PERAN ORANG TUA TERHADAP PEMBINAAN MORAL SISWA …

of 29/29
PERAN ORANG TUA TERHADAP PEMBINAAN MORAL SISWA DI SMP NEGERI 1 BALUSU KECAMATAN BALUSU KABUPATEN BARRU 1 Husna 2 Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar Email : [email protected] ABSTRAK Husna, 2018, Peran Orang Tua Terhadap Pembinaan Moral Siswa Di SMP Negeri 1 Balusu Kecamatan Balusu Kabupaten Barru. Dibimbing oleh Dr.Herman,.S.Pd,.M.Si dan Dr. Syamsul Sunusi,.M.Pd Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar.+ Penelitian ini bertujuan untuk mengetehui, (1) peran orang tua terhadap pembinaan moral siswa di SMP Negeri 1 balusu kecamatan balusu kabupaten barru, (2) faktor pendukung dan penghambat orang tua dalam membina moral anaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan dan menganalisa gambaran menyeluruh dan kompleks yang disajikan dengan kata- kata, melaporkan pandangan terperinci yang diperoleh dari para sumber informasi, serta dilakukan dalam latar (setting) yang alamiah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua di desa madello sangat memperhatikan anak-anaknya. Meraka tahu bahwa peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anaknya memang sangat besar seperti menanamkan nilai-nilai moral sejak dini seperti berbicara dengan sopan antar sesama, dan mengajarkan tata krama kepada anaknya, memperhatikan hak-hak agar anak mempunyai moral baik dalam keluarga maupun dalam lingkungan sekolah dan masyarakat, memperkenalkan nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat, mengajarkan anak pendidikan tentang agama berkaitan dengan bergaul sesama manusia, mengarahkan dan memotivasi dalam hal mengikuti tata aturan atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat dengan perilaku terpuji seperti sikap hormat kepada orang tua, mengucapkan salam jika bertemu, membantu sesama, saling tolong menolong, dan memberikan contoh yang baik atau teladan kepada anak-anaknya terutama dalam hal moral.. Dalam hal itu pula terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam pembinaan moral siswa contohnya:faktor pendukung: 1) mengabaikan, 2) membiarkan), mengalihkan perhatian, 3) tantangan, 4)memuji. Dan faktor penghambat seperti : 1) cara pengajaran, 2) perubahan nilai sosial, 3) perbedaan nilai moral, 4) nilai dan situasi yang berbeda, 5) konflik dengan lingkungan sosial. 1 Penulis 2 Fakultas dan Universitas Penulis brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Repository Universitas Negeri Makassar
  • date post

    02-Dec-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PERAN ORANG TUA TERHADAP PEMBINAAN MORAL SISWA …

KABUPATEN BARRU
Email : [email protected]
ABSTRAK
Husna, 2018, Peran Orang Tua Terhadap Pembinaan Moral Siswa Di SMP
Negeri 1 Balusu Kecamatan Balusu Kabupaten Barru. Dibimbing oleh
Dr.Herman,.S.Pd,.M.Si dan Dr. Syamsul Sunusi,.M.Pd Program Studi Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar.+
Penelitian ini bertujuan untuk mengetehui, (1) peran orang tua terhadap
pembinaan moral siswa di SMP Negeri 1 balusu kecamatan balusu kabupaten
barru, (2) faktor pendukung dan penghambat orang tua dalam membina moral
anaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang ditujukan untuk
memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan dan
menganalisa gambaran menyeluruh dan kompleks yang disajikan dengan kata-
kata, melaporkan pandangan terperinci yang diperoleh dari para sumber
