PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN SYARIAH LEWAT MEDIASI

Click here to load reader

  • date post

    20-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    5
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN SYARIAH LEWAT MEDIASI

LEMBAGA LITIGASI DAN NON LITIGASI (STUDI KASUS : PENGADILAN
AGAMA JAKARTA SELATAN, BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL
JAKARTA, DAN LEMBAGA PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN
INDONESIA)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S.H)
Oleh:
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
Skripsi Berjudul "Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah Melalui
Mediasi di Lembaga Litigasi dan Non Litigasi (Studi Kasus: Pengadilan Agama
Jakarta Selatan, Badan Arbitrase Syariah Nasional, dan Lembaga Altematif
Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia)" yang telah ditulis oleh Abdussami
Makarim, NIM. 11140460000087, telah diujikan dalam sidang Skripsi pada
Jum'at, 25 Januari 2019. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.tI) pada Program Studi Hukum Ekonomi
Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Dr.Abdllrraun Lcq M A.
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam
Negeri (UIll{) Syarif Hidayatullah Jakarra.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di universitas Islam Negeri Or$ syarif
Hidayatullah Jakarta
Abdussami Makarim, 11140460000087, Studi Perbandingan Penyelesaian
Sengketa Perbankan Syariah Lewat Mediasi Di Lembaga Litigasi Dan Non Litigasi
(Studi Empiris: Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Badan Arbitrase Syariah
Nasional, Dan Lembaga Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia). Hukum
Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
2018, 130 halaman.
diperjanjiakan sejak awal transaksi. Hak, kewajiban, dan segala sesuatu yang
berkaitan dengan transaksi perbankan tertuang dalam sebuah kontrak.
Apabila salah satu pihak baik bank maupun nasabah melakukan wanprestasi
dan tidak cepat diselesaikan, maka terjadilah sengketa. Apabila bank tidak
dapat menyelesaikan pengaduan lewat Internal Dispute Resolution (tidak
tercapai kesepakatan), para pihak bisa menyelesaikan konflik melalui
mediasi di lembaga penyelesaian sengketa (External Dispute Resolution).
Mediasi terdapat di lembaga penyelesaian sengketa litigasi dan non litigasi.
Litigasi adalah pengadilan sedangkan non litigasi adalah lembaga diluar
pengadilan, dalam penelitian ini lembaga yang dimaksud adalah Basyarnas
dan LAPSPI. Sesuai dengan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2008 Tentang Perbankan Syariah, sengketa perbankan boleh diselesaikan
baik di jalur litigasi (Pengadilan Agama) maupun non litigasi (Basyarnas dan
LAPSPI).
yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut melalui mediasinya. Dengan
analisis perbandingan tersebut diperoleh informasi perbedaan dan
persamaan. Adapun penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris
dengan data yang diolah secara kualitatif.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahhwa ada persamaan dalam
jenis perkara yang masuk yakni perkara perdata perbankan syariah dan
penyelenggaraan mediasi dilakukan secara tertutup. Sedangkan
perbedaannya, pada Pengadilan Agama, mediasi dilakukan sebelum masuk
pemeriksaan pokok perkara. Pada LAPSPI mediasi dilakukan dengan acara
tersendiri terpisah dengan arbitrase dan ajudikasi. Dan pada Basyarnas, acara
yang diselenggarakan adalah arbitrase, namun unsur mediasi tetap ada
sebatas upaya mediasi yang mungkin dilaksanakan di setiap tahap arbitrase.
Kata Kunci : Sengketa Perbankan Syariah, Mediasi, Pengadilan Agama,
Basyarnas, LAPSPI
Daftar Pustaka : Tahun 1986 s/d 2018
vi
Segala puji bagi Allah Subhanahuwwata’ala atas segala nikmat, rahmat,
hidayah, dan kekuatan yang telah dilimpahkan kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas akhir Skripsi ini untuk memperoleh gelar sarjana di bidang
Hukum Ekonomi Syariah di Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarganya dan
sahabatnya, yang telah membawa perubahan bagi peradaban dunia dengan
bangkitnya Islam hingga akhir zaman.
Dengan disusunnya penelitian tingkat skripsi ini, kami berharap kami bisa
memberikan kontribusi manfaat, baik dalam tataran kajian Hukum Islam, maupun
Kajian Hukum positif, terlebih khususnya pada masalah penyelesaian sengketa
perbankan syariah melalui mediasi di Lembaga litigasi dan non-litigasi seperti
Pengadilan Agama, Badan Arbitrase Syariah Nasional, dan Lembaga Alternatif
Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia.
