PENGARUH TOTALITAS KERJA, SYUKUR DAN DUKUNGAN...

of 101 /101
PENGARUH TOTALITAS KERJA, SYUKUR DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP SUBJECTIVE WELL- BEING PENGUSAHA PEREMPUAN SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi) Oleh : Kresna Widyasti NIM : 11140700000006 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1439 H/ 2018 M

Embed Size (px)

Transcript of PENGARUH TOTALITAS KERJA, SYUKUR DAN DUKUNGAN...

  • PENGARUH TOTALITAS KERJA, SYUKUR DAN

    DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP SUBJECTIVE WELL-

    BEING PENGUSAHA PEREMPUAN

    SKRIPSI

    Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

    Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

    Oleh :

    Kresna Widyasti

    NIM : 11140700000006

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1439 H/ 2018 M

  • MOTTO HIDUP

    Aku ingin menjadi akar yang kuat untuk sebuah pohon yang hebat nan

    tangguh

    (Kresna Widyasti Santoso)

    Laatahzan Innallaha Ma Ana

    “Jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita”

    PERSEMBAHAN

    Karya ini sebagai sebuah bukti kasih, cinta dan sayang kepada

    keluarga serta orang-orang yang telah mendukung saya hingga hari ini

    dengan penuh kepercayaan dan kebanggaan. Terkhusus untuk Ayah

    Yusup Budi Santoso dan Ibu Mulyati Santoso

    YAKUSA

    Yakinkan dengan Doa

    Usahakan dengan kerja dan

    Sampaikan dengan ilmu

  • ABSTRAK

    (A) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

    (B) Juli 2018

    (C) Kresna Widyasti

    (D) xiv + 84 Halaman + lampiran

    (E) Pengaruh Totalitas Kerja, Syukur dan Dukungan Sosial Terhadap

    Subjective well-being Pengusaha Perempuan.

    (F) Subjective well-being pengusaha perempuan merupakan topik yang hangat

    dalam kehidupan organisasi dan telah menjadi fokus dan penelitian

    masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh totalitas

    kerja, syukur dan dukungan sosial terhadap subjective well-being pengusaha

    perempuan.

    Penelitian ini menggunakan sampel 200 responden dari empat

    lembaga kewirausahaan di Provinsi Jambi yang meliputi, HIPMI), APPSI,

    WE GENPRO dan Jambi Berdaya. Uji validitas masing-masing item

    dilakukan dengan metode CFA (Confirmatory Factor Analysis)

    menggunakan software LISREL versi 8.70. Kemudian untuk melihat

    pengaruh variabel-variabel Independen terhadap Subjective well-being,

    peneliti menggunakan analisis regresi berganda (multiple regression

    analysis) dari SPSS versi 14.

    Berdasarkan dari hasil analisis data yang dilakukan, terdapat

    pengaruh totalitas kerja, syukur dan dukungan sosial terhadap subjective

    well-being pengusaha perempuan di Provinsi Jambi. Selanjutnya, pada

    penelitian ini hanya terdapat empat variabel independen yang memberikan

    pengaruh signifikan terhadap subjective well-being, yaitu vigor, dedikasi,

    sense of abundance dan dukungan sosial. Dengan demikian, dapat dikatakan

    bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari vigor, dedikasi, sense of

    abundance dan dukungan sosial terhadap subjective well-being sebesar

    35.6%.

    (G) Daftar Bacaan: 30 jurnal + 2 buku + 2 artikel

  • ABSTRACT

    (A) Faculty of Psychology State Islamic Syarif Hidayatullah Jakarta

    (B) July 2018

    (C) Kresna Widyasti

    (D) xv + 95 Pages + appendix

    (E) Effect subjective well-being toward work engagement, gratitude and social

    support on woman entrepreneurs.

    (F) Subjective well-being effect on woman entrepreneurs it is hot topic in

    organizational socials life and has become to focus in social research. This

    study has a purpose to know effect subjective well-being toward work

    engagement, gratitude and social support on woman entrepreneurs.

    This study has been samples 200 respondents from four entrepreneur’s

    organization in Jambi province, HIPMI, APPSI, WE GENPRO and the last

    Jambi Berdaya. Validity constuct using confirmatory factor analysis,

    softwere from Lisrel Version 8.70. and than for showed of independent

    variable a significant influances for Subjective well-being researcher using

    multiple regression analysis from softwere SPSS version 14.

    The result showed a significant influences of work engagement, gratitude

    and social support to subjective well-being woman entrepreneurs in Jambi

    Province. This study just four independent variabels significant provides to

    subjective well-being that is vigour, dedication, sense of abundace and

    social support. from independent variables gives influence value 35.6% .

    (G) References: 30 Journals+ 2 handbooks + 2 articles.

  • KATA PENGANTAR

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Alhamdulillah, rasa syukur yang luar biasa penulis haturkan kehadirat Allah SWT

    yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya di setiap saat, sehingga penulis

    dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh totalitas kerja, syukur dan

    dukungan sosial terhadap subjective well-being pengusaha perempuan di provinsi

    Jambi”. Shalawat beserta salam tidak lupa kita haturkan pula kepada junjungan kita

    Nabi Muhammad SAW yang berkat segala perjuangannya sehingga kita dapat

    merasakan indahnya hidup di bawah naungan Islam Rahmatan lil alamin.

    Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak dapat terlepas dari

    bantuan berbegai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah penulis untuk

    mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:

    1. Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Abd.

    Mujib, M.Si.. Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Abdul Rahman Shaleh M.Si,

    Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dra. Diana Mutiah, M.Si dan Wakil

    Dekan Bidang Administrasi Umum Ikhwan Luthfi, M.Si yang telah memberikan

    kesempatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian ini.

    2. Dosen pembimbing skripsi Ibu Ilmi Amalia, M.Psi dan ibu Liany Luzvinda,

    M.Si. Penulis sangat berterima kasih dan sangat beruntung dibimbing oleh

    keduanya. Bimbingan beliau telah membuka wawasan serta menambah

    pengetahuan penulis mengenai banyak hal. Bekerja keras dan jujur dalam

    bekerja merupakan semangat yang beliau berikan untuk penulis. Terima kasih

  • atas segala arahan, masukan dan saran serta koreksi dalam pengerjaan skripsi

    ini.

    3. Dosen Pembimbing Akademik bapak Ikhwan Luthfi, M.Si yang selalu

    memberikan feedback terhadap prestasi saya selama di UIN Syarif Hidayatullah

    Jakarta serta dosen pembimbing akademik yang tidak pernah absen dalam mem-

    followup perkembangan perolehan IPK saya per smester di AIS.

    4. Dosen Pamong Kuliah Kerja Lapangan Ibu Sitti Evangeline Imelda Suaidy, M.Si

    yang telah mempermudah penulis untuk menyelesaikan KKL di BNN Lido,

    Bogor sehingga penulis dapat mengambil matakuliah seminar proposal skripsi

    dan penulisan skripsi.

    5. Orang tua penulis Ayah Yusup Budi Santoso dan Ibu Mulyati yang telah

    memberikan dukungan yang teramat besar kepada penulis, sehingga skripsi ini

    dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Serta ucapan terima kasih kepada adik

    kandung penulis Dewi Wulandari yang telah bersabar hingga hari ini untuk

    menyaksikan penulis mengenakan toga dan menyelesaikan pendidikan sarjana.

    6. Kakak perempuan sekaligus sahabat dekat penulis, Permata Saimona yang selalu

    mendukung penulis untuk terus berprestasi dan tentunya penyelesaian penulisan

    skripsi ini.

    7. Saudara angkat penulis, Abang Fazin Hisabi dan Mufidah Fariani yang

    senantiasa memupuk semangat penulis hingga terselesaikannya skripsi ini

    dengan tepat waktu.

  • 8. Untuk Om dan Tante penulis, om Hari, om Riyanto, om Katno dan Tante Wati,

    tante Yani, tante Rini dan tante Katini yang senantiasa mendokan penulis untuk

    segera menyelesaikan pendidikan.

    9. Untuk Abi Ismiyanto dan Umi Erni yang senantiasa sejak penulis kecil, beliau

    selalu mengarahkan penulis untuk meraih Ridho Allah SWT, terutama pada

    urusan pendidikan dan agama.

    10. Sahabat satu kamar penulis, Karimah Adidah, S.Far, Apt., Khoirunisa, S,Far.,

    Azizah Cesa Melia., S.Sos yang setiap tahunnya selalu memberikan warna yang

    berbeda untuk kehidupan pribadi penulis.

    11. Adik-adik dan sahabat sahabat dari Al-Munnah Squad, Fefy, Hafni, Kak Icha

    Martha, Kak Isil, Kal Ela, Sarah, Rahma, Acim, Aden, Kak Nusa, Kak Hanna,

    Kak Dian Meutiah, dan Salma yang senantiasa selalu memberikan semangat

    dan doa kepada penulis untuk kesuksesan penulis.

    12. Kepada abang penulis Muksin, yang tiada henti hentinya menasehati penulis

    agar terselesaikannya sekripsi ini dengan tepat waktu.

    13. Kepada tiga sahabat karib penulis Anna Mariana, Fathiana Arshuha dan Sri

    Suryani Kusumawati yang selalu mendoakan penulis serta memberikan suntikan

    semangat hingga terselesaikannya skripsi ini dengan tepat waktu.

    14. Kepada keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) terkhususnya HMI

    Komisariat Psikologi dan KOHATI Cabang Ciputat periode 2018-2019, yang

    karena LK 1, LKK dan LK 2 penulis bisa lebih dewasa dalam mengatur waktu

    antara akademik dan organisasi sehingga penulis mampu menyelesaikan

    pendidikan S1 dengan tepat waktu dan prestasi di HMI.

  • 15. Kepada asisten penelitian, Mas Nur Fajri, Raihan Siregar, Mutoharoh dan Nurul

    Hidayah yang berkat atas bantuan mereka penulis hanya memerlukan waktu 40

    hari dalam penyelesaian bab 3 dan 4.

    16. Kepada rekan-rekan mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2014, terima kasih

    tidak terasa 4 tahun kita sudah bersama dalam menjalani suka duka kehidupan

    kampus.

    17. Dengan cinta dan kasih sayang tim penelitian payung 2018 yang diketuai oleh

    bapak Dr.Abdul Rahman Shaleh, M.Si dan kawan-kawan seperjuanganku

    Akhlis, Umi, Ellisa, Hany, Dwika, Hadi, Dilah dan Arin. Terima kasih sudah

    bersama dan menemani dalam penyelesaian penelitian ini.

    18.Terkhusus untuk Abangda Zainudin (Azmi Fathoni Arja, S.H) yang atas

    kesabaran cinta kasih sayangnya, mampu mengantarkan penulis untuk

    menyelesaikan studi dengan tepat waktu.