informasi, serta dilakukan dalam latar (setting) yang alamiah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua di desa madello sangat
memperhatikan anak-anaknya. Meraka tahu bahwa peran orang tua dalam
menanamkan nilai-nilai moral kepada anaknya memang sangat besar seperti
menanamkan nilai-nilai moral sejak dini seperti berbicara dengan sopan antar
sesama, dan mengajarkan tata krama kepada anaknya, memperhatikan hak-hak
agar anak mempunyai moral baik dalam keluarga maupun dalam lingkungan
sekolah dan masyarakat, memperkenalkan nilai-nilai moral yang berlaku dalam
masyarakat, mengajarkan anak pendidikan tentang agama berkaitan dengan
bergaul sesama manusia, mengarahkan dan memotivasi dalam hal mengikuti tata
aturan atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat dengan perilaku terpuji
seperti sikap hormat kepada orang tua, mengucapkan salam jika bertemu,
membantu sesama, saling tolong menolong, dan memberikan contoh yang baik
atau teladan kepada anak-anaknya terutama dalam hal moral.. Dalam hal itu
pula terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam pembinaan moral siswa
contohnya:faktor pendukung: 1) mengabaikan, 2) membiarkan), mengalihkan
perhatian, 3) tantangan, 4)memuji. Dan faktor penghambat seperti : 1) cara
pengajaran, 2) perubahan nilai sosial, 3) perbedaan nilai moral, 4) nilai dan
situasi yang berbeda, 5) konflik dengan lingkungan sosial.
1 Penulis 2 Fakultas dan Universitas Penulis
brought to you by COREView metadata, citation and similar papers at core.ac.uk
provided by Repository Universitas Negeri Makassar
Keluarga merupakan unit
Apabila keluarga dapat menjalankan
mungkin akan menghasilkan generasi-
beban sosial masyarakat. Keberfungsian
Sebagaimana yang
anak semuanya dapat mempengaruhi
Tingkat sosial ekonomi
keluarga mungkin memberikan
ekonomi.Sudah banyak bukti yang
Sosiologi Keluarga. Tentang Ikhwal
Cipta. Jakarta.Hal 40
bergeliman harta yang mengalami
juga tidak mudah.
perkembangan kependudukan dan
ketangguhan serta mengandung
keluarganya untuk hidup harmonis
bapak, ibu dan anak. Juga dapat berupa
keluarga besar ( exstended family) yang
terdiri dari bapak, ibu, anak, kakek,
nenek, maupun anggota keluarga yang
lainnya. Dalam pembentukan keluarga
baik antar anggota yang satu dengan
4Undang-Undang RI Nomor 52 Tahun 2009
Tentang Perkembangan Kependudukan Dan
maupun luar keluarga.
suami maupun istri sebagai orang tua
wajib membina dan mengembangkan
sayang merupakan persyaratan
keluarga. Sebagaimana yang
membawa kepada pembinaan dan
cukup dan baik untuk tumbuh dan
berkembang”.
tingkah laku atau moral yang dianggap
baik yang seharusnya dilakukan oleh
semua orang khususnya remaja yakni
membina disiplin pribadi dengan
sopan santun, berbicara dengan lemah
lembut, saling tolong menolong, hormat
menghormati, saling menghargai dan
sebagainya.Adapun perbuatan yang tidak
menghina orang,, membuang sampah
tangga keluarga mengakibatkan
menimbulkan berbagai akses
kota besar Indonesia, tetapi juga
menimpa sebagian besar siswa di
desa- desa khususnya siswa di
SMP Negeri 1 Balusu Kecamatan
Balusu Kabupaten Barru.
Kemorosotan moral siswa
ditandai dengan seringnya
terjadinya perkelahian antar
sebagainya.
anak-anaknya yang dipikirkan
terhadap pembinaan moral
Kecamatan Balusu
Kabupaten Barru?
Balusu Kecamatan Balusu
pendukung dan penghambat
yang dapat berguna dalam
menentukan sikap untuk mendidik
meningkatkan moralitas kearah
yang lebih baik
c. Bagi Peneliti
pembinaan moral siswa
masyarakat. Istilah peran dapat
dijelaskan lewat beberapa cara.
