Pilkada BWI Ratna PTUN

of 58/58
Tanpa Ratna Ani Lestari, Pilbup Banyuwangi
  • date post

    27-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    268
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Pilkada BWI Ratna PTUN

Tanpa Ratna Ani Lestari, Pilbup

Banyuwangi Siaga I

Rabu, 14 Juli 2010 | 06:56 WIB

Gubernur Jamin Aman Banyuwangi - Surya- Pemilihan Bupati (Pilbup) Banyuwangi tetap dilaksanakan sesuai jadwal, Rabu (14/7) hari ini. Hal tersebut ditegaskan Gubernur Jawa Timur

Soekarwo saat memantau persiapan pelaksanaan Pilkada Banyuwangi, Selasa (13/7). Gubernur melakukan pemantauan bersama dengan anggota KPU dan Panwas juga jajaran Muspida Jatim. Pilkada Banyuwangi akan diikuti tiga pasangan calon, yakni Abdullah Azwar Anas - Yusuf Widyatmoko, Jalal - Yusuf Nuris dan Emilia Contesa - A Zaenuri Ghazali. Jumlah pemilih yang terdaftar di DPT sebanyak 1.233.883 jiwa, dengan jumlah TPS sebanyak 3.096 di 24 kecamatan se Kabupaten Banyuwangi. Tetap, besok (hari ini) dilaksanakan, ujar Pakde Karwo, panggilan akrab Gubernur Soekarwo. Pakde Karwo mengakui ada protes dan gugatan dari calon-calon yang tidak diloloskan KPU Banyuwangi saat pendaftaran. Sebelumnya KPU Banyuwangi mencoret dua pasangan calon yakni Ratna Ani Lestari (bupati incumbent) - Pepdi Arisdiawan dan Mulyono - Untung, dengan alasan mereka tidak memenuhi syarat dukungan 15 persen. Pasangan Ratna - Pepdi akhirnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jawa Timur. Hasilnya, PTUN memutuskan pasangan tersebut memenuhi syarat sebagai calon kepala daerah dan meminta KPU untuk mengikutkan pasangan tersebut dalam Pilkada 14 Juli. Tetapi PTUN menolak permohonan Ratna yang meminta agar Pilkada ditunda. Selain mengajukan gugatan, Bupati Ratna juga berkirim surat kepada Gubernur Jawa Timur agar Pilkada ditunda. Namun gubernur memastikan Pilkada Banyuwangi tetap dilaksanakan sesuai jadwal setelah menerima laporan KPU. Kekukuhan KPU untuk tetap melaksanakan Pilbup hari ini membuat Polda Jatim waspada. Untuk mencegah konflik, Polda Jatim pun menetapkan Banyuwangi Siaga I. Kabag Ops Polres Banyuwangi AKP Aditya Puji mengatakan, penetapan Siaga I itu karena Pilbup Banyuwangi dianggap rawan konflik pasca gagalnya calon incumbent Bupati Ratna dan keluarnya putusan PTUN yang memenangkan gugatan partai pendukung Bupati Ratna melawan KPU. Polres Banyuwangi pun mengerahkan seluruh personel untuk mengamankan Pilkada. Ada 1.750 personel yang kami kerahkan, ujar Kapolres Banyuwangi AKBP Slamet Hadi Supraptoyo. Para personel itu terdiri dari personel Polres, Polsek se kabupaten dan bantuan pasukan dari Samapta Polda Jatim Brimob Polda di Bondowoso, Malang dan Pamekasan. Dari pantauan Surya, seluruh kendaraan trantis sudah siap di halaman Mapolres Banyuwangi.

Namun, Gubernur Soekarwo yakin pelaksanaan Pilbub Banyuwangi akan berjalan lancar usai meninjau langsung persiapan. Soekarwo mengatakan persiapan berjalan baik, mulai distribusi logistik maupun pengamanan selama coblosan. Sejauh ini persiapan baik, saya ucapkan terimakasih kepada KPU dan Panwas Banyuwangi, juga kepada ibu bupati. Meskipun ada masalah karena ada dua calon yang tidak lolos, tetapi yang tidak puas memakai jalur hukum, lanjut Pakde Karwo. Ia menambahkan, dalam dunia demokrasi berbanding lurus dengan kepatuhan hukum. Oleh karena itu, ia menghargai langkah Ratna yang menempuh jalur hukum. Sementara itu anggota KPU Jawa Timur Arif Budiman mengatakan pihaknya akan melaksanakan semua aturan dan produk hukum. Sesuai aturan, lanjutnya, sebuah pelaksanaan Pilkada bisa ditunda jika terjadi bencana alam dan kerusuhan massal. Terkait putusan PTUN yang memenangkan pasangan Ratna - Pepdi, Arif menegaskan hal itu tidak bisa membuat pelaksanaan Pilkada Banyuwangi ditunda. Apalagi, imbuhnya, KPU Banyuwangi masih akan menempuh jalur hukum lebih lanjut yakni mengajukan banding ke PTUN. Selama masih belum ada kekuatan hukum tetap, pihaknya meminta KPU Banyuwangi meneruskan tahapan Pilkada sesuai jadwal. Ketua KPU Banyuwangi Syamsul Arifin menegaskan, seluruh komisioner KPU Banyuwangi menyetujui untuk mengajukan banding atas putusan PTUN tersebut. Kami punya waktu 14 hari untuk menentukan sikap setelah putusan PTUN keluar, pekan lalu. Dan kami putuskan untuk mengajukan banding, ujarnya. Sedangkan Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari yang ikut mendampingi Gubernur Soekarwo, tidak mau memberikan komentar. Perempuan tersebut hanya melempar senyum kepada wartawan yang meminta tanggapannya atas keputusan gubernur dan KPU. Tiga Pasang Ada tiga pasangan cabup-cawabup yang akan dipilih hari ini yakni nomor urut satu Abdullah Azwar Anas - Yusuf Widyatmoko, nomor urut dua Jalal - Yusuf Nur Iskandar, dan nomor urut tiga Emilia Contesa - A Zaenuri Ghazali. Abdullah Azwar Anas merupakan mantan anggota DPR RI periode 2004 - 2009. Mantan Ketua Umum IPNU tersebut menggandeng Ketua DPC PDIP Banyuwangi Yusuf Widyatmoko. Pasangan ini didukung oleh sejumlah partai besar yakni PDIP, PKB,PKS, PKNU dan Partai Golkar. Dari informasi yang

dihimpun Surya, basis suara Anas berada di Kecamatan Genteng dan tanah kelahiran Anas, Kecamatan Tegalsari. Sedangkan pasangan nomor urut dua, merupakan pasangan birokrat. Jalal saat ini masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat. Yusuf Nuris (Gus Yus) adalah wakil bupati yang saat ini masih menjabat. Basis suara pasangan ini diperkirakan berada di Kecamatan Tegaldlimo dan Muncar. Keduanya didukung oleh Partai Demokrat. Dan pasangan nomor urut tiga, menempatkan pasangan artis Emilia Contesa dan mantan anggota DPRD Jawa Timur periode 2004 - 2009, A Zaenuri Ghazali. Pasangan ini mendapat dukungan dari Partai Gerindra, PAN, Republikan dan sembilan partai non parlemen. Pasangan ini disebut-sebut mengandalkan basis dukungan daerah perkotaan.nuni Dibaca: 555 kali

Ratna Minta KPU Banyuwangi Laksanakan Putusan PTUNJumat, 09 Jul 2010 19:40:07| Sospol | Dibaca 189 kali

Banyuwangi - Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari dan Pebdi Arisdiawan (RAPI) meminta KPU setempat segera melaksanakan keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya, Kamis (8/7), yang memenangkan gugatan mereka.

Dalam putusan itu, PTUN Surabaya juga mewajibkan tergugat untuk mencabut keputusan Tata Usaha negara yang telah diterbitkan pihak tergugat, dan selanjutnya menerbitkan Keputusan Tata Usaha Baru yang menyatakan pasangan Ratna - Pebdi telah memenuhi syarat dan di tetapkan menjadi salah satu pasangan calon dalam pilkada Banyuwangi tahun 2010 disertai pelaksanaan undian untuk penentuan nomor urut pasangan calon.

Keputusan PTUN Surabaya ini menambah panjang daftar dugaan kecurangan KPU Banyuwangi dalam melaksanakan tahapan pilkada.

Dalam jumpa pers yang diselenggarakan tim kuasa hukum pasangan RAPI di rumah kediaman bupati Ratna Ani Lestari, Jumat, Oesnawi SH, salah seorang kuasa hukum menyatakan, terkait keputusan PTUN Surabaya, KPU Banyuwangi diminta segera mengambil langkah konkret sesuai hati nurani, agar apa yang

diputuskan nantinya tidak mendapatkan sanksi hukum.

"Kami tidak meminta ditunda, tapi KPU harus mengambil langkah konkret sebelum keputusan PTUN dinyatakan sebagai keputusan tetap," ujar Oesnawi SH.

Sementara itu Bupati Ratna Ani Lestari di depan wartawan mengatakan, ia tetap akan melakukan upaya hukum terhadap semua keputusan KPU. Keputusan PTUN yang mengabulkan gugatannya merupakan kekuatan, selain keputusan Bawaslu dan KPU RI yang selama ini tidak pernah digubris oleh KPU Banyuwangi.

Ratna juga sudah mengirimkan surat ke gubernur Jawa Timur terkait situasi kabupaten Banyuwangi "Jika selama ini saya diam, itu karena saya ingin menjaga kondusifitas warga saya. Namun sekarang semua data sudah saya pegang dan saya tetap menempuh jalur hukum " kata Ratna.

Sementara itu Suherman, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Sosialisai KPU Banyuwangi ketika dikonfirmasi terkait keluarnya keputusan PTUN Surabaya itu, mengatakan pihaknya akan menempuh jalan banding atas putusan PTUN tersebut.

"Kami sudah koordinasi dengan KPU Provinsi Jawa Timur serta tim kuasa hukum. Kami sepakat melakukan banding atas putusan PTUN tersebut," tegas Suherman.

Suherman juga menambahkan selama masih dalam proses banding, KPU Banyuwangi tetap akan melakukan tahapan pilkada seperti jadwal yang telah diputuskan melalui rapat pleno beberapa waktu lalu.

Karena itu, Suherman meminta kepada masyarakat Banyuwangi agar tetap tenang sehingga dapat mengikuti proses pilkada sebagaimana yang telah dijadwalkan. Pasalnya, KPU Banyuwangi hingga hini masih berketetapan melaksanakan coblosan pada tanggal 14 Juli mendatang.

Untuk itu, Suherman mengimbau warga Banyuwangi yang telah memiliki hak pilih dan telah terdaftar dalam DPT bisa menggunakan haknya sesuai hati nuraninya tanpa adanya paksaan ataupun iming-iming tertentu.

Pilkada merupakan momentum bagi masyarakat untuk menentukan pemimpinnya. "Jangan karena iming-iming tertentu masyarakat tergoda. Gunakan hak pilih sesuai aspirasinya," imbau Suherman.

Dalam pemilu kada yang akan digelar kurang dari sepekan lagi itu akan diikuti 1.233.883 pemilih yang tersebar di 24 kecamatan dan 218 desa, serta terbagi dalam lima daerah pemilihan (dapil).

KPU Banyuwangi Ajukan Banding Terhadap Putusan PTUNSenin, 12 Juli 2010 | 14:52 WIB Besar Kecil Normal TEMPO Interaktif, BANYUWANGI - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyuwangi melakukan upaya banding terhadap putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya yang memenangkan 14 partai non parlemen pendukung Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari. Pendaftaran berkas banding diserahkan kepada kuasa hukum KPU Robikin. "Langkah hukum berupa upaya banding sudah kami putuskan dalam rapat pleno," kata anggota KPU Banyuwangi Hary Priyanto kepada wartawan, Senin (12/7). Kamis pekan lalu (8/7), PTUN memenangkan kubu 14 partai yang menggugat KPU Banyuwangi. Majelis hakim PTUN memerintahkan KPU mencabut SK 137/2010 tentang tidak lolosnya pasangan Ratna Ani-Pebdi Arisdiawan sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati Banyuwangi. Selain itu, KPU harus menerbitkan surat keputusan baru dengan mengikutkan pasangan tersebut dalam pemilihan kepala daerah 14 Juli 2010 mendatang. Sementara itu, Senin (12/7) hari ini, 14 partai non parlemen mendatangi kantor KPU Jalan Agus Salim. Mereka mendesak KPU menghentikan seluruh tahapan pilkada selama proses banding di PTUN berlangsung. Prayitno, salah seorang anggota Aliansi Parpol non Parlemen mengatakan, kalau tahapan pilkada tetap berjalan maka kekuasaan KPU seolah-olah mengalahkan produk hukum. "Akan terkesan rancu," katanya. Ketua Presidium Aliansi, As'ad Mohammad Nagib, mengatakan akan meminta ke KPU Pusat untuk membentuk Dewan Kehormatan karena anggota KPU Banyuwangi diduga melanggar kode etik.

Aliansi, katanya, juga akan mengintruksikan pada anggotanya untuk tidak mendatangi tempat pemungutan suarata TPS, jika KPU tetap melaksanakan pemungutan suara pada 14 Juli. "Pilkada Banyuwangi cacat hukum," katanya. Namun, Hary Priyanto menegaskan KPU tidak akan mengubah jadwal pilkada, termasuk pemungutan suara yang akan tetap diselenggarakan 14 Juli 2010. IKA NINGTYAS.

