PENUNTUN PRAKTIKUM VISKOSITAS BERBASIS …repository.unja.ac.id/3411/1/ARTIKEL...

of 16 /16
PENUNTUN PRAKTIKUM VISKOSITAS BERBASIS KETERAMPILAN PROSES SAINS MENGGUNAKAN MODEL DISCOVERY LEARNING Darmaji 1) , Astalini 2) , Puspa Armandita 3) , Maison 4) 124) Dosen Pendidikan Fisika Universitas Jambi 3) Mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Jambi e-mail: [email protected] Abstrak: Keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang mampu menemukan dan mengembangkan fakta maupun konsep, penumbuhan dan pengembangan sikap serta nilai. Keterampilan proses sains akan berkontribusi secara produktif terhadap keunggulan dalam bidang pendidikan dan dapat diwujudkan dengan mengikuti penyelidikan di laboratorium sains. Untuk mendukung penyelidikan tersebut perlu adanya penuntun praktikum berbasis keterampilan proses sains, dilakukan suatu pengembangan pedoman praktikum berbasis keterampilan proses sains dengan model discovery learning. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghasilkan penuntun berbasis keterampilan proses sains dengan model discovery learning dan untuk mengetahui respon mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model Borg & Gall. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar validasi dan angket respon serta data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantitatif kemudian dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil validasi menunjukkan bahwa untuk materi dikategorikan sangat baik dengan skor 3,34 dan untuk media dikategorikan baik dengan skor 3,27. Respon mahasiswa juga menyatakan bahwa penuntun yang dikembangkan dikategorikan baik. Kata Kunci: Penuntun Praktikum, Fisika Dasar, Keterampilan Proses, Discovery Learning Abstract: Science process skills are skills that are able to find and develop the facts and concepts, growth and development of attitudes and values. Science process skills will contribute productively towards excellence in education and can be realized by following an inquiry in the science laboratory. To support these investigations need to be their guiding science process skills-based lab, conducted a practical guideline development based on science process skills with a model of discovery learning. The purpose of this research is to produce science-based science process guide with discovery learning model and to know the student's response. This research is research development by using the model of the Borg & Gall. Data collected through the validation sheet and questionnaire responses as well as the data obtained in the form of qualitative and quantitative data were analyzed with descriptive statistics. The results of the validation indicate that the material is categorized very well with a score of 3.34 and zoned for the media both with a score of 3.27. Student response also stated that the guide being developed are categorized either. Keywords: Practical Guide, Basic Physics, Process Skills, Discovery Learning

Embed Size (px)

Transcript of PENUNTUN PRAKTIKUM VISKOSITAS BERBASIS …repository.unja.ac.id/3411/1/ARTIKEL...

  • PENUNTUN PRAKTIKUM VISKOSITAS BERBASIS KETERAMPILAN

    PROSES SAINS MENGGUNAKAN MODEL DISCOVERY LEARNING

    Darmaji1)

    , Astalini2)

    , Puspa Armandita3)

    , Maison4)

    124)Dosen Pendidikan Fisika Universitas Jambi

    3)Mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Jambi

    e-mail: [email protected]

    Abstrak: Keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang mampu menemukan dan

    mengembangkan fakta maupun konsep, penumbuhan dan pengembangan sikap serta nilai.

    Keterampilan proses sains akan berkontribusi secara produktif terhadap keunggulan dalam

    bidang pendidikan dan dapat diwujudkan dengan mengikuti penyelidikan di laboratorium

    sains. Untuk mendukung penyelidikan tersebut perlu adanya penuntun praktikum berbasis

    keterampilan proses sains, dilakukan suatu pengembangan pedoman praktikum berbasis

    keterampilan proses sains dengan model discovery learning. Tujuan dari penelitian ini yaitu

    untuk menghasilkan penuntun berbasis keterampilan proses sains dengan model discovery

    learning dan untuk mengetahui respon mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian

    pengembangan dengan menggunakan model Borg & Gall. Pengumpulan data dilakukan

    melalui lembar validasi dan angket respon serta data yang diperoleh berupa data kualitatif

    dan kuantitatif kemudian dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil validasi menunjukkan

    bahwa untuk materi dikategorikan sangat baik dengan skor 3,34 dan untuk media

    dikategorikan baik dengan skor 3,27. Respon mahasiswa juga menyatakan bahwa penuntun

    yang dikembangkan dikategorikan baik.

    Kata Kunci: Penuntun Praktikum, Fisika Dasar, Keterampilan Proses, Discovery Learning

    Abstract: Science process skills are skills that are able to find and develop the facts and

    concepts, growth and development of attitudes and values. Science process skills will

    contribute productively towards excellence in education and can be realized by following an

    inquiry in the science laboratory. To support these investigations need to be their guiding

    science process skills-based lab, conducted a practical guideline development based on

    science process skills with a model of discovery learning. The purpose of this research is to

    produce science-based science process guide with discovery learning model and to know the

    student's response. This research is research development by using the model of the Borg &

    Gall. Data collected through the validation sheet and questionnaire responses as well as the

    data obtained in the form of qualitative and quantitative data were analyzed with descriptive

    statistics. The results of the validation indicate that the material is categorized very well with

    a score of 3.34 and zoned for the media both with a score of 3.27. Student response also

    stated that the guide being developed are categorized either.

    Keywords: Practical Guide, Basic Physics, Process Skills, Discovery Learning

    mailto:[email protected]
  • PENDAHULUAN

    Kerangka Kualifikasi Nasional

    (KKNI) merupakan rumusan kemampuan

    yang dinyatakan dengan istilah capaian

    pembelajaran. Perguruan tinggi sebagai

    penghasil sumber daya manusia terdidik

    perlu mengukur lulusannya, apakah

    lulusan yang dihasilkan memiliki

    kemampuan setara dengan capaian

    pembelajaran yang telah dirumuskan

    dalam jenjang kualifikasi KKNI

    (Kemenristekdikti, 2016). Kurikulum yang

    ada pada Program Studi pendidikan Fisika

    (2015) terdapat kompetensi lulusan yang

    harus dicapai yaitu berupa keterampilan

    praktis (practical skill). Keterampilan

    praktis (practical skill) ini merupakan

    suatu keterampilan yang didapat dari

    kegiatan praktikum di laboratorium. Sesuai

    dengan tujuan pendidikan sains manurut

    Zeidan dan Jayosi (2015) One of the most

    important goals of science education is to

    teach students how to get involved in

    inquiry.

