Perbandingan pendidikan sekuler dan pendidikan islam

download Perbandingan pendidikan sekuler dan pendidikan islam

of 21

  • date post

    07-Dec-2014
  • Category

    Design

  • view

    1.747
  • download

    10

Embed Size (px)

description

 

Transcript of Perbandingan pendidikan sekuler dan pendidikan islam

  • 1. PERBANDINGAN PENDIDIKAN SEKULER DAN PENDIDIKAN ISLAM Pada akhir zaman ini, nilai-nilai islam sangat terasa asing. Nilai-nilai ini mulai pudar diterjang budaya sekuler yang sangat bertentangan jauh dengan islam. Keduanya memang akan saling mengalahkan dan saling memperebutkan hati manusia. Keduanya akan menawarkan program-program unggulan dengan tawaran-tawaran yang sangat menarik. Kaum sekularis telah menawarkan produk unggulannya berupa kebebasan dari aturan-aturan agama, mereka seperti mewacanakan bahwa diri manusia adalah milik mereka sendiri tanpa ada yang boleh memaksakan satu aturan, sampai Allah Azza Wajalla pun tidak berhak mengatur urusan dunia pendidikan mereka. Dari sini, maka tumbuhlah pendidikan- pendidikan yang kering dari nilai-nilai agama, ikhtilat antara pelajar lelaki dan wanita, seragam yang menampakan aurat dan kurikulum-kurikulum yang tidak menyentuh ruhani begitu dominan dalam dunia pendidikan mereka. Ruhani yang kering dari nilai-nilai islam ini menjadi pemicu tumbuhnya akhlak-akhlak tercela. Perzinahan antar guru, guru dengan siswa, dan siswa-dengan siswa sering terjadi akibat keringnya ruhani. Tauran pelajar sudah menjadi agenda rutin antar sekolah, bahkan sampai pembuhuhanpun kerap terjadi di dunia pendidikan seperti ini. Kata Bebas menang begitu mempesona, seolah-olah meninggalkan kebebasan adalah penjara yang sangat menyesakkan dan keterikatan yang begitu menyedihkan. Hal ini dikarenakan syaitan telah menghiasai pandangan mereka agar sebanyak mungkin manusia tidak menerapkan syariat islam yang digambarkan sebagai satu kesempitan. Para aktivis pun terus berusaha membendung golombang pendidikan sekuler yang sudah banyak menenggelamkan manusia ini. sedikit-demi sedikit mereka bahu-membahu membangun paradigma islam. Mereka berusaha menjelaskan bahwa ikatan-ikatan islam adalah ikatan pengokohan bukan peruntuhan, ikatan keamanan bukan penjara, ikatan yang menuntun pada jalan kebagagiaan bukan ikatan yang menjerembabkan pada lubang-lubang kenistaan. Para aktivis pendidikan Islam selalu menjadikan ajaran islam sebagai ujung tombak penawaran program, karena mereka yakin hanya islamlah yang akan menuntun pada kebahagiaan. Tahfizul Qur`an termasuk program unggulan yang ditawarkan oleh para aktivis islam di dunia pendidikan, selain ketenangan yang pasti didapat maka pahala yang besar di akheratpun akan diraih oleh semua orang yang menjalankan program ini. ketengan hakiki akan dirasakan oleh siswa/i yang menghafal, guru yang membimbing, sampai orang tua yang menjadi wali siswa. Pemisahan antara pelajar lelaki dan wanitapun mulai digalakan, hal ini menjadi harapan dan kebahagiaan bagi mereka yang mengharapkan kesucian dan penjagaan kehormatan. Ketenangan dan kenyamananpun semakin dirasakan oleh semua orang yang terlibat dalam dunia pendidikan Islami ini. pendidik dan peserta didik semakin merasakan manfaat besar dari sistem ilahi ini. Begitulan kira-kira gambaran pergulatan antara sistem pendidikan sekuler dengan sistem pendidikan islami. Keduanya akan saling meruntuhkan dan membangun. Kaum sekuler akan berusaha mengalahkan sistem islam dan membangun sekulerisasi dan aktivis islampun terus berusaha membangun islam dan mengalahkan sekulerisasi.
  • 2. Ditulis oleh : Sholahudin, Lc http://hasmi-islamicschool.com/perbandingan-pendidikan-sekuler-dan-pendidikan- islami.html#
  • 3. PENDIDIKAN SEKULER sejarah Pemikiran Sekuler Sekuler berintikan pemisahan antara agama dengan kehidupan, dan pemisahan agama dari negara. Juga bahwasanya agama hanya sekedar hubungan antara individu dengan Penciptanya saja.1[1] Kelahiran sekulerisme ini bermula pada saat kaisar dan raja-raja di Eropa dan Rusia menjadikan agama sebagai alat untuk memeras, menganiaya dan menghisap darah rakyat. Para pemuka agama, waktu itu, dijadikan perisai untuk mencapai keinginan mereka. Maka timbulah pergolakan sengit, yang kemudian membawa kebangkitan bagi para filosof dan cendekiawan. Sebagian mereka mengingkari adanya agama secara mutlak. Sedangkan yang lainnya mengakui adanya agama, tetapi menyerukan agar dipisahkan dari kehidupan dunia. Sampai akhirnya pendapat mayoritas dari kalangan filosof dan cendekiawan itu lebih cenderung memilih ide yang memisahkan agama dari kehidupan, yang kemudian menghasilkan usaha pemisahan antara agama dengan negara. Disepakati pula pendapat untuk tidak mempermasalahkan agama, dilihat dari segi apakah diakui atau ditolak. Sebab, yang menjadi masalah adalah agama itu harus dipisahkan dari