Pilkada Banyuwangi Tetap Dilaksanakan Sesuai JadwalThursday, 15 July 2010 00:18 Media Online BhirawaBanyuwangi, Bhirawa

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, akhirnya tetap dilaksanakan sesuai jadwal pada Rabu (14/7). Pesta demokrasi di kabupaten paling timur Provinsi Jatim tersebut, diikuti 1.233.883 pemilih yang menyalurkan hak pilihnya di 3.096 tempat pemungutan suara (TPS) tersebar di 24 kecamatan yang ada, kata Ketua KPU Banyuwangi, Syamsul Arifin, Selasa. Kegiatan di kabupaten paling luas di Jatim tersebut, diikuti tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati yang diberangkatkan seluruhnya oleh parpol, alias tanpa calon perorangan. Mereka yang berebut "Bumi Blambangan 1" tersebut ialah Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko (PDIP, PKB, PKS dan Golkar), Jalal-Yusuf Nuris diberangkatkan Partai Demokrat, sementara Emilia Contesa- Zaenuri Ghazali (Gerindra, PAN, Republikan dan sembilan partai nonparlemen). Pencoblosan sempat diterpa isu diundur, pasalnya Ratna Ani Lestari (pejabat kini/"incumbent") yang mencoba mencalonkan lagi berpasangan dengan Pebdi Arisdiawan, gagal lolos verifikasi KPU Banyuwangi. Sehingga, pengamanan ekstra ketat dilakukan oleh Polres setempat dan "back up" Polda Jatim dengan mengerahkan 1.750 personel, terkait munculnya isu akan adanya pengerahan massa dari pendukung pasangan yang gagal ikut pilkada. Pasangan pejabat kini itu sebelumnya telah gagal verifikasi KPU Banyuwangi pada pertengahan Mei 2010, namun kemudian mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jatim di Surabaya. Kubu Ratna-Pebdi menganggap KPU Banyuwangi tidak netral dengan tidak meloloskan mereka ikut pilkada, padahal semua persyaratan sudah dipenuhi. Dalam sidang yang digelar pekan lalu, PTUN mengabulkan gugatan pasangan Ratna-Pebdi dan mengeluarkan dua putusan terkait Pilkada Banyuwangi. Putusan pertama adalah memerintahkan KPU Banyuwangi untuk memasukkan pasangan Ratna-Pebdi sebagai calon bupati dan calon wakil bupati dalam pilkada serta melakukan pengundian ulang nomor urut. Kedua, PTUN juga tidak mengabulkan permohonan pasangan Ratna-Pebdi yang meminta jadwal pelaksanaan Pilkada Banyuwangi pada Rabu (14/7) untuk ditunda. Keputusan PTUN tersebut sejalan dengan sikap Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) yang sebelumnya juga mengabulkan permohonan pasangan tersebut, dan merekomendasikan KPU untuk menetapkannya sebagai cabup-cawabup. Kubu pasangan Ratna-Pebdi lega dengan keluarnya putusan tersebut, sehingga peluangnya untuk mengikuti pilkada yang sebelumnya dijegal KPU, kembali terbuka. "Kami tidak meminta pilkada ditunda, tapi KPU harus mengambil langkah konkret sebelum keputusan PTUN dinyatakan sebagai keputusan tetap," ujar Kuasa Hukum pasangan RatnaPebdi, Oesnawi SH. Bupati Ratna Ani Lestari menambahkan pihaknya tetap melakukan upaya hukum terhadap semua keputusan KPU yang dinilai telah merugikan dirinya. "Jika selama ini saya diam, itu karena saya ingin menjaga warga saya tetap dalam kondisi kondusif. Namun, sekarang semua data sudah saya pegang dan saya tetap menempuh jalur hukum" ucap istri Bupati Jembrana, Bali ini menegaskan. Namun, permintaan pasangan Ratna-Pebdi tidak serta-merta dikabulkan KPU, mengingat

keluarnya putusan PTUN itu sangat berdekatan dengan pelaksanaan coblosan. KPU Banyuwangi tetap pada keputusan bahwa pilkada diikuti tiga pasangan cabupcawabup, dan dilaksanakan Rabu (14/7). Selain itu, KPU Banyuwangi juga masih mengupayakan banding terhadap putusan PTUN tersebut. "Keputusan PTUN itu belum bersifat tetap dan kami masih diberi waktu 14 hari untuk mengajukan banding. Kami sudah koordinasi dengan KPU Jatim dan tim kuasa hukum untuk banding," papar Ketua KPU Banyuwangi, Syamsul Arifin. "Keberanian" KPU Banyuwangi tetap mengelar pilkada sesuai jadwal, tidak terlepas dari dukungan Gubernur Jatim Soekarwo yang Selasa (13/7) malam mengadakan pertemuan dengan instansi terkait maupun KPU maupun Panwas Jatim serta Banyuwangi. Hingga berita ini di turunkan, Rabu sore kondisi "Bumi Blambangan" dengan mayoritas masyarakatnya yang khas, suku Osing, masih kondusif. Pencoblosan berlangsung lancar. Berdasarkan catatan KPU dan Panwas Banyuwangi, dari 3.093 TPS ada 116 TPS tergolong rawan, rinciannya 63 TPS rawan kriminal dan 53 TPS rawan konflik. Bupati "golput" Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari memilih tidak menggunakan hak suaranya atau memutuskan menjadi golongan putih (golput), pada coblosan pemilihan umum kepala daerah setempat. Ratna Ani Lestari yang terdaftar di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi, tidak hadir ke TPS hingga batas akhir waktu pencoblosan pukul 13.00 WIB. Selain Ratna Ani Lestari, dua kerabatnya, yakni adik kandung dan bibinya yang juga terdaftar di TPS tersebut, tidak menggunakan hak suaranya. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 1 Panderejo, Joko Setiadi, mengatakan Bupati Ratna Ani Lestari terdaftar di nomor panggilan 269 dari total 437 jiwa yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) di TPS tersebut. "Surat panggilan mencoblos kepada Ibu Ratna dan kerabatnya sudah dikirimkan dua hari menjelang coblosan, tapi beliau sampai penutupan coblosan tidak hadir," ucapnya. Joko Setiadi mengaku tidak tahu pasti alasan orang nomor satu di "Bumi Blambangan" itu tidak mencoblos. Sejumlah warga yang tinggal di sekitar rumah pribadi Ratna Ani Lestari di Kelurahan Panderejo, mengatakan bupati dan kerabatnya sejak pagi sudah tidak terlihat di kediaman. "Sejak pagi rumahnya tertutup dan kelihatannya Ibu Ratna pergi bersama kerabatnya," kata salah seorang warga. Sikap politik Bupati Ratna Ani Lestari yang memilih golput, sebenarnya sudah diduga sejak dirinya gagal lolos verifikasi menjadi calon bupati. Ratna Ani Lestari yang berpasangan dengan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Banyuwangi Pebdi Arisdiawan, dinyatakan tidak lolos verifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, karena dukungan suaranya yang tidak memenuhi syarat. Pasangan Ratna-Pebdi juga telah mengajukan permohonan ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) serta melakukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terhadap keputusan KPU Banyuwangi. Sementara dari penghitungan suara di TPS 1 Kelurahan Panderejo, pasangan nomor urut satu Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko unggul dalam perolehan suara. Dari 248 pemilih yang menggunakan hak pilihnya, pasangan Anas-Yusuf meraih 135 suara, mengungguli pesaingnya pasangan Jalal-Yusuf Nuris (nomor urut dua) dengan 68 suara. Sedangkan pasangan nomor urut tiga, Emilia Contesa-Zaenuri Ghazali, hanya mengumpulkan 17 suara. Bahkan, perolehan suara Emilia-Ghazali masih kalah dibanding suara tidak sah yang berjumlah 28 kartu suara. Sementara itu, berdasarkan pantauan di sejumlah TPS di wilayah Kota Banyuwangi hingga pukul 11.00 WIB, partisipasi pemilihan yang menggunakan hak suaranya rata-rata masih berkisar 40-50 persen. Salah seorang Calon Bupati (Cabup) Banyuwangi Emillia Contessa dipastikan tidak ikut mencoblos karena ia ber-KTP Jakarta. "Sebagaimana Peraturan KPU Nomor 67 Tahun 2009, warga yang berhak memilih dalam pilkada harus ber-KTP daerah tersebut, sedangkan untuk mendapatkan KTP minimal berada di daerah ini selama enam bulan," tutur Samsul Arifin. Emilia Contessa yang juga salah satu artis ternama asal Banyuwangi itu, tidak memiliki hak

pilih karena dia hingga kini ber-KTP Jakarta. Dengan demikian, ibunda artis cantik Denada ini akan kehilangan satu suara untuk dirinya. Secara terpisah, Emillia Contessa kepada Aantara membenarkan tidak bisa ikut mencoblos karena masih ber-KTP Jakarta. Namun artis yang pernah terkenal di tahun 1980-an itu tidak bersedia memerinci mengapa tidak sempat mengurus KTP Banyuwangi, padahal keinginan artis kelahiran Banyuwangi itu untuk maju dalam pilkada sudah berjalan satu tahun lebih. Sementara calon bupati dan calon wakil bupati lainnya menggunakan hak pilihnya. Mereka pada umumnya mencoblos tidak jauh dari tempat tinggalnya. Seperti Abdullah Azwar Anas akan mencoblos di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Begitu pula Jalal, ia akan menggunakan hak pilihnya di Desa Gedunggebang, Kecamatan Tegladlimo. Hal yang sama juga akan dilakukan ketiga calon wakil bupati. Yusuf Widyatmoko, pasangan Abdullah Azwar Anas, mencoblos di Kelurahan Penganjuran. Sementara Yusuf Nur Iskandar, pasangan Jalal, di Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Kota Banyuwangi, serta Achmad Zainuri Gozali, pasangan Emilia Contessa, di Desa Wongsorejo, Kecamatan Wongsorejo. Menanggapi masih karut marutnya persiapan pilkada seperti masih adanya warga yang belum menerima surat undangan, Ketua Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada Banyuwangi Cholili menjelaskan warga tidak perlu bingung. "Selama warga sudah masuk dalam DPT maka mereka berhak memilih dengan cara menunjukkan KTP sebagai tanda bukti diri bahwa yang ada di DPT tersebut adalah diri mereka," katanya. Selain itu, Cholili juga mengimbau warga Banyuwangi yang memiliki hak pilih untuk ikut serta mengawasi jalannya pilkada agar bisa berjalan secara demokratis, rahasia, jujur dan adil. Salah satunya, ia mencontohkan bila terjadi coblos tembus. Selama tidak mengenai calon lainnya hal tersebut dinyatakan sah, namun sebaliknya bila mengenai pasangan calon lainnya baru hal itu tidak sah. Dari beberapa TPS dilaporkan, dua dari tiga calon bupati yang maju, meraih keunggulan mutlak di tempat pemungutan suara dekat rumahnya pada pencoblosan. Kedua calon bupati itu adalah Abdullah Azwar Anas yang berpasangan dengan Yusuf Widyatmoko (nomor urut satu) dan H. Jalal yang menggandeng Yusuf Nuris (nomor urut tiga). Sementara Cabup Emilia Contesa yang berpasangan dengan Zaenuri Ghazali (nomor urut tiga), tidak menggunakan hak pilihnya karena tidak tercatat sebagai penduduk Banyuwangi. Data yang diperoleh ANTARA menyebutkan, Abdullah Azwar Anas yang mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, meraih sebanyak 372 suara dari 395 pemilih yang menggunakan hak pilihanya. Di TPS tersebut, pasangan Jalal-Yusuf Nuris mendapatkan dukungan 17 suara, sedangkan pasangan Emilia Contesa-Zaenuri Ghazali hanya meraih empat dukungan suara. Total warga yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) di TPS Azwar Anas mencoblos sebanyak 515 jiwa, dimana 120 jiwa di antaranya golput atau tidak menggunakan hak suaranya dan dua suara dinyatakan tidak sah. Sementara itu, di TPS 9 Desa Purwosari, Kecamatan Tegaldlimo yang menjadi tempat calon bupati H. Jalal mencoblos, raihan suara cabup dari Partai Demokrat ini mengalahkan dua pesaingnya. Dari sebanyak 192 pemilih yang menggunakan hak pilihnya, pasangan Jalal-Yusuf Nuris meraih dukungan mutlak 187 suara. Sedangkan pasangan Anas-Yusuf Widyatmoko dan pasangan Emilia-Ghazali masing-masing hanya mendapatkan tiga dan satu suara. Di TPS 9 Desa Purwosari ini, jumlah DPT sebanyak 259 jiwa dengan hanya satu suara yang tidak sah dan 67 pemilih golput. Berdasarkan pantauan Aantara, proses penghitungan suara di sebagian besar TPS sudah selesai dan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) langsung menyetorkan hasil tersebut ke kelurahan. Tanpa hitung cepat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyuwangi tidak melakukan hitung cepat atau "quick count" perolehan suara pemilihan umum kepala daerah setempat.

