Pertentangan Kelas dalam Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I

download Pertentangan Kelas dalam Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I

of 31

  • date post

    22-Jun-2015
  • Category

    Education

  • view

    1.615
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Konsep pertentangan kelas ternyata terdapat dalam Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I (yang melibatkan Iwan Fals)

Transcript of Pertentangan Kelas dalam Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I

  • 1. Pertentangan Kelas dalam Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I Tugas mata kuliah Seminar dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya Semester Ganjil 2008/2009Oleh: Agnes Setyowati H. Dhita Hapsarini Irzanti S. Muhammad Mulyadi R. Suryanto Satrio ArismunandarProgram S3 - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Desember 2008 1

2. DAFTAR ISII. Latar Belakang .. 1.1. Kondisi Sosial, Ekonomi, Politik Indonesia 1989 1.2. Alasan Pemilihan Album Swami I 1.3. Alasan Pemilihan Empat Lagu . 1.4. Permasalahan 1.5. Tujuan .. 1.6. Metodologi dan Metode Penelitian ..........3 3 5 6 6 6 7II. Grup Musik Swami .. 7 2.1. Lahirnya Swami 7 2.2. Konteks Pembuatan Lagu . 9 III. Kerangka Teori ... 9 3.1. Teori Konotasi Roland Barthes ........................................................................ 10 5.2. Teori Pertentangan Kelas Karl Marx ............................................................... 11 IV. Analisis Lirik Lagu 4.1. Analisis Teks Potret 4.2. Analisis Teks OhYa! .................................................................................... 4.3. Analisis Teks Bento. 4.4. Analisis Teks Bongkar.12 12 16 16 21V. Kesimpulan .. 22 Referensi 27 Lampiran .. Lampiran 1: Lirik Lagu Potret Lampiran 1: Lirik Lagu OhYa!............................................................................ Lampiran 1: Lirik Lagu Bento. Lampiran 1: Lirik Lagu Bongkar228 28 29 31 32 3. I. Latar Belakang Kesenian, khususnya seni musik, merupakan bagian dari kebudayaan. Melalui musik, manusia mengekspresikan perasaan, harapan, aspirasi, dan cita-cita, yang merepresentasikan pandangan hidup dan semangat zamannya. Oleh karena itu, melalui kesenian, kita juga bisa menangkap ide-ide dan semangat yang mewarnai pergulatan zaman bersangkutan. Indonesia sendiri adalah suatu negeri yang kaya dengan berbagai karya seni, khususnya seni musik, yang mewakili pandangan hidup dan semangat zamannya. Salah satu era yang penting dalam perjalanan bangsa ini adalah era Orde Baru yang dimulai dengan naiknya Jenderal Soeharto ke tampuk pimpinan pemerintahan pada penghujung 1960-an sampai berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto pada penghujung 1990-an. Salah satu grup musik yang sempat mewarnai era Orde Baru adalah Swami, dengan ikonnya Iwan Fals. Mereka telah menelurkan sejumlah album dan salah satu yang menonjol adalah album Swami I. Lirik-lirik lagu dalam album Swami I ini mewakili pandangan hidup mereka, sekaligus mengekspresikan semangat zamannya. Untuk memahami lirik-lirik lagu yang ditampilkan dalam album Swami I, kita perlu meninjau konteks kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia pada era tersebut.1.1 Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia 1989 Penghujung 1980-an adalah saat rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mencapai puncak kekuatannya. Pemerintah Soeharto menjadikan ekonomi sebagai panglima dan seluruh elemen masyarakat dimobilisasi di bawah panji pembangunan (development). Konsep