Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

of 23 /23
BAB III PERISTIWA-PERISTIWA POLITIK DAN EKONOMI INDONESIA PASCA PENGAKUAN KEDAULATAN PERISTIWA-PERISTIWA POLITIK INDONESIA PASCA PENGAKUAN KEDAULATAN Karena didesak Dewan Keamanan PBB, Belanda bersedia mengadakan perundingan Renvile dengan Indonesia dan dilanjutkan dengan perundingan KMB di Den Haag Belanda 1949 berhasil mengakhiri pertikaian Indonesia-Belanda dengan pengakuan kedaulatan kepada Indonesia. Pada 2 November 1949 di Den Haag terbentuklah negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari 16 negara bagian dan sebagai presidennya adalah Soekarno dan Moh. Hatta diangkat sebagai Perdama Menteri. Proses Kembalinya Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan Secara resmi Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 dengan bentuk negara RIS. Ternyata sebagian besar rakyat Indonesiatidak menyukai bentuk negara RIS dan menghendaki Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). a. Terbentuknya Negara Federasi RIS 14 Desember 1949 wakil-wakil pemerintah RI dan negara- negara bagian melakukan pertemuan musyawarah federal di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Pertemuan tersebut berhasil menyetujui Undang-undang Dasar RIS. Berdasarkan UUD RIS negara federasi RIS terdiri atas tujuh negara bagian (RI, NIT, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatra Timur-NST, Negara Sumatra Selatan), sembilan satuan kenegaraan (Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Dayak Besar, Banjar, Kalimantan Tenggara, Bangka, Biliton-Belitung, Riau Kepulauan, Jawa Tengah) dan tiga daerah swapraja (Waringin, Sabang, Padang). Selengkapnya negara-negara tersebut adalah sebagai berikut: - Republik Indonesia RI berdiri 17 Agustus 1945, sebagai presiden dan wakil presidennya adalah Soekarno dan Moh. Hatta. Pusat pemerintahan semula di Jakarta, tapi karena ada kekacauan yang ditimbulkan oleh Sekutu dan NICA, maka dipindah ke Yogyakarta. Dalam perjanjian Linggarjati secara de facto RI hanya terdiri dari Sumatra, Jawa dan Madura, bahkan semakin mengecil setelah perjanjian Renvile. Bahkan

Transcript of Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Page 1: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

BAB III

PERISTIWA-PERISTIWA POLITIK DAN EKONOMI INDONESIA PASCA

PENGAKUAN KEDAULATAN

PERISTIWA-PERISTIWA POLITIK INDONESIA PASCA PENGAKUAN

KEDAULATAN

Karena didesak Dewan Keamanan PBB, Belanda bersedia mengadakan

perundingan Renvile dengan Indonesia dan dilanjutkan dengan perundingan KMB di Den

Haag Belanda 1949 berhasil mengakhiri pertikaian Indonesia-Belanda dengan pengakuan

kedaulatan kepada Indonesia. Pada 2 November 1949 di Den Haag terbentuklah negara

Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari 16 negara bagian dan sebagai presidennya

adalah Soekarno dan Moh. Hatta diangkat sebagai Perdama Menteri.

Proses Kembalinya Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan

Secara resmi Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 dengan

bentuk negara RIS. Ternyata sebagian besar rakyat Indonesiatidak menyukai bentuk negara

RIS dan menghendaki Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

a. Terbentuknya Negara Federasi RIS

14 Desember 1949 wakil-wakil pemerintah RI dan negara-negara

bagian melakukan pertemuan musyawarah federal di Jalan Pegangsaan Timur 56

Jakarta. Pertemuan tersebut berhasil menyetujui Undang-undang Dasar RIS.

Berdasarkan UUD RIS negara federasi RIS terdiri atas tujuh negara bagian (RI,

NIT, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatra

Timur-NST, Negara Sumatra Selatan), sembilan satuan kenegaraan (Kalimantan

Barat, Kalimantan Timur, Dayak Besar, Banjar, Kalimantan Tenggara, Bangka,

Biliton-Belitung, Riau Kepulauan, Jawa Tengah) dan tiga daerah swapraja

(Waringin, Sabang, Padang). Selengkapnya negara-negara tersebut adalah sebagai

berikut:

- Republik Indonesia

RI berdiri 17 Agustus 1945, sebagai presiden dan wakil presidennya adalah

Soekarno dan Moh. Hatta. Pusat pemerintahan semula di Jakarta, tapi karena

ada kekacauan yang ditimbulkan oleh Sekutu dan NICA, maka dipindah

ke Yogyakarta. Dalam perjanjian Linggarjati secara de facto RI hanya terdiri

dari Sumatra, Jawa dan Madura, bahkan semakin mengecil setelah perjanjian

Renvile. Bahkan setelah KMB RI hanya merupakan salah satu negara bagian

dari RIS yang kepemimpinannya dijabat oleh Mr. Asaat (mantan ketua KNIP).

- Negara Pasundan

Diproklamasikan oleh Soeria Kartalegawa (Ketua Partai Rakyat Pasundan)

pada 4 Mei 1947 di Bandung, namun baru resmi terbentuk pada 5 Maret 1948

dengan wali negaranya RAA. Wiranatakusumah.

- Negara Indonesia Timur (NIT)

NIT merupakan negara pertama yang dibentuk Van Mook dalam konferensi

Denpasar pada 18-24 Desember 1946, wilayah NIT meliputi Bali, Nusa

Page 2: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Tenggara, Sulawesi dan Maluku dengan presidennya adalah Cokorde Gde

Raka Sukawati.

- Negara Madura

Dibentuk 23 Januari 1948 atas prakarsa Van Der Plas (tokoh Belanda yang

pandai bahasa Madura dan ahli agama islam) sebagai wali negaranya adalah

RAA. Cakraningrat.

- Negara Sumatra Timur

Berdiri berdasarkan surat keputusan Van Mook pada 24 Maret 1948,

wilayahnya meliputi Medan, Asahan Selatan, Labuhan Batu dan sekitarnya

dengan wali negaranya adalah Dr. Tengku Mansyur.

- Negara Sumatra Selatan (NSS)

Oleh Van Mook disetujui pada 30 Agustus 1948 dengan negaranya adalah

Abdul Malik. Wilayah NSS meliputiPalembang dan sekitarnya

- Negara Jawa Timur

Melalui konferensi di Bondowoso (16 November 1948) Van Der Plas

mendirikan Negara Jawa Timur, tapi secara resmi berdiri 26 November 1948

dengan wilayah meliputi Surabaya, Malang, daerah sebelah timur sampai

Banyuwangi dengan wali negaranya adalah RTP. Achmad Kusumonegoro.

- Daerah Istimewa Kalimantan Barat (Borneo)

Berdiri pada 12 Mei 1947 dan disetujui oleh Van Mook, dengan kepala

daerahnya adalah Sultan Hamid Algadrie II.

- Federasi Kalimantan Timur

Berdiri sejak Februari 1948, Tenggarong termasuk didalamnya.

- Daerah Otonom Dayak Besar

Dibentuk pada Desember 1946 dan baru memiliki konstitusi sejak Desember

1948, wilayahnya adalah daerah Kalimantan Tengah sekarang.