Ketua KPU Kabupaten Banyuwangi Syamsul Arifin yang dihubungi wartawan, mengatakan, keputusan tidak melakukan hitung cepat, bertujuan menghindari terjadinya polemik di masyarakat, terutama pendukung pasangan cabup-cawabup. "Kami tetap menjalankan tahapan penghitungan suara sesuai aturan yang telah ditetapkan, mulai dari tingkat PPS hingga penghitungan manual di KPU," tuturnya. Menurut Syamsul, dengan penghitungan manual saja, potensi terjadinya kerawanan masih cukup tinggi. "Apalagi kalau pakai hitung cepat. Makanya proses ini kami hindari," ujar mantan wartawan itu. Ia menambahkan, KPU Banyuwangi tidak melarang jika ada lembaga independen atau tim sukses pasangan cabup-cawabup melakukan penghitungan cepat suara pilkada. "Silakan saja melakukan itu, tapi KPU tetap berpedoman pada penghitungan yang dilakukan sendiri dan tidak terpengaruh dengan hasil penghitungan lembaga lain," tambah Syamsul. Menurut informasi yang diperoleh wartawan, sejumlah lembaga independen berencana melakukan penghitungan cepat hasil Pilkada Banyuwangi, seperti Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin). Ketua Divisi Komunikasi Pusdatin Banyuwangi Sapto Lasongko mengatakan, pihaknya sudah menyebar relawan ke tempat pemungutan suara di sebagian besar PPK (panitia pemilihan kecamatan), untuk memantau hasil penghitungan suara. "Kami harapkan setelah enam jam selesainya penghitungan suara di PPK, hasil perolehan suara pilkada sudah bisa diketahui masyarakat," katanya. [ant]

http://www.harianbhirawa.com/demo-section/berita-terkini/12612pilkada-banyuwangi-tetap-dilaksanakan-sesuai-jadwal

Radar BanyuwangiJum'at, 09 Juli 2010 ]

Ratna Menang PTUN

Perintahkan Ditetapkan Jadi Pasangan Cabup BANYUWANGI-Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya mengabulkan sebagian gugatan pasangan bakal calon bupati Ratna Ani Lestari-Pebdi Arisdiawan (RaPi) dan Aliansi Partai Politik Non Parlemen (APPNP), kemarin (8/7). Dalam sidang yang berlangsung mulai pukul 10.30 sampai 11.35 itu, hakim Wahyuning memutuskan bahwa surat keputusan (SK) KPU Banyuwangi tentang penetapan pasangan calon bupati batal. Selanjutnya, KPU diperintahkan menerbitkan keputusan baru yang memasukkan nama RaPi sebagai pasangan calon. Informasi yang diterima koran ini menyebutkan, putusan PTUN juga memerintahkan KPU kembali melakukan pengundian nomor urut calon. Meski begitu, PTUN menolak permohonan penggugat, untuk menunda pelaksanaan tahapan pemilukada, 14 Juli 2010. Kabar dikabulkannya gugatan oleh PTUN itu langsung disambut sukacita oleh APPNP sebagai koalisi partai pengusung RaPi. Ketua Presidium APPNP Banyuwangi, Mas Soeroso menegaskan, sesuai keputusan PTUN, maka KPU harus meloloskan RaPi sebagai peserta pemilukada. Dalam keputusannya, KPU menyatakan bahwa pasangan RaPi tidak memenuhi syarat pencalonan. Tetapi, keputusan PTUN menyatakan RaPi telah memenuhi syarat untuk menjadi cabup dan cawabup. "Untuk itu, KPU harus meloloskan pasangan RaPi sebagai peserta Pemilukada. Sebab, keputusan PTUN ini adalah produk hukum yang harus dilaksanakan oleh KPU," desak Soeroso saat ditemui RaBa di Kantor Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Banyuwangi, kemarin siang. Sementara itu, Robikin Emhas, salah satu tim kuasa hukum KPU mengakui bahwa sebagian gugatan RaPi dan APPNP dikabulkan oleh PTUN. Namun, putusan perkara itu belum final dan belum dapat diberlakukan. Sebab, penggugat maupun tergugat memiliki waktu 14 hari untuk menerima atau menolak putusan dan mengajukan banding. "Konkretnya, putusan PTUN ini saat ini belum berlaku dan tidak mengikat secara efektif. Terlebih hakim juga menolak permohonan penggugat yang meminta, agar KPU Banyuwangi menunda pelaksanaan tahapan pemilukada," terangnya dalam siaran persnya, kemarin.

Robikin menambahkan, pihaknya belum dapat memutuskan, apakah menyatakan banding atau tidak. "Kami akan konsultasi dan mendiskusikan dengan klien (KPU, Red) terlebih dahulu," kata pengacara dari Art & Partner, Attorneys at Law Jakarta itu. Bagaimana tanggapan KPU? Ketua KPU Banyuwangi, Syamsul Arifin mengaku, hingga kemarin petang belum menerima amar putusan PTUN tersebut. Pihaknya baru mendapat kabar tentang putusan PTUN yang mengabulkan sebagian gugatan itu dari Robikin. "Secara prinsip, keputusan PTUN tersebut belum inkrach (memiliki ketetapan hukum tetap, Red)," tegasnya. Syamsul berharap, semua pihak bisa mengendalikan diri, dalam menyikapi putusan PTUN tersebut. Sebab, KPU masih memiliki waktu selama 14 hari, untuk menentukan sikap. Apakah akan mengajukan banding atau menerima putusan tersebut? "Kami akan berkoordinasi dengan KPU provinsi, KPU Pusat, dan lawyer (kuasa hukum, Red) kami, untuk menentukan langkah selanjutnya," kata Syamsul. Sementara itu, kemarin anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Bagian Asistensi dan Monitoring, Nur Solihin, mengunjungi kantor Panitia Pengawas (Pemilukada) Banyuwangi. Kepada koran ini, Solihin mengaku, pihaknya hanya melakukan koordinasi dengan Panwas. "Kami selaku tim monitoring dan asistensi, sebenarnya tidak ada tugas khusus untuk datang ke Banyuwangi. Apa yang kami bicarakan dengan Panwas, hanya koordinasi," terangnya. Namun, Solihin mengaku terkejut, ketika mendapatkan laporan dari Panwas bahwa ada sembilan rekomendasi Panwas yang tidak dilaksanakan KPU. "Ini merupakan pelecehan terhadap lembaga Panwas," tudingnya. Solihin menegaskan bahwa seluruh rekomendasi tersebut merupakan atensi Bawaslu. Tetapi, rekomendasi tentang penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang 'tidak digubris' oleh KPU, mendapat perhatian utama dari Bawaslu. Dengan tidak dihiraukannya rekom tersebut, sesal dia, berarti tidak ada iktikad baik antarlembaga untuk melaksanakan pemilukada dengan baik. "Secara pribadi, saya melihat ada egoisme dari lembaga tertentu," kritik Solihin. Namun, Ketua KPU, Syamsul Arifin mengaku, telah membalas setiap rekom yang dikeluarkan Panwas. Untuk rekom penetapan DPT, Syamsul menyatakan bahwa Panwas juga terlibat selama proses penetapan. "Untuk data-data yang lain, seperti laporan dana kampanye, masih dalam proses. Bagaimana mungkin kami membuat laporan ke Panwas, jika kami sendiri belum menerima laporan tersebut dari setiap pasangan calon," tukas Syamsul.(mg4/irw)

http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=168920

Pilkada Banyuwangi Digelar Tanpa IncumbentSelasa, 13 Juli 2010 | 16:36 WIB BANYUWANGI- Pemilihan Kepala Daerah Banyuwangi tetap dilaksanakan pada Rabu (14/7) besok. Dengan demikian Pemilihan bupati tanpa diikuti cabup incumbent Ratna ani Lestari. Pasangan calon bupati-wakil bupati yang bertanding adalah Abdullah Azwar-AnasYusuf Widyatmoko (PDIP, PKB, PKS, PKNU, Golkar), Jalal-Yusuf-Nuris (Partai Demokrat) dan Emilia Contessa-Zaenuri Ghazali (PAN, Gerinda, Republikan). Gubernur Jawa Timur Soekarwo ditemui usai pertemuan tertutup dengan jajaran Muspida dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Banyuwangi, Selasa (13/7), menegaskan pihaknya tidak memiliki otoritas untuk menunda pelaksanaan pilkada. "Pilkada itu rezimnya KPU sehingga ditunda atau tidak terserah KPU. Saya sebagai gubernur tidak punya otoritas sama sekali untuk itu," katanya. Hadir dalam pertemuan itu, antara lain Wakil Ketua Pokja Pilkada KPU Jatim Arif Budiman, Bupati Ratna Ani Lestari, Ketua KPU Banyuwangi Syamsul Arifin, Panwaslu Jatim dan pejabat terkait. Pernyataan Soekarwo itu menanggapi surat permohonan penundaan pilkada dari kubu Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari dan pasangannya Pebdi Arisdiawan yang sebelumnya gagal lolos verifikasi KPU. Ratna-Pebdi mengajukan surat permohonan penundaan pilkada, setelah Pengadilan Negeri Tata Usaha (PTUN) mengabulkan gugatannya terhadap KPU Banyuwangi pekan lalu. Dalam salah satu putusannya, PTUN meminta KPU Banyuwangi meloloskan pasangan Ratna-Pebdi sebagai cabup-cawabup pada pilkada. Putusan lainnya, PTUN menolak permohonan pasangan Ratna-Pebdi untuk menunda pelaksanaan pilkada. Sebelum munculnya putusan PTUN tersebut, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) juga mengabulkan permohonan pasangan Ratna-Pebdi dan merekomendasikan mereka sebagai cabupcawabup. "Masalah calon yang tidak diterima ini sudah diselesaikan melalui jalur hukum dan prosesnya terus berjalan. Namun, itu tidak harus menunda pilkada," kata gubernur. Soekarwo juga menyatakan salut terhadap sikap Bupati Ratna Ani Lestari yang menempuh jalur hukum dalam menyelesaikan masalah tersebut. "Apa yang dilakukan Ibu Ratna sudah sangat bagus dan patut diajungi jempol. Tapi, kalau ada yang menyelesaikan di jalanan atau di luar jalur hukum, mereka berarti tidak waras," katanya menegaskan. Terkait munculnya ketidakpuasan pendukung pasangan Ratna-Pebdi yang bisa mengganggu jalannya pilkada, Soekarwo yakin hal itu tidak sampai terjadi. "Sejauh ini tidak ada yang rawan dan situasinya cukup kondusif. Kalau di lapangan terlihat pengamanan begitu ketat, memang skenarionya dibuat seolah-olah ada kerawanan," tambahnya. ant

Rabu, 14/07/2010 14:25 WIB

Pilbup Banyuwangi

Pendukung Ratna Ani Bakar Ratusan Surat Undangan C6Irul Hamdani detikSurabaya Banyuwangi - Ratusan surat undangan pemilih C6 dibakar pendukung Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari. Aksi pembakaran dilakukan di depan posko pemenangan Ratna Ani Lestari dan pasangannya Pebdi Arisdiawan, Jalan Sidopekso No 2 Kelurahan Temenggungan. Surat undangan C6 yang dibakar diperoleh seluruh pengurus partai non parlemen serta warga pendukung Bupati Ratna. Aksi yang dilakukan di tengah jalan tersebut sempat mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Aksi tersebut juga menjadi perhatian warga sekitar dan pengendara yang sedang melintas. Pembakaran dilakukan sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap pelaksanaan Pilkada Banyuwangi yang dianggap cacat secara hukum. Karena calon mereka, Ratna Ani Lestari-Pebdi Arisdiawan, gagal maju meski menang dalam gugatan di PTUN dan memperoleh rekomendasi dari Banwaslu. "Seluruh pengurus partai non parlemen telah kami serukan untuk golput," kata Presidium Aliansi Partai Non Parlemen, Mas Soroso, kepada wartawan di lokasi, Rabu (14/7/2010). Pasangan Ratna Ani Lestari-Pebdi Arisdiawan, gagal maju Pilkada setelah syarat dukungan partai politik kurang dari 15 persen. Langkah hukum dilakukan pasangan tersebut melalui PTUN dan gugatan mereka dikabulkan. Sementara buntut dari aksi pembakaran tersebut, polisi telah memanggil 4 orang yang diduga sebagai pelakunya. Identitas mereka belum diketahui. Keempat orang tersebut diminta untuk klarifikasi terkait aksi itu. Hingga pukul 14.15 WIB, audensi masih berlangsung. "Kita panggil untuk klarifikasi serta alasan aksi pembakaran tersebut. Hasilnya masih menunggu," jelas Kasat A Bagian Politik Polda Jatim, AKBP Ratno Kuncoro, kepada wartawan di Polres Banyuwangi. (fat/fat) Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detikRabu, 14/07/2010 12:39 WIB

Pilbup Banyuwangi

Emilia Contessa Tak Dapat Hak PilihIrul Hamdani detikSurabaya Banyuwangi - Tiga pasangan pemilihan calon bupati dan calon wakil bupati Banyuwangi yang digelar hari ini, hanya Emilia Contessa yang tidak melakukan pencoblosan. Pasalnya nama ibunda Denada itu tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Emilia Contessa yang berpasangan dengan Zaenuri Ghazali nomor urut 3 mengaku namanya tidak

masuk DPT, karena masih tercatat sebagai warga Jakarta. Hal itu dibuktikan dengan KTP yang dipegangnya. Artis senior ini beralasan waktu yang mepet itulah yang membuatnya tidak sempat mengurus surat pindah domisili dari Jakarta untuk mendapatkan KTP Banyuwangi. Meski, untuk mendapatkan KTP Banyuwangi, bukan hal yang sulit walau sedikit rumit birokrasinya. "Persiapan saya hanya 7 bulan untuk maju (Pilkada.red)," jelas Emilia Contessa kepada wartawan saat ditemui dirumahnya di Perumahan Mendut Regency Banyuwangi, Rabu (14/7/2010). Meski begitu, dia tak berkecil hati. Untuk menunggu proses pencoblosan usai, dirinya didampingi beberapa kerabat dan orang dekatnya memilih untuk mengunjungi beberapa tempat. Diantaranya, Lapas Banyuwangi dan kediaman orangtuanya di Kelurahan Karangbaru dan Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi. Emilia optimis jika banyak warga yang memberikan suara pada dirinya, khususnya di daerah perkotaan Banyuwangi. Namun dia merasa kecewa dengan banyaknya perusahaan swasta yang tidak meliburkan karyawannya saat pencoblosan. "Saya agak optimis untuk di kota. Ada sekitar 80 ribu hak suara di sini. Pantauan saya masih separuh yang datang. Saya kecewa dengan perusahaan swasta yang tidak meliburkan karyawannya dihari ini," tandasnya. Sementara Pilkada Banyuwangi ada tiga pasangan calon yang bertarung. Mereka, yakni Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko dengan nomor urut 1. Jalal-Yusuf Nuris dengan nomor urut 2, serta Emilia Contesa-Zaenuri Ghazali dengan nomor urut 3.Minggu, 11/07/2010 18:40 WIB

