PENGARUH PENYULUHAN GIZI TERHADAP STATUS GIZI ...

of 84 /84

Click here to load reader

Embed Size (px)

Transcript of PENGARUH PENYULUHAN GIZI TERHADAP STATUS GIZI ...

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    PENGARUH PENYULUHAN GIZI TERHADAP STATUS GIZI, PERKEMBANGAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL

    BALITA (USIA 2 - 5 TAHUN)

    (DI DESA PENATARSEWU TANGGULANGIN SIDOARJO JAWATIMUR)

    TESIS

    Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Kedokteran Keluarga

    Minat Utama Pendidikan Profesi Kesehatan

    Oleh:

    NUR SAIDAH NIM : S540209224

    PROGRAM PASCA SARJANA

    UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET SURAKARTA

    2010

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    HUBUNGAN PENYULUHAN GIZI DENGAN STATUS GIZI,

    PERKEMBANGAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL BALITA

    (USIA 2 5 TAHUN) DI DESA PENATARSEWU

    TANGGULANGIN SIDOARJO JAWATIMUR

    TESIS

    Oleh :

    NUR SAIDAH

    NIM S540209224

    Telah Disetujui Oleh Tim Pebimbing

    Jabatan Nama TandaTangan Tanggal

    Pembimbing 1 Prof.Dr.Ambar Mudigdo,dr, SpPA (K) _____________

    Pembimbing II dr.Bambang Sukilarso, MS _____________

    Mengetahui,

    Ketua Program Studi Magister Kedokteran Keluarga

    Minat Utama Pendidikan Profesi Kesehatan

    Prof. Dr. Didik G. Tamtomo, dr, M. Kes. MM. PAK

    NIP. 1948 03 13 1976 10 1 001

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    PERNYATAAN Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :

    Nama : Nur Saidah

    NIM : S540209224

    menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul HUBUNGAN

    PENYULUHAN GIZI DENGAN STATUS GIZI, PERKEMBANGAN FISIK

    DAN PSIKOSOSIAL BALITA (2 -5TAHUN ) DI DESA PENATARSEWU

    TANGGULANGIN KABUPAREN SIDOARJO JAWA TIMUR adalah betul-

    betul karya saya sendiri.

    Hal-hal yang bukan karya saya dalam tesisi tersebut diberi tanda dan ditunjukkan

    dalam daftar pustaka.

    Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia

    menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh

    dari tesis tersebut.

    Surakarta,

    Yang membuat pernyataan

    Nur Saidah

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user ii

    ABSTRAK

    Nur Saidah, S540209224, 2010.Pengaruh Penyuluhan Gizi terhadap Status Gizi, Perkembangan Fisik Dan Psikososial Balita (Usia 2 5 Tahun) Di Desa Penatarsewu Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Tesis: Program Studi Magister Kedokteran Keluarga, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret.

    Masalah gizi di Indonesia Khususnya pada Balita menjadi masalah besar, karena berkaitan erat dengan indikator kesehatan umum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penyuluhan gizi terhadap status gizi, perkembangan fisik dan perkembangan psikososial Balita (usia 2-5 tahun). Jenis Penelitian ini Quasi experiment dalam bentuk one group pre test dan post test design. Variabel independent penelitian ini penyuluhan gizi variabel dependentnya status gizi, perkembangan fisik dan perkembangan psikososial. Sampel seluruh Balita (usia 2 5 tahun) di Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur diambil secara Cluster Random Sampling dengan jumlah 109 Balita dan ibunya. Instrumen yang digunakan adalah quesioner, KMS, timbagan berat badan dan DDST. Selanjutnya data di analisis uji beda Mc Nemar. Penelitian ini menunjukkan hasil uji Mc Nemar p < = 0,05 Ho diterima artinya ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan antara penyuluhan gizi dengan status gizi, perkembangan fisik dan perkembangan psikososial. Pentingnya peningkatan pengetahuan bagi kaum ibu karena semakin baik pengetahuan ibu akan semakin besar kemungkinannya untuk mempunyai Balita dengan status gizi dan perkembangan fisik dan psikomotor yang baik pula sehingga dapat dicapai perkembangan anak yang optimal Kata kunci : penyuluhan gizi, status gizi, perkembangan fisik dan perkembangan psikososial

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user iii

    ABSTRACT

    Nur Saidah, S540209224, 2010. the relationship between nutrition counseling with growth physical and physicosocial toddler (aged 2-5 years) in Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo of East Java. Thesis : Master of family medicine, Post Graduate Program, Sebelas Maret University.

