Pneumonia Nosokomial

of 28

  • date post

    10-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    19
  • download

    0

Embed Size (px)

description

hhhhhhhhhhhh

Transcript of Pneumonia Nosokomial

  • BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Pneumonia Nosokomial

    Infeksi nosokomial atau disebut juga infeksi rumah sakit, adalah infeksi yang

    terjadi di rumah sakit oleh kuman yang berasal dari rumah sakit.24 Infeksi yang terjadi

    dan diperoleh penderita selama dirawat di rumah sakit yang disebut infeksi nosokomial,

    telah menjadi masalah yang besar di pelayanan penderita di rumah sakit di seluruh

    dunia, juga di Indonesia. Karena pentingnya masalah ini, maka semua rumah sakit

    harus dilengkapi fasilitas laboratorium yang bertanggung jawab mendukung aktifitas

    yang berhubungan pada surveilans, kontrol dan pencegahan infeksi nasokomial.25

    Mikroba atau bakteri adalah organisme hidup yang berukuran sangat kecil yang

    tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, untuk melihatnya diperlukan alat mikroskop

    cahaya. Berjuta-juta bakteri hidup di sekitar lingkungan manusia namun sebagian

    bakteri ini tidak berbahaya bagi manusia, bahkan beberapa bakteri hidup dalam tubuh

    manusia berperan penting melindungi tubuh dari serangan organisme luar dan juga

    berperan dalam proses membantu pencernaan, membuat vitamin yang diperlukan oleh

    tubuh, kelompok bakteri ini dinamakan flora normal. Namun ada sebagian bakteri lain

    yang bersifat patogen artinya bakteri ini dapat menimbulkan penyakit infeksi bahkan

    penyebab infeksi yang serius pada manusia dan bakteri inilah yang perlu mendapatkan

    perhatian kita di bidang kesehatan. Untuk menghambat dan menghentikan

    perkembangan biakan bakteri yang patogen ini diperlukan antibiotik/antimikroba.26

    Universitas Sumatera Utara

  • Pemilihan antibiotik empiris dapat dibantu dengan pemeriksaan pewarnaan

    sampel dari saluran napas untuk memandu terapi. Pewarnaan Gram dilakukan pada

    sampel protected specimen brush, bronchoalvolar lavage, atau endotracheal aspirate.

    Keterbatasannya adalah sampel tersebut memelukan pemeriksaan invasif. Kualitas

    sampel saluran napas bawah penting untuk penilaian mikro-organisme yang berperan

    sebagai etiologi HAP. Adanya sel epitel >1% pada sampel saluran bronkus

    menunjukkan kontaminasi dari orofaring. Telah disepakati bahwa pada penanganan

    VAP, pemeriksaan mikrobiologi bermanfaat dan bila ditemukan kuman intrasel dan

    pewarnaan Gram yang positif sangat membantu untuk pemilihan antibiotik empiris yang

    akan diberikan. Untuk membantu menentukan apakah suatu mikro-oraganisme

    merupakan kolonisasi atau penyebab infeksi, perlu dilakukan pemeriksaan kultur

    kuatitatif, baik dengan colony-forming unit (CFU)/ml atau semi-kuantitatif dengan

    penilaian pertumbuhan kuman.27

    2.1.1.Rumah Sakit

    Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan

    ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Di tempat ini penderita mendapatkan

    terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. Rumah sakit selain untuk mencari

    kesembuhan, juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari

    penderita maupun pengunjung yang berstatus karier. Kuman penyakit ini dapat hidup

    dan berkembang di lingkungan rumah sakit seperti : udara, air, lantai, makanan, dan

    benda-benda medis maupun non medis.22

    Infeksi nosokomial merupakan ancaman yang besar untuk keselamatan nyawa

    penderita di rumah sakit. Diperkirakan pada tahun 2002 terdapat 1,7 juta penderita

    Universitas Sumatera Utara

  • pneumonia nosokomial atau setiap 4,5 per 100 kasus rawat inap, dengan 99000 kasus

    kematian yang disebabkan atau dihubungkan dengan infeksi nosokomial sebagai

    penyebab kematian nomor enam di Amerika, data yang sama dengan di Eropa. Biaya

    kesehatan di Amerika Serikat yang dikeluarkan adalah 5-10 miliar dolar

    pertahunnya.28

    2.1.2. Unit Perawatan Intensif

    Unit perawatan intensif adalah suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah

    sakit memiliki staf khusus, peralatan khusus yang ditujukan untuk menanggulangi

    penderita gawat karena penyakit, trauma atau komplikasi-komplikasi. Infeksi

    nosokomial dan kematian di unit perawatan intensif prevalensinya lebih tinggi dibanding

    tempat lainnya di rumah sakit. Penyakit yang mendasari, gangguan mekanisme

    pertahanan tubuh, alat invasif, pengobatan imunosupresif, penggunaan antibiotik, dan

    kolonisasi dengan kuman yang resisten, menyebabkan penderita rentan terhadap

    infeksi nosokomial.29

    2.2. Teknik Bronkoskopi Serat Optik Lentur

    Bronkoskopi serat optik lentur (BSOL) juga dikenal sebagai Fiber Optic Bronchoscopy

