PERGOLAKAN POLITIK UMAT Politik Umat Islam.pdf¢  Pergolakan Politik Umat Islam: Studi Atas...

download PERGOLAKAN POLITIK UMAT Politik Umat Islam.pdf¢  Pergolakan Politik Umat Islam: Studi Atas Kondisi Sosial

of 175

  • date post

    15-Dec-2020
  • Category

    Documents

  • view

    3
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PERGOLAKAN POLITIK UMAT Politik Umat Islam.pdf¢  Pergolakan Politik Umat Islam: Studi Atas...

  • PERGOLAKAN POLITIK

    Studi Atas Kondisi Sosial Politik Pasca Ustman ibn Affan

    UMAT ISLAM

    HASARUDDIN

  • i

    HASARUDDIN

    Studi Atas Kondisi Sosial Politik

    Pasca Ustman Ibn Affan

    Penerbit: Pusaka Almaida

    Makassar

  • ii

    Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT) Hasaruddin

    Pergolakan Politik Umat Islam: Studi Atas Kondisi Sosial Politik Pasca Ustman Ibn Affan/ Hasaruddin, Makassar; Pusaka Almaida, 2018

    vi, 168 hlm.; 16 X 23 cm ISBN: 978-602-0762-17-3

    Sanksi Pelanggaran Pasal 44 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas Undang-undang No. 6 Tahun 1982 Tentang Hak cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987.

    1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)

    2. Barang siapa yang dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)

    Editor : Sitti Mania Desain Cover : Ikhlas Penerbit : Pusaka Almaida Makassar

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Shalawat atas junjungan Nabi Muhammad SAW, sehingga buku dengan judul “Pergolakan Politik Umat Islam (Studi Atas Kondisi Sosial Politik Pasca Ustman ibn Affan)” dapat terselesaikan.

    Buku ini pada dasarnya disusun untuk memenuhi kebutuhan para peminat akan referensi Sejarah Peradaban Islam dibidang kajian sejarah dan dinamika politik umat Islam. Namun demikian, membaca buku ini dari awal sampai akhir, tidak berarti keseluruhan pembahasan kajian politik pasca Ustman ibn Affan tersaji secara tuntas, karena apa yang dipaparkan dalam buku ini merupakan sebagian kecil saja dari keseluruhan pembahasan dinamika internal umat Islam pasca Ustman.

    Ucapan terima kasih kepada Rektor UIN Alauddin Makassar, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang telah memberi kepercayaan kepada Penulis untuk mengampuh mata kuliah Sejarah Peradaban Islam hingga saat ini.

    Dalam proses penulisan buku ini, penulis telah berusaha dengan segenap kemampuan yang ada, namun pada lembaran-lembaran buku ini masih terdapat berbagai macam kekurangan. Karena itu, kritik dan saran dari para pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan buku ini ke depan.

    Semoga buku ini membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kita semua dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Amin

    Wassalam Penyusun

  • iv

  • v

    DAFTAR ISI

    Pengantar ...................................................................... iii

    Daftar Isi ...................................................................... v BAB I. PENDAHULUAN ......................................... 1

    A. Abu Bakr Khalifah Rasulullah ................ 1 B. Umar ibn Khattab ..................................... 21

    BAB II. KEHIDUPAN, SIFAT DAN

    KEUTAMAAN USTMAN IBN AFFAN .. 43 A. Biografi Ustman ibn Affan (576-656 M.) 43 B. Keadilan dan Keistimewaan Ustman ... 47 C. Pribadi yang Takut kepada Allah swt ... 49

    BAB III. KEBIJAKAN POLITIK USTMAN ............. 51

    A. Modifikasi Alquran ................................ 55 B. Ekspansi ................................................... 62 C. Nepotisme yang Dilakukan Ustman .... 72 D. Kritik Terhadap Kebijakan Ustman ..... 86

    BAB IV. KONDISI SOSIAL POLITIK PASCA

    USTMAN IBN AFFAN ............................... 99 A. Sebab-sebab Munculnya Gerakan Anti

    Ustman ..................................................... 99 B. Abdullah ibn Saba Menantang

    Ustman ..................................................... 106 C. Terbunuhnya Khalifah Ustman ............ 123 D. Tahkim dan Kemenangan Politis

    Muawiyah ................................................ 137 BAB V. P E N U T U P ................................................ 159 DAFTAR PUSTAKA ...................................................... 165

  • vi

  • 1

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Abu Bakr Khalifah Rasulullah

    mpat hari sebelum Muhammad saw., wafat, beliau berkata kepada para sahabat: ”Kemarilah kalian, aku tuliskan sebuah pesan agar kalian tidak sesat selamanya”.

    Pada saat itu ada beberapa sahabat terkemuka di rumah beliau, salah satunya Umar ibn Khattab. Umar berkata,”Sesungguhnya rasa sakit telah mempengaruhi Rasulullah saw, kalian telah memiliki Alquran, maka cukuplah Alquran bagi kalian”. (al- Mubarakfury, 2004: 640).