Pilbup Pasuruan

KPU Nyatakan Pasangan HATI UnggulEko Febrianto detikSurabaya Pasuruan - Komisi pemilihan Umum (KPU) Kota Pasuruan menetapkan pasangan HasaniSetiyono (HATI) sebagai pemenang Pemilukada. HATI yang diusung PKB, PAN, Partai Golkar dan PPP mengungguli 3 pasangan lain dengan perolehan suara tertinggi 35.798 suara (36,01%). Urutan kedua diraih pasangan Pudjo Basuki-Muhammad Sulaiman (Mas Pudjo-Gus Much). Pasangan yang diusung PDI Perjuangan tersebut memperoleh 30.348 suara (30,53%) Pasangan yang dicalonkan Partai Hanura dan PKS, Achmad Anshori-Ahmad Sufiyaji (AJI) memperoleh suara 25. 427 (25.58%) menempati urutan ketiga. Sedangkan pasangan Riza Eka Prasistyio-Teguh Heru Pribadi (RESTU) yang berangkat melalui jalur independen menempati urutan terakhir dengan perolehan suara terendah 7.833 suara (7.88%). Ketua KPU Pasuruan Abdul Hamid mengatakan hasil rekapitulasi dari 3 kecamatan yakni Kecamatan Bugul Kidul, Kecamatan Purworejo dan Kecamatan Gadingrejo mutlak sah. "Dari rekapitulasi suara, Pimilukada dimenangkan pasangan Hasani-Setiyono," kata Hamid, Minggu (11/7/2010). Data rekapitulasi tersebut dari jumlah total suara yang sah mencapai 99.406 surat suara, sedangkan suara tidak sah mencapai 3.039 dari jumlah DPT 135.117 orang dengan 284 TPS yang tersebar di 43 Kelurahan dan 3 Kecamatan. Sementara tingkat partisipasi pemilih mencapai 75.79

% sedangkan angka golput mencapai 24.21%. "Partisipasi pemilih menurun dari pemilukada sebelumnya," jelas Hamid dalam rapat pleno terbuka di Gedung KPU Kota Pasuruan. (fat/fat)Rabu, 14/07/2010 09:10 WIB

Pilbup Banyuwangi

1.700 Polisi Disiagakan di 3.096 TPSIrul Hamdani detikSurabaya Banyuwangi - Untuk mendukung pelaksanaan Pilkada Banyuwangi yang digelar hari ini, Polres Banyuwangi mengerahkan 1.700 personelnya. Kekuatan tersebut didukung dengan 3 water canon dari Polda Jatim, yang disiagakan di Mapolres Banyuwangi. Tambahan polisi juga didatangkan dari brigade mobil dari Malang, Bondowoso dan Pamekasan serta 1 kompi samapta Polda Jatim. Jumlah personel tersebut disiagakan di 3.096 TPS yang ada. "H-1 seluruh personel sudah tempati pos masing-masing. Personel akan melakukan pengamanan selama 24 jam penuh hingga pemungutan suara usai dilakukan." jelas Kapolres Banyuwangi, AKBP Slamet Hadi Supraptoyo, kepada wartawan, Rabu (14/7/2010). Sistem pengamanan yang diterapkan, sama dengan pola pengamanan pada pemilu dan pilgub lalu. Pola tersebut diantaranya, 1-6-12, 1-4-8, 1-2-4, 1-3-6, dan 1-1-2. Sebagai contoh pola 1-6-12 artinya satu polisi mengamankan 6 TPS dengan di bantu 12 linmas. Atau dengan kata lain, jumlah personel ditiap TPS berbeda-beda. Satu personel polisi ada yang hanya bertugas mengamankan satu TPS, ada pula yang lebih. Tergantung pada kondisi kerawanan dan alam disekitar TPS. "Banyak pertimbangan untuk menerapkan pola pengamanan yang kita lakukan salah satunya kondisi alam," tambah Slamet. Dari 3.096 TPS, sebanyak 116 TPS tergolong rawan. Dengan kategori, 67 TPS rawan tindak kriminal dan 53 TPS sisanya rawan politik. Parameter rawan politik dilihat dari mayoritas dukungan warganya terhadap salah satu calon. Sementara di Pilkada Banyuwangi ada tiga pasangan calon yang bertarung. Mereka, yakni Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko dengan nomor urut 1. Jalal-Yusuf Nuris dengan nomor urut 2, serta Emilia Contesa-Zaenuri Ghazali dengan nomor urut 3. Dengan kesiapan dan kesiagaan personel yang ada, diharapkan dapat menjaga dan mengamankan pilkada Banyuwangi yang kondusif. Seluruh personel akan ditarik kembali setelah situasi dipastikan kondusif. (fat/fat)Rabu, 14/07/2010 08:08 WIB

Pilbup Banyuwangi

Hari Ini 1.233.883 Warga Banyuwangi Pilih Calon BupatiIrul Hamdani detikSurabaya Banyuwangi - Pemilihan calon bupati dan wakil bupati digelar di Kabupaten Banyuwangi hari ini. Sebanyak 1.233.883 warga yang tercatat di DPT akan memilih kepala daerah (baru) untuk periode 2010-2015. KPU Banyuwangi menjelaskan, ada 3.096 TPS yang tersebar di 24 Kecamatan di Banyuwangi. Seluruh logistik pilkada dipastikan sudah rampung dilaksanakan tadi malam tanpa kendala berarti. "Hasil pantauan dan laporan sudah terdistribusi dengan baik," jelas Hary Priyanto, anggota KPU Banyuwangi, saat dihubungi detiksurabaya.com, Rabu (14/7/2010). KPU juga optimis tingkat partisipasi pemilih di Pilkada hari ini sesuai dengan harapan. Meski begitu KPU juga merasa was-was dengan tingkat partisipasi dari kalangan pemilih pemula yang rawan golput. "Positif dan optimis dengan target yang maksimal," tandas Hary, tanpa menyebutkan angka dari target yang diharapkan tersebut. Sementara di Pilkada Banyuwangi, ada tiga pasangan calon yang bertarung. Mereka, yakni Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko dengan nomor urut 1. Jalal-Yusuf Nuris dengan nomor urut 2, serta Emilia Contessa-Zaenuri Ghazali dengan nomor urut 3. (fat/fat)

Ke Jakarta Mereka Mengadu23 Aug 2010

Media Indonesia Politik

PRIA itu memperkenalkan diri sebagai Priyono. Berperawakan kecil dan berkulit sawo matang. Yono, panggilan akrabnya, merupakan bagian dari tim sukses salah satu pasangan calon kepala daerah. Ketika Media Indonesia menemuinya sekitar pukul 18.30 WIB di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (19/8), Yono mengatakan kedatangan dirinya ke MK semata-mata untuk meminta keadilan bagi pasangan calon yang ia dukung. Itulah sekilas potret yang terlihat dari pelbagai sidangpermohonan perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada) di Gedung MK. Setidaknya puluhan kasus sengketa pemilu kada menumpuk di lembaga itu.

Pada kenyataannya, putusan-putusan MK sering kali kontroversial dan melangkahi wewenang mereka, yaitu mengurusi sengketa .pemilu kada. Masih hangat dalam ingatan kita semua bagaimana suara sebagian besar masyarakat Kptawaringin Barat, Kalimantan Tengah, terbuang sia-sia setelah MK memenangkan pasangan incumbent yang mengajukan keberatan atas pasanganlawannya. Belum lagi kasus Belitung Timur yang pada bagian pendapat, majelis hakim setuju sama permohonan pemohon. Namun, pada putusannya? Menolak. Selain Yono, Media Indonesia sempat menemui advokat Suhardi La Maira, kuasa hukum calon kepala daerah Ratna Lestari dalam sengketa pemilu kada Banyuwangi yang digelar MK siang harinya. Sebagai kuasa hukum pasangan calon pemilu kada Banyuwangi Ratna Ani LestariPebdi Arisdiawan yang dicoret KPU setempat, pria yang tatkala ditemui tengah memakai batik itusangat menaruh harap supaya MK bisa lebih berani. MK, menurutnya, perlu bisa mengembangkan dan mewujudkan rasa keadilan di masyarakat. "Konten permohonan kita, KPU Banyuwangi telah melangkahi hak konstitusional klien kami," tandas Suhardi. Ia menjelaskan perdebatan soal pencoretan nama Ratna dan Pebdi oleh KPU Banyuwangiitu sudah dibahas pada tingkat Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. Putusan PTUN pada 8 Juli 2010 secara jelas membatalkan keputusan KPU Banyuwangi. PTUN Surabaya pun mewajibkan KPU Banyuwangi untuk mencabut terbitan putusan yang mencoret keikutsertaan Ratna-Pebdi pada pemilu kada Banyuwangi. "Artinya, mau alasan apa pun, KPU harus mematuhi hal ini. Namun, hal itu mereka abaikan. Ini namanya pembangkangan terhadap kewenangan yudisial." Dia pun memandang MK sebagai jembatan terakhir. Suhardi kini masih harus menunggu putusan MK. Apakah pernyataan Suhardi tetap sama apabila ia menjadi korban putusan kontroversial MK berikutnya? Kita lihat saja nanti! (Amah! Sharif Azwar/S-5) Ringkasan Artikel Ini Ketika Media Indonesia menemuinya sekitar pukul 18.30 WIB di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (19/8), Yono mengatakan kedatangan dirinya ke MK semata-mata untuk meminta keadilan bagi pasangan calon yang ia dukung. Selain Yono, Media Indonesia sempat menemui advokat Suhardi La Maira, kuasa hukum calon kepala daerah Ratna Lestari dalam sengketa pemilu kada Banyuwangi yang digelar MK siang harinya. Sebagai kuasa hukum pasangan calon pemilu kada Banyuwangi Ratna Ani Lestari-Pebdi Arisdiawan yang dicoret KPU setempat,

pria yang tatkala ditemui tengah memakai batik itusangat menaruh harap supaya MK bisa lebih berani.

Emilia Contessa Bertarung di Pilkada BanyuwangiPolkam / Selasa, 13 Juli 2010 16:24 WIB Metrotvnews.com, Banyuwangi: Gubernur Jawa Timur Sukarwo memastikan pemilihan umum kepala daerah Banyuwangi, Jatim, berlangsung Rabu (14/7). Ia menjamin pemilu berlangsung tanpa kendala meskipun muncul gugatan dari pasangan calon bupati incumbent Ratna Ani Lestari yang menang dalam sidang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Komisi Pemilihan Umum setempat telah menetapkan tiga pasang kandidat maju. Ialah Abdullah Aswar Anas - Yusuf Widiatmoko dengan nomor urut pertama; Jalal - Yusuf Nuris dengan nomor urut dua; dan Emilia Contessa - Zainuri Gozali dengan nomor urut tiga. Pakde Karwo--sapaan Sukarwo-- menilai persiapan pilkada Banyuwangi baik. Logistik pemilu juga telah didistribusikan ke seluruh kecamatan. Karena persiapan mantap dan terkendali, baginya tak ada alasan menunda pemilu. Sedangkan kandidat tidak lolos Ratna Ani Lestari dan Pepdi Arisdyawan sempat ngotot minta diloloskan. Soal gugatan itu, Sukarwo menghormati proses hukum di PTUN Banyuwangi. KPUD Banyuwangi tetap melangsungkan tahapan pilkada. Sementara proses hukum dilanjutkan dengan banding ke PTUN. (Andi Himawan/*****)

KPU abaikan putusan PTUN

Besok, Pilkada Banyuwangi DigelarSelasa, 13 Juli 2010 | 15:51 WIB Besar Kecil Normal TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan pilkada Banyuwangi tetap dilaksanakan Rabu besok, (14/7). "Tetap dilaksanakan besok," kata Soekarwo di Mapolres Banyuwangi, Selasa (13/7). Bahkan Gubernur telah menandatangani surat keputusan bahwa tanggal 14 Juli ditetapkan sebagai hari libur bagi warga Banyuwangi. Pernyataan Gubernur itu menanggapi surat yang dikirimkan oleh Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari pada 5 Juli lalu aqgar jadwal pilkada Banyuwangi ditunda. Bupati Ratna mengirimkan surat itu karena tidak lolos maju sebagai calon kepala daerah periode 2010-2014. Menurut Soekarwo, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan pilkada atau tidak. Kewenangan pilkada, kata dia, berada di tangan KPU. Dia justru menyatakan salut atas langkah hukum yang ditempuh Bupati Ratna yang gagal mencalonkan diri. "Demokrasi harus berbanding lurus dengan kepatuhan hukum," ujarnya.

