial, seksual, pekerjaan dan sekolah)- tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang matang).

2. Episode depresi mayor :Paling sedikit dua minggu pasien mengalami lebih dari empat simtom/tanda yaitu:- mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senang- menurun atau meningkatnya berat badan atau nafsu makan- sulit atau banyak tidur- agitasi atau retardasi psikomotor- berkurangnya tenaga- menurunnya harga diri- ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan menurunnya konsentrasi- pesimis- pikiran berulang tentang kematian, bunuh diri (dengan atau tanpa renacana) atau tindakan bunuh diri.

3. Episode CampuranPaling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi secara bersamaan. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah, serangan panik, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang bingung. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain, dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, sosial, dan pekerjaan.

4. Episode HipomanikPaling sedikit empat hari, secara menetap, pasien mengalami peningkatan mood, ekspansif atau iritabel yang ringan, paling sedikit tiga gejala (empat gejala bila mood iritabel) yaitu:- grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri- berkurangnya kebutuhan tidur- meningkatnya pembicaraan- lompat gagasan atau pikiran berlomba- perhatin mudah teralih- meningkatnya aktivitas atau agitasi psikomotor- pikiran menjadi lebih tajam- daya nilai berkurang

5. Siklus CepatSiklus cepat yaitu bila terjadi paling sedikit empat episode depresi, hipomania atau mania dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus cepat jarang mengalami bebas gejala dan biasanya terdapat hendakya berat dalam hubungan interpersonal atau pekerjaan.6.Siklus Ultra CepatMania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat dalam beberapa hari. Gejala dan hendaya lebih berat bila dibandingkan dengan siklotimia dan sangat sulit diatasi7.Simtom PsikotikPada kasus berat, pasien bisa mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang paling sering yaitu:- halusinasi (auditorik, visual, atau bentuk sensasi lainnya)- waham

Pengobatan gangguan bipolar

Pengobatan awal. Sering penderita bipolar harus minum obat, kemudian pengobatan jangka panjang disesuaikan dengan perkembangan penyakitnya.Pengobatan lanjutan. Penderita gangguan bipolar biasanya memerlukan pengobatan jangka panjang. Berhenti minum obat sering menyebabkan penderita kambuh.Pengobatan kecanduan obat terlarang. Penderita gangguan bipolar yang menderita kecanduan alkohol atau obat terlarang perlu diobati agar gangguan bipolarnya bisa dikendalikan.

PENGOBATAN BIPOLAR TERBAGI ATAS DUA YAITU SECARA FARMAKOLOGI DAN NON FARMAKOLOGI1. Litium Farmakologi : Sejumlah kecil litium terikat dengan protein. Litium dieksresikan dalam bentuk utuh hanya melalui ginjal.Indikasi : Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai terapi rumatan GB.Dosis : Respons litium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan menitrasi dosis hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari. Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi keadaan akut lebih tinggi bila dibandingkan dengan untuk terapi rumatan. Untuk terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEql/L. Dosis kecil dari 0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas litium dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.Efek samping : Efek samping yang dilaporkan adalah mual, muntah, tremor, somnolen, penambahan berat badan, dan penumpulan kognitif. Neurotoksisitas, delirium, dan ensefalopati dapat pula terjadi akibat penggunaan litium. Neurotoksisitas bersifat ireversibel. Akibat intoksikasi litium, defisit neurologi permanen dapat terjadi misalnya, ataksia, defisist memori, dan gangguan pergerakan. Untuk mengatasi intoksikasi litium, hemodialisis harus segera dilakukan. Litium dapat merusak tubulus ginjal. Faktor risiko kerusakan ginjal adalah intoksikasi litium, polifarmasi dan adanya penyakit fisik lainnya. Pasien yang mengonsumsi litium dapat mengalami poliuri. Oleh karena itu, pasien dianjurkan untuk banyak meminum air.Wanita Hamil: Penggunaan litium pada wanita hamil dapat menimbulkan malformasi janin. Kejadiannya meningkat bila janin terpapar pada kehamilan yang lebih dini. Wanita dengan GB yang derajatnya berat, yang mendapat rumatan litium, dapat melanjutkan litium selama kehamilan bila ada indikasi secara klinis. Kadar litium darahnya harus dipantau dengan seksama. Pemeriksaan : USG untuk memantau janin, harus dilakukan. Selama kehamilannya, wanita tersebut harus disupervisi oleh ahli kebidanan dan psikiater. Sebelum kehamilan terjadi, risiko litium terhadap janin dan efek putus litium terhadap ibu harus didiskusikanMekanisme kerja : litium adalah garam yang terbentuk secara alamiah dan mekanisme kerja yang pasti tidak diketahui dengan baik. Banyak fungsi neorotransmiter yang berubah.