Pertama, suatu penjelasan historis
yang menyebutkan, konsep peran
atau teater yang hidup subur dalam
sebuah pentas drama.Kedua, suatu
penjelasan yang menunjukkan pada
konotasi ilmu sosial, yang
mengartkan peran sebagai suatu
menduduki suatu karakteriristik
lain, kebetulan sama-sama berada
Soekanto ( 1984: 237) Peran
kedudukan (status). Apabila
kewajiban sesuai dengan
kedudukannya, maka dia
menjalankan suatu peranan.Apabila
seseorang menjalankan kewajiban
hubungan biologis maupun
hubungan sosial.Umumnya orang
dalam kehidupan sehari-hari
dari sebuah ikatan perkawinan
sebuah keluarga utuh.Orang tua
memiliki tanggung jawab untuk
keluarga adalah tempat dimana
mempelajari seluruh aktifitas
mencontohi serta menerapkan
dikehidupan sehari-hari mereka,
Sosiologi Keluarga. Tentang Ikhwal
Cipta. Jakarta.Hal 73 6 Ibid hal 6
karena mereka berpendapat bahwa
kan, orang yang memiliki
yang baik dan yang buruk maka,
sebagai orang tua yang
membesarkan seorang anak harus
apalagi kalau mereka sudah
menginjak usia remaja, dimana
sesuatu untuk menghilangkan rasa
ketika mereka melakukan aktifitas
belajar. Orang tua juga
c. Siswa
tanpa pemikiran dan tujuan yang
matang, tentu saja dalam hal ini
pemerintah Dan para pakar
Menurut kamus besar bahasa
sedang berguru (belajar,
bersekolah). Sedangkan menurut
pengertian siswa adalah orang
yang datang kesuatu lembaga
mores yaitu jamak dari kata mos
yang berarti adat kebiasaan. Di
dalam kamus umum bahasa
Indonesia dikatakan bahwa moral
digunakan untuk menentukan
buruk.
kemukakan beberapa pengertian
moral sebagai berikut:
7Ibid hal 5
1. Prinsip-prinsip yang
berkenaan dengan benar
2. Kemampuan untuk
moral adalah istilah yang
salah.Jika dalam kehidupan
sama, yaitu sama-sama membahas
tentang perbuatan manusia untuk
moral memiliki
konsep-konsep, sedangkan moral
berkembang di masyarakat.
keluarga
dalam kehidupan sehari-hari
perhubungan laki-laki dan wanita,
terdiri dari suami, istri dan anak-
anak yang belum dewasa.
Adapun tugas orang tua
dalam keluarga antara lain:
1) Menanamkan nilai etika,
mengakui bahwa masalah yang
dihadapi anak memang sulit
diatasi, kemudian sesudah itu
barulah orang tua memberikan
biasanya anak akan mudah
orang tua. Oleh karena itu orang
tua jangan sampai lengah dalam
menghadapi jiwa anak-anak
3) Menciptakan komunikasi
Djamarah (2014:22)
tertentu.Ini berarti bahwa usaha
penanam nilai-nilai etika moral
Brilliant.Sukses Belajar Menuju Brillianr.
6) Mengembangkan potensi
bisa ditanamkan.
cara yang berat.
Dari pendapat diatas,
diperhatikan, maka dilanjut
sampai dengan menggunakan
harapan.Menggunakan cara-cara
pembinaan moral siswa
diberikan orang tua terhadap
anak, membangun sistem interaksi
orang lain. Hubungan dengan
gembira dan menunjukkan kasih
sayang merupakan pupuk bagi
bangun”. Sedangkan dalam kamus
dilakukan secara berdaya guna
dan berhasil guna untuk
dari kata “mos” yang berarti ada
kebiasaan. Selajutnya moral
menentukan batas-batas dari sifat,
peranan, kehendak, pendapat atau
perbuatan, secara layak dapat
buruk.
