Perekonomian Indonesia : Sebelum dan sesudah krisis ekonomi serta prospek kedepan

download Perekonomian Indonesia : Sebelum dan sesudah krisis ekonomi serta prospek kedepan

of 29

  • date post

    26-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    3.323
  • download

    1

Embed Size (px)

description

Membedah Perkembangan Ekonomi Indonesia (dari Orde lama hingga Reformasi dan persiapan menghadapi AEC 2015)

Transcript of Perekonomian Indonesia : Sebelum dan sesudah krisis ekonomi serta prospek kedepan

Working Paper In Economics & Finance Oleh : MOHAMMAD HANIF

I. PENDAHULUAN Indonesia selama kurun waktu 50 tahun pasca kemerdekaan, telah mengalami dua periode kepemimpinan dengan fokus pembangunan ekonomi yang berbeda. Pada era Soekarno, pembangunan lebih diarahkan pada upaya peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga praktis perekonomian tidak tertata rapi dan menyebabkan perekonomian Indonesia saat itu semakin hancur. Ini disebabkan adanya politik Isolasi Nasional dan menumpuknya defisit APBN dari tahun ke tahun. Puncaknya, tahun 1965-1966 terjadi krisis ekonomi nasional dan Presiden Soekarno harus turun dari tampuk pimpinan Indonesia. Pada era pemerintahan Soeharto, pembangunan berfokus pada perekonomian yang ditandai adanya grand planning pembangunan yaitu Repelita yang dimulai tahun 1969. Pada itu, pembangunan perekonomian berfokus pada upaya meningkatkan investasi luar negeri dan perdagangan. Perekonomian Indonesia saat itu mengesankan. Secara umum, Indikator perekonomian saat itu menunjukkan perkembangan yang sangat baik dan tidak ada kekhawatiran. Data BPS menunjukkan bahwa periode 1980-1990, perekonomian Indonesia mengalami kenaikan pesat. Kenaikan ini sebagian besar ditopang dari kontribusi eksploitasi sumber daya alam. GDP Indonesia 1970-1995 tumbuh rata-rata 6.8% dengan laju inflasi yang dapat ditekan dibawah 10% (single digit). GDP per kapita di tahun 1995 mencapai $1.023 atau meningkat 15 kali lipat. Ini merupakan sustainabilitas pertumbuhan yang sangat tinggi dan bersama negara Asean lainnya, tumbuh sangat mengagumkan dan fantastik yang belum pernah dicapai dikawasan manapun di dunia sebelumnya. Bahkan beberapa pengamat mengatakan bahwa kondisi ini akan terus bertahan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Menurut IMF (1999), keberhasilan pencapai kinerja ekonomi Indonesia yang fantastis tanpa disadari menimbulkan sindrom crisis of success, yang pada dasarnya menimbulkan kerentanan. Ini membuai pengambil kebijakan sehingga cenderung mengabaikan prinsip-prinsip governance, pengambilan kebijakan yang kurang hati-hati dan maraknya moral hazard baik oleh pelaku ekonomi maupun pengambil kebijakan. Kondisi ini menjadi faktor yang memperparah dampak krisis ekonomi tahun 1997. Bahkan Indonesia saat itu merupakan negara paling parah terkena dampaknya. Krisis ekonomi waktu itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot tajam menjadi -13.3% dari pertumbuhan sebesar 4.9% tahun sebelumnya. Bahkan Krisis ekonomi waktu itu juga berimbas pada krisis sosial dan politik. Krisis politik ditandai dengan munculnya gerakan reformasi dan mundurnya Soeharto dari tampuk pimpinan Indonesia. Pada awalnya, memang tidak terbersit sedikitpun bahwa pertumbuhan ekonomi yang fantastis untuk sebuah negara berkembang akan lenyap dalam sekejab akibat hebatnya krisis ekonomi yang bermula dari Thailand dan dalam hitungan hari menjalar keseluruh kawasan termasuk Indonesia. Perekonomian Indonesia saat itu berada di titik nadir perekonomian yang tak ubahnya seperti kertas yang dihempas oleh badai krisis. Akibat krisis ini, telah memangkas secara signifikan pendapatan per kapita masyarakat Indonesia kembali pada klasifikasi negara miskin. Pasca krisis ekonomi 1997, Indonesia dibawah era kepemimpinan reformasi menjalankan program stabilisasi makroekonomi melalui beberapa kebijakan moneter dan fiskal. Yaitu meredam tekanan laju inflasi dan gejolak nilai tukar. Pemerintah saat itu berupaya agar keadaan moneter menjadi stabil dengan suku bunga normal dan nilai tukar yang realistis, sehingga dapat membangkitkan dunia usaha. Selain itu, pemerintah juga melakukan konsolidasi dibidang fiskal melalui peningkatan disiplin anggaran dengan melakukan penghematan atas berbagai pengeluaran pemerintah. Dalam seluruh langkah tersebut, upaya