Anggota KPU Jawa Timur, Arif Budiman, mengatakan, penundaan pilkada tidak bisa dilakukan karena sesuai peraturan perundang-undangan, pilkada hanya bisa ditunda apabila ada bencana alam atau kerusuhan massal. KPU Provinsi, katanya, telah melakukan supervisi terhadap seluruh kebijakan KPU Banyuwangi supaya tetap berpedoman pada Peraturan KPU Nomor 68/2010. "Hasilnya, Pilkada Banyuwangi harus tetap berjalan," katanya. Terkait putusan PTUN yang memenangkan gugatan 14 partai non parlemen pendukung Bupati Banyuwangi, Arif mengatakan, Pilkada Banyuwangi tidak akan cacat hukum, karena belum berkekuatan hukum tetap. Sebaliknya, KPU akan melaksanakan putusan hukum apabila KPU kalah di peradilan tertinggi. "Di banyak daerah KPU siap melaksanakan putusan yang sudah incraht,", ujarnya. Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari saat dimintai komentar terkait jawaban Gubernur Jatim itu, hanya melempar senyum kepada wartawan. Pada 8 Juli lalu, PTUN memenangkan gugatan 14 parpol non parlemen pendukung Bupati Ratna. PTUN menilai SK KPU No 137/2010 tentang tidak lolosnya pasangan Ratna Ani - Pebdi Arisdiawan cacat hukum. PTUN mewajibkan KPU menyertakan pasangan itu dalam pilkada 14 Juli mendatang. IKA NINGTYAS

Pilkada Banyuwangi di Tengah Isu KerawananRabu, 14 Jul 2010 10:10:52| Karkhas | Dibaca 235 kali

Oleh Didik Kusbiantoro

Banyuwangi - Suasana kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir terlihat berbeda dari biasanya.

Puluhan aparat kepolisian dari berbagai unsur dan persenjataan lengkap disiagakan di depan kantor yang terletak di Jalan H. Agus Salim Banyuwangi

tersebut.

Pengamanan ekstra ketat itu dilakukan terkait munculnya isu akan adanya pengerahan massa dari pendukung pasangan yang gagal ikut pilkada, yakni Ratna Ani Lestari dan Pebdi Arisdiawan.

Pasangan petahana itu sebelumnya telah gagal verifikasi KPU Banyuwangi pada pertengahan Mei 2010, namun kemudian mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Kubu Ratna-Pebdi menganggap KPU Banyuwangi tidak netral dengan tidak meloloskan mereka ikut pilkada, padahal semua persyaratan sudah dipenuhi.

Dalam sidang yang digelar pekan lalu, PTUN mengabulkan gugatan pasangan Ratna-Pebdi dan mengeluarkan dua putusan terkait Pilkada Banyuwangi.

Putusan pertama adalah memerintahkan KPU Banyuwangi untuk memasukkan pasangan Ratna-Pebdi sebagai calon bupati dan calon wakil bupati dalam pilkada serta melakukan pengundian ulang nomor urut.

Kedua, PTUN juga tidak mengabulkan permohonan pasangan Ratna-Pebdi yang meminta jadwal pelaksanaan Pilkada Banyuwangi pada Rabu (14/7) untuk ditunda.

Keputusan PTUN tersebut sejalan dengan sikap Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) yang sebelumnya juga mengabulkan permohonan pasangan tersebut dan merekomendasikan KPU untuk menetapkannya sebagai cabup-cawabup.

Kubu pasangan Ratna-Pebdi lega dengan keluarnya putusan tersebut, sehingga peluangnya untuk mengikuti pilkada yang sebelumnya dijegal KPU, kembali terbuka.

"Kami tidak meminta pilkada ditunda, tapi KPU harus mengambil langkah konkret sebelum keputusan PTUN dinyatakan sebagai keputusan tetap," ujar Kuasa Hukum pasangan Ratna-Pebdi, Oesnawi SH.

Bupati Ratna Ani Lestari menambahkan pihaknya tetap melakukan upaya hukum terhadap semua keputusan KPU yang dinilai telah merugikan dirinya.

"Jika selama ini saya diam, itu karena saya ingin menjaga warga saya tetap dalam kondisi kondusif. Namun, sekarang semua data sudah saya pegang dan saya tetap menempuh jalur hukum " tegas Ratna.

Namun, permintaan pasangan Ratna-Pebdi tidak serta-merta dikabulkan KPU, mengingat keluarnya putusan PTUN itu sangat berdekatan dengan pelaksanaan coblosan.

KPU Banyuwangi tetap pada keputusan bahwa pilkada diikuti tiga pasangan cabup-cawabup, yakni Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko (PDIP, PKB, PKNU), Jalal-Yusuf Nur Iskandar (Partai Demokrat) dan pasangan Emilia Contesa-Zaenuri Ghazali (Partai Gerindra, PAN, Republikan).

Selain itu, KPU Banyuwangi juga masih mengupayakan banding terhadap putusan PTUN tersebut.

"Keputusan PTUN itu belum bersifat tetap dan kami masih diberi waktu 14 hari untuk mengajukan banding. Kami sudah koordinasi dengan KPU Jatim dan tim kuasa hukum untuk banding," kata Ketua KPU Banyuwangi, Syamsul Arifin.

Tidak Ditunda Di saat polemik hukum tersebut belum tuntas, muncul selentingan isu di sebagian warga yang dihembuskan pihak-pihak tidak bertanggung jawab, apabila Pilkada Banyuwangi ditunda.

Tak pelak, kabar yang tidak jelas sumbernya itu membuat sebagian warga terusik dan KPU Banyuwangi harus berusaha menenangkan warga.

Apalagi, kubu pasangan Ratna-Pebdi juga telah mengajukan surat permohonan kepada Gubernur Jatim untuk meminta penundaan pilkada.

"Warga Banyuwangi jangan mudah terprovokasi isu-isu tidak benar, karena pilkada tetap dilaksanakan sesuai jadwal," tegas Syamsul Arifin.

Ia menambahkan seluruh tahapan pilkada sudah dijalankan sesuai aturan yang ada dan tidak mungkin ditunda atau dibatalkan.

"Biarlah proses hukum itu tetap berjalan tanpa harus mengganggu jadwal pilkada. Kami juga tidak ingin berandai-andai, kalau nanti ada putusan hukum terhadap upaya banding KPU," tambah Syamsul.

Wakil Ketua Kelompok Kerja KPU Jatim Arif Budiman menambahkan sesuai aturan yang berlaku, hanya ada dua hal yang bisa menunda pelaksanaan pilkada, yakni terjadinya bencana alam dan kerusuhan besar.

"Sejauh ini, kondisi di Banyuwangi cukup kondusif dan tidak ada yang perlu ditunda," ujarnya saat meninjau persiapan Pilkada Banyuwangi.

Meningkatnya suhu politik di Banyuwangi mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi dan Kepolisian Daerah Jatim.

Polisi langsung menetapkan status siaga satu di wilayah Banyuwangi dan menerjunkan ribuan personel keamanan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.

Sinyal kerawanan Pilkada Banyuwangi juga diungkapkan Ketua Kelompok Kerja Pilkada KPU Pusat, I Gusti Putu Artha, saat berkunjung ke Banyuwangi awal Mei lalu.

Kerawanan itu terkait banyaknya cabup dan cawabup yang bermasalah dalam pencalonannya serta pecahnya dukungan dari partai politik di wilayah setempat.

"KPU Pusat memberikan atensi khusus terhadap pelaksanaan Pilkada Banyuwangi," katanya.

Gubernur Jatim Soekarwo agaknya ikut terusik dengan sinyalemen itu dan tidak menginginkan Pilkada Banyuwangi sampai rusuh, seperti yang terjadi di Kabupaten Mojokerto.

Soekarwo yang sempat melakukan pertemuan tertutup selama hampir dua jam dengan Muspida dan KPU Banyuwangi, Selasa, memberi ajungan jempol atas sikap pasangan Ratna-Pebdi yang memilih jalur hukum untuk menuntaskan masalah.

"Kalau ada masalah, sebaiknya diselesaikan lewat jalur hukum. Jangan menyelesaikan masalah di jalanan, seperti orang tidak waras. Jawa Timur harus tetap kondusif dan jangan lagi terjadi kerusuhan seperti di Mojokerto," katanya.

Bupati Banyuwangi Pilih GolputFull story: www.surya.co.id BANYUWANGI-Bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Ratna Ani Lestari memilih tidak menggunakan hak suaranya atau memutuskan menjadi golongan putih (golput), pada coblosan pemilihan umum kepala daerah setempat, Rabu (14/7). Ratna Ani Lestari yang terdaftar di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi, tidak hadir ke TPS hingga batas akhir waktu pencoblosan pukul 13.00 WIB.

Calon Incumbent Gagal Maju Pemilihan Bupati BanyuwangiRabu, 12 Mei 2010 | 18:56 WIB Besar Kecil Normal

Ratna Ani Lestari. TEMPO/Mahbub Djunaidy TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyuwangi mengumumkan dua dari lima pasangan bakal calon bupati Banyuwangi tidak lolos administrasi. "Jadi hanya tiga pasang calon yang memenuhi syarat," kata Ketua Kelompok Kerja Pemilihan Kepala Daerah KPU, Hary Priyanto, dalam jumpa pers, Rabu (12/5).

Dua pasang bakal calon yang gagal, yakni pasangan incumbent Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari-Pebdi Arisdiawan dan Mulyono-Untung Harjito. Sementara tiga pasang calon yang lolos adalah Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko (didukung PDIP, PKB, PKNU), Jalal-Yusuf Nur Iskandar (Partai Demokrat), dan pasangan Emilia Contesa-Zaenuri Ghazali (Partai Gerindra, PAN, Republikan). Menurut Hary Priyanto, dua pasang bakal calon tidak lolos akibat kepengurusan parpol yang mengajukan calon tidak sah. Untuk memperoleh keputusan kepengurusan mana yang sah, kata dia, KPU Banyuwangi telah melakukan verifikasi ke pengurus partai di tingkat provinsi dan pusat. Pasangan Ratna Ani-Pebdi Arisdiawan terganjal karena dualisme Partai Golkar dan Partai Pengusaha Pekerja Indonesia. Pebdy Arisdiawan sebagai Ketua Golkar Banyuwangi telah dicopot oleh DPD Golkar Jawa Timur saat keduanya mendaftar ke KPU Banyuwangi, 19 April lalu. Pebdy dipecat karena membangkang instruksi DPP untuk mendukung pencalonan Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko. Sementara pasangan Mulyono-Untung gagal karena DPP PKNU mengakui kepengurusan PKNU Banyuwangi yang diketuai Ahmad Wahyudi. Menurut Hary, tidak sahnya kepengurusan partai yang mengajukan calon berpengaruh terhadap syarat minimal dukungan yang diatur Peraturan KPU No. 68/2009 tentang Pemilukada. "Syarat dukungannya kurang dari 15 persen," ujarnya. Tim sukses pasangan Bupati Ratna-Pebdy Arisdiawan, Abdul Gofur, mengatakan akan mengajukan gugatan hukum atas keputusan KPU Banyuwangi tersebut. KPU dinilai telah melakukan intervensi atas internal parpol. "Gugatan akan kami layangkan secepatnya," ancamnya. IKA NINGTYAS

Ratna Minta

Penangguha n PilkadaSenin, 12 Juli 2010 | 09:26 WIB

Banyuwangi - Surya- Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari berkirim surat ke Gubernur Soekarwo untuk mengajukan penundaan pilkada yang rencananya digelar Rabu (14/7). Dalam surat tertanggal 5 Juli 2010 itu, alasan penundaan pilkada berdasarkan surat Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) ke KPUD Pusat Nomor 433/2010 perihal Rekomendasi Penetapan Pasangan Calon dalam Pilkada. Bawaslu merekomendasikan bahwa Ratna Ani yang berpasangan bersama Pebdi Arisdiawan memenuhi syarat sebagai calon kepala daerah. Bawaslu juga menduga, KPUD Banyuwangi melanggar Peraturan KPU 68/2009 dalam proses pencalonan dan verifikasi terhadap pasangan Ratna-Pebdi. Saat dikonfirmasi wartawan, Ratna membenarkan telah mengirimkan surat permintaan penundaan pilkada kepada gubernur. Sebagai seorang bupati, saya wajib melaporkan situasi kepada atasan, kata Ratna. Dia berharap, pilkada ditunda sampai situasi Banyuwangi kondusif. Namun, hingga hari ini gubernur belum mengirimkan jawaban surat tersebut. Pasangan Ratna Ani-Pebdi maju didukung oleh Partai Golkar dan 14 partai nonparlemen. Namun, pasangan itu dicoret KPUD Banyuwangi karena Partai Golkar Banyuwangi yang saat itu dipimpin Pebdi Arisdiawan dibekukan oleh DPP Partai Golkar.