Kami sadar bahwa penelitian ini tidak akan selesai tanpa adanya dukungann dan
bantuan dari orang-orang yang ada di sekitar kami. Dengan segala hormat dan dari
hati yang terdalam, kami ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Dr. Asep Saepudin Jahar, M.A. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. AM. Hasan Ali, M.A., selaku Ketua Program Studi Hukum Ekonomi
Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
3. Abdurrauf Lc., M.A., selaku Sekretaris Program Studi Hukum Ekonomi
Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
4. Achmad Chairul Hadi, M. A., selaku pembimbing yang secara langsung
memberikan arahan dalam peyusunan skripsi ini, dan juga mmemberikan
pencerahan materi-materi perkuliahan yang menjadi inspirasi penulisan
skripsi ini;
vii
5. Seluruh Dosen di Fakultas Syariah dan Hukum atas didikan dan
bimbingannya selama kami kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6. Para narasumber yang telah memberikan informasi untuk menyempurnakan
skripsi ini, diantaranya: Dr. H. Jarkasih, M.H., Hakim Pengadilan Agama
Jakarta Selatan; Dra. Euis Nurhasanah, Sekretaris Badan Arbitrase Syariah
Nasional (Basyarnas); H. Achmad Djauhari, S.H., M.H., Arbiter Basyarnas;
Ir. Saifuddin Latief, MM., Sekretaris Lembaga Alternatif Penyelesaian
Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI), dan Kak Tyra, Case Manager
LAPSPI;
7. Seluruh keluarga besasr, terutama kedua orang tua kami, Ayah dan Bunda
yang telah mendukung semua kebutuhan semasa kuliah, mendoakan kami
di setiap sujudnya, dan mengalirkan semangat di setiap tutur katanya. You
are the best thing I’ve ever had, I promise, I’ll make both of you proud;
8. Teman-teman Hukum Ekonomi Syariah Angkatan 2014, Kelas B HES’14,
Center for Islamic Economics Studies (COINS), Generasi Baru Indonesia
(GenBI) UIN Jakarta, Mahasantri UICCI Sulaimaniyah Ciputat, KKN 13
Balas Budi, Sahabat New Foward, hingga teman-teman dan adik angkaran
yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.
Akhirnya tidak ada yang dapat kami berikan sebagai balas jasa kecuali sebuah
doa, semoga semua pihak yang telah mendukung mendapatkan ganjaran yang
berlipat ganda dari Allah Subhanahuwwata’ala, Aamiin.
Ciputat, 12 Desember 2018
ABSTRAK ................................................................................................................... v
E. Metode Penelitian ..................................................................................... 11
F. Sistematika Penulisan ........................................................................ 15
A. Pengertian Studi Komparasi ............................................................... 17
B. Pengertian Ekonomi Syariah ............................................................... 20
C. Pengertian Sengketa Perbankan Syariah ............................................ 33
D. Pengertian Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah ....................... 39
E. Literature Review ................................................................................ 54
SYARIAH ANTARA LEMBAGA LITIGASI DAN NON-LITIGASI
DI JAKARTA SELATAN ....................................................................... 60
B. Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) ................................. 82
C. Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia ..... 94
BAB IV PERBANDINGAN PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN
SYARIAH DI LEMBAGA LITIGASI DAN NON LITIGASI .......... 105
A. Komparasi Penyelesasian Sengketa Perbankan Syariah Lewat Mediasi
di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Basyarnas, dan LAPSPI ....... 105
1. Faktor Hukum (Substansi Hukum) ............................................ 106
2. Faktor Penegak Hukum (Struktur Hukum) ................................ 110
3. Faktor Sarana dan Fasilitas ........................................................ 116
4. Faktor Masyarakat ..................................................................... 119
Lewat Mediasi di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Basyarnas, dan
LAPSPI ............................................................................................. 126
Mediasi di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Basyarnas, dan
LAPSPI ...................................................................................... 126
Mediasi di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Basyarnas, dan
LAPSPI ...................................................................................... 129
kegiatan usahanya.1 Perbankan mempunyai peran penting dalam pembangunan
negara dan perekonomian masyarakat. Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan, Perbankan bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan
nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan
stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.2
Di Indonesia, pengembangan sistem perbankan dilakukan dengan cara dual-
banking system. Dual-Banking system adalah sistem perbankan ganda dalam
kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API).3 Tujuannya untuk melengkapi
kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap jasa perbankan. Dual-banking system
yang dimaksud adalah perbankan syariah dan perbankan konvensional. Kedua
sistem perbankan ini bersinergi dalam mengelola dana masyarakat secara luas
untuk mendukung kegiatan pembangunan di sektor-sektor perekonomian
nasional.