    Semoga Allah memberikan pahala yang tak henti sebagai balasan atas segala

    kebaikan dan bantuan yang diberikan. Harapan penulis, semoga skripsi ini memberi

    manfaat, khususnya bagi penulis sendiri, para pembaca dan seluruh pihak yang

    terkait.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Jakarta, Juli 2018

    Penulis

  • DAFTAR ISI

    LEMBAR PENGESAHAN --------------------------------------------------------- ii

    HALAMAN PERSETUJUAN ----------------------------------------------------- iii

    LEMBAR ORISINALITAS -------------------------------------------------------- iv

    MOTO DAN PERSEMBAHAN --------------------------------------------------- v

    ABSTRAK ---------------------------------------------------------------------------- vi

    KATA PENGANTAR --------------------------------------------------------------- vii

    DAFTAR ISI -------------------------------------------------------------------------- ix

    DAFTAR TABEL ------------------------------------------------------------------- xiii

    DAFTAR GAMBAR ---------------------------------------------------------------- xiv

    DAFTAR LAMPIRAN ------------------------------------------------------------- xv

    BAB 1 PENDAHULUAN -------------------------------------------------------- 1-12

    1.1 Latar Belakang Masalah ------------------------------------------------------ 1

    1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah --------------------------------------- 10

    1.2.1 Pembatasan Masalah ------------------------------------------------------ 10

    1.2.2 Perumusan Masalah ------------------------------------------------------- 11

    1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ---------------------------------------------- 11

    1.3.1 Tujuan Penelitian ---------------------------------------------------------- 11

    1.3.2 Manfaat Penelitian -------------------------------------------------------- 11

    1.3.2.1 Manfaat Teoritis ---------------------------------------------------- 11

    1.3.2.2 Manfaat Praktis ----------------------------------------------------- 12

    BAB 2 LANDASAN TEORI ------------------------------------------------------- 15-36

    2.1 Subjective well-being ---------------------------------------------------------- 15

    2.1.1 Pengertian Subjective well-being -------------------------------------- 15

    2.1.2 Komponen Subjective well-being -------------------------------------- 15

    2.1.2.1 Afek Positif dan Negatif -------------------------------------------- 16

    2.1.2.1 Life Satisfaction ----------------------------------------------------- 18

    2.1.3 Pengukuran SWB -------------------------------------------------------- 19

    2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi SWB ----------------------------- 20

    2.2 Totalitas Kerja ------------------------------------------------------------------ 21

    2.2.1 Pengertian Totalitas Kerja ---------------------------------------------- 21

    2.2.2 Aspek Dalam Totalitas Kerja ------------------------------------------ 22

    2.2.4 Pengukuran Totalitas Kerja --------------------------------------------- 23

    2.3 Syukur --------------------------------------------------------------------------- 24

    2.3.1 Definisi Syukur ----------------------------------------------------------- 24

    2.3.2 Aspek-aspek Syukur ----------------------------------------------------- 25

    2.3.3 Pengukuran Syukur ------------------------------------------------------ 27

    2.4 Dukungan Sosial --------------------------------------------------------------- 28

    2.4.1 Definisi Dukungan Sosial ----------------------------------------------- 28

    2.4.2 Dimensi Dukungan Sosial ---------------------------------------------- 29

    2.4.3 Pengukuran Dukungan Sosial ------------------------------------------ 32

    2.5 Kerangka Berfikir -------------------------------------------------------------- 32

    2.6 Hipotesis Penelitian ----------------------------------------------------------- 36

  • BAB 3 METODE PENELITIAN ------------------------------------------------- 37-64

    3.1 Populasi dan Sampel Penelitian --------------------------------------------- 37

    3.2 Variabel Penelitian ------------------------------------------------------------ 37

    3.3 Definisi Operasional Variabel ----------------------------------------------- 38

    3.4 Instrument Pengumpulan Data ----------------------------------------------- 40

    3.4.1 Instrument Penelitian ---------------------------------------------------- 41

    3.5 Uji Validitas Konstruk -------------------------------------------------------- 44

    3.5.1 Uji Validitas Konstruk SWB ------------------------------------------- 46

    3.5.2 Uji Validitas Konstruk Vigor ------------------------------------------- 49

    3.5.3 Uji Validitas Konstruk Dedikasi --------------------------------------- 51

    3.5.4 Uji Validitas Konstruk Absorbsi --------------------------------------- 52

    3.5.5 Uji Validitas Konstruk Sense of Abundance ------------------------- 54

    3.5.6 Uji Validitas Konstruk Simple Appreciation ------------------------- 55

    3.5.7 Uji Validitas Konstruk Appreciation for Others -------------------- 57

    3.5.8 Uji Validitas Konstruk Dukungan Sosial ----------------------------- 59

    3.6 Teknik Analisis Data ---------------------------------------------------------- 61

    BAB 4 HASIL PENELITIAN ------------------------------------------------------ 65-72

    4.1 Gambaran Subjek Penelitian ------------------------------------------------- 65

    4.2 Hasil Analisis Deskriptif ------------------------------------------------------ 66

    4.2.1 Kategori Skor Variabel -------------------------------------------------- 67

    4.3 Uji Hipotesis Penelitian ------------------------------------------------------- 69

    4.3.1 Analisis Regresi Variabel Penelitian ---------------------------------- 69

    4.3.2 Pengujian Proporsi Varian --------------------------------------------- 72

    BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN ------------------------------ 73-80

    5.1 Kesimpulan --------------------------------------------------------------------- 73

    5.2 Diskusi -------------------------------------------------------------------------- 73

    5.3 Saran ----------------------------------------------------------------------------- 78

    5.3.1 Saran Teoritis ------------------------------------------------------------- 78

    5.3.2 Saran Praktis -------------------------------------------------------------- 80

    DAFTAR PUSTAKA ---------------------------------------------------------------- 81-84

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1 Skor Pengukuran Skala ------------------------------------------------ 40

    Tabel 3.2 Blue Print Skala Flourishing Schale & PANAS ------------------- 41

    Tabel 3.3 Blue Print Skala Utrecht Work Engagement Scale ---------------- 42

    Tabel 3.4 Blue Print Skala Gratitude Resentment and Appreciation Test -- 43

    Tabel 3.5 Blue Print Skala Social Provisions Scale --------------------------- 44

    Tabel 3.6 Muatan Faktor Skala SWB -------------------------------------------- 48

    Tabel 3.7 Muatan Faktor Skala Vigor -------------------------------------------- 50

    Tabel 3.8 Muatan Faktor Skala Dedikasi ---------------------------------------- 51

    Tabel 3.9 Muatan Faktor Skala Absorbsi---------------------------------------- 53

    Tabel 3.10 Muatan Faktor Skala Sense of Abundance -------------------------- 55

    Tabel 3.11 Muatan Faktor Skala Simple Appreciation -------------------------- 57

    Tabel 3.12 Muatan Faktor Skala Appreciation for Others --------------------- 58

    Tabel 3.13 Muatan Faktor Skala Dukungan Sosial ------------------------------ 61

    Tabel 4.1 Subjek Penelitian ------------------------------------------------------- 65

    Tabel 4.2 Analisis Deskriptif ------------------------------------------------------ 66

    Tabel 4.3 Pedoman Interpretasi Skor -------------------------------------------- 68

    Tabel 4.4 Kategorisasi Skor Variabel -------------------------------------------- 68

    Tabel 4.5 R Square Model Summary --------------------------------------------- 69

    Tabel 4.6 ANOVA ------------------------------------------------------------------ 70

    Tabel 4.7 Koefisien Regresi ------------------------------------------------------- 71

    Tabel 4.8 Proporsi Varians -------------------------------------------------------- 73

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berfikir ------------------------------------------- 33

    Gambar 3.1 Analisis Faktor Konfirmatorik SWB ------------------------------ 47

    Gambar 3.2 Analisis Faktor Konfirmatorik Vigor ----------------------------- 49

    Gambar 3.3 Analisis Faktor Konfirmatorik Dedikasi ------------------------- 51

    Gambar 3.4 Analisis Faktor Konfirmatorik Absorbsi ------------------------- 53

    Gambar 3.5 Analisis Faktor Konfirmatorik Sense of Abundance ------------ 54

    Gambar 3.6 Analisis Faktor Konfirmatorik Appreciation with Simple ----- 56

    Gambar 3.7 Analisis Faktor Konfirmatorik Appreciation for Others ------- 58

    Gambar 3.8 Analisis Faktor Konfirmatorik Dukungan Sosial --------------- 60

  • DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 : Output SPSS ------------------------------------------------------------ 84

    Lampiran 2 : Angket Penelitian ------------------------------------------------------ 95

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Menurut Rajasa (2012) salah satu mesin penggerak perekonomian suatu negara

    ialah pada sektor kewirausahaan, untuk menjadi sebuah negara maju dibutuhkan

    paling tidak 4% dari seluruh masyarakat yang bergerak dibidang wirausaha.

    Laporan dari badan pusat statistik per Februari, Puspayoga (2017) saat ini jumlah

    pengusaha di Indonesia mengalami peningkatan dari sebelumnya yang hanya

    sebesar 1,67 % menjadi 3,10% dari total jumlah penduduk Indonesia yang saat ini

    mencapai 225 juta jiwa. Dari fenomena ini dapat dilihat bahwa adanya kenaikan

    minat masyarakat terhadap dunia kewirausahaan.

    Kewirausahaan merupakan pilihan profesi yang penting. Dalam waktu yang

    bersamaan kewirausahaan dapat mengubah sistem politik serta lingkungan, sosio-

    ekonomi dengan menghasilkannya lapangan pekerjaan untuk masyarakat,

    kemudian dalam bidang yang lebih kecil kewirausahaan berkontribusi dalam

    menciptakan, inovasi dan pertumbuhan ekonomi global (Gelderen, Brand & Praag

    et al,. 2008).

    Kewirausahaan merupakan pilihan profesi yang memiliki banyak benefit

    misalnya saja autonomy dan greater flexibility (Sorensson & Dalborg, 2017). Dua

    hal tersebut merupakan alasan kebayakan orang untuk memilih profesi sebagai

  • pengusaha. Dengan autonomy pengusaha dapat bebas berinovasi, selain itu

    pengusaha dituntut untuk selalu feksibel dalam segala hal.

    Kewirausahaan menjadi pilihan karir yang banyak diminati oleh kaum

    perempuan (Sorensson & Dalborg, 2017). Data menyebutkan bahwa pengusaha

    perempuan menyumbang sepertiga dari semua bisnis yang beroperasi dalam

    ekonomi formal di seluruh dunia. Sebuah fenomena menarik terjadi di Indonesia

    bahwasanya sepertiga dari jumlah UMKM di Indonesia, merupakan usaha yang

    dimiliki oleh pengusaha perempuan. Hal ini berarti, pengusaha perempuan

    memiliki kapasitas yang cukup besar secara jumlah.

    Selain memiliki jumlah yang besar pengusaha perempuan juga memiliki

    angka kepuasan hidup yang tinggi (Jyoti, Sharma dan Kumari, 2011). Kepuasan

    hidup ialah dimensi untuk mengukur subjectivr well-being. Dimana subjective well-

    being bukan hanya sekedar perasaan senang, melainkan perasaan yang lebih dari

    senang serta meliputi perasaan yang puas terhadap kehidupannya. Well-being yang

    tinggi dapat mengembangkan individu untuk lebih merasakan kepuasan dan mampu

    membuat kontribusi positif untuk komunitas atau lingkungan (Sorensson &

    Dalborg, 2017).

    Dalam realitanya, walaupun pengusaha perempuan memiliki angka

    kepuasan hidup yang tinggi, hal ini tidak berarti bahwa pengusaha perempuan tidak

    mendapatkan kendala apapun. Pengusaha perempuan memiliki tuntutan kerja yang

    tinggi dengan beban ganda yang mereka miliki, dan tidak semua menikmati

    profesinya sebagai pengusaha perempuan. Ditemukan dalam studi pendahuluan,

    behwa ada yang sangat menikmati profesi sebagai pengusaha perempuan namun

  • disisi lain ia juga merasakan ketegangan dan tingkat stress yang tinggi akibat beban

    ganda yang ia miliki sebagai pengusaha perempuan dan sekaligus ibu rumah

    tangga.