Sementara itu, Panwas Banyuwangi mengaku akan memboikot pelaksanaan pilkada. Mereka kecewa dengan tidak digubrisnya rekomendasi Bawaslu oleh KPUD Banyuwangi. Menurut anggota panwas, Totok Hariyanto, panwas tidak akan mengakui seluruh produk hukum KPUD, termasuk pelaksanaan pilkada 14 Juli mendatang. Kalau ada sengketa hukum, panwas tidak akan bertanggung jawab, kata Totok. Totok menjelaskan, pada pilkada 14 Juli, panwas akan tetap menerima pengaduan tentang adanya pelanggaran. Tetapi, kami tidak akan mengakui siapa calon yang menang, ujarnya.nuniBupati tidak Lolos PencalonanKamis, 13 Mei 2010 06:21 WIB

BANYUWANGI--MI: Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tidak meloloskan Bupati Ratna Ani Lestasi sebagai calon bupati periode 2010-2015 pada pilkada 14 Juli mendatang, karena tidak memenuhi persyaratan pencalonan. Selain mencoret Ratna Ani Lestari yang berpasangan dengan Pebdy Arisdiawan, KPU Banyuwangi dalam pengumuman penetapan pasangan cabup-cawabup, Rabu (12/5), juga tidak meloloskan pasangan Mulyono-Untung Harjito karena alasan yang sama. "Kedua pasangan tersebut tidak lolos verifikasi dan tidak dapat ditetapkan sebagai calon bupati dan calon wakil bupati," kata Ketua Kelompok Kerja Pemilihan Umum Kepala Daerah KPU Kabupaten Banyuwangi Hari Priyanto, dalam keterangan persnya.

Ia menjelaskan, kepengurusan parpol yang mengajukan kedua pasangan calon itu tidak sah dan KPU Banyuwangi telah melakukan verifikasi kepada pengurus partai di tingkat provinsi dan pusat yang mengusung calon tersebut. Pencalonan Ratna Ani Lestari-Pebdy Arisdiawan terganjal dualisme kepengurusan Partai Golkar dan Partai Pengusaha

Pekerja Indonesia. Pebdy Arisdiawan sebagai Ketua DPD Golkar Banyuwangi juga telah dicopot jabatannya oleh DPD Golkar Jawa Timur, saat mendaftar ke KPU Banyuwangi pada 19 April lalu. Ia dipecat karena tidak mengindahkan instruksi DPP untuk mendukung pencalonan pasangan Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko. Sedangkan pasangan Mulyono-Untung gagal dalam pencalonan, karena DPP PKNU mengakui kepengurusan PKNU Banyuwangi yang diketuai Akhmad Wahyudi yang tidak merekomendasi pasangan tersebut. Hari Priyanto menambahkan, pencoretan kedua pasangan itu juga karena kurangnya dukungan minimal 15% kursi di DPRD dari parpol pendukung, sesuai peraturan KPU Nomor 68 Tahun 2009. KPU Banyuwangi akhirnya hanya menetapkan tiga pasangan calon yang lolos maju dalam pilkada, yakni Abdullah Azwar AnasYusuf Widyatmoko (PDIP, PKB dan PKNU, Golkar), Jalal-Yusuf Nur Iskandar (Partai Demokrat) dan Emilia Contesa-Zaenuri Ghazali (PPP, Gerindra, PAN, Republikan). Koordinator tim sukses pasangan Ratna Ani Lestari-Pebdy Arisdiawan, Abdul Gofur, mengatakan pihaknya akan mengajukan gugatan hukum kepada KPU Banyuwangi karena dianggap telah melakukan intervensi terhadap internal parpol. "Kami kecewa dengan keputusan KPU Banyuwangi dan secepatnya kami akan mengajukan gugatan hukum atas ketidakadilan ini," katanya. (Ant/OL-7)

Dinilai Membangkang, Ketua dan Sekretaris Golkar Banyuwangi DiberhentikanSelasa, 20 April 2010 | 20:48 WIB Besar Kecil Normal TEMPO Interaktif, BANYUWANGI - Dewan Pengurus Daerah Partai Golkar Jawa Timur mencopot sementara Pebdy Arisdiawan dan Muhammad Ghozali sebagai Ketua dan Sekretaris DPD Golkar Banyuwangi karena dianggap melanggar intruksi partai. Pencopotan sementara itu tertuang dalam surat DPD Golkar Jawa Timur Nomor 30/B2/DPD I/PG/IV/2010 yang ditandatangani Ketua DPD Golkar Martono serta Sekretaris Gesang Budiarso. Dalam surat itu, DPD Golkar Jawa Timur menunjuk Tomo Budiharsojo dan Semara Duran masing-masing sebagai pelaksana tugas ketua serta sekretaris DPD Golkar Banyuwangi. Martono mengatakan Pebdy dianggap melanggar intruksi partai karena tidak mendukung pasangan calon kepala daerah Banyuwangi yang diusung Partai Golkar bahkan sudah mendapat restu DPP, Abdullah Azwar Anas - Yusuf Widyatmoko. Bahkan, Pebdy nekad mencalonkan diri mendampingi Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari. Menurut Martono, dukungan terhadap Azwar Anas karena elektabilitas mantan anggota DPR RI periode 2004-2009 dari PKB itu cukup tinggi, yakni di atas 30 persen. Hasil survey, kata dia, menjadi landasan penetapan kepala daerah yang didukung Golkar. "Tingginya dukungan berarti dikehendaki masyarakat," kata Martono saat dihubungi TEMPO, Selasa sore, (20/4). Menurut dia, sanksi kepada Pebdy yang juga wakil ketua DPRD Banyuwangi itu akan ditingkatkan apabila tidak mundur dari pencalonanya bersama Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari. "Bisa diberhentikan tetap hingga recall sebagai anggota DPRD," kata dia. Pebdy Arisdiawan saat dikonfirmasi TEMPO mengatakan, belum menerima surat pencopotan tersebut. Menurut Pebdy, DPD Golkar Banyuwangi menolak mendukung Azwar Anas karena sudah mendaftar ke KPU setempat dengan disokong PDIP, PKB dan PKS. "Kalau Golkar bergabung, kita cuma jadi penonton," kata dia. Pebdy mengatakan, dia akan menemui pengurus pusat untuk mengklarifikasi pencalonannya sebagai wakil bupati. IKA NINGTYAS.

Rabu, 14 Juli 2010 | 17:30 WIB

BANYUWANGI-Bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Ratna Ani Lestari memilih tidak menggunakan hak suaranya atau memutuskan menjadi golongan putih (golput), pada coblosan pemilihan umum kepala daerah setempat, Rabu (14/7). Ratna Ani Lestari yang terdaftar di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi, tidak hadir ke TPS hingga batas akhir waktu pencoblosan pukul 13.00 WIB. Selain Ratna Ani Lestari, dua kerabatnya, yakni adik kandung dan bibinya yang juga terdaftar di TPS tersebut, tidak menggunakan hak suaranya. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 1 Panderejo, Joko Setiadi, mengatakan Bupati Ratna Ani Lestari terdaftar di nomor panggilan 269 dari total 437 jiwa yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) di TPS tersebut. Surat panggilan mencoblos kepada Ibu Ratna dan kerabatnya sudah dikirimkan dua hari menjelang coblosan, tapi beliau sampai penutupan coblosan tidak hadir, ucapnya. Joko Setiadi mengaku tidak tahu pasti alasan orang nomor satu di Bumi Blambangan itu tidak mencoblos. Sejumlah warga yang tinggal di sekitar rumah pribadi Ratna Ani Lestari di Kelurahan Panderejo, mengatakan bupati dan kerabatnya sejak pagi sudah tidak terlihat di kediaman. Sejak pagi rumahnya tertutup dan kelihatannya Ibu Ratna pergi bersama kerabatnya, kata salah seorang warga. Sikap politik Bupati Ratna Ani Lestari yang memilih golput, sebenarnya sudah diduga sejak dirinya gagal lolos verifikasi menjadi calon bupati. Ratna Ani Lestari yang berpasangan dengan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Banyuwangi Pebdi Arisdiawan, dinyatakan tidak lolos verifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, karena dukungan suaranya yang tidak memenuhi syarat. Pasangan Ratna-Pebdi juga telah mengajukan permohonan ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) serta melakukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terhadap keputusan KPU Banyuwangi.ant Dibaca: 328 kali

Pasangan RAPI Minta Pemilukada Banyuwangi DitundaJawa Timur, Tapal Kuda | Jumat, 9 Juli 2010

Kuasa hukum RAPI ( foto : wan/zonaberita.com) Banyuwangi, zonaberita.com - Pasangan Ratna-Pebdi (RAPI) menginginkan Pemiluhan Kepala Daerah (Pemilukada) Banyuwangi ditunda. Karena, sesuai dengan keputusan PTUN atas gugatan ketidaklolosan pasangan RAPI yang dimenangkan. Demikian disampaikan kuasa hukum RAPI Oesnawi,SH Jumat (09/07/2010). Menurutnya sesuai dengan putusan PTUN Surabaya Nomor 50/6/2010/PTUN. Tertanggal 8 Juli 2010 telah memutuskan bahwa PTUN telah mengabulkan gugatan para penggugat dalam hal ini tim RAPI untuk sebagian. Serta membatalkan putusan PTUN yang diterbitkan KPUD Banyuwangi nomor 137/KPU-Kab/014.329662/V/2010, tertanggal 12 Mei 2010 tentang pemberitahuan penetapan pasangan calon Pemilukada kabupaten Banyuwangi tahun 2010 yang menjelaskan bahwa nama calon kepala Daerah Ratna Ani Lestari, MM dan nama calon wakil kepala daerah Pebdi Arisdiawan, SE tidak memenuhi syarat dukungan partai politik. Dijelaskan oleh Oesnawi SH, dengan adanya putusan PTUN Surabaya yang memenangkan pasangan RAPI, maka RAPI meminta kepada KPUD Banyuwangi untuk mencabut putusan PTUN tentang penetapan pasangan calon. Kami meminta kepada KPUD untuk memberhentikan sementara tahapan Pemilukada yang sedang berjalan, dan memberikan kesempatan untuk pasangan

RAPI mendapatkan nomor undian pasangan calon, ujarnya. Dengan kata lain tim RAPI meminta kepada KPUD untuk menunda Pemilukada, sampai ada ketetapan hukum yang berlaku. Terpisah, ketua Pokja Sosialisasi KPUD Banyuwangi Suherman, menjelaskan, apapun yang terjadi KPUD tetap melaksanakan tahapan Pemilukada. Apalagi Mahkamah Konstitusi telah menerbitkan fatwa yang menyatakan bahwa tidak ada penundaan dalam melaksanakan Pemilukada. Pendistribusian Logistik sudah kami laksanakan di tiap-tiap PPK pada Rabu (07/07/2010) lalu. Satu hari sebelum pelaksanaan Pemilukada yang akan digelar gelar 14 Juli, logistic sudah harus didistribusikan di tiap-tiap PPS, tandasnya. Dengan adanya putusan PTUN Surabaya yang memenangkan tim RAPI, KPUD Banyuwangi akan melakukan koordinasi dengan KPU Propinsi dan KPU pusat untuk melakukan banding. Dijelaskan oleh Suherman,Gubernur Jawa Timur Drs H Soekarwo, telah menerbitkan SK Nomor 131.429/608/011/2010 tentang penetapan hari pemungutan suara Pemilukada Kabupaten Banyuwangi sebagai hari yang diliburkan di Kabupaten Banyuwangi. Dalam SK Gubernur menyatakan, tanggal 14 Juli 2010 sebagai hari libur di Banyuwangi, jelasnya. (wan/isp)

Pilkada Banyuwangi Tidak Cacat HukumTuesday, 13 July 2010 21:26 Media Online BhirawaBanyuwangi, Bhirawa

Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur menegaskan pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Banyuwangi, tidak cacat hukum, kendati masih ada proses gugatan hukum yang belum selesai. Wakil Ketua Kelompok Kerja Pilkada KPU Jatim Arif Budiman kepada wartawan di Banyuwangi, Selasa, mengatakan proses gugatan hukum yang dilakukan kubu pasangan Ratna Ani Lestari-Pebdi Arisdiawan tidak mengganggu jadwal Pilkada Banyuwangi. "Pasangan calon yang terpilih nanti juga tidak akan cacat hukum, meskipun masalah hukum belum selesai," kata Arif Budiman didampingi Ketua KPU Kabupaten Banyuwangi Syamsul Arifin. Seperti diketahui, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memgabulkan permohonan pasangan bupati pejabat kini (incumbent) Ratna Ani Lestari dan Pebdi Arisdiawan untuk ikut pilkada. Salah satu putusannya, PTUN memerintahkan KPU Banyuwangi memasukkan pasangan Ratna-Pebdi sebagai calon bupati dan calon wakil bupati pada pilkada yang digelar Rabu (14/7). Namun, KPU Banyuwangi masih mengajukan banding terhadap putusan tersebut dan tetap tidak memasukkan pasangan tersebut sebagai salah satu calon. "Melalui kuasa hukum, kami sudah memutuskan untuk melakukan upaya banding terhadap putusan PTUN tersebut," kata Ketua KPU Banyuwangi, Syamsul Arifin. Arif Budiman menambahkan keputusan PTUN terhadap gugatan Ratna-Pebdi belum memiliki ketetapan hukum dan masih bisa dilakukan banding. "Kalau nanti dari upaya banding itu sudah ada ketetapan hukum, KPU siap menjalankan. Apapun itu keputusannya, karena selama ini KPU tidak pernah menolak proses hukum," tegasnya. Ia menambahkan KPU Jatim telah melakukan supervisi kepada KPU Banyuwangi untuk membantu menuntaskan masalah hukum tersebut. Sebelumnya, dalam dialog terbuka yang digelar Kaukus Muda Banyuwangi, Senin (12/7),

sejumlah elemen masyarakat mendesak pilkada ditunda sampai kasus hukum selesai, agar hasilnya tidak cacat hukum. Pilkada Banyuwangi tetap diikuti tiga pasangan cabup-cawabup, yakni Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko yang diusung koalisi PDI Perjuangan, PKS, PKB, PKNU, dan Partai Golkar sebagai pasangan nomor urut satu. Sementara pasangan yang didukung Partai Demokrat yakni Jalal-Yusuf Nuris menempati nomor urut dua, dan pasangan Emilia Contessa-Zainuri Ghazali (Partai Gerindra, PAN dan Republikan) di urutan ketiga. [ant]