Untuk mencapai tujuannya, bank syariah menjalankan beberapa macam
usaha. Usaha yang dilakukan bank syariah antara lain seperti jasa penyediaan
lalu lintas pembayaran; penghimpunan dana masyarakat berupa simpanan giro,
deposito berjangka, atau sertifikat deposito; Penerbitan surat hutang, dan
1 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta : Raja Grafindo, 2008), hlm. 25
2 Lihat Pasal 4, UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
3 Penyunting, “Sekilas tentang Perbankan Syariah”, Situs resmi Bank Indonesia, diakses
dari www.bi.go.id, pada tanggal 30 Januari 2018, pukul 10.19.
2
pendapatan dari setiap fasilitas yang disediakannya.
Segala aktifitas bank pasti berhubungan dengan nasabah. Dalam hal ini bank
diistilahkan sebagai kreditur dan nasabah diistilahkan sebagai debitur atau
konsumen. Hubungan antara kreditur dan debitur atau Bank dengan nasabahnya
sudah diperjanjiakan sejak awal transaksi. Hak, kewajiban, dan segala sesuatu
yang berkaitan dengan transaksi perbankan tertuang dalam sebuah kontrak.
Apabila salah satu pihak baik bank maupun nasabah melakukan wanprestasi
dan tidak cepat diselesaikan, maka terjadilah sengketa.
Melihat potensi sengketa yang akan terjadi, maka diperlukan upaya
mengatasinya. Untuk itu di setiap bank terdapat bagian yang bertugas
mendengarkan pengaduan konsumen dan penyelesaiannya. Ini adalah upaya
pertama penanganan penyelesaiang sengketa. Penyelesaian sengketa memang
sebaiknya dilakukan dengan cara kekeluargaan, dalam artian diselesaikan
dengan berdiskusi, mengulas duduk perkara, mengemukakan tuntutan,
menyamakan presepsi, dan mencari solusi. Cara ini akan membantu
meminimalisir kerugian diantara kedua belah pihak bersengketa. Cara ini
disebut juga dengan mediasi. Seperti yang di jelaskan diatas, mediasi yang
pertama dapat dilakukan olen bank sebagai pihak penyedia layanan keuangan,
Namun apabila bank tidak dapat menyelesaikan pengaduan yang dilakukan
nasabah (tidak tercapai kesepakatan), para pihak bisa menyelesaikan konflik
melalui mediasi di lembaga penyelesaian sengketa.
Berdasarkan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang
Perbankan Syariah, penyelesaian sengketa perbankan syariah bisa dilakukan di
2 (dua) pilihan, yakni badan litigasi dan Non litigasi.4 Yang dimaksud badan
litigasi adalah Pengadilan. Untuk sengketa perbankan syariah, pemeriksaannya
4 Ayat 1, Pasal 55, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah
3
akan dilakukan di Peradilan Agama (PA). Pada ayat 1 Pasal 55 UU No.21
Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah disebutkan bahwa Penyelesaian
sengketa Perbankan Syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan
Peradilan Agama. Selain itu Ketentuan mengenai kompetensi Pengadilan
Agama dalam memeriksa perkara ekonomi syariah juga ada pada Pasal 49 UU
No. 3 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama. Adapun Pengadilan Agama
sebagai lembaga litigasi juga wajib menyelenggarakan upaya mediasi sebelum
memeriksa pokok perkara. Hal tersebut diatur dalam PERMA No.1 Tahun 2016
Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Selanjutnya lembaga Non litigasi adalah lembaga penyelesaian sengketa di
luar pengadilan, atau lebih dikenal dengan istilah Alternatif Penyelesaian
Sengketa (APS). Alternatif penyelesaian sengketa singkatnya adalah
penyelesaian sengketa perdata melalui jalan Negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan
arbitrase.5 Dengan segala kelebihannya, penyelenggaraan penyelesaian
sengketa perbankan di lembaga non litigasi diatur dalam Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
(APS).
Di Indonesia sendiri ada banyak lembaga non litigasi untuk menyelesaikan
sengketa. Untuk lembaga arbitrase institusional yang bersifat nasional ada 7
lembaga6, yang salah satunya adalah Badan Arbitrase Syariah Nasional
(BASYARNAS) yang sebelumnya bernama BAMUI dan diganti berdasarkan
berdasarkan SK MUI No.Kep-09/MUI/XII/2003, pada tanggal 24 Desember
5 Nurnaningsih Amriani, Mediasi Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan,
(Jakarta: Rajawali Press, 2011), h. 13.