    Sebelumnya peneliti melakukan uji pendahuluan mengenai fenomena

    pengusaha perempuan dengan menggunakan metode wawancara kepada salah satu

    pengusaha perempuan yang memiliki usaha dibidang kulinery selama lebih kurang

    14 tahun di provinsi Jambi MY (41 th). Dalam studi pendahuluan ini peneliti

    menemukan bahwa tingkat stress yang tinggi cenderung sering dialaminya ketika

    ia mendapatkan orderan ketring dalam jumlah yang besar. MY mengaku ia

    memiliki kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakatnya dibidang kuliner

    serta ia pun merasakan kebahagiaan (happiness) ketika ia bisa mengatur usahanya

    sediri dengan mandiri sebagai pemilik sekaligus pemimpin usaha tersebut. MY

    menjelaskan pula bahwasanya ia merasa sangat puas dengan kehidupannya saat ini,

    dikarenakan secara pendapatan rumahtangga atau income yang ia peroleh

    cenderung stabil, karena melalui dua sumber pemasukan yang aktif. Pertama nafkah

    dari suami sebagai kepala rumah tangga dan yang kedua penghasilan yang MY

    peroleh dari hasil menjalankan usahanya sendiri.

    Kemudian peneliti menilai bahwa seorang pengusaha perempuan

    kemungkinan memiliki tingkat subjective well-being yang rendah. Hal ini bisa

    dikarenakan oleh beban ganda yang dimiliki oleh kaum perempuan, seperti

    mengatur urusan domestik rumah tangga, dapur, sumur dan kasur. Hal tersebut

    tidak bisa terelakan lagi dalam keseharian dikarenakan budaya yang dianut

    kebanyakan warga Indonesia adalah budaya timur dalam hal ini budaya patriarki

  • yang paling ditonjolkan. Disisi lain perempuan yang bekerja di kalangan publik

    harus bersikap profesional karena tuntutan kesetaraan gender. Artinya dalam hal ini

    perempuan dihadapkan dengan dua tugas dalam dirinya, yakni tugas diranah

    domestik sebagai ibu rumah tangga dan tugas sebagai warga sipil yang harus

    bekerja dengan profesional dengan menjujung tinggi azas kesetaraan gender di

    tempat ia bekerja. Dari fenomena ini peneliti menilai bahwa tingginya tuntutan

    kerja baik dalam ranah dometik maupun ranah publik, perempuan tentu memiliki

    kebutuhan akan kesejahteraan yang tinggi, namun apakah bisa pengusaha

    perempuan memiliki subjective well-being yang tinggi?, disamping itu pengusaha

    perempuan memiliki beban ganda yang berat?

    Dalam penelitian ini terdapat fenomena yang menarik di tempat saya lahir,

    yakni provinsi Jambi banyak sekali perempuan yang berprofesi sebagai pengusaha

    baik dalam bidang industri maupun jasa. Namun rata-rata kebanyakan dari mereka

    berstatus ibu rumah tangga. Menariknya mereka berwirausaha dalam rangka

    membantu perekonomian kelurga, artinya mereka bekerja sebagai pengusaha

    dikarenakan dorongan ekonomi. Wajar saja angka perceraian rumah tangga di

    provinsi Jambi masih cenderung tinggi. Sebagain besar warga provinsi Jambi

    merupakan warga pendatang kemudian menetap dalam jangka waktu yang lama.

    Sehingga perkembangan industri di provinsi Jambi cenderung melambat. Proses

    jual beli merupakan kegiatan sehari hari warga provinsi Jambi yang cenderung

    konsumtif. Misalnya saja untuk cabai merah provinsi Jambi masih mengambil

    bahan baku dari Sumatera Barat. Dari hal ini bisa disimpulkan bahwa harga bahan

    pokok di provinsi Jambi misalnya saja cabai merah harganya sudah cukup tinggi.

  • Ini lah salah satu alasan kenapa perempuan di provinsi Jambi ikut terjun di dalam

    wirausaha, yakni karena tingginya biaya hidup yang harus ditanggung dalam

    sebuah keluarga.

    Salah satu konsep dari kesehatan mental ialah well- being dimana well-

    being merupakan istilah umum untuk menggambarkan kondisi individu atau

    kelompok, misalnya kondisi sosial psikologis, rohani, atau medis. Well-being yang

    tinggi menandakan bahwa individu atau kelompok tersebut memiliki pengalaman

    yang positif. Sementara well-being yang rendah dikaitkan dengan keadaan atau

    kondisi yang negatif. Jauh dari itu Diener, Lucas, dan Oishi (2005) mendefinisikan

    subjective well-being sebagai konsep yang meliputi emosi, pengalaman

    menyenangkan, rendahnya tingkat mood negatif, dan kepuasan hidup yang tinggi.

    Subjective well-being terdiri dari tiga aspek pengembangan yaitu aspek positif, dan

    afek negatif serta kepuasan hidup. Afek positif dan afek negatif merupakan bagian

    dari aspek aktif sedangkan kepuasan hidup merupakan aspek yang

    merepresentasikan aspek kognitif individu. Individu dengan subjective well-being

    yang tinggi menilai hidupnya secara positif dan merasakan kegembiraan dan

    kebahagiaan. Subjective well-being yang rendah adalah individu yang sedikit sekali

    merasakan kesenangan serta lebih sering merasakan emosi yang negatif, seperti

    kemarahan dan rasa cemas. Out come yang akan diperoleh ketika memiliki

    subjective well being yang tinggi antara lain, ia mampu merasakan kepuasan dalam

    hidup serta mampu berkontribusi dengan lingkungannya, namun sebaliknya jika ia

    memiliki well-being yang rendah ia akan cenderung merasakan tingkat stress yang

    tinggi, serta kepuasan hidup yang rendah. Contoh kasus ketika seseorang

  • merasakan bahwa apa yang ia kerjakan adalah passion maka ia akan semakin ahli

    dalam bidangnya, maka akan berlaku sebaliknya jika seseorang ahli dalam sebuah

    bidang yang ia kuasai maka ia akan semakin menemukan passion-nya. Dimana

    proses dalam menemukan sebuah passion kita harus lebih banyak menjumpai afek

    positif atau pengalaman-pengalaman positif sehingga kita menemukan sebuah

    kepuasan dalam hidup atas pencapaian yang sudah kita miliki.

    Terdapat penelitian tentang subjective well-being misalnya oleh Diener

    (1984) dalam laporan penelitian tentang sebagian besar orang bahagia dengan

    kehidupannya. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa sebagian besar orang

    merasa puas dengan pernikahannya, pekerjaanya dan waktu luang yang dimiliki.

    Dari hasil penelitian di atas dapat dilihat bahwa kepuasan hidup adalah salah satu

    faktor penting yang mempengaruhi subjective well-being. Well-being yang tinggi

    dapat mengembangkan individu untuk lebih merasakan kepuasan dan mampu

    membuat kontribusi positif untuk komunitas atau lingkungan (Sorensson &

    Dalborg, 2017). Sedangkan well-being yang rendah berhubungan dengan tingginya

    tingkat stress, depresi serta kecemasan. Dimana tiga hal tersebut merupakan bagian

    atau out come dari afek negatif (Diener & Chan, 2011).

    Berdasarkan penjabaran mengenai subjective well-being diatas, maka

    peneliti menemukan beberapa variabel yang diprediksi mempengaruhi subjective

    well-being. Independent variabel pertama yang akan menjadi fokus penelitian kali

    ini adalah totalitas kerja yang terdiri dari tiga variabel yakni vigor, dedikasi dan

    absorbsi (Shaleh, 2016). Independent variabel kedua yang diprediksi peneliti

    memiliki pengaruh terhadap subjective well-being ialah variabel syukur dimana

  • terdapat tiga dimensi pada variabel syukur yakni, sense of abudance, appreciation

    with others dan simple appreciation (Watkins, Woodward, Stone & Kolts, 2003).

    Independent variabel ketiga yang diprediksi akan mempengaruhi subjective well-

    being ialah dukungan sosial. Dalam teori Cutrona, Russell dan Rose (1986)

    dukungan sosial terbagi menjadi 6 dimensi, meliputi attachment, social integration,

    reassurance of worth, reliable alliance, guidance, opportunity for nurturance.

    Selanjutnya masing masing dari tiga variabel ini yang meliputi totalitas kerja,

    syukur dan dukungan sosial akan dijelaskan berdasarkan fenomena yang peneliti

    temukan dari hasil literature riview sebelumnya untuk memperkuat fenomena yang

    akan diteliti.

    Banyak faktor yang menjadi penentu munculnya subjective well-being

    dalam bekerja. Bakker & Oerlemans (2010) menjelaskan bahwa terdapat hubungan

    yang positif antara totalitas kerja dengan subjective well-being. Perilaku organisasi

    positif (POB) merupakan pendekatan perilaku organisasi yang sebagaian besarnya

    berlandaskan kondisi psikologis positif. Pendekatan psikologi positif dalam

    organisasi juga menempatkan totalitas kerja sebagai salah satu prespektifnya.

    Istilah totalitas kerja didefinisikan sebagai kondisi yang penuh gairah dalam bekerja

    yang dicirikan oleh semangat, dedikasi dan keterlarutan (Shaleh, 2016).

    Totalitas kerja didefinisikan sebagai satu hal yang positif, yang berkaitan

    dengan keadaan atau pikiran serta ditandai dengan semangat, dedikasi dan absorbsi

    (Schaufeli & Salanova, 2006). Vigor mengacu pada tingkat energi dan ketahanan

    mental yang tinggi dalam suatu pekerjaan serta bersedia berupaya dan tekun.

    Dedikasi mengacu pada antusiasme, inspirasi, merasa dipentingkan, kebanggaan

  • dan tantangan. Absorbsi dalam kegiatan kerja mengacu pada konsentrasi penuh

    dalam pekerjaan serta susah dalam melepaskan diri dalam pekerjaan (Schaufeli &

    Salanova, 2006).

    Totalitas kerja merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan subjective

    well-being untuk pekerja dan pelaku kerja dengan beberapa alasan. Salah satunya

    ialah totalitas kerja merupakan pengalaman positif pada diri individu selain itu

    totalitas kerja berkaitan dengan kesehatan yang baik dan afeksi yang positif (Bakker

    & Oerlemans, 2010). Oleh karena itu maka penting untuk melakukan pengukuran

    terhadap totalitas kerja karena pada dasarnya istilah ini diletakkan pada kondisi

    yang bergairah, dalam mencapai tujuan organisasi, mencakup keterlibatan,

    kommitment dan passion, antusiasme dan ketekunan kerja dan penuh energi yang

    keseluruhannya meliputi komponen sikap dan perilaku. Ketika dikaitkan antara

    totalitas kerja dan subjective well-being tentu kita akan mendapat kemungkinan

    hasil yang berbeda, pertama apakah totalitas kerja memiliki peran dan kontribusi

    terhadap subjective well-being seseorang atau bahkan sebaliknya? Terutama

    dikalangan pengusaha perempuan yang nota bene memiliki beban ganda di ranah

    domestik dan di ranah publik.