    Menurut Munayyaroh, dkk

    (2013:116), Praktikum sebagai salah satu

    kegiatan laboratorium yang berperan

    dalam menunjang keberhasilan proses

    belajar sains salah satunya fisika. Hal ini

    sejalan dengan pendapat Sutopo (2013:7)

    yang mengatakan bahwa ..practices of

    science is the proper way for learning

    physics.... Menurut Hofstein dan Naaman

    (2007) dalam Feyzolu (2009:115),

    aplikasi laboratorium bertujuan untuk

    meningkatkan proses sains dan

    keterampilan memecahkan masalah.

    Dengan adanya kegiatan praktikum maka

    akan meningkatkan kemampuan

    pemahaman konsep dan keterampilan

    proses mahasiswa (Munandar, 2016).

    Keterampilan proses merupakan suatu

    pendekatan belajar-mengajar yang

    mengarah pada pertumbuhan dan

    pengembangan sejumlah keterampilan

    tertentu pada diri mahasiswa calon guru,

    agar mampu memproses informasi

    sehingga ditemukan halhal baru yang

    bermanfaat baik berupa fakta, konsep

    maupun pengembangan sikap dan nilai.

    Menurut Sheeba (2013:108-109), The

    science process skills are the intellectual

    skills needed for scientific investigation

    attained by students as a result of learning

    science. Selain itu Shebaa juga

    mengatakan bahwa science process skills

    would productively contribute towards

    global excellence in education. Aydin

    (2013:52) berpendapat bahwa

    keterampilan proses sains adalah

    kemampuan berpikir yang kita gunakan

    untuk menciptakan pengetahuan,

    merenungkan masalah dan merumuskan

    hasil. Keterampilan proses sains dirancang

    untuk membantu mengembangkan

    pengetahuan dan keterampilan yang

  • diperlukan (Rezba, dkk, 1995). Science

    process skills are beneficial in that

    students can be realized by participating

    in inquiry the science laboratory. Science

    process skills are inseparable in practice

    (Karamustafaoglu, 2011:26). Melalui

    keterampilan proses, konsep yang

    diperoleh mahasiswa calon guru akan lebih

    bermakna karena keterampilan berfikir

    mahasiswa akan lebih berkembang

    (Wardani, 2008:317-318).

    Untuk mensukseskan kegiatan

    praktikum, selain menggunakan alat yang

    baik juga harus ditunjang dengan sebuah

    panduan pelaksanaan praktikum atau

    penuntun praktikum. Panduan praktikum

    merupakan salah satu bahan ajar yang

    dijadikan pedoman mahasiswa dalam

    melaksanakan praktikum (Hidayah,

    2014:20). Menurut Saha (2001) dalam

    Killinc (2007) mengatakan bahwa

    However, in many school science

    programs these laboratories are used in a

    cookbook fashion to verify scientific facts

    and not promote laboratory or science

    process skills to investigate the natural

    phenomena. Pernyataan ini sesuai dengan

    yang terdapat pada panduan praktikum

    yang ada di pendidikan fisika.

    Hasil dari telaah terhadap panduan

    praktikum Fisika Dasar I khususnya materi

    viskositas, didalamnya hanya terdapat

    beberapa aspek keterampilan proses.

    Berdasarkan hasil telaah tersebut, pada

    saat pelaksanaan praktikum akhirnya

    menunjukkan bahwa keterampilan proses

    yang dimiliki mahasiswa program studi

    pendidikan fisika sangat tidak baik. Faktor

    yang mempengaruhi yaitu, (1)

    pengalaman awal mahasiswa sebelum

    praktikum Fisika Dasar I; (2) pengetahuan

    mahasiswa tentang konsep dalam materi

    praktikum; (3) ketersediaan alat-alat

    praktikum; dan (4) pedoman praktikum

    yang tidak melatih KPS (Normayanti,

    2017). Santiani (2013:3) mengatakan,

    Penuntun praktikum sebagai salah satu

    sumber belajar pada kegiatan praktikum

    seharusnya menjadi panduan bagi siswa

    dalam menumbuhkan keteramplan proses

    sains.

    Dari paparan di atas muncul gagasan

    untuk melakukan inovasi dalam kegiatan

    praktikum Fisika Dasar I melalui

    pengembangan penuntun praktikum

    menggunakan Model Discovery Learning.

    Model Discovery Learning menurut

    Susanti, dkk (2016:36) merupakan model

    pembelajaran yang mengarahkan pada

    kegiatan yang dapat mengembangkan

    keterampilan sains dapat menemukan dan

    menyelidiki sendiri tentang suatu konsep

    sains sehingga pengetahuan dan

    keterampilan yang dimiliki bukan hasil

    mengingat seperangkat fakta melainkan

    hasil temuan sendiri. Menurut Tompo, dk

  • (2016:5666) The knowledge gained by

    learning the invention (discovery) allows

    the knowledge that last a long time or is

    more easily remembered. Kemudian

    model discovery learning ini merupakan

    model untuk pembelajaran aktif, hal ini

    sesuai dengan pendapat Martaida, dkk

    (2017:2):

    Discovery learning is a model for

    developing active student learning by

    finding out on their own, investigating on

    its own so that the results obtained will be

    long lasting in memory, not easily forgotten

    by students.

    Dengan demikian perlu dilakukan

    pengembangan penuntun praktikum

    dengan menggunakan model discovery

    learning sehingga mampu

    memberdayakan keterampilan proses

    sains mahasiswa. Tujuan dari peneitian ini

    untuk menghasilkan penuntun praktikum

    fisika dasar I berbasis keterampilan proses

    sains dengan menggunakan model

    discovery learning pada materi viskositas

    dan untuk mengetahui respon dari

    penuntun yang dikembangkan.

