POLA MIGRASI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI ANTAR .Migrasi neto (net migration) merupakan selisih antara

download POLA MIGRASI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI ANTAR .Migrasi neto (net migration) merupakan selisih antara

of 25

  • date post

    09-Jan-2019
  • Category

    Documents

  • view

    215
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of POLA MIGRASI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI ANTAR .Migrasi neto (net migration) merupakan selisih antara

TUGAS KELOMPOK

POLA MIGRASI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI

ANTAR PROVINSI DI INDONESIA

MATA KULIAH : MOBILITAS

DOSEN : Drs. Chotib, M.Si

ESTHER V. SIMANULLANG (NPM. 1206304105)

FERNANDO SILAEN (NPM. 1206304124)

SUNDARI BUDIANI (NPM. 1206304295)

PROGRAM STUDI PASCASARJANA KAJIAN KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN

UNIVERSITAS INDONESIA TAHUN 2012

2

1. Pendahuluan

Pergerakan yang dilakukan penduduk, secara historis merupakan gambaran

terdapatnya perbedaan pertumbuhan ekonomi, ketidakmerataan fasilitas pembangunan antara

satu daerah dengan daerah lain, kesenjangan penghasilan, maupun struktur pekerjaan yang

ada. Ketimpangan yang terjadi antara satu daerah dengan daerah lainnya menyebabkan

penduduk terdorong untuk melakukan pergerakan dari satu daerah ke daerah lainnya.

Banyak peneliti menyatakan bahwa seseorang melakukan migrasi cenderung

disebabkan oleh motif ekonomi. Hal ini mencerminkan bahwa penduduk yang melakukan

migrasi telah memperhitungkan berbagai kerugian dan keuntungan yang akan didapatnya

sebelum yang bersangkutan memutuskan untuk berpindah atau menetap di tempat asalnya

(Tjiptoherijanto, 2000). Seseorang cenderung melakukan migrasi dengan harapan dapat

memperbaiki kondisi ekonominya. Dengan demikian, perbedaan pembangunan ekonomi

antara satu daerah dengan daerah lain yang kemudian tercermin pada perbedaan pendapatan

penduduk mendorong dan menarik seseorang untuk melakukan mobilitas (Ananta dan

Wongkaren, 1996).

Migrasi penduduk merupakan bagian integral dari proses pembangunan secara

keseluruhan (Tjiptoherijanto, 2000; Skeldon, 2008; de Haas, 2010a). Migrasi telah menjadi

penyebab dan penerima dampak dari perubahan struktur ekonomi dan sosial suatu daerah.

Pembangunan tetap dipandang sebagai dasar kekuatan yang menggerakkan migrasi sampai

saat ini, dengan melihat fakta bahwa adanya kenaikan migrasi keluar nasional yang meningkat

akibat terjadinya pertumbuhan ekonomi modern di Eropa, pada awalnya bertahap, mencapai

puncaknya, dan kemudian menurun (Chiswick dan Hatton, 2003).

Borjas (2000) menyatakan bahwa pola migrasi internal ditentukan oleh umur,

pendidikan, jarak, dan faktor lainnya. Pada umumnya migrasi dilakukan oleh pekerja yang

lebih muda dan lebih berpendidikan. Hal ini disebabkan oleh keuntungan dari migrasi yang

dilakukan (net gains to migration) cenderung lebih besar. Lebih lanjut, Borjas berpendapat

bahwa hubungan antara migrasi dengan jarak adalah suatu bagian integral dari gravity models.

Indikator pembangunan ekonomi yang digunakan dalam tulisan ini adalah Produk

Domestik Regional Bruto (PDRB) riil per kapita, angka pengangguran, dan upah minimum

provinsi (UMP).

3

2. Migrasi

2.1 Konsep dan Definisi Migrasi

Definisi migrasi (Lee, 1966) adalah perubahan tempat tinggal secara permanen atau

semi permanen, tanpa mempermasalahkan dekat jauhnya perpindahan, mudah atau sulit,

terpaksa atau sukarela, maupun dalam negeri atau luar negeri.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan batasan migrasi sebagai bentuk dari

mobilitas geografi (geographic mobility) atau mobilitas keruangan (spatial mobility) dari

suatu unit geografi ke unit geografi lainnya, yang menyangkut mendefinisikan migrasi

sebagai perubahan tempat tinggal secara permanen dari suatu unit geografis tertentu ke unit

geografis yang lain (United Nations, 1970). Dalam definisi ini menyangkut dua unsur pokok

yaitu dimensi waktu dan dimensi geografis. Definisi migrasi menurut UN ini tidak

memberikan batasan interval waktu dan jarak unit geografi.

Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan definisi migrasi berdasarkan dimensi waktu

dan wilayah. BPS mendefinikan migrasi sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas

administratif dengan jangka waktu tinggal di tempat tujuan minimal enam bulan secara

berturut-turut. Dalam tulisan ini mengacu pada definisi yang telah ditetapkan oleh BPS.

2.2 Jenis-Jenis Migrasi

Beberapa jenis migrasi berdasarkan daerah dan waktu pindah, yaitu:

1. Migrasi masuk (in migration) adalah perpindahan penduduk ke suatu daerah tempat

tujuan (area of destination).

2. Migrasi keluar (out migration) adalah perpindahan penduduk keluar dari suatu

daerah asal (area of origin).

