Pleno Pemicu 1 sarji

download Pleno Pemicu 1 sarji

of 47

  • date post

    22-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    14
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Pleno Pemicu 1 sarji

Pleno Pemicu 1 Modul Saraf Jiwa

Pleno Pemicu 1Modul Saraf JiwaKelompok DK 6Anggota KelompokKhalik Perdana PutraI11110027Muhammad Hadi ArwaniI11111002Scholastyka Febrylla I11111012Yohanes I11111024Isma Resti PratiwiI11111029Nada YuliandhaI11111040Muhammad Luthfi Taufik I11111049Vera RoulinaI11111052Eko Prestiyana MegawatiI11111057Fitrianto Dwi UtomoI11111064Tan Sri ErnawatiI11111071

Pemicu 1Ny S, 38 tahun, dibawa olehkakaknya ke praktik klinik keluarga dengan keluhan mendadak tidak bisa melihat.Saat diperiksa pasien sadar dan dalam pemeriksaan status generalis tidak didapatkan adanya kelainan. Pasien sangat kooperatif dan memberikan kontak yang adekuat selamapemeriksaan dan dapat berbicara dengan lancar. Ia nampak tenang saat menceritakan kedua matanya tidak bisa melihat lagi. Ia menceritakan bahwa ia baru saja pergi berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan dan tiba-tiba saja ia kehilangan penglihatannya. Tidak ada riwayat trauma kepala atau cedera didaerah mata serta ia tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Ia mengatakan segala sesuatu baik-baik saja dalam hidupnya baik kesehatan fisik maupun kehidupan rumah tangganya.

Pemicu 1Pemeriksaan neurologis pada hari kedua, tidak dijumpai adanya tanda rangsang meningeal, pupil bulat diameter 3 mm, isokor, refleks cahaya langsung dan tak langsung (+/+), tidak ada kelumpuhan saraf kranialis, fungsi motorik dengan kekuatan 5 pada keempat ekstremitas, refleks fisiologis dalam batas normal, tidak dijumpai adanya refleks patologis, sistem sensorik dalam batas normal, serta fungsi otonom dalam batas normal.Dalam riwayat penyakitnya didapatkan informasi dari kakaknya bahwatiga bulan terakhir ini suami pasien tidak pulang ke rumah. Pasien selalu mengatakan bahwa suaminya sedang sibuk dikantor dan ia tidak sempat pulang karena banyak tugas.

Pemicu 1yang harus diselesaikan. Menurut kakak pasien, ia sering mendengar berita dari tetangga bahwa suami pasien sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. Sehari sebelum pasien kehilangan penglihatannya, pasien dan kakaknya sempat melihat suami pasien sedang makan bersama seorang wanita di sebuah restoran di pusat perbelanjaan. Saat itu, menurut kakak pasien, pasien terlihat tenang dan seakan tidak ada yang salah dengan situasi tersebut. Pasien tetap makan di restoran tersebut di meja lain serta langsung pulang kerumah tanpa terlihat sedih atau kesal. Kakak pasien enggan menanyakan apa yang dirasakan pasien karena berpikir pasien tidak inginmembicarakannyaKlarifikasi dan DefinisiIsokor: Kesamaan ukuran kedua pupil mataRangsangan meningeal: Pemeriksaan Neurologis untuk memeriksa adanya infeksi/peradangan pada meningeal meliputi pemeriksaan kaku duduk, kernig, bradzinski I-IVKata KunciNyonya, 38 tahunTrauma kepala (-)Status generalis normalTidak bisa melihatNeurologis normalPasien kooperatif

Rumusan MasalahNy. S 38 tahun mendadak kehilangan penglihatan dengan pemeriksaan neurologis normal & tampak tenang dengan keadaan yang dialaminya.