menanamkan, menumbuhkan,
aqidah dan pelaksanaan. Agama
selalu memberikan pedoman dari
yang maha kuasa yang
Masalah moral adalah sudah
misi dalam menyusun serta
beribadah serta sanggup hidup
menjaga kehormatan, amanah,
buruk dapat dilihat dengan mudah
melalui televisi, internet, buku-
buku, tempat hiburan yang
banyak menyuguhkan tentang hal-
dengan produk minuman-
minuman keras, obat-obat
dari kumpulan pengalaman pada
unsur pertumbuhan (dari unsur
nol sampai masa remaja)”.
Pengalaman yang dimaksud itu
adalah pengalaman yang dilalui
keadaan seperti ini mereka
lebih terarah dalam proses
dari lingkungan keluarga.
Sebagaimana yang telah
dikemukakan oleh Daradjat
(1993:67) “perkembangan sikap
penyayang, lemah, lembut, adil
dan bijaksana akan menumbuhkan
sikap sosial yang menyanangkan
terbentuknya pribadi yang
tua.Mubarok (2006:253)
menumbuhkan moral terpuji pada
seseorang dalam hubungan dan
orang tua terhadap anak-anaknya
orang lain dan lingkungan
keluarga dan masyarakat akan
menjadi teladan bagi anak-
a. Tahap-tahap moral
Kehidupan moral merupakan
untuk meninjau perkembangan
tingkat terbagi atas dua tahap
sehingga keseluruhan ada enam
urutan tahapan yang tetap.
Adapun tahap menurut Kohlber
adalah perbuatan yang secara
perlakuan yang menyenangkan atau
membantu orang lain dan
aturan sosial.
prinsip-prinsip etis yang dipilih
logis menyeluruh, universal dan
gugat, ia harus menurut atau kalau
tidak memperoleh hukuman. Pada
tahap kedua, hubungan antara
manusia dipandang seperti hubungan
secara moral bergantung pada aturan
yang ada diluar dirinya, tetapi
mereksadar bahwa semua kejadian
diambil hikmanya.
sendiri. Pada tahap ketiga anak mulai
memperlihatkan orientasi perbuatan
keempat perbuatan yang baik yang
diperlihatkan seseorang bukan hanya
agar diterima oleh lingkungan
masyarakat melainkan agar dapat
lingkungan sosial dan dengan
tindakan berdasarkan hak individu
dalam masyarakat. Sedangkan
yang bersangkutan.
hidup, yakni keadaan mental
seseorang dikatakan bermoral
dalam masyarkat mendapat
dijadikan teladan bagi orang lain.
Moral baik
menerapkan serta
membiasakannya dalam
kebiasaan dalam kehidupan
yang menyebar dikalangan remaja
yang ditandai dengan adanya
pertentangan yang terjadi dalam
masyarakat yang tidak sesuia
dengan noram yang berlaku.
kurang hormat, suka berkelahi,
malas belajar dan kenakalan
norma yang berlaku dimasyarakat.
dengan ajaran agama,
sendiri dan orang banyak.
4. Faktor Pendukung Dan
faktor yang mendorong dan
perilaku anak tidak disetujui.
mengabaikan permintaan anaknya
atau tidak memperdulikannya.
4) Tantangan
dijadikan pelajaran bagi anak
untuk melakukan pilihan dan
menentukan baik atau buruk
sesuatu hal dikemudian hari.
harapan lingkungan. Anak bisa
dan perilaku dalam ingatannya
boleh dan apa yang salah, bukan
pada apa yang seluruhnya
Akibatnya anak menjadi
bersabar dalam mengajarkan
pendidikan moral untuk
anaknya.Karena banyak faktor
yang mempengaruhi keuntungan
menyesuaikan diri.Karena ketika
harus menyesuaikan diri dengan
nilai moral yang baru.
