Perbedaan Perilaku Prososial Laki-laki Dan Perempuan Pada Mahasiswa Psikologi Ui

download Perbedaan Perilaku Prososial Laki-laki Dan Perempuan Pada Mahasiswa Psikologi Ui

of 28

  • date post

    06-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.679
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Perbedaan Perilaku Prososial Laki-laki Dan Perempuan Pada Mahasiswa Psikologi Ui

Tugas Penelitian PERBEDAAN PERILAKU PROSOSIAL LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UI

Diajukan untuk tugas akhir MetPenStat II Kelas A

Disusun oleh : Fitri Tasliatul Fuad (0906627820) Ibadurrahman (0906560651) Madinatul Munawaroh (0906521000) Putri Novelia (0906491875) Reza Lidia Sari (0906560866) Rindang Ayu (0906553690)

Pembimbing Dewi Maulina S.Psi., M.Psi. Dr. Anggadewi Moesono

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Depok, 2010

KATA PENGANTAR Alhamdullillahirobbilalamin peneliti ucapkan kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kekuatan kepada kami dalam menyelesaikan tugas Metode Penelitian dan Statistika II ini dengan baik dan tepat pada waktu yang telah di tentukan. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, mahasiswa senior, anggota kelompok dan keluarga yang telah memberikan dukungan, motivasi, masukan, saran, dan kritik demi lancarnya penelitian ini. Kami sadar sebagai pemula, dalam penelitian ini tentu memiliki banyak kekurangan, untuk itu kami mohon maaf dan kami sangat berterimakasih jika ada yang ingin memberikan saran dan kritiknya untuk menjadi lebih baik dalam penelitianpenelitian selanjutnya. Semoga hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Depok, 16 Desember 2010

Tim Peneliti

i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.i Daftar Isi..ii BAB I Pendahuluan I.1 Latar Belakang 1 I.2 Rumusan Masalah2 I.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian2 BAB II Landasan Teori II.1 Definisi Prososial3 II.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial5 II.3 Pendekatan Perkembangan Kognitif 7 II.4 Laki-laki dan Perempuan dala Perilaku Prososial 8 II.5 Hipotesis. 9 BAB III Metode Penelitian III.1 Populasi dan Sampel 10 III.2 Tipe dan Desain Penelitian 10 III.3 Teknik Analisis 11 III.4 Varabel Penelitian 11 III.5 Alat Ukur 11 BAB IV Hasil dan Analisis IV.1 Gambaran Umum Penelitian 12 IV.2 Hasil Penelitian 12 IV.3 Interpretasi Hasil 18 BAB V Penutup V.1 Kesimpulan 20 V.2 Diskusi.20 V.3 Saran21 Daftar Pustaka 22 Lampiran.23

BAB I ii

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri. Selalu terjadi saling ketergantungan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Untuk mempertahankan kebersamaan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup, manusia perlu mengembangkan sikap kooperatif serta sikap untuk berperilaku menolong terhadap sesamanya atau yang sering disebut sebagai perilaku prososial. Pada kenyataannya karakteristik dari individu juga mempengaruhi perilaku prososial seseorang, diantaranya adalah kematangan kognitif dan jenis kelamin. Asumsi utama dari kematangan kognitif adalah penalaran moral akan berpengaruh terhadap perilaku prososial (Staub, 1979 dalam Margus, 2008). Sedangkan pengaruh jenis kelamin ditemukan dalam beberapa penelitian tentang perilaku prososial yang memiliki hasil berbeda-beda. Mills dan Grusec (1991 dalam Hans & Bierhoff, 2002) menemukan bahwa perempuan lebih penolong dibandingkan laki-laki. Tetapi penelitian lain menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara jender (jender diartikan sebagai jenis kelamin) dan tingkat perilaku menolong (Rushton, 1975 dalam Hans & Bierhoff, 2002). Penjelasan mengenai perbedaan jenis kelamin dalam perilaku prososial dapat dilihat dari peran jender yang tentunya juga dipengaruhi peran sosial mereka yang berbedabeda. Para psikolog berpendapat bahwa secara umum perempuan lebih empati atau simpatetik dibandingkan laki-laki (Feshbach, 1982; Hoffman, 1977 dalam Eagly & Crowley, 1986). Sedangkan jender laki-laki akan menolong dalam situasi yang berbahaya. Berdasarkan yang menerima penghargaan dari Carnegie Hero Fund Comission, tercatat lebih banyak laki-laki yang menerima penghargaan karena menolong sesama manusia, hanya 9% dari hero tersebut adalah perempuan (Hans & Bierhoff, 2002). Oleh karena itu, banyaknya perbedaan pendapat mengenai perilaku prososial yang ditinjau dari perbedaan jenis kelamin membuat penulis tertarik untuk kembali mengangkat permasalahan ini menjadi topik dalam penelitian kami.

i

I.2. Rumusan Masalah

Masalah Penelitian

: Apakah terdapat perbedaan perilaku prososial antara

perempuan dan laki-laki pada mahasiswa? Operasionalisasi masalah : Apakah terdapat perbedaan skor decision model of

helping antara perempuan dan laki-laki pada mahasiswa psikologi UI?