- Daerah Otonom Banjar

Terlahir sejak Januari 1948 dan meliputi Kalimantan Selatan sekarang.

- Dewan Federal Borneo Tenggara (DFBT)

Disetujui oleh Van Mook pada 9 Mei 1947, wilayahnya meliputi Pulau Laut

dan Kalimantan Tenggara, Pegatan, Cantung Sampanahan.

- Daerah Otonom Bangka, Biliton (Belitung) dan Riau Kepulauan

Diciptakan oleh Van Mook pada bulan Januari 1947 dan pada bulan Juni 1948

ketiganya bergabung menjadi federasi.

- Daerah Otonom Jawa Tengah

Dibentuk pada bulan Maret 1949 sesudah agresi militer Belanda II. Wilayah

Jawa Tengah meliputi sebagian Banyumas, Pekalongan dan Semarang.

b. Munculnya Gerakan Separatis

Sebagian masyarakat tidak mendukung terbentuknya RIS (kelompok unitaris) dan

sebagian lagi mendukung terbentuknya negara federal (kelompok federalis).

Kelompok unitaris banyak terdapat di negara Pasundan dan negara Jawa Timur,

Page 3: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

mereka menghendaki negara yang sesuai dengan UUD 1945 dan cita-cita

proklamasi 17 Agustus 1945. Kelompok federalis mulai melemah setelah

beberapa tokohnya berkhianat terhadap RIS yaitu Sultan Hamid II yang

bersekongkol dengan Raymond Westerling membantai rakyat di Sulawesi Selatan,

membunuh tentara republik di Bandung dan merencanakan pembunuhan terhadap

sejumlah petinggi RIS di Jakarta. Kelompok ini menamakan diri Angkatan Perang

Ratu Adil (APRA) yang ingin tetap mempertahankan negara Pasundan.

Di Sulawesi Selatan kapten Andi Azis menyerang markas TNI di Makasar dan

sejak 5 April 1950 Andi Azis menyatakan mempertahankan NIT. Di Maluku

Selatan muncul gerakan separatis RMS di bawah pimpinan Dr. Soumokil pada 25

April 1950.

c. Perjuangan Kembali ke Negara Kesatuan

RI, BFO dan Belanda menyepakati terbentuknya RIS, negara RIS yang berbentuk

federasi ini pada hakikatnya tidak sesuai dengan cita-cita proklamasi. Belanda

mendirikan RIS dengan maksud untuk mempermudah memecah belah

bangsaIndonesia. Belanda tetap berkeinginan bahwa pada suatu saat mereka akan

datang lagi untuk menguasai Indonesia. RakyatIndonesia menyadari bahwa RIS

adalah bentukan Belanda dan bukan keinginan rakyat negara-negara bagian

(apalagi tidak memiliki tujuan yang jelas, tidak memiliki ideologi yang kuat, tidak

memiliki tentara, kekuasaan dll). Pada awal Februari 1950 rakyat Jawa Barat,

Jawa Timur dan negara-negara bagian lainnya menuntut pembubaran negara-

negara bagian. Menanggapi situasi politik tersebut pada 8 Maret 1950 pemerintah

RIS mengeluarkan UU darurat No.11 tahun 1950 tentang tata cara perubahan

susunan kenegaraan RIS. Hingga pada 5 April 1950 terdapat tiga negara bagian

yaitu RI, NST dan NIT, negara yang lainnya bergabung dengan RI di Yogyakarta.

19 Mei 1950 dilangsungkan perundingan antara pemerintah RIS (Moh. Hatta-

wakil dari NST dan NIT) dengan pemerintah RI yang diwakili oleh Abdul Halim.

Perundingan tersebut menghasilkan persetujuan: RIS dan RI sepakat membentuk

negara kesatuan berdasarkan proklamasi 17 Agustus 1945 dan RI dan RI akan

membentuk panitia bersama yang bertugas menyusun undang-undang dasar

negara kesatuan. Untuk menyusun konstitusi negara kesatuan yang baru maka

dibentuklah panitia gabungan RIS dan RI dengan ketua bersama, menteri

kehakiman Prof. Dr. Mr. Soepomo dan wakil perdana menteri RI Abdul Halim.

Pada 14 Agustus 1950 parlemen RI dan senat RIS mengesahkan UUD NKRI

(UUD Sementara 1950). NKRI resmi berlaku sejak 17 Agustus 1950, secara

otomatis RIS bubar.

Persoalan Hubungan Pusat dan Daerah Pasca Pembentukan NKRI

Persoalan pertentangan antara pemerintah pusat dengan daerah, baik yang berupa

pertentangan ideologi antar partai maupun antar kepentingan, pergolakan sosial-politik ini

terjadi pada kurun waktu 1950-1965. Ditengah-tengah memburuknya keadaan pemerintahan

akibat pemberontakan di daerah, presiden Soekarno melontarkan suatu gagasan “Konsepsi

Page 4: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Presiden” pada 21 Februari 1957 di Istana Merdeka yang bertujuan untuk memperbaiki

kondisi dan kinerja pemerintahan. Isi Konsepsi Presiden tersebut adalah:

- Sistem demokrasi parlementer model barat tidak sesuai dengan

kepribadian Indonesia dan harus diganti dengan sistem demokrasi terpimpin.

- Untuk melaksanakan demokrasi terpimpin perlu dibentuk kabinet gotong royong yang

beranggotakan wakil-wakil semua partai dan organisasi berdasarkan perimbangan

kekuatan yang ada dalam masyarakat.

- Dibentuk dewan nasional yang terdiri dari wakil-wakil golongan fungsional dalam

masyarakat, dewan ini bertugas memberi nasehat kepada kabinet.

Pertentangan antara pusat dan daerah tersebut mengakibatkan munculnya berbagai

pembrontakan antara lain:

a. Peristiwa PRRI di Sumatra

Muncul setelah ada reuni mantan divisi banteng di Padangpada 20-25 November

1956. pertemuan ini melahirkan kesepakatan bahwa otonomi daerah yang seluas-

luasnya untuk menggali potensi daerah dan kekayaan daerah guna memenuhi

pembangunan dan disepakati pembentukan Dewan Banteng yang diketuai oleh

Achmad Husein (komandan Resimen IV dan Teritorium I di Padang).

Sejak 9 Desember 1956 Kasad mengeluarkan pengumuman yang melarang

perwira-perwira angatan darat melakukan kegiatan politik. Larangan tersebut

tidak diindahkan bahkan Achmad Husein mengambil alih kekuasaan gubernur

Ruslan Muljohardjo pada 20 Desember 1956. Selain dewan Banteng, muncul pula

dewan-dewan lain di daerah lain seperti:

- Dewan Gajah di Sumatera Utara (Kolonel Maludin Simbolon)

- Dewan Garuda di Sumatera Selatan (Letkol Barlian)

- Dewan Manguni di Sulawesi Utara (Letkol Ventje Sumual)

Pemerintah pusat berusaha menyelesaikan perselisihan pusat-daerah melalui cara

musyawarah. Pada bulan Maret 1957 diadakan konferensi Panglima Tentara dan

Teritorium seluruhIndonesia untuk menyelesaikan masalah pusat-daerah.

