Percepatan anti korupsi

of 63/63
PERCEPATAN PEMBERANTASAN KORUPSI Disampaikan pada Diklat Prajabatan CPNS Yang Diangkat Dari Tenaga Honorer

Embed Size (px)

Transcript of Percepatan anti korupsi

Slide 1

PERCEPATAN PEMBERANTASAN KORUPSIDisampaikan padaDiklat Prajabatan CPNS Yang Diangkat Dari Tenaga Honorer Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu memahami dan mengetahui tindak pidana korupsi yang dapat terjadi di unit kerjanyaKOMPETENSI DASAR INDIKATOR KEBERHASILANSetelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu :Menguraikan pengertian dan unsusr-unsur tindak pidana korupsi; Mengidentifikasi tindakan pegawai negeri atau penyelenggara negara yang merupakan tindak korupsi; Menjelaskan dan melaksanakan peran masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi; Memberikan latihan tata cara menganalisis suatu kejadian/feit sebagai tindak pidana korupsiMATERI POKOKPENDAHULUAN;P ENGERTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI (TPK);PERATURAN PEMBERANTASAN KORUPSI;TINDAKAN / KEBIJAKAN YANG DIANGGAP TPK;KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI;PERCEPATAN PEMBERANTASAN KORUPSI

PENDAHULUANBAB I

INDONESIABumi ciptaan Tuhandengan keindahan dan kekayaan alam yangluar biasa.

PASAL 33 : 3 UUD 1945Bumi dan Air dan dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

SUDAH MAKMURKAH RAKYAT INDONESIA ?

MENGAPA KEKAYAAN YANG BEGITU BERLIMPAH, BELUM MEMBUAT RAKYAT INDONESIA MAKMUR ?

TINDAKPIDANA KORUPSIBAB IIPENGERTIAN TINDAK PIDANAPembentuk undang-undang di Indonesia menerjemahkan Straafbaarfeit (Belanda) sebagai tindak pidanaFeit, Artinya Sebagian dari kenyataan Straafbaar artinyaDapat dihukum Straafbaarfeit => Sebagian dari kenyataan yang dapat dihukum. Padahal yang dapat dihukum adalah manusia sebagai pribadi, bukan kenyataan, perbuatan atau tindakan Akan tetapi, Sebagian kenyataan, perbuatan atau tindakan yang dapat dihukum, itu pasti dilakukan oleh manusia sebagai pribadiProf. MULJATNOPerbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan yang mana disertai sanksi berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang hukum dan diancam pidana asal saja dalam hal itu diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu kejadian atau keadaan yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidananya ditujukan pada orang yang menimbulkan kejahatan.Unsur Perbuatan Pidana :Perbuatan manusiaMemenuhi rumusan dlm UU (syarat formil)Bersifat melawan hukum (syarat materil)UtrechtStraafbaarfeit => Peristiwa Pidana (Delik), karena peristiwa itu sebagai perbuatan handelen atau doen (positif), atau suatu melalaikan (negatif), maupun akibatnya (keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan atau melalaikan itu).Peristiwa pidana merupakan peristiwa hukum (rechtfeit), yaitu peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukumS I m o nTindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukumUNSUR UNSUR TINDAK PIDANAUnsur subjektifSetiap orang ( orang perorangan atau termasuk korporasi ( pasal 1 angka 3 UU PTKP);Penyelenggara negara ( pasal 1 UU No. 28/1999;Pegawai negeri ( pasal 1 angka 1 UU No. 8/1974 jo UU No. 43/1999;Korporasi.Unsur ObjektifJanji;Kesempatan;Kemudahan;Kekayaan Milik Negara (Uang, Daftar, Surat, Akta, -BarangUNSUR SUBJEKTIFPERORANGANPRIBADI;FIRMA CV (COMANDITER VENONSCHAP);KARYAWAN

APENYELENGGARANEGARABPejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, atau jufdikatif, dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 UU No 28 Tahun 1999 Penyelenggaraan Negara yg bersih dan bebas KKN)PENYELENGGARA NEGARAPasal 1 UU No 28 Tahun 1999