    METODE

    Metode yang digunakan dalam

    penelitian ini menggunakan model

    pengembangan Borg dan Gall (1983).

    Menurut Borg dan Gall (2003):

    R & D is an industry based development

    model in which the findings of research are

    used to design new products and procedures,

    which then are systematically field-tested,

    evaluated, and refined until they meet

    specified criteria of effectiveness, quality, or

    similiar standards.

    Langkah-langkah pengembangan Borg dan

    Gall dalam Setyosari (2012) terdapat 10

    langkah yang disederhanakan menjadi 4

    langkah yaitu: (1) studi pendahuluan; (2)

    Desain Produk; (3) Hasil Validasi; (4)

    Hasil Uji Coba. Instrumen yang digunakan

    dalam penelitian ini berupa lembar validasi

    dan angket respon. Lembar validasi yaitu

    berupa lembar validasi ahli materi dan ahli

    media. Berikut Lembar validasi ini

    diberikan kepada 2 orang dosen sebagai

    ahli bidang materi dan ahli praktisi desain.

    Berikut kisi-kisi lembar validasi materi

    terhadap penuntun praktikum Fisika Dasar

    I berbasis keterampilan proses sains

    dengan model discovery learning pada

    materi viskositas.

    Tabel 1. Kisi-kisi Penilaian Materi

    Kriteria Indikator Pencapaian

    Penyajian Teknik Penyajian

    Pendukung Penyajian Materi

    Kelayakan Isi

    Cakupan materi

    Akurasi materi

    Kemutakhiran

    Mengembangkan keterampilan

    proses sains

    Kebahasaan

    Sesuai dengan perkembangan

    mahasiswa

    Komunikatif

    Dialogis dan interaktif

    Lugas

    Koherensi dan keruntutan alur

    pikir

    Penggunaan istilah

    (Fajriani, 2017)

    Selanjutnya untuk kisi-kisi lembar validasi

    media terhadap penuntun praktikum Fisika

    Dasar I berbasis keterampilan proses sains

    dengan model discovery learning pada

  • materi viskositas. Berikut dapat dilihat

    pada Tabel 2.

    Tabel 2. Kisi-kisi Penilaian Media

    Aspek Penilaian Indikator

    Kecukupan Isi

    Penuntun

    Kesesuaian isi penuntun

    Penyajian

    Ketepatan Isi

    penuntun

    Organisasi

    Format

    Konsistensi

    Bentuk dan ukuran

    huruf

    Kemenarikan isi

    penuntun

    Kebahasaan

    Desain penuntun

    (Octaviandari, A. 2016)

    Kemudian untuk angket respon diberikan

    kepada mahasiswa Pendidikan Fisika

    Universitas Jambi. Kisi-kisi angket respon

    dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

    Tabel 3. Kisi-kisi Angket Respon Uji Coba Produk

    No Aspek Indikator

    1 Ketertarikan Ketertarikan terhadap

    penggunaan penuntun

    praktikum Fisika Dasar I

    Ketertarikan isi penuntun

    praktikum

    2 Keruntutan Keruntutan langkah

    praktikum

    3 Kemudahan Tingkat kesukaran

    Jenis data pada penelitian ini

    dikelompokkan menjadi dua yaitu berupa

    data kuantitatif dan data kualitatif. Data

    kuantitatif yang diperoleh berupa hasil dari

    lembar validasi dan angket respon

    sedangkan data kualitatif yang dihimpun

    dari segi penilaian, tanggapan, kritik, dan

    saran perbaikan dari hasil validasi dan

    respon mahasiswa. Teknik analisis data

    kuantitatif yaitu berupa menggunakan

    statistik deskriptif dengan melakukan

    analisis validitas logis, analisis reliabilitas

    angket respon.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Hasil

    Hasil pengembangan menggunakan

    model Borg dan Gall adalah sebagai

    berikut:

    (1) Studi Pendahuluan

    Dalam kurikulum program studi

    pendidikan fisika terdapat kompetensi

    keterampilan praktis. Keterampilan praktis

    merupakan keterampilan bidang kerja.

    Program studi Pendidikan Fisika sendiri

    memiliki berbagai macam mata kuliah

    yang dapat mewujudkan keterampilan

    tersebut salah satunya yaitu mata kuliah

    Fisika Dasar 1. Dari deskripsi mata kuliah

    Fisika Dasar I terdapat praktikum Fisika

    Dasar I dan tertulis bahwa tujuan dari

    praktikum Fisika Dasar I yaitu melalui

    kegiatan praktikum diharapkan mahasiswa

    memiliki kemampuan melakukan

    pengukuran dasar dan melakukan

    percobaan fisika sederhana, serta dapat

    menganalisis data dengan menggunakan

    teori kesalahan dan menulis laporan

    Pada penuntun praktikum Fisika Dasar

    I khususnya pada materi viskositas, materi

    yang disajikan sudah bagus hanya saja saat

    prosedur praktikum hanya terdapat

    beberapa keterampilan proses. Kondisi

    saat praktikum juga kurang kondusif

    dikarenakan alat yang kurang lengkap

    sehingga tidak semua mahasiswa dapat

    melakukan percobaan, inilah yang

  • menyebabkan keterampilan proses

    mahasiswa tidak terlihat. Hal tersebut

    didukung dari hasil penelitian yang telah

    dilakukan oleh Kuswanto (2017) pada

    materi viskositas. Berikut hasil observasi

    yang didapat:

    Gambar 1. Phie Chart Observasi Keterampilan

    Proses Sains Merancang Praktikum viskositas

    Gambar 2. Phie Chart Observasi Keterampilan

    Proses Sains Mahasiswa Dalam Analisis

    Praktikum viskositas

    Gambar 3. Phie Chart Observasi Keterampilan

    Proses Sains mendeskripsikan hubungan

    diantara variabel praktikum viskositas

    Gambar 4. Phie Chart Observasi Keterampilan

    Proses Sains Mahasiswa Dalam melakukan

    Praktikum viskositas

    Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh

    Normayanti (2017) pada materi viskositas

    didapatkan hasil sebagai berikut:

    Gambar 5. Diagaram Observasi Keterampilan

    Proses Sains Mendefinisikan Variabel Secara

    Operasional Praktikum viskositas

    Gambar 6. Diagaram Observasi Keterampilan

    Proses Sains Mengukur Praktikum viskositas

    SB

    0%

    B

    0% TB

    26%

    STB

    74%

    PHIE CHART OBSERVASI

    KETERAMPILAN PROSES SAINS

    MAHASISWA MERANCANG

    PRAKTIKUM VISKOSITAS FISIKA

    DASAR

    SB

    0% B

    0%

    TB

    2%

    STB

    98%

    PHIE CHART OBSERVASI

    KETERAMPILAN PROSES SAINS

    MAHASISWA DALAM ANALISIS

    PRAKTIKUM VISKOSITAS FISIKA

    DASAR

    SB

    0% B

    0%

    TB

    7%

    STB

    93%

    PHIE CHART OBSERVASI

    KETERAMPILAN PROSES SAINS

    MAHASISWA DALAM

    MENDESKRIPSIKAN HUBUNGAN

    ANTAR VARIABEL PRAKTIKUM

    VISKOSITAS FISIKA DASAR

    SB

    0%

    B

    0% TB

    36%

    STB

    64%

    PHIE CHART OBSERVASI

    KETERAMPILAN PROSES SAINS

    MAHASISWA DALAM MELAKUKAN

    PRAKTIKUM VISKOSITAS FISIKA

    DASAR

    59%

    39%

    2% 0%

    Diagram KPS Mendefinisikan Variabel

    secara Operasional Praktikum Viskositas

    Sangat Tidak Terampil Tidak Terampil

    Terampil Sangat Terampil

    51% 31%

    18%

    0% Diagram KPS Mengukur Praktikum

    Viskositas

    Sangat Tidak Terampil Tidak Terampil

    Terampil Sangat Terampil

  • Gambar 7. Diagaram Observasi Keterampilan

    Proses Sains Memproses Data Praktikum

    viskositas

    Gambar 8. Diagram KPS Membuat Tabel

    praktikum viskositas

    Pada penelitian yang dilakukan Lestari

    (2017), pada praktikum viskositas

    didapatkan hasil sebagai berikut:

    Gambar 9. (a) Diagram Keterampilan Proses Sains

    Observasi; dan (b) Diagram Keterampilan Proses Sains

    Prediksi) Mahasiswa Pada Praktikum Fisika Dasar 1

    (Viskositas)

    Gambar 10. (a) Diagram Keterampilan Proses Sains

    Klasifikasi; dan (b) Diagram Keterampilan Proses

    Sains Kesimpulan Mahasiswa Pada Praktikum Fisika

    Dasar 1 (Viskositas)

    100%

    0% 0% 0%

    Diagram KPS Memperoleh dan

    Memproses Data Praktikum Viskositas

    Sangat Tidak Terampil Tidak Terampil

    Terampil Sangat Terampil

    93%

    7% 0% 0%

    Diagram KPS Membuat Tabel Data

    Praktikum Viskositas

    Sangat Tidak Terampil Tidak Terampil

    Terampil Sangat Terampil

    95%

    5% 0%

    0%

    Diagram Keterampilan Proses

    Sains Observasi Mahasiswa

    Pada Praktikum Fisika Dasar 1

    (Viskositas)

    Sangat Tidak

    Baik

    Tidak Baik

    Baik

    Sangat Baik

    (a)

    74%

    26%

    0%

    0%

    Diagram Keterampilan Proses

    Sains Prediksi Mahasiswa

    Pada Praktikum Fisika Dasar

    1 (Viskositas)

    Sangat Tidak

    Baik

    Tidak Baik

    Baik

    Sangat Baik

    (b)

    100%

    0% 0% 0%

    Diagram Keterampilan Proses

    Sains Klasifikasi Mahasiswa

    Pada Praktikum Fisika Dasar 1

    (Viskositas)

    Sangat Tidak

    Baik

    Tidak Baik

    Baik

    Sangat Baik

    87%

    13%

    0%

    0%

    Diagram Keterampilan Proses

    Sains Kesimpulan Mahasiswa

    Pada Praktikum Fisika Dasar 1

    (Viskositas)

    Sangat Tidak

    Baik

    Tidak Baik

    Baik

    Sangat Baik

    (b)

    (a)

  • Dari ketiga penelitian tersebut

    menunjukkan bahwa mahasiswa

    Pendidikan Fisika tidak memiliki

    keterampilan proses sains yang tidak baik.

    Hal ini disebabkan karena kurangnya

    pengalaman mahasiswa dalam praktikum

    fisika di SMA/MAN dan kurangnya

    pengetahuan keterampilan proses sains

    serta pedoman praktikum yang kurang

    melatih keterampilan proses sains.

    (2) Desain Produk

    Tahap ini merupakan tahap rancangan

    produk penuntun praktikum fisika dasar I

    berbasis keterampilan proses dengan

    model discovery learning pada materi.

    Berikut desain produk yang dihasilkan:

    a. Cover

    Dirancang sesuai dengan judul

    praktikum dan gambar-gambar yang

    sesuai dengan perpaduan warna biru

    dan merah maroon muda.

    Gambar 11. Desain Cover

    b. Isi penuntun praktikum.

    Isi penuntun praktikum dibuat

    menyerupai buku paket dengan warna

    merah maroon sebagai batas atas dan

    batas bawah serta diberi bingkai.

    Margin yang digunakan kiri 4 cm,

    kanan, bawah dan atas yaitu 3 cm.

