PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN Publikasi -- 00.pdf PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN PISANG...

download PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN Publikasi -- 00.pdf PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN PISANG AMBON

of 15

  • date post

    14-Feb-2020
  • Category

    Documents

  • view

    9
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN Publikasi -- 00.pdf PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN PISANG...

  • PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN PISANG

    AMBON DAN DAUN PISANG KLUTUK

    Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada

    Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Oleh :

    HENI WIDIYAWATI

    A420150096

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

    2019

  • i

    HALAMAN PERSETUJUAN

    PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN PISANG AMBON

    DAN DAUN PISANG KLUTUK

    HENI WIDIYAWATI

    A420150096

    Artikel Publikasi ini telah disetujui oleh pembimbing skripsi Fakultas Keguruan dan

    Ilmu Pendidikan, Univeristas Muhammadiyah Surakarta untuk dipertanggung

    jawabkan di hadapan tim penguji skripsi.

    Surakarta, 18 April 2019

    (Triastuti Rahayu, S.Si, M.Si)

    NIDN. 0615027401

  • ii

    HALAMAN PENGESAHAN

    PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN PISANG AMBON

    DAN DAUN PISANG KLUTUK

    OLEH

    HENI WIDIYAWATI

    A420150096

    Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Universitas Muhammadiyah Surakarta

    Pada hari Jum’at, 10 Mei 2019

    Dan dinyatakan telah memenuhi syarat

    Dewan Penguji

    1. Triastuti Rahayu, S. Si., M.Si ( )

    (Ketua Dewan Penguji)

    2. Dra. Suparti, M.Si ( )

    (Anggota I Dewan Penguji)

    3. Dra. Titik Suryani, M.Sc ( )

    (Anggota II Dewan Penguji)

    Dekan,

    (Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M. Hum)

    NIDN. 0028046501

  • iii

    PERNYATAAN

    Saya yang bertanda tangan dibawah ini,

    Nama : Heni Widiya

    NIM : A420150096

    Program Studi : Pendidikan Biologi

    Judul Skripsi : Perbandingan Struktur Anatomi Daun Pisang Ambon dan Daun

    Pisang Klutuk

    Menyatakan dengan sebenarnya bahwa artikel publikasi yang saya serahkan ini

    benar-benar hasil karya saya sendiri dan bebas plagiat karya orang lain, kecuali yang

    secara tertulis diacu atau dikutip dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

    Apabila di kemudian hari terbukti artikel publikasi ini hasil plagiat, saya bertanggung

    jawab sepenuhnya dan bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku.

    Surakarta , 18 April 2019

    Yang membuat pernyataan,

    Heni Widiyawati

    A420150096

  • 1

    PERBANDINGAN STRUKTUR ANATOMI DAUN PISANG AMBON DAN

    DAUN PISANG KLUTUK

    Abstrak

    Secara anatomi, daun Musa balbisiana dan Musa paradisiaca tersusun dari epidermis

    atas dan bawah, hipodermis, palisade dan spons, xilem serta floem. Struktur

    morfologi dan anatomi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan

    tanaman terhadap beberapa patogen tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk

    membandingkan struktur anatomi daun pisang ambon dan daun pisang klutuk.

    Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, menggunakan preparat awetan

    anatomi daun pisang ambon dan daun pisang klutuk. Parameter yang diukur berupa

    ketebalan epidermis atas dan bawah, hipodermis, palisade dan spons, xilem dan

    floem dari daun pisang ambon dan pisang klutuk. Hasil dari penelitian didapatkan

    bahwa pisang ambon dan pisang klutuk memiliki ketebalan strukur anatomi daun

    yang tidak berbeda nyata (1638,83 µm & 1627.83 µm). Pisang ambon memiliki

    ketebalan jaringan hipodermis 49 µm, parenkim palisade dan spons (55 µm & 39

    µm), xilem dan floem (34 µm & 27 µm), serta epidermis bawah 18 µm yang lebih

    tebal namun, untuk epidermis atas lebih tipis yaitu 11 µm. Sedangkan pada daun

    pisang klutuk jaringan hipodermis 43 µm, Parenkim palisade dan spons (46 µm & 32

    µm), xilem dan floem (16 µm & 24 µm) serta epidermis bawah 11 µm lebih tipis,

    tetapi untuk lapisan epidermis atas lebih tebal yaitu 15 µm.

    Kata kunci: Daun pisang klutuk, Daun pisang ambon, sigatoka, struktur anatomi

    Abstract

    Anatomically, the leaf Musa paradisiaca and Musa balbisiana composed of upper and

    lower epidermis, hypodermis, palisade and spongy, xylem and phloem.

    Morphological and anatomical structure is one of the factors that influence plant

    resistance to some specific pathogens. This study aimed to compare the anatomical

    structure of leaf ambon banana and banana leaves klutuk. The method used is

    qualitative method, using the preserved anatomical preparations banana leaves

    ambon and banana leaves klutuk. The measured parameters such as thickness of the

    upper and lower epidermis, hypodermis, palisade and spongy, xylem and phloem of

    banana leaves ambon and banana leaves klutuk. Results of the research showed that

    the ambon banana and klutuk banana has a thickness of anatomical structure of

    leaves that are not significantly different (μm 1638.83 and 1627.83 m). Ambon

    banana has a thickness of 49 μm hypodermic tissue, palisade and spongy

    parenchyma (55 μm and 39 m), xylem and phloem (34 μm and 27 m), and lower

    epidermis 18 μm thicker however, for the upper epidermis thinner that is 11 lm.