Kemudian diselenggarakan Munas (musyawarah nasional) pada bulan September

1957 dan Munap (musyawarah nasional pembangunan) pada bulan November

1957 yang bertujuan mempersiapkan usaha pembangunan di daerah-daerah secara

integral.

9 Januari 1958 diselenggarakan pertemuan yang membicarakan pembentukan

pemerintahan baru di Sungai Dareh, Sumtera Barat, pertemuan ini dihadiri oleh

pimpinan dewan-dewan dan tokoh-tokoh sipil seperti Syarif Usman, Burhanudin

Harahap dan Syafruddin Prawiranegara. Keesokan harinya Letkol Achmad Husein

mengeluarkan ultimatun kepada pemerintah pusat agar kabinet Djuanda

menyerahkan mandat kepada presiden dalam waktu 5 x 24 jam dan presiden

diminta untuk kembali kepada kedudukan sebagai presiden yang konstitusional.

Ultimatum ini ditolak oleh pemerintah bahkan Letkol Achmad Husein di pecat

dari Angkatan Darat. Achmad Husein kemudian mengumumkan berdirinya

Page 5: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

pemerintah revolusioner republik Indonesia (PRRI) di Padang pada 15 Februari

1958 dengan perdama menterinya Syarifudin Prawiranegara.

Untuk menumpas gerakan separatis PRRI pemerintah melakukan operasi militer

antara lain:

- Operasi Tegas (Letkol Kaharudin Nasution) untuk mengamankan Riau

- Operasi 17 Agustus (Kol Ahmad Yani) untuk mengamankan Sumatera Barat

- Operasi Saptamarga (Brigjen Djatikukumo) untuk mengamankan Sumatera Utara

- Operasi Sadar (Letkol Ibnu Sutowo) untuk mengamankan Sumatera Selatan

Dalam waktu singkat operasi gabungan ini dapat menumpas PRRI, Achmad

Husein beserta pasukannya menyerahkan diri pada 29 Mei 1961.

a. Peristiwa Permesta di Sulawesi

Di Makasar panglima tentara dan teritorium III Letkol Ventje Sumual

memproklamasikan berdirinya Piagam Perjuangan Semesta (Permesta) pada 2

Maret 1957 yang meliputi wilayah Sulawesi, Kep. Nusa Tenggara dan Maluku.

DJ. Somba (komando daerah militer Sulawesi Utara dan tengah) mengeluarkan

pernyataan bahwa sejak 17 Februari 1958 Sulawesi Utara dan Tenggara

memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat dan mendukung PRRI.

Pemerintah segera bersikap tegas untuk menumpas Permesta dengan melancarkan

operasi gabungan yaitu Operasi Merdeka (dipimpin Letkol Rukmito

Hendraningrat). Operasi ini terdiri dari beberapa bagian antara lain:

- Operasi Saptamarga I (Letkol Soemarsono) untuk mengamankan Sulawesi Utara

bagian tengah

- Operasi Saptamarga II (Letkol Agus Prasmono) untuk mengamankan Sulawesi

Utara bagian selatan

- Operasi Saptamarga III (Letkol Magenda) untuk mengamankan Kepulauan

sebelah utara Manado

- Operasi Saptamarga IV (Letkol Rukmito Hendraningrat) untuk mengamankan

Sulawesi Utara

- Operasi Mena I (Letkol Pieters) untuk mengamankan Jailolo

- Operasi Mena II (Letkol KKO Hunholz) untuk merebut lapangan udara Morotai

di sebelah utara Halmahera

Operasi militer APRI di Indonesia bagian timur merupakan operasi yang terberat

karena kondisi geografis yang sangat menguntungkan permesta dan pemberontak

memiliki persenjataan yang modern berupa pesawat pembon B-26 dan pemburu

Mustang yang diduga merupakan bantuan Amerika Serikat, hal ini terbukti

dengan ditembak pesawat yang dipiloti Allan Pope (orang Amerika Serikat).

a. Peristiwa APRA di Bandung

Adanya tuntutan dari mantan anggota tentara KNIL yang dibubarkan untuk tetap

menjadi angkatan peran negara bagian dan keengganan TNI bergabung dengan

KNIL merupakan salah satu penyebab munculnya pemberontakan APRA. Di

Bandung bekas anggota KNIL yang tidak mau bergabung dengan APRIS

Page 6: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

membentuk organisasi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin oleh

Raymond Westerling. APRA menuntut kepada pemerintah RIS agar organisasinya

diakui sebagai tentara Pasundan dan menolak dibubarkannya negara Pasundan.

Tuntutan APRA tidak dihiraukan oleh pemerintah, maka pada 23 Januari 1950

APRA melancarkan serangan terhadapa kota Bandung. Mereka membunuh

anggota TNI yang dijumpai dan berhasil menduduki markas staf Divisi Siliwangi

setelah membunuh 15 orang regu jaga diantaranya adalah Letkol Lembong.

Penyerbuan APRA tidak diduga sebelumnya sehingga gerombolan in berhasil

menguasai kota Bandung. Apalagi pada waktu yang bersamaan kesatuan divisi

siliwangi baru beberapa saat memasuki kota Bandung setelah melakukan Long

March dari Yogyakarta. Demikian juga panglima divisi siliwangi kolonel Sadikin

yang sedang mengadakan peninjauan ke Subang bersama Gubernur Jawa Barat

Sewaka.

Untuk menanggulangi APRA, pemerintah RIS segera mengirimkan kesatuan-

kesatuan polisi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang ketika itu di

berada Jakarta untuk ke Bandung. R Westeling berhasil meloloskan diri dari

pasukan TNI dan melanjutkan makarnya di Jakarta untuk menangkap semua

menteri RIS dan pejabat penting lainnya. Berkat kesigapan TNI gerakan

Westerling dapat digagalkan.

b. Peristiwa Andi Azis di Makasar

Pada 5 April 1950 terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh bekas tentara KNIL

dipimpin oleh Andi Azis. Alasan pemberontakan yang dilakukan Andi Azis

adalah tidak mau menerima kehadiran 900 pasukan APRIS yang berasal dari TNI

pimpinan Letkol Mokoginta dan ingin mempertahankan Negara Indonesia Timur

(NIT). Dalam pemberontakannya Andi Azis menuntut agar tentara bekas KNIL

diberi kekuasaan untuk bertanggung jawab atas keamanan di wilayah NIT.

