Pneumonia Anak

download Pneumonia Anak

of 44

  • date post

    13-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    59
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Pneumonia

Transcript of Pneumonia Anak

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangInfeksi saluran napas bawah merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan, baik di negara yang berkembang maupun di negara maju. Laporan WHO 1999 menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza. Di Indonesia, influenza dan pneumonia merupakan penyebab kematian nomor enam1.Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 prevalensi pneumonia tahun 2013 sebesar 4,5 persen. Lima provinsi yang mempunyai insiden dan prevalensi pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah Nusa Tenggara Timur (4,6% dan 10,3%), Papua (2,6% dan 8,2%), Sulawesi Tengah (2,3% dan 5,7%), Sulawesi Barat (3,1% dan 6,1%), dan Sulawesi Selatan (2,4% dan 4,8%). Period prevalensi pneumonia balita di Indonesia adalah 18,5 per mil. Balita dengan pneumonia yang berobat hanya 1,6 per mil. Insiden tertinggi pneumonia balita terdapat pada kelompok umur 12-23 bulan (21,7%)2. Melihat prevalensi pneumonia yang cukup tinggi, maka diperlukan penanganan secara tepat dan cepat. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang lebih banyak mengenai pneumonia.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA2.1 DefinisiPneumonia adalah peradangan pada parenkim paru, sebelah distal dari bronkiolus terminalis (bronkiolus respirtorius dan alveoli) disertai konsolidasi jaringan paru. Pneumonia termasuk dalam infeksi saluran pernapasan bagian bawah3.Pneumonia lobaris adalah pneumonia yang terlokalisasi pada satu lobus paru atau lebih dimana lobus paru yang terkena mengalami konsolidasi. Pneumonia atipikal adalah pneumonia dengan pola yang tidak termasuk dalam pneumonia lobaris. Bronkopneumonia adalah peradangan pada bronkiolus disertai peningkatan produksi eksudat mukopurulen yang menyebabkan obstruksi dari saluran napas kecil dan menyebabkan konsolidasi pada lobulus yang berdekatan. Interstisial pneumonitis adalah peradangan pada interstitsum, yang terdiri dari dinding alveoli, kantung dan saluran alveolar, dan bronkiolus. Interstisial pneumonitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus akut, tetapi dapat menjadi proses yang kronis3.

2.2EpidemiologiMenurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 prevalensi pneumonia tahun 2013 sebesar 4,5 persen. Lima provinsi yang mempunyai insiden dan prevalensi pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah Nusa Tenggara Timur (4,6% dan 10,3%), Papua (2,6% dan 8,2%), Sulawesi Tengah (2,3% dan 5,7%), Sulawesi Barat (3,1% dan 6,1%), dan Sulawesi Selatan (2,4% dan 4,8%). Period prevalensi pneumonia balita di Indonesia adalah 18,5 per mil. Balita dengan pneumonia yang berobat hanya 1,6 per mil. Lima provinsi yang mempunyai insiden pneumonia balita tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (38,5%), Aceh (35,6%), Bangka Belitung (34,8%), Sulawesi Barat (34,8%), dan Kalimantan Tengah (32,7%). Insidens tertinggi pneumonia balita terdapat pada kelompok umur 12-23 bulan (21,7%)2. 2.3 Faktor ResikoFaktor resiko pneumonia pada anak dapat dilihat pada tabel dibawah ini4.Tabel. 1 Faktor Resiko PneumoniaPranatalPerinatalPostnatal

Gizi ibu saat hamil yang buruk Ibu perokok Ibu alkoholik Infeksi pada ibu

BBLR Asfiksia Penggunaan ventilator Tidak mendapatkan ASI dini Malnutrisi Polusi udara didalam maupun diluar rumah Tidak mendapatkan ASI ekslusif Tidak mendapatkan imunisasi Sanitasi dan hygiene lingkungan yang buruk Jumlah penduduk yang padat Menderita penyakit lainnya Defisiensi vitamin A

2.4EtiologiDi negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh infeksi virus, disamping bakteri, atau campuran bakteri dan virus. Di negara berkembang, pneumonia lebih sering disebabkan oleh bakteri. Tabel etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia dapat dilihat pada tabel dibawah ini5.Tabel 2. Etiologi Pneumonia pada AnakUsia Etiologi yang sering Etiologi yang jarang