2. Valproat

Farmakologi: Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak plasma valproat sodium dan asam valproat dicapai dalam dua jam sedangkan sodium divalproat dalam 3-8 jam. Awitan absorbsi divalproat lepas lambat lebih cepat bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbsi menjadi lambat bila obat diminum bersamaan dengan makanan. Ikatan valproat dengan protein meningkat bila diet mengandung rendah lemak dan menurun bila diet mengandung tinggi lemak.Dosis: Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam serum berkisar antara 45 -125 mg/mL. Untuk GB II dan siklotimia diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma < 50 mg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250 500 mg/hari dan dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45- 125 mg/mL. Efek samping, misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum > 100 mg/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma yang dianjurkan adalah antara 75-100 mg/mL.Indikasi: Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan litium, siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia.Efek Samping: Valproat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat terjadi, misalnya anoreksia, mual, muntah, diare, dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim transaminase, sedasi, dan tremor. Efek samping ini sering terjadi pada awal pengobatan dan bekurang dengan penurunan dosis atau dengan berjalannya waktu. Efek samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada penggunaan asam valproat dan valproat sodium bila dibandingkan dengan tablet salut sodium divalproat.Mekanisme kerja : mengurangi hambatan lepasan listrik abnormal didalam otak. Asam valproat bisa memperkuat kerja GABA pada sinaps-sinaps inhibisi. Mekanisme kerjanya di perkirakan berdasarkan hambatan enzim yang menguraikan GABA (g-amino-butyric acid) sehingga kadar neorotrasnmitor ini di otak meniingkat.

3. Lamotrigin

Lamotrigin efektif untuk mengatasi episode bipolar depresi. Ia menghambat kanal Na+. Selain itu, ia juga menghambat pelepasan glutamat.Farmakokinetik :Lamotrigin oral diabsorbsi dengan cepat. Ia dengan cepat melewati sawar otak dan mencapai konsentrasi puncak dalam 2-3 jam. Sebanyak 10% lamotrigin dieksresikan dalam bentuk utuh.Indikasi: Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut maupun rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.Dosis: Berkisar antara 50-200 mg/hari.Efek Samping: Sakit kepala, mual, muntah, pusing, mengantuk, tremor, dan berbagai bentuk kemerahan di kulit.Mekanisme kerja : slah satu mekanisme yang di usulkan tindakan untuk lamotrigin melibatkan efek pada saluran sodium. Farmakologi menunjukkan bahwa tegangan sensitif menghambat saluran sodium sehingga menstabilkan membran dan akibatnya modulasi pemancar rilis presinaptif asam amino terangsang (misalnya glutamat dan aspartam)

Beberapa antipsikotika atipik tersebut adalah olanzapin, risperidon, quetiapin, dan aripiprazol.

1. RisperidonRisperidon adalah derivat benzisoksazol. Ia merupakan antipsikotika atipik pertama yang mendapat persetujuan FDA setelah klozapin.Absorbsi: Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Ia dimetabolisme oleh enzim hepar yaitu CYP 2D6.Dosis: Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.Indikasi: Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi rumatan

Efek Samping: Sedasi, fatig, pusing ortostatik, palpitasi, peningkatan berat badan, berkurangnya gairah seksual, disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon bila dibandingkan dengan pada plasebo. Meskipun risperidon tidak terikat secara bermakna dengan reseptor kolinergik muskarinik, mulut kering, mata kabur, dan retensi urin, dapat terlihat pada beberapa pasien dan sifatnya hanya sementara. Peningkatan berat badan dan prolaktin dapat pula terjadi pada pemberian risperidon.Mekanime kerja : dalam menghambat aktivitas reseptor dopamine D2 dan serotonin sehingga dianggap mempunyai efek anxiolitik. Berbagai uji klinis menunjukkan efek anxiolitik dari risperidone pada pasien-pasien gangguan cemas, depresi dengan komorbid gangguan cemas, gangguan cemas yang resisten terhadap berbagai terapi pada geriatri, gangguan cemas menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder) ditemukan pada dosis yang lebih rendah jika dibandingkan dengan dosis yang digunakan untuk psikosis.

2. Olanzapin

Farmakologi : Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin yang memiliki afinitas terhadap dopamin (DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2 (5-HT2); muskarinik, histamin 1(H1), dan a1- adrenergik.Indikasi :Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut mania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan GB.Dosis: Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.Efek Samping: Sedasi dapat terjadi pada awal pengobatan tetapi berkurang setelah beberapa lama. Efek antikolinergik dapat pula terjadi tetapi kejadiannya sangat rendah dan tidak menyebabkan penghentian pengobatan. Risiko terjadinya diabetes tipe-2 relatif tinggi bila dibandingkan dengan antipsikotika atipik lainnya. Keadaan ini dapat diatasi dengan melakukan psikoedukasi, misalnya merubah gaya hidup, diet dan latihan fisik.Mekanisme kerja : Antipsikotika bekerja menghambat agak kuat reseptor dopamin (D2) di sistem limbis otak dan disamping itu juga menghambat reseptor D1/D4, 1 (dan 2)-adrenerg, serotonin, muskarin, dan histamin. Tetapi pada pasien yang kebal terhadap obat-obat klasik ditemukan pula blokade tuntas dari reseptor D2 tersebut.