Ultimatum dari pemerintah pusat agar Andi Azis bertanggung jawab atas

perbuatannya tidak diindahkan sehingga dalam waktu 4 x 24 jam pemerintah

mengirim pasukan di bawah pimpinan Alex Kawilarang untuk menumpas

pemberontakan Andi Azis. Hasilnya pada 15 April 1950 Andi Azis menyerahkan

diri.

c. Peristiwa RMS di Maluku

Didirikan oleh Dr. Soumokil (bekas Jaksa Agung NIT) pada 25 April 1950,

gerakan ini tidak menginginkan Indonesia kembali ke negara kesatuan dan tidak

menyetujui penggabungan KNIL ke dalam APRIS. Bekerjasama dengan Andi

Azis di Makasar tentara KNIL melakukan intimidasi dan teror terhadap rakyat

diAmbon. Pemerintah RIS berupaya menyelesaikan persoalan RMS dengan cara

damai yang dipimpin oleh Dr. J. Leimena, akan tetapi usaha ini tidak berhasil

sehingga dikirimlah pasukan yang dipimpin oleh Alex Kawilarang untuk

meredam pemberontakan RMS pada 14 Juli 1950. Pada saat berupaya menguasai

Ambon, pasukan APRIS dibagi menjadi 3 kelompok dengan pimpinan Mayor

Page 7: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Achmad Wiranatakusumah, Letkol Slamet Riyadi dan Mayor Suryo Subandrio

yang mendarat di Ambon pada 28 September 1950. Pertempuran terjadi dengan

RMS yang bertahan di Benteng Nieuw Victoria dan berhasil menangkap Dr.

Soumokil pada 12 Desember 1963 dan dijatuhi hukuman mati.

Pergantian Antar Kabinet yang Cepat dalam Sistem Kabinet Parlementer

Sejak RIS bubar, Indonesia berbentuk NKRI dengan berpedoman UUDS 1950 dan menganut

demokrasi liberal. Dalam sistem demokrasi liberal berlaku sistem kabinet parlementer dengan

ciri-ciri:

- Kedudukan kepala negara tidak dapat diganggu gugat

- Kabinet dipimpin perdana menteri yang bertanggung jawab pada parlemen

- Susunan anggota dan program kabinet didasarkan dengan suara terbanyak dalam

parlemen

- Masa jabatan kabinet tidak ditentukan dengan pasti

- Kabinet dapat dijatuhkan pada setiap waktu oleh parlemen dan pemerintah juga dapat

membubarkan parlemen

Pada masa demokrasi liberal telah terjadi pergantian kabinet sebanyak 7 kali. Tiap-tiap

kabinet tidak dapat berumur panjang rata-rata hanya berumur 1 tahun, padahal idealnya

pergantian 7 kali kabinet minimal akan menghabiskan waktu selama 35 tahun, jadi tidak

mengherankan apabila program-program setiap kabinet tidak sempat dilaksanakan.

Berikut kabinet yang pernah berkuasa diIndonesia pada masa demokrasi liberal:

a. Kabinet Natsir (6 Oktober 1950 - 21 Maret 1951)

Kabinet ini merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi dan

dilantik presiden pada 6 September 1950 dengan perdana menterinya Muhammad

Natsir. Kabinet ini memiliki formasi yang kuat karena didukung para tokoh yang

mempunyai keahlian dibidangnya seperti: Sultan Hamengkubuwono IX, Mr.

Asaat, Ir. Djuanda dan Dr. Soemitro Djojohadikusumo.

Program kabinet Natsir antara lain:

- Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman

- Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan

- Menyempurnakan organisasi angkatan perang

- Mengembangkan dan memperkuat kekuatan ekonomi rakyat

- Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat

Kabinet Natsir merintis perundingan bilateral masalah Irian Barat dengan

Belanda. Namun perundingan ini menemui jalan buntu sehingga dimanfaatkan

partai oposisi PNI dengan mengajukan mosi (kepercayaan) tidak percaya, selain

masalah Irian Barat mosi tidak percaya juga muncul terhadap persoalan

pembentukan DPRD yang dianggap menguntungkan Masyumi. Mosi ini diajukan

PNI pada 22 Januari 1951 dan dimenangkan oleh PNI, sehingga kabinet Natsir

menyerahkan mandatnya kepada presiden pada 21 Maret 1951

a. Kabinet Sukiman-Suwiryo (21 April 1951 - 23 Februari 1952) – 10 bulan

Page 8: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Pada 27 April 1951 dibentuklah kabinet baru yang merupakan koalisi partai PNI

dan Masyumi dengan dipimpin oleh Dr. Sukiman Wirjosandjojo (Masyumi) dan

Suwiryo (PNI).

Program kabinet Sukiman-Suwiryo antara lain:

- Menjalankan tindakan tegas sebagai negara hukum guna menjamin negara

hukum guna menjamin keamanan dan ketentraman

- Mengusahakan kemakmuran rakyat secepat-cepatnya

- Mempercepat persiapan pemilihan umum

- Menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan secepat-cepatnya memasukkan

Irian Barat ke dalam wilayah RI

Kabinet Sukiman-Suwiryo tidak berusia lama karena mendapat tentangan dari

partai koalisinya dan sejak 23 Februari 1952 kabinet ini demisioner. Penyebab

jatuhnya kabinet ini adalah karena ditandatanganinya bantuan ekonomi, teknik

dan persenjataan dari Amerika Serikat atas dasar Mutual Security Act (MSA),

ditafsirkan Indonesia telah memasuki blok barat dan bertentangan politik luar

negeri bebas aktif.

a. Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 3 Juni 1953) – 14 bulan

Muncul gagasan untuk membentuk zaken kabinet (kabinet yang didukung menteri

yang memiliki keahlian dibidangnya) dengan menunjuk Wilopo (PNI) sebagai

perdana menterinya.

Program Kabinet Wilopo antara lain:

- Melaksanakan Pemilu secepatnya

- Memajukan taraf hidup rakyat dan keamanan dalam negeri

- Memperjuangkan pengembalian Irian Barat dan melaksanakan politik luar negeri

bebas aktif menuju perdamaian dunia

Semasa kabinet ini berkuasa timbul separatisme dan terjadinya peristiwa Tanjung

Morawa (Sumatera Utara) yang ditunggangi PKI, sehingga parlemen bereaksi

keras dan mengajukan mosi tidak percaya.

a. Kabinet Ali Sastroamidjojo I (31 Juli 1953 - 24 Juli 1955) – 2 tahun

Dengan dukungan dari PNI dan NU, Mr. Ali Sastroamidjojo ditunjuk menjadi

perdana menteri.

Program kabinet Ali Sastroamidjojo I antara lain:

- Keamanan, pemilu, kemakmuran, keuangan, organisasi negara, perburuhan, dan

perundang-undangan

- Pengembalian Irian Barat

- Politik luar negeri bebas aktif

Pada masa ini muncul gerakan DI/TII di Jawa Barat, Aceh dan Sulawesi Selatan

serta beberapa gerakan perlawanan di daerah. Kabinet Ali Sastroamidjojo I

berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika (KAA). Penyebab jatuhnya

kabinet Ali Sastroamidjojo I adalah mosi tidak percaya menyangkut pergantian

Page 9: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

pimpinan di AD, kabinet Ali Sastroamidjojo I dianggap tidak mampu

menyelesaikan pertentangan pendapat antara pemerintah dengan TNI-AD.

e. Kabinet Burhanudin Harahap (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956) – 7 bulan

Kabinet ini merupakan kabinet koalisi dengan Masyumi sebagai partai inti.