Lahir (0 hari) sampai 20 hari Bakteri Bakteri

E. colli Bakteri anaerob

Streptoccus group B Streptoccous group D

Listeria monocytogenes Haemophilllus influenzae

Streptococcus pneumoniae

Ureaplasma urealyticum

Virus

Virus sitomegalo

Virus Herpes simpleks

3 minggu sampai 3 bulan Bakteri Bakteri

Chlamydia trachomatis Bordetella pertusis

Streptococcus pneumoniae Haemophilus influenzae tipe B

Virus Moraxella catharalis

Virus Adeno Staphylococcus aureus

Virus Influenza Ureaplasma urealyticum

Virus Parainfluenza 1,2,3 Virus

Respiratory Syncytial Virus Virus sitomegalo

4 bulan sampai 5 tahun Bakteri Bakteri

Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae tipe B

Mycoplasma pneumoniae Moraxella catharalis

Streptococcus pneumoniae Neisseria meningitidis

Virus Staphylococcus aureus

Virus Adeno Virus

Virus Influenza Virus Varisela-Zoster

Virus Parainfluenza

Virus Rino

Respiratory Syncytial virus

5 tahun sampai remaja Bakteri Bakteri

Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae

Mycoplasma pneumoniae Legionella sp

Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus

Virus

Virus Adeno

Virus Epstein-Barr

Virus Influenza

Virus Parainfluenza

Virus Rino

Respiratory Syncytial Virus

Virus Varisela-Zoster

2.5PatofisiologiUmumnya mikroorganisme terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran napas. Selanjutnya akan terjadi respon berupa empat tahap dari penumonia yaitu6:1. Kongesti (4-12 jam), ditandai dengan adanya eksudat serosa yang masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor. 2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya), ditandai dengan tampakan paru yang merah dan bergranula karena sel darah merah, fibrin, PMN, cairan edema, dan mikroorganisme mengisi alveoli.3. Hepatisasi kelabu (3-8 hari), yaitu ditandai dengan paru yang tampak kelabu karena deposisi fibrin semakin bertambah, terdapat leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang cepat. 4. Resolusi (7-11 hari), ditandai dengan eksudat yang mengalami lisis, jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan mengalami degenerasi, fibrin menipis, mikroorganisme penyebab dan debris menghilang.Pemberian antibiotik sedini mungkin dapat memotong perjalanan penyakit, sehingga stadium khas yang telah diuraikan tadi tidak terjadi lagi. Beberapa bakteri tertentu sering menimbulkan gambaran patologis tertentu bila dibandingkan dengan bakteri lain. Infeksi Streptococcus pneumoniae biasanya bermanifestasi sebagai bercak-bercak konsolidasi merata diseluruh lapangan paru (bronkopneumonia), dan pada anak yang lebih besar atau remaja dapat berupa konsolidasi pada satu lobus (pneumonia lobaris). Pneumotokel atau abses kecil sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus pada neonatus atau bayi kecil, karena Staphylococcus aureus menghasilkan berbagai toksin dan enzim seperti hemolisin, lekosidin, stafilokinase, dan koagulase. Toksin dan enzim ini menyebabkan nekrosis, perdarahan, dan kavitasi. Koagulase berinteraksi dengan faktor plasma dan menghasilkan bahan aktif yang mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin, sehingga terjadi eksudat fibrinopurulen. Terdapat korelasi antara produksi koagulase dan virulensi bakteri. Staphylococcus yang tidak menghasilkan koagulase jarang menimbulkan penyakit yang serius. Penumotokel dapat menetap selama berbulan-bulan, tetapi biasanya tidak memerlukan terapi lebih lanjut5.

2.6Manifestasi Kinis Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yang luas, gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya penggunaan prosedur diagnostik invasif, etiologi nonifeksi yang relatif lebih sering, dan faktor patogenesis. Secara umum gambaran klinis pneumonia adalah sebagai berikut5:a. Gejala infeksi umum: demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, atau diare, kadang-kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.b. Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak napas, retraksi dinding dada, takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.c. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti perkusi pekak, suara napas melemah, dan ronki. Akan tetapi pada neonatus dan bayi kecil, gejala biasanya lebih beragam dan tidak selalu jelas terlihat. Pada perkusi dan auskultasi paru umumnya tidak ditemukan kelainan.

2.7DiagnosisDiagnosis etiologi berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan serologis merupakan dasar untuk terapi yang optimal. Akan tetapi, penemuan bakteri penyebab tidak selalu mudah karena memerlukan pemeriksan laboratorium penunjang yang memadai. Oleh karena itu, diagnosis pneumonia pada anak umumnya didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukan keterlibatan sistem respiratori, serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adanya pnumonia adalah demam, sianosis, lebih dari satu gejala respiratori berikut: takipnea, batuk, sesak, napas cuping hidung, retraksi dinding dada, ronki, dan suara napas yang melemah5.1. Pneumonia ringanDisamping batuk atau kesulitan bernapas, hanya terdapat napas cepat saja. Napas dikatakan cepat jika7:a. Pada anak berumur 2 bulan sampai 11 bulan: 50 kali/menitb. Pada anak berumur 1 tahun sampai 5 tahun: 40 kali/menit2. Pneumonia beratBatuk atau kesulitan bernapas ditambah minimal salah satu hal berikut ini7:a. Kepala terangguk-anggukb. Pernapasan cuping hidungc. Tarikan dinding dada bagian bawahd. Foto dada menunjukan gambaran pneumoniae. Napas cepat Anak umur < 2 bulan: 60 kali/menit Anak umur 2-11 bulan: 50 kali/menit Anak umur 1-5 tahun: 40 kali/menit Anak umur > 5 tahun: 30 kali/menitf. Suara merintih (grunting) pada bayig. Pada auskultasi terdengar : Crackles (ronki) Suara pernapasan menurun Suara pernapasan bronkialh. Dalam keadaan sangat berat dap