    The nutrition problem in Indonesia especially in toddler become a major problem, because it is closely related to general health indicator. The aim of this research is to know relationship between nutritional status, growth physical and growth physicosocial toddler ( aged 2-5 years). The type of this research is quasy experiment in one group pre test and post test design. The independent variable is nutrition counseling but the dependent variable is nutritioanal status,growth physical and physicosocial. All of toddlers (aged 2-5 years) in Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo of East Java are taken by cluster Random sampling with as number 109 babies and their mothers. The instrument is used by questionnarie, KMS, Weight scales and DDST. Then the data is analyzed by difference wilcoxon test and linear regression. This research shows the result of wilcoxon > = 0,05 Ho acceptable means no difference significant between pre- and post treatment. The result of regression linear is not related to nutrition counseling with nutritional status (p > = 0,05). So, the relationship between nutrition counseling with growth physical and physicosocial shows significant relationship p = 0,000 < = 0,05. The importance of improving knowledge for women because of the better knowledge of the mother will be more likely to have babies with nutritional status and physical and psychomotor development are well too so that they can achieve the optimal development of children Keywords: Nutrition Counseling, Nutritioanal status, Growth Status and Growth

    psychosocial.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user iv

    PENGARUH PENYULUHAN GIZI TERHADAP STATUS GIZI,

    PERKEMBANGAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL

    BALITA (USIA 2 5 TAHUN)

    (DI DESA PENATARSEWU TANGGULANGIN SIDOARJO JAWATIMUR)

    Disusun Oleh

    NUR SAIDAH

    S.540209224

    Telah Disetujui Oleh Tim Pembimbing

    Pada tanggal..............................

    Pembimbing I Pembimbing II

    Prof.Dr.Ambar Mudigdo,dr, SpPA (K) Bambang Sukilarso,dr,MS

    NIP.19490317 197609 1 001 NIP. 19510306 197903 1 002

    Mengetahui :

    Ketua Program Studi Magister Kedokteran Keluarga

    Prof. Dr. Didik Tamtomo,dr.MM,M.Kes.PAK

    NIP. 19480313 197610 1 001

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user v

    TESIS

    PENGARUH PENYULUHAN GIZI TERHADAP STATUS GIZI, PERKEMBANGAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL

    BALITA (USIA 2 5 TAHUN)

    (DI DESA PENATARSEWU TANGGULANGIN SIDOARJO JAWATIMUR)

    Disusun Oleh

    NUR SAIDAH

    S.540209224

    Telah Disetujui Oleh Tim Pembimbing

    Pada tanggal..............................

    Jabatan : Nama TandaTangan

    Ketua : Prof. Dr. Didik Tamtomo,dr.MM,M.Kes.PAK .................

    NIP. 19480313 197610 1 001

    Sekretaris : Dr.Nunuk Suryani, MPd ..................

    NIP. 19661108 199003 2 001

    Anggota : 1. Prof.Dr.Ambar Mudigdo,dr, SpPA (K) .....................

    NIP. 19490317 197609 1 001

    2. Bambang Sukilarso,dr, MS ......................

    NIP. 19510306 197903 1 002

    Surakarta,................................................

    Mengetahui,

    Direktur PPs UNS Ketua Program Studi MKK

    Prof. Drs. Suranto, M.Sc. Ph.D Prof. Dr.DidikTamtomo,dr.MM,M.Kes.PAK

    NIP. 1957 0820 198503 1004 NIP. 19480313 197610 1 001

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user vi

    PERNYATAAN

    Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :

    Nama : Nur Saidah

    NIM : S540209224

    Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul PENGARUH PENYULUHAN GIZI TERHADAP STATUS GIZI, PERKEMBANGAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL BALITA (USIA 2 5 TAHUN) DI DESA PENATARSEWU TANGULANGIN SIDOARJO JAWATIMUR adalah betul betul karya sendiri. Hal hal yang bukan karya saya, dalam tesis tersebut diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

    Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut.