TatalaksanaPasien tenang dan koooperatifPasien mengalami masalah dalam rumah tangga yang tidak ia ungkapkan

Gangguan Somatoform: ganggguan KonversiDSM IV TRDiagnosisLakukan Anamnesis dan Observasi Kejiwaan Pemeriksaan penunjang + pemeriksaan kejiwaan lanjutanPertimbangkan kondisi kejiwaanTidak ada gangguan neurologis dan organikWanita 38 tahunKehilangan PenglihatanAnamnesisPemeriksaan FisikTidak Ada Riwayat CederaPemeriksaan FisikAnalisis MasalahPertanyaan Diskusi1. Apa saja gangguan somatoform ?EpidemiologiEtiologiDiagnosisGambaran Klinis2. Bagaimamna pendekatan psikobiologi pada pasien kejiwaan ini ? 3. Apa itu DSM IV dan bagaimana cara penggunaannya (Ila, Yohanes, Isma)4. Bagaimana mendiagnosis pasien malingering (pasien berpura-pura buta) ?5. Bagaimana dasar wawancara psikiatri ? 6. Apa yang dimaksud stressor psikosial dan adaptasi terhadapnya ? 7. Bagaimana peran dokter dalam kasus kejiwaan ?8. Diagnosis dan terapi pada pasien ini ?9. Definisi dan diagnosis kebutaan ?

Gangguan SomatoformSomatoform disorder adalah suatu kelompok gangguan yang ditandai dengan keluhan tentang masalah atau simtom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab gangguan fisik secara medis (misalnya nyeri, mual, dan pening/sakit kepala). Keluhan somatik serius, sehingga menyebabkan stres emosional dan gangguan untuk dapat berfungsi dalam kehidupan sosial dan pekerjaan.

Gangguan SomatoformKeluhan somatik yang berulang dan banyak yang memerlukan perhatian medis, namun tidak memiliki sebab fisik yang jelas merupakan dasar gangguan ini. Diagnosis gangguan somatoform ini diberikan apabila diketahui bahwa faktor psikologis memegang peranan penting dalam memicu dan mempengaruhi tingkat keparahan serta lamanya gangguan dialami Gangguan SomatoformPrevalensi sepanjang hidup gangguan somatisasi diperkirakan kurang dari 0.5 persen dari populasi AS; lebih sering terjadi pada perempuan,Gangguan somatisasi umumnya bermula pada masa dewasa awal. Somatoform & Pain DisorderPsychosomatic DisorderMalingeringFactitious DisorderMengalami beberapa gejala sakit fisik yang subyektif tanpa sebab organis (pengalaman sakit termasuk kedalam pain disorder)Mengalami sakit fisik yang nyata, faktor psikologis ikut ber-kontribusi pada sakitnyaSengaja menipu sakit secara fisik untuk menghindari situasi tidak menyenangkan, seperti tugas kemiliteranSengaja menipu sakit secara fisik untuk menarik perhatian secara medisKlasifikasi Gangguan SomatoformDalam DSM IV-TR, yang termasuk dalam Somatoform Disordersebagai berikut :300.81Somatization Disorder300.82Undifferentiated Somatoform Disorder300.11Conversion Disorder300.xxPain Disorder300.80Associated With Psychological Factors300.89Associated With Both Psychological Factors and General Medical Condition300.7Hypochondriasis300.7Body Dysmorphic Disorder300.82Somatoform Disorder NOS