utama pembangunan seharusnya adalah perbaikan mutu kehidupan rakyat. Dalam pembangunan, seharusnya tercakup unsur perubahan yang berdimensi sosial kultural dan ekonomi, serta bersifat kualitatif dan kuantitatif. Namun, seperti di banyak negara berkembang lain, pembangunan di Indonesia telah direduksi maknanya menjadi pertumbuhan ekonomi (economic growth) semata sehingga3 4. pembangunan secara sederhana berarti pertumbuhan pendapatan setiap orang di daerah yang secara ekonomis terbelakang.1 Harus diakui, pembangunan ekonomi yang substansial memang pernah berjalan di Indonesia. Pada tahun 1966, pendapatan per kapita tahunan di Indonesia sekitar US$ 75. Ekonomi ini terus tumbuh lewat utang luar negeri dan sumbangan sektor migas. Pertumbuhan ekonomi riil selama tahun 1980-an dan 1990-an hampir selalu berkisar antara 6 sampai 7 persen per tahun. Inflasi tahunan rata-rata masih dapat ditekan di bawah level 10 persen. Perbaikan yang berarti juga dicapai dalam pemberantasan tuna aksara di kalangan orang dewasa, peningkatan usia harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi, dan pembatasan tingkat pertumbuhan penduduk lewat program KB. Berbagai hasil ini mendorong Bank Dunia untuk menjadikan Indonesia sebagai contoh model sukses pembangunan. Indonesia diajukan sebagai tolok ukur kinerja negara-negara berkembang lain, dalam Laporan Pembangunan Dunia (World Development Report) 1990, yang disusun oleh Bank Dunia. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk kesuksesan ekonomi itu. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah memerlukan kestabilan politik di dalam negeri. Selanjutnya, dengan dalih perlunya stabilitas politik ini, pemerintah bersikap represif dan memberlakukan sejumlah aturan otoriter. Pers dan media massa dikontrol ketat. Media yang kritis dibreidel dan dilarang terbit. Jumlah partai politik dibatasi, dan mereka tidak boleh masuk ke desa-desa. Sementara pegawai negeri dan anggota keluarga ABRI dipaksa memilih Golkar, partainya penguasa. Lewat para pejabat, Golkar justru leluasa masuk ke desa-desa. Tokoh-tokoh oposisi yang kritis dipenjarakan atau disingkirkan,2 sedangkan, kebebasan berekspresi di bidang seni juga ditindas, khususnya kalangan seniman yang tidak sejalan dengan kepentingan rezim.3 Jika diperlukan, pemerintah juga tidak segan-segan menggunakan cara-cara represif, demi menjaga ketertiban masyarakat dan melancarkan jalannya roda pembangunan. 1Itulah tujuan yang diusulkan oleh Lewis pada tahun 1944 dan diselundupkan oleh Piagam PBB 1947. Diktum Lewis pada 1955, Pertama-tama haruslah dicatat bahwa persoalan pokok kita adalah partumbuhan, bukannya distribusi. 2 Tokoh oposisi yang bergabung dalam Petisi 50 seperti mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dipersulit hidupnya dan dilarang ke luar negeri. 3 Musisi dangdut Oma Irama dilarang tampil di TVRI karena Oma adalah penduduk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), bukan partai pemerintah. Tokoh oposisi yang jujur, bersih dan mantan Kapolri, Hoegeng juga dilarang muncul di TVRI karena sikapnya yang kritis. Padahal di TVRI, Hoegeng hanya tampil menyanyikan lagu-lagu Hawai.4 5. Karena yang dinomorsatukan adalah pertumbuhan ekonomi, sementara distribusi ekonomi atau pemerataan kesejahteraan tidak menjadi prioritas, maka terjadilah kesenjangan antara kelompok elite atau mereka yang diuntungkan oleh pembangunan, dan rakyat banyak yang tertinggal atau ditinggalkan dalam proses pembangunan. Ada sejumlah konglomerat, pengusaha, birokrat, dan pejabat yang -karena