restrukturisasi dan penyehatan perbankan menjadi prioritas yang sangat penting. Pertimbangannya waktu itu, stabilitas moneter menjadi prasyarat bagi pemulihan ekonomi dan itu memerlukan stabilitas sistem keuangan melalui pembenahan sektor perbankan. Sejak tahun 2000, perekonomian Indonesia lambat laun menunjukkan perbaikan. Dibandingkan dengan negara Asean lainnya, Indonesia mencetak pertumbuhan yang paling rendah. Selain itu, tingkat pendapatan perkapita juga mulai tinggi bahkan lebih tinggi dibandingkan sebelum krisis. Indikator lainnya seperti ekspor juga menunjukkan peningkatan kinerja yang mengesankan dan Cadangan Devisa pun meningkat cukup besar. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca krisis masih didominasi oleh sektor manufaktur meskipun trennya memperlihatkan kecenderungan menurun. Sektor yang berkembang pesat setelah krisis adalah komunikasi dan transportasi yang tumbuh pada iklim pasar persaingan sempurna. Sedangkan sektor Sumber Daya Alam (SDA) dan infrastruktur merupakan sektor yang masih mempunyai potensi tinggi untuk dikembangkan. Bulan Agustus 2007, harga-harga saham di BEJ mengalami koreksi akibat tekanan di bursa Wall Street dan regional, menyusul meluasnya dampak krisis sub-prime mortgage di dunia. Bahkan di tahun 2008, kondisi ini makin memburuk menyusul ambruknya perusahaan-perusahaan besar seperti Fannie Mae dan Freddie Mac yaitu perusahaan perkreditan rumah yang telah memberikan garansi utang yang meliputi separuh lebih dari utang perkreditan rumah di AS. Selain itu, yang menggemparkan dunia finansial adalah Bank Investasi terbesar di pusat keuangan Wall Street yaitu Lehman Brothers. Namun demikian, karena BEJ hanya mencakup 0.5% dari kapitalisasi ekonomi Indonesia maka ambruknya IHSG sebagai Indikator pasar modal di Indonesia tidak menjadikan pintu masuk krisis. Pengaruh krisis justru masuk ke Indonesia melalui mekanisme nilai tukar. Adanya penarikan dana besar-besaran dalam valas (khususnya USD) oleh lembaga keuangan kreditor dan Investor di Amerika Serikat menyebabkan kenaikan yang cukup besar terhadap permintaan valas (khususnya USD). Rupiah pun mengalami depresiasi yang sangat tajan terhadap USD. Bahkan, nilai tukar Rupiah sempat mencapai Rp. 12.900/USD pada bulan November 2008. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap USD sangat memberatkan aktivitas impor Indonesia. Disisi ekspor, meskipun dollar menguat terhadap Rupiah, bukan berarti mutlak menggembirakan karena meskipun harga murah tetapi daya beli negara tujuan ekspor (Amerika Serikat) melemah. Adanya ancaman nilai tukar Rupiah yang terus melemah ini, Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter berusaha menyelamatkan perekonomian dengan mencegah kenaikan inflasi yang terus terjadi. Dalam usaha menekan inflasi, BI memprioritaskan sektor moneter yang mereka nilai lebih memiliki tingkat urgensi dibanding dengan sektor riil. Dalam hal ini, BI memfokuskan diri untuk menyelamatkan nilai tukar Rupiah yang anjlok akibat tekanan capital outflow dengan menaikkan tingkat suku bunga. Belum lama berselang efek krisis sub-prime mortgage, Indonesia kembali menghadapi ancaman akibat krisis keuangan ekonomi pemerintah yang berasal dari negara Eropa. Bermula diawal tahun 2010, krisis ini dikenal dengan European Sovereign Debt Crisis. Negara seperti Irlandia, Yunani, dan Portugal mengalami hutang pemerintah yang amat merisaukan. Kalau mereka gagal bayar, dampaknya dapat meluas ke keuangan dan perekonomian global. Bagi Indonesia, krisis ini akan mempengaruhi posisi ekonomi dan fiskal Indonesia melalui beberapa mekanisme transmisi, termasuk arus perdagangan dan harga komoditas dan aliran keuangan dari bank dan investor portfolio. Perkembangan pasar keuangan dan ekonomi global ini akan menjadi resiko yang berpengaruh negatif terhadap perekonomian Indonesia