3) Perbedaan Nilai Moral
mengajarkan suatu nilai moral
ajarkan. Akibatnya anak tidak
nilai moral yang ia lihat. Anak
menjadi bingung dan cenderung
Berbeda
5) Konflik Dengan Lingkungan
melawan jika dipukul temannya.
untuk selalu melawan dengan
lakukan.
diberikan orang tua terhadap
anak, membangun sistem interaksi
orang lain. Hubungan dengan
gembira dan menunjukkan kasih
sayang merupakan pupuk bagi
beribadah serta sanggup hidup
menjaga kehormatan, amanah,
buruk dapat dilihat dengan mudah
melalui televisi, internet, buku-
buku, tempat hiburan yang
banyak menyuguhkan tentang hal-
dengan produk minuman-
minuman keras, obat-obat
mengabaikan adalah cara yang
digunakan orang tua ketika
perilaku anak tidak disetujui.
orang tua dapat mengabaikan
bisa menjadi cara yang paling
efektif untuk membentuk moral
anak; Membiarkan bukan berarti
mengeluarkan kemampuannya
dapat dijadikan pelajaran bagi
menentukan baik atau buruk
sesuatu hal dikemudian hari;
memuji anak atas tindakannya
yang tepat dapat menguatkan
dan situasi yangberbeda dan
konflik dengan lingkungan sosial.
Adapun pendekatan yang
pendekatan kualitatif yang ditujukan
partisipan dan menganalisa
informasi, serta dilakukan dalam
latar (setting) yang alamiah.
Adapun alasan penelitian ini
dipercaya. Alasan lain mengapa
adalah bahwa data yang
populasi atau daerah-daerah tertentu,
data dari hasil yang berlatar belakang
alamiah. Penelitian ini akan
tertentu atau lisan mengenai
Kabupaten Barru.
3.Informan penelitian
diharapkan memberikan data atau
Jumlah informan dalam penelitian ini
adalah 10 (sepuluh) keluarga. Teknik
yang digunakan dalam menentukan
diatas 15 tahun dan memiliki anak
yang sekolah di SMPN 1 Balusu dan
siswa yang usianya 13 tahun keatas.
B.Lokasi penelitian
Kecamatan Balusu Kabupaten Barru.
penelitian ini yaitu tahap
konsep
1) Pengumpulan data
2) Pengolahan data
3) Analisis data
penyusunan laporan.
yaitu sebagai berikut :
a. Data primer
dapat diperoleh secara langsung
melalui wawancara dengan informan
moral siswa.
perpustakaan
recorder, buku catatan, memilih
kesimpulan atas temuannya.
F. Prosedur pengumpulan
adalah sebagai berikut:
mendalam. Teknik
Bila peneliti melakukan
pengumpulan data dengan
triangulasi, maka sebenarnya
peneliti mengumpulkan data
yang sekaligus menguji
kridibilitas data, yaitu
mengecek kredibiltas data
dengan berbagai teknik
pengumpulan data dan
berbagai sumber data.
penting dalam penelitian kualitatif
menggunakan teknik triangulasi.
hasil wawancara, cacatan lapangan,
dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam
kategori, menjabarkan kedalam unit-
unit, melakukan sintesa, dan
maupun orang lain.
Analisis data kualitatif
analisis berdasarkan data yang
berulang-ulang sehingga selanjutnya
mulanya bernama SMP Negeri
Madello kecamatan Barru
kabupaten barru.Waktu itu,
kecamatan Balusu belum
berada pada wilayah kecamatan
balusu. Setelah memasuki era
wilayah kecamatan barru menjadi
kecamatan balusu maka sejak
SMP NEGERI 1 BALUSU.
Sekolah ini dirintis oleh
propinsi Sulawesi selatan. Maka
tercatatlah para perintis sekolah
Abubakar Punagi (Kakanwil
(Kepala Desa Madello), S.