Pejabat Negara dalam Lembaga Negara,Menteri,Gubernur atau wakil pemerintah pusat di Daerah,Hakim, di semua tingkat pengadilan,Pejabat Negara yang lain : Dubes, Wk Gubenur, dan Bupati/Walikota, dan Pejabat yang memiliki fungsi strategis,Pejabat yang memiliki fungsi strategis

PENYELENGGARA NEGARAYang rawan praktek KKN;

Direktur/Komisaris, dan pejabat struktural lainnya di BUMN/BUMD,Pimpinan BI, Pimpinan Perguruan Tinggi, Pejabat Eselon I,Jaksa,Panitera Pengadilan, dan Pimpinan, Bendaharawan Proyek (Pasal 2 UU No 28 Tahun 1999)

PEGAWAI NEGERICSetiap WNI yg telah memenuhi syarat yg ditentukan, diangkat oleh pejabat yg berwenang dan diserahi tugas dlm suatu jabatan negeri/diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perUU yg berlaku.PNS Pusat & Daerah,Anggota TNI& POLRI,

2 Pgw Ngr sebagaimana dimaksud dlm UU Hkm Pidana.Orang yg menerima gaji/upah dri Negara/Daerah.Orang yg menerima gaji dri Korporasi yg menerima bantuan dari keuangan Negara/Daerah, atau Orang yg menerima gaji/upah dri Korporasi lain yg mempergunakan modal/fasilitas Negara/Masyarakat.D1. Kumpulan orang dan kekayaan yang terorganisasi baik yang berbentuk badan hukum;2. Kumpulan orang dan kekayaan yang terorganisasi yang bukan berbentuk badan hukum;3. Kumpulan orang yang terorganisasi yang berbentuk badan hukum4. Kumpulan orang yang terorganisasi yang bukan berbentuk badan hukum5. Kumpulan kekayaan yang terorganisasi yang berbentuk badan hukum6. Kumpulan kekayaan yang terorganisasi yang bukan berbentuk badan hukumKORPORASIDEFINISI KORUPSIKORUPSI berasal dari kata Latin Corruptio, yg diadopsi oleh berbabagai negara, Indonesia mengadopsi dari bahasa Belanda Corruptie, yg merujuk kepada Perbuatan rusak, busuk, tidak jujur yg dikaitkan dgn keuangan. (SUDARTO, 1976)KORUPSI adalah perbuatan yg dilakukan dgn maksud utk memberikan suatu keuntungan yg tdk resmi dgn hak2 dri pihak lain secara salah menggunakan jabatannya atw karakternya utk mendptkan keuntungan tuk dirinya sendiri atw orang lain, berlawanan dgn kewajibannya dan hak2 drp pihak2 lain. (Blacks Law Dictionary 1990)BEBERAPA TERMINOLOGI Korup = Busuk, palsu, suap (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991);

Korup = Suka menerima uang sogok, menyelewengkan uang/barang milik perusahaan atau negara, menerima uang dengan menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi (Kamus Hukum, 2002);

Korup = Kebejatan, ketidakjujuran, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian (The Lexicon Webster Dictionary, 1978)

PERATURANPEMBERANTASANTPKBAB III

TINDAKAN /KEBIJAKANTPKBAB IVJENIS KORUPSIUU No. 31 / 1999 Jo. UU No. 20 / 200130 diklasifikasi => 7 TPK Kerugian Keuangan NegaraSuap-MenyuapPenggelapan dalam JabatanPemerasanPerbuatan CurangBenturan Kepentingan dalam PBJGratifikasi

6 Tindakan lain => berkaitan TPKMerintangi proses pemeriksaan perkara Korupsi,Tidak memberi keterangan/Keterangan tidak benar,Bank yang tidak memberikan keterangan NOREK Tersangka.Saksi/Ahli yg tidak memberi keterangan/ keterangan palsu,Orang yg memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan/keterangan palsuSaksi yang membuka identitas Pelapor.Tugas Kelompok(Masing-masing kelompok mendiskusikan 1 tugas)

