Perkembangan Stratigrafi Cekungan Paleogen_extendedabstract

download Perkembangan Stratigrafi Cekungan Paleogen_extendedabstract

of 8

  • date post

    03-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    240
  • download

    6

Embed Size (px)

description

cekungan

Transcript of Perkembangan Stratigrafi Cekungan Paleogen_extendedabstract

  • Pusat Survei Geologi ::: S. Bachri, D.A. Agustiyanto, dan E. Slameto

    PERKEMBANGAN STRATIGRAFI CEKUNGAN PALEOGEN NEOGEN DAN POTENSI HIDROKARBON DI DAERAH BANJARNEGARA

    PURBALINGGA JAWA TENGAH

    Oleh :S. Bachri, D.A. Agustiyanto, dan E. Slameto

    I. PENDAHULUANDaerah Pegunungan Serayu Utara terletak di pinggiran Blok Sunda yang merupakan kerak benua, yang berbatasan dengan lempeng lain (Pubellier dkk, 2005, Gambar 1).

    Gambar 1. Peta menunjukkan posisi daerah penelitian di ujung tenggara Blok Sunda yang berbatasan dengan Blok Sumba (Pubellier dkk., 2005).

    Selain terletak di daerah busur magmatik, daerah penelitian juga terletak di kawasan tektonik aktif, sebagaimana ditunjukkan oleh peta perkembangan zone tunjaman (Katili, 1989, Gambar 2), serta peta lajur magmatik (Soeria-atmadja dkk., 1994). Konsekuensi dari posisi tektonik regional tersebut akan berdampak pada perkembangan stratigrafi dan struktur, khususnya selama Paleogen dan Neogen.

    Departemen ESDM Badan Geologi Pusat Survei Geologi 2009

  • Pusat Survei Geologi ::: S. Bachri, D.A. Agustiyanto, dan E. Slameto

    Gambar 2. Peta yang menunjukkan perkembangan zone tunjaman di Indonesia bagian barat, sejak pra-Tersier hingga kini (Katili, 1989).

    Penelitian Evolusi Cekungan Paleogen Neogen Jawa Bagian Tengah untuk tahun anggaran 2008 sebagian besar terletak di daerah Banjarnegara dan Purbalingga, dan sedikit wilayah Wonosobo, Kendal dan Pekalongan, dengan kordinat 109 o 15 00 109o 5230 BT dan 7o0730 7o3000 LS (Gambar 3). Satuan batuan yang menjadi titik berat penelitian adalah satuan batuan Paleogen (Formasi Worawari) dan satuan batuan Neogen, yaitu Formasi Merawu, Formasi Penyatan, Formasi Tapak dan Formasi Kalibiuk.

    Gambar 3. Peta lokasi daerah penelitian.

    Departemen ESDM Badan Geologi Pusat Survei Geologi 2009

  • Pusat Survei Geologi ::: S. Bachri, D.A. Agustiyanto, dan E. Slameto

    II. PERKEMBANGAN STRATIGRAFIBerdasarkan hasil pengukuran stratigrafi beserta data analisis paleontologi, maka susunan stratigrafi di daerah penelitian adalah sebagai berikut (Tabel.1).

    Tabel 1. Korelasi Stratigrafi Daerah Banjarnegara dan Purbalingga(Kompilasi dan modifikasi berdasarkan Condon drr, 1975; Djuri, 1975)

    Departemen ESDM Badan Geologi Pusat Survei Geologi 2009

    (Fm. Worawari)

  • Pusat Survei Geologi ::: S. Bachri, D.A. Agustiyanto, dan E. Slameto

    II.1. Formasi Worawari atau Batuan Paleogen Serayu UtaraFormasi Worawari, atau sebelumnya disebut Batuan Paleogen Serayu Utara (Condon dkk., 1975), atau juga disebut / disetarakan dengan Formasi Totogan (Condon dkk., 1996) tersingkap paling panjang di Kali Worawari, meskipun di banyak tempat tertutup oleh longsoran. Di Kali Tulis, secara setempat-setempat tersingkap di lintasan bagian selatan, mulai sekitar muara Sungai Sidawangi ke arah selatan. Karena singkapan satu sama lainnya terpisah-pisah relatif jauh, maka pada formasi ini tidak dilakukan pengukuran stratigrafi secara menerus. Di tempat lain, misal di Kali Tengah, batuan yang diduga masih merupakan bagian dari Formasi Worawari tersingkap setempat dan menunjukkan adanya fosil jejak dari jenis Nereite yang menunjukkan lingkungan laut dalam (abisal). Kemunculan batuan Paleogen secara terbatas di Kali Tengah tersebut diduga dikontrol oleh sesar naik.