    Gambar 12. Desain Isi Penuntun Praktikum

    (3) Hasil Validasi

    Setelah produk dikembangkan

    dilakukan validasi untuk mengetahui

    kelayakan penuntun praktikum fisika dasar

    I berbasis keterampilan proses sains

    dengan model discovery learning yang

    dikembangkan. Validasi dilakukan oleh

    dua orang dosen ahli. Tahap validasi

    dimaksudkan untuk menilai penuntun

    praktikum agar valid dan dapat digunakan.

    Penilaian tersebut terdiri dari beberapa

    aspek yaitu dari segi materi dan media.

    Hasil validasi penuntun praktikum fisika

    dasar I berbasis keterampilan proses sains

    oleh ahli materi tahap I dapat dilihat pada

    Tabel 4 berikut.

    Tabel 4. Hasil Validasi tahap I Materi Penuntun

    Praktikum

    No Indikator Skor Kategori

    1 Teknik Penyajian 2,75 Baik

    2 Pendukung

    Penyajian Materi 2,5

    Tidak

    Baik

    3 Cakupan Materi 2,67 Baik

    4 Akurasi Materi 3 Baik

    5 Kemutakhiran 2

    Tidak

    Baik

    6 Mengembangkan 3 Baik

    Keterangan:

    1. Logo Universitas 2. Nama

    Laboratorium

    3. Judul Praktikum 4. Gambar

    Pendukung

    5. Identitas Praktikan

    6. Program Studi

    Keterangan:

    1. Sub judul: Tujuan Praktikum

    2. Isi Tujuan Praktikum

    3. Sub Judul: Langkah Discovery Learning

    (Stimulation)

    4. Isi 5. Gambar Pendukung

    6. Halaman

  • No Indikator Skor Kategori

    Keterampilan

    proses sains

    7 Sesuai dengan

    perkembangan

    mahasiswa

    2 Tidak

    Baik

    8 Komunikatif 2,5

    Tidak

    Baik

    9 Dialogis dan

    interaktif 2,5

    Tidak

    Baik

    10 Lugas 2

    Tidak

    Baik

    11 Konherensi dan

    keruntutan alur

    piker

    2 Tidak

    Baik

    12 Penggunaaan 2,33

    Tidak

    Baik

    Rata-Rata 2,44

    Kategori Tidak Baik

    Setelah dilakukan validasi tahap I

    selanjutnya dilakukan revisi dan kemudian

    diakukan validasi tahap II. Berikut hasil

    validasi materi tahap II pada penuntun

    praktikum.

    Tabel 5. Hasil Validasi tahap II Materi Penuntun

    Praktikum

    No Indikator Skor Kategori

    1 Teknik Penyajian 3 Baik

    2 Pendukung

    Penyajian Materi 2,83 Baik

    3 Cakupan Materi 3 Baik

    4 Akurasi Materi 3,25 Baik

    5 Kemutakhiran 2

    Tidak

    Baik

    6 Mengembangkan

    Keterampilan

    proses sains

    3,25 Baik

    7 Sesuai dengan

    perkembangan

    mahasiswa

    2,5 Tidak

    Baik

    8 Komunikatif 3 Baik

    9 Dialogis dan

    interaktif 2

    Tidak

    Baik

    10 Lugas 3 Baik

    11 Konherensi dan

    keruntutan alur

    piker

    3 Baik

    12 Penggunaaan 3 Baik

    Rata-Rata 2,78

    Kategori Baik dengan revisi

    Setelah pada tahap validasi tahap II,

    ternyata didapatkan hasil bahwa penuntun

    praktikum harus dilakukan validasi lagi.

    Maka dari itu dilakukan revisi kemudian

    dilanjutkan kembali untuk dilakukan revisi

    tahap III. Berikut hasil validasi materi

    tahap III pada penuntun praktikum.

    Tabel 6. Hasil Validasi tahap III Materi

    Penuntun Praktikum

    No Indikator Skor Kategori

    1 Teknik Penyajian 3,5

    Sangat

    Baik

    2 Pendukung

    Penyajian Materi 3,5

    Sangat

    Baik

    3 Cakupan Materi 3,33

    Sangat

    Baik

    4 Akurasi Materi 3,25 Baik

    5 Kemutakhiran 3 Baik

    6 Mengembangkan

    Keterampilan

    proses sains

    3,5

    Sangat

    Baik

    7 Sesuai dengan

    perkembangan

    mahasiswa

    3,5

    Sangat

    Baik

    8 Komunikatif 3 Baik

    9 Dialogis dan

    interaktif 3

    Baik

    10 Lugas 3 Baik

    11 Konherensi dan

    keruntutan alur

    piker

    3,5

    Sangat

    Baik

    12 Penggunaaan 4

    Sangat

    Baik

    Rata-Rata 3,34

    Kategori Sangat Baik

    Kemudian hasil validasi penuntun

    praktikum fisika dasar I berbasis

    keterampilan proses sains oleh ahli media

    dapat dilihat pada Tabel 7.

    Tabel 7. Hasil Validasi Media Penuntun Praktikum

    No Indikator Skor Kategori

    1 Kesesuaian Isi

    Penuntun 3

    Baik

    2 Penyajian 3,67

    Sangat

    Baik

    3 Organisasi 3 Baik

    4 Format 3,5 Sangat

  • No Indikator Skor Kategori

    Baik

    5 Konsistensi 4

    Sangat

    Baik

    6 Bentuk Ukuran

    Huruf 3

    Baik

    7 Kebahasaan 3 Baik

    8 Desain Penuntun 3 Baik

    Jumlah 3,27

    Kategori Baik

    (4) Hasil Uji Coba

    Penuntun praktikum yang telah

    divalidasi kemudian dilakukan uji

    kelompok kecil untuk melihat respon

    mahasiswa terhadap penuntun yang

    dikembangkan. Tabel 4 berikut

    menunjukkan rekapitulasi respon

    mahasiswa terhadap penuntun praktikum

    Fisika Dasar I berbasis keterampilan

    proses sains dengan menggunakan model

    discovery learning. Hasil angket respon

    mahasiswa terhadap penuntun praktikum

    fisika dasar I berbasis keterampilan proses

    sains dapat dilihat pada Tabel 8.