    Selain totalitas kerja yang menjadi salah satu variabel dalam mempengaruhi

    subjective well-being peneliti juga menemukan beberapa variabel lain yang diduga

    memiliki pengaruh terhadap subjective well-being yakni syukur. Syukur adalah

    apresiasi yang dialami oleh individu ketika orang lain melakukan hal yang baik atau

    membantu mereka. Secara lebih spesifik, syukur diartikan sebagai sebuah rasa atas

    kebahagiaan yang timbul sebagai reaksi ketika menerima sebuah kebaikan atau

  • berupa hadiah, baik pemberian yang manfaatnya bersifat nyata dari orang tertentu,

    atau saat dimana timbul perasaan damai dan bahagia akibat keindahan alami

    (Watkins, Emmons, Greaves & Bell, 2017).

    Gratitude (syukur) mewakili sifat kepribadian positif klasik, menjadi

    indikator pandangan dunia yang berorientasi pada memperhatikan dan menghargai

    hal positif dalam kehidupan. Individu yang bersyukur lebih sering serta lebih intens

    merasakan pengaruh rasa syukur, memiliki pandangan yang lebih positif dari

    lingkungan sosial mereka dan terus menerus fokus pada hal positif di lingkungan

    mereka, dengan apresiasi yang lebih besar terhadap kehidupan mereka dan barang

    milik mereka (McCullough, Emmons dan Tsang, 2002). Syukur berhubungan

    dengan kesejahteraan kemudian, penelitian ini telah menyarankan bahwa rasa

    syukur sangat kuat berkolerasi dengan kesejahteraan seperti sifat-sifat positif

    lainnya (Watkins, Emmons, Greaves & Bell, 2017).

    Meneliti syukur (gratitude) pada pengusaha perempuan penting karena

    beberapa alasan. Pertama karena kaitannya dengan fungsi emosi positif. Rasa

    syukur memiliki hubungan sebab akibat dengan perilaku positif (Watkins,

    Emmons, Greaves & Bell, 2017). Sikap positif, dalam hal ini terkait dengan rasa

    bahagia, berhubungan dengan akibat dari tercapainya kehidupan yang unggul yang

    melintasi berbagai konteks (Diener & Chan, 2011). Sering kali mengalami emosi

    positif dapat membuat seseorang menjadi lebih sehat dan menjadi lebih tahan

    banting (tangguh, tabah), memicu meningkatnya optimalisasi fungsi diri,

    kesejahteraan, dan pengembangan serta dapat menghilangkan pengaruh bawaan

    emosi negatif (McCullough, Emmons dan Tsang, 2002).

  • Dalam sebuah penelitian mengenai hubungan gratitude terhadap subjective

    well-being odapus wanita dewasa awal di Syamsi Dhuha Foundation Bandung,

    ditemukan bahwa ada korelasi yang positif antara gratitude dan subjective well-

    being. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar odapus wanita dewasa awal di

    Syamsi Dhuha Foundation Bandung sebanyak 100% (30) memiliki faset simple

    appreciation yang tinggi. Kemudian 86.67% (26) memiliki faset appreciation for

    others yang tinggi. Lalu 13.3% (4) memiliki faset appreciation for others yang

    rendah (Mahardika & Halimah, 2017). Artinya semakin tinggi tingkat subjective

    well-being pada odapus wanita maka semakin tinggi pula perilaku syukur yang

    mereka miliki.

    Selain totalitas kerja dan syukur variabel lain yang diprediksi

    mempengaruhi subjective well-being pada penelitian kali ini ialah dukungan sosial.

    Dukungan sosial dalam Cutrona, Russell, dan Rose, (1986) memiliki enam dimensi

    psikologi, attachment, social integration, reassurance of worth, reliable alliance,

    guidance, opportunity for nurturance. Dukungan sosial mempunyai manfaat

    emosional yang akan memberikan kekuatan pada diri individu untuk berusaha

    bangkit dan meningkatkan kesejahteraanya. Sedangkan Sarafino (2011)

    mendefinisikan dukungan sosial sebagai perasaan kenyamanan, perhatian,

    penghargaan atau bantuan yang diterima dari orang atau kelompok lain.

    Dalam penelitian yang pernah dilakukan Ramaprabou, V (2017) mengenai

    perceived social support and subjective well-being among working woman who are

    living away from their families. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah

    wanita yang bekerja dengan dukungan sosial yang tinggi dari keluarga dan teman-

  • teman (significant others) hasilnya menunjukan bahwa mereka cenderung memiliki

    tingkat subjective well-being yang baik atau tinggi dari pada mereka yang memiliki

    dukungan sosial yang lebih rendah. Hal ini menandakan bahwasanya individu yang

    mendapatkan dukungan sosial yang banyak cenderung akan lebih berhasil

    mencapai tingkat subjective well-being yang baik.

    Dari keempat variabel di atas penulis menemukan adanya keterkaitan antara

    variabel totalitas kerja, syukur, dan dukungan sosial terhadap subjective well-being

    pada pengusaha perempuan. Namun demikian, secara umum penelitian yang sudah

    ada hanya dilakukan pada pekerja kantoran, sehingga terdapat urgensitas penelitian

    ini untuk dilakukan kepada pelaku wiraswasta, khususnya pengusaha perempuan.

    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan variabel psikologi yang

    mempengaruhi subjective well-being pada tingkatan individu. Oleh karena itu

    peneliti menilai bahwasanya penelitian mengenai subjective well-being pada

    pengusaha perempuan sangat perlu untuk dilakukan guna melihat pengaruhnya

    terhadap kesejahteraan pengusaha perempuan.

    1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah

    1.2.1 Pembatasan Masalah

    Untuk membatasi agar permasalahan penelitian tidak meluas, maka masalah dalam

    penelitian ini dibatasi pada subjective well-being, totalitas kerja, syukur dan

    dukungan sosial. Adapun variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:

    1. Diener, Lucas, dan Oishi, (2005) mendefinisikan subjective well-being sebagai

    “Person cognitive and affective evaluations of his or her life”. Sehingga

    subjective well-being ialah evalusi seseorang secara kognitif dan efektif terhadap

  • kehidupannya. Evaluasi ini mencakup reaksi emosional (afek positif dan afek

    negatif) serta kepuasan kepuasan hidup.

    2. Bakker mendefinisikan mengenai work engagement atau totalitas kerja yang

    merupakan sebuah keadaan yang positif dan meyelesaikan pekerjaan yang

    dicirikan oleh semangat, dedikasi, dan keterlarutan (Bakker, Schaufeli, Leiter &

    Taris at.al., 2008).

    3. Syukur adalah apresiasi yang dialami oleh individu ketika orang lain melakukan

    hal yang baik atau membantu mereka (Watkins, Emmons, Greaves & Bell,

    2017).

    4. Dukungan sosial menurut Cutrona, Carolyn dan Russel (1986) adalah perilaku

    interpersonal yang mempunyai respon positif terhadap kebutuhan atas

    kenyamanan, dorongan, kepedulian, dan membantu penyelesaian masalah yang

    efektif melalui pemberian informasi terkait dengan bantuan nyata.

    1.2.2 Perumusan Masalah

    Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah

    penelitian sebagai berikut:

    Apakah terdapat pengaruh totalitas kerja, syukur dan dukungan sosial terhadap

    subjective well-being pengusaha perempuan di provinsi Jambi?

    1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1.3.1 Tujuan Penelitian

    Untuk mengetahui pengaruh totalitas kerja, syukur dan dukungan sosial terhadap

    subjective well-being pengusaha perempuan di provinsi Jambi

  • 1.3.2 Manfaat Penelitian

    1.3.2.1 Manfaat Teoritis

    Penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat terhadap disiplin ilmu

    pengetahuan khususnya bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) dengan

    memberikan bukti-bukti empiris pada penelitian ini. Penelitian ini diharapkan

    menjadi referensi teoritis dan empiris atau masukan bagi peneliti-peneliti lain yang

    ingin mengukur subjective well-being pengusaha perempuan.

    1.3.2.2 Manfaat Praktis

    Penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kapasitas diri pengusaha

    perempuan di provinsi Jambi, dimana hasil penelitian ini akan diberikan langsung

    kepada organisasi kewirausahaan yang menjadi patner penelitian ini.

  • BAB 2

    LANDASAN TEORI

    2.1 Subjective Well-being

    2.1.1 Pengertian subjective well-being

    Pengertian subjective well-being ialah “Person cognitive and affective evaluations

    of his or her life” (Diener, Lucas dan Oishi 2005). Sehingga subjective well-being

    ialah evalusi seseorang secara kognitif dan efektif terhadap kehidupannya. Evaluasi

    ini mencakup reaksi emosional pada peristiwa seperti halnya pandangan kognitif

    dari kepuasan hidup dan pemenuhan diri. Studi tentang subjective well-being telah

    berkembang sedemikian rupa, karena individu memperhatikan perasaanya sendiri

    dan kepercayaanya. Seseorang dikatakan memiliki subjective well-being yang

    tinggi jika mereka merasa puas dengan kondisi hidup mereka, sering merasakan

    emosi positif dan jarang merasakan emosi negatif. Diener dan Lucas (1999) dalam

    Diener dan Chan (2011) Subjective well-being dapat diketahui dari ada atau

    tidaknya perasaan bahagia dan ketika seseorang mengkarakteristikan atau

    mencirikan suatu kehidupan yang baik maka ia akan membicarakan tentang

    kebahagiaan, kesehatan, dan umur yang panjang.

    2.1.2 Komponen-komponen subjective well-being

    Diener (2005) subjective well-being merupakan konsep yang meliputi emosi,

    pengalaman menyenangkan, rendahnya tingkat mood negatif, dan kepuasan hidup

  • yang tinggi. Subjective well-being terdiri dari tiga aspek pengembangan yaitu aspek

    positif, dan afek negative serta kepuasan hidup. Afek positif dan afek negatif

    merupakan bagian dari aspek aktif sedangkan kepuasan hidup merupakan aspek

    yang merepresentasikan aspek kognitif individu. Individu dengan subjective well-

    being yang tinggi menilai hidupnya secara positif dan merasakan kegembiraan dan

    kebahagiaan. Subjective well-being yang rendah adalah individu yang sedikit sekali

    merasakan kesenangan serta lebih sering merasakan emosi yang negatif, seperti

    kemarahan dan rasa cemas.

    Terlepas dari kita temukan dalam pengorganisasian kepuasan terhadap

    domain kehidupan, struktur umum dari subjective well-being ini didasarkan pada

    pengalaman kesejahteraan. Diener dan Suh (1997) telah menemukan tiga

    komponen umum subjective well-being, kepuasan hidup (life satisfaction),

    penilaian afek positif (mood dan emosi yang menyenangkan) dan afek negatif

    (mood dan emosi yang tidak menyenangkan). Afek positif dan afek negatif

    termasuk ke dalam komponen afektif, sementara kepuasan hidup dan domain

    kepuasan termasuk ke dalam komponen kognitif (Dodge, Daly, Huyton & Sanders,

    2012)

    2.1.2.1 Positive affect dan negative affect

    Positif affect dan negative affect bersifat independen karena memicu kontrol di

    lapangan Bradburn dalam Diener (1984). Diener dan Emmons (1984) menulis

    sebuah penelitian mengenai positive affect dan negative affect (Larsen dan Eid,

    2008). Banyak peneliti melihat komponen hedonis subjective well-being sebagai

    rasio positive affect terhadap negative affect (Larsen dan Eid, 2008) dan melihatnya

  • sebagai komponen penting dalam keseluruhan struktur subjective well-being

    (Larsen dan Eid, 2008).

