perlawanan para petani luzon

download perlawanan para petani luzon

of 31

  • date post

    04-Jun-2018
  • Category

    Documents

  • view

    218
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of perlawanan para petani luzon

  • 8/13/2019 perlawanan para petani luzon

    1/31

    BAB IV

    PERLAWANAN PARA PETANI LUZON TENGAH DALAM USAHANYA MENUNTUT

    LAND REFORMDARI MASA PENJAJAHAN JEPANG SAMPAI PASCA

    KEMERDEKAAN FILIPINA

    Bab ini menguraikan point-point penting yang ditujukan untuk menjawab pertanyaan-

    pertanyaan penelitian seperti yang dinyatakan dalam perumusan masalah. Dengan demikian

    pemaparan dalam bab ini akan membahas kondisi-kondisi sebelum terjadinya peristiwa

    pemberontakan Hukbalahap, mencakup kondisi sosial dan politik masyarakat, jalannya peristiwa

    pemberontakan, serta akhir dan dampak peristiwa tersebut secara politik dan sosial bagi

    masyarakat Filipina pada umumnya.

    Peristiwa pemberontakan Hukbalahap pada dasarnya terjadi akibat adanya ketidakadilan

    dalam bidang sosial-ekonomi masyarakat Filipina. Perlu diuraikan mengenai bagaimana kondisi

    ketidakpuasan ini mempengaruhi dan mendorong terbentuknya golongan yang tidak puas

    terhadap pemerintah yang berkuasa dan menyalurkan akumulasi ketidakpuasan tersebut dalam

    suatu pemberontakan. Dengan demikian sebelum membahas pemberontakan Hukbalahap yang

    terjadi di Filipina khususnya di Luzon Tengah, maka diperlukan pemaparan mengenai keadaan

    sosial dan ekonomi di Filipina khususnya di Luzon Tengah.

    Sub pembahasan mengenai jalannya peristiwa pemberontakan Hukbalahap akan

    mencakup beberapa point yaitu, latar belakang khusus yang memicu terjadinya peristiwa,

    konsolidasi kekuatan Hukbalahap, jalannya peristiwa, tokoh-tokoh yang berperan dalam

    pemberontakan, reaksi dari pemerintah Filipina terhadap gerakan tersebut, akhir peristiwa serta

    akibatnya bagi kedudukan politis dan kondisi sosial masyarakat Filipina pada umumnya.

  • 8/13/2019 perlawanan para petani luzon

    2/31

    4.1 KONDISI-KONDISI SEBELUM TERJADINYA PERISTIWA

    PEMBERONTAKAN HUKBALAHAP

    4.1.1 Kondisi Sosial

    Filipina sebagai negara kepulauan memiliki pulau-pulau yang tersebar dari utara sampai

    selatan, di antara pulau yang terbesar adalah pulau Luzon dan Mindanao. Filipina dihuni oleh

    berbagai etnis suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan. Terdapat sepuluh suku bangsa

    yang dominan. Delapan di antara suku bangsa tersebut penduduknya mayoritas memeluk agama

    Kristen, antara lain; Tagalog, Cebuano, Hilongo, Warray, Ilocano, Bicolano, Paganiense, dan

    Pampango. Etnis Cina penduduknya mayoritas memeluk agama Konghuchu, sistem

    kepercayaan yang berkembang di Cina. Suku bangsa Melayu yang penduduknya mayoritas

    memeluk agama Islam, atau disebut juga Moro

    (http://www.asiamaya.com/panduasia/philipina/e-01land/ep-lan12.htm ) .