Program kabinet Burhanudin Harahap antara lain:

- Mengembalikan kewibawaan pemerintah dengan memupuk kepercayaan

Angkatan Darat

- Pemilu, Desentralisasi, Mengatasi inflasi, Pemberantasan korupsi, Perjuangan

Irian Barat

- Memajukan kerjasama Asia-Afrika atas dasar politik bebas aktif

Keberhasilan kabinet Burhanudin Harahap adalah suksesnya penyelenggaraan

pemilu I dan pengangkatan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) yaitu Abdul

Haris Nasution. Kabinet ini jatuh karena dianggap telah menyelesaikan tugas

menyelenggarakan pemilu I.

f. Kabinet Ali Sastroamidjojo II (20 Maret 1956 – 14 Maret 1957) – 1 tahun

Kabinet Ali Sastroamidjojo II merupakan kabinet koalisi antara PNI, Masyumi

dan NU.

Program kabinet Ali Sastroamidjojo II antara lain:

- Merencanakan dan melaksanakan pembangunan 5 tahun

- Mengembalikan Irian Barat ke pangkuan RI

- Melaksanakan politik luar negeri bebas aktif

Pada masa kabinet Ali Sastroamidjojo II ternyata di daerah banyak terjadi gerakan

separatis seperti: munculnya Dewan Banteng, Dewan Gajah, Dewan Garuda,

Dewan Lambung Mangkurat (Kalsel) dan Dewan Manguni (Sulut). Sehingga

melemahkan kabinet.

g. Kabinet Djuanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959) – 26 bulan

Dengan menyusun program kerja yang disebut Pancakarya kabinet ini

memprogramkan:

- Membentuk dewan nasional

- Normalisasi keadaan republik

- Melancarkan pelaksanaan pembatalan KMB

- Perjuangan Irian Barat

- Mempergiat pembangunan

Dewan nasional berfungsi sebagai dewan penasihat kabinet untuk memperlancar

roda pemerintahan dan menjaga stabilitas politik untuk mendukung pembangunan

negara. Dewan ini beranggotakan 45 orang dengan ketua adalah Ir. Soekarno.

Tetapi kondisi negara semakin memburuk, terutama disebabkan oleh

pemberontakan yang terjadi di daerah-daerah. Oleh karena itu pada 10-14

September 1957 diselenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) di Gedung

Proklamasi Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Munas berhasil mengambil

keputusan yang intinya adalah saling pengertian untuk tetap membina persatuan

Page 10: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

dan kesatuan bangsa dan negaraIndonesia. Namun upaya pemerintah ini dalam

kenyataannya tidak berjalan mulus, pada 30 November 1957 terjadi percobaan

pembunuhan terhadap presiden Soekarno yang terkenal dengan Peristiwa Cikini.

Pada masa demokrasi liberal pergantian kabinet berlangsung terlalu cepat. Tokoh-

tokoh politik saling berebut kursi “politik dagang sapi”, sehingga berdampak

pada:

- Setiap kabinet hampir tidak sempat menjalankan program yang direncanakan

- Kepercayaan rakyat terhadap pemerintah semakin pudar

- Kondisi negara menjadi tidak stabil karena pergolakan sosial politik diberbagai

daerah belum tertangani

2. Terselenggaranya Pemilihan Umum 1955

a. Partai-partai Peserta Pemilu Pertama

Partai politik adalah kelompok terorganisir yang mempunyai orientasi, nilai-nilai

dan cita-cita yang sama untuk memperoleh, merebut dan mempertahankan

kekuasaan secara konstitusional. Masa pergerakan nasional mahasiswa memiliki

andil besar dalam upaya melahirkan partai-partai politik, apalagi setelah kelahiran

Budi Utomo 1908 banyak partai yang bermunculan, seperti SI (Sarekat Islam), IP

(Indische Partij) dsb.

Partai-partai pada masa pergerakan nasional dari segi perjuanganya dapat

dibedakan menjadi 2 macam:

- Partai-partai radikal (non kooperatif) seperti SI, PNI, Perhimpunan Indonesia

(PI), Indische Partij (IP), dan PKI. Partai-partai ini tidak mau bekerjasama

dengan pemerintah Belanda dengan tidak mau duduk daalam Dewan Rakyat

(Volksraad) bentukan Belanda.

- Partai-partai moderat (kooperatif) seperti Budi Utomo, Persatuan Bangsa

Indonesia (PBI), Partai Indonesia Raya (Parindra), Gerakan Rakyat Indonesia

(Gerindo), dan Gabungan Politik Indonesia (Gapi).

Sedangkan bila dilihat aspek orientasinya dapat dibedakan dalam hal ekonomi

(Sarekat Dagang Islam/SDI), agama (Sarekat Islam, PSII), nasionalis (Budi

Utomo, PNI, PBI, Parindra, IP, Partindo, Gapi) dan sosialis (ISDV dan PKI).

Partai-partai politik yang eksis pada masa radikal, gerak langkah perjuanganya

selalu mendapat pengawasan dari pemerintah Hindia Belanda melalui Politiek

Inlichtingen Dienst (PID) sebagai dinas rahasia yang bekerja menindas kaum

pergerakan. Keberadaan partai politik ketika itu amat diperlukan sebagai wadah

perjuangan rakyat untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Pada masa pendudukan Jepang partai-partai politik dilarang berdiri. Semua

kegiatan banyak diarahkan pada upaya memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Hanya organisasi sosial keagamaan yang mendapat kesempatan berdiri yaitu

MIAI yang kelak berubah menjadi Masyumi. Izin yang diberikan Jepang terhadap

MIAI berkaitan dengan upaya menarik simpati masyarakat islam agar membantu

proyek perang Jepang.

Page 11: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Setelah kemerdekaan pemerintah RI memerlukan adanya DPR/MPR sebagai

cerminan wakil rakyat yang sesuai dengan amanat UUD 1945. keberadaan

DPR/MPR tidak terlepas dari kebutuhan perangkat partai politik. Pada gilirannya

tiap partai politik tersebut akan berebut kursi untuk duduk di lembaga legislatif.

Pemerintah mengeluarkan maklumat pemerintah 3 November 1945 yang intinya

menyatakan pemerintah menghargai timbulnya partai-partai politik untuk

menyalurkan aliran dan paham yang ada dalam masyarakat. Sejak saat itu lahirlah

partai-partai politik yang hidup dengan partai-partai lama. Adapun partai-partai

politik tersebut adalah:

- Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dipimpin oleh dr. Sukiman sejak

7 November 1945

- Partai Komunis Indonesia (PKI) dipimpin oleh Moh. Jusuf sejak 7 November

1945

- Partai Buruh Indonesia (PBI) dipimpin oleh Nyono didirikan sejak 8 November

1945

- Partai Rakyat Jelata dipimpin oleh Sutan Dewanis didirikan sejak 8 November

1945

- Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dipimpin oleh Probowinoto didirikan 10

November 1945

- Partai Sosialis Indonesia (PSI) dipimpin oleh Mr. Amir Syarifuddin didirikan 10

November 1945

- Partai Rakyat Sosialis (PRS) dipimpin oleh Sutan Syahrir didirikan 20 November

1945

- Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI) dipimpin oleh I.J Kasimo didirikan 8

November 1945

- Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai) dipimpin oleh JB. Assa didirikan

17 Desember 1945

- Partai Nasional Indonesia (PNI) dipimpin oleh Didik Joyosukarto sejak 29

Januari 1946

b. Penyelenggaraan Pemilihan Umum Pertama RI

Sejak kembali ke NKRI sebagian partai-partai politik yang ada tidak bekerja

sebagai penyalur aspirasi rakyat. Mereka hanya memperjuangkan kepentigan

golongan atau pribadi. RakyatIndonesia menjadi frustasi melihat kepincangan

politik, sehingga rakyat menuntut segera diadakan pemilihan umum.