    Surakarta, Agustus 2010

    Yang membuat pernyataan,

    Nur Saidah

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user vii

    KATA PENGANTAR

    Atas berkat rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia-Nya

    sehingga penyusunan tesis yang berjudul Pengaruh Penyuluhan Gizi Terhadap

    Status Gizi, Perkembangan Fisik dan Perkembangan Psikososial Balita (usia

    25 tahun) di desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten

    Sidoarjo Jawa Timur Tahun 2010dapat terselesaikan.

    Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari semua pihak

    yang terkait, penelitian ini tidak dapat terwujud, untuk itu dengan segala hormat

    perkenankan penulis menyampaikan terima kasih kepada :

    1. Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Prof. Dr. H. Samsyul

    Hadi,dr, SPKJ (K).

    2. Direktur Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Prof. Drs. Suranto,

    M.Sc.PhD. yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk

    mengikuti program Magister di Program Pascasarjana Universitas Sebelas

    Maret.

    3. Ketua Program Studi Magister Kedokteran Keluarga, Prof.Dr.Didik

    Tamtomo,dr.,M.Kes. PAK, yang telah memberikan kesempatan kepada saya

    untuk mengikuti program Magister di Program Pascasarjana Universitas

    Sebelas Maret.

    4. Pembimbing I, Prof.Dr. Ambar Mudigdo,dr., SpPA ( K ) yang telah banyak

    meluangkan waktunya untuk menanggapi konsultasi saya serta bersedia

    membimbing saya dan memberikan nilai yang terbaik untuk semua

    muridnya, tidak terkecuali saya. Dengan segala hormat saya mengucapkan

    terimakasih atas bantuan dan kepeduliannya.

    5. Pembimbing II, Bambang Sukilarso,dr., MS yang telah membimbing saya

    sehingga bisa lebih mendalami tentang Ilmu Kedokteran Keluarga serta

    bersedia untuk menjadi pembimbing II.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user viii

    6. Semua guru-guru saya di Program Studi magister Kedokteran Keluarga UNS

    serta teman teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih

    atas bekal ilmu yang telah diberikan, semoga menjadi amal jariyah yang

    bermanfaat.

    7. Bidan desa Penatarsewu, ibu ibu di Desa penatarsewu dan semua pihak

    yang memotivasi sehingga penyusunan tesis ini terselesaikan.

    8. Ketua Yayasan Warga Kesejahteraan Warga Kesehatan Mojokerto yang telah

    memberikan kesempatan untuk meningkatkan jenjang pendidikan.

    9. Suami dan ketiga anak anakku tersayang serta seluruh keluarga tercinta

    yang telah banyak berkorban dengan penuh kasih dan kesabaran hingga

    terselesaikannya penulisan tesis ini.

    Akhirnya atas bimbingan dan bantuan semuanya kami sampaikan banyak

    terima kasih. Harapan penulis semoga tesis yang masih jauh dari sempurna ini

    mendapatkan saran dan masukan agar menjadi lebih baik dan dapat bermanfaat.

    Surakarta , Juli 2010

    Penulis.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user ix

    DAFTAR ISI

    Hal

    HALAMAN JUDUL ........................................................................... i

    ABSTRAK .......................................................................................... ii

    LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................ iv

    PERNYATAAN .................................................................................. vi

    KATA PENGANTAR.. .......................................................................... vii

    DAFTAR ISI.......................................................................................... ix

    DAFTAR TABEL.. xi

    DAFTAR GAMBAR ............................................................................ xii

    DAFTAR SINGKATAN ...................................................................... xiii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar belakang ................................................................ 1 B. Identifikasi masalah ........................................................ 3 C. Pembatasan Masalah ....................................................... 4 D. Rumusan masalah ............................................................ 4 E. Tujuan penelitian ............................................................ 4 F. Manfaat penelitian ......................................................... 5

    BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

    A. Kajian Teori .............................................................................. 6 1. Konsep Dasar Penyuluhan ................................................. 6 2. Konsep Dasar Status Gizi .................................................. 17 3. Konsep Dasar Balita ........................................................... 24 4. KonsepDasar Perkembangan ......................................... 34

    B. Penelitian yang Relevan .......................................................... 39 C. Kerangka Berpikir ................................................................... 42 D. Hipotesis Penelitian .......................................................... 43

    BAB III METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian........................................................................... 44 B. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian.................................. 44 C. Populasi, Sampel dan Sampling................................................. 44 D. Variabel Penelitian................................................................... 46 E. Definisi Operasional dan Alat Ukur..................................... 46 F. Teknik Pengumpulan Data........................................................ 47 G. Teknik Anlisisa Data................................................................. 48