I.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor perilaku prososial antara perempuan dan laki-laki pada mahasiswa. Manfaat penelitian : Manfaat ilmiah, penelitian ini dapat menjadi salah satu sumber penelitian selanjutnya. Manfaat praktis, penelitian ini menjadi pengetahuan baru mengenai perilaku prososial dan jenis kelamin.

ii

BAB II LANDASAN TEORI

II.1. Definisi Prososial Banyak ahli yang memberikan definisi mengenai tingkah laku prososial atau perilaku positif. Staub (dalam Margus, 2002) menyatakan perilaku prososial adalah perilaku yang ditujukan kepada orang lain dan memberikan manfaat. Sedangkan Brigham (dalam Margus, 2002) mengemukakan perilaku prososial adalah segala bentuk tingkah laku yang bertujuan menyokong kesejahteraan orang lain atau perilaku yang menguntungkan penerima tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pelaku. Meskipun berbeda-beda, tetapi pada dasarnya memiliki pengertian yang sama. Kesamaannya adalah tingkah laku tersebut mempunyai sifat untuk menyejaterahkan atau memberikan manfaat bagi orang lain. Persamaan lainnya adalah tingkah laku tersebut tidak memberikan keuntungan yang jelas kepada orang lain. Akant tetapi, perilaku prososial tidak selamanya memberikan manfaat bagi orang lain. Menurut Baron dan Byane (2000), perilaku prososial seringkali menimbulkan resiko atau konsekuensi negatif bagi orang yang memberikan pertolongan. Dalam mengistilahkan dan menggolongkan perilaku prososial, ada beberapa perbedaan pendapat di kalangan para ahli. Istilah perilaku menolong, perilaku prososial dan perilaku altruistik sering disalah artikan. Namun, pada dasarnya ketiga istilah tersebut berbeda dalam tujuan dari tindakannya. Menurut Hans dan Bierhoff (2002) : Helping is the broadest term, including all forms of interpersonal support Prosocial behavior is narrower, in that the action is intended to improve the situation of help-recipient, the actor is not motivated by the fulfillment of professional obligations, and the recipient is a person and not an organizations. Altruism refers to prosocial behavior that has an additional constrain, namely that the helpers motivation is characterised by perspective taking and empathy. Jika dilihat dari pengertian masing-masing istilah, ketiganya ini saling berhubungan satu sama lain. i

Wrightsman dan Deaux (dalam Margus, 2002), mendefinisikan perilaku prososial sebagai perilaku yang menguntungkan orang lain, atau konsekuensi sosial yang positif baik fisik maupun psikologis kepada orang lain, terdiri dari perilaku menolong dan bekerjasama. Ia juga menyebutkan bahwa istilah prosocial behavior sama dengan helping behavior yang merupkan kebalikan dari antisocial behavior. Selanjutnya, Baron dan Byrne (1994) menyatakan istilah prosocial behavior mempunyai arti yang sama dengan altruistic behavior. Selain penekanan pada akibat dari tingkah laku yang menguntungkan orang lain, terdapat juga definisi prososial yang menekankan pada hal lain. Salah satunya adalah oleh Baron dan Byane (2000) yang menambahkan akan perlunya kesesuaian antara tindakan yang ditampilkan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Rentang perilaku prososial berada dalam sebuah kontinum yang dimulai dari tindakan altruisme yang tidak egois/sukarela sampai tindakan menolong yang dimotivasi oleh kepentingan sendiri (Batson, dalam Margus, 2008). Banyak perilaku prososial yang dilakukan tidak bersifat sukarela, misalnya bila kita menjadi sukarelawan untuk membantu para pengungsi hanya untuk membuat orang lain terkesan kepada kita (Sears et al., dalam Margus, 2008). Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan dampak sosial yang positif atau menguntungkan bagi orang lain yang menerimanya, baik secara fisik maupun psikologis dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dalam menjelaskan tingkah laku prososial, Latane dan Darley (dalam Margus, 2008) menggunakan decision model of helping. Dimana ia melibatkan keputusan dari orang yang berpotensi untuk melakukan pertolongan sebagai faktor yang paling berperan. Adapun aspek-aspek yang terlibat dalam pengambilan keputusan adalah notice the emergency, define it as emergencies, take responsibility, decide to help, dan implement way to help. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku menolong yang dilakukan oleh seseorang pada sistuasi gawat (emergency) merupakan sebuah proses. Proses ini terdiri dari lima tahap decision making. Tahapan awal jika dilakukan akan berlanjut ke tahap berikutnya hingga tahap terkahir agar terjadi perilaku menolong. Jika salah satu tahap tidak terjadi maka perilaku menolong tidak akan dilakukan. ii

Untuk menjawab penelitian ini, kami menggunakan definisi dari Latane dan Darley (dalam Margus, 2008) dalam menjelaskan perilaku prososial. II.2. Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku prososial Ada dua faktor yang memengaruhi perilaku prososial, yaitu faktor situasional dan faktor dalam diri (Sarwono et al.,2009) 1. Faktor situasional a. Bystander Efek bystander terjadi karena pengaruh sosial (sosial influence) yaitu 1) pengaruh dari orang lain yang dijadikan sebagai patokan dalam mengintepretasi situasi dan mengambil keputusan untuk menolong seseorang jika orang lain juga menolong; 2) hambatan penonton (audience inhibition), yaitu merasa dirinya dinilai oleh orang lain (evaluation apprehension) dan