Bupati Banyuwangi Pilih GolputRabu, 14 Juli 2010 15:23 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam | Dibaca 445 kali

Banyuwangi (ANTARA News) - Bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Ratna Ani Lestari memilih tidak menggunakan hak suaranya atau memutuskan menjadi golongan putih (golput) pada pemilihan umum kepala daerah setempat, Rabu. Ratna Ani Lestari yang terdaftar di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi, tidak hadir di TPS sampai batas waktu pencoblosan pukul 13.00 WIB. Selain Ratna Ani Lestari, dua kerabatnya, yakni adik kandung dan bibinya yang juga terdaftar di TPS tersebut, tidak menggunakan hak suaranya. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 1 Panderejo, Joko Setiadi, mengatakan Bupati terdaftar di nomor panggilan 269 dari total 437 jiwa yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) di TPS tersebut. "Surat panggilan mencoblos kepada Ibu Ratna dan kerabatnya sudah dikirimkan dua hari menjelang coblosan, tapi beliau sampai penutupan coblosan tidak hadir," ucapnya. Joko tidak mengetahui pasti alasan orang nomor satu "Bumi Blambangan" itu tidak mencoblos. "Sejak pagi rumahnya tertutup dan kelihatannya Ibu Ratna pergi bersama kerabatnya," kata salah seorang warga. Sikap politik Bupati Ratna Ani Lestari yang memilih golput, sebenarnya sudah diduga sejak dia gagal lolos verifikasi menjadi calon bupati. Ratna Ani Lestari yang berpasangan dengan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Banyuwangi Pebdi Arisdiawan, dinyatakan tidak lolos verifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, karena dukungan suara yang tidak memenuhi syarat.

Pasangan Ratna-Pebdi juga telah mengajukan permohonan ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) serta melakukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terhadap keputusan KPU Banyuwangi. Sementara dari penghitungan suara di TPS 1 Kelurahan Panderejo, pasangan nomor urut satu Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko unggul dalam perolehan suara.(*)

Bupati tidak Lolos PencalonanKamis, 13 Mei 2010 06:21 WIB

BANYUWANGI--MI: Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tidak meloloskan Bupati Ratna Ani Lestasi sebagai calon bupati periode 2010-2015 pada pilkada 14 Juli mendatang, karena tidak memenuhi persyaratan pencalonan. Selain mencoret Ratna Ani Lestari yang berpasangan dengan Pebdy Arisdiawan, KPU Banyuwangi dalam pengumuman penetapan pasangan cabup-cawabup, Rabu (12/5), juga tidak meloloskan pasangan Mulyono-Untung Harjito karena alasan yang sama. "Kedua pasangan tersebut tidak lolos verifikasi dan tidak dapat ditetapkan sebagai calon bupati dan calon wakil bupati," kata Ketua Kelompok Kerja Pemilihan Umum Kepala Daerah KPU Kabupaten Banyuwangi Hari Priyanto, dalam keterangan persnya.

Ia menjelaskan, kepengurusan parpol yang mengajukan kedua pasangan calon itu tidak sah dan KPU Banyuwangi telah melakukan verifikasi kepada pengurus partai di tingkat provinsi dan pusat yang mengusung calon tersebut. Pencalonan Ratna Ani Lestari-Pebdy Arisdiawan terganjal dualisme kepengurusan Partai Golkar dan Partai Pengusaha Pekerja Indonesia.

Pebdy Arisdiawan sebagai Ketua DPD Golkar Banyuwangi juga telah dicopot jabatannya oleh DPD Golkar Jawa Timur, saat mendaftar ke KPU Banyuwangi pada 19 April lalu. Ia dipecat karena tidak mengindahkan instruksi DPP untuk mendukung pencalonan pasangan Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko. Sedangkan pasangan Mulyono-Untung gagal dalam pencalonan, karena DPP PKNU mengakui kepengurusan PKNU Banyuwangi yang diketuai Akhmad Wahyudi yang tidak merekomendasi pasangan tersebut. Hari Priyanto menambahkan, pencoretan kedua pasangan itu juga karena kurangnya dukungan minimal 15% kursi di DPRD dari parpol pendukung, sesuai peraturan KPU Nomor 68 Tahun 2009. KPU Banyuwangi akhirnya hanya menetapkan tiga pasangan calon yang lolos maju dalam pilkada, yakni Abdullah Azwar AnasYusuf Widyatmoko (PDIP, PKB dan PKNU, Golkar), Jalal-Yusuf Nur Iskandar (Partai Demokrat) dan Emilia Contesa-Zaenuri Ghazali (PPP, Gerindra, PAN, Republikan). Koordinator tim sukses pasangan Ratna Ani Lestari-Pebdy Arisdiawan, Abdul Gofur, mengatakan pihaknya akan mengajukan gugatan hukum kepada KPU Banyuwangi karena dianggap telah melakukan intervensi terhadap internal parpol. "Kami kecewa dengan keputusan KPU Banyuwangi dan secepatnya kami akan mengajukan gugatan hukum atas ketidakadilan ini," katanya. (Ant/OL-7) Powered by: + Back to TopSabtu, 26 Juni 2010 00:10:36 - oleh : choy

Demi Allah swt, Ratna Pebdi di Dholimi

Banyuwangi KPU Kabupaten Banyuwangi telah menutupi sebuah kebenaran yang dianugerahi dari Tuhan Yang Maha Esa. Anggapan itu dikatakan oleh Asaad Muhammad Najib Presedium Aliansi Partai-Partai Non Parlemen (APPNP) di posko kemenangan. Kalau empat orang KPU Banyuwangi itu mempunyai naluri dan terbuka pada masyarakat tentang kebenaran bahwa sebenarnya Ratna Ani Lestari Pebdi Arisdiawan lolos dan oknum anggota KPU Banyuwangi itu jujur dihadapan Tuhan, mengakui upaya merekayasa atau memanipulasi dokumen pencalonan. Demi Allah saya orang islam, sejujurnya saya katakan bahwa oknum KPU Banyuwangi telah berbuat tidak wajar dalam demokrasi pilihan rakyat ini, kata Asaad dari Partai Bulan Bintang (PBB) diamini Mas Suroso dari PNBK, Sabtu (26/6). Fakta kronologis proses dugaan rekayasa KPU Kabupaten Banyuwangi dalam Pemilukada 2010 ini, dibeberkan dalam sebuah kronologis yang runut dengan sebuah tema TERUNGKAPNYA KEBENARAN RAPI LOLOS. Kronologis itu, dibeberkan, - Pada tanggal 19 April 2010 RAPI di daftarkan oleh Partai Golkar dan 14 partai politik sebagai pengusung dengan total dukungan 15,66% dari total suara pemilih. Pokja pendaftaran KPU Kabupaten Banyuwangi, Saudara Hary PR, ST telah menyatakan Atas nama undang-undang pasangan Ratna Ani Lestari Pebdi Arisdiawan dinyatakan memenuhi syarat dan syah dukungan partai politik. Panwaslu Kabupaten Banyuwangi secara pleno pasangan Ratna ani Lestari, SE, MM dan Pebdi Arisdiawan telah lolos karena Panwaskada tidak pernah meminta dilakukan verifikasi ulang karena pasangan Ratna Ani Lestari Pebdi Arisfiawan, SUDAH DINYATAKAN LOLOS dan Syah pada tanggal 19 April 2010 oleh KPU Kabupaten Banyuwangi. Selanjutnya, - Dengan diterimanya gugatan APPNP 14 Partai di PTUN (pengadilan tata usaha Negara) di Surabaya Nomor 50/G/2010/PTUN. SBY, membuktikann bahwa adanya konspirasi politik, manipulasi dan kebohongan public yang dilakukan oleh KPU

Kabupaten Banyuwangi untuk tidak meloloskan Pasangan Ratna Ani Lestari Pebdi Arisdiawan. Tahap fakta selanjutnya, - Surat Keberatan APPNP 14 Partai kepada KPU Pusat tanggal 14 Mei 2010 dengan Nomor: 007 yang membuat KPU Pusat memanggil Ketua dan Anggota KPU Kabupaten Banyuwangi untuk dimintai klarifikasi pada tanggal 24 Mei 2010 karena adanya indikasi upaya pengganjalan pasangan Ratna Ani Lestari Pebdi Arisdiawan. APPNP melakukan protes kepada Panwaslukada Kabupaten Banyuwangi untuk melakukan klarifikasi kepada KPU Kabupaten Banyuwangi yang telah dilakukan pada tanggal 24 25 Mei 2010 dengan dilanjutkan konultasi ke Bawaslu di Jakarta pada tanggal 25 Mei 2010, selanjutnya hasil klarifikasi KPU Pusat atas surat Panwaskada dengan menghadirkan Banwaslu KPU Jawa Timur, KPUD Banyuwangi, DPD II dan DPD I Partai Golkar yang dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2010 merekomendasikan kepada KPU Jawa Timur untuk membentuk Dewan Kehormatan karena KPU Kabupaten Banyuwangi melanggar Kode Etik. Asaad mewakili pengurus partai lainnya mengatakan kebenaran harus ditegakan, sehingga pihaknya mengharapkan, masyarakat Banyuwangi tetap yakin Allah Tuhan Yang Maha Kuasa akan menunjukan mana yang benar dan mana yang salah. Masyarakat Banyuwangi agar tetap menjaga keamanan, ketentraman dan situasi yang kondusife demi terlaksananya Pemilukada yang jujur, adil, bebas, amanah dan tanpa ada upaya kotor yang tidak diperkenankan oleh agama dan undang-undang Negara. Berkat ridlo Tuhan Yang Maha Kuasa dan diiringi doa masyarakat Banyuwangi, Insyaalloh kebenaran bahwa pasangan Ratna Ani Lestari Pebdi Arisdiawan LOLOS MENJADI PEMIMPIN BANYUWANGI yang amanah dan membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat Banyuwangi. Dengan terungkapnya kebenaran ini, semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa tetap menuntun dan memberikan ridho kepada Ratna-Pebdi pemimpin yang terdholimi," katanya. (met/coi)Selasa, 13/07/2010 18:24 WIB

Soekarwo: Pilkada Banyuwangi Tetap Digelar Sesuai JadwalIrul Hamdani - detikSurabaya

Banyuwangi - Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, menegaskan jika Pemilukada Banyuwangi, tetap dilaksanakan Rabu besok. Selain itu, Gubernur juga telah menetapkan tanggal 14 Juli sebagai hari libur bagi warga Banyuwangi. "Tetap dilaksanakan besok." tegas Soekarwo, pada wartawan di Banyuwangi, Selasa (13/7/2010). Pernyataan Gubernur tersebut untuk menyikapi surat yang dikirimkan Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari, untuk menunda jadwal pelaksanaan pemilukada. Langkah Bupati Ratna itu dilakukan setelah dirinya gagal maju di Pemilukada tahun ini. Soekarwo menjelaskan, gubernur tidak memiliki kewenangan terkait permasalahan Pilkada, termasuk penundaan jadwal pelaksanaan. Kewenangan Pilkada, lanjut Pakde Karwo -sapaan akrabnya- ada ditangan KPU. Meski begitu, gubernur mengacungkan jempol untuk langkah hukum yang ditempuh Bupati Ratna, yang telah gagal mencalonkan diri. Pilkada Banyuwangi Tidak akan Cacat Hukum Sementara itu, pernyataan serupa juga ditegaskan KPU Jawa Timur. Sesuai dengan peraturan

perundang-undangan, Pilkada hanya bisa ditunda apabila ada bencana alam atau kerusuhan massal. KPU juga telah melakukan supervisi terhadap seluruh kebijakan KPU Banyuwangi, agar tetap berpedoman pada peraturan KPU Nomor 68/2010. "Hasilnya, Pilkada Banyuwangi harus tetap berjalan," tegas Anggota KPU Jawa Timur, Arif Budiman pada wartawan, saat mendampingi Gubernur Soekarwo. Selain itu, KPU Jawa Timur, menyakinkan jika Pilkada Banyuwangi tidak akan cacat hukum, setelah gugatan 14 partai politik nonparlemen pendukung Banyuwangi, dikabulkan PTUN. Sebab, hal itu belum memiliki kekuatan hukum tetap. "Dan sebaliknya, KPU akan melaksanakan putusan hukum apabila KPU kalah dalam peradilan tinggi," tambah Arif. Sebelumnya, pada tanggal 8 Juli 2010 lalu, PTUN memenangkan gugatan 14 parpol non parlemen pendukung Bupati Ratna. PTUN menganggap SK KPU No 137/2010 tentang tidak lolosnya pasangan Ratna Ani - Pebdi Arisdiawan cacat hukum. PTUN mewajibkan, KPU menyertakan pasangan itu dalam pilkada 14 Juli besok.