    Emosi (mood), yang keduanya diberi label afek, mencerminkan penilaian

    seseorang terhadap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Diener, Suh, Lucas

    & Smith (1999) dalam Frances, Angelo, Zhaoli & Wanberg (2005) menjelaskan

    bahwa pengalaman emosi setidaknya memiliki dua dimensi, yaitu activation dan

    arousal; dan pleasantness atau evaluation. Afek positif (positif affect) adalah

    kombinasi arousal dan pleasantness, dan emosi yang termasuk di dalamnya antara

    lain aktif, sikap sedia, dan senang. Afek negatif adalah kombinasi arousal dan

    unpleasantness, dan didalamnya terdapat emosi seperti cemas, sedih, dan ketakutan

    Mendemonstrasikan bahwa item yang banyak dari skala kepuasan hidup, perasaan

    senang (pleasant affect) dan perasaan tidak senang (unpleasant affect) membentuk

    faktor-faktor yang bisa dipisahkan satu sama lain. Dalam hal ini, afek memiliki

    dimensi frekuensi dan intensitas. Dimensi frekuensi merupakan keseluruhan jumlah

    predominasi afek positif dan afek negatif (Diener, Lucas dan Oishi, 2005). Afek

    postif dan afek negatif bersifat independen, meskipun demikian beberapa penelitian

    menunjukan bahwa keduanya berkolerasi negatif. Semakin sering seseorang

    merasakan salah satu afek, semakin rendah frekuensi afek lain yang dirasakan.

    Dimensi identitas mengacu pada kuat lemahnya afek yang dirasakan oleh

    seseorang. Hal inilah yang menjelaskan mengapa kedua afek yang independen ini

    muncul secara bersamaan.

    Dalam meneliti well-being sebaiknya menggunakan frekuensi dalam

    meneliti afek positif dan afek negatif. Alasannya, karena well-being berbicara

  • mengenai evaluasi kondisi emosi yang sifatnya relatif jangka panjang, sedangkan

    intensitas lebih bisa menjelaskan suasana emosi yang bersifat lebih sementara,

    seperti emosi (mood) (Diener, Scollon, dan Lucas, 2003). Selain itu, jika afek positif

    dan negatif terasa kuat secara bersamaan maka akan membingungkan dalam

    penentuan well-being seseorang.

    2.1.2.2 Kepuasan hidup (life satisfaction)

    Dimensi ketiga dari subjective well-being yang diidentifikasi oleh Andrews dan

    Withey (1976) dalam Diener (1984) ialah kepuasan hidup. Kepuasan hidup (life

    satisfaction) merupakan penilaian kognitif terhadap kehidupan seseorang. Dengan

    demikian, hal itu mungkin secara tidak langsung mempengaruhi, kemudian

    subjective well-being memiliki komponen lain selain komponen hedonis; Ini

    mencakup penilaian kognitif tentang kehidupan seseorang, secara keseluruhan, dan

    memuaskan (Larsen dan Eid, 2008) beberapa peneliti menyebutkan bahwa ini

    sebagai kepuasan hidup (life satisfaction), kemudian sebagian besar melihatnya

    sebagai fitur penting dalam keseluruhan struktur subjective well-being (Larsen dan

    Eid, 2008). Ada kemungkinan penilaian kepuasan hidup (life satisfaction), berbeda

    dengan komponen hedonik (Larsen dan Eid, 2008).

    Kepuasan hidup (life satisfaction) yang sering kali disebut dengan istilah

    penilaian secara global (Diener, Scollon dan Lucas, 2003), merefleksikan penilaian

    individu bahwa kehidupannya ini berjalan dengan baik. Setiap individu dapat

    menelaah kondisi kehidupannya sendiri, menimbang pentingnya kondisi-kondisi

    tersebut, dan kemudian mengevaluasi kehidupannya ke dalam skala memuaskan

    dan tidak memuaskan. Evaluasi global semacam ini disebut dengan penelitian

  • kognitif atas kepuasan hidup. Dikatakan demikian karena penelitian ini

    membutuhkan proses kognitif (Diener, Scollon dan Lucas, 2003). Penilaian

    kepuasan yang dilakukan seseorang didasarkan pada informasi yang tersedia pada

    saat penilaian tersebut dilakukan, dan kebanyakan dari informasi tersebut

    merupakan informasi yang tetap sama dari waktu ke waktu. Di dalam banyak kasus,

    orang cenderung menggunakan informasi yang relevan dan stabil, yang pada

    akhirnya akan menghasilkan penilaian kepuasan yang stabil dan bermakna (Diener,

    Scollon dan Lucas, 2003). Pada saat membuat penilaian kepuasan hidup, seseorang

    juga menggunakan sumber-sumber informasi lain, diantaranya perbandingan

    dengan standar-standar yang penting (Diener, Scollon dan Lucas, 2003).

    Kepuasan hidup (life satisfaction) digunakan sebagai salah satu cara untuk

    mengukur well-being karena dengan cara ini peneliti dapat menangkap well-being

    dalam bentuk luas dari sudut pandang partisipanitu sendiri (Diener, Scollon dan

    Lucas, 2003). Selain itu, keuntungan dari melihat kepuasan hidup sebagai ukuran

    well-being adalah karena tipe pengukuran ini menangkap sensasi secara global akan

    well-being dari perspektifnya sendiri (Diener, Scollon dan Lucas, 2003).

    2.1.3 Pengukuran subjective well-being

    Salah satu langkah pengukuran terbaik dari komponen afektif subjective well-being

    ialah yang dikembangkan oleh Fordyce (1988), dengan cara meminta subjek untuk

    memperkirakan persentase waktu yang mereka rasakan bahagia, persentase waktu

    yang mereka rasakan netral, dan persentase waktu mereka merasa tidak bahagia

    selama periode waktu tertentu (misalnya tahun lalu), sehingga akumulasi dari

    perasaan netral, bahagia dan sedih bertambah hingga 100% (Larsen dan Eid, 2008).

  • Subjective well-being mengacu pada pengalaman afektif dan penilaian

    kognitif, laporan dari ukuran mengenai subjective well-being sangat diperlukan

    (Frances Kee-Ryan, at al 2005). Dengan rekan-rekannya Diener mengembangkan

    subjective well-being dengan Life scale (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985),

    yang menjadi ukuran standar kepuasan hidup (life satisfaction) dan telah

    diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Lebih lanjut, Diener (2005) menggunakan

    Satisfaction With Life Scale (SWLS) yang ia kembangkan pada tahun1985 untuk

    mengukur subjective well-being seseorang. Hal tersebut dikarenakan subjective

    well-being berkenaan dengan evaluasi hidup seseorang yang dapat dilihat dari

    kepuasan hidup mereka, yang didasarkan kepada perasaan, termasuk suasana hati

    dan emosi. Ketika seseorang merasakan sedih atau mereka merasa gembira itu

    dikarnakan mereka merasakan apakah hidup mereka baik atau tidak. (Frances Kee-

    Ryan, at al 2005)

    2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi subjective well-being

    Diener (1984) menjelaskan mengenai beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi

    subjective well-being diantaranya adalah sebagai berikut;

    1. Variabel demografi (pendapatan, status pernikahan, aktivitas sosial)

    Pendapatan memiliki hubungan yang positif dengan subjective well-being di

    beberapa negara. Kepuasan terhadap pendapatan adalah hal yang berkorelasi

    dengan kebahagiaan (happiness). Status pernikahan memiliki pengaruh yang

    positif terhadap subjective well-being. Responden yang sudah menikah mengaku

    lebih puas dengan kehidupannya ketimbang responden yang belum menikah.

    Begitu juga dengan aktivitas sosial, responden yang memiliki aktivitas sosial

  • cenderung puas dengan kehidupannya ketimbang responden yang tidak memiliki

    aktivitas sosial sama sekali.

    2. Kepribadian

    Kepribadian memberikan arah terhadap pengaruh happiness dalam jangka waktu

    yang cukup lama, kepribadian menjadi kepercayaan sehingga menetap dan

    menjadi penting bahwa kepribadian yang sehat akan membangun subjective

    well-being dan membangun rasa kedamaian.

    3. Totalitas kerja

    Totalitas kerja memiliki hubungan yang positif terhadap subjective well-being.

    Dimana, ketika seseorang bekerja dengan keras dan penuh semangat serta

    dedikasi yang tinggi, ia akan cenderung menemukan sebuah meaning (makna

    hidup). Adanya kepuasan hidup ketika menikati kesuksesan dari sebuah proses

    kerja keras, merupakan sebuah out come dari subjective well-being. Totalitas

    kerja merupakan sebuah perilaku yang positif.

    4. Syukur

    Adanya hubungan yang positif antara syukur dan subjective well-being. semakin

    tinggi tingkat syukur seseorang maka akan semakin tinggi tingkat subjective

    well-being seseorang (Mahardika dan Halimah, 2017).

    5. Dukungan sosial

    Perempuan yang bekerja dengan dukungan sosial yang tinggi dari keluarga serta

    teman-teman, hasilnya menunjukan bahwa mereka cenderung memiliki tingkat

    subjective well-being yang positif dari pada mereka yang memperoleh dukungan

    sosial yang lebih rendah (Ramaprabou.V, 2017). Dari hasil ini dapat

  • disimpulkan bahwa dukungan sosial memiliki peranan pengaruh yang signifikan

    terhadap subjective well-being.

    2.2 Totalitas kerja

    2.2.1 Pengertian totalitas kerja

    Schaufeli dan Bekker (2004) menjelaskan bahwa seseorang yang total dalam

    bekerja atau yang memiliki totalitas kerja yang tinggi akan bekerja keras,

    memberikan usaha yang lebih (extra effort), aktif terlibat, focus terhadap pekerjaan,

    hadir secara fisik, dan memberikan energi terhadap apa yang dikerjakan. Pengertian

    dari Schaufeli dan Bakker (2004) tersebut akan menjadi pengertian yang peneliti

    gunakan dalam penelitian ini.

    Secara lebih spesifik dalam Bakker A. B, dan Demerouti Evangelia (2008)

    mendefenisikan totalitas kerja sebagai hal positif, total yang berkaitan dengan

    keadaan pikiran yang ditandai dengan semangat, dedikasi, dan absorbsi atau

    penyerapan. Totalitas kerja lebih daripada keadaan sesaat dan spesifik, mengacu ke

    keadaan yang bergerak tetap meliputi aspek kognitif dan afektif yang tidak fokus

    pada objek, peristiwa, individu, atau perilaku tertentu.

    2.2.2 Aspek-aspek totalitas kerja

    Dalam Bakker A.B dan Demerouti Evangelia (2008) totalitas kerja merupakan hal

    yang positif, yang berkaitan dengan keadaan pikiran yang ditandai dengan

    semangat, dedikasi dan absorbsi atau penyerapan. Vigor atau semangat

    mencerminkan kesiapan untuk mengabdikan upaya dalam pekerjaan seseorang,

    sebuah usaha untuk terus energik saat bekerja dan kecenderungan untuk tetap

    berusaha dalam menghadapi kesulitan atau kegagalan tugas. Dedikasi mengacu

  • pada identifikasi yang kuat dengan pekerjaan seseorang dan mencakup perasaan

    antusiasme, inspirasi, kebanggaan dan tantangan. Dimensi ketiga dari totalitas kerja

    adalah penyerapan (absorbsi). Penyerapan ditandai dengan seseorang menjadi

    benar-benar tenggelam dalam pekerjaanya, dalam waktu tertentu ia akan merasa

    sulit untuk melepaskan diri dari pekerjaanya.