    (FOB), sangat membantu dalam menegakkan diagnosis pada kelainan yang dijumpai di paru-

    paru dan berkembang sebagai suatu prosedur diagnostik invasif paru.30,31

    FOB berupa tabung tipis panjang dengan diameter 5-6 mm, merupakan saluran untuk

    tempat penyisipan peralatan tambahan yang digunakan untuk mendapatkan sampel dahak

    ataupun jaringan. Biasanya 55 cm dari total panjang tabung FOB mengandung serat optik yang

    memancarkan cahaya. Ujung distal FOB memiliki sumber cahaya yang dapat memperbesar

    120o dari 100o lapangan pandang yang diproyeksikan ke layar video atau kamera.32,33

    Universitas Sumatera Utara

  • Gambar 1. Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL)34

    Tabungnya sangat fleksibel sehingga memungkinkan operator untuk melihat sudut 160o-

    180o keatas dan 100o-130o ke bawah. Hal ini memungkinkan bronchoscopist FOB untuk melihat

    ke segmen yang lebih kecil dan segmen sub cabang bronkus ke atas dan ke bawah dari

    bronkus utama, dan juga ke depan belakang (anterior dan superior).32,33

    Ada tiga cara untuk melakukan FOB, yaitu melalui hidung (trans nasal), mulut (trans

    oral) atau melalui endotracheal tube (ETT). Elastisitas FOB memungkinkan bronkoskop

    melewati hidung, tenggorokan posterior, pita suara, trakea, karina membagi bronkus utama

    kanan dan kiri. Kemudian FOB masuk ke bronkus dan segmen yang lebih kecil kanan dan kiri

    paru. Karina dan semua segmen pada trakeobronkial divisualisasikan pada layar video

    bronkoskopi. Karina dinilai ketajamannya. Subsegmen paru dinilai posisi, tekstur, warna,

    ukuran dan patency. Mukosa bronkial juga diperiksa apakah ada infiltrasi, peradangan dan

    sekresi.34,35,36

    Universitas Sumatera Utara

  • Bronchoalveolar lavage (BAL) adalah tindakan bilasan dengan larutan garam

    fisiologis dalam jumlah yang cukup besar untuk menguras material bronkus dan

    alveolar guna tujuan diagnostik penyakit paru. Cara kerjanya adalah setelah dipelajari

    seluruh percabangan bronkus kanan dan kiri, ujung bronkoskop ditujukan ke salah satu

    segmen lobus medius (kanan) atau lingula (kiri) dan disumbatkan pada bronkus

    segmen tersebut, kemudian cairan steril garam fisologis 0,9% dengan suhu 370C

    diinstilasikan sebanyak 20-50 ml kemudian dengan hati-hati cairan tersebut dihisap

    kembali dengan kecepatan 5 ml/detik dan ulangi tindakan tersebut sampai cairan

    sebanyak 100-300 ml. Sampel yang didapat dilakukan pemeriksaan mikrobiologi dan

    sitologi.12

    2.3. Teknik Selang Kateter

    Selang kateter penghisap (suction) yang akan digunakan untuk membersihkan

    jalan napas biasanya mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda, idealnya selang

    kateter penghisap yang baik adalah efektif menghisap sekret dan risiko trauma jaringan

    yang minimal. Diameter selang kateter penghisap bagian luar tidak boleh melebihi

    setengah dari diameter bagian dalam lumen endotracheal tube, diameter yang lebih

    besar akan menimbulkan atelektasis sedangkan selang kateter yang terlalu kecil kurang

    efektif untuk menghisap sekret yang kental. Yang penting diingat adalah setiap kita

    melakukan penghisapan, bukan sekretnya saja yang dihisap, tapi oksigen di paru juga

    dihisap dan alveoli juga bisa collaps.37

    Setiap melakukan penghisapan melalui artificial airway harus steril untuk

    mencegah kontaminasi kuman dan dianjurkan memakai sarung tangan yang steril.

    Universitas Sumatera Utara

  • Karakter penghisapan (suction) harus digunakan satu kali proses penghisapan

    misalnya setelah selesai penghisapan endotracheal tube dapat dipakai sekalian untuk

    penghisapan nasofaring dan urofaring dan sesudah itu harus dibuang atau disterilkan

    kembali, ingat jangan sekali-sekali memakai selang kateter penghisap untuk beberapa

    penderita. Sebelum penghisapan, penderita harus diberi oksigen yang adekuat (pre

    oksigenasi), sebab oksigen akan menurun selama proses penghisapan. Setelah pre

    oksigenasi yang cukup, masukkan selang keteter penghisap ke dalam saluran napas

    sampai ujungnya menotok tanpa hisap, kemudian tarik selang kateter penghisap

    sedikit, lakukan penghisapan dan pemutaran perlahan dan sambil menarik keluar untuk

    mencegah kerusakan jaringan dan memudahkan penghisap sekret.37

    Gambar 2. Selang Kateter Penghisap (Suction)38

    2.4. Definisi

    Pneumonia nosokomial (HAP) adalah pneumonia yang terjadi setelah 48 jam

    dirawat di rumah sakit dan disingkirkan semua infeksi yang inkubasinya terjadi sebelum

    masuk rumah sakit.15

    Universitas Sumatera Utara

  • Ventilator-associated pneumonia (VAP) didefinisikan sebagai pneumonia

    nosokomial yang terjadi setelah 48 jam pada penderita dengan bantuan ventilasi

    mekanik baik itu melalui pipa endotrakea maupun pipa trakeostomi.39,40

    2.5. Epidemiologi

    Pneumonia nosokomial diperkirakan terjadi pada 5-10 penderita dari 1000

    penderita yang dirawat inap di r