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user x

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Diskripsi Tempat Penelitian ........................................................... 50 1. Gambaran lokasi Penelitian....................................................... 50 2. Data umum Responden ............................................................ 51 3. Karakteristik Individu............................................................... 51

    B. Hasil Penelitian................................................................................. 53 1. Analisis Pengaruh Penyuluhan gizi terhadap Status Gizi ....... 54 2. Analisis Pengaruh Penyuluhan GiziTerhadap Perkembangan

    Fisik .......................................................................................... 54 3. Analisis Pengaruh Penyuluhan Gizi terhadap Perkembangan

    Psikososial ................................................................................ 55 C. Pembahasan ..................................................................................... 55

    1. Pengaruh Penyuluhan gizi Terhadap Status Gizi ..................... 55 2. Pengaruh Penyuluhan Gizi terhadap Perkembangan Fisik ....... 60 3. Pengaruh Penyuluhan Gizi Terhadap Perkembangan Psikososial .. 62

    D. Keterbatasan Penelitian ................................................................... 65

    BAB V. PENUTUP A. Simpulan ......................................................................................... 66 B. Implikasi.. .... 66 C. Saran ................................................................................................ 66

    DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 68 LAMPIRAN...................................................................................................... 71

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xi

    DAFTAR TABEL

    Nomor Judul Tabel Halaman

    2.1 Status Gizi Berdasarkan Indeks Antropometri 22

    3.1 Penyebaran Responden Berdasarkan Tempat Posyandu 47

    4.1 Distribusi Frekuensi ibu Balita Berdasarkan Usia 51

    4.2 Distribusi Frekuensi Ibu Balita Berdasarkan Pekerjaan 52

    4.3 Distribusi Frekuensi Ibu Balita Berdasarkan Pendidikan 53

    4.4 Pengaruh Penyuluhan Gizi dengan Status Gizi 54

    4.5 Pengaruh Penyuluhan Gizi dengan perkembangan

    Fisik 54

    4.6 Pengaruh Penyuluhan Gizi dengan Perkembangan

    Psikososial 55

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xii

    DAFTAR GAMBAR

    Nomor Judul Gambar Halaman

    2.1 Kerangka Berfikir 42

    4.1 Peta Desa Penatarsewu 51

    4.2 Grafik Batang berdasarkan umur Ibu 52

    4.3 Grafik Batang Berdasarkan Pekerjaan Ibu 52

    4.4 Grafik Batang Berdasarkan Pendidikan Ibu 53

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xiii

    DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG/ISTILAH

    Daftar Singkatan

    Balita : Bawah Lima Tahun

    KMS : Kartu Menuju Sehat

    NCHS : National Center For Health Statistics

    TB/U : Tinggi Badan / Umur

    BB/U : Berat Badan / Umur

    BB/TB : Berat Badan / Tinggi Badan

    MP ASI : Makanan Pendamping Air Susu Ibu

    Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu

    BPS : Bidan Praktek Swasta

    RT : Rukun Tetangga

    DDST : Denver Developmental Screening Test

    SD : Standart Deviasi

    Dinkes : Dinas Kesehatan

    Daftar lambang/ Istilah :