Politik13 Juli 2010, 17:22:36| Laporan Akhmad Gubernur dan Kapolda Jatim Cek Langsung

Pemilukada Banyuwangi Tetap Digelar 14 Juli Besoksuarasurabaya.net| Kedatangan rombongan SOEKARWO Gubernur Jatim dan Irjen Pol PRATIKNYO Kapolda Jatim, di Mapolres Banyuwangi untuk mengecek persiapan dan kesiapan KPUD Banyuwangi menggelar kegiatan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada). IVAN ALVANDI reporter Mandala FM Banyuwangi pada Suara Surabaya, Selasa (13/07), melaporkan, sempat ada pertemuan antara Gubernur dan Kapolda bersama dengan Bupati Banyuwangi Kapolres, DPRD, KPUD dan Panwas, soal tawar menawar terkait Pemilukada yang akan dilakukan 14 Juli 2010 besok. Pertemuan itu dilakukan secara tertutup di ruang utama Mapolres Banyuwangi. SOEKARWO menyatakan Pemilukada tetap dilakukan 14 Juli. Besok ada tiga kandidat yang maju pada Pemilukada Banyuwangi, yaitu: pasangan ABDULLAH AZWAR ANAS-YUSUF WIDYATMOKO (PDI Perjuangan, PKB, Golkar, PKNU, PKS), JALAL-YUSUF NUR ISKANDAR (Demokrat), dan EMILIA CONTESA-ZAENURI GHAZALI (Gerindra, PAN,

dan Republikan). Sehari sebelum kedatangan Gubernur Jatim, golongan dari APBNP yang mengusung Bupati saat ini RATNA ANI LESTARI mengindikasikan mereka akan melakukan aksi menjelang Pemilukada. Hal itu dilakukan sesudah mereka merasa mempunyai kekuatan hukum, setelah PTUN Surabaya memutuskan penetapan calon pemilihan Bupati oleh KPUD Banyuwangi ini cacat hukum dan tidak bisa diakui. PTUN juga memutuskan bahwa RATNA ANI LESTARI berhak maju dalam Pemilukada. Namun hal tersebut langsung disanggah KPUD Banyuwangi dengan menyatakan banding keputusan tersebut. APBNP sendiri mendesak kalau KPUD menyatakan banding, mereka harus menghentikan tahapan-tahapan Pilkada tersebut. Nantinya jika KPUD tetap melakukan Pemilukada, APBNP mengancam akan melakukan dan akan menginstruksikan golput. Dikhawatirkan juga para pendukung RATNA di daerah selatan Banyuwangi mungkin akan datang untuk merusak kegiatan Pemilukada. Tapi sampai saat ini masih belum ada satupun gerakan itu. Saat ini aparat kepolisian masih terus menjaga keamanan di sekitar Banyuwangi. Hari ini Brimob dari Malang, Sumenep, dan juga berbagai daerah, telah sampai di Banyuwangi untuk mengamankan Pemilukada Banyuwangi. Sampai sekarang Banyuwangi masih dalam Status Siaga 1 hingga usainya Pemilukada yang dilaksanakan 14 Juli. Tidak masuknya calon incumbent ini, diprediksikan oleh pihak kepolisian akan memicu rawan konflik di Banyuwangi. Tetapi Kapolres Banyuwangi menjamin keamanan dengan mengatakan banyuwangi kondusif dan tetap akan melakukan Pemilukada 14 Juli. Rombongan Gubernur sekarang masih melakukan pengecekan di beberapa TPS di kelurahan di Banyuwangi. Kondisi di Banyuwangi kata Gubernur aman dan tetap bisa dilakukan pemilukada. Gubernur menegaskan kalau sampai terjadi anarkis, aparat diharap langsung bertindak tegas. Kondisi di Banyuwangi aman-aman saja dan adem ayem. Pihak yang bertikai hanya elit-elit politik di Banyuwangi.(med/ipg)12 Juli 2010 | BP

Pilkada Banyuwangi

Dikalahkan Ratna, KPUD BandingBanyuwangi (Bali Post) -Harapan Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari, untuk lolos dalam pilkada terganjal lagi. KPUD Banyuwangi memilih banding setelah dikalahkan Ratna dalam gugatan di PTUN Surabaya. Selain banding, KPUD tetap bersikukuh melanjutkan pemungutan suara 14 Juli mendatang. Ketua KPUD Banyuwangi, Samsul Arifin, menegaskan sengaja menempuh upaya banding agar

tahapan pilkada bisa jalan terus. Tidak ada pengundian ulang calon bupati (cabup). ''Kami sudah menyatakan banding,'' katanya Minggu (11/7) kemarin. Banding langsung dilayangkan ke Mahkamah Agung melalui pengacara KPUD di Jakarta. Sebelumnya, PTUN Surabaya memerintahkan KPUD Banyuwangi menggelar pengundian ulang cabup peserta Pilkada. Alasannya, pasangan Ratna Ani Lestari-Pebdi Arisdiawan yang diusung Partai Golkar dan gabungan 10 partai gurem dinyatakan sah. Bakal cabup incumbent ini sebelumnya dinyatakan tidak lolos karena persoalan internal pengurus Partai Golkar Banyuwangi. Samsul menambahkan KPUD tetap menghormati keputusan hukum dari PTUN. Namun, untuk menghindari gejolak politik, pihaknya memilih upaya banding ke institusi hukum yang lebih tinggi. Soal kemungkinan kalah lagi, ia enggan berkomentar banyak. ''Kami ikuti saja proses hukum, tidak perlu berandai-andai dulu,'' tegasnya. Menurutnya, tahapan pilkada tinggal selangkah lagi untuk pemungutan suara. Bahkan, seluruh logistik pilkada sudah disebar ke masing-masing PPK di 24 kecamatan. Pemungutan suara yang tinggal menghitung hari tidak mungkin ditunda ataupun dibatalkan. Menurutnya, pembatalan pilkada hanya bisa digelar jika ada bencana alam atau situasi yang kacau dan tidak terkendali. Kemarin, KPUD juga mengajak jajaran Satpol PP, Polres dan DPRD untuk menurunkan ratusan baliho cabup yang masih terpasang. Penertiban baliho ini menyusul masa tenang menjelang pemungutan suara. Tak hanya baliho besar, ratusan poster yang ditempel di sepanjang jalan protokol ikut diberangus. Sebelum menurunkan paksa, KPUD sudah mengirim surat ke masingmasing tim sukses cabup. (udi)

Pilkada Banyuwangi : MK Tolak Gugatan RatnaAuthor: Iowa Van Daa | Posted at: 18:08 | Filed Under: Hukum |

Banyuwangi (Bali Post) -

Perjuangan Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari untuk kembali memimpin Banyuwangi akhirnya benar-benar kandas. Hal ini setelah gugatannya ditolak Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam amar putusannya, majelis hakim MK, Senin (23/8) kemarin, menolak seluruh permohonan gugatan Ratna yang memprotes tahapan pilkada Banyuwangi. Selain menolak gugatan Ratna dan pasangannya, Pebdi Arisdiawan, majelis hakim MK juga menolak seluruh gugatan yang diajukan calon bupati (cabup) dari Partai Demokrat, Jalal-Yusuf Neoris. Gugatan dua pemohon, Ratna Ani Lestari dan Jalal seluruhnya ditolak. ''Atas penolakan itu kami akan segera mengusulkan pelantikan Bupati Banyuwangi terpilih Abdulah Aswar Anas-Yusuf Widiatmoko,'' kata anggota KPUD Banyuwangi Hari Priyanto. Pembacaan putusan MK yang dimulai pukul 16.15 WIB itu, kata Hari, cukup melegakan pihak KPUD. Pasalnya, seluruh permohonan gugatan, baik oleh Ratna maupun Jalal, dimentahkan oleh majelis hakim,'' jelasnya. Tim sukses Ratna, Mas Soeroso, enggan berkomentar banyak terkait putusan tersebut. Bali Post sempat menghubungi Ketua LSM Forum Lima Maret, Banyuwangi tersebut pukul 18.00 WIB. Dia berdalih persidangan masih belum selesai. Kuasa hukum tim Jalal, Dedi Priambudi, mengaku gugatan kliennya seluruhnya ditolak. Namun, dia menolak membeberkan pertimbangan penolakan dari majelis hakim MK. Seperti diberitakan sebelumnya, Ratna mengajukan gugatan ke MK setelah digugurkan oleh KPUD Banyuwangi maju dalam pilkada. Ratna sempat memenangkan gugatan di PTUN Surabaya. Hasil PTUN ini kemudian dijadikan bahan untuk mengajukan permohonan gugatan pilkada ke MK. Sesuai jadwal, Bupati Ratna akan mengakhiri masa jabatan pada Oktober mendatang. (udi)Sabtu, 20 Desember 2008

Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari Belum Ditahan, Kapuspenkum Terkejut

BanyuwangiPerwakilan 101 tokoh masyarakat (tomas) Banyuwangi pantang mundur mendesak penahanan Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan lapangan terbang (Lapter) Blimbingsari. Sehari setelah menemui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kemarin (19/12) sepuluh perwakilan tomas ganti mendatangi Kejaksaan Agung (Kejagung).

Kedatangannya ke Gedung Bundar sama dengan yang disampaikan ke KPK, yakni mendesak percepatan penahanan Bupati Ratna. Mereka beranggapan kejagung lamban menangani kasus Bupati. Padahal, tujuh tersangka lapter sudah lama ditahan. ''Kejagung merespons positif laporan kami. Mereka minta laporan itu disampaikan secara tertulis. Besok (hari ini, Red) kami kembali lagi ke kejagung,'' kata juru bicara perwakilan 101 tomas, Jumadi Ridho. Selama di kejagung, rombongan diterima Kabag Umum Tjuk Suryo Sumpeno. Selanjutnya mereka diterima Wakajagung dan Kapuspenkum M Jasman. Setengah jam lamanya perbincangan soal korupsi di Banyuwangi (khususnya soal lapter) dipaparkan di depan Kapuspenkum. ''Setelah kami ceritakan perkembangan penaganan kasus lapter, Kapuspenkum terkejut. Belia mengira Bupati Ratna sudah ditahan,'' timpal Muhlisin, perwakilan 101 tomas lainnya. Bukan hanya soal lapter yang menyangkut tersangka Bupati Ratna, perwakilan tomas juga melaporkan lambannya kasus dana bantuan hukum 2007 yang ditangani Kejaksaan Banyuwangi. Selain itu, soal selisih APBD senilai Rp 5 miliar. ''Untuk kasus bankum, Kapuspenkum menyerahkan ke kejaksaan karena nilainya di bawah Rp 2 miliar,'' kata Jumadi Ridho. Perwakilan lainnya, Masykur Ali mengatakan, kejagung menyambut positif kedatangan rombongan dari Banyuwangi. Semua pengaduan akan ditindaklanjuti asalkan disertai bukti secara tertulis. ''Kami berterima kasih kepada kejagung yang telah merespons pengaduan ini. Semoga kasus yang kami laporkan dtindaklanjuti dengan serius,'' harap Ketua PC NU Banyuwangi itu. Sementara itu, pengaduan perwakilan 101 tomas ke KPK dan kejagung ditanggapi santai oleh Kabag Humas Pemkab Banyuwangi Abdullah. Dikatakan, semua pihak harus bisa menghormati proses hukum yang sedang berjalan. ''Hormatilah azas praduga tidak bersalah,'' pintanya. Terkait kasus lapter, pihaknya menyerahkan penuh kepada kejagung. Kalaupun, ada pelimpahan dari kejagung ke KPK itu urusan kejagung. Baginya, hal itu tidak menjadi masalah. Yang paling penting, seluruh elemen bisa menghormati para penyidik dalam melaksanakan tugasnya. Abdullah menambahkan, jangan sampai antar penegak hukum terjadi

ketersinggungan. Pemkab menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang sedang berjalan. ''Semua sudah ada yang mengatur. Jadi jangan memperuncing masalah,'' tandasnya. Seperti diberitakan sebelumnya, lambannya penanganan dugaan korupsi Bupati Ratna Ani Lestari, membuat kesabaran 101 tokoh masyarakat (Tomas) habis. Sekitar 10

orang perwakilan Tomas ngelurug KPK untuk mengadukan lambannya penanganan kasus korupsi di Banyuwangi. Perwakilan 101 Tomas itu antara lain terdiri Masykur Ali, DR KH Abdul Choliq Syafaat, Muhlisin, dan tokoh LSM Jumadi Ridho. Kedatangan rombongan tomas itu diterima Kepala Devisi Humas KPK Nana Mulyana. Sedianya, rombongan KPK itu akan diterima KPK, namun pada waktu yang bersamaan pimpinan KPK sedang dinas ke luar negeri. Di Banyuwangi, langkah perwakilan 101 tomas mendesak penahanan Bupati Ratna terus mendapat dukungan. Antara lain dari Ketua MWC Rogojampi H Nanang Nur Achmadi. Pengusaha muda Rogojampi itu siap mem-back up langkah tomas. Menurut dia, praktik korupsi memang harus dikikis habis-habis. ''Kita dukung langkah tomas mendesak percepatan penahanan Bupati Ratna,'' tegasnya. Dukungan serupa disampaikan Dewan Pimpinan Kabupaten Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara Republik Indonesia (DPK LPPNRI). Menurut ketuanya, Hari Prakisto, LPPNRI siap mengawal proses penanganan perkara korupsi pengadaan lahan lapter sampai tuntas. ''Selain bupati masih banyak lagi para pejabat/mantan pejabat yang belum tersentuh hukum. Kami melihat ada perlakukan diskriminasi terhadap tersangka lain. Tersangka lain sudha ditahan, kenapa bupati belum,'' kata Prakisto dalam siaran persnya yang dikirim ke Radar Banyuwangi. (lla/aif)

Sumber: Radar Banyuwangi, Sabtu, 20 Dese