PENGGUNAAN AgNOR SEBAGAI MARKER sel skuamosa serviks (kanker servik) merupakan salah satu tumor...

download PENGGUNAAN AgNOR SEBAGAI MARKER   sel skuamosa serviks (kanker servik) merupakan salah satu tumor ganas yang ... karsinoma lidah, rongga mulut dan kolon [5] ...

of 10

  • date post

    05-Mar-2018
  • Category

    Documents

  • view

    216
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of PENGGUNAAN AgNOR SEBAGAI MARKER sel skuamosa serviks (kanker servik) merupakan salah satu tumor...

  • PENGGUNAAN AgNOR SEBAGAI MARKER PROLIFERASI DALAM PENILAIAN RESPON AWAL RADIASI PADA KEMORADIOTERAPI KANKER SERVIKS

    Iin Kurnia*, Budiningsih S**,Andrijono***, Irwan Ramli****, Cholid Badri****

    *Bidang Biomedika PTKMR Batan-Jakarta**Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM-Jakarta

    ***Departemen Obstetrik Ginekologi/FKUI/RSCM-Jakarta****Departemen Radioterapi FKUI/RSCM-Jakarta

    ABSTRAK

    PENGGUNAAN AgNOR SEBAGAI MARKER PROLIFERASI DALAM PENILAIAN RESPON AWAL RADIASI PADA KEMORADIOTERAPI KANKER SERVIKS. Radiosensitivitas sel terhadap radiasi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan tingkat responsive sel kanker terhadap radioterapi. Empat puluh enam sedian mikroskopik dari dua puluh tiga biopsi jaringan karsinoma serviks sel skuamosa sebelum dan setelah 1 minggu radiasi telah diwarnai dengan pewarnaan AgNOR. Sebelum kemoradioterapi sediaan mikroskopik dikelompokkan atas 3 kelompok derajat diferensiasi G1(baik), G2(menegengah) dan G3 (buruk). Tidak ada perbedaan scara statistik nilai AgNOR pada 3 derajat diferensiasi and nilai AgNOR derajat diferensiasi menengah5,19 0,91 cenderung lebih tinggi dari derajat diferensiasi baik (antara nilai ni No statistical different of AgNOR value between three level grade differentiation, and G2,medium 5,19 0,91 cenderung lebih tinggi dari derajat diferenisiasi baik 4,77 1,04 , dan tidak ada perbedaan secara statistik antara histologik sub tipe keratin 4,68 0,71, and non keratin 5,17 1,17. Setelah 1 minggu radiasi nilai AgNOR berkurang dan ditemukan korelasi positif antara agNOR sebelum kemoradioterapi dan setelah 1 minggu radiasi (p=0,0038 ) dan dengan penuruan nilaiAgNOR setelah 1 minggu radiasi ((p=0,0002). Dapat disimpulkan bahwa makin tinggi nilai AgNOR makin responsive sel kanker serviks terhadap radiasi dan sebaliknya. Walapun sampel penelitian ini masih sedikit kami menduga bahwa AgNOR dapat digunakan sebagai salah satu marker proliferasi dalam memperkirakan respon radiasi pada karsinoma serviks epitel skuamosa yang ditangani dengan kemoradioterapi dan dibuituhkan penelitian lebih lanjut untuk mengatahui hubungan antara AgNOR dengan faktor lainnya pada proliferasi sel kanker.Kata Kunci : AgNOR, karsinoma serviks sel skuamosa, kemoradioterapi

    THE USING OF AgNOR AS A PROLIFERATION MARKER TO ASSES OF EARLY RADIATION RESPONSE ON CERVICAL CARCINOMA TREATED BY CHEMORADIOTHERAPY . Cellular radiosensitivity is one of important factor to determine of level of cancer cell rasponsive to radiotherapy. Forty six microscopic specimen from twenty three biopsy of cervical squamosa carcinoma before and after one week irradiation have staining with AgNOR. Before treatment histological figure of were grouped with three level of grade differentiation G1 ( good), G2 (medium) and G3(bad) and keratinized (K) and non keratinized (NK). No statistical different of AgNOR value between three level grade differentiation, and G2,medium 5,19 0,91tend higher than G14,77 1,04, and also no statistical different between sub histological grouped keratinized 4,68 0,71, and non keratinized 5,17 1,17. After one week radiation the AgNOR value decrease and we find positive correlation between the AgNOR before treatmeant and after one week radiation (p = 0,0038), dan also positive correlation betwen AgNOR before treatment and level of AgNOR decrement after one week radiation (p=0,0002). From the result we can make conclusion that higher of AgNOR value is more responsive to radiation after one week radiation and reversely and even though the small sample of that include in this study we suggest AgNOR can be used as one of proliferation marker topredict radiation response in cervicalcarcinoma treated by chemoradiotherapy and needed more study to know the relation between AgNOR and another factor in cell cancer proliferation. Key Word : AgNOR, karsinoma sel skuamosa serviks, kemoradioterapi

    I. PENDAHULUAN

    1

  • Karsinoma sel skuamosa serviks (kanker servik) merupakan salah satu tumor ganas yang

    sering ditemukan di negara berkembang dengan tingkat sosiokonomi rendah. Penderita biasanya

    datang dalam stadium lanjut sehingga diperlukan pengobatan radioterapi menggunakan radiasi

    eksterna atau intrakaviter [1].

    Radiosensitifitas sel merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan tingkat

    responsife sel kanker terhadap radioterapi. Pada dasarnya radiosensitifitas sel merupakan suatu

    konsep yang berdasarkan atas derajat respon sel terhadap radiasi. Radiosensitifitas sel dapat

    dibedakan atas 2 jenis yakni, radiosensitifitas essensial dan radiosensitifitas kondisionil.