    II.2. Formasi MerawuFormasi Merawu (Condon dkk.,1975) mempunyai lokasi tipe di Kali Merawu, namun singkapan di sepanjang Kali Merawu sebagian besar tertutup oleh material longsoran dari formasi tersebut, yang sebagian besar terdiri atas batulempung yang mudah longsor. Pada peta geologi edisi ke dua Lembar Banjarnegara dan Pekalongan (Codon dkk.,1996), nama Formasi Merawu tidak digunakan lagi, dan sebagai gantinya digunakan nama Formasi Rambatan, yang tipe lokasinya jauh di luar daerah Banjarnegara, dan belum tentu keduanya memiliki kesetaraan. Oleh karenanya, dalam laporan ini, nama Formasi Merawu tetap digunakan.

    Formasi Merawu tersingkap baik di Kali Tulis dan juga di Kali Merawu, dan dapat dibagi menjadi dua anggota, yaitu bagian bawah atau anggota batulempung, dan bagian atas atau anggota batupasir.

    II.3. Formasi PenyatanFormasi Penyatan (Van Bemmelen, 1937) atau disebut Formasi Halang oleh Djuri (1975) tersingkap baik di tebing Kali Keang di Desa Longkeyang Kabupaten Pemalang. Formasi ini juga tersingkap baik di Kali Polaga, sekitar 1 km di sebelah barat singkapan di Kali Keang. Bagian bawah atau kontak dengan Formasi Merawu tidak dijumpai, namun menurut beberapa peneliti sebelumnya (Djuri, 1975; Condon dkk.,1975), atas dasar data umur, formasi ini dinyatakan mempunyai hubungan selaras dengan Formasi Merawu.

    II..4. Formasi Tapak Formasi Tapak tersingkap baik di Kali Karang, di bawah dam, Desa Makam, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Formasi ini tersusun oleh batulempung gampingan yang kaya aka fosil foraminifera kecil, diselingi oleh lapisan-lapisan batupasir sedang hingga kasar, sampai setebal 40 cm. Setempat dijumpai konglomerat dengan komponen batupasir dan batulempung gampingan yang diduga merupakan hasil penggerusan pada Formasi Tapak sendiri .Di beberapa horizon dijumpai lapisan yang kaya akan pecahan cangkang moluska, serta lapisan tipis, beberapa centimeter tebalnya, yang mengandung laminae karbon. Secara umum perbandingan antara batupasir dan batulempung sekitar 30 : 70.

    II.5. Formasi KalibiukPengamatan serta pengukuran stratigrafi terinci pada Formasi Kalibiuk dan Tapak di Kali Karang menunjukkan adanya perbedaan susunan batuan pada kedua formasi tersebut. Perbedaan tersebut ditunjukkan oleh semakin sedikitnya serta menipisnya

    Departemen ESDM Badan Geologi Pusat Survei Geologi 2009

  • Pusat Survei Geologi ::: S. Bachri, D.A. Agustiyanto, dan E. Slameto

    sisipan sisipan batupasir dalam Formasi Kalibiuk dibanding pada Formasi Tapak. Disamping itu, pada Formasi Kalibiuk lebih banyak dijumpai lapisan tipis (beberapa centimeter) yang mengandung pecahan moluska serta karbon, serta dijumpainya konglomerat tebal sampai sekitar 2 meter yang mengandung komponen batulempung, batupasir, serta pecahan batubara. Batupasir kasar dijumpai sebagai lapisan menerus maupun lensa-lensa endapan alur yang tipis (beberapa centimeter) dalam Formasi Kalibiuk. Formasi Kalibiuk juga tersingkap di Kali Tambra. Fosil moluska berupa gastropoda dan pelesipoda juga dijumpai Selain di Kali Karang. Formasi ini juga tersingkap di Kali Muli dan Kali Tuntunggunung (Buaran).

