PERSAINGAN INDIA-PAKISTAN DALAM PENGEMBANGAN 2018-10-03آ  34 BAB II PERSAINGAN INDIA-PAKISTAN...

download PERSAINGAN INDIA-PAKISTAN DALAM PENGEMBANGAN 2018-10-03آ  34 BAB II PERSAINGAN INDIA-PAKISTAN DALAM

of 42

  • date post

    28-Dec-2019
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PERSAINGAN INDIA-PAKISTAN DALAM PENGEMBANGAN 2018-10-03آ  34 BAB II PERSAINGAN INDIA-PAKISTAN...

  • 34

    BAB II

    PERSAINGAN INDIA-PAKISTAN DALAM PENGEMBANGAN NUKLIR

    DAN ISU KEPEMILIKAN ICBM INDIA

    Persaingan antara India dan Pakistan telah berlangsung sejak lama, bahkan

    ketika kedua negara tersebut masih menjadi satu kesatuan. Persaingan terlihat dari

    upaya memperebutkan wilayah Kashmir hingga pada persaingan kekuatan masing-

    masing negara melalui pengembangan nuklir. Pembahasan dalam bab II penelitian

    ini terbagi menjadi empat. Sub bab pertama mengenai pengembangan nuklir India,

    yang kemudian pembahasan dilanjutkan mengenai pengembangan nuklir Pakistan

    dalam sub bab kedua. Sub bab ketiga membahas mengenai isu kepemilikan ICBM

    India yang ditunjukkan melalui uji coba Agni-5 tahun 2012. Sub bab keempat

    membahas reaksi Pakistan terhadap uji coba Agni-5 India. Keempat pembahasan

    tersebut akan digunakan sebagai data pendukung dalam analisa penelitian.

    2.1 Pengembangan Nuklir India

    Pembahasan terkait peningkatan kekuatan India melalui pengembangan

    nuklir India dalam sub bab pertama terdiri dari dua pokok pembahasan yaitu sejarah

    pengembangan nuklir India. Pembahasan terkait sejarah pengembangan nuklir

    India kemudian dilanjutkan pembahasan tentang uji coba nuklir yang telah

    dilakukan India dimulai dari percobaan pertama hingga percobaan yang dilakukan

    pada tahun 2012.

  • 35

    2.1.1 Sejarah Pengembangan Nuklir India

    Satu tahun pasca kemerdekaan India pada tahun 1947, Perdana Menteri India

    memperkenalkan suatu badan yang bertugas mengorganisir penelitian atom yaitu

    India Atomic Energy Comission (IAEC) beserta kerangka hukum operasional badan

    tersebut. 1 Program pengembangan nuklir India kemudian dimulai di Bhabha

    Atomic Research (sebelumnya bernama Atomic Energy Establishment Trombay)

    berdasarkan pada program US Atoms for Peace2 yang bertujuan untuk mendukung

    perkembangan ilmu pengetahuan dan tidak untuk kepentingan militer.3

    Pada tahun 1954 IAEC membentuk Department of Atomic Energy (DAE),

    suatu badan yang berfokus pada penelitian untuk mengembangkan teknologi nuklir

    dan aplikasi teknologi radiasi sebagai penunjang kegiatan di bidang pertanian,

    kedokteran, dan industri.4 Pada tahun yang sama, India juga menekankan bahwa

    pengujian nuklir untuk keperluan persenjataan perlu diakhiri oleh negara-negara

    yang melakukan proliferasi senjata nuklir.5

    Program pengembangan nuklir India untuk tujuan damai tersebut mendapat

    dukungan dari beberapa negara. Reaktor nuklir pertama yang dimiliki oleh India

    bernama Apsara Research Reactor, merupakan hasil dari kerjasama antara India

    1 Constituent Assembly of India (Legislative Debates), Second Session, Vol. 5, 6 April 1948, dalam George Perkovich, 1999, India's Nuclear Bomb: The Impact on Global Proliferation, Berkeley: University of California Press, hal. 18. 2 US Atoms for Peace merupakan judul pidato yang disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat pada 8 Desember 1953 terkait aturan dalam penggunaan energi nuklir. 3 Homi Sethna, Opening the Door to Nuclear Development, Atoms for Peace, hal. 102, dalam Leonard Weiss, Atoms for Peace, Bulletin of The Atomic Scientists, November/Desember 2003, Vol. 59, No. 6, hal. 10. 4 Robert S. Anderson, Building Scientific Institutions in India: Saha and Bhabha, Centre for Developing-Area Studies, Occasional Paper No. 11, 1975, McGill University, hal. 40. 5 Jaswant Singh, Against Nuclear Apartheid, Journal of Foreign Affairs, Vol. 77 No. 5, September/Oktober 1998, hal. 41.

  • 36

    dan Inggris pada tahun 1955. 6 Selang satu tahun kerjasama tersebut, Amerika

    Serikat dan Kanada sepakat untuk memberikan bantuan dan mendukung program

    nuklir tujuan damai yang dilakukan India berupa pendirian CIRUS Research

    Reactor oleh Kanada dan bantuan penyediaan deutrium dioksida oleh Amerika

    Serikat dalam CIRUS Research Reactor.7

    Namun dalam perkembangannya, kebijakan pemerintah India beralih

    menjadi pemanfaatan nuklir sebagai alat untuk menunjang kekuatan negara sejak

    pertengahan tahun 1960an. Hal tersebut dipicu oleh uji coba senjata nuklir oleh

    Cina pada 16 Oktober 1964 dan perang India-Pakistan pada tahun 1965.8 Akibat

    dua peristiwa tersebut, muncul desakan dari parlemen India pada 22 September

    1965 untuk mengubah kebijakan terkait pengembangan nuklir. Adanya desakan

    tersebut semakin mendorong India melakukan pengembangan nuklir tidak hanya

    sebatas untuk perkembangan ilmu pengetahuan tapi juga menjadikan nuklir sebagai

    instrumen kekuatan baru India dalam mempertahankan eksistensi di kawasan. 9

    Percobaan nuklir pertama kali dilakukan India pada tahun 1974.10 Akibat dari

    tindakan tersebut, muncul berbagai respon dari dunia Internasional, salah satunya

