pergaulan bebas

download pergaulan bebas

of 24

  • date post

    08-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    48
  • download

    1

Embed Size (px)

description

aasass

Transcript of pergaulan bebas

Pembahasan

Pergaulan Ikhwan Akhwat

Bab I

Pendahuluan1.1 Latar BelakangPacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Ada kemungkinan fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.

Selama ini tampaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.

Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), dating (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).

Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual dalam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dia. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Dan uang yang diberikan oleh orang tua terserap oleh pacaran yang dia lakukan.Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio- kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).

Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syariat terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."

Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atau memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." Dalam kaitan ini kita perlu membentengi diri agar tidak mudah terjerumus dengan pergaulan-pergaulan tanpa batasan yang tidak pernah Islam ajarkan, terutama sebagai anggota Gamus. Termasuk perlunya sikap saling mengingatkan diantara sesama muslim. 1.2 Landasan pemikiran1.2.1 Pacaran

Istilah pacaran berasal dari kata dasar pacar yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Istilah pacaran dalam bahasa Arab disebut tahabbub. Pacaran berarti bercintaan; berkasih-kasihan, yaitu dari sebuah pasangan laki-laki dan perempuan yang bukanmahram. Para ulama telah banyak membicarakan masalah ini, seperti misalnya yang terdapat dalam Fatwa Lajnah Daimah, sebuah kumpulan fatwa dari beberapa ulama. Sebelum sampai pada simpulan hukum pacaran, terlebih dahulu ditelusuri berbagai kemungkinan yang terjadi ketika sebuah pasangan muda-mudi yang bukan mahram menjalin hubungan secara intim. Dengan penelusuran seperti ini, suatu tindakan tertentu yang berkaitan dengan hubungan muda-mudi ini dapat dinilai dari sudut pandang syar'i. Dengan demikian, kita akan dengan mudah mengetahui suatu "hubungan" yang masih dapat ditoleransi oleh syariat dan yang tidak.

Apa yang terjadi dari sebuah hubungan antara seseorang dengan orang lain secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi lima : perkenalan, hubungan sahabat, jatuh cinta, hubungan intim, dan hubungan suami istri.

Perkenalan Islam tidak melarang seseorang untuk menganal orang lain, termasuk lawan jenis yang bukan mahram. Bahkan, Islam menganjurkan kepada kita untuk bersatu, berjamaah. Karena, kekuatan Islam itu adalah di antaranya kejamaahan, bahkan Allah menciptakan manusia menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu untuk saling mengenal. Allah SWT berfirman yang artinya, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujuraat : 13).

Hubungan Sahabat Hubungan sahabat adalah hubungan sebagai kelanjutan dari sebuah hubungan yang saling mengenal. Setelah saling mengenal, seseorang berhubungan dengan orang lain bisa meningkat menjadi teman biasa atau teman dekat (sahabat). Hubungan sahabat dimulai dari saling mengenal. Hubungan saling mengenal ini jika berlangsung lama akan menciptakan sebuah hubungan yang tidak hanya saling mengenal, tetapi sudah ada rasa solidaritas yang lebih tinggi untuk saling menghormati dan bahkan saling bekerja sama. Contoh yang mungkin dapat diambil dalam hal ini adalah seperti hubungan antara Zainudin MZ dengan Lutfiah Sungkar, Neno Warisman dengan Hari Mukti, dan lain-lain. Mereka adalah pasangan lawan-lawan jenis yang saling mengenal, juga dalam diri mereka terjalin hubungan yang saling menghormati, bahkan mungkin bisa bekerja sama. DalamIslam,hubungan semacam ini tidaklah dilarang.

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. Al-Maidah : 2).

