PKMP 11 Mohamad Evaluasi Pemberian Tepung

download PKMP 11 Mohamad Evaluasi Pemberian Tepung

of 21

  • date post

    12-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    177
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of PKMP 11 Mohamad Evaluasi Pemberian Tepung

1

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Dewasa ini, jumlah dan proporsi dari lemak hewan dalam makanan manusia mengalami peningkatan dalam banyak masyarakat. Hal ini memiliki hubungan dengan kasus penyakit kardiovaskuler (Lichtenstein, 1999; Katan,2000). Di masyarakat barat penyakit jantung koroner dan artherosclerosis berkaitan erat dengan jumlah kolesterol dan asam lemak jenuh yang dimakan, diantaranya merupakan penyebab yang paling utama kematian manusia (Sacks,2002). Disamping itu,hubungan yang sangat erat telah diketahui antara konsentrasi struktur kolesterol dan penyakit Alzheimer (Michikawa, 2003). Secara luas diakui bahwa masalah ini adalah sebuah keperluan yang sangat penting untuk mengembalikan pola makan asam lemak yang seimbang dengan mengurangi jumlah masukan kolsterol dan lemak-lemak jenuh (Evans et al, 2002). Daging ayam memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang lebih rendah, dan biasanya lebih dipertimbangkan untuk kesehatan dari pada sumber protein hewan lain, terutama daging merah dari hewan mamalia. Di tahun terakhir , supelemen-suplemen pakan seperti bawang putih, copper dan asam lemak omega-3 diuji dalam percobaan untuk mengurangi lemak dan kolesterol yang terkandung dalam daging ayam (Pesti dan Bakalli, 1996; Konjufca et al., 1997; Matsurra, 2001; Ayerza et al., 2002; Chowdhury et al., 2002). Meskipun usaha-usaha ini telah banyak dikembangkan untuk menurunkan kadar kolesterol dan asam lemak jenuh, nampaknya masih ada informasi yang kurang mengenai alternatif produksi untuk mencapai tujuan penting ini. Tepung siva (synbiotic cassava) sebagai salah satu produk sinbiotik baru memiliki banyak kelebihan untuk meningkatkan kualitas produksi ternak, kandungan, 1,3-1,6 D- glucan dan mannan oligosakarida yang sangat penting sebagai growth promoter dan enzim lipase dan senyawa hasil fermentasi Sacharomyces cereviceae yang berupa asam organik dimungkinkan dapat memutus dekonjugasi kolesterol sehingga mencegah penimbunan kolestrol dalam tubuh ternak. Perumusan Masalah Adapun perumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh pemberian tepung siva (synbiotic cassava) terhadap performans ayam broiler (yang meliputi pertambahan bobot badan, bobot badan akhir, konsumsi ransum, konversi ransum), kadar lemak kasar dan kadar kolesterol daging yang dihasilkan serta keuntungan yang diperoleh selama pemeliharaan. Tujuan Program Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah mempelajari pemberian tepung siva (synbiotic cassava) terhadap performans ayam broiler (yang meliputi pertambahan bobot badan, konsumi ransum, konversi ransum), kadar lemak kasar dan kadar kolesterol daging yang dihasilkan serta keuntungan yang diperoleh selama pemeliharaan.