6 7 (tujuh) Lembaga tersebut adalah Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI),
Badan Arbitrase Komoditi Berjangka Indonesia (BAKTI), Badan Arbitrase dan Mediasi Hak
Kekayaan Intelektual (BAM HKI), Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), Badan
Mediasi Asuransi Indonesia, dan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) yang di prakarsai oleh
Kamar Dagang Industri Indonesia (KADIN). Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga memprakarsai
institusional non litigasi yang khusus menyelesaikan sengketa ekonomi syariah, yakni Badan
Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI) yang telah berganti nama menjadi Badan Arbitrase Syariah
Nasional (BASYARNAS).
(LAPS) yang pendiriannya diamanatkan oleh Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
(POJK) No. 1/POJK/07/2014 Tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian
Sengketa di Sektor Jasa Keuangan. Untuk lembaga yang khusus menyelesaikan
sengketa perbankan adalah Lembaga Penyelesaian Sengketa Perbankan
Indonesia (LAPSPI).
arbitrase Islam yang pertama kali didirikan di Indonesia. Basyarnas berdiri
sebagai instrumen hukum untuk menyelesaikan perselisihan para pihak di
lingkup Ekonomi Syariah baik Perbankan Syariah maupun Asuransi Syariah.
BASYARNAS beroperasi berdasarkan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 30
Tahun 1999 Tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa yang bunyinya “adanya
suatu perjanjian arbitrase tertulis meniadakan hak para pihak untuk
mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang termuat dalam
perjanjiannya ke Pengadilan Negeri”. Dari pasal ini terkandung simpulan
bahwa apa yang sudah diperjanjikan diawal adalah yang akan berlaku
dikemudian hari. Hampir disetiap kontrak/akad, seperti di perbankan syariah,
tercantum klausula penyelesaian sengketa yang menyatakan bahwa
penyelesaian sengketa akan di selesaikan di lembaga Arbitrase. Akta ini disebut
Pactum de Compromitendo.8
Selain itu BASYARNAS juga di sebutkan dalam penjelasan pasal 55
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah. Bunyinya,
“Yang dimaksud dengan penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi
akad adalah upaya sebagai berikut: a. Musyawarah, b. Mediasi Perbankan, c.
Melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) atau lembaga
arbitrase lain; dan /atau d. Melalui pengadilan dalam lingkungan Peradilan
7 Nurnaningsih Amriani, Mediasi Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan,
h. 14
8 Gatot Sumartono, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2006), hlm. 32
Umum”. Pasal ini mempunyai kandungan makna yang hampir sama dengan
pasal 11 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Alternatif
Penyelesaian Sengketa. Namun dalam penjelasan pasal 55 Undang-Undang
Perbankan Syariah ini disebutkan secara spesifik institusional penyelesaian
sengketanya seperti Basyarnas. Selain itu dalam pasal tersebut memungkinkan
juga lembaga lain untuk menyelesaikan sengketa ekonomi syariah.
Kemudian Lembaga non litigasi lainnya, Lembaga Alternatif Penyelesaian
Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI) juga menerima semua perkara di
bidang perbankan termasuk perbankan syariah. LAPSPI didirikan berdasarkan
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 01/POJK.07/2014 tentang Lembaga
Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan. Pendiriannya
ditandatangani oleh 6 asosisasi perbankan antara lain PERBANAS,
HIMBARA, ASBANDA, ASBISINDO, PERBINA, dan PERBARINDO.9
Pendiriannya tidak lepas dari upaya mendirikan mediasi perbankan di era Bank
Indonesia.
Berdasarkan pemaparan di paragraf diatas, ada 3 lembaga yang memiliki
wewenang untuk menyelesaikan sengketa perbankan syariah, yakni Pengadilan
Agama, Basyarnas, dan LAPSPI. Ketiga lembaga ini juga menyelenggarakan
penyelesaian sengketa melalui mediasi. pertanyaan yang muncul selanjutnya
adalah mengenai apa perbedaan mediasi yang diadakan di masing-masing
lembaga tersebut. Untuk mengetahuinya kita perlu melihat prosedur serta
proses penyelesaiannya terutama dalam hal mediasi. Kemudaian dilihat lebih
jauh lagi perlu penjelasan mengenai siapa yang mempunyai wewenang lebih
dalam menyelesaikan sengketa perbankan syariah.
