PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS

download PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS

of 28

  • date post

    01-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    39
  • download

    0

Embed Size (px)

description

PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS. - PowerPoint PPT Presentation

Transcript of PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS

PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS

PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS1Perkembangan manusia merupakan interaksi yang berkesinambungan antara hereditas dan lingkungan. Penentu genetik mengungkapkan diri melalui proses maturasi/pematangan: secara alamiah menentukan urutan perkembangan atau perubahan badaniah yang secara relatif tergantung pada lingkungan. Perkembangan motorik misalnya, sebagian besar merupakan suatu proses maturasi karena semua anak menguasai kemampuan seperti merangkak, berdiri, dan berjalan dengan urutan yang sama dan secara umum pada usia yang sama.2Perkembangan berlangsung dalam urutan yang teratur mulai dari perilaku sederhana sampai perilaku yang lebih beraneka ragam dan rumit. Tetapi terdapat pertanyaan yang tidak terjawab, yaitu apakah perkembangan sebaiknya dipandang sebagai suatu proses berkesinambungan dalam memperoleh perilaku baru melalui pengalaman atau sebagai serangkaian tahapan yang berurutan yang secara kualitatif berbeda satu sama lainnya.

Meskipun perkembangan kemampuan fisik sebagian besar tergantung pada maturasi, lingkungan yang terbatas dapat memperlambat perkembangan motorik, dan stimulasi yang meningkat dapat mempercepat perkembangan tersebut.

4sambunganMeskipun deprivasi awal atau stimulasi nampaknya tidak mempunyai pengaruh untuk selamanya pada keterampilan motorik, perkembangan pada segi-segi lain, seperti bahasa, inteligensi, kepribadian, mungkin untuk selamanya dipengaruhi oleh pengalaman awal.Fase-fase Perkembangan Kognitif Menurut PiagetPerkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif, artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Dengan demikian, apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya akan memperoleh hambatan.

6Fase-fase Perkembangan Kognitif Menurut PiagetPiaget membagi perkembangan kognitif kedalam empat fase yaitu sensorimotor, fase praoperasional, fase operasi konkret, dan fase operasi formal (Piaget, 1972: 49-91).1. Fase Sensorimotor (usia 0 - 2 tahun)Pada masa dua tahun kehidupannya, anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, terutama melalui aktivitas sensoris (melihat, meraba, merasa, mencium, dan mendengar) dan persepsinya terhadap gerakan fisik, dan aktivitas yang berkaitan dengan sensoris tersebut. Koordinasi aktivitas ini disebut dengan istilah sensorimotor.8Fase sensorimotor dimulai dengan gerakan-gerakan refleks yang dimiliki anak sejak ia dilahirkan. Fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahamannya tentang lingkungannya melalui kegiatan sensonimotor seperti menggenggam, menghisap, melihat, melempar, dan secara perlahan la mulai menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya, atau dapat dipisahkan dari lingkungan di mana benda itu berada. Selanjutnya, ia mulai belajar bahwa benda-benda itu memiliki sifat-sifat khususKeadaan ini mengandung arti, bahwa anak telah mulai membangun pemahamannya terhadap aspek-aspek yang berkaitan dengan hubungan kausalitas, bentuk, dan ukuran, sebagai hasil pemahamannya terhadap aktivitas sensorimotor yang dilakukannya.10Pada akhir usia 2 tahun, anak sudah menguasai pola-pola sensorimotor yang berisi kompleks, seperti bagaimana cara mendapatkan benda yang diinginkannya (menarik, menggenggam atau meminta), menggunakan satu benda dengan tujuan yang berbeda. Dengan benda yang ada di tangannya, la melakukan apa yang diinginkannya. Kemampuan ini merupakan awal kemampuan berpikir secara simbolis, yaitu kemampuan untuk memikirkan suatu suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empiris.2. Fase Praoperasional (usia 2 7 tahun)Pada fase Praoperasional, anak mulai menyadari bahwa pemahamannya tentang benda-benda di sekitamya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan sensorimotor, akan tetapi juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat simbolis. Kegiatan simbolis ini dapat terbentuk melalui kegiatan yang bersifat simbolik . kegiatan simbolik ini dapat berbentuk melakukan percakapan melalui telepon mainan atau berpura-pura menjadi bapak atau ibu, dan kegiatan simbolis lainnya. Fase ini memberikan andil besar bagi perkembangan kognitif anak. Pada fase praoperasional, anak tidak berpikir secara operasional, yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan jalan menginternalisasi suatu aktifitas yang memungkinkan anak mengaitkannya dengan kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya.12Fase ini merupakan masa permulaan bagi anak untuk membangun kemampuannya dalam menyusun pikirannya. Oleh sebab itu, cara berpikir anak pada fase ini belum stabil ini tidak terorganisasi secara baik. Fase praoperasional dapat bagi dalam tiga subfase, yaitu subfase fungsi simbolis, berpikir secara egosentris, dan subfase berpikir secara intuitif.13subfase fungsi simbolis terjadi pada usia 2 - 4 tahun. Pada masa ini, anak telah memiliki kemampuan untuk mengambarkan suatu objek yang secara fisik tidak hadir. kemampuan ini membuat anak dapat menggunakan balok-balok kecil ,untuk membagun rumah-rumahan, menyusun puzzle, dan , kegiatan lainya. Pada masa ini, anak sudah dapat menggambar manusia secara sederhana.subfase berpikir secara egosentris terjadi pada usia 2 - 4 tahun. Berpikir secara egosentris ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk memahami perspekfif atau cara berpikir orang lain. Benar atau tidak benar, bagi anak pada fase ini, tentukan oleh cara pandangnya sendiri yang disebut dengan istilah egosentris.