Sirajuddin (Kepala SMP Negeri
Madello pertama), serta beberapa
menyediakan lahan sekurang-
Kepala Desa yang menyanggupi
persyaratan tersebut kecuali Desa
berdirilah SMP Negeri Madello
yang kemudian bernama SMP
keputusan (SK) Menteri
(saat ini bernama SMP Negeri 1
Balusu) menerima siswa baru
ajaran 1978/1979, dimana Kepala
adalah :
(Periode 1996/1997 sampai dengan
2000/2001), Alwi (sebagai Pjs.
Periode 2001/2002), Drs. Anwar
sampai dengan oktober 2002), Alwi
(Periode 2002/2003 sampai
S.Pd (Pjs. Periode 2003/2004
sampai 2006/2007), Lukman, S.Pd
umur pernikahannya 15 tahun
balusu. Informan berjumlah 7
Informan dari pihak orang
dan rata-rata suku bugis. 1 (satu)
orang berasal dari dusun ujunge
dan 6 (enam) orang dari dusun
madello.
Negeri 1 Balusu Kecamatan
bernama Dahlia (42 tahun),
seperti berbicara dengan
mulai belajar dari kita
hasil wawancaranya yaitu:
“Saya memperkenalkan nilai
dan saya pun memperhatikan
hak-hak anak saya karena
terbentuk moral dan sikapnya
itu dalam keluarga maupun
memperkenalkan nila-nilai moral
memenuhi hak-hak anaknya dan
yang menjalankan perannya yaitu
dengan memfasilitasi kegemaran
wawancara dengan Halima (49
1 Sumarni Madello 42
saya tak hanya
memperhatikan bakat dan
dan kegemarannya menari”.
juga pendapat lain yang
diungkapkan oleh Multi (40
tahun) dalam menanamkan nilai-
anaknya tapi juga berperan
anaknya, sebagaimana yang
diungkapakan sebagai berikut:
“Saya meperkenalkan nilai
harus bisa hendaknya
mengetahui hal-hal yang
diperlukan anak saya
keluarga dan masyarakat”.
Pendapat lain diungkapkan
saat menanamkan nilai-nilai moral
dan menggunakan beberapa metode
dalam mendidik dan membina
anak. Adapun hasil wawancaranya
saya pun memperhatikan hak-
saya memperhatikan hak-hak
dengan mudah terbentuk
dalam keluarga maupun
dalam lingkungan sekolah”.
mengatakan bahwa:
dibandingkan dia kalau sudah
aturan yang berlaku dalam
anak saya tergerak hatinya
untuk melakukan hal-hal yang
baik seperti mengikuti tata
aturan yang berlaku dalam
bahwa:
Balusu Kecamatan Balusu
saya gunakan ketika perilaku
anak saya tidak terpuji.
ingin anak saya manja”.
membentuk dan membina moral
anak terdapat faktor yang
mendukung dan faktor yang
paling efektif untuk
membentuk moral anak,
terlebih dahulu saya harus
shalat lima waktu karena
membentuk dan membina
hanya shalat, didalam
lingkungan keluarga saya
berkomunikasi yang sopan
menggunakan tutur kata
terapkan sejak anak-anak
mereka berkomunikasi
memiliki beberapa kendala
berbeda, anak cenderung
belum mampu memberikan
berbeda”.
diungkapakan Multi (40 tahun) ia
mengungkapkan hal sebagai
ia diajarkan untuk melawan
jika dipukul temannya. Tetapi
di sekolah, anak diajarkan
untuk selalu melawan dengan
lakukan”.