Berbicara tentang siapa yang paling wenang menyelesaikan sengketa
perbankan syariah, ketiga lembaga diatas mempunyai potensi masing-masing
9 Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS), Himpunan Bank Milik Negara
(HIMBARA), Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA) , Asosiasi Bank Syariah
Indonesia (ASBISINDO), Asosiasi Bank Internasional Indonesia (PERBINA), dan Perhimpunan
Bank Perkreditan Indonesia (PERBARINDO).
untuk menjadi yang paling wenang menyelesaikan sengketa ekonomi syariah.
Itu semua kembali kepada perjanjian yang dibuat para pihak yang bersengketa.
Jika dalam perjanjian tercantum klausula arbitrase atau klausula penyelesaian
sengketa lewat jalur non litigasi, semacam Basyarnas; maka lembaga yang
tercantum lebih mempunyai wewenang dari pada yang lain. Jika tidak ada
klausula arbitrase atau klausula non litigasi apapun, maka Pengadilan Agama
adalah yang berwenang dari pada pengadilan manapun.
Pada pelaksanaannya penyelesaian sengketa melalui jalur non litigasi harus
disertai dengan perjanjian tertulis dari kedua pihak yang bersengketa untuk
menyelesaikan sengketanya di jalur non-litigasi semisal arbitrase. Klausula
arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa lainnya, harus ditaati oleh kedua
pihak jika klausula tersebut sudah ada di dalam perjanjian tertulis sejak awal
dibuatnya. Keberadaan klausula tersebut juga meniadakan kewenangan absolut
Pengadilan untuk menyelesaikan sengketa. Ketentuan ini berlandaskan Pasal 3
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa yang berbunyi, Pengadilan Negeri tidak berwenang
mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase.
Walaupun tertulis term Pengadilan Negeri, namun secara konteks mempunyai
maksud seluruh pengadilan termasuk Pengadilan Agama dalam menyelesaikan
sengketa ekonomi syariah.
penyelesaian sengketa lewat jalur non litigasi, maka para pihak mempunyai
pilihan menyelesaikan sengketa baik lewat jalur litigasi maupun non litigasi.
Jika para pihak tetap ingin menyelesaikan sengketanya di jalur non litigasi,
maka para pihak harus membuat perjanjian tertulis lagi bahwasannya sengketa
mereka akan di selesaikan lewat jalur non-litigasi (akta compropis).
Proses penyelesaian sengketa ekonomi syariah, melalui Pengadilan Agama
dan forum non litigasi seperti Basyarnas dan LAPSPI, secara garis besar
memliki tahapan yang sama, namun dalam beberapa aspek berbeda.
Berdasarkan penelitian Prof. Dr.H. Bismar Nasution, proses penyelesaian
7
sengketa di Basyarnas jauh lebih singkat dari pada proses penyelesaian di
Pengadilan Agama. Cepatnya proses tersebut disebabkan tahapan proses yang
dilalui tidak banyak, seperti acara pemeriksaan, pembuktian, dan putusan.
Sengketa juga bisa diputus islah jika para pihak yang bersengketa setuju untuk
berdamai.10
litigasi, yakni dengan mediasi, ajudikasi, dan arbitrase. Tahapan yang dilakukan
juga tidak jaun berbeda dengan Basyarnas. Lalu jika diilihat dari track record-
nya yang baru 2 tahun berjalan, pada tahun 2016, LAPSPI telah menerima 32
perkara permohonan penyelesaian sengketa lewat mediasi. 13 sengketa berhasil
mencapai kesepakatan di meja mediasi, 7 sengketa sedang dalam proses
mediasi, dan 12 sengketa tidak berhasil di mediasi. Kemudian pada triwulan I
tahun 2017, LAPSPI menerima 6 perkara permohonan penyelesaian sengketa
lewat mediasi. Sehingga sejak tahun 2016 sampai triwulan I tahun 2017,
perkara yang masuk untuk diselesaikan lewat mediasi di LAPSPI berjumlah 38
perkara sengketa.11
Dalam hal perkara perbankan syariah, di Pengadilan Agama Jakarta Selatan
terdapat 7 perkara perbankan syariah dalam kurun waktu 2016-2017. Sebanyak
4 (empat) perkara telah diproses dengan hasil 4 perkara gagal mediasi dan tidak
ada perkara yang berhasil di mediasi. Berbeda dengan Basyarnas di Jakarta
yang menerima 2 perkara dalam waktu 2016-2017 dan keduanya berhasil
diselesaikan dengan damai. Lalu LAPSPI menerima 2 perkara perbankan
syariah dengan rincian 1 perkara gagal mediasi dan 1 perkara sedang dipending.
