PENJELASAN PERDA RDTR DAN PZ

download

of 273

Embed Size (px)

description

 

transcript

  • 1. PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI I. UMUM Kedudukan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pelaksanaan otonomi pada lingkup provinsi sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, memiliki peran dan fungsi sebagai tempat penyelenggaraan pemerintahan dan tempat kedudukan perwakilan negara asing, serta pusat/perwakilan lembaga internasional, sehingga peran dan fungsi Provinsi DKI Jakarta sangat luas dalam lingkup internasional, nasional, regional, dan lokal. Sebagai daerah otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkewajiban menyelenggarakan pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadi cerminan citra bangsa Indonesia. Dengan kondisi tersebut, ruang wilayah Provinsi DKI Jakarta berfungsi sebagai ruang ibukota negara dan kawasan perkotaan. Oleh sebab itu, pembangunan di Provinsi DKI Jakarta perlu dilakukan pada pemanfaatan ruang secara bijaksana, berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan sesuai kaidah-kaidah penataan ruang, sehingga kualitas ruang dapat terjaga keberlanjutannya bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Konsekuensi dari kedudukan, peran, dan fungsi Provinsi DKI Jakarta, pembangunan di Provinsi DKI Jakarta secara terus menerus mengalami perkembangan sangat dinamis dalam berbagai bidang. Perkembangan tersebut berpengaruh kepada sistem dan struktur ekonomi, sosial, dan politik baik nasional maupun lokal yang berakibat kepada perubahan fisik Kota Jakarta, sehingga muncul nilai-nilai baru dan kebutuhan akan perubahan struktur dan pola ruang sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030 (RTRW 2030). RTRW 2030 telah mengatur rencana tata ruang provinsi, 5 (lima) Kota Administrasi, dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, akan tetapi belum dapat dijadikan dalam pemanfaatan dan/atau pengendalian pemanfaatan ruang karena masih bersifat umum. Dengan demikian RTRW 2030 perlu dirinci dalam bentuk Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), yaitu rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah, yang dilengkapi Peraturan Zonasi (PZ) sebagai ketentuan yang mengatur persyaratan kegiatan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang, disusun untuk setiap sub blok dan sub zona peruntukan.
  • 2. 445 Fungsi RDTR dan PZ meliputi: (a) sebagai instrumen pengendalian mutu dalam pemanfaatan ruang berdasarkan RTRW 2030; (b) menjadi acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan pemanfaatan ruang yang diatur dalam RTRW 2030; (c) menjadi acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang; (d) menjadi acuan dalam penerbitan izin pemanfaatan ruang; (e) menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)/Urban Design Guideline (UDGL). Manfaat RDTR dan PZ meliputi: (a) penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan fungsi dan lingkungan permukiman dengan karakteristik tertentu; (b) alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pembangunan fisik yang dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat; (c) ketentuan intensitas pemanfaatan ruang sesuai fungsinya; (d) ketentuan untuk penyusunan program pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang bagi kawasan yang diprioritaskan. Peraturan Daerah tentang RDTR dan PZ merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang RTRW 2030, yang memuat: (a) rencana pola ruang; (b) rencana prasarana; (c) penetapan kawasan yang diprioritaskan penanganannya; (d) rencana pemanfaatan ruang; (e) peraturan zonasi. RDTR dan PZ disajikan dalam bentuk peta dalam skala 1:5000, yang secara operasional digambarkan dalam peta skala 1:1000. II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Yang dimaksud dengan azas penataan ruang sebagai berikut: a. keterpaduan, bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengintegrasikan berbagai kepentingan yang bersifat lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan, antara lain, adalah Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. b. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mewujudkan keserasian antara struktur ruang dan pola ruang, keselarasan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya, keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan antardaerah serta antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan.
  • 3. 446 c. keberlanjutan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan menjamin kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang. d. keberdayagunaan dan keberhasilgunaan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengoptimalkan manfaat ruang dan sumber daya yang terkandung di dalamnya serta menjamin terwujudnya tata ruang yang berkualitas. e. Keterbukaan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penataan ruang. f. kebersamaan dan kemitraan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. g. pelindungan kepentingan umum adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. h. kepastian hukum dan keadilan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan berlandaskan hukum/ketentuan peraturan perundangundangan dan bahwa penataan ruang dilaksanakan dengan mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat serta melindungi hak dan kewajiban semua pihak secara adil dengan jaminan kepastian hukum. i. akuntabilitas adalah bahwa penyelenggaraan penataan ruang dapat dipertanggungjawabkan, baik prosesnya, pembiayaannya, maupun hasilnya Pasal 6 Huruf a Yang dimaksud dengan kualitas ruang yang terukur adalah kualitas ruang yang dapat diukur secara kuantitatif. Huruf b Yang dimaksud dengan tertib penyelenggaraan penataan ruang adalah mendorong terwujudnya rencana tata ruang untuk mencegah terjadinya pelanggaran penataan ruang. Yang dimaksud dengan keseimbangan dan keserasian peruntukan lahan adalah mewujudkan keseimbangan dan keserasian pertumbuhan dan perkembangan peruntukan lahan. Yang dimaksud dengan penyediaan prasarana dan sarana kota yang maju dan memadai adalah penyediaan prasarana dan sarana kota yang berkualitas, dalam jumlah yang layak, berkesinambungan, dan dapat diakses oleh seluruh warga. Huruf c Cukup jelas. Huruf d Yang dimaksud dengan tata air adalah susunan dan letak air yang terdapat di dalam dan atau berasal dari sumber-sumbr air, baik yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah. Huruf e Yang dimaksud dengan prasarana transportasi yang memadai adalah mewujudkan pelayanan dan keterpaduan antar dan intra moda transportasi yang berkualitas, dalam jumlah yang layak, berkesinambungan, dan dapat diakses oleh seluruh warga.
  • 4. 447 Huruf f Cukup jelas. Pasal 7 Huruf a Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Huruf h Yang dimaksud Panduan Rancang kota atau Urban Design Guideline (UDGL), terdiri dari beberapa segmen kawasan yang diprioritaskan penanganannya, membentuk suatu pembangunan terpadu yang mempunyai dampak besar terhadap wajah Kota Jakarta. Huruf i Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Yang dimaksud dengan jangka waktu RDTR dan PZ adalah jangka waktu berlakunya Peraturan Daerah ini terhitung sejak ditetapkan menjadi Peraturan Daerah dan berlaku selama dua puluh tahun. Pasal 11 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas.
  • 5. 448 Huruf c Yang dimaksud peta operasioanal adalah peta rencana yang menjabarkan zona dan/atau sub zona peta zonasi dengan menambahkan rencana jalan dengan lebar di bawah 12 m (dua belas meter). Huruf d Cukup jelas. Huruf e Yang dimaksud dengan instansi pemerintah adalah instansi pemerintah pusat dan SKPD/UKPD. Huruf f Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 12 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Yang dimaksud dengan standar adalah acuan yang dipakai sebagai patokan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Yang dimaksud dengan norma adalah aturan atau ketentuan yang dipakai sebagai tatanan untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah. Yang dimaksud dengan kriteria adalah ukuran yang dipergunakan menjadi dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Yang dimaksud dengan prosedur adalah metode atau tata cara untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasal 13 Ayat (1) Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan dalam ayat ini adalah Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 14 Ayat (1) Jumlah penduduk menggambarkan rencana persebaran penduduk sampai tahun 2030 dengan tujuan untuk mewujudkan