JatuhCinta Islam juga tidak melarang seseorang mencintai sesuatu, tetapi untuk tingkatan ini harus ada batasnya. Jika rasa cinta ini membawa seseorang kepada perbuatan yang melanggar syariat, berarti sudah terjerumus ke dalam larangan. Rasa cinta tadi bukan lagi dibolehkan, tetapi sudah dilarang. Perasaan cinta itu timbul karena memang dari segi zatnya atau bentuknya secara manusiawi wajar untuk dicintai. Perasaan ini adalah perasaan normal, dan setiap manusia yang normal memiliki perasaan ini. Jika memandang sesuatu yang indah, kita akan mengatakan bahwa itu memang indah. Imam Ibnu al-Jauzi berkata, "Untuk pemilihan hukum dalam bab ini, kita harus katakan bahwa sesungguhnya kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela. Terhadap cinta yang seperti ini orang tidak akan membuangnya, kecuali orang yang berkepribadian kolot. Sedangkan cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada perkara yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya,hal seperti inilah yang tercela. Begitu juga ketika melihat wanita yang bukan mahram, jika ia wanita yang cantik dan memang indah ketika secara tidak sengaja terlihat oleh seseorang, dalam hati orang tersebut kemungkinan besar akan terbesit penilaian suatu keindahan, kecantikan terhadap wanita itu. Rasa itulah yang disebut rasa cinta, atau mencintai. Tetapi, rasa mencintai atau jatuh cinta di sini tidak berarti harus diikuti rasa memiliki. Rasa cinta di sini adalah suatu rasa spontanitas naluri alamiah yang muncul dari seorang manusia yang memang merupakan anugerah Tuhan. Seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Khattab ra, "Wahai Amirul Mukminin, aku telah melihat seorang gadis, kemudian aku jatuh cinta kepadanya." Umar berkata, "Itu adalah termasuk sesuatu yang tidak dapat dikendalikan." (HR. Ibnu Hazm). Dalam kitab Mauqiful Islam minal Hubb, Muhammad Ibrahim Mubarak menyimpulkan apa yang disebut cinta, "Cinta adalah perasaan di luar kehendak dengandaya tarik yang kuat pada seseorang.

Sampai batas ini, syariat Islam masih memberikan toleransi, asalkan dari pandangan mata pertama yang menimbulkan penilaian indah itu tidak berlanjut kepada pandangan mata kedua. Karena, jika rasa cinta ini kemudian berlanjut menjadi tidak terkendali, yaitu ingin memandang untuk yang kedua kali, hal ini sudah masuk ke wilayah larangan.Allah SWT berfirman yang artinya, "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.' Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka" (QS. An-Nuur : 30 - 31). Menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak dilepas begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan yang terpelihara adalah apabila secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat lagi kemudian. Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi, 'Palingkanlah pandanganmu itu'!" (HR. Muslim, Abu Daud, Ahmad, dan Tirmizi).

Rasulullah SAW berpesan kepada Ali ra yang artinya, "Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya! Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun berikutnya tidak boleh." (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmizi). Ibnul Jauzi di dalam Dzamm ul Hawa menyebutkan bahwa dari Abu al-Hasan al-Wa'ifdz, dia berkata, "Ketika Abu Nashr Habib al-Najjar al-Wa'idz wafat di kota Basrah, dia dimimpikan berwajah bundar seperti bulan di malam purnama. Akan tetapi, ada satu noktah hitam yang ada wajahnya. Maka orang yang melihat noda hitam itu pun bertanya kepadanya, 'Wahai Habib, mengapa aku melihat ada noktah hitam berada di wajah Anda?' Dia menjawab, 'Pernah pada suatu ketika aku melewati kabilah Bani Abbas. Di sana aku melihat seorang anak amrad dan aku memperhatikannya. Ketika aku telah menghadap Tuhanku, Dia berfirman, 'Wahai Habib?' Aku menjawab, 'Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah.' Allah berfirman, 'Lewatlah Kamu di atas neraka'. Maka aku melewatinya dan aku ditiup sekali sehingga aku berkata, 'Aduh (karena sakitnya)'. Maka Dia memanggilku, 'Satu kali tiupan adalah untuk sekali pandangan. Seandainya kamu berkali-kali memandang, pasti Aku akan menambah tiupan (api neraka)." Hal tersebut sebagai gambaran, bahwa hanya melihat amrad (anak muda belia yang kelihatan tampan) saja akan mengalami kesulitan yang sangat dalam di akhirat kelak.