Dilihat dari data sementara ini, dapat di tarik kesimpulan lembaga non litigasi
yang di wakili oleh Basyarnas dan LAPSPI cenderung lebih baik memediasi
10 Bismar Nasution dan Mahmul, “Penyelesaian Sengketa Bisnis Syariah Melalui Badan
Arbitrase Syariah Nasional (Bayarnas)”, Mimbar Hukum dan Peradilan, Edisi No. 73 (2011): hlm.
60.
11 Laporan OJK, Dukungan OJK Terhadap Perlindungan Konsumen Lembaga lternatif
Penyelesaian Sengketa, Laporan Kinerja Otoritas Jasa Keuangan 2012-2017, hlm.110.
8
sengketa perbankan syariah dari pada lembaga litigasi, dalam hal ini Pengadilan
Agama Jakarta Selatan.
Berdasarkan uraian diatas, penulis merasa perlu untuk mengkaji lebih dalam
alasan mengapa lembaga non-litigasi cenderung lebih baik dalam
menyelesaikan sengketa perbankan syariah dibandingkang dengan lembaga
litigasi. Oleh karena itu penulis akan mencari jawaban penelitian dengan
menelusuri substansi hukum, penegak hukum, sarana/fasillitas, dan masyarakat
hukum, dari tiga institusi: LAPSPI, Basyarnas, dan Pengadilan Agama Jakarta
Selatan dengan judul “Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah Melalui
Mediasi di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Badan Arbitrase Syariah
Nasional Jakarta, Dan Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa
Perbankan Indonesia”.
sebelumnya, maka penulis mengidentifikasi masalah berupa beberapa
pertanyaan sebagai berikut:
mediasi di, Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Badan Arbitrase Syariah
Nasional Jakarta, dan Lembaga alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan
Indonesia?
2. Siapa saja yang terlibat dalam penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah
melalui mediasi di, Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Badan Arbitrase
Syariah Nasional Jakarta, dan Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa
Perbankan Indonesia?
Badan Arbitrase Syariah Nasional Jakarta, dan Lembaga alternatif
Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia?
9
4. Apa upaya yang dilakukan oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Badan
Arbitrase Syariah Nasional Jakarta, dan Lembaga Alternatif Penyelesaian
Sengketa Perbankan Indonesia, dalam mengefektifkan mediasi
penyelesaian sengketa perbankan syariah?
Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Badan Arbitrase Syariah Nasional
Jakarta, dan Lembaga alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan
Indonesia?
mediasi di, Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Badan Arbitrase Syariah
Nasional Jakarta, dan Lembaga alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan
Indonesia?
Nasional Jakarta, dan Lembaga alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan
Indonesia?
Arbitrase Syariah Nasional Jakarta, dan Lembaga alternatif Penyelesaian
Sengketa Perbankan Indonesia?
Melakukan penelitian dengan skala objek yang terlalu luas bisa
mengkaburkan fokus penelitian sehingga kesimpulan yang didapat tidak
memuaskan dan hasil penelitian tidak maksimal. Oleh karenanya penulis hanya
akan fokus meneliti mediasi yang di lakukan oleh Pengadilan Agama Jakarta
Selatan, Badan Arbitrase Syariah Nasional Jakarta, dan Lembaga Alternatif
Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia dalam kurun waktu 2016-2017
dalam hal menyelesaikan sengketa perbankan syariah.
Berdasarkan data dan simpulan sementara yang telah di jabarkan di
latarbelakang, penulis akan melakukan penelitian dengan rumusan masalah
10
mengapa lembaga Non-litigasi cenderung lebih baik dari pada lembaga litigasi
dalam memediasi sengketa perbankan syariah. Adapun rumusan masalah ini
akan terjawab dengan terjawabnya pertanyaan-pertanyaan penelitian di bawah
ini:
mediasi di, Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Badan Arbitrase Syariah
Nasional Jakarta, dan Lembaga alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan
Indonesia?
Syariah Nasional Jakarta, dan Lembaga alternatif Penyelesaian Sengketa
Perbankan Indonesia?
Syariah Nasional Jakarta, dan Lembaga alternatif Penyelesaian Sengketa
Perbankan Indonesia?
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis proses mediasi dalam menyelesaiankan perkara
sengketa ekonomi syariah…