    Beberapa studi telah memvalidasi secara empiris instrumen yang mengukur

    totalitas kerja, Utrecht Work Engagement Scale (UWES). Seorang karyawan yang

    tergolong memiliki work engagement dengan kata lain dapat didefinisikan dengan

    melakukan pekerjaan yang ditandai dengan semangat, dedikasi, dan penyerapan

    dalam menyelesaikan semua penugasannya Bakker, Schaufeli, Leiter & Taris

    (2008).

    2.2.3 Pengukuran totalitas kerja

    Pengukuran totalitas kerja menggunakan skala Utrecht Work Engagement Scale

    (UWES) yang dikembangkan oleh Schaufeli, Bakker dan Salanova (2006), yang

    terdiri dari sub-skala yakni semangat (vigor), dedikasi, penyerapan (absorbsi).

    Skala ini berisi 17 item pernyataan yang masing-masing komponen terdiri dari

    enam item vigor, enam item dedikasi, dan lima item absorbsi (Balducci, Fraccaroli

    dan Schaufeli, 2010)

    Utrecht Work Engagement Scale (UWES) memiliki dua versi. Versi

    pertama dikembangkan pada tahun 2000 dengan sub item berjumlah 17 kemudian

    versi yang kedua memiliki 9 jumlah item. Pada penelitian ini peneliti menggunakan

    inventori Utrecht Work Engagement Scale (UWES) versi pertama dengan jumlah

    17 item. Inventori Utrecht Work Engagement Scale (UWES) mencakup

  • pengukuran masing-masing komponen yang terdiri dari enam item vigor, enam

    item dedication, dan lima item absorbsi (Balducci, Fraccaroli dan Schaufeli, 2010)

    2.3 Syukur

    2.3.1 Definisi syukur

    Peterson dan Seligman (2004) mendefinisikan syukur sebagai rasa berterima kasih

    dan bahagia sebagai respon penerimaan karunia, baik karunia tersebut merupakan

    keuntungan yang terlihat dari orang lain ataupun moment kedamaian yang

    ditimbulkan oleh keindahan alamiah (Froh, Sefick, dan Emmons, 2008). Secara

    singkat, orang yang bersyukur adalah seseorang yang menerima sebuah karunia dan

    sebuah penghargaan, dan mengenali nilai dari karunia tersebut. Orang yang

    bersyukur mampu mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang yang sadar dan

    berterima kasih atas anugrah Tuhan, pemberian orang lain, dan menyediakan waktu

    untuk mengekspresikan rasa terima kasih mereka

    2.3.2 Aspek-aspek syukur

    Mc.Cullough, et al (2002) menggunakan istilah aspek untuk merujuk elemen-

    elemen gratitude dibandingkan dengan menggunakan istilah dimensi. Karena

    mereka menduga bahwa elemen-elemen dalam gratitude tidak berbeda atau

    independent, namun terjadi secara bersama-sama beberapa aspek dari gratitude

    tersebut adalah:

    1. Intesitas (Intensity)

    Aspek pertama dari gratitude adalah intensitas. Seseorang yang memiliki watak

    gratitude ketika mengalami peristiwa yang positif diperkirakan akan secara

  • intensitas merasa lebih bersyukur dibandingkan seseorang yang memiliki rasa

    bersyukur rendah

    2. Frekuensi (Frequency)

    Aspek kedua adalah frekuensi. Seseorang yang memiliki watak gratitude

    diperkirakan sering merasakan perasaan bersyukur setiap harinya dan rasa

    syukur mungkin ditimbulkan bahkan oleh nikmat yang sederhana ataupun

    tindakan yang sopan.

    3. Jangka waktu (Span)

    Jangka waktu gratitude merujuk pada sejumlah keadaan dalam hidup dimana

    seseorang merasa bersyukur pada waktu tertentu. Seseorang yang senantiasa

    bersyukur diduga merasa penuh rasa syukur atas keluarga, pekerjaan mereka,

    kesehatan mereka, dan hidup mereka sendiri, bersama dengan segala manfaat

    yang ada didalamnya. Seseorang yang kurang memiliki rasa syukur mungkin

    mengalami kurangnya rasa syukur terhadap beberapa aspek dalam hidupnya.

    4. Kepadatan (Density)

    Aspek keempat dapat disebut kepadatan, yang mengacu pada jumlah orang

    kepada siapa seseorang merasa bersyukur atas satu hasil positif yang ada. Orang

    yang memiliki rasa syukur dapat menyebutkan banyak nama ketika mereka

    ditanya kepada siapa dirinya merasa bersyukur atas hasil tertentu, misalnya

    mendapatkan pekerjaan yang baik termasuk orang tua, teman, keluarga dan

    mentor. Untuk seseorang yang memiliki hasil sama, ketika ia kurang memiliki

    rasa syukur mungkin ia akan merasa berterima kasih kepada sedikit orang.

  • Dalm Watkins, Woodward, Stone, & Kolts (2003) membuat sebuah

    pengukuran bernama GRAT (Gratitude, Resentment, and Appreciation Test) yang

    bertujuan untuk mengukur beberapa karakteristik gratitude.

    1. Sense of Abundance

    Induvidu yang bersyukur tidak akan merasa kekurangan dalam kehidupannya. Atau

    secara positif, individu yang bersyukur memiliki rasa berkelimpahan (sense of

    abundance) dalam kehidupannya dan selalu merasa beruntung. Hal ini tidak

    berdasarkan seberapa besar dan banyak individu tersebut memiliki rasa

    berkelimpahan dan perasaan syukur.

    Individu yang tidak memiliki rasa berkelimpahan, biasanya selalu merasa

    serba kekurangan, selalu merasa bahwa Tuhan memberikannya kehidupan yang

    tidak adil dan tidak layak, merasa selalu kekurangan dalam hal waktu, merasa

    kehidupannya telah merusak dirinya, merasa bahwa dunia telah berhutang padanya.

    Selain itu juga selalu merasa iri terhadap orang lain karena orang lain selalu merasa

    lebih beruntung, merasa kemajuannya dihambat oleh orang lain, merasa bahwa

    orang lain tidak memiliki kehidupan sepertinya yang selalu merasa merugi, merasa

    belum mendapatkan keuntungan atau kebaikan padahal telah merasa berbuat

    kebaikan yang banyak, dan merasa selalu mendapatkan kebaikan tidak sebanyak

    yang orang lain dapatkan.

    2. Apreciation with others

    Bersyukur kepada manusia atau orang lain adalah sebagai tanda terima kasih atas

    kebaikan mereka. Karena kebaikan yang didapatkan merupakan salah satu hasil dari

  • kontribusi yang diberikan oleh orang lain, oleh sebab itu sangat perlu untuk

    menghargai orang lain tersebut. Bentuk dari penghargaan tersebut dapat berupa

    membalas dengan cara membantunya juga. Menghargai apapun yang dilakukan

    orang lain terhadapnya dalam kehidupannya, seperti kesejahteraan dan prestasi

    yang diraih serta kondisi yang dicapai hingga saat ini juga merupakan sikap positif

    yang ditunjukan oleh orang yang bersyukur karena telah merasa mendapatkan

    kebijaksanaan yang berharga dari orang lain yang sangat bermanfaat bagi

    keberhasilannya.

    3. Simple Appreciation

    Individu yang bersyukur ditandai dengan kecenderungan untuk menghargai

    kesenangan sederhana yang sebenarnya sering ditemui (simple appreciation).

    Kesenangan sederhana mengacu pada kesenangan dalam hidup yang bagi

    kebanyakan orang sebenarnya telah sering merasakannya.

    Individu yang menghargai kesenangan sederhana harus lebih rentan untuk

    mengalami perasaan bersyukur karena mereka akan lebih sering mendapatkan

    manfaat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jadi simple appreciation, merupakan

    bentuk penghargaan terhadap kesenangan sederhana yang dapat berupa kesenangan

    yang berasal dari fenomena atau keindahan alam sekitar.

    Individu menjadi tambah bersyukur karena keindahan alam atau keindahan

    alam yang diberikan Tuhan. Dengan menikmati dan menghayati keindahan tersebut

    mereka akan berfikir untuk menjaga kelestarian alam. Individu juga berfikir bahwa

    penting untuk menghargai dan merasakan hal-hal sederhana yang dialami dalam

    hidup sehingga individu akan lebih menghargai sebuah kehidupan.

  • 2.3.3 Pengukuran syukur

    Terdapat dua self-report yang dapat mengukur gratitude tanpa mengaitkan item-

    itemnya dengan kata-kata keagamaan. Pengukuran yang pertama adalah Gratitude,

    Resenment, and Appreciation Test (GRAT), terdiri dari 44-item yang telah

    dikembangkan dan telah divalidasi. Dalam GRAT ini terdapat tiga faktor yaitu

    kebencian, apresiasi sederhana, dan penghargaan sosial. Indeks self-report yang

    kedua adalah the Gratitude Questionnaire-Six (GQ-6) (McCullough, Emmons, dan

    Tsang, 2002). GC-6 ini adalah quisioner 6-item dengan skala 1 = sangat tidak setuju

    sampai dengan 7 = sangat setuju.

    GRAT (Gratitude, Resenment, and Appreciation Test). Alat ukur ini dibuat

    oleh Watkins dkk (2003) yang akan digunakan untuk mengukur tiga karakteristik

    gratitude yaitu, sense of abundance, appreciation for others, dan simple

    appreciation. Gratitude, Resenment, and Appreciation Test terdiri dari dua versi.

    Versi pertama menggunakan 44 item dan versi kedua, GRAT-R yang merupakan

    revisi dari GRAT versi pertama dengan jumlah 16 item dengan menggunakan

    skala jenis Likert dengan lima pilihan (1= I Strongly Disargee hingga 5= I Strongly

    Agree) Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan inventori Gratitude,

    Resenment, and Appreciation Test (GRAT-Revised) untuk mengukur variable

    gratitude pada woman entrepreneur.

    2.4 Dukungan sosial

    2.4.1 Definisi dukungan sosial

    Dalam Sarafino (1998) menyatakan bahwa dukungan sosial mengacu pada

    kenyamanan yang dirasakan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diperoleh

  • individu dari orang lain maupun kelompok. Dukungan sosial menurut Cutrona,

    Carolyn dan Russel (1986) adalah perilaku interpersonal yang mempunyai respon

    positif terhadap kebutuhan atas kenyamanan, dorongan, kepedulian, dan membantu

    penyelesaian masalah yang efektif melalui pemberian informasi terkait dengan

    bantuan nyata.

    Taylor (2006) mendefinisikan dukungan sosial adalah informasi dari orang

    lain bahwa ia dicintai, diperdulikan, dihargai, dan bernilai menjadi bagian dari

    jaringan komunikasi dan kewajiban dari orang tua, istri, atau kekasih, saudara,

    teman , sosial dan hubungan dengan komunitas sosial.

    Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang

    dimaksud dengan dukungan sosial adalah pemberian bantuan dalam berbagai

    bentuk baik verbal, maupun non-verbal yang berdampak positif bagi individu.

    Dukungan sosial didapatkan individu dari hubungan dengan orang lain dalam suatu

    jaringan sosial.