Jelaskan 4 masa Peraturan Pemberantasan Korupsi sejak tahun 1957 sampai saat ini Jelaskan Tindak Pidana Korupsi Kerugian Keuangan Negara Jelaskan Tindak Pidana Korupsi Suap MenyuapJelaskan Tindak Pidana Korupsi Penggelapan Dalam JabatanJelaskan Tindak Pidana Korupsi PemerasanJelaskan Tindak Pidana Korupsi Perbuatan CurangJelaskan Tindak Pidana Korupsi Benturan Kepentingan dalam PengadaanJelaskan Tindak Pidana Korupsi Gratifikasi

1957KEBIJAKAN TERKAITPEMBERANTASAN KORUPSIPer Penguasa MiliterNo. PRT/PM/06/19571960UU No. 24/PRP/1960Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan TIPIKOR

1971UU No. 3/1971Pemberantasan TIPIKOR

1999UU No. 31/1999TIPIKOR

33

19981999200020012002200420062009201120122013TAP MPR XIPenyelenggaraan pemerintahan yang bersih & bebas KKNUU No. 28Penyelenggaraan pemerintahan yang bersih & bebas KKNUU No. 31TipikorPP No. 71Peran serta masyarakat & penghargaan dlm pencegahan & pemberantasan TPKUU No. 20TipikorUU No. 30KPKINPRES No.24Percepatan Pemberantasan KorupsiUU No. 7Ratifikasi UNCAC 2003UU No. 46Pengadilan TipikorINPRES No.9Rencana Aksi cegah berantas TPK 2011INPRES No.17Aksi cegah berantas TPK 2012INPRES No.55Stranas cegah berantas TPK 2012-2025INPRES No.1Aksi cegah berantas TPK 2013KEBIJAKAN TERKAITPEMBERANTASAN KORUPSI34UU No. 31/1999 jo. UU No. 20/2001Terdapat 30 Jenis TPK, yg bisa di pidana mati, pidana penjara dan pidana denda karena Korupsi.Terdapat 6 jenis TP lain yg berkaitan dengan perkara Korupsi

.2 Delik = Merugikan Keuangan Negara/Perekonomian Negara.

.28 = Perilaku Penyelenggara negara yg terkait dengan kekuasaannya.

TINDAK PIDANA KORUPSIA TPK Terkait Kerugian Negara

UU No. 31 / 1999 Jo. UU No. 20 / 2001Pasal 2 (1):

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjaraseumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling paling sedikit Rp. 200.000.000,00 dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00.1Pasal 3 :

Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00. TPK Terkait Suap Menyuap

UU No. 31 / 1999 Jo. UU No. 20 / 2001Pasal 5 : 1

Memberi/menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dgn maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atw tdk berbuat sesuatu dlm jabatannya, yang bertentangan dgn kewajibannyaMemberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dgn kewajiban dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatan. 2

Memberi Hadiah kepada pegawai negeri ( Psl 13 UUPTPK ),Pegawai Negeri/Penyelenggara Negara menerima suap (Psl 5 : 2; Psl 12 a; Psl 12 b; UUPTPK),Pegawai Negeri/Penyelenggara Negara menerima hadiah yg berhubungan dengan jabataannya (Psl 11 UUPTPK),Menyuap Hakim (Pasal 6 : 1 a UUPTPK),Menyuap Advokad (Pasal 6 : 1 b UUPTPK),Hakim dan Advokad menerima suap (Pasal 6 : 2 Psl 12 c; Psla 12 d UUPTPK), TPK Terkait Penggelapan Dalam Jabatan

Pegawai Negeri menggelapkan uang / membiarkan penggelapan (Pasal 8 UUPTPK);Pegawai Negeri memalsukan buku untuk pemeriksaan administrasi (Pasal 9 UUPTPK);Pegawai Negeri merusakkan barang bukti (Pasal 10 a UUPTPK);Pegawai Negeri membiarkan orang lain merusakkan bukti (Pasal 10 a UUPTPK);Pegawai Negeri membantu orang lain merusakkan barang bukti (Pasal 10 a UUPTPK);