    Gambar I

    Peta Wilayah Negara Filipina

  • 8/13/2019 perlawanan para petani luzon

    3/31

    Sumber: http://www.statecraft.org/chapter3.html

    Persebaran penduduk di berbagai pulau-pulau dalam wilayah negara Filipina berdampak

    pada perbedaan bahasa daerah yang digunakan. Bahasa-bahasa yang digunakan antara penduduk

    pulau yang satu dengan yang lainnya berbeda. David Steinberg menerangkan bahwa orang-orang

    Filipina sangat sangat kuat kesetiaannya terhadap kelompok sosial dan bahasanya. Ada 87

    kelompok bahasa daerah yang tersebar di berbagai pulau di Filipina ( Bresnan, 1988 : 40).

  • 8/13/2019 perlawanan para petani luzon

    4/31

    Perbedaan bahasa tidak menyurutkan masyarakat Filipina untuk berinteraksi dengan

    kelompok lain. Masyarakat Filipina melakukan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang

    lainnya dengan cara menggunakan Lingua Franca atau bahasa perdagangan. Interaksi yang

    kontinyu antar suku bangsa di Filipina telah merubah tatanan sosial dalam kelompok masyarakat

    tersebut. Mereka lebih terbuka dan mau menerima kebudayaan dari kelompok masyarakat lain.

    Pengaruh yang paling jelas adalah dalam hal sistem kekerabatan. Pola kekerabatan yang dianut

    kelompok masyarakat di Filipina dahulu bersifat insklusifyaitu sistem perkawinan antar sesama

    anggota kelompoknya. Terjadinya hubungan ekonomi antar kelompok masyarakat tersebut, telah

    merubah sistem kekerabatan yang dianut. Mereka sekarang lebih ekslusifmau menerima anggota

    kelompok lain masuk kedalam kelompoknya berdasarkan ikatan perkawinan yang dilakukan oleh

    anggota kelompoknya dengan kelompok lain (Bresnan, 1988 : 41).

    Masyarakat Filipina mengenal adanya perbedaan status sosial. Pada masyarakat petani

    status sosial di ukur dengan kepemilikan tanah, senioritas atau lamanya menetap di suatu desa,

    serta kepemimpinan seseorang dalam memangku jabatan formal maupun non formal. Ketiga

    faktor tersebut tidak hanya berkembang dalam masyarakat petani Filipina, tetapi juga

    berkembang dalam masyarakat petani di Asia Tenggara (Halimah, 2002 : 20).

    Popskin membagi petani menjadi tiga bagian tingkatan yaitu petani kaya, petani

    menegah, dan petani miskin (Popkin, 1986 : 50). Pembagian tingkatan ini berdasarkan pada

    faktor ekonomi. Petani kaya memiliki status yang paling tinggi dan menduduki lapisan paling

    atas dalam struktur masyarakat petani. Lapisan atas ini terdiri dari para pemilik tanah (tuan

    tanah), pejabat pemerintah, pemuka agama dan pemuka desa atau elite desa. Petani menengah

    biasanya disebut petani penyewa yang mempunyai modal untuk menyewa tanah pertanian dari

    tuan tanah. Petani miskin dapat di identikkan dengan para petani yang menggantungkan

  • 8/13/2019 perlawanan para petani luzon

    5/31

    kehidupannya pada hasil pertanian saja. Para petani miskin mengandalkan hasil pertaniannya

    untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari tanpa motif lain. Scott melakukan pembagian kembali

    terhadap petani miskin di daerah pedesaan yang terdiri dari : petani pemilik tanah kecil, petani

    penyewa dan buruh tani (Scott, 1989 : 54). Katagori-katagori tersebut biasanya tidak bersifat

    ekslusif, karena ada petani yang selain memiliki lahan sendiri juga menyewa lahan dari orang

    lain. Golongan petani ini berasal dari golongan Mestizo Cina atau orang-orang keturunan Cina.

    Mereka berusaha untuk memperbaiki tingkat ekonominya juga status sosialnya dalam

    masyarakat. Pada masa penjajahan Spanyol di Filipina, pemilik-pemilik tanah yang luas adalah

    para tuan tanah, pejabat pemerintah, elite lokal atau ketua adat, dan pemuka agama.