    Tabel 8. Rekapitulasi respon mahasiswa terhadap

    penuntun praktikum

    No Aspek Skor Kategori

    1 Ketertarikan 3,17 Baik

    3 Keruntutan 3,10 Baik

    4 Kemudahan 3,06 Baik

    Pembahasan

    Penuntun yang dihasilkan yaitu

    dengan menggunakan tahap-tahap

    discovery learning dan pada setiap langkah

    kerja terdapat seluruh keterampilan proses

    sains. Produk dilakukan validasi untuk

    mengetahui kelayakan sebuah produk

    penuntun. Validasi menurut Tavakol dan

    Dennick (2011:53) mengatakan bahwa

    Validity is concerned with the extent to

    which an instrument measures what it is

    intended to measure. Maka dari itu perlu

    dilakukan validasi terhadap produk yang

    dikembangkan. Validasi yang dilakukan

    berupa validasi materi dan validasi media.

    Validasi materi dilakukan sebanyak 3

    tahap sedangkan untuk validasi media

    dilakukan sebanyak 1 kali. Hasil validasi

    yang didapat diklasifikasikan menjadi 4

    yaitu sangat baik, baik, tidak baik dan

    sangat tidak baik (Widoyoko, 2014).

    Berdasarkan validasi materi tahap I

    pada Tabel 4, bahwa penuntun praktikum

    berbasis keterampilan proses sains dengan

    menggunakan model discovery learning

    pada materi viskositas didapatkan hasil

    sebesar 2,44 dengan kategori tidak baik,

    yang artinya masih banyak yang perlu

    diperbaiki dari segi penyusunan kalimat,

    ketertautan antar kalimat, kesesuaian

    dengan perkembangan sosial dan ilmu

    pengetahuan, dan keterpahaman

    mahasiswa terhadap pesan yang

    disampaikan. Kemudian pada validasi

    materi tahap II berdasarkan Tabel 5

    didapatkan hasil yaitu sebesar 2,78 dengan

    kriteria baik namun perlu dilakukan

    beberapa revisi lagi. Selanjutnya pada

    validasi materi tahap III berdasarkan Tabel

    6 didapatkan hasil sebesar 3,34 dengan

    kriteria sangat baik dan layak digunakan

  • sehingga dapat dilanjutkan pada tahap

    selanjutnya. Untuk hasil validasi media

    berdasarkan Tabel 7 didapatkan hasil

    sebesar 3,27 dengan kategori sangat baik.

    Hasil dari revisi produk yang telah

    divalidasi dapat dilihat dibawah ini.

    Gambar 13. Cover Sebelum Revisi (a), Cover

    Setelah Revisi (b)

    Gambar 14. Tampilan Tata Tertib Pelaksanaan

    Praktikum sebelum revisi

    Gambar 15. Tampilan Tata Tertib Pelaksanaan

    Praktikum Setelah Revisi

    Gambar 16. Tampilan Tata Tertib Penilaian, Sanksi

    sebelum revisi

    Gambar 17. Tampilan Tata tertib Penilaian, Sanksi

    Setelah Revisi

    Gambar 18. Tampilan Identifikasi Masalah

    (Problem Statement) Sebelum Revisi

    Gambar 19. Tampilan Identifikasi Masalah

    (Problem Statement) Setelah Revisi

    Gambar 20. Tampilan Langkah Kerja Sebelum

    Revisi

    (b) (a)

  • Gambar 21. Tampilan Langkah Kerja Setelah

    Revisi

    Gambar 22. Tampilan Analisis Data Sebelum

    Revisi

    Gambar 23. Tampilan Analisis Data Setelah Revisi

    Setelah produk penuntun praktikum

    Fisika Dasar I berbasis keterampilan

    proses sains menggunakan model

    discovery learning pada materi viskositas

    selesai validasi, dilakukanlah uji coba. Uji

    coba dilakukan terhadap mahasiswa

    Pendidikan Fisika Universitas Jambi. Uji

    coba dilakukan dengan menggunakan

    angket respon. Angket digunakan untuk

    mengetahui tanggapan peserta didik

    terhadap kegiatan pembelajaran yang

    menggunakan perangkat praktikum

    (Subamia, dkk, 2014:33). Angket respon

    yang telah dibuat dilakukan analisis

    validitas untuk menyatakan bahwa suatu

    instrument dikatakan valid apabila mampu

    mengukur apa yang hendak diukur.

    Analisis validitas dilakukan dengan

    validitas logis yang diperoleh dengan

    usaha yang sangat hati-hati sehingga

    secara logika instrumen itu dicapai

    menurut validitas yang dikehendaki. Selain

    itu validitas angket dilakukan dengan

    berkonsultasi dengan pakar peneliti yaitu

    dosen pembimbing.

    Setelah dilakukan analisis validitas,

    selanjutnya dilakukan uji reliabilitas untuk

    melihat ukuran suatu kestabilan dan

    konsistensi responden dalam menjawab hal

    yang berkaitan dengan konstruk

    pernyataan dalam suatu bentuk kuisioner

    (Sujarweni, 2015). Angket yang

    digunakan menggunakan skala Likert,

    untuk itu perlu dilakukan analisis

    reliabilitas menggunakan koefisien Alpha

    Cronbachs, seperti pendapat Quansah

    (2017:57), mengatakan bahwa The

    reliability estimate for items on a Likert

    scale is measured using the reliability

    method known as Cronbach Alpha.

    Analisis reliabilitas menggunakan

    persamaan Alpha Cronchbachs dengan

    bantuan Microsoft Excel. Dari perhitungan

  • menggunakan persamaan Alpha

    Cronbachs diperoleh nilai reliabilitas

    angket sebesar r11= 0,7310 dengan

    kategori memiliki reliabilitas yang tinggi,

    sehingga dapat disimpulkan bahwa angket

    penelitian dapat dipercaya dan digunakan

    untuk mengambil data respon mahasiswa

    terhadap kelayakan penuntun praktikum

    Fisika Dasar I. Setelah dilakukan analisis

    reliabilitas kemudian diberikan produk

    hasil pengembangan kepada mahasiswa

    Pendidikan Fisika Universitas Jambi untuk

    diujicobakan kemudian mahasiswa

    diberikan angket respon. Angket respon

    yang diberikan terdiri dari 3 aspek yaitu

    ketertarikan, keruntutan dan kemudahan.