3

Pegawai Negeri /Penyelenggara Negara memeras (Pasal 12 e; Psl 12 g UUPTPK),Pegawai Negeri /Penyelenggara Negara memeras Pegawai Negeri lain (Pasal 12 f ; Psl 12 g UUPTPK),

TPK Terkait Perbuatan Pemerasan

4 TPK Terkait Perbuatan Curang

Pemborong berbuat curang (Pasal 7 : 1 a UUPTPK);Pengawas Proyek membiarkan perbuatan curang (Pasal 7 : 1 b UUPTPK);Rekanan TNI/POLRI berbuat curang (Pasal 7 : 1 c UUPTPK);Pengawas Rekanan TNI/POLRI berbuat curang (Pasal 7 : 1 d UUPTPK);Penerima Barang TNI/POLRI membiarkan perbuatan curang (Pasal 7 : 2 UUPTPK);Pegawai Negeri /Penyelenggara Negara menyererobot tanah negara sehingga merugikan orang lain (Pasal 12 UUPTPK),

5

Pegawai Negeri turut serta dalam Pengadaan yang diurusnya (Pasal 12 i UUPTPK),

TPK Terkait Benturan Kepentingan Dlm Pengadaan

67GRATIFIKASIPasal 12 B UUPTPKPemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.

TPK TERKAIT TINDAKPIDANA LAIN BTPK Terkait Tindak Pidana Lain

Merintangi proses pemeriksaan perkara Korupsi (Pasal 21 UUPTPK);Tersangka tidak memberikan keterangan mengenai harta kekayaannya (Pasal 22 UUPTPK);Bank tidak memberikan keterangan rekening Tersangka (Pasal 22 UUPTPK);Saksi/Ahli tidak memberikan keterangan/ memberikan keterangan palsu (Pasal 10 a UUPTPK);Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan/memberikan keterangan palsu (Pasal 22 UUPTPK);Saksi yang membuka identitas Pelapor (Pasal 24 UUPTPK).

PERAN SERTAMASYARAKAT CBAB V UUPTPK

Hak mencari, memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi TPK;Hak memperoleh pelayanan dlm mencari, memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi TPK kepda Penegak hukum yg menangani TPK tsb;Hak menyampaikan saran pendapat bertanggung jwb kepada Penegak hukum yg menangani TPK tsb;MEMBERI KESEMPATAN MASYARAKAT UNTUK TURUT BERPERAN SERTA DALAM PEMBERANTASAN KORUPSIHak utk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yg diberikan kepada Penegak hukum dlm waktu 30 hari,Hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal : Melaksanakan haknyaDiminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan, dan disidang pengadilan sebagai saksi pelapor. Saksi atau Saksi Ahli sesuai dgn ketentuan peraturan perUan yg berlaku.

BAB VKOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI(KPK)

LEMBAGA PEMBERANTASAN KORUPSI SEBELUM KPKTIM PEMBERANTASAN KORUPSI.Dibentuk Thn 1967, Keppres 228/1967, Ketua : Jaksa Agung, Tugas : Membantu Pemerintah memberantas korupsi sec preventif dan represif.KOMITE ANTI KORUPSI.Dibentuk Thn 1970, Pelaksana : Angkatan 66 Akbar Tanjung Dkk.

LEMBAGA PEMBERANTASAN KORUPSI SEBELUM KPKKOMITE 4.Dibentuk Thn 1970, Keppres 12/1970, Ketua : Wilopo, SH, Tugas : Menghubungi Pejabat Sipil, Militer dan Swasta, Pum Pusat/Daerah.OBSTIB. Inpres 9/1977 Pelaksana : Koordinator Menpan, Operasional Pangkopkamti.

LEMBAGA PEMBERANTASAN KORUPSI SEBELUM KPKTIM PEMBERANTASAN KORUPSIThn 1982, TPK yg pernah dibentuk Thn 1967, dihidupkan kembali, KPKPN.Dibentuk dgn UU No. 28/1999 dan KEPRES No. 27/1998. Tugas : Mengungkap kasus2 Korupsi yg sulit ditangani KEJAGUNG.