    2.4.2 Dimensi dukungan sosial

    Sarafino (2011) mengemukakan membagi dukungan sosial menjadi lima bentuk,

    yaitu:

    1. Dukungan Emosional

    Dukungan emosional di dalamnya terkandung ekspresi empati, keperdulian, dan

    perhatian terhadap seseorang. Kesemua ekspresi tersebut memberikan seseorang

    rasa nyaman, perasaan dimiliki, dan rasa dicintai.

    2. Dukungan Penghargaan

  • Dukungan penghargaan terjadi melalui ekspresi seseorang dalam pandangan

    yang positif terhadap orang lain, dorongan atau kesesuaian dengan ide-ide atau

    perasaan individu, dan perbandingan positif orang tersebut dengan orang lain

    seperti orang yang kurang mampu atau lebih buruk. Dukungan jenis ini

    membantu individu untuk membangun perasaan menghargai diri sendiri,

    berkompeten, dan bernilai.

    3. Dukungan nyata atau Instrumental

    Dukungan nyata atau instrumental mengacu pada penyediaan barang dan jasa

    yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah secara praktis.

    Sebagai contoh: pinjaman atau sumbangan dari orang lain atau bantuan dalam

    mengerjakan tugas-tugas tertentu.

    4. Dukungan informasi

    Dukungan informasi meliputi dukungan yang diberikan dengan cara

    memberikan informasi baik kepada individu yang menghadapi masalah dengan

    kepercayaan diri. Meliputi pemberian nasehat, saran, bimbingan yang dapat

    digunakan untuk memecahkan masalah.

    5. Dukungan jaringan

    Dukungan jaringan membuat individu yang menghadapi masalah kepercayaan

    diri merasa sebagai anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat

    dan aktifitas sosial dengannya. Dengan demikian, individu akan merasa

    memiliki teman senasib.

    Sedangkan dalam Cutrona (1986), mengembangkan The Social Provisions Scale

    untuk mengukur ketersediaan dukungan sosial yang diperoleh dari hubungan

  • individu dengan orang lain. Cutrona menjelaskan terdapat enam aspek didalam

    teorinya, yang meliputi:

    Attachment (kedekatan emosional), yaitu jenis dukungan ini memungkinkan

    seseorang memperoleh kedekatan secara emosional sehingga menimbulkan rasa

    aman bagi yang menerima. Sumber dukungan semacam ini biasanya dapatkan

    dari pasangan, teman dekat, atau hubungan keluarga.

    Social Intergration (intergrasi sosial), yaitu jenis dukungan yang memungkinkan

    memiliki perasaan suatu kelompok yang memungkinkan untuk berbagi minat,

    perhatian, serta melakukan kegiatan yang sifatnya reaktif secara bersama-sama.

    Hubungan tersebut dapat memberikan kenyamanan, keamanan dan kesenangan.

    Reassurance of Worth (penghargaan dan pengakuan), yaitu dukungan sosial

    jenis ini mendapat pengakuan atas kemampuan dan keahliannya serta

    mendapatkan penghargaan dari orang lain atau lembaga terhadap kompetensi,

    keterampilan dan nilai yang dimiliki seseorang.

    Reliable Alliance (Ikatan atau hubungan yang dapat diandalakan untuk

    mendapatkan bantuan yang nyata), yaitu dalam dukungan sosial jenis ini agar

    mendapatkan dukungan sosial berupa jaminan bahwa ada orang yang dapat

    diandalkan bantuannya ketika individu membutuhkan bantuan tersebut. Jenis

    dukungan ini bersumber pada umumnya diberikan oleh anggota keluarga.

    Guidance (Saran atau bimbingan), yaitu dukungan sosial jenis ini adalah

    memungkinkan mendapatkan informasi, saran atau nasihat yang diperlukan

    dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Jenis

    dukungan ini bersumber dari guru, mentor, atau sosok orang tua.

  • Opportunity for Nurturance (kemungkinan membantu), yaitu suatu aspek

    penting dalam hubungan interpersonal yang berupa perasaan dibutuhkan oleh

    orang lain, sehingga seseorang merasa mendapatkan dukungan sosial ketika

    mendapakan timbal balik ketika merasa dibutuhkan orang lain dan sebaliknya.

    2.4.3 Pengukuran dukungan sosial

    Alat ukur yang akan digunakan untuk mengukur dukungan sosial dalam penelitian

    ini menggunakan alat ukur yang bernama The Social Provisions Scale (Cutrona,

    Carolyn dan Russel, 1986) dengan item berjumlah 24 dari enam hal sebagai berikut:

    attachment, social integration, reassurance of worth, reliable alliance, guidance

    dan opportunity for nurturance. Rentang berkisar 1 (sangat tidak setuju) sampai 4

    (sangat setuju)

    2.5 Kerangka berfikir

    Peneliti menilai bahwa seorang pengusaha perempuan kemungkinan memiliki

    tingkat subjective well-being yang rendah. Hal ini bisa dikarenakan oleh beban

    ganda yang dimiliki oleh kaum perempuan, seperti mengatur urusan domestik

    rumah tangga, dapur, sumur dan kasur. Hal tersebut tidak bisa terelakan lagi dalam

    keseharian dikarenakan budaya yang dianut kebanyakan warga Indonesia adalah

    budaya timur dalam hal ini budaya patriarki yang paling ditonjolkan. Disisi lain

    perempuan yang bekerja di kalangan publik harus bersikap profesional karena

    tuntutan kesetaraan gender. Artinya dalam hal ini perempuan dihadapkan dengan

    dua tugas dalam dirinya, yakni tugas diranah domestik sebagai ibu rumah tangga

    dan tugas sebagai warga sipil yang harus bekerja dengan profesional dengan

    menjujung tinggi azas kesetaraan gender di tempat ia bekerja. Dari fenomena ini

  • peneliti menilai bahwa tingginya tuntutan kerja baik dalam ranah dometik maupun

    ranah publik, perempuan tentu memiliki kebutuhan akan kesejahteraan yang tinggi,

    namun apakah bisa pengusaha perempuan memiliki subjective well-being yang

    tinggi?, disamping itu pengusaha perempuan memiliki beban ganda yang berat?

    Saat ini peran perempuan dalam kewirausahaan tidak dapat terelakan. Data

    menyebutkan bahwa pengusaha perempuan menyumbang sepertiga dari semua

    bisnis yang beroperasi dalam ekonomi formal di seluruh dunia, data ini merupakan

    bukti bahwa perempuan Indonesia semakin menunjukan peranannya dalam dunia

    ekonomi, bisnis dan wirausaha baik sebagai pekerja maupun pengusaha

    (International Finance Corporation, 2017).

    Kemudian dalam sebuah penelitian mengenai life satisfaction pada

    pengusaha perempuan di India, menunjukan bahwa pengusaha perempuan

    memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi (Jyoti, Sharma dan Kumari, 2011)

    selanjutnya life satisfaction merupakan satu dari tiga indikator subjective well-being

    (Diener, 1984). Banyak faktor yang menjadi penentu munculnya subjective well-

    being dalam bekerja. Bakker dan Oerlemans (2010) menjelaskan bahwa terdapat

    hubungan antara totalitas kerja dengan subjective well-being. Induvidu yang sangat

    total dalam pekerjaan, mereka mengidentifikasi pekerjaan mereka sendiri dan

    termotivasi untuk melaksanakan pekerjaanya. Mereka cenderung untuk bekerja

    lebih keras dan lebih produktif dari pada orang lain dan lebih mungkin untuk

    menghasilkan kepuasan pelanggan dan tercapainya keinginan organisasi. Individu

    yang total dalam bekerja akan menggunakan kemampuan dan keterampilan mereka

    dengan baik, merasa tertantang dalam pekerjaan dan berprestasi.

  • Seorang pengusaha tentu memiliki proses jatuh bangun dalam merintis

    usahanya hingga saat ini. Dalam proses jatuh bangun ini terjadi kondisi psikologis

    yang memungkinkan adanya tekanan stress yang komplek, karena beban ganda

    pengusaha perempuan. Totalitas kerja yang meliputi semangat (vigor) dedikasi dan

    keterlarutan (absorbsi) diduga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

    kesejahteraan pengusaha perempuan. Dimana kesejahteraan ini berdampak kepada

    kualitas hidup mereka sebagai masyarakat pada umumnya, namum memiliki

    meaning bahwa hidup ini harus banyak bersyukur karena jerihpayah akan proses

    jatuh bangun sudah banyak dilalui.

    Bersyukur didefenisikan sebagai rasa berterima kasih dan bahagia sebagai

    respon penerimaan karunia, baik karunia tersebut merupakan keuntungan yang

    terlihat dari orang lain ataupun moment kedamaian yang ditimbulkan oleh

    keindahan alamiah (Peterson dan Seligman, 2004). Orang yang bersyukur mampu

    mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang yang sadar dan berterima kasih atas

    anugrah Tuhan, pemberian orang lain, dan menyediakan waktu untuk

    mengekspresikan rasa terima kasih mereka (Peterson dan Seligman, 2004).

    Sarafino (1998) menyatakan bahwa dukungan sosial mengacu pada

    kenyamanan yang dirasakan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diperoleh

    individu dari orang lain maupun kelompok. Dukungan sosial menurut Cutrona,

    Carolyn dan Russel (1986) adalah perilaku interpersonal yang mempunyai respon

    positif terhadap kebutuhan atas kenyamanan, dorongan, kepedulian, dan membantu

    penyelesaian masalah yang efektif melalui pemberian informasi terkait dengan

    bantuan nyata.

  • Seorang pengusaha yang tangguh dan pada akhirnya memiliki kesejahteraan

    hidup yang baik, tentu memiliki sumber-sumber dukungan yang mampu

    mengantarkannya sampai kesuksesan ini. Baik dukungan dari keluarga,

    lingkungan, pasangan, mentor atau atasan dalam organisasi. Dari dukungan sosial

    ini kita juga bisa meilhat proses kehidupan sosial subjek penelitian ini. Apakah

    mendapat dukungan sosial yang tinggi atau rendah.

    Bagan kerangka berfikir

    Gambar 2.1 Bagan kerangka berfikir

    Totalitas Kerja

    Vigor

    Dedikasi

    Absorbsi

    Syukur

    Sense of Abudance

    Simple Appreciation

    Appreciation for

    Others

    Subjective Well-

    being

    Dukungan Sosial

  • 2.6 Hipotesis Penelitian

    Hipotesis Mayor

    Ada pengaruh yang signifikan dari totalitas kerja (vigor, dedikasi, absorbi),

    bersyukur (sense of abudance, appreciation with simple pleasure, social

    appreciation) dan dukungan sosial terhadap subjective well-being pengusaha

    perempuan.

    Hipotesis Minor

    H1 = Ada pengaruh yang signifikan dimensi vigor pada subjective well-being.

    H2 = Ada pengaruh dedikasi yang signifikan dimensi pada subjective well-

    being.

    H3 = Ada pengaruh yang signifikan dimensi absorbsi pada subjective well- being.

    H4 = Ada pengaruh yang signifikan dimensi sense of abudance pada subjective

    well-being.

    H5 = Ada pengaruh yang signifikan dimensi appreciation with simple pleasure

    pada subjective well-being.

    H6 = Ada pengaruh yang signifikan dimensi social appreciation pada subjective

    well-being.