Persiapan pemilu mulai dirintis semasa kabinet Ali I dan pelaksanaannya

dilakukan pada masa kabinet Burhanudin Harahap. Pemilu pertama berlangsung 2

tahap yaitu:

- Tahap pertama pada 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR

- Tahap kedua pada 15 Desember 1955 untuk memilih anggota dewan konstituante

(badan pembuat undang-undang dasar)

Page 12: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Dari 28 kontestan, pemilu pertama Indonesia memunculkan empat partai besar

yaitu: Masyumi, PNI, NU dan PKI. Perolehan kursi DPR antara lain Masyumi 60,

PNI 58, NU 47 dan PKI 32, sedangkan perolehan kursi dewan konstituante antara

lain PNI 119, Masyumi 112, NU 91 dan PKI 80.

3. Latar Belakang Keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Pengaruh yang Ditimbulkan

a. Upaya Dewan Konstituante Menyusun UUD

Tugas Dewan Konstituante adalah merancang UUD baru sebagai pengganti

UUDS 1950. anggota dewan ini bersidang pada 10 November 1956, ternyata

sampai tahun 1958 dewan konstituante belum berhasil merumuskan UUD. Hal ini

disebabkan sering timbulnya perdebatan yang berlarut-larut, masing-masing partai

mementingkan partainya. Sementara dikalangan masyarakat menuntut agar

diberlakukannya kembali ke UUD 1945. menanggapi hal tersebut presiden

Soekarno menyampaikan amanatnya di depan sidang dewan konstituante pada 25

April 1959 yang isinya menganjurkan untuk kembali ke UUD 1945. amanat ini

menjadi perdebatan dan akhirnya diputuskan melakukan pemungutan suara. 30

Mei 1959 pemungutan suara dengan hasil 269 suara menyetujui UUD 1945 dan

199 suara tidak setuju. Tetapi suara terbanyak belum memenuhi kuorum (dua

pertiga jumlah minimal anggota yang hadir) sehingga pemungutan suara harus

diulang. Pemungutan suara kembali diadakan pada 1 dan 2 Juni 1959, tetapi selalu

gagal mencapai kuorum, sehingga untuk meredam kebuntuan dewan konstituante

memutuskan reses (istirahat dari kegiatan sidang). Kegagalan dewan konstituante

menetapkan UUD baru tentu saja sangat membahayakan kelangsungan negara.

Pemberontakan-pemberontakan di daerah terus bergejolak dan gangguan

keamanan pun semakin gawat. Timbulnya ketidakstabilan negara itu disebabkan

negara tidak memiliki pedoman konstitusi yang jelas. Untuk mencegah ekses yang

membahayakan negara pada 3 Juni 1959 penguasa perang pusat (Letjen AH

Nasution) atas nama pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang kegiatan-

kegiatan politik.

b. Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Setelah dewan konstituante gagal menetapkan UUD 1945 menjadi konstitusi RI,

presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang diumumkan dalam upacara resmi di

Istana Merdeka pada 5 Juli 1959 pukul 17.00 yang berisi antara lain:

- Pembubaran Dewan Konstituante

- Pemberlakuan kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950

- Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya

Dekrit presiden tersebut mendapat dukungan dari masyarakat. Kasad

memerintahkan kepada segenap anggota TNI untuk melaksanakan dan

mengamankan dekrit tersebut. Mahkamah Agung membenarkan dekrit tersebut.

DPR dalam sidangnya pada 22 Juli 1959 secara aklamasi menyatakan kesediaanya

untuk terus bekerja dengan berpedoman kepada UUD 1945.

c. Pengaruh Dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Page 13: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Semenjak pemerintah RI menetapkan dekrit presiden 5 Juli

1959, Indonesia memasuki babak sejarah baru, yakni berlakunya kembali UUD

1945 dalam kerangka “Demokrasi Terpimpin”. Menurut UUD 1945 demokrasi

terpimpin mengandung pengertian kedaulatan rakyat yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Yang dimaksud

permusyawaratan/perwakilan adalah majelis pemusyawaratan rakyat (MPR)

sebagai pemegang kedaulatan. Dengan demikian harus dimaknai bahwa

kedaulatan ada di tangan rakyat dan sepenuhnya dilakukan oleh MPR. Namun

makna ini kemudian ditafsirkan lain oleh pemerintah saat itu. Presiden Soekarno

menafsirkan pengertian terpimpin sebagai suatu figur pimpinan yang memiliki

peran menentukan dalam mengambil keputusan-keputusan yang tepat agar

pemerintah dapat berjalan dengan baik. Akibatnya kekuasaan lebih banyak

berpusat di tangan presiden daripada kekuasaan lembaga legislatif (DPR).

Dalam perjalanan selanjutnya, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 ditindaklanjuti dengan penataan

bidang politik, sosial-ekonomi dan pertahanan keamanan. Sebagai realisasinya pada 20

Agustus 1959 Presiden Soekarno menyampaikan surat No.2262/HK/59 kepada DPR yang

isinya menekankan kepada kewenangan presiden untuk memberlakukan peraturan negara

baru. Selain ia juga harus membuat peraturan negara menurut UUD 1945. atas dasar

peraturan negara baru tersebut, presiden membentuk lembaga negara seperti: MPRS, DPAS,

DPR-GR, Kabinet Kerja dan Front Nasional.

1) Pembentukan MPRS

Dibentuk melalui penetapan presiden No.2 Tahun 1959. keanggotaan MPRS terdiri atas

anggota-anggota DPR sebanyak 261 orang, utusan daerah 94 orang dan wakil golongan

sebanyak 200 orang. Susunan pimpinan MPRS adalah sebagai berikut:

Ketua : Chaerul Saleh

Wakil Ketua : Mr. Ali Sastroamidjojo

Wakil Ketua : JH. Idham Khalid

Wakil Ketua : DN Aidit

Wakil Ketua : Wiluyo Puspoyudo

Menurut penetapan presiden No.12 Tahun 1959, tugas MPRS hanya sebatas pada

kewenangan menetapkan GBHN. Hal ini menunjukkan bahwa presiden berusaha

membatasi kewenangan MPRS. Demikian pula tentang keberadaan semua pimpinan

MPRS yang dalam praktiknya diangkat oleh presiden. Para pimpinan MPRS yang

diangkat presiden tersebut adalah para menteri yang memegang departemen-

departemen. Sebagai pimpinan MPRS sekaligus anggota kabinet. Hal ini berarti bahwa

MPRS bukan lagi sebagai lembaga negara tertinggi. MPRS mempunyai kedudukan di

bawah presiden. Dengan demikian kedaulatan rakyat berada di bawah presiden.

