Policy brief #4 gender and islam bhs ind

download Policy brief #4 gender and islam   bhs ind

of 8

  • date post

    05-Dec-2014
  • Category

    Spiritual

  • view

    454
  • download

    4

Embed Size (px)

description

task manager

Transcript of Policy brief #4 gender and islam bhs ind

  • 1. Istilah gender berbeda dengan seks. Gender menunjukkan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang mengacu sifat, pandangan, status, posisi, peran, dan tanggung jawab yang berbeda yang dikonstruksi secara sosial dan budaya berdasarkan pada perbedaan fisik antara keduanya (Riley, 1997). Peran dan norma-norma yang berkaitan dengan gender dapat berubah dengan waktu dan dapat berbeda dalam satu kebudayaan dan kebudayaan lain. Sementara seks mengacu pada perbedaan secara biologis antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, seks lebih bersifat permanen dan sulit diubah. Sedangkan gender merupakan produk sosial budaya yang tidak permanen dan bisa berubah dari waktu ke waktu (Lindsey, 2010). Banyak faktor yang menjadi penyebab ketimpangan gender, seperti adat atau tradisi, agama, maupun kebijakan negara yang bias gender. Dan pendidikan baik formal, informal maupun non-formal merupakan sarana paling strategis untuk mengatasi berbagai kesenjangan dan meningkatkan harkat dan martabat perempuan agar sejajar dengan laki-laki. Pendidikan berperan dalam mentransfer pengetahuan, nilai-nilai, dan norma-norma baru kepada masyarakat, termasuk bagi sosialisasi gagasan kesetaraan gender. Terkait dengan itu, materi kurikulum yang berspektif gender yang terkandung dalam buku ajar menjadi unsur utama bagi tercapainya kesetaraan dan keadilan gender. Kebijakan negara tentang kesetaraan gender telah cukup banyak digulirkan. Persoalannya, kebijakan tersebut belum sepenuhnya termanifestasikan dalam bidang pendidikan. Policy brief ini memaparkan hasil temuan ilmiah tentang kesetaraan gender yang digambarkan dalam buku- buku Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diajarkan pada siswa-siswi SD/MI, SMP/MTS dan SMA/MA di empat provinsi: Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Diharapkan dengan dipaparkannya hasil temuan analisa buku yang digunakan di sekolah-sekolah ini dapat dijadikan masukkan kebijakan pemerintah dalam meninjau kembali kandungan materi dalam buku-buku sekolah, sehingga buku-buku yang digunakan lebih menggambarkan kesetaraan gender. Temuan dan Analisis Buku-buku Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dianalisis dalam penelitian ini berjumlah 35 buah, Gender and Reproductive Health Study Policy Brief No. 4 Gender dalam Buku-buku Pendidikan Agama Islam Ida Rosyidah dan Iwu Dwisetyani Utomo Buku-buku ajar pendidikan agama Islam yang digunakan di sekolah banyak mengandung informasi yang bias. Perempuan masih dipandang secara stereotipikal dan perannya ditempatkan di ranah domestik. Sementara laki-laki mendominasi materi dan informasi terkait ranah publik. Padahal, buku-buku ajar pendidikan agama Islam menjadi sumber pengetahuan dan informasi penting tentang kesetaraan berdasarkan ajaran agama Islam. Maka diperlukan adanya perubahan dalam kebijakan sistem penulisan buku ajar pendidikan agama Islam, di mana penulis buku-buku tersebut harus memiliki perspektif gender. Selain itu, diperlukan adanya keterlibatan tokoh-tokoh agama berperspektif gender untuk mengevaluasi kandungan isi buku-buku ajar pendidikan agama Islam tersebut.
  • 2. 2 yang terdiri dari buku PAI untuk SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA. Penentuan buku didasarkan pada hasil survei terhadap buku ajar yang paling banyak digunakan di sejumlah sekolah yang ada di keempat provinsi tersebut. Sementara metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi (content analysis). Gambar 1. Buku-buku PAI yang dianalisa, 2011 Sumber: The 2010 Gender and Reproctive Health Study Policy paper ini memaparkan dua hal pokok bahasan ketimpangan gender dalam buku-buku PAI. Yaitu tentang gambaran ketidaksetaraan gender dalam buku-buku PAI yang digunakan di sekolah- sekolah dan masukan kebijakan untuk pemerintah dan instansi terkait. Deskripsi Kesenjangan Gender dalam Buku-buku PAI SD sampai SMA Analisa kesenjangan gender yang tergambar dalam buku-buku PAI dari SD sampai SMA tersebut dibagi ke dalam dua aspek utama: domain publik dan domain domestik. Ranah Publik Ketimpangan Gender dalam Kepemimpinan Mayoritas buku PAI memperlihatkan masih adanya dominasi laki-laki di ruang publik. Sebagai contoh, ketika menyebut nama sahabat Nabi Muhammad, yang seringkali disebut adalah sahabat laki-laki. Sementara sahabat Nabi yang perempuan kurang diperkenalkan. Ada beberapa buku PAI yang menyebutkan sahabat perempuan, namun jumlahnya sangat sedikit dan informasi yang diberikan tentang mereka juga minim. Kecenderungan yang sama terlihat pada penyebutan tokoh-tokoh periwayat hadis laki-laki. Dari sejumlah buku yang dianalisis, tampak sekali perawi perempuan jarang dimunculkan. Perawi