Hubungan Intim

Jika rasa jatuh cinta ini berlanjut, yaitu menimbulkan langkah baru dan secara kebetulan pihak lawan jenis merespon dan menerima hubungan ini, terjadilah hubungan yang lebih jauh dan lebih tinggi levelnya, yaitu hubungan intim. Hubungan ini sudah tidak menghiraukan lagi rambu-rambu yang ketat, apalagi aturan. Dalam hubungan ini pasangan muda-mudi sudah bisa merasakan sebagian dari apa yang dialami pasangan suami istri. Pelaku hubungan pada tingkatan ini sudah lepas kendali. Perasan libido seksual sudah sangat mendominasi. Dorongan seksual inilah yang menjadi biang keladi hitam kelamnya hubungan tingkat ini. Bersalaman dan saling bergandeng tangan agaknya sudah menjadi pemandangan umum di kehidupan masyarakat kita, bahkan saling berciuman sudah menjadi tren pergaulan intim muda-mudi zaman sekarang. Inilah hubungan muda-mudi yang sekarang ini kita kenal dengan istilah "pacaran". Malam minggu adalah malam surga bagi pasangan muda-mudi yang menjalin hubungan pada tingkatan ini. Mereka telah memiliki istilah yang sudah terkenal: "apel". Sang kekasih datang ke rumah kekasihnya. Ada kalanya apel hanya dilaksanakan di rumah saja, ada kalanya berlanjut pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui lingkungan yang dikenalnya. Dengan begitu, mereka bebas melakukan apa saja atas dasar saling menyukai. Al-Hakim meriwayatkan, "Hati-hatilah kamu dari bicara-bicara dengan wanita, sebab tiada seorang laki-laki yang sendirian dengan wanita yang tidak ada mahramnya melainkan ingin berzina padanya.

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia berduaan dalam tempat sepi dengan seorang wanita, sedang dia dengan wanita tersebut tidak memiliki hubungan keluarga (mahram), karena yang ketiga dari mereka adalah setan."(HR.Ahmad). Ath-Thabarani meriwayatkan, Nabi SAW bersabda yang artinya, "Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita melainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya." Ibnul Jauzi di dalam Dzamm ul-Hawa menyebutkan bahwa Abu Hurairah ra dan Ibn Abbas ra keduanya berkata, Rasulullah SAW berkhotbah, "Barang siapa yang memiliki kesempatan untuk menggauli seorang wanita atau budak wanita lantas dia melakukannya, maka Allah akan mengharamkan surga untuknya dan akan memasukkan dia ke dalam neraka. Barangsiapa yang memandang seorang wanita (yang tidak halal) baginya, maka Allah akan memenuhi kedua matanya dengan api dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam neraka. Barangsiapa yang berjabat tangan dengan seorang wanita (yang) haram (baginya) maka di hari kiamat dia akan datang dalam keadaan di belenggu tangannya di atas leher, kemudian diperintahkan untuk masuk ke dalam neraka. Dan barangsiapa yang bersenda gurau dengan seorang wanita, maka dia akan ditahan selama seribu tahun untuk setiap kata yang diucapkan di dunia. Sedangkan setiap wanita yang menuruti (kemauan) lelaki (yang) haram (untuknya), sehingga lelaki itu terus membarengi dirinya, mencium, bergaul, menggoda dan bersetubuh dengannya, maka wanita itu juga mendapatkan dosa sepertiyang diterima oleh lelaki tersebut.

Hubungan intim ini akan sampai pada puncaknya jika terjadi suatu hubungan sebagaimana layaknya yang dilakukan oleh suami istri.

Hubungan Suami-Istri

Agama Islam itu adalah agama yang tidak menentang fitrah manusia. Islam sangat sempurna di dalam memandang hal semacam ini. Manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki dorongan seks. Oleh karena itu, Islam menempatkan syariat pernikahan sebagai salah satu sunah nabi-Nya.