Dasar Pembentukan : UU No. 30/2002 TUGAS POKOK : Melakukan Koordinasi dgn Instansi berwenang menindak TIPIKOR,Melaksanakan supervisi terhdp Instansi berwenang melakukan pemberantasan TIPIKOR,Melakukan penyelidikan, penyidikan, tuntutan terhdp TIPIKOR,Melakukan tindak pencegahan TIPIKOR,Melakukan monitor terhadap pelanggaran pemerintahan negara.

WEWENANG : Mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan TIPIKOR,Menetapkan sistim pelaporan dalam kegiatan pemberantasan TIPIKOR,Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan TIPIKOR kpda Inst terkait,Melaksanakan dengar pendapat / pertemuan dgn Inst yg berwenang melakukan pemberantasan TIPIKOR,Meminta laporan Inst terkait mengenai pencegahan TIPIKOR,Wewenang lainnya sebagaimana diatur dlm Psl 12, 13, 14 UU No. 30/2002 - KPTPK

Kewenangan : Penyelidikan, Penyidikan dan Penuntutan TIPIKOR , meliputi TIPIKOR yg :Melibatkan Aparat Penegak Hukum, Penyelenggaran Negara, Orang lain yg ada kaitannya dgn TIPIKOR yg dilakukan oleh aparat penegak hukum/penyelenggara negara,Mendapat perhatian dan yang meresahkan masyarakat, dan atauMenyangkut kerugian negara paling sedikit Rp 1.000.000.000,-

BAB VIPERCEPATANPEMBERANTASAN KORUPSIINPRES No. 24/2004PERCEPATAN PEMBERANTASAN KORUPSIINPRES Ini ditujukan kepada :Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,Jaksa Agung Republik Indonesia,Panglima Tentara Nasional Indonesia,Kepala Kepolisian negara Republik Indonesia,Para Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen,Para Gubernur,Para Bupati dan Walikota

Juga kepada :Seluruh Pej. Pem. termsk Peny Neg menyampaikan laporan harta kekayaannya kpd KPK,Membantu KPK dlm rangk penyelenggaraan pelaporan, pendaftaran, pengumuman dan pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara dilingkungannya.Membuat penetapan kinerja dengan pejabat dibawahnya sec berjenjang,Meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat,Menetapkan program dan wilayah bebas korupsi,Melaksanakan pengadaan barang dan jasa secara konsisten untuk mencegah kebocoran dan pemborosan,Menerapkan kesederhanaan dalam pribadi dan kedinasan,Memberikan dukungan terhadap upaya-upaya pemberantasan korupsi (percepatan informasi berkaitan TPK dan mempercepat pemberian ijin pemeriksaan terhadap saksi / tersangka),Melakukan kerjasama dengan KPK, menelaah dan mengkaji sistem-sistem yang menimbulkan TPK, Meningkatkan upaya pengawasan dan pembinaan aparatur untuk meniadakan perilaku koruptif dilingkungannya.

instruksi khusus kepada Menko Bidang Ekonomi, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala BAPPENAS melakukan kajian-kajian dan uji coba pelaksanaan sistem E-Procurement yang dapat dipergunakan bersama instansi pemerintah,Instruksi khusus kepada Menteri Keuangan, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala BAPPENAS, Menteri Negara PAN, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Negara BUMN, Menteri Diknas, Menkominfo, Jaksa Agung RI, KAPOLRI, Gubernur, Bupati / Walikota, yang padaintinya melaksanakan upaya-upaya percepatan pemberantasan tindak pidana korupsi sesuai dengan bidang masing-masing.Skala InternasionalMeratifikasi Konvensi PBB Tahun 2003 Ttg Konvensi Anti Korupsi (UNCAC), melalui penerbitan UU No. 7/2006 tentang Ratifikasi UNCACMemajukan dan memperkuat tindakan-tindakan memberantas korupsi yang lebih effektif;Memajukan, memfasilitasi dan mendukung kerjasama internasional dan bantuan teknis dalam mencegah dan memerangi korupsi, termasuk pengembalian asset;Memajukan integritas, akuntabilitas, dan manajemen yang seharusnya dalam soal-soal publik dan harta publik.MAKSUD DAN TUJUAN KONVENSITERIMA KASIH