    Sepeninggal Muhammad, masyarakat muslim yang baru lahir itu dihadapkan kepada sesuatu yang berujud krisis konstitusional. Nabi Muhammad saw., memang tidak mewariskan ketetapan undang-undang pelaksanaan, bahkan tidak juga menciptakan suatu dewan dalam jalinan Majlis kesukuan, yang mungkin dapat mengemban kewibawaan selama dalam periode transisi yang genting. Keunikan dan dan karakter kewibawaan esklusif yang beliau anggap sebagai eksponen kemauan Tuhan, sama sekali tidak dapat memberi bantuan kepada beliau untuk mengangkat teman sekerja, atau bahkan calon-calon terpilih sepanjang hidup beliau. (Lewis, 1994: 37).

    Konsep peralihan kepemimpinan pemerintahan tidak dikenal oleh bangsa Arab pada waktu itu, dan adalah hal yang memungkinkan adalah jika saja Muhammad meninggalkan seorang anak lelaki, maka susunan peristiwanya akan tidak berbeda juga kejadiannya.

    Tradisi Arab yang menetapkan bahwa seorang Syeikh harus dipilih dari satu kalangan famili, rupanya telah sedikit memberi pengaruh, dan di dalam kasus lain, tuntutan-tuntutan mertua seperti Abu Bakr atau keponakan seperti Ali, sedemikian jauh mengandung sedikit paksaan pada kelompok polygami. Orang-orang Arab memiliki hanya satu preseden untuk memimpin hidup mereka. Orang-orang Madinah bertindak memilih seorang dari suku Khazraj, dengan

    E

  • 2 _ Pergolakan Politik Umat Islam

    demikian secara insindentil mengumumkan ketidak pastian Islam mereka (Lewis, 1994: 38).

    Krisis telah dipertemukan dengan adanya tindakan yang tegas dari tiga tokoh sahabat terkemuka: Abu Bakr al-Shiddiq, Umar ibn Khattab dan Abu Ubadah yang dianggap mampu menangani berbagai kelompok, menunjuk Abu Bakr sendiri sebagai pembantu Nabi (dalam mengimani shalat berjamaah saat Nabi saw., sakit keras). Di hari kemudian, kaum Muhajirin dan Anshar di hadapkan pada suatu sikap ambigu terhadap penunjukan Abu Bakr sebagai Khalifah. Abu Bakr menerima amanah sebagai khalifah, yang dalam penulisan Eropa dinyatakan sebagai caliph, dan pemilihan Abu Bakr menandakan wisuda khalifah, lembaga yang besar dalam sejarah. Para pemilihnya tidak memiliki cita-cita untuk di kemudian hari menjabat dalam fungsi dan perkembangan kekhalifahan ini.

    Sebelum penunjukan Abu Bakr sebagai khalifah, para sahabat berkumpul di Tsaqifah Bani Saidah untuk membicarakan prosesi pergantian kepemimpinan pasca wafatnya Muhammad saw. Pemuka Anshar al-Hubab bin Munzir bin al-Jamuh berkata: ”Saudara-saudara Anshar, hendaklah kita pertahankan hak kita. Masyarakat Anshar berada di belakang kita. Tak akan ada yang berani menantang kita dan orang tak menjalankan suatu kebijakan tanpa meminta pertimbangan dari kita. Kekayaan dan kehormatan terletak di pundak kaum Anshar, demikian pula jumlah massa. Kita memiliki pertahanan dan pengalaman, kekuatan dan kesiagaan... ... sekarang dari pihak kami akan menunjuk seorang pemimpin dan saudara-saudara diharapkan menunjuk seorang pemimpin pula. Hal tersebut ditepis oleh Umar ibn Khattab (Haikal, 2009: 42).

    Di tengah perdebatan tersebut, Abu Bakr mengajukan dua calon khalifah: Abu Ubadah bin Jarrah dan Umar ibn Khattab, dengan memegang kedua tangan mereka seraya mengajak kaum Anshar menjaga persatuan dan menghindari perpecahan:” Ini Umar dan ini Abu Ubadah, berikan ikrar tuan- tuan kepada siapa saja yang tuan-tuan dukung”. Saat itu, kegaduhan kembali mencuat, para pemuka kelompok

  • Pendahuluan _ 3

    khawatir, jika Umar yang ditunjuk sebagai pemimpin, mereka takut Umar akan berlaku kasar kepada mereka, sementara Abu Ubadah kedudukannya belum mendapat pengaruh kuat dari kaum muslimin.

    Umar tidak membiarkan perdebatan berlanjut terus menerus, maka dengan suara yang lantang beliau membaiat Abu Bakr sebagai khalifah yang diikuti oleh Abu Ubadah. Dengan lantang mengatakan;”Apakah kalian masih meragukan orang yang dipercaya Rasulullah saw., untuk menggantikan beliau jika beliau berhalangan memimpin kalian shalat berjamaah? Kalian sebagai saksi, maka berbaiatlah kepada Abu Bakr”. Kemudian para sahabat ikut membaiat Abu Bakr dan perdebatan pun telah selesai. (Wilson, 1968: 36).

    Proses pemilihan Abu Bakr sebagai khalifah pertama menunjukkan betapa seriusnya masalah suksesi kepemimpinan dalam masyarakat Islam saat itu, dikarenakan suku-suku Arab menunjuk pemimpin mereka berdasarkan sistem senioritas dan prestasi, tidak berdasarkan keturunan. (Ya‟kubi, t.t: 154).

    Ada dua faktor utama yang mendasari terpilihnya Abu Bakr sebagai khalifah, yaitu:

    1. Menurut pendapat umum yang ada pada zaman itu, seorang pemimpin haruslah