15Subfase berpikir secara intuitif terjadi pada usia 4 - 7 tahun Masa ini disebut subfase berpikir secara intuitif karena pada saat ini anak kelihatannya mengerti dan mengetahui sesuai seperti menyusun balok menjadi rumah-rumahan, akan tetap pada hakikatnya la tidak mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan balok itu dapat disusun menjadi rumah. Dengan kata lain, anak belum memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis tentang apa yang ada di balik suatu kejadian 3. Fase Operasional konkret (Usia 7 - 12 th)Pada fase operasi konkret, kemampuan anak untuk berpikir secara logis sudah berkembang, dengan syarat, objek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara konkret. kemampuan berpikir logis ini terwujud dalam kemampuan mengklasifikasikan objek sesuai dengan klasifikasinya, mengurutkan benda sesuai dengan tata urutnya, kemampuan untuk memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif.174. Fase Operasional Formal (12 tahun sampai usia dewasa)Fase operasi formal ditandai oleh perpindahan dari cara berpikir konkret ke cara berpikir abstrak. Kemampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksikan kejadian yang akan terjadi, dan melakukan proses berpikir ilmiah, yaitu mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran tersebut. 18TAHAPAN PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGETTAHAPANKARAKTERISASISensorimotor (0 2 tahun)Membedakan diri sendiri dengan setiap objekMengenal diri sendiri sebagai pelaku kegiatan dan mulai bertindak sesuai tujuan tertentu; misalnya menarik seutas tali untuk menggerakkan sebuah mobil atau menggoncangkan mainan supaya berbunyi.Menguasai keadaan tetap dari objek (objek permanen); menyadari bahwa benda tetap ada meskipun tidak lagi terjangkau oleh indra.2. Praoperasional (2 7 tahun)Belajar menggunakan bahasa dan menggambarkan objek dengan imajinasi dan kata-kata.Berpikir masih bersifat egosentris; mempunyai kesulitan menerima pandangan orang lain.Mengklasifikasikan objek menurut tanda, misalnya mengelompokkan semua balok merah tanpa memperhatikan bentuknya atau semua balok persegi tanpa memperhatikan warnanya.3. Operasinal Konkret (7 12 tahun)

Mampu berpikir logis mengenai objek dan kejadian.Mengusai konservasi jumlah (usia 7 tahun), jumlah tak terbatas (usia 7 tahun), dan berat (usia 9 tahun)Mengklasifikasikan objek menurut beberapa tanda dan mampu menyusunnya dalam suatu seri berdasarkan satu dimensi, seperti ukuran.4. Operasional Formal (12 thn keatas)Mampu berpikir logis mengenai soal abstrak serta menguji hipotesis secara sistematis.Menaruh perhatian terhadap masalah hipotesis, masa depan, dan masalah ideologis.19Ikatan sosial awal membentuk dasar untuk hubungan akrab antara manusia pada masa dewasa. Sikap keibuan yang tidak sensitif atau perpisahan yang berulang-ulang mungkin melemahkan kepercayaan anak dan membentuk keterikatan tidak aman. Anak-anak yang mempunyai keterikatan aman lebih baik dalam menangani pengalaman baru dan menghubungkannya dengan yang lainnya. Interaksi dengan saudara kandung dan teman sebaya penting bagi perkembangan moral.20Konsep mengenai benar dan salah bagi anak-anak berubah sejalan dengan matangnya mereka. Anak yang lebih muda cenderung mengevaluasi tindakan moral dalam pengertian mengharapkan penghargaan dan hukuman. Dengan bertambahnya umur, menghindari ketidaksetujuan dan menyesuaikan dengan norma-norma sosial menjadi penting. Pada tahapan paling tinggi mengenai berpikiran moral, setiap tindakan dinilai dalam pengertian prinsip etis seseorang. Perilaku moral tergantung pada sejumlah faktor disamping kemampuan berpikir mengenai masalah moral.

Tingkatan TahapanGambaran PerilakuTingkat I Moralitas PrakonvensionalOrientasi hukumanMematuhi peraturan untuk menghindari hukumanOrientasi ganjaranMemastikan akan mendapat ganjaran, mendapat balasan budiTingkat IIMoralitas KonvensionalOrientasi anak perempuan baik/anak laki-laki baikMemastikan penghindaran rasa tidak setuju dari orang lainOrientasi otoritasMemegang teguh undang-undang dan kaidah sosial untuk menghindari ketidaksetujuan dari pemegang otoritas serta perasaan bersalah tidak melakukan tugasTingkat IIIMoralitas PascakonvensionalOrientasi kontrak sosialTindakan yang dibimbing oleh asas-asas yang biasa disetujui sebagai hal yang penting bagi kesejahteraan umum; asas-asas yang dijunjung tinggi untuk mempertahankan penghargaan dari teman sebaya merupakan penghargaan diri.Orientasi asas etisTindakan yang dibimbing oleh asas-asas etis atas pilihan