kedekatan dengan penguasa- menikmati kue pembangunan. Sebaliknya, banyak rakyat kecil yang hidupnya tertekan. Teori bahwa kemakmuran di kalangan atas pada akhirnya akan mengalir ke bawah (trickle-down effect) dan dinikmati oleh kalangan bawah, ternyata tidak terbukti. Yang kaya bisa semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin. Presiden Soeharto sendiri diduga memiliki kekayaan miliaran dollar pada tahun 1989. Jika digabung dengan harta istri dan anak-anaknya, ditambah lingkaran kroni sipil dan militernya, jumlah tersebut membengkak sampai puluhan miliar dollar.4 Keakuratan angka ini mungkin bisa diperdebatkan, tetapi fakta bahwa Soeharto beserta keluarga dan kroni-kroninya telah menumpuk kekayaan dengan memanfaatkan kekuasaan, tampaknya disepakati oleh banyak pengamat. Strategi politik dan ekonomi Soeharto -yang bermotivasi pengumpulan harta besar-besaran bagi segelintir manusia, sementara mengesampingkan kepentingan mayoritas penduduk- telah ditanamkan di Indonesia sejak akhir tahun 1960-an.5 Sayangnya, sistem politik Indonesia yang otoriter menyulitkan berjalannya pengawasan yang efektif terhadap pihak-pihak yang ingin menggunakan kekayaan negara untuk keuntungan pribadi. Kesenjangan semacam inilah yang dilihat para anggota Swami dalam interaksinya sebagai seniman dengan masyarakat sehari-hari. Gambaran suram dan memprihatinkan inilah yang memberi inspirasi pada karya-karya mereka, yang bercorak kritik sosial. Pihak yang kaya dan berkuasa asyik dengan ambisi dan kenikmatan hidupnya sendiri, sementara rakyat kecil yang seharusnya disejahterakan ternyata nasibnya malah diabaikan.4 5Winters, Jeffrey A. 1999. Dosa-dosa Politik Orde Baru, Jakarta: Penerbit Djambatan. Hlm. 5. Ibid, hlm. 9.5 6. 1.2. Alasan Pemilihan Album Swami I Album Swami I dipilih karena album ini dianggap mewakili semangat zamannya. Salah satu ukuran keterwakilan itu adalah respons positif masyarakat terhadap album serta lagu-lagu di dalamnya, yang bisa dilihat dari angka penjualan. Album Swami ini meledak di pasaran. Angka penjualan album ini sangat tinggi, hingga mencapai 800 ribu kopi dalam jangka waktu satu bulan. Padahal, angka penjualan tersebut dicapai tanpa promosi besar-besaran. Swami I berhasil mencapai sukses di pasar industri musik Indonesia dengan lagu-lagu yang sarat dengan kritik sosial sekaligus menghibur.1.3. Alasan Pemilihan Empat lagu Hampir semua lagu di album Swami I ini menjadi hits, tetapi yang dikategorikan sebagai hits besar dari Swami adalah lagu Bento dan Bongkar.6 Dua lagu lain yang dipilih untuk dianalisis di sini adalah Potret dan OhYa!. Empat lagu ini dipilih karena popularitasnya, dan sekaligus juga karena lagu-lagu itu menunjukkan karakter yang kuat dalam konteks kritik sosial.1.4. PermasalahanSecara sepintas, lagu-lagu dalam album Swami I mengekspresikan kritik sosial. Namun, tim peneliti ingin menelaah secara lebih spesifik. Yakni, Apakah ada unsur pertentangan kelas di dalam teks lirik lagu tersebut? Jika memang terdapat unsur pertentangan kelas di sana, bagaimana pertentangan kelas itu direpresentasikan atau diekspresikan, dalam keempat lirik lagu pada album Swami I?1.5. Tujuan Makalah ini mencoba membuktikan bahwa di dalam lirik dari keempat lagu tersebut terdapat unsur pertentangan kelas.6Kesuksesan Swami tersebut tidak terlepas dari figur Iwan Fals dan lagu yang dibawakan yaitu Bento dan Bongkar. Lagu Bento menjadi menjadi identik dengan Iwan Fals. Dimana ada Iwan di situ ada Bento. Penjualan kaus, poster dan segala pernak-pernik bertuliskan Iwan, Swami, Bento lak