    Konflik yang terjadi dalam masyarakat Filipina antara para petani dengan para tuan tanah

    bukan lagi menjadi rahasia umum. Konflik lainnya adalah yang ditimbulkan oleh pihak Gereja.

    Para pastor telah memanfaatkan tanah-tanah milik Gereja untuk di sewakan kepada para petani

    penyewa. Uang hasil dari menyewakan tanah tersebut digunakan untuk memperkaya diri. Para

    petani miskin yang merupakan jemaat Gereja merasa kecewa dengan ulah para oknum pastor.

    Sisi baiknya adalah para petani miskin yang terdiri dari para buruh tani dapat berkerja mengarap

    lahan tersebut (Agoncillo, 1990 :442)

    Hubungan patron-clien, hubungan sosial antara petani dengan tuan tanah merupakan

    hubungan yang biasa dalam masyarakat petani. Relasi patron-clien ini mempunyai peranan

    penting bagi kehidupan masyarakat petani, karena hubungan ini dapat menjamin kebutuhan

    subtensi petani. Menurut Popkin, hubungan patron-clien adalah hubungan petani dan tuan tanah,

    yang meliputi kewajiban-kewajiban timbal balik yang berspektrum luas tetapi tidak jelas, yang

    konsisten dengan kepercayaan bahwa patron itu harus melindungi cliennya yang hampir

    menyerupai seorang bapak melindungi keluarganya (Popkin, 1986 : 11).

  • 8/13/2019 perlawanan para petani luzon

    6/31

    Gambaran konsep patron-clien merupakan suatu keseimbangan kehidupan antara petani

    dengan tuan tanah dalam mayarakat pedesaan. Keseimbangan ini terkadang berubah menjadi

    tidak selaras ketika terjadi gesekan-gesekan dalam kehidupan masyarakat petani diakibatkan

    adanya ekploitasi oleh tuan tanah. Gesekan tersebut biasanya terjadi apabila salah satu dari

    patron atau klien merasa ada yang dirugikan, seperti klien yang menuntut perbaikan dalam upah

    setelah berhasil memberikan keuntungan. Faktor tersebut yang menjadi penyebab konflik di

    Filipina selama bertahun-tahun, dimana pada masa penjajahan Spanyol, Amerika, Jepang dan

    bahkan sesudah Filipina merdeka pun nasib para petani kecil selalu terbaikan atau bahkan tidak

    tersentuh sama sekali.

    Petani miskin di Luzon tengah selalu diekploitasi oleh para tuan tanah atau para petani

    penyewa dengan bekerja selama satu hari penuh tanpa mendapat imbalan yang cukup. Apabila

    mereka menolak bekerja di lahan pertanian, keluarga para petani ini dijadikan pembantu di

    rumah para tuan tanah tersebut atau bahkan anak gadisnya dijadikan budak nafsu para tuan tanah

    (Agoncillo, 1990 : 443). Sikap para tuan tanah yang tidak menusiawi telah memicu reaksi dari

    para petani miskin untuk berontak melawan ketidakadilan. Perlawanan yang dilakukan oleh para

    petani tidak berarti sama sekali, karena masih bersifat perorangan, sehingga mudah dikalahkan.

    Selain tuan tanah (land lord), mereka juga merupakan orang-orang yang duduk dalam

    pemerintahan kolonial, yang dapat menggunakan wewenangnya untuk menghukum para buruh

    tani yang membangkang.

    Perubahan sistem kepemilikan tanah yang berlaku di Filipina juga dapat dijadikan

    penyebab terjadinya konflik antara para tuan tanah dan para petani. Sebelum kedatangan Spanyol

    ke Filipina tanah di miliki secara adat oleh kelompok-kelompok masyarakat. Anggota dari

    kelompok masyarakat tersebut diberi hak yang sama untuk menggarap tanah adat. Kepemilikan

  • 8/13/2019 perlawanan para pet