3. Quetiapin

Farmakologi: Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja sebagai antagonis 5-HT1A dan 5-HT2A, dopamin D1, D2, histamin H1 serta reseptor adrenergik a1 dan a2. Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap serotonin 5-HT2A.Dosis: Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari. Tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg, dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.Indikasi: Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran, siklus cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.

Efek Samping: Quetiapin secara umum ditoleransi dengan baik. Sedasi merupakan efek samping yang sering dilaporkan. Efek samping ini berkurang dengan berjalannya waktu. Perubahan dalam berat badan dengan quetiapin adalah sedang dan tidak menyebabkan penghentian pengobatan. Peningkatan berat badan lebih kecil bila dibandingkan dengan antipsikotika tipik.Mekanisme kerja : belum diketahui pasti, mungkin bekerja melalui kerja antogonis pada reseptor dopamin D2 dan serotonin tipe 2 (5-HT2). ;Obat ini mengantagonis beberapa reseptor di otak : serotonin 5-HT1A, 5-HT2, dopamin D1 dan D2, histamin H1, alfa 1 dan alfa2 adrenergik; tidak mempengaruhi reseptor kholinergik dan benzodiasepin. ;Kerja antagonis pada dopamin dan 5-HT2 menjelaskan beberapa efek quetiapin, antagonis H1 mengakibatkan somnolen. Sedangkan kerja antagonis pada alfa adrenergik menimbulkan hipotensi ortostatik.

4. Aripiprazol

Farmakologi: Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2, D3, dan 5-HT1A serta antagonis 5- HT2A. Ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3, afinitas sedang pada D4, 5-HT2c,5-HT7, a1- adrenergik, histaminergik (H1), dan serotonin reuptake site (SERT), dan tidak terikat dengan reseptor muskarinik kolinergik.Dosis: Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran dosis efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang direkomendasikan yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari. Apabila ada rasa mual, insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk menurunkan dosis. Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat meningkatkan tolerabilitas.Indikasi : Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia juga efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi tambahan pada GB I, episode depresi.

Efek Samping:Sakit kepala, mengantuk, agitasi, dispepsia, anksietas, dan mual merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang dilaporkan secara spontan oleh kelompok yang mendapat aripiprazol. Efek samping ekstrapiramidalnya tidak berbeda secara bermakna dengan plasebo. Akatisia dapat terjadi dan kadang-kadang dapat sangat mengganggu pasien sehingga sering mengakibatkan penghentian pengobatan. Insomnia dapat pula ditemui. Tidak ada peningkatan berat badan dan diabetes melitus pada penggunaan aripiprazol. Selain itu, peningkatan kadar prolaktin juga tidak dijumpai. Aripiprazol tidak menyebabkan perubahan interval QTc. Mekanisme kerja : aripiprazole berbeda dengan antipsikotik atipikal lain (clozapine,olanzapine, quetiapine, ziprasidone, risperidone). Bukan sebagai antagonis reseptor D2,aripiprazole berlaku sebagai agonis parsial D2. Aripiprazole juga merupakan agonis parsialreseptor 5-HT1A, dan seperti antipsikotik lain menunjukkan profil antagonis reseptor 5-HT2A. Aripiprazole juga merupakan antagonis reseptor 5-HT7 dan agonis parsial reseptor 5-HT2C, keduanya dengan afinitas tinggi. Mekanisme terakhir juga mendasari kenaikan beratbadan yang lebih minimal daripada antipsikotik lain. Aripiprazole memiliki afinitas sedanguntuk histamin, alfa adrenergik, dan reseptor D4 dan juga transporter serotonin, namun tidakmemiliki afinitas yang berharga untuk reseptor muskarinik kolinergik.

Terapi Non Farmakologi

1. KonsultasiSuatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu sesuai bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan medikasi.2. DietTerkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), tidak ada diet khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam, karena peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum menurun dan menurunkan efikasinya, sedangkan mengurangi asupan garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas.

3.AktivitasPenderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan kunci untuk bertahan dari penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini berlebihan dengan peningkatan perspirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas litium.4.Edukasi PenderitaPengobatan penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi penderita awal dan lanjutan. Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita, namun juga melalui keluarga dan sistem disekitarnya. Lagipula, fakta menunjukkan peningkatan dari tujuan edukasi ini, tidak hanya meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang penyakit, namun juga kualitas hidupnya.

TERIMA KASIH