Hubungan sepasang kekasih mencapai puncak kedekatan setelah menjalin hubungan suami-istri. Dengan pernikahan, seseorang sesungguhnya telah dihalalkan untuk berbuat sesukanya terhadap istri/suaminya (dalam hal mencari kepuasan libido seksualnya : hubungan badan), asalkan saja tidak melanggar larangan yang telah diundangkanolehsyariat. Kita tidak menyangkal bahwa di dalam kenyataan sekarang ini meskipun sepasang kekasih belum melangsungkan pernikahan, tetapi tidak jarang mereka melakukan hubungan sebagaimana layaknya hubungan suami-istri. Oleh karena itu, kita sering mendengar seorang pemudi hamil tanpa diketahui dengan jelas siapa yang menghamilinya. Bahkan, banyak orang yang melakukan aborsi (pengguguran kandungan) karena tidak sanggup menahan malu memomong bayi dari hasil perbuatan zina. Jika suatu hubungan muda-mudi yang bukan mahram (belum menikah) sudah seperti hubungan suami istri, sudah tidak diragukan lagi bahwa hubungan ini sudah mencapai puncak kemaksiatan. Sampai hubungan pada tingkatan ini, yaitu perzinaan, banyak pihak yang dirugikan dan banyak hal telah hilang, yaitu ruginya lingkungan tempat mereka tinggal dan hilangnya harga diri dan agama bagi sepasang kekasih yang melakukan perzinaan. Selain itu, sistem nilai-nilai keagamaan di masyarakat juga ikut hancur. Di dalam kitab Ibnu Majah diriwayatkan bahwa Ibnu Umar ra bertutur bahwa dirinya termasuk sepuluh orang sahabat Muhajirin yang duduk bersama Rasulullah SAW. Lalu, beliau mengarahkan wajahnya kepada kami dan bersabda, "Wahai segenap Muhajirin, ada lima hal yang membuat aku berlindung kepada Allah dan aku berharap kalian tidak mendapatkannya. Pertama, tidaklah perbuatan zina tampak pada suatu kaum sehingga mereka melakukan terang-terangan, melainkan mereka akan tertimpa bencana wabah dan penyakit yang tidak pernah ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka. Kedua, tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka akan tertimpa paceklik, masalah ekonomi, dan kedurjanaan penguasa. Ketiga, tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat, melainkan mereka akan meng alami kemarau panjang. Sekiranya tidak karena binatang, niscaya mereka tidak akan diberi hujan. Keempat, tidaklah suatu kaum melakukan tipuan (ingkar janji), melainkan akan Allah utus kepada mereka musuh yang akan mengambil sebagian yang mereka miliki. Kelima, tidaklah para imam (pemimpin) mereka meninggalkan (tidak mengamalkan Al-Qur'an), melainkan akan Allah jadikan permusuhan antar mereka." (HR. Ibnu Majah dan Hakim). "Semalam aku melihat dua orang yang datang kepadaku. Lantas mereka berdua mengajakku keluar. Maka aku berangkat bersama keduanya. Kemudian keduanya membawaku melihat lubang (dapur) yang sempit atapnya dan luas bagian bawahnya, menyala api, dan bila meluap apinya naik orang-orang yang di dalamnya sehingga hampir keluar. Jika api itu padam, mereka kembali ke dasar. Lantas aku berkata, 'Apa ini?' Kedua orang itu berkata, 'Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan zina'." (Isi hadits tersebut kami ringkas redaksinya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari danMuslim). . Atha' al-Khurasaniy berkata, "Sesungguhnya neraka Jahanam memiliki tujuh buah pintu. Yang paling menakutkan, paling panas dan paling busuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi para pezina yang melakukan perbuatan tersebut setelah mengetahui hukumnya." (Dzammul-Hawa, Ibnul Jauzi).

Dengan mengetahui dampak negatif yang sangat besar ini, kita akan menyadari dan meyakini bahwa apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW itu ternyata memang benar. Apabila seorang pemuda sudah siap untuk menikah, segerakanlah menikah. Hal ini sangat baik untuk menghindari terjadinya perbutan maksiat. Tetapi, jika belum mampu untuk menikah, orang tersebut hendaknya berpuasa. Karena, puasa itu di antaranya dapat menahan hawa nafsu.

"Wahai segenap pemuda, barang siapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah menikah. Sesungguhnya pernikahan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tetapi barang siapa belum mampu, hendaklah dia berp uasa, karena puasa itu benteng (penjagaan) baginya." (HR. Bukhari).1.2.2 CintaBeberapa pengertian Cinta:1. Cinta=perasaan sekaligus akal sehatCinta memang soal rasa. Meski demikian, bukan berarti akal sehat ditaro di dengkul dong. Oya, karena cinta tuh sangat luas, maka penampakkannya juga ngikuti naluri yang dimiliki manusia. Misalnya aja nih, orang bisa cinta mati sama benda, juga bisa cinta sama Allah Swt, RasulNya, ortunya, kaum muslimin secara umum, dan juga sama lawan jenis. Cinta emang luas.Betul banget, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat. Bohong besar deh kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok dari mana kita berasal.

Nol besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungan jawab bila perbuatan-perbuatan impulsif alias memperturutkan kata hati itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan.

Jadi nih, akal sehat tetap kudu kita jadikan pertimbangan juga biar nggak nyelenong ngikutin perasaan aja.

2. Cinta membutuhkan proses

Setuju banget deh. Cinta emang butuh proses. Butuh waktu agar bisa tumbuh perasaan satu sama lain. Ini khususnya cinta dengan lawan jenis ya. Eh, kalo pun ada orang yang love at first sight, tentunya bukan cinta namanya, tapi ketertarikan. Karena ketertarikan orang bisa dengan begitu mudah muncul manakala ada obyek yang memang menurutnya menyenangkan. Tapi cinta nggak begitu ternyata. Cinta itu tumbuh, berkembang dan merupakan emosi yang kompleks, kata Bowman, salah seorang pakar psikologi.

Sobat, untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu. Jadi emang nggak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu aja. Cinta nggak pernah menyerang tiba-tiba, nggak juga jatuh dari langit. Cinta datang kalo udah saling kenal dan memahami pribadi masing-masing meski nggak terlalu detil. Jadi, minimal emang kenal dulu: siapa sih si dia itu?

Itu sebabnya, cinta insya Allah bisa aja tumbuh kalo kita terus ketemu dan saling komunikasi. Teman dekat yang saling mencintai, itu hanya bisa dicapai setelah kedua partner itu lama hidup bersama. Sehingga tahu kebiasaannya masing-masing, tahu makanan favoritnya, warna kesukannya, sampe tahu jadwal tidurnya, tahu tempat nongkrongnya, dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Begitu pun kalo kita mencintai Islam, akan semakin lengket dan bahkan bangga dengan Islam ketika kita udah lama berkenalan (baca: belajar) dengan Islam. Nggak mungkin tumbuh cinta kepada Islam kalo kitanya aja nggak berusaha mengenal lebih dalam tentang Islam dengan cara mempelajarinya. Setuju nggak?

So, kalo ada orang bisa jatuh cinta pada saat ketemuan pertama kali, sebenarnya bukan sedang jatuh cinta tuh, tapi sedang tertarik satu sama lain dengan ketertarikan yang amat sangat luar biasa. Hal ini perlu ditindaklanjuti, yakni dengan berusaha untuk mengenal lebih dekat dan lebih dekat lagi. But, kudu tahu rambu-rambu juga dong kalo urusannya dengan lawan jenis yang bukan mahram. Sebab, nggak bisa bebas sesuka kita tuh. Boleh kenalan lebih dalam, kalo niatnya emang untuk menikah degannya. Ssstt... kalo untuk pacaran? Hah? Hari gini masih pacaran? Nggak lha yauw!

3. Cinta itukonstruktifWell, kita kayaknya kudu setuju nih kalo cinta itu emang konstruktrif. Eh, jangan-jangan ada teman kita (atau kita sendiri?) yang mendadak jadi kreatif, ngedadak jadi suka pake wangi-wangian biar nggak BB, ngedadak juga jadi senang baca novel cinta. Padahal, sebelum tertarik dengan salah seorang dari lawan jenis, mandi sekali sehari aja udah untung banget. Seseorang yang mencintai bisa berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia bakalan berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Wuih, keren banget deh.

Eit, tapi tunggu dulu. Sebab, ada juga orang ketika jatuh cinta ternyata malah amburadul. Kok bisa sih? Hmm... orang model gini, bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, tapi dia malah kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Doi cuma memikirkan kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi pengganti kenyataan. Kalo ada orang yang jatuh cinta tapi malah bikin lemah dan loyo kayak gini, berarti dia belum mampu memaknai cinta. Jangan-jangan lebih banyak ngelamunnya karena terjerat mimpi-mimpi indah kalo sampe mencintai lawan jenis yang dia idamkan itu. Padahal, yang namanya cinta nggak begitu kok. Cinta itu konstruktif. Bisa membangun segala daya cipta dan kreativitas kita. 4. Cinta takmelenyapkan semua masalahKonon kabarnya, penganut faham romantik percaya banget bahwa cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit. Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta nggaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih (suami-istri) berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang berarti nggak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem.

Maka, kalo misalnya kita mo nikah, selain cinta tentu kudu ada persiapan ilmu, mental, dan juga jaminan untuk nafkahnya, lho. Kalo modalnya cinta doang, harus dipertanyakan tuh, sebab menikah bukan cuma modal cinta. Kalo nggak punya beras, apa cukup dengan cinta? Nggak kan? Cinta tuh hanya akan memotivasi kita untuk mencari jalan keluar supaya bisa dapetin beras. 5. Cinta cenderungkonstanYa, cinta itu bergerak konstan, sobat. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada sesuatu atau kekasih (suami-istri or calon suami dan calon istri) yang kita cintai tuh turun-naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis.

Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan (baca: suami-istri), kita menyukainya dalam kadar sebanding.

Nah, begitupun kalo kita mencintai Allah Swt, RasulNya, dan juga Islam. Cinta kita bisa dibilang hebat kalo sinyalnya terus-menerus kuat. Nggak ada blank spot-nya. Di mana pun selalu ada sinyal kecintaan kita kepada Allah Swt., RasulNya, dan juga Islam. Cirinya apa? Contoh cinta kepada Allah Swt. Pas kita lagi seneng, tetap inget sama Allah Swt. Lagi sedih juga selalu inget sama Allah Swt. Kalo sebaliknya? Berarti cinta kita nggak konstan. Kalo nggak konstan berarti ada yang error. Jadinya bisa kena sindir Allah Taala deh dalam firmanNya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS al-Hajj [22]: 11)So, cinta tuh seharusnya memang konstan. Kalo turun-naik grafiknya perlu dipertanyakan. Yuk, kita muhasabah diri. Oke?

6. Cinta takbertumpu pada daya tarik fisik

Dalam hubungan cinta dengan lawan jenis, daya tarik fisik bisa jadi penting. Tapi bahaya bila kita menyukai lawan jenis hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah sobat, itu hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan (baca: suami-istri) saling menyukai pribadi masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi alias perasaan terwujud belakangan saat hubungan kian dalam antara sepasang suami-istri. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan. Waspadalah buat yang masih senang pacaran. Sebab kontak fisik sering terjadi, sementara hal itu dinilai sebagai maksiat karena belum terikat tali pernikahan. Betul?

7. Cinta merhatiinkelanjutan hubungan

Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasihnya (baca: suami-istri atau calon suami dan calon istri). Dia bakal menghindari segala hal yang mungkin aja ngerusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan.

But, orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta akan menyenangkan pasangan (yakni suami atau istri dan juga calon suami or calon istri) untuk memperkuat hubungan. Sip deh!

8. Cinta berani melakukan halmenyakitkan Selain berusaha menyenangkan kekasih (suami-istri atau calon suami dan calon istri), orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata tidak saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu.

Begitu juga ketika kita berani menegur sahabat kita saat dia melakukan maksiat, meski risikonya harus mendapat bencinya--dan itu menyakitkan, itulah cinta. Semoga pengenalan beberapa hal tentang cinta ini bisa menjadi inspirasi kita untuk lebih bersih dalam mencintai, yakni taat aturan Allah Swt. Berbahagialah karena kita memiliki cinta.

1.2.3 Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat terjadi disebabkankarena:1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat.2. Sudah mengetahui, namun belum memahami.3. Sudah mengetahui namun tidak mau mengamalkan.4. Sudah mengetahui dan memahami, namun tergelincir karena lalai.