kedepan. Berdasarkan perkembangan ekonomi dan keuangan terbaru di Indonesia (Bank Dunia, Desember 2011), bahwa kinerja perekonomian Indonesia menunjukkan sedikit pengaruh dari ketidakpastian prospek ekonomi global ini. Resiko penurunan yang signifikan pada perekonomian global, yang pada akhirnya mengeringkan likuiditas dollar dunia, dapat membawa implikasi yang serius terhadap sektor keuangan Indonesia, dan memiliki potensi untuk mempengaruhi ekonomi riil, melalui pendanaan perdagangan dan investasi, dan terhadap pembiayaan pemerintah. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang potret perekonomian Indonesia sebelum dan sesudah krisis ekonomi tahun 1997, serta prospek ke depan ditengah-tengah krisis ekonomi global (subprime mortgage Crisis dan European Sovereign Debt Crisis), penulis mencoba menyajikan dalam working paper ini, yang dimulai dengan Bab I : Pendahuluan; Bab II : Pembahasan; dan Bab III : Kesimpulan.

II. PEMBAHASAN II.1 Perekonomian Indonesia Sebelum Krisis Ekonomi Perekonomian Indonesia antara tahun 1950-1965 sebenarnya telah diisi dengan beberapa program dan rencana ekonomi pemerintah. Diantaranya : 1. 2. 3. 4. Program Banteng tahun 1950, yang bertujuan membantu pengusaha pribumi Program Sumitro (Sumitro Plan) tahun 1951 Rencana lima tahun pertama, tahun 1955-1960, dan Rencana Delapan Tahun

Namun demikian, kesemua program dan rencana tersebut tidak memberikan hasil yang berarti. Ini disebabkan karena pemerintah saat itu lebih berfokus pada upaya peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga praktis perekonomian tidak tertata rapi dan menyebabkan perekonomian Indonesia saat itu semakin hancur. Dana negara yang seharusnya dialokasikan pada pembangunan ekonomi, justru dialokasikan untuk kepentingan politik dan perang. Misalkan, hutang luar negeri yang dialokasikan untuk kepentingan proyek Mercusuar, dll. Saat itu, negara mengalami defisit anggaran yang semakin lama semakin besar, dan untuk menutupi itu justru dengan mencetak uang baru sehingga mendorong terjadinya inflasi yang cukup tinggi. Keadaan ini diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu 2.8%. Laju pertumbuhan penduduk lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi saat itu yang hanya mencapai 2.2%. Puncaknya, tahun 1965 perekonomian Indonesia berada pada titik nadir. Dimana waktu itu, persediaan bahan kebut