2

Luaran Yang Diharapkan Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini adalah artikel dan hak paten tentang pemanfaatan tepung siva (synbiotic cassava) dalam ransum ayam broiler yang dapat memperbaiki produktifitas, kualitas karkas dan menghasilkan daging yang rendah kolesterol. Kegunaan Program Memberikan informasi baru tentang pemanfatan tepung siva (synbiotic cassava) pada pakan ayam broiler kepada masyarakat dan praktisi peternakan guna memperbaiki produktifitas ayam, meningkatkan kualitas karkas dan menghasilkan daging yang rendah kolesterol yang bermanfaat bagi kesehatan konsumen. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ayam Broiler Broiler adalah istilah untuk menyebutkan strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas yaitu pertumbuhan yang cepat, konversi pakan yang baik dan dapat dipotong pada usia yang relatif muda sehingga sirkulasi pemeliharaannya lebih cepat dan efisien serta menghasilkan daging yang berkualitas baik (Murtidjo, 1992). Broiler sangat mudah terserang penyakit dikarenakan secara genetik kekebalan tubuh yang dimilikinya sangat rendah, dan itu merupakan konsekuensi cepatnya pertumbuhan yang dimiliki oleh ayam broiler. Termasuk juga gangguan jantung dengan gejalas hydropsascites (penyakit metabolis) dan kepincangan. Mortalitas rata-rata untuk broiler sekitar 1% persen selama 1 minggu, 7 hari lebih baik dibanding ayam petelur pada umur yang sama. Strain ayam broiler banyak macamnya berdasarkan karakteristik dan fisiologinya. Salah satu strain yang cukup diminati adalah strain Arbor Arcres CP 707 yang dihasilkan PT. Charoen Phokphand Indonesia. Karakteristik yang dimiliki strain ini antara lain : Berat badan 8 minggu : 2,1 Kg, Konsumsi ransum : 4,4 Kg, Konversi ransum : 2,2, Berat bersih : 74%, Daya hidup : 98% , Warna kulit : Kuning , Warna bulu : Putih, (Rasyaf, 2000). Nilai nutrisi dari daging dapat ditaksir berdasarkan parameter seperti kandungan dan komposisi protein, kandungan asam amino, kandungan lemak, kandungan sakarida ,substansi mineral dan vitamin. Substansi mineral yang sangat penting bagi daging unggas antara lain: potassium (0.4%), phosphorus (0.2%), sodium (0.09%), dll. (Lazar, 1990). Steinhauser et al. (2000) menyatakan bahwa kandungan protein adalah kandungan daging yang sangat penting dari aspek nutrisi dan teknologi. Kandugan protein dalam otot dilaporkan sekitar 18 dan 22%. Komposisi kimia daging ayam terdiri dari protein 18,6%, lemak 15,06%, air 65,95% dan abu 0,79% (Stadelman et al., 1988). Becker et al. (1979) mempelajari kandungan lemak abdominal pada ayam broiler umur 58 hari dan menunjukan bahwa broiler jantan memiliki kandungan lemak pada bagian abdominal (2.18%) dibandingkan dengan broiler betinan (2.82%). Kecenderungan yang sama juga pada karkas (12.0% untuk jantan, 13.7% untuk lemak betina dari isi perut (47.6% untuk jantan, 56.2% untuk betina) dan kandungan total lemak (10.4% untuk pejantan, 12.2% untuk betina.

3

2.2. Kolesterol Kolesterol merupakan sterol utama pada jaringan hewan (Anggorodi, 1979 dan Lehninger, 1992), terdapat pada hati, daging, otak dan kuning telur (Harper et al, 1977) serta terdapat juga pada usus, ginjal dan organ-organ tubuh lain (Tejayadi, 1991). Ditinjau dari sudut kimiawi kolesterol diklasifikasikan kedalam golongan lipid (lemak), berkomponen alcohol steroid (Sitepoe, 1992). Kolesterol memiliki formula C27H45OH (Ganong, 1983) dan dapat dinyatakan sebagai 3-hidroksi -5,6 kolesten karena mempunyai satu gugus hidroksil pada atom C3, ikatan rangkap pada atom C5 dan C6 serta ada percabangan pada C10, C13 dan C17 (Herper et al, 1977).