    Amerika Serikat yang membatasi akses India serta memberikan sanksi. Selain itu,

    respon datang dari Kanada dengan menghentikan pemberian bantuan pada India

    6 M.V. Ramana, 2007, Nuclear Power in India: Failed Past, Dubious Future, Gauging US-Indian Strategic Cooperation, Carlisle: Strategic Studies Institute, hal. 76. 7 Volha Charnysh, 2009, India’s Nuclear Program, Nuclear Age Peace Foundation, hal. 1, diakses dalam http://www.nuclearfiles.org/menu/key-issues/nuclear- weapons/issues/proliferation/india/charnysh_india_analysis.pdf (22/04/2016, 09:13 WIB) 8 US Embassy (New Delhi) to State Department, Nuclear Non-Proliferation Policy FOIA, dalam George Perkovich, Op. Cit., hal. 490. 9 Hari Ram Gupta, India-Pakistan War, Vol. 1, hal. 20, dalam George Perkovich, Op. Cit., hal. 103. 10 Federation of American Scientists, First Nuclear Test at Pokhran, 4 Juli 2000, diakses dalam https://fas.org/nuke/guide/india/nuke/first-pix.htm (12/04/2017, 12:26 WIB)

    http://www.nuclearfiles.org/menu/key-issues/nuclear-weapons/issues/proliferation/india/charnysh_india_analysis.pdf http://www.nuclearfiles.org/menu/key-issues/nuclear-weapons/issues/proliferation/india/charnysh_india_analysis.pdf https://fas.org/nuke/guide/india/nuke/first-pix.htm

  • 37

    dalam program pengembangan nuklir. Adanya respon negatif dari beberapa pihak

    membuat India membatalkan rencana uji coba lain yang telah disusun pada tahun

    1977-1979.11 Hal tersebut merupakan alasan yang menyebabkan agenda politik

    India pada akhir tahun 1970an tidak sepenuhnya berfokus pada pengembangan

    nuklir.

    Namun pada tahun 1980 pasca pergantian Perdana Menteri Morarji Desai

    menjadi Choudhary Charan Singh dari Bharatiya Janata Party (BJP), India kembali

    melanjutkan program pengembangan nuklir. Peningkatan kapabilitas India dalam

    mengembangkan nuklir terus dilakukan terbukti sejak pertengahan 1980an, India

    melakukan pengembangan terhadap rudal balistik jarak pendek dan menengah.12

    Terdapat pernyataan dari juru bicara BJP, Kewal Ratanmal Malkani, pada

    tahun 1993 yang menyatakan “...nuclear weapons will give us prestige, power,

    standing. An Indian will talk straight and walk straight when we have the bomb”.13

    Berdasarkan pernyataan tersebut, terlihat bahwa bagi India kepemilikan senjata

    nuklir merupakan suatu tindakan yang dapat memberikan keuntungan sehingga

    India akan terus berupaya melakukan pengembangan nuklir dan menunjukkan

    peningkatan kapabilitas senjata nuklir yang dimiliki. Hal tersebut terbukti dengan

    adanya berbagai uji coba peluncuran rudal hulu ledak nuklir.

    Kepemilikan senjata nuklir India sebagai instrumen kekuatan negara berhasil

    mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. India berhasil memproduksi

    11 Volha Charnysh, Op. Cit., hal.2 12 Global Security, Agni, diakses dalam http://www.globalsecurity.org/wmd/world/india/agni.htm (30/07/2017, 14:42 WIB) 13 George Perkovich, Nuclear Proliferation, Journal of Foreign Policy, No. 112, Fall 1998, hal. 12.

    http://www.globalsecurity.org/wmd/world/india/agni.htm

  • 38

    beberapa rudal14 seperti rudal Prithvi yang memiliki daya jangkau 150 km sehingga

    merupakan rudal balistik jarak pendek atau Short Range Ballistic Missile (SRBM),

    rudal Sagarika yang diluncurkan melalui kapal selam sehingga termasuk Submarine

    Launched Ballistic Missile (SLBM) dengan kemampuan menjangkau jarak 300-

    1000 km, rudal Agni yang termasuk rudal jarak menengah atau Medium Range

    Ballistic Missile (MRBM) dan Intermediate Range Ballistic Missile (IRBM)

    dengan daya angkut 1000 kg, serta rudal antar benua atau Intercontinental Range

    Ballistic Missile (ICBM) Agni-5 yang merupakan pencapaian besar bagi India

    karena rudal jenis tersebut mampu mencapai jarak 5000 km jika diluncurkan.15

    Prithvi merupakan rudal balistik pertama yang dikembangkan oleh India,

    berasal dari rudal SA-2 milik Uni Soviet. Prithvi-1 dengan jarak jangkau maksimal

    150 km digunakan sebagai senjata dalam Angkatan Darat India, Prithvi-2 dengan

    jarak jangkau maksimal 250 km digunakan dalam Angkatan Udara, dan Prithvi-3

    dengan jarak jangkau sekitar 300-350 km digunakan dalam Angkatan Laut India.

    Ketiga rudal tersebut memiliki kemampuan penyerangan dengan mengangkut hulu

    ledak konvensional (mesiu, TNT) menuju target, serta mampu mencapai sebagi