    H7 = Ada pengaruh yang signifikan dimensi dukungan sosial pada subjective

    well-being.

  • BAB 3

    METODE PENELITIAN

    3.1 Populasi dan Sampel Penelitian

    Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha perempuan yang berdomisili di

    Provinsi Jambi. Adapun jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini

    sebanyak 200 responden. Penetapan jumlah responden disesuaikan dengan

    kemampuan peneliti berdasarkan waktu, tenaga dan dana penelitian. Pengambilan

    sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik non-probability sampling

    dimana responden dipilih berdasarkan kriteria yang ditentukan serta bersedia untuk

    menjadi responden.

    3.2 Variabel Penelitian

    Sebelum membahas definisi operasional penelitian, dibawah ini terdapat beberapa

    variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebagaimana yang telah disebutkan

    pada bab sebelumnya. Untuk berikutnya, yang disebut dengan variabel adalah

    sesuatu yang bervariasi dari satu kasus ke kasus yang lain. Dimensi dalam

    penelitian ini meliputi dimensi dari totalitas kerja meliputi vigor (semangat),

    dedikasi dan absorbsi, dimensi dari bersyukur yaitu sense of abudance,

    appreciation with others, simple appreciation dan dukungan sosial. Dependen

    variabel dalam penelitian ini adalah subjective well-being, sedangkan sisanya

    adalah independen variabel.

    3.3 Definisi Operasional

    Berikut ini penjelasan definisi operasional dari masing-masing variabel:

  • 1. Subjective well-being

    Diener, Lucas, dan Oishi, (2005) mendefinisikan subjective well-being sebagai

    “Person cognitive and affective evaluations of his or her life”. Sehingga

    subjective well-being ialah evalusi seseorang secara kognitif dan efektif terhadap

    kehidupannya. Evaluasi ini mencakup reaksi emosional (afek positif dan afek

    negatif) serta kepuasan kepuasan hidup.

    2. Totalitas kerja

    Schaufeli dan Bakker (2004) mendefinisikan totalitas kerja ialah seseorang yang

    memiliki totalitas kerja yang tinggi memiliki kecenderungan akan bekerja keras,

    memberikan usaha yang lebih, aktif terlibat dan fokus terhadap pekerjaan,

    kemudian hadir secara fisik dan memberikan energi terhadap apa yang

    dikerjakan yang meliputi vigor, dedikasi dan absorbsi (Bakker dan Demerouti,

    2008).

    1) Vigor atau semangat merupakan curahan energi dan mental yang kuat selama

    bekerja, keberanian untuk berusaha sekuat tenaga dalam menyelesaikan suatu

    pekerjaan, tekun dalam menghadapi kesulitan kerja, juga kemauan untuk

    menginvestasikan segala upaya dalam suatu pekerjaan, dan tetap bertahan

    meskipun menghadapi kesulitan. Artinya vigor adalah sebuah keadaan

    dimana individu akan berusaha bertahan dengan semangat serta usaha.

    2) Dedikasi ditandai dengan individu yang merasa terlibat sangat kuat dalam

    suatu pekerjaan dan mengalami rasa kebermaknaan, antusiasme, kebanggaan,

    inspirasi dan tantangan. Dedikasi mencerminkan sikap positif dimana

    kehadiran di dalam organisasi menjadi penting dalam pekerjaan.

  • 3) Absorbsi ditandai dengan individu yang selalu penuh konsentrasi dan serius

    terhadap suatu pekerjaan. Dalam bekerja waktu terasa berlalu begitu cepat

    dan menemukan kesulitan dalam memisahkan diri dengan pekerjaan.

    3. Syukur adalah apresiasi yang dialami oleh individu ketika orang lain melakukan

    hal yang baik atau membantu mereka (Watkins, Emmons, Greaves & Bell,

    2017). Watkins at al (2017) membagi dimensi syukur menjadi tiga, sense of

    abundance, appreciation with simple pleasure, simple appreciation yang akan

    dijelaskan sebagai berikut:

    1) Sense of Abundance

    Induvidu yang bersyukur tidak akan merasa kekurangan dalam

    kehidupannya. Atau secara positif, individu yang bersyukur memiliki rasa

    berkelimpahan (sense of abundance) dalam kehidupannya dan selalu merasa

    beruntung hal ini tidak berdasarkan seberapa besar dan banyak individu

    tersebut memiliki rasa berkelimpahan dan perasaan syukur.

    2) Simple appreciation

    Merupakan bentuk penghargaan terhadap kesenangan sederhana yang dapat

    berupa kesenangan yang berasal dari fenomena atau keindahan alam sekitar.

    3) Appreciation with others

    Apapun yang dilakukan orang lain terhadapnya dalam kehidupannya, seperti

    kesejahteraan dan prestasi yang diraih serta kondisi yang dicapai hingga saat

    ini juga merupakan sikap positif yang ditunjukan oleh orang yang bersyukur

    karena telah merasa mendapatkan kebijaksanaan yang berharga dari orang

    lain yang sangat bermanfaat bagi keberhasilannya.

  • 3. Dukungan sosial

    Merupakan perilaku interpersonal yang mempunyai respon positif terhadap

    kebutuhan atas kenyamanan, dorongan, kepedulian, dan membantu

    menyelesaikan masalah yang efektif melalui pemberian informasi terkait dengan

    bantuan nyata (Cutrona, Carolyn, dan Russel 1986)

    3.4 Instrumen Pengumpulan Data

    Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data menggunakan skala sebagai alat

    pengumpul data. Skala adalah sejumlah pernyataan tertulis untuk memperoleh

    jawaban dari responden. Skala yang digunakan adalah model skala Likert yaitu

    pernyataan pendapat yang disajikan kepada responden yang memberikan indikasi

    pernyataan. Tiap item diukur melalui empat kategori jawaban yaitu “Sangat Sesuai”

    (SS), “Sesuai” (S), “Tidak Sesuai” (TS), dan “Sangat Tidak Sesuai” (STS). Dengan

    tidak menggunakan pilihan jawaban tengah (netral/ragu-ragu). Instrumen

    pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala subjective

    well-being, skala totalitas kerja, skala syukur, skala dukungan sosial.

    Tabel 3.1

    Format skoring skala Likert

    Skala Favorable Unfavorable

    Sangat Sesuai (SS) 4 1

    Sesuai (S) 3 2

    Tidak Sesuai (TS) 2 3

    Sangat Tidak Sesuai (STS) 1 4

    3.4.1 Instrument Penelitian

    a. Skala subjective well-being

    Untuk mengukur kesejahteraan subjektif, digunakan FS (Flourishing Scale) terdiri

    dari 8 item yang diadaptasi oleh Ed Diener dan Robert Biswas-Diener (2009) untuk

  • mengukur koponen kognitif dan afek positif serta negatif menggunakan SPANE

    (Scale of Positive and Negative Experience) yang terdiri dari 12 item, untuk

    mengukur komponen afektif positif terdiri dari 6 item serta 6 item lagi untuk

    mengukur afek positif yang telah dimodifikasi oleh Ed Diener dan Robert Biswas-

    Diener (2009). Peneliti mengubah rentangan skala 7 menjadi skala 4 yaitu, Tiap

    item diukur melalui empat kategori jawaban yaitu “Sangat Sesuai” (SS), “Sesuai”

    (S), “Tidak Sesuai” (TS), dan “Sangat Tidak Sesuai” (STS). Dengan tidak

    menggunakan pilihan jawaban tengah (netral/ragu-ragu).

    Tabel 3.2

    Blue Print Skala Flourishing Scale dan Scale of Positive and Negative Experience

    No. Dimensi Indikator Item Jumlah

    1. Kognitif a. Evaluasi kepuasan hidup secara global. 1, 2, 3, 4 8

    b. Evaluasi kepuasan hidup secara domain. 5, 6, 7, 8

    2. Afektif a. Afek positif 9, 11, 13, 15, 18, 20 12

    b. Afek negatif 10, 12, 14, 16, 17, 19

    Total 20

    b. Skala Utrecht Work Engagement scale (UWES)

    Skala ini dikembangkan oleh Wilmar B. Schaufeli, Arnold B. Bakker, dan Marisa

    Salanova pada tahun 2006. Skala ini terdiri dari 17 Item Dimensi Vigoratau

    semangat terdiri dari 6 item, dimensi dedikasi terdiri dari 5 item, dan dimensi

    absorbsi atau penyerapan terdiri dari 6 item. Skala Utrecht Work Engagement scale

    (UWES) mempunyai konsistensi internal yang baik, dimana alpha Cronbach nya

    ada di 0,80 (Schaufeli & Bakker, 2004). Tiap item diukur melalui empat kategori

  • jawaban yaitu “Sangat Sesuai” (SS), “Sesuai” (S), “Tidak Sesuai” (TS), dan

    “Sangat Tidak Sesuai” (STS). Dengan tidak menggunakan pilihan jawaban tengah

    (netral/ragu-ragu).

    Tabel 3.3

    Blue Print Skala Utrecht Work Engagement Scale

    No. Dimensi Indikator Item Jumlah

    1. Vigor a. Curahan energi dan mental yang kuat 1, 2, 5,10 4

    selama bekerja.

    b. Keberanian untuk berusaha sekuat

    tenaga dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

    c. Tekun dalam menghadapi kesulitan kerja.

    d. Kemauan untuk menginvestasikan segala upaya

    dalam suatu pekerjaan.

    e. Tetap bertahan meskipun menghadapi kesulitan.

    2. Dedikasi a. Menemukan kesulitan dalam memisahkan diri 3, 4,7,11 4

    dengan pekerjaan

    b. Mengalami rasa kebermaknaan, antusiasme,

    kebanggaan, inspirasi dan tantangan.

    3. Absorbsi a. Bekerja penuh dengan konsentrasi 6, 8, 9, 12 4

    b. Serius terhadap pekerjaan

    c. Dalam bekerja waktu terasa begitu cepat

    d. Menemukan kesulitan dalam memisahkan

    diri dengan pekerjaan

    Total 12

    3. Skala Gratitude Resentment and Appreciation Test (GRAT-Revised)

    GRAT Gratitude Resentment and Appreciation Testterdiri dari 16 item yang

    disusun berdasarkan karakteristik gratitude. Menurut Watkins, Woodward, Stone

    & Kolts (2003) gratitude terdiri dari 3 unsur, yaitu sense of abudance, appreciation

    for others, dan simple appreciation. Instrumen ini telah diterjemahkan dan

    diadaptasi oleh peneliti ke dalam Bahasa Indonesia. Menggunakan jenis skala

  • Likert dengan empat pilihan. Peneliti mengubah rentangan skala 7 menjadi skala 4

    yaitu, tiap item diukur melalui empat kategori jawaban yaitu “Sangat Sesuai” (SS),

    “Sesuai” (S), “Tidak Sesuai” (TS), dan “Sangat Tidak Sesuai” (STS). Dengan tidak

    menggunakan pilihan jawaban tengah (netral/ragu-ragu).

    Tabel 3.3 Blue Print Skala Gratitude Resentment and Appreciation Test

    No. Dimensi Indikator Item Jumlah

    1. Sense of Abundance Terdapat perasaan berkelimpahan 3, 11, 14, 6

    16, 18, 12

    2. Appreciation for Others Terdapat perasaan untuk 4, 8, 5 6

    menghargai pemberian orang lain 6, 7, 9

    3. Simple Appreciation Mampu menghargai hal- hal 1, 2, 10,