Persentasi Ansar

of 58

  • date post

    07-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Persentasi Ansar

Oleh : HANSAR

Persaingan dan tuntutan profesionalitas yang semakin tinggi menimbulkan banyaknya tekanan-tekanan yang harus dihadapi individu dalam lingkungan kerja. Selain tekanan yang berasal dari lingkungan kerja, lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga dapat berdampak yang sangat merugikan dari adanya gangguan kecemasan yang sering dialami oleh karyawan yang disebut stres. Stres merupakan hasil reaksi emosi dan fisik akibat kegagalan individu beradaptasi pada lingkungan. Stres terhadap kinerja dapat berperan positif dan juga berperan merusak, seperti dijelaskan pada hukum Yerkes Podson (1904) yang menyatakan hubungan antara Stres dengan kinerja seperti huruf U terbalik (Masud, 2002:20). Selain stres kerja, semangat kerja merupakan salah satu hal yang penting bagi perusahaan terutama yang menyangkut kinerja karyawan. Semangat kerja pada hakekatnya merupakan pengejawantahan perwujudan dari moral yang tinggi, bahkan ada yang mengidentifikasikan atau menterjemahkan secara bebas bahwa moral kerja yang tinggi adalah semangat kerja. Dengan semangat kerja yang tinggi, maka kinerja akan meningkat karena para karyawan akan melakukan pekerjaan secara lebih giat sehingga pekerjaan dapat diharapkan lebih cepat dan lebih baik. Begitu juga sebaliknya jika semangat kerja turun maka kinerja akan turun juga. Jadi dengan kata lain semangat kerja akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Dari karekteristik PT. Katingan Timber Celebes Makassar berupa beban kerja yang berlebihan, keterdesakan waktu, serta jam kerja yang lebih lama, kondisi lingkungan fisik yang kurang mendukung, pekerjaan yang monoton, berulang-ulang dan tidak variatif, hal ini memungkinkan karyawan terserang stres kerja, stres kerja yang dialami oleh karyawan ditakutkan berdampak buruk bukan berdampak positif terhadap kinerja sehingga usaha pencapaian kinerja karyawan PT. Katingan Timber Celebes Makassar bisa terganggu

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Apakah variabel stres kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan? 2. Apakah variabel Semangat kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan? 3. Apakah variabel stres kerja secara persial berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan? 4. Apakah variabel semangat kerja secara persial berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan?

Tujuan penelitian yang dilakukan peneliti adalah: 1. Untuk mendapatkan bukti empiris, variabel stres kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan 2. Untuk mendapatkan bukti empiris, variabel semangat kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan 3. Untuk mendapatkan bukti empiris, variabel stres kerja secara persial berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. 4. Untuk mendapatkan bukti empiris, variabel semangat kerja secara persial berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan

Dalam penelitian ini dapat diambil beberapa manfaat yang diharapkan bisa berguna bagi beberapa pihak diantaranya adalah : 1. Bagi perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan masukan untuk menentukan kebijaksanaan perusahaan. 2. Bagi peneliti Peneliti dapat menerapkan teori-teori yang telah diperoleh dibangku kuliah dengan kondisi sebenarnya. 3. Bagi Ilmu pengetahuan Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pengetahuan dan bacaan dalam perkuliahan serta referensi untuk penelitian selanjutnya.

1. Pengertian Stres kerja Stres adalah suatu tanggapan adaptif, dibatasi oleh perbedaan individual dan proses psikologis, yaitu suatu konsekuensi dari setiap kegiatan (lingkungan), situasi atau kejadian eksternal yang membebani tuntutan psikologis atau fisik yang berlebihan terhadap seseorang. Menurut Selye, stres yang bersifat positif disebut euStres sedangkan stres yang berlebihan dan bersifat merugikan disebut diStres. Stres karyawan menurut Prof. DR. H. Abdurrahmat Fathoni, M.Si (Organisasi Dan Manajemen Sumber Daya Manusia, 2006, h. 176) yaitu timbul karena akibat kepuasan kerja yang tidak terwujud. Stres karyawan perlu sedini mungkin diatasi oleh seorang pimpinan, agar hal-hal yang merugikan perusahaan dapat diatasi. Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Orang-orang yang mengalami stres menjadi nervus ( gelisah atau gugup) dan merasakan kekhawatiran yang kronis. Mereka sering menjadi marah-marah, agresif dan tidak rileks atau memberikan sikap yang tidak kooperatif.

Faktor-faktor penyebab stres karyawan adalah sebagai berikut: a. Beban kerja yang sulit dan berlebihan b. Tekanan dan sikap pimpinan yang kurang adil dan tidak wajar c. Waktu jam kerja yang berlebihan d. Peralatan kerja yang kurang atau tidak memadai e. Konflik antar pribadi dengan pimpinan atau kelompok kerja f. Balas jasa yang terlalu rendah g. Masalah-masalah keluarga seperti anak, istri,mertua dan lain-lain.

Manajemen Stres lebih dari sekedar mengatasinya, yakni belajar menanggulanginya secara adaptif dan efektif. Ada dua model pendekatan yang dapat digunakan dalam manajemen Stres, yaitu (Dalam Rivai V,. 2004): a. Pendekatan individual Seorang karyawan dapat berusaha sendiri dalam mengurangi level Stresnya. Strategi yang bersipat individual yang cukup efektif, yaitu: pengelolaan waktu selain itu, strategi lainnya dapat berupa latihan fisik, latihan relaksasi, dan dukungan sosial. b. Pendekatan Organisasional Strategi-strategi yang mungkin digunakan manajemen untuk mengurangi Stres karyawannya adalah melalui seleksi dan penempatan, penetapan tujuan, rancangulang pekerjaan, pengambilan keputusan yang partisipatif, komunikasi organisasional, dan program kesejateraan, sehingga karyawan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya dan mereka bekerja untuk tujuan yang meraka inginkan serta adanya hubungan interpersonal yang sehat serta perawatan terhadap kondisi fisik dan mental.

2. Pengertian semangat kerja Semangat kerja menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan (2008:219) adalah pemberian daya gerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan Teori Hirarki menurut A.H. Maslow (Ulber Silalahi 2002:345) menunjukan adanya lima tingkatan keinginan dan kebutuhan manusia. Kebutuhan tersebut adalah : a. Kebutuhan fisiologis ( physiological needs ) b. Kebutuhan keamanan (safety needs) c. Kebutuhan social ( social needs ) d. Kebutuhan penghargaan ( esteem needs ) e. Kebutuhan aktualisasi (Self actualization needs )

3. Pengertian Kinerja Perbaikan kinerja baik untuk individu maupun kelompok memjadi pusat perhatian dan upaya untuk meningkatkan kinerja organisasi. Penilaian kinerja merupakan alat yang paling baik untuk menentukan apakah karyawan telah memberikan hasil kerja yang memadai dan melaksanakan aktivitas kinerja sesuai dengan standar kinerja serta untuk menganalisis kinerja karyawan dan membuat rekomendasi perbaikan. Kegiatan penilaian ini penting untuk memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada karyawan tentang kinerja. Walaupun karyawan bekerja pada tempat yang sama, namun produktivitas belum tentu sama. Secara garis besar, perbedaan kinerja disebabkan oleh faktor individu dan situasi kerja. Kinerja menurut Boediharjo (2002:102) dapat diukur berdasarkan empat indikator yaitu: a. Efektif dan efisien b. Otoritas dan tanggung jawab c. Disiplin d. Inisiatif

4. Hubungan Stres Kerja dan Kinerja Karyawan Higgins (dalam Umar, 1998: 259) berpendapat bahwa terdapat hubungan langsung antara stres dan kinerja, sejumlah besar riset telah menyelidiki hubungan stres kerja dengan kinerja disajikan dalam model stres kinerja (hubungan U terbalik) yakni hukum Yerkes Podson (Masud, 2002:20). Pola U terbalik tersebut menunjukkan hubungan tingkat stres (rendah-tinggi) dan kinerja (rendah-tinggi). Bila tidak ada stres, tantangan kerja juga tidak ada dan kinerja cenderung menurun. Sejalan dengan meningkatnya stres, kinerja cenderung naik, karena stres membantu karyawan untuk mengarahkan segala sumber daya dalam memenuhi kebutuhan kerja, adalah suatu rangsangan sehat yang mendorong para karyawan untuk menanggapi tantangan pekerjaan. Akhirnya stres mencapai titik stabil yang kira-kira sesuai dengan kemampuan prestasi karyawan. Selanjutnya, bila stres menjadi terlalu besar, kinerja akan mulai menurun karena stres mengganggu pelaksanaan pekerjaan. Karyawan kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya. Akibat yang paling ekstrem adalah kinerja menjadi nol, karyawan, menjadi tidak kuat lagi bekerja, putus asa, keluar atau menolak bekerja untuk menghindari stres.

E.

Hubungan Semangat Kerja dan Kinerja Karyawan Semangat kerja akan mempengaruhi kinerja karyawan. Hal ini seperti dikemukakan oleh Hasibuan (2003:94) : Semangat kerja adalah keinginan dan kesungguhan seseorang mengerjakan pekerjaannya dengan baik serta berdisiplin untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal. Semangat kerja ini akan merangsang seseorang untuk berkarya dan berkreativitas dalam pekerjaannya. Dari pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan semangat kerja yang tinggi maka kinerja karyawan akan meningkat karena para karyawan akan dapat bekerja sama dengan individu lainnya secara maksimal sehingga pekerjaan lebih cepat, kerusakan berkurang, absensi dapat diperkecil, perpindahan karyawan dapat diperkecil dan sebagainya. Begitu juga sebaliknya, jika semangat kerja turun maka kinerja akan turun juga. Jadi dengan kata lain semangat kerja akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

Penelitian ini akan mengungkap pengaruh Stres kerja dan semangat kerja terhadap karyawan PT. Katingan Timber Celebes Makassar . Responden yang diteliti sebanyak 100 orang karyawan, sedangkan variabelnya yaitu pengaruh stres kerja dan semangat kerja karyawan sebagai variabel bebas, terhadap kinerja karyawan sebagai vari