Gambar 1. Rumus Bangun Kolesterol (Winarno, 1986) Kolesterol tubuh berasal dari dua sumber, yakni berasal dari makanan dan disebut sebagai eksogenus kolesterol dan yang diproduksi oleh tubuh disebut dengan endogenous kolesterol (Piliang and Djojosoebagio, 1990). Jika jumlah kolestrol yang berasal dari makanan sedikit, untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan organ, sintesis kolestrol dalam hati dan usus besar akan meningkat. Dan sebaliknya jika jumlah kolestrol dalam makanan meningkat maka jumlah sintesis kolestrol dalam hati dan usus besar akan menurun. (Muchtadi et al., 1993). Kenaikan kadar kolesterol dalam darah merupakan suatu faktor resiko terjadinya atherosclerosis (Guyton, 1987). Atherosclerosis ini merupakan suatu penebalan pembuluh darah yang bias mengakibatkan penyumbatan bahkan penyempitan pada arteri (Sitepoe, 1992). Fungsi kolesterol merupakan substrat untuk pembentukan zat-zat essensial seperti asam empedu, hormone steroid, serta vitamin D3 yang merupakan satusatunya vitamin yang disintesis dalam tubuh (Lehninger, 1992), tertapi karena sifatnya yang sangat membahayakan tubuh, maka dianjurkan agar selalu hati-hati jangan sampai terjadi kelebihan konsumsi. Jalan yang dapat ditempuh untuk menurunkan kadar kolestrol pada daging ayam yang dihasilkan adalah menurunkan kadar kolestrol darah. Untuk menurunkan kadar kolesterol darah dapat dilakukan dengan menurunkan konsumsi, kecernaan, menurunkan sintesis kolestrol endogenus, meningkatkan pengeluaran melalui bile dan feses. Sekresi bile is berhubungann dengan total kandungan kolesterol (Muslim 1989). Pelepasan bagian utama kolesterol yang terdapat dalam hati melalui konversi dalam asam bile, yakni asam cholic dan chenodeoxy cholic tererserap pada glycine atau taurine untuk membentuk garam bile , dan kemudian dikeluarkan melalui bile dalam duadenum. Beberapa asam bile yang tidak terserap oleh hati melalui sirkulasi dan mengeluarkan kembali dalam bile. Asam bile yang tidak dapat diserap akan didegradasi yang terdapat pada usus besar dan

4

dikeluarkan melalui feses, (Muchtadi et al. 1993). Menurut Beynen (1980) pengeluaran kolesterol dari tubuh melalui beberapa jalan, yaitu kolesterol hati membentuk cairan empedu, dikeluarkan dalam usus dan selanjutnya kolesterol bersama asam empedu hilang bersama feses, hilang dalam mukosa usus dan kulit, bergabung dengan hormone-hormon steroid dan dikeluarkan bersama urin. Menurut Supadmo (1997) kandungan kolesterol daging ayam broiler yang diberi ransum basal rataannya adalah 78.83mg/100gr, sedangkan yang diberi ransum basal + 100% khitin rataannya adalah 61.06 mg/100gr. Menurut Hendrawati (1999) pemberian temulawak secara nyata (P0,05) Fhit 1.797tn Ftab 0.050 0.01 4.07 7.59

Dari hasil Tabel 5.3 di atas dapat diketahui bahwa penggunaan berbagai persentase tepung siva dalam ransum menunjukan pengaruh tidak nyata terhadap pertambahan bobot badan harian (P0,05). Pengaruh tidak nyata (P>0,05) pada bobot badan akhir ayam broiler menunjukkan hal positif. Konsentrasi pemberian tepung hingga 15 persen ternyata tidak memberikan pengaruh. Bobot badan akhir ditentukan oleh pertumbuhan tulang, daging dan perlemakan serta bagian-bagian lain dari tubuh ayam. Dalam penelitian pemberian tepung siva menyebabkan kadar lemak mengalami penurunan secara nyata, sehingga hasil yang didapatkan pemberian tepung siva berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan bobot badan akhir. Pengaruh Perlakuan Terhadap Rata-Rata Konsumsi Ransum Konsumsi ransum merupakan faktor terpenting untuk kebutuhan hidup ternak. Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang di