PERENCANAAN PRODUKSI AGREGAT

of 63 /63
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kegiatan perencanaan produksi dimulai dengan melakukan peramalan – peramalan (forecast) untuk mengetahui terlebih dahulu apa dan berapa yang perlu diproduksikan pada waktu yang akan datang. Peramalan produksi bermaksud untuk memperkirakan permintaan akan barang – barang atau jasa perusahaan. Tetapi hampir semua perusahaan tidak dapat selalu menyesuaikan tingkat produksi mereka dengan perubahan permintaan nyata. Oleh karena itu, perusahaan mengembangkan rencana – rencana rasional yang menunjukan bagaimana mereka akan memberi tanggapan terhadap pasar. Perencanaan agregat bersangkutan dengan cara kapasitas organisasi digunakan untuk memberikan tanggapan terhadap permintaan yang diperkirakan. Perencanaan agregat adalah proses perencanaan kuantitas 1

Embed Size (px)

description

Perencanaan produksi agregat

Transcript of PERENCANAAN PRODUKSI AGREGAT

43

BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kegiatan perencanaan produksi dimulai dengan melakukan peramalan peramalan (forecast) untuk mengetahui terlebih dahulu apa dan berapa yang perlu diproduksikan pada waktu yang akan datang. Peramalan produksi bermaksud untuk memperkirakan permintaan akan barang barang atau jasa perusahaan. Tetapi hampir semua perusahaan tidak dapat selalu menyesuaikan tingkat produksi mereka dengan perubahan permintaan nyata. Oleh karena itu, perusahaan mengembangkan rencana rencana rasional yang menunjukan bagaimana mereka akan memberi tanggapan terhadap pasar.

Perencanaan agregat bersangkutan dengan cara kapasitas organisasi digunakan untuk memberikan tanggapan terhadap permintaan yang diperkirakan. Perencanaan agregat adalah proses perencanaan kuantitas dan pengaturan waktu keluaran selama periode waktu tertentu (biasanya antara tuga bulan sampai satu tahun) melalui penyesuaian variable variable tingkat produksi, karyawan, persediaan dan variable variable yang dapat dikendalikan lainnya. Digunakannya istilah agregat adalah karena ramalan ramalan permintaan akan berbagai barang atau jasa individual digabungkan menjadi unit unit yang homogeny. Perencanaan agregat mencerminkan strategi perusahaan dalam pelayanan kepada langganan, tingkat persediaan, tingkat produksi, jumlah karyawan dan lain lain.

Perencanaan agregat adalah suatu langkah pendahuluan untuk perencanaan kebutuhan kapasitas yang lebih terperinci. Perencanaan ini merupakan salah satu tanggung jawab personalia yang ada sekarang, informasi yang akurat tentang biaya dan pengetahuan penuh mengenai tujuan tujuan system dan bagian bagiannya. Manjemen puncak hendaknya memberikan pengarahan atau pedoman bagi kegiatan perencanaan agregat ini, karena seperti yang telah disebutkan diatas, keputusan keputusan perencanaan agregat sering mencerminkan kebijaksanaan dasar perusahaan. Beberapa pedoman umum perencanaan agregat secara ringkas dapat diperinci sebagai berikut (T. Hani Handoko : 1984;235):

1. Tentukan kebijaksanaan perusahaan dengan memperhatikan variable variable yang dapat dikendalikan;

2. Gunakan hasil ramalan yang baik sebagai dasar perencanaan;

3. Buat rencana rencana dalam unit unit kapasitas yang tepat;

4. Sedapat mungkin pelihara stabilitas karyawan;

5. Lakukan pengawasan efektif tehadap persediaan;

6. Pelihara fleksibilitas untuk menghadapi perubahan;

7. Tanggapi permintaan dengan suatu cara yang terkendali;

8. Evaluasi perencanaan secara teratur.1.2.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapatkan perumusan masalah sebagai berikut:a. Apa pengertian dari perencanaan produksi agregat?

b. Apa tujuan dari kegiatan perencanaan produksi agregat?

c. Biaya dan strategi apa yang ada dalam kegiatan perencanaan produsi agregat?

d. Metode apa saja yang dapat digunakan dalam perhitungan perencanaan produksi agregat?

e. Metode apa yang terbaik untuk diterapkan pada produksi bola lampu LED di PT Phillips Light?1.3.Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian praktikum ini untuk mengetahui dan mampu menganalisa metode perencanaan produksi agregat yang terbaik dalam kegiatan produksi dan operasionalnya agar dapat memenuhi permintaan produk bola Lampu LED di PT Phillips Light. Adapun tujuan praktikum ini adalah:a. Memahami tentang pengertian dari perencanaan produksi agregat.

b. Mengetahui fungi dan tujuan perencanaan produksi agregat.c. Mengetahui biaya-biaya dan strategi apa saja yang ada dalam perencanaan produksi agregat.d. Mengetahui metode-metode yang digunakan dalam perencanaan produksi agregat.e. Mendapatkan metode yang terbaik untuk produksi bola Lampu LED di PT Phillips Light.1.4.Pembatasan Masalah

Agar permasalahan yang dibahas tidak meluas, maka perlu adanya pembatasan masalah, yaitu sebagai berikut:1. Penelitian hanya dilakukan pada produk bola Lampu LED di PT Phillips Light.2. Data peramalan yang digunakan didapatkan dari hasil metode peramalan yang terbaik pada penelitian sebelumnya.

3. Perhitungan perencanaan agregat hanya menggunakan 3 metode yaitu, Variasi tingkat persedian, Variasi jumlah tenaga kerja, dan Sub kontrak.1.5.Metode Pengumpulan DataA. Primer

1. Wawancara :

Wawancara yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara bertanya langsung kepada responden, atau tatap muka antara responden dengan peneliti.

2. Observasi :

Observasi yaitu metode pengumpulan data dengan cara melakukan penelitian secara langsung terhadap obyek penelitian permintaan.B. Sekunder

Dokumentasi merupakan salah satu metode pengumpulan data sekunder. Dokumentasi yaitu metode pangumpulan data dengan cara mendapatkan data melalui buku-buku, catatan-catatan atau dokumentasi perusahaan yang ada kaitannya dengan penelitian.1.6. Sistematika Penulisan

BAB I. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Menyajikan tentang latar belakang penelitian peramalan yang menunjang dalam praktikum ini.

1.2.Perumusan Masalah

Menspesifikasi suatu bahasan dari permasalahan yang ada, sehingga permasalahan yang akan kita pecahkan menjadi lebih terarah. Perumusan tentang masalah yang akan dibahas dalam praktikum peramalan.

1.3.Maksud dan Tujuan Praktikum

Apa yang diharapkan dan apa yang akan kita dapatkan dari pelaksanaan praktikum peramalan.

1.4.Pembatasan Masalah

Membuat batasan tentang hipotesa dan uji apa saja yang akan digunakan dalam praktikum.

1.5.Metode Pengumpulan data

Metode yang digunakan pada saat mengumpulkan data yang akan digunakan dalam praktikum.

1.6.Sistematika Penulisan

Urutan-urutan atau susunan-susunan sistematik dari penulisan laporan.

BAB II. Landasan Teori

Teori-teori yang dapat digunakan sebagai acuan dalam praktikum dan teori-teori yang berhubungan dengan praktikum.

BAB III. Kerangka Pemecahan Masalah

3.1. Flowchart Pemecahan Masalah

Suatu gambaran yang berbentuk Flowchart untuk memecahkan suatu masalah.

3.2.Langkah-Langkah Pemecahan Masalah

Cara-cara yang sistematik untuk memecahkan suatu masalah.

BAB IV. Pengumpulan dan Pengolahan Data

4.1.Pengumpulan Data

Mengumpulkan dan menuliskan data-data yang diperlukan dalam praktikum.

4.2.Pengolahan Data

Penyajian dari data yang telah didapat dari praktikum.

BAB V. Analisa Dan Pembahasan

Mengidentifikasi, menganalisis atau menyelidiki hasil dari pengolahan data.

BAB VI. Kesimpulan dan Saran

6.1.Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil metode perhitungan masing-masing data atau hasil akhir semua isi laporan.

6.2.Saran

Masukan-masukan yang kita kemukakan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dalam penyusunan laporan dan dalam praktikum di masa yang akan datang.

BAB II

LANDASAN TEORI

1.1. Pengertian AgregatAggregate Planning (AP) adalah suatu aktivitas operasional untuk menentukan jumlah dan waktu produksi pada waktu dimasa yang akan datang.AP juga didefinisikan sebagai usaha untuk menyamakan antara supply dan demand dari suatu produk atau jasa dengan jalan menentukan jumlah dan waktu input, transformasi, dan output yang tepat. Dimana keputusan AP dibuat untuk produksi, staffing, inventory, dan backorder level.Perencanaan Agregat (agregat planning) juga dikenal sebagai Penjadwalan Agregat adalah Suatu pendekatan yang biasanya dilakukan oleh para manajer operasi untuk menentukan kuantitas dan waktu produksi pada jangka menengah (biasanya antara 3 hingga 18 bulan ke depan). Perencanaan agregat dapat digunakan dalam menentukan jalan terbaik untuk memenuhi permintaan yang diprediksi dengan menyesuaikan nilai produksi, tingkat tenaga kerja, tingkat persediaan, pekerjaan lembur, tingkat subkontrak, dan variabel lain yang dapat dikendalikan. Keputusan Penjadwalan menyangkut perumusan rencana bulanan dan kuartalan yang mengutamakan masalah mencocokkan produktifitas dengan permintaan yang fluktuatif. Oleh karenanya perencanaan Agregat termasuk dalam rencana jangka menengah.

Proses perencanaan dapat digolongkan dalam tiga tingkatan yaitu:1. Long Range Plans

Merupakan perencanaan lebih dari setahun yang menyangkut perencanaan produk baru,biaya perluasan dan sebagainya. Long Range Plans ditetapkan oleh manajer pucak.2. Intermediete Range PlansMerupakan rencana atara 3 sampai 18 bulan, menyangkut rencana penjualan, rencana produksi, rencana inventory, anggaran tenaga kerja dan sebagainya. Intermediate range plans ditetapkan oleh Manajer Operasi.3. Short Range PlansMerupakan rencana kurang dari tiga bulan yang menyangkut job assignment, ordering, Job scheduling. Short Range Plans ditetapkan oeh Manajer Operasi bersama dengan supervisor dan operator.Dalam tiga tingkatan proses perencanaan tersebut, perencanaan agregat berada pada tingkatan kedua yaitu Intermediate plans yang menyangkut rencana produksi / operasi perusahaan.Perencanaan agregat membentuk keterkaitan antara perencanaan fasilitas di satu pihak dan penjadwalan dipihak lain. Perencanaan fasilitas membatasi keputusan perencanaan agregat.penjadwalan berkenaan dengan jangka waktu yang pendek (beberapa bulan atau kurang) dan dibatasi oleh keputusan perencanaan agregat. Perencanaan agregat berkaitan dengan perolehan sumber daya, sedangkan penjadwalan berkaitan denngan pengalokasian sumber daya yang tersedia terhadap pekerjaan dan pesanan tertentu. Jadi perbedaan dasar harus dilakukan antara perolehan sumber daya melalui penjadwalan.Hirarki keputusan kapasitas ini diperlihatkan pada gambar 2.1. perhatikan bahwa keputusan diproses dari atas ke bawah, dan umpan balik dari bawah ke atas. Keputusan penjadwalan seringkali menunjukan kebutuhan akan perbaikan perencanaan agregat dan perencanaan agregat juga dapat mencakup kebutuhan akan fasilitas.1.2. Fungsi Perencanaan Agregat

Pada dasarnya perencanaan produksi agregat merupakan suatu proses penetapan tingkat output/kapasitas produksi secara keseluruhan guna memenuhi tingkat permintaan yang diperoleh dari peramalan dan pesanan dengan tujuan meminimalkan total biaya produksi.Beberapa fungsi perencanaan agregat yaitu :1. Menjamin rencana penjualan dan rencana produksi konsisten terhadap rencana strategi perusahaan

2. Alat ukur performansi proses perencanaan produksi

3. Menjamin kemampuan produksi konsisten terhadap rencana produksi

4. Memonitor hasil produksi aktual terhadap rencana produksi dan membuat penyesuaian

5. Mengatur persediaan produk jadi untuk mencapai target dan membuat penyesuaian

6. Mengarahkan penyusunan dan pelaksanaan jadwal induk produksi.

2.3.Tujuan Perencanaan Agregat

Pada dasarnya tujuan dari perencanaan agregat adalah berusaha untuk memperoleh suatu pemecahan yang optimal dalam biaya atau keuntungan pada periode perencanaan. Namun bagaimanapun juga, terdapat permasalahan strategis lain yang mungkin lebih penting daripada biaya rendah. Permasalahan strategis yang dimaksud itu antara lain mengurangi permasalahan tingkat ketenagakerjaan, menekan tingkat persediaan, atau memenuhi tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Bagi perusahaan manufaktur, jadwal agregat bertujuan menghubungkan sasaran strategis perusahaan dengan rencana produksi, tetapi untuk perusahaan jasa, penjadwalan agregat bertujuan menghubungkan sasaran dengan jadwal pekerja. Ada empat hal yang diperlukan dalam perencanaan agregat antara lain:1. Keseluruhan unit yang logis untuk mengukur penjualan dan output

2. Prediksi permintaan untuk suatu periode perencanaan jangka menengah yang layak pada waktu agregat.

3. Metode untuk menentukan biaya

4. Model yang mengombinasikan prediksi dan biaya sehingga keputusan penjadwalan dapat dibuat untuk periode perencanaan.

2.4.Strategi Strategi Perencanaan AgregatAda beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh manajer operasi dalam merumuskan rencana agregat yaitu:

1. Apakah persediaan digunakan untuk menyerap perubahan selama periode permintaan ?

2. Apakah perubahan akan diakomodasikan dengan cara mengubah jumlah tenaga kerja?

3. Apakah perlu penggunaan tenaga kerja paruh waktu atau waktu lembur dan waktu kosong untuk menghadapi fluktuasi ?

4. Apakah perlu menggunakan subkontraktor untuk antisipasi pesanan yang fluktuatif sehingga dapat mempertahankan jumlah tenaga kerja yang stabil?

5. Apakah perlu mengubah harga atau faktor lain untuk mempengaruhi permintaan?Semua ini adalah stategi perencanaan yang benar. Strategi-strategi ini melibatkan manipulasi persediaan, nilai produksi, tingkat tenaga kerja, kapasitas, dan variabel lain yang dapat dikendalikan. Terdapat delapan pilihan secara lebih terinci. Lima pilihan pertama disebut pilihan kapasitas (capacity option) sebab pilihan ini tidak berusaha untuk mengubah permintaan tetapi untuk menyerap fluktuasi dalam permintaan. Tiga pilihan yang terakhir adalah pilihan permintaan (demand option) dimana perusahaan berusaha untuk mengurangi perubahan pola permintaan selama periode perencanaan.2.4.1.Pilihan Kapasitas

Sebuah perusahaan dapat memilih pilihan kapasitas dasar (produksi) berikut:1. Mengubah tingkat persediaan

Para manajer dapat meningkatkan persediaan selama periode permintaan rendah untuk memenuhi permintaan yang tinggi di masa mendatang. Jika strategi ini dipilih, maka biaya-biaya yang berkaitan dengan penyimpanan, asuransi, penanganan, keusangan, pencurian, dan modal yang diinvestasikan akan meningkat. (Biaya-biaya ini pada umumnya berkisar 15% hingga 40% dari nilai sebuah barang setiap tahunnya). Pada sisi lain, ketika perusahaan memasuki masa dimana permintaan meningkat, maka kekurangan yang terjadi dapat mengakibatkan tidak terjadinya penjualan yang disebabkan waktu tunggu yang lebih panjang dan pelayanan pelanggan yang lebih buruk.2. Meragamkan jumlah tenaga kerja

Dilakukan dengan cara mengkaryakan atau memberhentikan. Salah satu cara untuk memenuhi permintaan adalah dengan mengkaryakan atau memberhentikan para pekerja produksi untuk menyesuaikan tingkat produksi. Bagaimanapun, sering karyawan baru memerlukan pelatihan, dan produktivitas rata-rata menurun untuk sementara karena mereka menjadi terbiasa. Pemberhentian atau PHK, tentu saja, menurunkan moral semua pekerja dan dapat mendorong ke arah produktivitas yang lebih rendah.

3. Meragamkan tingkat produksi melalui lembur atau waktu kosong

Terkadang tenaga kerja dapat dijaga tetap konstan dengan meragamkan waktu kerja, mengurangi banyaknya jam kerja ketika permintaan rendah dan menambah jam kerja pada saat permintaan naik. Sekalipun begitu, ketika permintaan sedang tinggi, terdapat keterbatasan seberapa banyak lembur yang dapat dilakukan. Upah lembur membutuhkan lebih banyak uang, dan terlalu banyak lembur dapat membuat titik produktivitas pekerja secara keseluruhan merosot. Lembur juga dapat menyiratkan naiknya biaya overhead yang diperlukan untuk menjaga agar fasilitas dapat tetap berjalan. Pada sisi lain, disaat permintaan menurun, perusahaan harus mengurangi waktu kosong pekerja-yang biasanya merupakan proses yang sulit.4. Subkontrak

Sebuah perusahaan dapat memperoleh kapasitas sementara dengan melakukan subkontrak selama periode permintaan tinggi. Bagaimana pun, subkontrak, memiliki beberapa kekurangan antara lain :a) Mahal

b) Membawa resiko dengan membuka pintu klien bagi pesaing

c) Seringkali susah mendapatkan pemasok subkontrak yang sempurna, yang selalu dapat mengirimkan produk bermutu tepat waktu.

5. Penggunaan karyawan paruh waktu

Terutama di sector jasa, karyawan paruh waktu dapat mengisi kebutuhan tenaga kerja tidak terampil. Praktik ini umum dilakukan di restoran, toko eceran, dan supermarket.2.4.2.Pilihan Permintaan

Pilihan permintaan dasar adalah sebagai berikut :1. Mempengaruhi permintaan.

Ketika permintaan rendah, sebuah perusahaan dapat mencoba untuk meningkatkan permintaan melalui iklan, promosi, kewiraniagaan, dan diskon. Perusahaan penerbangan dan hotel telah lama menawarkan diskon akhir pekan dan tarif musim sepi; perusahaan telepon membebankan biaya yang lebih murah pada malam hari; beberapa perguruan tinggi member diskon bagi warga senior; dan pendingin udara dijual lebih murah pada waktu musim dingin. Bagaimana pun, bahkan iklan khusus, promosi, penjualan, dan penetapan harga tidak selalu mampu menyeimbangkan permintaan dengan kapasitas produksi.2. Tunggakan pesanan selama periode permintaan tinggi.

Tunggakan pesanan adalah pesanan barang atau jasa yang diterima perusahaan tetapi tidak mampu (secara sengaja atau kebetulan) untuk dipenuhi pada saat itu. Jika pelanggan mau menunggu tanpa kehilangan kehendak baik mereka maupun pesanannya, tunggakan pesanan adalah strategi yang mungkin dijalankan. Banyak perusahaan menggunakan tunggakan pesanan, tetapi pendekatan ini sering mengakibatkan hilangnya penjualan.

3. Perpaduan produk dan jasa yang counterseasonal (dengan musim yang berbeda).

Sebuah teknik pelancar masalah aktif yang secara luas digunakan para pengusaha manufaktur adalah mengembangkan sebuah produk yang merupakan perpaduan dari barang counterseasonal. Contohnya adalah perusahaan yang membuat pemanas dan pendingin ruangan atau mesin pemotong rumput dan penyingkir salju. Bagaimanapun, perusahaan yang menerapkan pendekatan ini mungkin mendapati diri mereka terlibat dengan produk atau jasa di luar area keahlian atau target pasar mereka.

2.4.3.Pilihan Campuran

Walupun setiap lima pilihan kapasitas dan tiga pilihan permintaan dapat menghasilkan sebuah jadwal agregat yang efektif, beberapa kombinasi diantara pilihan kapasitas dan pilihan permintaan mungkin akan lebih baik.Kebanyakan pengusaha manufaktur berasumsi bahwa penggunaan pilihan permintaan telah diteliti secara menyeluruh oleh bagian pemasaran dan pilihan-pilihan yang layak itu digabungkan dengan prediksi permintaan. Manajer operasi lalu membuat rencana agregat berdasarkan pada prediksi itu. Bagaimanapun, dengan menggunakan lima pilihan kapasitas dalam otoritasnya, manager operasi masih memiliki banyak kemungkinan rencana. Rencana ini dapat terdiri dari :1. Strategi perburuan (chase strategy)

Sebuah strategi perburuan mencoba untuk mencapai tingkat output bagi setiap periode yang memenuhi prediksi permintaan untuk periode tersebut. Strategi ini dapat terpenuhi dengan berbagai jalan. Sebagai contoh, manager operasi dapat memvariasikan tingkat tenaga kerja dengan merekrut atau menghentikan karyawan , atau dapat memvariasikan produksi dengan waktu lembur, waktu kosong, karyawan paruh waktu, atau subkontrak.2. Strategi penjadwalan bertingkat (level-scheduling strategy).

Sebuah rencana agregat di mana produksi harian tetap sama dari periode ke periode. Perusahaan seperti Toyota dan Nissan mempertahankan tingkat produksi pada tingkatan yang seragam dan mungkin membiarkan persediaan barang jadi naik atau turun untuk menopang perbedaan permintaan dan produksi atau menemukan pekerjaan alternatif bagi karyawan. Penjadwalan bertingkat akan bekerja dengan baik ketika permintaan stabil.

2.5.Metoda Perncanaan AgregatAda beberapa tehnik yang digunakan manajer operasi untuk mengembangkan rencana agregat yang lebih bermanfaat dan lebih tepat, diantaranya:

1. Metode Pembuatan grafis dan diagram

Metode ini sangat sering dipakai karena mudah dipahami. Pada dasarnya, rencana rencana dengan grafis dan diagram ini menangani variabel sedikit demi sedikit agar perencana dapat membandingkan proyeksi permintaan dengan kapasitas yang ada.

Pendekatan yang digunakan adalah trial and error yang tidak menjamin terciptanya rencana produksi yang optimal, tatapi penghitungan yang dibutuhkan hanya sedikit dan dapat dilakukan oleh staf yang paling dasar pekerjaannya.

Tahapan dalam metode ini adalah:

1. Tentukan permintaan pada tiap periode.

2. Tentukan berapa kapasitas pada waktu biasa, waktu lembur, dan tindakan subkontrak untuk tiap periode.

3. Tentukan biaya tenaga kerja, biaya rekrutmen dan biaya pemberhentian karyawan serta biaya penahanan persediaan.

4. Pertimbangkan kebijakan perusahaan yang dapat diterapkan pada para pekerja dan tingkatan persediaan.

5. Kembangkan rencana alternative dan amati biaya totalnya.

2. Pendekatan Matematis Dalam Perencanaan

Beberapa pendekatan matematis terhadap perencanaan agregat telah banyak dikembangkan diantaranya:

a. Metode Transportasi Dalam Program Linear

Jika masalah perencanaan agregat dipandang sebagai masalah alokasi kapasitas operasi untuk memenuhi permintaan yang diperkirakan, maka rencana agregat dapat dirumuskan dalam format program linear.b. Linear Decision Rule

Merupakan model perenxcanaan agregat yang berupaya untuk mengoptimalkan tingkat produksi dan tingkat jumlah tenaga kerja sepanjang periode tertentu.

c. Model ini meminimisasi biaya total dari biaya gaji, rekrutmen, PHK, lembur, dan persediaan melalui serangkaian kurva biaya kuadrat.

d. Management Coefficient Model

Dikembangkan oleh E.H Bowman yang membangun suatu model keputusan formal di seputar pengalaman dan kinerja manajer. Teori yang mendasari adalah pengalaman masa lalu manajer cukup baik, sehingga dapat digunakan sebagai dasar menetapkan keputusan di masa depan. Teknik ini menggunakan analisa regresi terhadap keputusan produksi yang diambil manajer di masa lalu.

e. Simulasi

Suatu model computer yang dinamakan Penjadwalan lewat simulasi yang dikembangakan tahun 1966 di R.C Vergin. Pendekatan simulasi ini menggunakan prosedur pencarian kombinasi nilai yang biayanya minimal untuk ukuran jumlah tenaga kerja dan tingkat produksi.

2.6.Biaya Perencanaan AgregatBiaya-biaya yang terlibat dalam perencanaan agregat antara lain :1. Hiring Cost (biaya penambahan tenaga kerja)

Penambahan tenaga kerja menimbulkan biaya-biaya untuk iklan, proses seleksi dan training. Biaya training merupakan biaya yang besar apabila tenaga kerja yang direkrut adalah tenaga kerja yang belum berpengalaman.2. Firing Cost(Biaya pemberhentian tenaga kerja)

Pemberhentian tenaga kerja biasanya terjadi karena semakin rendahnya permintaan akan produk yang dihasilkan, sehingga tingkat produksi menurun dengan drastic. Pemberhentian ini mengakibatkan perusahaan harus mengeluarkan uang pesangon bagi karyawan yang di-PHK, menurunnya moral kerja dan produktivitas karyawan yang masih bekerja, dan tekanan yang bersifat social. Semua akibat ini dianggap sebagai biaya pemberhentian tenaga kerja yang akan ditanggung perusahaan.3. Overtime Cost dan Undertime Cost(biaya lembur dan biaya menganggur)

Penggunaan waktu lembur bertujuan untuk meningkatkan output produksi, tetapi konsekwensinya perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan lembur yang biasanya 150% dari biaya kerja regular. Disamping biaya tersebut, adanya lembur akan memperbesar tingkat absen karyawan karena capek. Kebalikan dari kondisi diatas adalah bila perusahaan mempunyai kelebihan tenaga kerja dibandingkan dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan produksi. Tenaga kerja berlebih ini kadang-kadang bisa dialokasikan untuk kegiatan lain yang produktif meskipun tidak selamanya efektif. Bila tidak dapat dilakukan alokasi yang efektif, maka perusahaan dianggap menanggung biaya menganggur yang besarnya merupakan perkalian antara jumlah jam kerja yang tidak terpakai dengan tingkat upah dan tunjangan lainnya.4. Inventory Cost dan Backorder Cost (biaya persediaan dan biaya kehabisan persediaan)

Persediaan mempunyai fungsi mengantisipasi timbulnya kenaikan permintaan pada saat-saat tertentu. Konsekwensi dari kebijaksanaan persediaan bagi perusahaan adalah timbulnya biaya penyimpanan (inventory cost/holding cost) yang berupa biaya tertahannya modal, pajak, asuransi, kerusakan bahan, dan biaya sewa gudang. Kebalikan dari kondisi diatas, kebijaksanaan tidak mengadakan persediaan seolah-olah menguntungkan, tetapi sebenarnya dapat menimbulkan kerugian dalam bentuk biaya kehabisan persediaan. biaya kehabisan persediaan ini dihitung berdasarkan berapa barang diminta yang tidak tersedia. Kondisi ini pada system MTO (Make to order = Memproduksi berdasarkan pesanan) akan mengakibatkan jadwal jadwal penterahan order terlambat, sedangkan pada system MTS (make to stock =Memproduksi untuk memenuhi persediaan) akan mengakibatkan beralihnya pelanggan pada produk lain. Kekecewaan pelanggan karena tidak tersedianya barang yang diinginkan akan diperhitungkan sebagai kerugian bagi perusahaan, dimana kerugian tersebut akan dikelompokkan sebagai biaya kehabisan persediaan. Biaya kehabisan persediaan ini sama nilainya dengan biaya pemesanan kembali bila konsumen masih bersedia menunggu.

5. Subcontract Cost (biaya subkontrak)

Pada saat permintaan melebihi kemampuan kapasitas regular, biasanya perusahaan mensubkontrakan kelebihan permintaan yang tidak bisa ditanganinya sendiri kepada perusahaan lain. Konsekuensi dari kebijaksanaan ini adalah timbulnya biaya subkontrak, dimana biasanya biaya mensubkontrakan ini lebih mahal dibandingkan memproduksi sendiri dan adanya resiko terjadinya kelambatan penyerahan dari kontraktor.BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi tentang metodologi penelitian yang bertujuan agar penyusunan laporan praktikum ini dapat mempunyai alur yang terarah dan sistematis. Metodologi penelitian merupakan suatu proses berpikir yang terdiri dari tahaptahap penelitian yang akan dilakukan. Perancangan metodologi penelitian yang sistematis amat diperlukan karena tiap tahap penelitian memiliki kaitan erat terhadap tahap selanjutnya. Dengan demikian, diharapkan penelitian akan lebih terarah untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan.

3.1 Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan merupakan latar belakang permasalahan yang muncul pada suatu kegiatan, sebagai dasar pemikiran yang akan diangkat menjadi solusi yang optimal. Penelitian dilakukan oleh peneliti dengan melakukan pengambilan data permintaan terhadap produk bola lampu LED di PT Phillips Light.3.2Studi Pustaka

Studi pustaka adalah suatu tahapan dimana penulis membaca referensi referensi buku yang diperoleh dari literatur perpustakaan, makalah dan sumber sumber lain yang berhubungan dengan tema modul praktikum. Studi pustaka bertujuan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya pengetahuan dan wawasan mengenai semua teori yang berhubungan dengan perencanaan produksi agregat. Studi pustaka dilakukan untuk membantu penulis dan pembaca memahami faktor faktor apa saja yang berkaitan dengan praktikum. Studi pustaka dilakukan untuk mencari penyelesaian masalah, dalam hal ini digunakan rumusan yang ada dalam perhitungan agregat.3.3Identifikasi Masalah

Perumusan masalah yang terjadi pada suatu aktifitas kegiatan kerja, salah satunya yaitu menguji tingkat perbedaan banyaknya objek yang diamati dalam masingmasing kategori dengan banyak yang diharapkan berdasarkan permasalahan yang ada untuk dicari pemecahannya. Sampel data yang akan dicari solusi permasalahannya adalah sebanyak 12 data periode. Data ini akan diolah dengan menggunakan metode-metode perhitungan dalam perencanaan produksi agregat.

3.4Tujuan Penelitian

Penentuan tujuan penelitian berguna untuk mengarahkan setiap tahapan tahapan kegiatan yang akan dilakukan dalam pemecahan masalah sehingga hasilnya akan lebih terfokus dan terarah. Tujuan penelitian penulis dapat diilihat pada sub bab 1.3 tujuan penelitian pada bab I. Pendahuluan.3.5Pengumpulan Data

Peneliti mengumpulkan data dengan melakukan pengambilan data secara tidak langsung. 3.6Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan untuk mengetahui bagaimana menyelesaikan masalah yang ada. Adapun cara yang digunakan adalah dengan melakukan perhitungan secara manual dengan menggunakan rumus-rumus yang ada dalam studi perencanaan produksi agregat.

3.7Analisa dan Pembahasan

Setelah didapat hasil dari perhitungan secara manual dengan menggunakan perhitungan metode perencanaan produksi agregat, kemudian hasil tersebut dianalisa dan kemudian dilakukan pembahasan.

3.8 Kesimpulan dan Saran

Tahapan kesimpulan merupakan rangkuman hasil dari kegiatan penelitian yang telah dilakukan. Untuk menjawab tujuan maka akan dilakukan penarikan kesimpulan yang didasarkan pada hasil analisa yang telah didapat. Memberikan saran kepada perusahaan tempat penulis melakukan penelitian hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk menerapkan perencanaan produksi agregat lebih baik lagi.3.9. Kerangka Pemecahan Masalah

Gambar 3.1 Kerangka Pemecahan MasalahBAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1.Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam perencanaan produksi agregat ini adalah data peramalan terhadap produksi bola lampu LED di PT Phillips Light menggunakan metode weight moving average dengan bobot 60:20:20. Adapun data peramalan permintaannya sebagai berikut:

Tabel 4.1. Hasil Data Peramalan

PeriodeXtFt

11800018000

22000020000

31700017000

41500017800

52050016400

62300018700

72100020900

81600021300

92050018400

102250019700

112200020800

122100021800

4.2.Pengolahan Data

4.2.1.Data Perencanaan Produksi

Biaya-biaya yang terkait dengan produksi dan permintaan adalah sebagai berikut:

Biaya tenaga kerja (orang /hari)

Rp. 70.000

Biaya inventory (unit/bulan)

Rp. 2.000

Biaya sub kontrak (unit)

Rp. 10.000

Biaya hirng cost (orang)

Rp. 100.000

Biaya lay off (orang)

Rp. 150.000

Jam kerja per hari

8 jam

Waktu produksi / unit

0.5 jam/unit

Persediaan awal

0

Tenaga kerja awal

60 orang

4.2.2.Metode Variasi Tingkat Persediaan

Metode ini digunakan untuk mengantisipasi permintaan dengan melakukan penyamaan jumlah produksi untuk persediaannya.

Tabel 4.2. Perhitungan metode tingkat persediaan

BulanDemandJumlah Hari KerjaJumlah ProduksiPerubahan persediaanAkumulasi persediaan

Januari18000201982018201820

Februari200001817838-2162-342

Maret170001817838838496

April17800201982020202516

Mei16400212081144116927

Juni187001817838-8626065

Juli209001817838-30623003

Agustus213001918829-2471532

September18400201982014201952

Oktober19700212081111113063

November208002019820-9802083

Desember218002019820-1980103

Jumlah23080023323090310328218

Perhitungan metode variasi tingkat persediaan:

Jumlah demand selama 1 tahun = 230800 unit

Jumlah hari kerja selama 1 tahun = 233 hari

Rata-rata produksi = 230800 unit : 233 hari = 991 unit/hari

Sehingga jumlah produksi per bulan = jumlah hari kerja pd bulan tersebut x rata-rata produksi/hari Jumlah produksi bulan Januari = 20 x 991= 19820 unit ...dst

1 hari kerja = 8 jam, waktu produksi/unit= 0.5 jam/unit/orang, sehingga total produksi hari kerjanya = 8jam/hari : 0.5 jam/unit

= 16 unit / hari/karyawan

Dengan rata-rata produksi = 991 unit/ hari, maka Tenaga Kerja yang diperlukan

= Rata-rata produksi/hari: total /hari/karyawan

= 991 unit/ hari : 16 unit/hari/karyawan = 62 orang

Biaya dari penggunaan strategi ini adalah:

Biaya tenaga kerja= 62 x 233 x Rp. 70.000= Rp 1.011.220.000

Biaya persediaan= 28218 x Rp 2000

= Rp 56.436.000

Total biaya dari penggunaan strategi ini; biaya tenaga kerja + biaya persediaan = Rp 1.011.220.000 + Rp 56.436.000 = Rp 1.067.656.000,00

4.2.3.Metode variasi jumlah tenaga kerja

Tabel 4.3. Perhitungan metode variasi jumlah tenaga kerja

BulanDemandJumlah Hari KerjaTK yang diperlukanPenambahan TKPengurangan TKBiaya TK

Januari1800020573 Rp 79.800.000,00

Februari20000187013 Rp 88.200.000,00

Maret17000186010 Rp 75.600.000,00

April1780020564 Rp 78.400.000,00

Mei1640021497 Rp 72.030.000,00

Juni18700186516 Rp 81.900.000,00

Juli2090018738 Rp 91.980.000,00

Agustus2130019712 Rp 94.430.000,00

September18400205813 Rp 81.200.000,00

Oktober1970021591 Rp 86.730.000,00

November2080020656 Rp 91.000.000,00

Desember2180020694 Rp 96.600.000,00

Jumlah2308002337524839 Rp 1.017.870.000,00

Perhitungan metode variasi jumlah tenaga kerja:

Jumlah Tenaga Kerja awal = 60 orang

Jumlah Tenaga Kerja yang diperlukan = peramalan demand/jumlah hari kerja/total produksi per unit per karyawan Jumlah Tenaga Kerja pada bulan Januari = 18000 : 20 hari : 16 unit/hari/orang= 57 orang, dst.

Biaya dari penggunaan strategi ini adalah:

Biaya tenaga kerja

= Rp 1.017.870.000

Biaya penambahan TK= 48 x Rp 100.000= Rp 4.800.000

Biaya pengurangan TK= 39 x Rp 150.000= Rp 5.850.000

Total biaya dari penggunaan strategi ini;

biaya TK + biaya penambahan TK + biaya pengurangan TK = Rp 1.017.870.000+ Rp 4.800.000+ Rp 5.850.000 = Rp 1.028.520.000

4.2.4.Metode Subkontrak

Tabel 4.3. Perhitungan Metode Subkontrak

PeriodeDemandJumlah Hari KerjaJumlah ProduksiPersediaanSubkontrak

Januari1800020156802320

Februari2000018141125888

Maret1700018141122888

April1780020156802120

Mei16400211646464

Juni1870018141124524

Juli2090018141126788

Agustus2130019148966404

September1840020156802720

Oktober1970021164643236

November2080020156805120

Desember2180020156806120

Jumlah2308002331826726448128

Perhitungan metode subkontrak:

Jumlah Tenaga Kerja ditetapkan sesuai dengan kebutuhan untuk tingkat permintaan terendah (pada bulan Mei)

Sehingga jumlah TK = 16400 : 21 hari : 16 unit/hari/orang = 49 orang. Jumlah ini dipertahankan selama 12 bulan.

Jumlah produksi = total produksi/hari/karyawan x jumlah hari kerja x jumlah Tenaga Kerja Sehingga jumlah produksi bulan Januari = 16 x 20 x 49 = 15680 unit

Jumlah produksi bulan Februari = 16 x 18 x 49 = 14112 unit, dst untuk bulan-bulan yang lainnya

Biaya-biaya penggunaan strategi ini adalah:

Biaya tenaga kerja= 49 x 233 x Rp 70.000= Rp 799.190.000,00

Biaya persediaan= 64 x Rp 2.000

= Rp 128.000,00

Biaya sub kontrak= Rp 10.000 x 48128

= Rp 481.280.000,00

Total biaya dari penggunaan metode ini adalah;

Biaya tenaga kerja + biaya persediaan + biaya sub kontrak = Rp 799.190.000,00 + Rp 128.000 + Rp 481.280.000 = Rp 1.280.598.000,00

BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1.Analisis

Berdasarkan hasil peramalan pada praktikum sebelumnya ditentukan bahwa hasil demand yang digunakan adalah hasil peramalan dari metode Weight Moving Average dengan bobot 60:20:20. Berikut adalah analisis dari hasil perhitungan agregat dengan menggunakan demand tersebut.

5.1.1. Metode Variasi Tingkat Persediaan

Berdasarkan perhitungan untuk metode variasi tingkat persediaan, didapatkan data total periode adalah 12 bulan, dengan hasil peramalan total adalah 230800 unit didapatkan total produksi sebesar 230903 unit. Akumulasi persediaan dari metode ini adalah 28218 unit. Biaya untuk persediaan adalah sebesar Rp 56.436.000. Biaya untuk tenaga kerja adalah sebesar Rp 1.011.220.000. Jadi, total biaya untuk metode ini adalah sebesar Rp 1.067.656.000,00.

5.1.2.Metode Variasi Jumlah Tenaga Kerja

Berdasarkan perhitungan untuk metode variasi tingkat persediaan, didapatkan data total periode adalah 12 bulan, dengan hasil peramalan total adalah 230800 unit, tenaga kerja yang diperlukan untuk metode ini adalah 752 orang dengan biaya sebesar 1.017.870.000. Dengan jumlah penambahan tenaga kerja sebesar 48 dan pengurangan tenaga kerja sebesar 39. Biaya untuk penambahan tenaga kerja adalah sebesar Rp 4.800.000 dan pengurangan tenaga kerja sebesar Rp 5.850.000. Jadi, total biaya untuk metode ini adalah sebesar Rp 1.028.520.000.

5.1.3.Metode Subkontrak

Berdasarkan perhitungan untuk metode variasi tingkat persediaan, didapatkan data total periode adalah 12 bulan, dengan hasil peramalan total adalah 230800 unit didapatkan total produksi sebesar 182672 unit. Akumulasi jumlah produk yang disubkontrak adalah 48128 unit dengan persediaan sebesar 64 unit. Biaya untuk persediaan adalah sebesar Rp 128.000.000. Biaya untuk tenaga kerja adalah sebesar Rp 799.190.000. Biaya subkontrak sebesar Rp 481.280.000. Jadi, total biaya untuk metode ini adalah sebesar Rp 1.280.598.000,00.

5.2.Pembahasan

Setelah dilakukan analisis perhitungan dari ketiga metode diatas diketahui bahwa total biaya yang dihasilkan memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan total dari ketiga metode ini.

Tabel 5.1 Hasil Biaya Perhitungan Seluruh Metode Perencanaan Agregat

MetodeTotal Biaya

Variasi Tingkat Persediaan Rp 1.067.656.000

Variasi Jumlah TK Rp 1.028.520.000

Subkontrak Rp 1.280.598.000

Dari tabel diatas didapatkan metode yang terpilih adalah Metode Variasi Jumlah TK dengan total biaya sebesar Rp 1.028.520.000.BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN6.1.Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari analisis dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Perencanaan produksi agregat adalah metode yang digunakan untuk mengembangkan suatu rencana produksi secara menyeluruh yang fleksibel dan optimal. Perencanaan agregat ini berhubungan dengan penentuan jumlah dan waktu produksi untuk jangka waktu menegah.

2. Fungsi dari perencanaan agregat adalah merupakan suatu proses penetapan tingkat output/kapasitas produksi secara keseluruhan guna memenuhi tingkat permintaan yang diperoleh dari peramalan dan pesanan dengan tujuan meminimalkan total biaya produksi.Tujuan dari perencanaan produksi agregat adalah berusaha untuk memperoleh suatu pemecahan yang optimal dalam biaya atau keuntungan pada periode perencanaan. Namun bagaimanapun juga, terdapat permasalahan strategis lain yang mungkin lebih penting daripada biaya rendah. Permasalahan strategis yang dimaksud itu antara lain mengurangi permasalahan tingkat ketenagakerjaan, menekan tingkat persediaan, atau memenuhi tingkat pelayanan yang lebih tinggi.

3. Biaya-biaya yang terlibat dalam perencanaan agregat antara lain:

a. Hiring Cost (biaya penambahan tenaga kerja)

b. Firing Cost (Biaya pemberhentian tenaga kerja)

c. Overtime Cost dan Undertime Cost (biaya lembur dan biaya menganggur)

d. Inventory Cost dan Backorder Cost (biaya persediaan dan biaya kehabisan persediaan)

e. Subcontract Cost (biaya subkontrak)

4. Ada beberapa tehnik yang digunakan manajer operasi untuk mengembangkan rencana agregat yang lebih bermanfaat dan lebih tepat, diantaranya:

a. Metode Pembuatan grafis dan diagram

b. Metode Transportasi Dalam Program Linear

c. Linear Decision Rule

d. Management Coefficient Model

5. Setelah dilakukan terhadap tiga metode, yaitu metode variasi tingkat persediaan, metode variasi jumlah tenaga kerja, dan metode subkontrak. Diketahui bahwa metode yang terbaik adalah metode Variasi Jumlah TK dengan total biaya Rp 1.028.520.000.6.2.SaranAdapun saran yang dapat diberikan sebagai berikut :

1. Sebaiknya perusahaan mengembangkan rencana produksi yang fleksibel dan optimal untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.

2. Metode yang digunakan harusnya disesuaikan dengan keperluan perencanaan produksi yang akan digunakan.

3. Setelah melakukan perhitungan, maka harusnya perusahaan menggunakan metode Variasi Jumlah Tenaga Kerja karena total biaya produksinya terendah diantara dua metode yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

1. Modul Praktikum PERENCANAAN PRODUKSI AGREGAT Sistem Industri II.

2. Modul Perkuliahan, Perencanaa dan Pengendalian Produksi, Diah ST,MT.

LAMPIRAN

Perhitungan merode Variasi Tingkat Persediaan:

Jumlah Produksi = Rata-rata produksi/hari x Hari kerja/bulan Januari=991x20=19820

Februari=991x18=17838

Maret=991x18=17838

April=991x20=19820

Mei=991x21=20811

Juni=991x18=17838

Juli

=991x18=17838

Agustus=991x19=18829

September=991x20=19820

Oktober=991x21=20811

November=991x20=19820

Desember=991x20=19820

Perubahan Persediaan = Jumlah Produksi Permintaan Januari=19820-18000=1820

Februari=17838-20000=-2162

Maret=17838-17000=838

April=19820-17800=2020

Mei=20811-16400=4411

Juni=17838-18700=-862

Juli

=17838-20900=-3062

Agustus=18829-21300=-2471

September=19820-18400=1420

Oktober=20811-19700=1111

November=19820-20800=-980

Desember=19820-21800=-1980

Akumulasi Persediaan Januari=1820+0=1820

Februari=-2162+1820=-342

Maret=838+-2162=496

April=2020+838=2516

Mei=4411+2020=6927

Juni=-862+4411=6065

Juli

=-3062+-862=3003

Agustus=-2471+-3062=532

September=1420+-2471=1952

Oktober=1111+1420=3063

November=-980+1111=2083

Desember=-1980+-980=103Perhitungan Metode Variasi Jumlah TK

Tenaga Kerja yang diperlukan= peramalan demand : jumlah hari kerja : total produksi per unit per karyawan Januari=18000:20:16=57

Februari=20000:18:16=70

Maret=17000:18:16=60

April=17800:20:16=56

Mei=16400:21:16=49

Juni=18700:18:16=65

Juli

=20900:18:16=73

Agustus=21300:19:16=71

September=18400:20:16=58

Oktober=19700:21:16=59

November=20800:20:16=65

Desember=21800:20:16=69

Biaya TK=jumlah hari kerja x tenaga kerja yang diperlukan x biaya tenaga kerja per orang Januari =20x57x Rp70.000 = Rp79.800.000

Februari =18x70x Rp70.000 = Rp88.200.000

Maret =18x60x Rp70.000 = Rp75.600.000

April =20x56x Rp70.000 = Rp78.400.000

Mei =21x49x Rp70.000 = Rp72.030.000

Juni =18x65x Rp70.000 = Rp81.900.000

Juli =18x73x Rp70.000 = Rp91.980.000

Agustus =19x71x Rp70.000 = Rp94.430.000

September = 20x58x Rp70.000 = Rp81.200.000

Oktober=21x59x Rp70.000 = Rp86.730.000

November= 20x65x Rp70.000 = Rp91.000.000

Desember= 20x69x Rp70.000 = Rp96.600.000

Perhitungan Metode Subkontrak

Jumlah Produksi = total produksi per hari per karyawan x jumlah karyawan x jumlah tenaga kerja Januari=16x20x49=15680

Februari=16x18x49=14112

Maret=16x18x49=14112

April=16x20x49=15680

Mei=16x21x49=16464

Juni=16x18x49=14112

Juli

=16x18x49=14112

Agustus=16x19x49=14896

September=16x20x49=15680

Oktober=16x21x49=16464

November=16x20x49=15680

Desember=16x20x49=15680

Subkontrak Januari=18000-15680=2320

Februari=20000-14112=5888

Maret=17000-14112=2888

April=17800-15680=2120

Mei=16400-16464=-64 Juni=18700-14112=4524

Juli

=20900-14112=6788

Agustus=21300-14896=6404

September=18400-15680=2720

Oktober=19700-16464=3236

November=20800-15680=5120

Desember=21800-15680=612039

_1491084948.vsdMULAI

PENGUMPULAN DATA

TUJUAN PENELITIAN

IDENTIFIKASI MASALAH

STUDI PENDAHULUAN

STUDI PUSTAKA

Pemilihan Hasil Peramalan Terbaik

PENGOLAHAN DATA

AGREGAT

Metode Mixed Strategy

Biaya AGREGAT masing masing metode

Pemilihan Metode Terbaik dengan Biaya Agregat Terkecil

Metode Diterima

Analisis

STOP

Metode CWL

Metode CIL

Tidak

Ya

Kesimpulan dan Saran

Metode Subcontracting