    While on a klutuk banana leaf, network hypodermic 43 μm, parenchyma palisade and

    spongy (46 μm and 32 m), xylem and phloem (16 μm and 24 m) and lower epidermis

    11 μm thinner, but to the epidermal layer of more thick and 15 μm ,

    Keyword: Klutuk banana leaf, Ambon Banana leaf, Sigatoka, Anatomical Structure

  • 2

    1. PENDAHULUAN

    Pisang merupakan salah satu buah yang paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di

    Indonesia (Intan, 2014). Secara umum, pisang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu

    pisang liar dan budidaya. Pisang liar tumbuh dialam bebas (tanpa memerlukan

    perlakuan khusus), memiliki banyak biji dan bersifat diploid contohnya pisang

    klutuk. Sedangkan pisang budidaya banyak tumbuh dipekarangan, biji sedikit dan

    bersifat triplod atau diploid contohnya pisang ambon (Rahmawati, 2013).

    Pisang klutuk merupakan jenis tanaman pisang yang didalam buahnya

    terdapat banyak sekali biji, memiliki rasa yang manis dan juga mengandung banyak

    nutrisi yang baik untuk tubuh (Andareto, 2015). Daun pisang klutuk biasannya

    banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membungkus makanan karena bersifat

    lentur dan tidak mudah pecah atau sobek saat digunakan (Pranata, 2008). Pisang

    klutuk termasuk habitus tanaman yang kokoh, tahan terhadap kekeringan dan juga

    suhu yang ekstrim (Shetty, 2016), bergenom BB yang biasanya memiliki ketahanan

    yang lebih tinggi terhadap kekeringan dan juga toleran terhadap berbagai penyakit

    salah satunya yaitu penyakit sigatoka, BBTV atau biasa disebut penyakit kerdil dan

    layu panama (Sunandar, 2017).

    Pisang ambon merupakan salah satu jenis pisang yang dikonsumsi dalam

    keadaan segar dan juga banyak dimanfaatkan menjadi beberapa olahan seperti sale

    dan keripik. Pisang ambon memiliki nilai komersial yang tinggi (Suciatmih, 2014).

    Namun, pisang ini juga mudah sekali terkena penyakit. Salah satu penyakit yang

    menyerang tanaman pisang ambon adalah Black sigatoka, yaitu penyakit yang

    menyerang bagian dari daun (Riastiwi,2017).

    Menurut penelitian (Sunandar,2018) Secara anatomi, daun Musa balbisiana

    dan Musa paradisiaca (kepok) tersusun dari epidermis atas, hipodermis, palisade,

    bunga karang, epidermis bawah dan berkas pengangkut xilem serta floem. Musa

    balbisiana memiliki dua lapisan hipodermis yang terletak pada sisi adaxial dan

    abaxial. Sedangkan pada Musa paradisiaca (kepok) hanya memiliki satu lapis

    hipodermis yang terletak pada sisi adaxial/sisi abaxial daun. Jaringan mesofil pada

    daun disusun oleh jaringan palisade dan juga jaringan bunga karang. Pada daun Musa

    balbiana dan Musa paradisiaca (kepok) juga ditemukan jaringan mesofil yang terdiri

  • 3

    dari dua lapis jaringan palisade, tersusun rapat, memilki bentuk tidak beraturan dan

    berfungsi untuk membentuk aerenkim. Sedangkan untuk berkas pengangkut pada

    daun Musa balbiana dan Musa paradisiaca (kepok) terdiri dari xilem, floem, dan

    biasanya dikelilingi oleh sel sklerenkim.

    Pisang klutuk lebih toleran terhadap penyakit sigatoka dimungkinkan karena

    pengaruh dari struktur anatomi daun sebagai penghalang fisik patogen. Sastrahidayat

    (2015) menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan

    tanaman terhadap patogen yaitu struktur morfologi dan anatominya. Tanaman yang

    memiliki struktur morfologis tertentu menyebabkan tanaman tersebut sulit terinfeksi

    oleh patogen seperti epidermis berkutikula tebal, lapisan lilin yang kuat, dan jumlah

    stomata sedikit dan lubangnya sempit (Rostini, 2011). Hasil penelitian Jeniria (2015),

    menyatakan kekuatan dan ketebalan dinding sel epidermis merupakan faktor penting

    untuk ketahanan beberapa jenis tanamam terhadap patogen tertentu. Epidermis

    merupakan jaringan terluar yang berfungsi sebagai tempat penetrasi patogen, sel-sel

    epidermis akan memperkuat dan mempertebal dinding sel bagian luar saat tanaman

    terserang patogen. Hal ini bertujuan untuk mempersulit penetrasi yang dilakukan

    oleh patogen. Berdasarkan permasalahan diatas, maka dilakukanlah pene