    Keruntutan merupakan susunan

    penyajian isi bahan ajar. Keruntutan bahan

    ajar mempermudah peserta dalam belajar,

    dan juga menuntun peserta untuk terbiasa

    berpikir runtut (Wuryanto, 2010).

    Berdasarkan Tabel 8, pada aspek

    keruntutan didapatkan hasil sebesar 3,10

    dengan kategori baik. Selanjutnya yaitu

    pada aspek ketertarikan didapatkan hasil

    sebesar 3,17 dengan kategori baik.

    Siskawati, dkk (2016:74) menyatakkan

    bahwa adanya suatu ketertarikan sifatnya

    tetap di dalam diri seseorang yang sedang

    mengalaminya terhadap hal tertentu dan

    adanya rasa senang terhadap bidang atau

    hal tersebut, sehingga seseorang

    mendalaminya. Dari pernyataan tersebut

    disesuaikan dengan skor yang didapatkan

    bahwa pengguna saat menggunakan

    produk yang dikembangkan memiliki rasa

    senang sehingga ingin menggunakan

    penuntun yang dikembangkan.

    Untuk aspek kemudahan pada Tabel 8

    didapatkan hasil sebesar 3,06 dengan

    kategori baik. Faradila dan Soesanto

    (2013:151) menyatakan bahwa,

    penggunaan panduan pembelajaran

    berhubungan dengan mudah atau tidaknya

    buku digunakan oleh pembaca. Jika

    komponen-komponen pada panduan dan

    sulit dipelajari, pengguna panduan

    pembelajaran cenderung mengurungkan

    niatnya dalam mempelajari penuntun. Dari

    skor dapat disimpulkan bahwa penuntun

    yang dikembangkan tesebut mudah untuk

    digunakan. Berdasarkan hasil angket

    respon yang telah diisi oleh mahasiswa,

    dapat disimpulkan bahwa respon

    mahasiswa terhadap penuntun yang

    dikembangkan dikategorikan baik

    meskipun ada beberapa mahasiswa yang

    beranggapan bahwa dengan menggunakan

    penuntun yang telah dikembangkan ini

    menemui kesulitan.

    PENUTUP

    Penelitian ini menghasilkan penuntun

    praktikum Fisika Dasar I berbasis

    keterampilan proses sains dengan

    menggunakan model discovery learning

  • pada materi viskositas. Hasil validasi

    menunjukkan bahwa penuntun yang

    dikembangkan ini dikategorikan baik dan

    layak digunakan. Respon mahasiswa saat

    menggunakan penuntun praktikum Fisika

    Dasar I berbasis keterampilan proses sains

    dengan menggunakan model discovery

    learning pada materi viskositas

    menunjukkan kategori baik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Aydn, A. 2013. Representation of Science

    Process Skills in The Chemistry

    Curricula for Grades 10, 11 And

    12/Turkey. International Journal

    of Education and Practice, 1(5),

    51-63.

    Borg, W. R. & Gall, M. D. 2003.

    Educational Research An

    Introduction. United States of

    America: Pearson Education, Inc.

    Fajriani. 2017. Pengembangan Modul

    Praktikum Kimia Dasar

    Terintegrasi Ilmu Fisika

    Mahasiswa Jurusan Pendidikan

    Fisika. Skripsi UIN Alauddin

    Makassar

    Faradila, R. S. N., & Soesanto, H. (2016).

    Analisis Pengaruh Persepsi

    Kemudahan Penggunaan dan

    Persepsi Manfaat terhadap Minat

    Beli dengan Kepercayaan Sebagai

    Variabel Intervening (Studi pada

    Pengunjung Toko Online

    berrybenka. com di Kalangan

    Mahasiswa Universitas

    Diponegoro). Diponegoro Journal

    of Management, 5(3), 239-250. Feyzolu, B. 2009. An investigation of

    the relationship between science

    process skills with efficient

    laboratory use and science

    achievement in chemistry

    education. Journal of Turkish

    Science Education, 6(3), 114-132.

    Hidayah, M. 2013. Model Pembelajaran

    Asam Basa Berbasis SCS (Science

    Process Skills) Melalui Kegiatan

    Laboratorium Sebagai Wahana

    Pendidikan Sains Siswa MTS.

    Jurnal PHENOMENON, 2(1).

    Karamustafaoglu, S. 2011. Improving the

    Science Process Skills Ability of

    Science Student Teachers Using I

    Diagrams. Eurasian J. Phys. Chem.

    Educ, 3(1):26-38

    Kementrian Riset dan Teknologi

    Pendidikan Tinggi. 2016. Panduan

    Penyusunan Kurikulum Pendidikan

    Tinggi Tahun 2016. Jakarta:

    Kemenristekdikti

    Kilinc, A. 2007. The opinions of Turkish

    highschool pupils on inquiry based

    laboratory activities. TOJET: The

    Turkish Online Journal of

    Educational Technology, 6(4)

    Kuswanto, 2017. Profil Kemampuan Awal

    Keterampilan Proses Sains

    Mahasiswa Baru Pendidikan

    Fisika Tahun Ajaran 2016/2017

    Dalam Melakukan Praktikum

    Fisika Dasar I Di Universitas

    Jambi. Skripsi tidak diterbitkan.

    Jambi: FKIP PMIPA Universitas

    Jambi.

    Lestari, U. 2017. Deskripsi Keterampilan

    Proses Sains Mahasiswa

    Pendidikan Fisika Universitas

    Jambi Pada Kegiatan Praktikum

    Fisika Dasar I (Keterampilan

    Proses Sains: Observasi, Prediksi,

    Klasifikasi dan Kesimpulan).