3. Migrasi neto (net migration) merupakan selisih antara jumlah migrasi masuk dan

migrasi keluar. Apabila migrasi masuk lebih besar daripada migrasi keluar, maka

disebut migrasi neto positif, sedangkan jika migrasi keluar lebih besar daripada

migrasi masuk, maka disebut migrasi neto negatif.

4. Migrasi bruto (gross migration) adalah jumlah migrasi masuk dan migrasi keluar.

5. Migrasi risen (recent migration) adalah migrasi yang melewati batas provinsi dalam

kurun waktu tertentu sebelum pencacahan, misalnya lima tahun sebelum sensus atau

survei.

4

6. Migrasi semasa hidup (life time migration) adalah migrasi yang terjadi antara saat

lahir dan saat sensus atau survei.

7. Migrasi total (total migration) adalah migrasi antar provinsi tanpa memperlihatkan

kapan perpindahannya, sehingga provinsi tempat tinggal sebelumnya berbeda dengan

provinsi tempat tinggal saat pencacahan.

8. Migrasi pulang (return migration) merupakan pengurangan antara migrasi total dan

migrasi seumur hidup.

9. Migrasi internasional (international migration) merupakan perpindahan penduduk

dari suatu negara ke negara lain.

10. Migrasi parsial (partial migration) adalah jumlah migrasi ke suatu daerah tujuan dari

suatu daerah asal atau dari daerah asal ke daerah tujuan.

11. Migrasi yang diliaht berdasarkan waktu, yaitu arus migrasi (migration stream) yaitu

sekelompok migran yang daerah asal dan tujuan migrasinya sama dalam suatu

periode migrasi yang diberikan.

2.3 Ukuran-ukuran Migrasi

Kejadian atau dinamika migrasi penduduk dapat diukur atas beberapa ukuran

sebagaimana ukuran dalam kejadian fertilitas maupun mortalitas, ukuran-ukuran migrasi

tersebut adalah:

1. Angka Mobilitas

Adalah rasio dari banyaknya penduduk yang pindah secara lokal (mover) dalam

suatu jangka waktu tertentu dengan banyaknya penduduk per seribu perbandingan

penduduk yang ada.

(

)

dimana:

m = angka mobilitas

M = jumlah movers

P = penduduk

k = 1000 (nilai konstanta yang menyatakan dari 1000 orang pengamatan)

5

2. Angka Migrasi Masuk atau Crude In Migration Rate (CIMR)

Adalah angka yang menunjukkan angka migran yang masuk per seribu orang

penduduk daerah tujuan dalam kurun waktu satu tahun.

( )

dimana:

mi = angka migrasi masuk ke wilayah i

Mi = jumlah migrasi masuk (in migration)

Pi = penduduk pertengahan tahun daerah tujuan

k = 1000

3. Angka Migrasi Keluar atau Crude Out Migration Rate (COMR)

Adalah angka yang menunjukkan angka migran yang keluar per seribu orang

penduduk daerah asal dalam kurun waktu satu tahun.

( )

dimana:

mo = angka migrasi keluar (out)

Mo = jumlah migrasi keluar (out migration)

Po = penduduk pertengahan tahun daerah asal

k = 1000

4. Angka Migrasi Neto atau Net Migration Rate (NMR)

Adalah selisih banyaknya migran masuk dan keluar ke dan dari suatu daerah per

seribu penduduk dalam satu tahun.

(

)

dimana:

mn = angka migrasi neto

Mi = jumlah migrasi masuk (in migration)

Mo = jumlah migrasi keluar (out migration)

P = penduduk pertengahan tahun

k = 1000

6

3. Pembangunan Ekonomi

Menurut model perubahan struktural yang dikemukakan oleh Chenery dalam Todaro

(2006), pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pertumbuhan dan perubahan ekonomi

yang berkaitan dengan transisi dari pola perekonomian agraris ke perekonomian industri,

akumulasi modal fisik dan manusia, transformasi produksi, perubahan komposisi permintaan

konsumen, perdagangan internasional dan sumberdaya, serta faktor lainnya yang dapat

meningkatkan pendapatan. Selanjutnya dianggap bahwa dengan pertumbuhan ekonomi hasil

pembangunan akan dinikmati melalui proses merambat ke bawah (trickling-down effect)

sehingga menciptakan lapangan pekerjaan dan berbagai peluang ekonomi yang pada akhirnya

akan menumbuhkan dan menyebarkan distribusi hasil-hasil pertumuhan ekonomi secara

merata. Strategi ini kemudian dikenal sebagai strategi pertumbuhan.

Namun sebagai akibat diberlakukannya strategi pertumbuhan ini muncul adanya

ketimpangan pendapatan yang semakin tinggi. Pembangunan ekonomi bukan lagi

menciptakan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan juga bagaimana

menanggulangi ketimpangan pendapatan yang semakin melebar antara kota desa dan antar

daerah.

Lewis dalam Todaro (2006) menyatakan proses pembangunan yang terjadi antara

daerah kota dan desa ditandai dengan transformasi tenaga kerja dan output sektor tradisional

ke sektor modern. Sektor tradisional, yang bertumpu pada sektor pertanian mengalami surplus

tenaga kerja, sedangkan sektor modern yang bertum