perempuan, seperti Aisyah dan Atiyah hanya ada dalam satu buku (Ngadiyanto, 2007: 94). Hal yang sama juga terjadi dalam penjelasan mengenai kisah- kisah sufi yang umumnya didominasi laki-laki. Informasi tentang sufi perempuan, yaitu Rabiah al- Adawiyah, hanya ditemukan di dalam buku yang sama di atas. Realitasnya, dalam sejarah Islam begitu banyak sahabat perempuan Rasulullah, yang berperan besar dalam memperjuangkan Islam baik sebagai pengusaha, perawat, maupun pasukan perang yang gigih yang membela agamanya dengan harta dan nyawa mereka (Umar Ahmad Ar-Rawi, 2010; Manshur Abdul Hakim, 2006) dan lebih dari seratus perawi hadis perempuan yang selama ini namanya kurang dikenal.karena kurang tersosialisasikan. Dominasi laki-laki juga terlihat pada tulisan tentang ulama atau pemimpin agama. Hanya ada dua buku yang menulis tentang ulama perempuan. Meski demikian, informasi tentang kedua ulama itu sangat terbatas. Selain itu, peran mereka secara individual dalam sejarah juga kurang dijelaskan. Sebaliknya, eksistensi mereka dilihat hanya sebagai bagian dari popularitas ayah, suami, anak, atau saudara laki-laki mereka. Sehingga, terkesan perempuan berhasil bukan karena kapasitasnya sendiri tetapi karena laki-laki yang ada di belakangnya. Hal yang sama dapat dilihat dalam penggambaran tentang kepemimpinan laki-laki dalam politik. Penjelasan tentang raja, pangeran, sultan, atau presiden yang disuguhkan dalam buku-buku tersebut sarat dengan nuansa kepemimpinan maskulin. Sementara partisipasi perempuan dalam politik hampir tidak tersentuh. Hanya ada satu buku yang menjelaskan keterlibatan perempuan dalam posisi elit di arena politik, seperti Ratu Shima, Putri Campa, Putri Kawungaten, dan Nyai Rara Santang. Namun, informasi tentang kontribusi mereka dalam politik tidak digali secara lebih dalam (Tim IMTAQ, 2006). Temuan tak berbeda tampak dalam penjelasan mengenai peran perempuan dalam pembuatan keputusan, seperti pejabat dan pemimpin perusahaan, yang ada di tangan laki-laki. Juga, tidak ada satu buku pun yang memperkenalkan ilmuwan atau filsuf perempuan, padahal materi tersebut sejak SD/MI sudah diperkenalkan. Di samping memuat banyak narasi yang bias gender, buku-buku PAI tersebut juga memuat gambar-gambar yang memperkuat ideologi
  • 3. 3 patriarkhi yang mengunggulkan laki-laki. Gambar- gambar seperti kiai, guru agama, pemimpin perang, raja, pangeran, pejabat, direktur, dan hakim, umumnya didominasi laki-laki. Selain itu, pembagian kerja yang tergenderkan di ranah publik juga secara kental diperkenalkan, seperti anak laki- laki digambarkan bercita-cita menjadi dokter, arsitek, dan pengusahadan anak perempuan menjadi guru. Ilustrasi di bawah ini memperkuat pandangan tersebut (Gambar 2-5). Gambar 2. Foto hakim semua laki-laki Sumber: Syamsuri, 2007: 59 Gambar 3. Anak laki-laki digambarkan mempunya cita-cita menjadi dokter Sumber: Masrun dkk., 2007A: 91. Gambar 4. Anak laki-laki digambarkan mempunyai cita-cita menjadi arsitek Sumber: Masrun dkk., 2007A: 91. Gambar 5. Anak laki-laki digambarkan mempunyai cita-cita menjadi pengusaha Sumber: Masrun dkk., 2007A: 92. Ranah Domestik Buku-buku PAI yang kami teliti hampir seluruhnya menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga. Pada umumnya mereka mengutip sebuah ayat dalam al-Quran, yaitu Surat An-Nisa ayat 34, dan memahaminya secara tekstual untuk melegitimasi pandangan mereka. Tak ada satu pun buku yang melakukan penjelasan secara kontekstual terhadap ayat tersebut. Bahkan, beberapa buku mengutip hadis-hadis yang mendiskreditkan kepemimpinan perempuan dalam rumah tangga, seperti: laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, wanita (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya. (Syamsuri, 2006: 86). Hadis tersebut memuat pesan moral yang bias gender dan dengan jelas mengindikasikan pengabaian terhadap hak milik perempuan. Hadis tersebut bertentangan dengan realitas perempuan saat ini yang memiliki kontribusi besar dalam ekonomi rumah tangga, termasuk dalam kepemilikan rumah. Pembagian kerja dalam rumah tangga yang tergenderkan juga tampak dalam buku-buku yang dikaji. Pembagian kerja dalam rumah tangga menjadi sarana penting bagi terciptanya benih- benih ketimpangan gender. Ada dua model relasi suami istri yang terlihat dalam buku-buku PAI yang diteliti. Pertama, sebagian buku masih sangat konvensional dalam memandang relasi suami istri. Kedua, adanya perspektif yang memandang pekerjaan rumah tangga menjadi milik bersama suami istri.
  • 4. 4 Pada umumnya buku-buku PAI menempatkan perempuan sebagai subordinat dalam lingkungan keluarga. Pemisahan tegas peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga tampak dalam buku-buku tersebut. Sebagai contoh, dalam sebuah buku dijelaskan bahwa di antara kewajiban suami adalah menjadi pemimpin dalam keluarga, memberi nafkah, dan bergaul dengan istri secara makruf (Tim IMTAQ, 2006: 85). Gambar 6 mengilustrasikan hal tersebut. Gambar 6. Suami bekerja