    Skripsi tidak diterbitkan. Jambi:

    FKIP PMIPA Universitas Jambi.

    Martaida, T., Nurdin Bukit dan Eva

    Marlina Ginting. 2017. The Effect

    of Discovery Learning Model on

    Students Critical Thinking and

    Cognitive Ability in Junior High

    School. IOSR Journal of Research

    & Method in Education (IOSR-

    JRME), 7(6): 1-8

  • Munandar, Kukuh. 2016. Pengenalan

    Laboratorium IPA Biologi Sekolah.

    Bandung: PT. Refika Aditama.

    Munayyaroh, dkk. 2013. Efektivitas

    Pelaksanaan Asistensi Praktikum

    Fisika Dasar II Terhadap Sikap

    Sains Mahasiswa Semester II

    Program Studi Pendidikan Fisika

    Universitas Muhammadyah

    Purworejo. Jurnal Berkala

    Pendidikan Fisika, 3(2):116-119.

    Muyanto, A. 2010. Pengembangan Bahan

    Ajar, Online,

    (https://aguswuryanto.wordpress.co

    m/2010/09/02/pengembangan-

    bahan-ajar), diakses 11 Januari

    2018.

    Normayanti. 2017. Deskripsi

    Keterampilan Proses Sains

    Mahasiswa Pendidikan Fisika

    Universitas Jambi pada Kegiatan

    Praktikum Fisika Dasar I (KPS:

    Mendefinisikan Variabel Secara

    Operasional, Mengukur,

    Memperoleh dan Memproses Data,

    dan Membuat Tabel Data). Skripsi

    tidak diterbitkan. Jambi: FKIP

    PMIPA Universitas Jambi.

    Nurgiyantoro, B Gunawan, dan Marzuki.

    2012. Statistik Terapan. Gadjah

    Mada University Press: IKAPI

    Octaviandari, Arniza Resti. 2016.

    Pengembangan Modul Fisika

    Berbasis Keterampilan Proses

    Sains Pada Materi Alat-alat Optik

    Untuk Peserta Didik SMP Kelas

    VIII.Skripsi. Universitas Islam

    Negeri Sunan Kali Jaga.

    Yogyakarta

    Quansah, F. 2017. The Use Of Cronbach

    Alpha Reliability Estimate In

    Research Among Students In

    Public Universities In Ghana.

    Africa Journal of Teacher

    Education, A Journal of Spread

    Corporation, 6(1): 56-64

    Rezba, R J, Constance. SS, Ronald. F,

    James. F, James. O, Harold. H J,

    1995. Learning and Asseing

    science process skills. Kndall:

    Hunt publishing company

    Santiani, S. 2013. Kemampuan

    Keterampilan Proses Sains

    Mahasiswa Fisika Stain Palangka

    Raya Pada Praktikum Fisika

    Dasar I. Edu Sains: Jurnal

    Pendidikan Sains & Matematika,

    1(2)

    Setyosari, Punaji. 2012. Metode Penelitian

    Pendidikan dan Pengembangan.

    Jakarta: Kencana Prenada Media

    Group.

    Sheeba, M. N. (2013). An Anatomy of

    Science Process Skills in The Light

    of the Challenges to Realize

    Science Instruction Leading to

    Global Excellent in Education.

    Education Confab, 2(14), 108-123.

    Siskawati, M., Pargito, P., & Pujiati, P.

    2016. Pengembangan Media

    Pembelajaran Monopoli Untuk

    Meningkatkan Minat Belajar

    Geografi Siswa. Jurnal Studi

    Sosial, 4(1): 72-80.

    Subamia, I. D. P., Wahyuni, I. G. A. N. S.,

    & Widiasih, N. N. 2014.

    Pengembangan Perangkat

    Penunjang Praktikum IPA SMP

    Berbasis Lingkungan. Jurnal

    Pendidikan dan Pengajaran, 47(1):

    29-39.

    Sujarweni, V. Wiratna. 2015. SPSS Untuk

    Penelitian. Yogyakarta: Pustaka

    Baru Press.

    Susanti, E., Mohamad Jamhari dan

    Samsurizal M. Suleman. 2016.

    Pengaruh Model Pembelajaran

    Discovery Learning Terhadap

    Keterampilan Sains Dan Hasil

    Belajar Siswa Kelas VIII Tentang

    IPA SMP Advent Palu. Jurnal

    Sains dan Teknologi Tadulako,

    5(3):36-41.

    Sutopo (2013). Improving Students

    Representational Skill And Generic

    Science Skill Using

    Representational Approach. Jurnal

    Ilmu Pendidikan, 19(1):7-16

    https://aguswuryanto.wordpress.com/2010/09/02/pengembangan-bahan-ajarhttps://aguswuryanto.wordpress.com/2010/09/02/pengembangan-bahan-ajarhttps://aguswuryanto.wordpress.com/2010/09/02/pengembangan-bahan-ajar
  • Tavakol, Mohsen dan Reg Dennick. 2011.

    Making sense of Cronbachs alpha.

    International Journal of Medical

    Education. 2:53-55.

    Tompoa, Bosman, Arifin Amad dan Muris

    Murisa. 2016. The Development of

    Discovery-Inquiry Learning Model

    to Reduce the Science

    Misconceptions of Junior High

    School Students. International

    Journal Of Environmental &

    Science Education, 11(12):5666-

    5686

    Wardani, S. 2008. Pengembangan

    keterampilan proses sains dalam

    pembelajaran kromatografi lapis

    tipis melalui praktikum skala

    mikro. Jurnal Inovasi Pendidikan

    Kimia, 2(2):317-322.

    Widoyoko, Eko Putro. 2014. Teknik

    Penyusunan Instrumen Penelitian.

    Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Zeidan, A.H., & Jayosi, M. R. 2015.

    Science Process Skills and

    Attitudes toward Science among

    Palestinian Secondary School

    Students. World Journal of

    Education, 5(1):13-24