Pada tahun 1960 – 1965 MPRS telah melakukan 3 kali persidangan yang dilaksanakan

di Gedung Merdeka Bandung. Adapun sidang-sidang tersebut adalah:

a. Sidang umum pertama (10 November – 7 Desember 1960) menghasilkan ketetapan

MPRS No. I/MPRS/1960 yang menetapkan manifesto politik

Page 14: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

republik Indonesia sebagai GBHN, ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 tentang

garis-garis pola pembangunan nasional semesta berencana tahapan pertama 1961 –

1969.

b. Sidang umum kedua (15 22 Mei 1963) diantaranya menghasilkan ketatapan MPRS

No. III/MPRS/1963 tentang pengangkatan presiden Soekarno/mandataris MPRS

menjadi presiden seumur hidup.

c. Sidang umum ketiga (11 – 16 April 1965) diantaranya menghasilkan ketetapan

MPRS No. V/MPRS/1965 tentang pidato presiden Soekarno berjudul “Berdiri di

atas kaki sendiri (Berdikari)” sebagai pedoman revolusi dan politik luar

negeriIndonesia.

2) Pembentukan DPAS

Dibentuk berdasarkan penetapan presiden No.3 tahun 1959 antara lain:

a. Anggota DPAS diangkat dan diberhentikan oleh presiden

b. Tugas DPAS adalah memberi jawaban atas pernyataan presiden dan mengajukan usul

kepada pemerintah

c. Anggota DPAS sebanyak 45 orang yang terdiri dari wakil golongan politik, ututsan

daerah, wakil golongan dan seorang ketua.

d. DPAS dipimpin oleh presiden sebagai ketua

e. Sebelum memangku jabatan, wakil ketua dan anggota DPAS mengangkat

sumpah/janji di hadapan presiden

3) Pembentukan DPR-GR

Dibentuk melalui penetapan presiden No. 4 tahun 1960. DPR-GR dibentuk

menggantikan DPR hasil pemilu 1955 yang dibubarkan presiden sejak 5 Maret 1960

karena menolak mengesahkan rencana anggaran pendapatan dan belanja negara

(RAPBN) untuk tahun 1961 yang diajukan presiden. Semua anggota DPR-GR diangkat

oleh presiden sebanyak 283 orang yang terdiri dari 153 mewakili partai dan 130

mewakili golongan-golongan. Menurut Penpres No.32 Tahun 1964, DPR-GR adalah

sebagai pembantu presiden menurut bidangnya masing-masing dan melaporkan kepada

presiden pada waktu-waktu tertentu.

4) Pembentukan Kabinet Kerja

10 Juli 1959 Kabinet Djuanda (kabinet karya) dibubarkan dan sebagai gantinya adalah

kabinet kerja yang dipimpin oleh presiden (sebagai perdana menteri) dan Ir. Djuanda

ditunjuk sebagai menteri pertama. Kabinet kerja mempunyai 3 program yaitu:

mencukupi kebutuhan sandang pangan, menciptakan keamanan negara dan melanjutkan

perjuangan merebut Irian Barat.

5) Pembentukan Front Nasional

Dibentuk dengan Penpres No.13 Tahun 1959 pada 31 Desember 1959. lembaga ini

merupakan organisasi masa yang berusaha memperjuangkan cita-cita proklamasi dan

cita-cita bangsa seperti yang terkandung dalam UUD 1945. front Nasional diketuai oleh

presiden Soekarno dengan tujuan: menyelesaikan revolusi nasionalindonesia,

Page 15: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

melaksanakan pembangunan semesta nasinal dan mengembalikan Irian Barat ke dalam

wilayah RI.

PERISTIWA-PERISTIWA EKONOMI INDONESIA PASCA PENGAKUAN

KEDAULATAN

Kondisi Ekonomi Indonesia Menjelang Pengakuan Kedaulatan

Republik Indonesia yang baru berdiri mewarisi kondisi ekonomi yang kacau akibat

pendudukan Jepang. Awal kemerdekaan, kondisi ekonomi dilanda inflasi. Penyebabnya

adalah mata uang Jepang beredarnya mata uang Jepang yang tidak

terkendali. Pemerintah RI belum bisa menyatakan bahwa mata uang Jepang tidak berlaku,

karena belum memiliki uang sendiri sebagai penggantinya. Untuk sementara pemerintah

mengakui beredarnya 3 mata uang yaitu mata uang De Javanche Bank, mata uang Hindia

Belanda dan mata uang Jepang. Situasi perekonomian diperparah dengan adanya blokade laut

oleh Beland sejak kedatangannya kembali keIndonesia bersama sekutu. Dalam upaya untuk

mengatasi hal tersebut pemerintah RI melalui menteri keuangan (Ir. Surachman)

mengeluarkan kebijakan “pinjaman nasional” yang disetujui oleh BPKNIP. Pinjaman itu

direncanakan akan mencapai Rp. 1.000.000.000. yang dibagi dalam dua tahap. Pinjaman

akan dibayar kembali selambatnya dalam waktu 40 tahun. Ternyata kebijakan pemerintah

mendapat sambutan dan dukungan yang baik dari rakyat. Buktinya pemerintah berhasil

mengumpulkan uang sejumlah pegadaian. Sukses yang dicapai ini merupakan suatu ukuran

bagi besarnya kepercayaan dan dukungan rakyat kepada pemerintah dan aparatnya. Pada 6

Maret 1946 Belanda mengumumkan pemberlakuan uang baru yaitu mata uang NICA untuk

menggantikan mata uang Jepang.Pemerintah RI mengingatkan kepada masyarakat bahwa di

wilayah RI hanya berlaku 3 mata uang sebagaiman yang telah diumumkan pada 1 Oktober

1945. sebagai tindak lanjut pemerintah mengeluarkan uang kertas baru yang dinamai Oeang

Repoeblik Indonesia (ORI). Sejak saat itu terjadi penukaran 1.000 mata uang Jepang ditukar

dengan Rp. 1 mata uang ORI. Kebijakan pemerintah ini cukup memperbaiki kondisi

ekonomi Indonesiakendatai belum memperbaiki keadaan seluruhnya.