di rumah khususnya di dusun
madello dan ujunge dalam
membentuk dan membina anak
mereka terdapat beberapa faktor
yang mendukung seperti dan
berada, orang tua haruslah
terhindar dari pengaruh hal-hal
negatif dan sebisa mungkin
cara ini bisa menjadi cara yang
paling efektif untuk membentuk
orang tua harus shalat lima waktu
karena dengan orang tua
mencontohkan anaknya maka orang
keluarga pun orang tua
anak masih kecil agar jika mereka
berkomunikasi dengan orang luar
lembut.Di dalam membentuk dan
memberikan dasar pendidikan sosial,
nyaman menjalankan proses belajar
menghambat orang tua dalam
membentuk dan membina moral
diberikan wejangan atau nasehat-
nasehat untuk shalat lima waktu anak
di rumah susah sekali untuk
melaksanakannya apalagi jika orang
tua tidak mengingatkan anaknya
dengan belajar di malam hari anak
dirumah lebih memilih main
handphone disbanding belajar dan
tegur, anak di rumah cenderung
belum mampu memberikan penilaian
Karena itu anak menyamaratakan
luar adalah konflik dengan
kali anak bingung menghadapi
lingkungan sosial yang berbeda
yang lain. Misalnya di rumah anak
diajarkan untuk melawan jika
dipukul temannya, tetapi disekolah
dengan kebaikan, akibatnya anak
C. Pembahasan
pembinaan moral siswa
Berdasarkan hasil penelitian
pembinaan moral siswa, maka
dapat dikemukakan peran orang
tua tersebut sebagai berikut:
madello kecamatan balusu
kabupaten barru menanamkan
dini misalnya saja berbicara
mengajarkan tata krama kepada
dusun madello melakukan
tua siswa dalam melakukan
pembinaan moral kepada anak-
misalnya shalat lima waktu.
Orang tua siswa selalu
dibina.
madello ketika perilaku anaknya
tidak di setujui. Kemudian
memberikan contoh adalah cara
anak. Memberikan contoh berarti
menjadi model perilaku yang
diinginkan muncul dari anak,
paling efektif yang dilakukan
untuk membina moral anak.
yang menghambat orang tua
membentuk dan membina moral
wejangan atau nasehat-nasehat
masih susah sekali untuk
melaksanaknnya apa lagi jika
dengan belajar di malam hari anak
lebih sering main handphone di
banding belajar dan kerja tugas.
Kemudian nilai dan situasi yang
berbeda anak cenderung belum
lingkungan yang kurang baik,
pergaulan dengan oranng luar
serta dampak negatif teknologi
dan informasi. Seringkali anak
rumah, ia diajarkan untuk
melawan jika dipukuli temannya.
untuk selalu melawan dengan
dana. Sedangkan faktor perilaku
dan cita-cita. Berdasarkan hasil
wawancara peneliti dengan 4
orang guru mengatakan sebagai
tata tertib sekolah yang
wali kelas secara rutin, serta (f)
adanya masjid yang memadai.
kontrolnya pihak orang tua/wali
murid, dan (c) kurangnya
pembinaan mental spiritual
guru tersebut mengatakan bahwa:
jika dibandingkan dengan tahun-
menunjukkan lebih baik, dimana
perubahan tersebut dapat terlihat
tingkah laku siswa-siswi sudah
siswa lebih baik atau sudah ada
peningkatan, (c) jumlah siswa
yang melakukan pelanggaran tata
maupun yang berat sudah
dalam kegiatan semakin
menanamkan nilai-nilai moral
dini, memenuhi hak-hak anak,
anak-anak dan menciptakan
memberikan pembiasaan yang
luar seperti lingkungan yang
kurang baik, pergaulan dengan
teknologi dan informasi.
orang tua menanamkan nilai-
nilai moral sejak dini
berkomunikasi secara efektif
memberikan nasehat agar
sekolah.
Agama. Jakarta: Bulan
Departemen Pendidikan
Prof. Dr. H. Sunarto & Dra.Ny. B.
Agung Habertono. 2006.
Perkembangan peserta didik.
Prof. Dr. A. Muri Yusuf. 2014.
Metode penelitian. Kuantitatif,
S.Sos,.M.Pd. 2013. Etika dan