    III. ANALISIS BATUAN INDUKSelama penelitian di bagian tengah Pegunugan Serayu Utara ini telah ditemukan satu rembesan minyak bumi di daerah Kalibening, tepatnya di tepian Kali Gintung, Pada koordinat 07o 14 45,4 LS dan 109o 34 46,0 BT (Foto 1). Minyak bumi berwarna coklat kekuningan yang keluar dari batulempung yang diduga bagian dari Formasi Merawu.

    Kandungan Karbon Organik (TOC)Berdasarkan analisis TOC dan pirolisis rock eval pada kelima sampel batulempung / serpih maka dketahui bahwa sampel batulempung Paleogen memiliki kandungan TOC masing-masing 0,37% dan 0,50 %, lebih tinggi dari ketiga sampel batulempung Neogen, yaitu 0,61% dan 0,92% dan 0,69%. Demikian pula halnya dengan jumlah total hidrokarbon (Py), yaitu gabungan antara jumlah hidrokarbon bebas (S1) dan jumlah hidrokarbon yang dilepaskan dari kerogen (S2), nilainya lebih besar pada sampel-sampel Neogen, yaitu antara 0,75 sampai 1,88 mg/g batuan, dibanding pada sampel batuan Paleogen (0,63 dan 0,83 mg/g).

    Kualitas Batuan IndukKualitas batuan induk, baik batuan paleogen maupun Neogen di daerah penelitian adalah buruk sampai sedang, didasarkan pada nilai TOC vs S2 . Demikian pula berdasarkan persentase TOC dan HI (Indeks Hidrogen. dapat diklasifikasikan bahwa kualitas batuan induk Paleogen dan Neogen buruk sampai sedang.

    Sementara itu, dari diagram komposisi ekstrak/minyak menunjukkan bahwa sampel batulempung Paleogen dan Neogen memiliki tingkat kematangan yang relatif sama. Sementara dari penggambaran nilai persentase TOC vs jumlah organic extract tampak bahwa dua sampel batulempung Neogen, yaitu 08SB10I dan 08ED35B, menunjukkan kualitas batuan induk yang lebih baik dibanding sampel lainnya.

    Korelasi Batuan Induk dan Rembesan Minyak ,dan Tipe KerogenBerdasarkan analisis sidikjari kromatografi gas, tampak bahwa samplel 08ED35B paling mirip dengan sampel minyak, sehingga dapat diartikan bahwa sampel tersebut merupakan batuan induk dari rembesan minyak di Kali Gintung. Sementara itu, berdasarkan diagram Pristanen/n-C17 vs Phytanen/n-C18 , maka dapat diketahui tipe kerogen dan asal material organik. Dari kelima sampel batulempung, ternyata hanya sampel 08ED35B yang memiliki kerogen tipe III, dengan material organik campuran dari laut dan darat. Adapun sampel lainnya memiliki kerogen tipe II, dengan material organik berasal dari darat.

    Asal Organisme (Lingkungan Pengendapan)

    Departemen ESDM Badan Geologi Pusat Survei Geologi 2009

  • Pusat Survei Geologi ::: S. Bachri, D.A. Agustiyanto, dan E. Slameto

    Dari diagram komposisi sterana dapat diketahui bahwa organisme pada seluruh sampel yang dianalisis merupakan organisme akuatik. Dalam hal ini ditafsirkan berasal dari laut dangkal, mengingat batuan Neogen , khususnya Formasi Merawu bagian bawah mempunyai lingkungan pengendapan laut dangkal, yang ke arah atas berangsur menjadi lingkungan pasang surut. Adapun lingkungan pengendapan batuan Paleogen (Formasi Worawari), seperti dibahas pada bab sebelumnya adalah laut dalam. Lingkungan yang lebih dalam ini mungkin yang menyebabkan kandungan karbon organik pada batuan Paleoge