Pemerintah RI selanjutnya mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI) pada 5 Juli 1946 dan

mendirikan Banking and Trading Corporation (BTC). BTC berhasil mengadakan kesepakatan

dagang dengan perusahaan swasta Amerika Serikat-Isbrantsen Inc yang bersedia membeli

gula, karet, teh dll dari Indonesia. Konferensi ekonomi pertama (Feb 1946) dan kedua (6 Mei

1946) diselenggaarakan dalam upaya untuk menanggulangi masalah ekonomi. Kebijakan

yang berhasil dibuat antara lain yaitu mendirikan Badan Persediaan dan Pembagian Bahan

Makanan (PPBM-kemudian sekarang dikenal dengan Bulog), pembentukan Perusahaan

Perkebunan Negara (PPN), pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) pada

19 Januari 1947 atas usul dr. AK Gani (menteri kemakmuran). Kebijakan Planning Board

antara lain: menyatakan semua banguan umum, perkebunan dan industri yang sebelum

perang milik negara jatuh ke tangan pemerintah RI. Bangunan umum vital milik asing akan

dinasionalisasikan dengan pembayaran ganti rugi. Perusahaan modal asing akan

dikembalikan kepada yang berhak sesudah diadakan perjanjian RI-Belanda. Ternyata usaha

Planning Board ini belum membawa hasil yang diharapkan, sehingga menteri urusan bahan

Page 16: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

makanan IJ Kasimo merencanakan kegiatan ekonomi selama lima tahun yang terkenal

dengan Plan Kasimo. Isi Plan Kasimo adalah anjuran untuk memperbanyak kebun bibit dan

padi unggul. Penyembelihan hewan pertanian harus dicegah dan tanah kosong harus ditanami

kembali, transmigrasi penduduk dari pulau Jawa ke Sumatera.

Kebijakan-kebijakan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Gunting Syarifudin

Adalah pemotongan nilai mata uang (sanering) diatas Rp. 2,50 menjadi setengahnya, ini

dilakukan pada 20 Maret 1950 oleh menteri keuangan RIS Syarifudin Prawiranegara.

Program Benteng (Benteng Group)

Dr. Sumitro Djojohadikusumo berpendapat bahwa hal yang perlu dilakukan dalam

pembangunan ekonomi Indonesia adalah mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi

struktur ekonomi nasional. Untuk itu perlu ditumbuhkan pengusaha-pengusaha pribumi agar

dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Pemerintah mencoba berperan

dalam membantu memberikan bantuan kredit dan memberikan bimbingan konkret. Gagasan

Sumitro tersebut selanjutnya dituangkan dalan program kabinet Natsir. Program benteng

dimulai pada April 1950 dan selama 3 tahun tidak kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia

menerima bantuan kredit, akan tetapi program ini tidak berjalan mulus karena karena

pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi dan mentalitas

pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif.

Nasionalisasi de Javasche Bank

Ketentuan dalam KMB mengenai De Javasche Bank sangat merugikan bangsa Indonesia.

Dalam perjanjian tersebut ditetapkan bahwa suatu peraturan pemerintah Indonesia tentang De

Javasche Bank dan pemberian kredit dari De Javasche Bank kepada

pemerintah Indonesia harus dikonsultasikan kepada pemerintah Belanda. Pada 19 Juni 1951

kabinet sukiman membentuk panitia nasionalisasi De Javasche Bank, berdasarkan keputusan

pemerintah RI No.122 dan 123 tanggal 12 Juli 1951 pemerintah menghentikan Dr. Houwink

sebagai presiden De Javasche Bank dan mengangkat Mr. Syarifudin Prawiranegara sebagai

presiden De Javasche Bank yang baru. Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi

Bank Indonesiasebagai Bank Sentral dan Bank Sirkulasi.

Sistem Ekonomi Ali Baba

Atas prakarsa Mr. Iskaq Cokrohadisuryo menteri perekonomian dalam kabinet Ali

Sastroamijoyo I. kabinet ini memprioritaskan kebijakan Indonesianisasi dengan

mengutamakan pertumbuhan pengusaha swasta nasional pribumi dalam rangka merombak

ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional. Dalam sistim ini Ali digambarkan sebagai

pengusaha pribumi sedangkan Baba sebagai pengusaha non pribumi. Untuk memajukan

ekonomi Indonesia perlu ada kerja sama antara pengusaha pribumi dan non pribumi.

Pengusaha non pribumi diwajibkan memberikan latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-

tenaga bangsa Indonesia agar dapat menduduk jabatan-jabatan staf. Pemerintah menyediakan

kredit dan lisensi bagi usaha-uasaha swata nasional dan memberikan perlindungan agar

mampu bersaing dengan perusahaan asing. Program ini tidak berjalan mulus karena

Page 17: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

pengusaha pribumi kurang pengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan

bantuan kredit dari pemerintah.

Persetujuan Finansial Ekonomi (Finek)

Pada masa pemerintah kabinet burhanudin harahap Indonesia mengirim delegasi ke Jenewa

untuk merundingkan masalah finansial ekonomi antaraIndonesia dengan Belanda. Misi

dipimpin oleh Anak Agung Gede Agung. Pada 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan rencana

persetujuan finansial ekonomi yaitu:

- Persetujuan finek hasil KMB dibubarkan

- Hubungan finek Indonesia-Belanda didasarkan atas hubungan bilateral

- Hubungan finek didasarkan pada UU nasional dan tidak boleh diikat oleh perjanjian lain

antara kedua belah pihak

Karena pemerintah Belanda tidak mau menandatangi rencana persetujuan ini, maka

pemerintah RI mengambil langkah sepihak dengan melakukan pembubaran Uni Indonesia-

Belanda pada tanggal 13 Februari 1956. hal ini dimaksudkan untuk melepaskan diri dari

keterikatan ekonomi dengan Belanda. Pada 3 Mei 1956 presiden Soekarno menandatangai

undang-undang pembatalan KMB. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual

perusahaannya, sementara itu pengusaha pribumi belum mampu mengambil alih perusahaan-

perusahaan tersebut.

Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT)

Ketidakstabilan politik dan ekonomi menjadi penyebab terjadinya kemerosotan ekonomi,

inflasi dan lambatnya pelaksanaan pembangunan. Pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo II,

Pemerintah membentuk badan perencanaan pembangunan nasional yang disebut Biro

Perancang Negara untuk merencanakan pembangunan jangka panjang dengan Ir. Djuanda

sebagai menteri perancang nasional.

Bulan Mei 1956 biro ini berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT)

yang rencananya akan dilaksanakan antara tahun 1956-1961. RUU rencana pembangunan ini

disetujui oleh DPR pada 11 November 1958. pada tahun 1957 akibat perubahan politik dan

ekonomi sasaran dan prioritas RPLT ini diubah dalam Musyawarah Nasional Pembangunan

(Munap). RPLT tidak berjalan dengan baik karena:

- Adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa Barat yang mengakibatkan ekspor

dan pendapatan negara merosot

- Perjuangan membebaskan Irian barat dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-

perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan gejolah ekonomi

- Adanya ketegangan antara pusat dan daerah, sehingga banyak daerah yang melakukan

kebijakan ekonominya sendiri-sendiri

Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap)

Ketegangan antara pusat dan daerah pada masa kabinet Djuanda untuk sementara waktu

dapat diredakan dengan diadakannya Munap. Ir. Djuanda memberikan kesempatan kepada

Munap untuk mengubah rencana pembangunan itu agar dapat dihasilkan rencana

pembanguan yang menyeluruh untuk jangka panjang. Akan tetapi, rencana pembangunan ini

tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena kesulitan dalam menentukan prioritas. Selain itu

Page 18: Peristiwa-peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

masih belum redanya ketegangan politik antara pusat dengan daerah menjadi penyebab

macetnya rencana pembangunan tersebut.