Berikut ini adalah pelanggaran-pelanggaran yang masih sering terjadi:1. Pulang BerduaUsai rapat acara rohis, karena pulang ke arah yang sama maka akhwatpulang bersama di mobil ikhwan. Berdua saja. Dan musik yang diputarmasih lagu dari Peterpan pula ataupun lagu-lagu cinta lainnya.2. Rapat Berhadap-HadapanRapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah `cair' danrentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya - bila belum mampumenggunakan hijab - dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat.3. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)Bukankah ada pepatah yang mengatakan, "Dari mana datangnya cinta? Darimata turun ke hati". Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan,"Ah, tidak perlu gadhul bashar, yang penting kan jaga hati!" Namun,tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanahsampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihatujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.4. Duduk/ Jalan BerduaanDuduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namunapapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing denganapa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata merekaadalah aktivis berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalahlangkah terbaik kita.5. "Men-tek" Untuk Menikah"Bagaimana, ukh? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antumdiambil orang." Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga `men-tek'seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal takjelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan.6. Telfon Tidak UrgenMenelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.7. SMS Tidak UrgenSaling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannyadengan da'wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.8. Berbicara Mendayu-Dayu"Deuu si akhiii, antum bisa aja deh.." ucap sang akhwat kepadaseorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.9. Bahasa Yang AkrabVia SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yangdisampaikan begitu akrabnya, "Oke deh Pak fulan, nyang pentingrapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah,otre deh." Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namunikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisamengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan,namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.10. Curhat"Duh, bagaimana ya., ane bingung nih, banyak masalah begini danbegitu, akh." Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatanhati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggutribulasi da'wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkutpautnya dengan da'wah.11 Yahoo Messenger/Chatting Yang Tidak UrgenYM termasuk fasilitas. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikanhal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topikpembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da'wah karenakhalwat virtual bisa saja terjadi.12. Bercanda ikhwan-akhwat"Biasa aza lagi, ukhtiii hehehehe," ujar seorang ikhwan sambiltertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling,sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.Dalil untuk nomor 1-5:a. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hariakhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorangperempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialahsyaitan." (HR.Ahmad)b. Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada orang laki-laki yangberiman, `Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memeliharakemaluannya" (QS.24: 30)c. Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada wanita yang beriman,`Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya"(QS.24: 31)d. Rasulullah SAW bersabda, "Pandangan mata adalah salah satu daripanah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akandirasakan manisnya iman dalam hatinya."e. Rasulullah saw. Bersabda, "Wahai Ali, janganlah engkau ikutipandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya bolehmelakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalahresiko bagimu." (HR Ahmad)Dalil untuk nomor 6-12:"... Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehinggaberkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya..." (AlAhzab: 32)Bab II

Pembahasan2.1 Permasalahan

Suatu saat ada teman anda yang suka pada anda, dan dia akan menyatakan perasaannya pada anda. Akan tetapi anda sebagai pengurus Gamus mengetahui bahwa pacaran itu tidak ada dalam pergaulan remaja muslim. Apa yang seharusnya dilakukan dan langkah apa yang harus dilakukan agar penolakan dan penjelasan tidak menyinggung teman tersebut.

Cinta memang fitrah. Sebab setiap manusia dianugerahi gharizah nau (naluri melestarikan jenis) yang salah satu manesfestasinya adalah tertarik sama lawan jenis. Tapi jangan salah, rasa cinta tidak hanya dalam urusan perempuan dan laki-laki, tapi juga bisa dilakukan dalam bentuk kasih sayang pada orang tua, sayang pada ponakan, rasa keibuan,kebapakan,dan lain-lain.

Sebagai seorang akhwat yang menjaga dan melaksanakan perintah-perintah Allah hendaklah menolaknya dengan cara halus dan tidak menyinggung perasaan orang tersebut. Dengan alasan Islam tidak pernah mengajarkan umat muslim untuk berpacaran, kecuali ketika hubungan mereka telah dihalalkan melalui pernikahan.2.2 Pembahasan

Penolakan sebaiknya disampaikan dengan bahasa sopan dan tidak berbelit-belit. Tapi, perlu juga lihat dulu tipe orangnya, sifat orangnya: pendendam, egois, dll, karena hal ini menentukan keberhasilan kita dalam menolak.

Perlu juga dijelaskan pada orang tersebut 1. belum boleh pacaran sama orang tua.2. bohong demi kebaikan.3. belum mau pacaran atau lagi mau sendiri.4. kamu boleh suka sama aku tapi masih banyak perempuan lain yang lebih baik dari aku.

5. masih mau fokus sama kuliah.Kalau dia seorang cowok yang paham tentang pergaulan remaja muslim, maka tidak sulit bagi kita untuk menjelaskan bahwa berpacaran itu haram hukumnya bagi umat Islam. Tetapi kalau cowok itu tidak terlalu mengerti tentang pergaulan remaja muslim, maka kita dapat memberikan 5 alasan yang di atas sebagai cara untuk menolak dengan tegas tetapi halus.

Terkadang kita sebagai akhwat dapat memberikan pertanyaan kamu tau nggak sie tentang pergaulan remaja muslim yang baik itu bagaimana? jika jawabannya tidak sesuai dengan landasan pemikiran yang ada, maka kita dapat menjelaskannya dan memberikan pengertian agar dia mengerti tentang pergaulan remaja Islam yang sebenarnya. Kalau kita punya perasaan sesuatu pada lawan jenis, itu wajar-wajar saja. Yang tidak wajar adalah kalau kita melampiaskan rasa suka kita sama someone special, lalu minta pacaran atau minta diajak kencan. Itu sudah menyalahi aturan dalam Islam. Sebab, cinta terhadap lawan jenis dalam Islam hanya boleh diekspresikan lewat lembaga pernikahan.

Jadi kendalikan gharizah kita. Ingatkan dalam diri kita masing-masing bahwa dalam kamus hidup kita untuk tidak pacaran sebelum nikah. Bila syahwat muncul, alihkan pada kegiatan lain yang lebih bernilai ibadah; silaturahmi ke temen, ikut kegiatan yang positif, atau baca bacaan Islam. Kita juga bisa membentenginya dengan puasa.Bab III

Penutup

3.1 KesimpulanDidalamIslam,pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga.Kewajiban berjillbab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan),tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara(mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semuaadalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjagakehormatandankemuliaannya.Kehormatan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam,sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. "Danjanganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatuperbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al Isra:32).

Pelanggaran di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekatizina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah padazina yang sesungguhnya, na'udzubillah. Maka, bersama-sama kita salingmenjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Ikhwan dan akhwat harus saling menjaga agar tidak terjerumuskedalamkategorimendekatizina.

3.2 Saran

Akhlak merupakan bagian yang paling mewarnai kehidupan umat Islam, termasuk pergaulan laki-laki dan perempuan yang dibingkai dalam rumus moral: GADHUL BASHAR.

G: Gaul boleh tapi tetap syari. Jangan coba-coba menabrak norma dan etika. A: Awali dengan niat nan tulus, lurus, dan mulus. Semata-mata menjalin ukhuwah, bukan menjalin hubungan gelap.

D: Dimulakan dengan basmallah, disudahi dengan alhamdulillah. Intinya, dalam bergaul Allah jangan dilupakan.

H: Hati-hati jaga hati! Jangan sampai warnanya berubah merah jambu. Lihat boleh tapi sekedarnya.

U: Utamakan hubungan dalam urusan kebaikan dan ketakwaan, bukan yang beraroma dosa dan permusuhan.

L: Lupakan yang buruk, ambillah yang baik. Tiada yang lebih berharga selain dari persahabatan. Tidak perlu menimbun dendam, maafkan bila dia salah dan nasihati dia bila dia khilaf. Sucikan niat menuju persaudaraan yang indah.

B: Bukalah menerima masukan atau kritikan. Teman yang baik bukan yang menyanjung-nyanjung setinggi pohon kedondong. Nyatakan cinta sama kritikan! Kritik yang sehat agar teman semakin baik, bukan niat menghancurkan dirinya.

A: Awas! Sekali kena panah asmara, hati yang kuat pun akan meleleh. Kita harus lihai menghindari panah-panah syetan. Sekali ditancap panah asmara, keracunannya bakal lama.

S: Sekali-kali jangan pilih-pilih teman. Kalau cakep..tinggi nilai ukhuwah, giliran buruk rupa..kita hilang selera. Kalau tajir jadi temen dekat, giliran kere gak mau kenal. Lihat putih hatinya, jangan tertipu kulit luarnya saja. Orang cakep balum tentu jaminan cakep pula hatinya. Banyak orang punya tampang ala kadarnya, namun hatinya mulai banget.

H: Harus tegas pada diri sendiri jika gejala-gejala keluar jalur sudah mulai terasa. Taubat kalau terlanjur bergelimangan resah gelisah yang nggak sah. Nurani tidak akan membohongi kita.

A: Awasi bisik-bisik bujuk dari The big boss of trouble maker: IBLIS! Sekali terbujuk, alamat bakal dihajar malapetaka.

R: Rajin-rajin ngaji. Biar selalu ada yang mengingatkan kita ke jalan yang aman dan lurus.Daftar PustakaMubarok, Hipni .2006. Antara Doa, Dai dan Doi. Bandung: Hisan Press. Hemdi, Yoli. 2006. Curhat-Curhat Asyik Romantika Dunia Akhwat. Jakarta: Zikrul Remaja.Asri. 2006. Cewek Buka-Bukaan. Bandung: DAR! Mizan.www.al-madina.s5.comwww.kotasantri.comwww.detikhot.comwww.darussalaf.or.idwww.islamdotnet.comMajalah NIKAH Vol.3. No.12, Maret 2005Majalah Al Izzah No.15/Th.2, 31 Maret 2001

PAGE 2Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nurul Jadid