Klasifikasi Gangguan Somatoform

Pendekatan Psikobiologi pda Pasien KejiwaanKonsep biopsikososial memberikan suatu gambaran yang menyeluruh tentang munculnya suatu kondisi sakit yang dihubungkan dengan faktor lingkungan dan stres yang terkait di dalamnya. Kondisi kesehatan jiwa seseorang dapat dilihat sebagai suatu keadaan yang melibatkan faktor biologis, psikologis, dan sosial orang tersebut. Secara biologis, gangguan pada kondisi kesehatan jiwa seseorang diakibatkan karena ketidakseimbangan sistem hormon dan neurotransmiter di otak. Secara psikologis, gangguan kondisi kesehatan jiwa disebabkan oleh mekanisme adaptasi psikis individu yang tidak bekerja dengan baik.Secara sosial, kondisi gangguan kesehatan jiwa dapat dipicu oleh lingkungan yang tidak nyaman, serta penuh dengan tekanan dan ketakutan. Pendekatan Psikobiologi pda Pasien KejiwaanKeluhan psikosomatik sering ditemukan pada praktik klinis sehari-hariKepustakaan melaporkan lebih dari 50% pasien dengan keluhan fisik yang tidak mempunyai penyebab objektif dari keluhannya ituKeluhannya bisa dari kelelahan, nyeri dada, batuk, nyeri punggung, napas pendek, hingga berbagai keluhan yang melibatkan organ tubuh.

Pendekatan Psikobiologi pda Pasien KejiwaanDalam praktik sehari-hari, keluhan tersebut dapat diatasi dengan kemampuan komunikasi yang baik dari dokter yang merawat. Rasa tertarik dokter terhadap keluhan pasien, empati, dan apresiasi terhadap pasien, serta memberikan kepastian pengobatan sering membuat pasien dengan keluhan psikosomatik menjadi lebih baik. Keluhan yang juga sering disebut Medically Unexplained Physical Symptoms (MUPS) sebenarnya merujuk pada suatu kondisi gangguan kejiwaan yang tergabung dalam golongan besar gangguan somatoformGangguan somatoform yang paling sering ditemui dalam praktik klinik adalah gangguan somatisasi dan hipokondriasis.

DSMDSM (Diagnostic and statistical manual of mental disorder). Merupakan pengembangan dan perluasan darimodel penggolongan Emil Kraepelin.Diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 dan versi terakhir pada tahun 2000, DSM IV-TR (Text Revision). Ciri-ciri DSMMenggunakan kriteria diagnostic yang spesifik mendeskripsikan ciri-ciri esensial (kriteria yang harus ada) dan ciri-ciri asosiatif (kriteria yang sering diasosiasikan dengan gangguan tapi tidak esensial).Pola perilaku abnormal yang memiliki ciri-ciri klinis yang sama dikelompokkan menjadi satu.Sistem bersifat multiaksis menggunakan sistem yang multidimensional sehingga memiliki jangkauan informasi yang luas tentang keberfungsian individu.Gangguan klinis dan kindisi lain yang mungkin menjadi fokus perhatian.Gangguan kepribadian dan Retardasi MentalKondisi medis umumProblem psikososial dan lingkunganAssessment fungsi secara global

Pendekatan MultiaksialAksis I:Gangguan klinis: pola perilaku abnormal (gangguan mental) yang meenyebabkan hendaya fungsi dan perasaan tertekan pada individu.Kondisi lain yang mungkin menjadi focus perhatian: masalah lain yang menjadi focus diagnosis atau pandangan tapi bukan gangguan mental, seperti problem akademik, pekerjaan atau social, factor psikologi yang mempengaruhi kondisi medis.Aksis II:Gangguan kepribadian: mencakup poa perilaku maladaptive yang sangat kaku dan betahan, biasanya merusak hubunganantar pribadi dan adaptasi social.Retardasi MentalSeseorang bias memenuhi aksis I atau II, atau memenuhi kedua aksis.

Pendekatan MultiaksialAksis III:Kondisi medis umum dan kondisi medis yang mugkin penting bagi pemahaman atau penyembuhan atau penanganan gangguan mental individu.Meliputi kondisi klinis yang diduga menjadi penyebab atau bukan penyebab gangguan yang dialami individu.Aksis IV:Problem psikososial dan lingkungan. Mencakup peristiwa hidup yang negative maupun positif; kondisi lingkungan dan social yang tidak menguntungkan, dllAksis V:Assessment fungsi secara global. Mencakup assessment menyeluruh tentangfungsi psikologis social dan pekerjaan klien.Digunakan juga untuk mengindikasikan taraf keberfungsian tertinggi yang mun