kehidupan. Maka dalam pendidikan barat tidak melibatkan agama lebih dalam dalam kecuali hanya pada porsinya yaitu terkait individu dengan penciptanya. Berikut pandangan bagaimana para ilmuan Barat menganggap agama sebagai sesuatu yang sepele. Ludwig Feurbach (1804-1872), murid kepada Hegel dan seorang teolog, merupakan salah seorang pelopor faham ateisme di abad modern. Feurbach, seorang teolog, menegaskan prinsip filsafat yang paling tinggi adalah manusia. Sekalipun agama atau teologi menyangkal, namun pada hakikatnya, agamalah yang menyembah manusia (religion that worships man). Agama Kristen sendiri yang menyatakan Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan (God is man, man is God). Jadi, agama akan menafikan Tuhan yang bukan manusia. Makna sebenarnya dari teologi adalah antropologi (The true sense of Theology is Anthropology). Agama adalah mimpi akal manusia (Religion is the dream of human mind). Terpengaruh dengan karya Feurbach, Karl Marx berpendapat agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Agama adalah candu rakyat. Dalam pandangan Marx, agama adalah faktor sekunder, sedangkan faktor primernya adalah ekonomi
  • 4. Auguste Comte, penemu istilah sosiologi, memandang kepercayaan kepada agama merupakan bentuk keterbelakangan masyarakat. Dalam pandangan Comte, masyarakat berkembang melalui tiga fase teoritis; pertama, fase teologis, bisa juga disebut sebagai fase fiktif. Kedua, fase metafisik, bisa juga disebut sebagai fase abstrak. Ketiga, fase saintifik, bisa juga disebut sebagai fase positif. Kharasteristik dari setiap fase itu bertentangan antara satu dengan yang lain. Dalam fase teologis, akal manusia menganggap fenomena dihasilkan oleh kekuatan ghaib. Dalam fase metafisik, akal manusia menganggap fenomena dihasilkan oleh kekuatan-kekuatan abstrak, atau entitasentitas yang nyata, yang menggantikan kekuatan ghaib. Dalam fase positif, akal manusia menyadari bahwa tidak mungkin mencapai kebenaran yang mutlak. Pendapat Comte, yang menolak agama, diikuti oleh para sosiolog yang lain seperti Emile Durkheim dan Herbert Spencer. Agama, tegas Spencer, bermula dari mimpi manusia tentang adanya spirit di dunia lain. Pemikiran ateistik ikut bergema dalam disiplin psikologi. Sigmund Freud, seorang psikolog terkemuka menegaskan doktrin-doktrin agama adalah ilusi. Agama sangat tidak sesuai realitas dunia. Bukan agama, tetapi hanya karya ilmiah, satu-satunya jalan untuk membimbing ke arah ilmu pengetahuan. Disamping itu tolak ukur kebahagian menurut sekuler bahwasanya kebahagiaan itu adalah dengan memperoleh sebesar-besarnya kesenangan yang bersifat jasmaniah. Ideologi kapitalisme sekuler juga sependapat dalam memberikan kebebasan pribadi bagi manusia, bebas berbuat semaunya menurut apa yang diinginkannya selama ia melihat dalam perbuatannya itu terdapat kebahagiaan. Maka dari itu tingkah laku atau kebebasan pribadi merupakan sesuatu yang diagung-agungkan oleh ideologi ini. B. Paradigma Pendidikan Sekuler Sebagaimana halnya dengan ideologi-ideologi yang lain, ideologi sekuler memiliki pemikiran dan metode untuk semua aspek kehidupan manusia, termasuk dalam sistem pendidikan. Ideologi sekuler-kapitalisme juga menjadikan sistem pendidikan sebagai salah satu sarana untuk mentransfer pemikiran-pemikiran mereka ke masyarakat dan mencetak para pengemban-pengemban baru ideologi ini. Bahkan lebih dari itu, bila dilihat dari sejarah awal ideologi ini, akan terlihat pentingnya peranan dunia pendidikan bagi ideologi sekuler-kapitalisme. Pemikiran-pemikiran awal ideologi sekuler muncul dalam benak kaum pemikir dan intelektual abad pertengahan Eropa. Penindasan dan pengekangan pemikiran yang dilakukan institusi gereja di abad
  • 5. pertengahan menyebakan lahirnya pemikiran-pemikiran tandingan dari kaum intelektual Eropa yang berupa konsep kebebasan. Perkembangan di Eropa, sebagai akibat kuatnya kaum menengah dan kaum intelektual, kemudian melahirkan revolusi industri, yang memunculkan kelompok berkuasa yang baru, yaitu para pemilik modal dan para pengusaha. Semenjak itulah, ideologi sekulerisme menjadi lebih dominan pada sektor ekonominya, dan lebih sering disebut sebagai ideologi kapitalisme. Walaupun begitu, peran penting para cendekiawan dan intelektual masih sangat kuat, karena mereka menjadi motor penggerak pemikiran-pemikiran ideologi ini, serta menjadi penjaga bagi keberlangsungan ideologi ini. Sinergi antara para intelektual dan para pemilik modal, menjadi bentuk sinergi baru mirip seperti sinergi para gerejawan dan raja sebelumnya. Para intelektual merupakan ujung tombak dalam perang pemikiran yang dikobarkan ideologi ini dalam menghadapi pemikiran- pemikiran ideologi lawan, seperti ketika akan menjajah suatu negara yang mungkin di dalamnya terdapat suatu ideologi baik diemban oleh negara tersebut ataupun diemban ol