    Radiosensitifitas essensial berdasarkan kepada kondisi inherent yakni kondisi yang dipengaruhi oleh

    faktor internal sel itu sendiri, sedangkan radisensitifitas kondisional didasarkan pada faktor eksternal

    misalnya dosis radiasi, status oksigen [2].

    Dari penelitian secara klinis ditemukan adanya variasi yang luas dalam radiosensitifitas

    tumor, baik pada tipe histologik yang sama apalagi pada sub tipe histologik berbeda. Tumor dengan

    prosentase sel yang berproliferasi tinggi, merupakan tumor yang paling radiosensitif [3].

    AgNOR merupakan salah satu cara penilaian proliferasi dengan menghitung nucleolar

    organizer region (NOR) yang merupakan lengkung DNA ribosom yang ditranskripsikan menjadi

    RNA ribosomal dengan bantuan RNA polymerase. NOR terletak pada lengan pendek kromosom

    akrosentrik (nomor 13,14,15,21 dan 22) pada manusia dan terlihat secara ultrastruktural berasosiasi

    dengan komponen fibril pada fase interfase. NOR mengandung gen yang membentuk ribosomal 18s

    dan 28s RNA, yang sangat vital untuk sintesis protein [3,4].

    Baru-baru ini telah dilaporkan bahwa kuantitas dan distribusi AgNOR dapat mencerminkan

    indeks prognosis yang baik untuk karsinoma usus besar, kanker payudara, dan kanker kandung kemih

    dan kemungkinan merefleksikan derajat keganasan dan proliferasi pada karsinoma sel squamosa pada

    karsinoma lidah, rongga mulut dan kolon [5]. Dari penelitian kami sebelumnya dijumpai adanya

    kecendrungan sub histologik berkeratin menunjukkan rerata AgNOR yang lebih tinggi dibanding

    yang tak berkeratin. Aktivitas metabolisme sel berupa sintesis protein diduga berkaitan dengan

    munculnya fase-fase pembelahan sel yang lebih sensitif terhadap radioterapi. Dari hasil penelitian ini

    kami mengusulkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui fungsi AgNOR, dan respon radioterapi

    tumor baik melalui respon sementara atau setelah radioterapi untuk lebih memahami fungsi AgNOR

    sebagai petanda proliferasi ataupun sebagai penanda aktivitas metabolisme sel.[6].

    Dari penelitian Kurnia [7] karsinoma sel skuamosa serviks dengan nilai rerata AgNOR yang

    lebih tinggi pra radioterapi akan lebih radiosensitif sel kankernya dibandingkan dengan nilai rerata

    AgNOR yang lebih rendah paska radiasi komplet dengan mengelompokan derajat respon radiasinya

    secara histopatologik menurut metoda Shimosato-Obushi. Penelitian yang dilakukan oleh Heber dkk

    [8] menunjukkan selisih rerata AgNOR antara praradioterapi dan setelah fraksi pertama radioterapi

    yang menunjukkan korelasi positif dengan kekambuhan kanker dalam satu tahun setelah radioterapi.

    2

  • Sejauh ini belum ada publikasi yang menyatakan hubungan antara nilai rerata AgNOR , sub

    tipe histologik dan derajat diferensiasi sel kanker serviks sebelum radioterapi dengan respon awal

    radiasi yang diamati dengan nilai AgNOR pada pasien kanker serviks di Indonesia

    Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara nilai AgNOR sebagai biomarker

    sensitifitas sel tumor terhadap radiasi sebelum menjalani kemoradioterapi dengan, sub tipe histologik

    (keratin dan non keratin) dan derajat diferensiasi sel pada penderita karsinoma sel squamosa serviks

    dengan respon radiasi awal (setelah 1 minggu radiasi) yang diamati dengan nilai AgNOR

    Diharapkan dari penelitian ini dapat ditemukan hubungan rerata nilai AgNOR dengan sub

    tipe histologi keratin dan non keratin serta derajat diferensiasi kanker squamosa serviks di Indonesia

    sebelum menerima kemoradioterapi dengan nilai AgNOR setelah menerima radiasi selama 1 minggu

    II. TATA KERJA

    Sediaan mikroskopik yang digunakan pada penelitian ini berasal dari 23 sampel biopsi

    penderita karsinoma sel squamosa serviks (KSS) stadium lanjut lokal yang datang ke RSCM tahun

    2005-2006 yang secara klinis terdiri dari stadium klinik IIB (sel tumor menyebar sampai

    parametrium) dan IIIB (sel tumor telah mencapai dinding panggul/hidroneprosis atau gangguan fungsi

    ginjal) sebelum dan setelah radiasi 1 minggu [9]. Gambaran histologiknya selanjutnya

    dikelompokkan menurut sub tipe histologiknya (berkeratin dan non keratin) dan diferensiasi

    dikelompokkan berdasarkan derajat diferensiasi baik (G1) bila ditemukan sel anaplastik sekitar

    0-25%, sedang (G2) bila ditemukan sel anaplastik 25-50% dan buruk (G3) bila ditemukan sel

    anaplastik 50-70% [10].

    II.1 Pewarnaan AgNOR

    Sampel biopsi diproses menjadi blok paraffin yang dipotong menjadi sediaan mikroskopik

    dengan ketebalan 4 m. Sediaan diletakkan pada objek glass untuk dideparafinisasi dengan xilol

    sebanyak 2x. Dilakukan rehidrasi dengan alkohol 100 %, 90 %, 80 % dan terakhir dengan air.

    Selanjutnya sediaan dideionisasi, masing-masing selama 5 menit, kemudian diwarnai dengan

    pewarnaan AgNOR dengan