    % : Persen

    : Alfa

    > : Lebih Besar

    < : Lebih Kecil

    P : Probabilitas

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xiv

    DAFTAR LAMPIRAN

    Nomor Judul Lampiran Halaman

    1 Lembar Persetujuan Menjadi Responden 76

    2 Kuesioner 77

    3 Kartu Menuju Sehat 81

    4 DDST 85

    5 Satuan Acara Penyuluhan 86

    5 Leaflet Gizi 99

    6 Tabel Berat Badan Menurut Umur 100

    7 Baku Berat Badan Menurut Umur 104

    8 Cara menghitung status gizi cara Z-Score 106

    9 Permohonan Ijin Penelitian dari UNS Surakarta 107

    10 Jawaban Permohonan dari Kesbanglinmas Kabupaten

    Sidoarjo 108

    11 Surat Jawaban Permohonan Ijin dari Kecamatan Tanggulangin 109

    12 Surat Jawaban Permohonan Ijin DesaPenatarsewu 110

    13 Surat Keterangan dari Bidan Desa Penatarsewu 111

    14 Rekapitulasi Hasil Penelitian 112

    15 Analisis Statistik menggunakan SPSS 122

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xv

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    A. LATAR BELAKANG

    Penilaian tumbuh kembang perlu dilakukan untuk menentukan apakah

    tumbuh kembang seorang anak berjalan normal atau tidak, baik dilihat dari segi

    medis maupun statistik. Anak yang sehat akan menunjukkan tumbuh kembang

    yang optimal, apabila diberikan lingkungan bio fisiko psikososial yang

    adekuat. Setiap orang tua berkeinginan agar anaknya dapat tumbuh kembang

    optimal, yaitu mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai

    dengan potensi genetik yang ada pada anak dan hal ini harus dipenuhi sejak dini

    (Soetjiningsih, 2005). Makna pertumbuhan dan perkembangan mencakup dua

    peristiwa yang statusnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan

    (Supariasa, 2001). Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta

    jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh

    sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan

    berat sedangkan perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh

    yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan

    bahasa serta sosialisasi dan kemandirian (Rusmil, 2008).

    Beberapa ahli di bidang tumbuh kembang anak, mengungkapkan konsep

    yang berbeda-beda tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

    seseorang. Namun demikian perbedaan tersebut dapat pula ditarik beberapa

    persamaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan. Persamaan

    tersebut mengatakan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu

    utama yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti biologis,

    termasuk genetik dan faktor eksternal seperti status gizi. Gizi merupakan suatu

    proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui

    proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran

    zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan (Supariasa,

    2001). Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui orang tua.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    2

    Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta

    bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini bersifat irreversible (Nita,

    2008).

    Kekurangan gizi pada masa balita akan berpengaruh besar pada kualitas

    seseorang nantinya. Asupan gizi yang kurang pada dua tahun pertama

    pertumbuhan, bisa menyebabkan gangguan serius pada perkembangan otak yang

    mengakibatkan tingkat kecerdasan anak terhambat (Siswono, 2009). Kurang gizi

    pada balita dapat berdampak terhadap pertumbuhan fisik maupun mentalnya.

    Anak kelihatan pendek, kurus dibandingkan dengan teman sebayanya yang lebih

    sehat. Ketika memasuki usia sekolah tidak bisa berprestasi menonjol karena

    kecerdasannya terganggu (Khomsan, 2008).

    Masalah gizi di Indonesia khususnya pada balita, menjadi masalah besar

    karena berkaitan erat dengan indikator kesehatan umum seperti tingginya angka

    kesakitan serta angka kematian bayi dan balita sehingga menilik catatan Indeks

    Pembangunan Manusia (IPM), Indonesia masih berada pada peringkat 108 dari

    177 negara di dunia. Hingga pertengahan tahun 2008 jumlah balita yang

    mengalami kekurangan gizi masih pada kisaran 4 juta jiwa dari 110 juta balita di

    Indonesia. Dilihat dari kacamata statistik, angka ini presentasenya sangat kecil

    jika dibandingkan dengan keseluruhan penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih

    dari 220 juta orang. Namun tidak bisa diabaikan karena ini menyangkut masalah

    kemanusiaan. Departemen Kesehatan mengklasifikasikan angka tersebut dalam

    beberapa kategori yaitu gizi kurang, risiko gizi buruk, dan gizi buruk. Data

    Depkes awal Maret 2008, jumlah balita penderita malnutrisi pada tahun 2007

    adalah 4,1 juta jiwa. Sebanyak 3,38 juta jiwa berstatus gizi kurang dan 755 ribu

    termasuk kategori risiko gizi buruk (Siswono, 2009).

    Khusus daerah Jawa Timur, berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Jawa

    Timur pada bulan Maret 2008, prevalensi gizi buruk mencapai 20 persen,

    sementara balita gizi buruknya 8,7 persen (Adiningsih, 2008). Kabupaten Sidoarjo

    merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang juga rawan kasus gizi buruk.

    Dari data status gizi balita provinsi Jawa Timur tahun 2007, Prevalensi balita gizi

    buruk 0,71% dari 81.495 balita.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    3

    Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 25 Februari 2010 yang

    dilaksanakan di Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin-Sidoarjo pada bulan

    Desember 2009, prevalensi balita 2 5 tahun yang mengalami gizi buruk sebesar

    2,85 persen dari 140 balita dan berdasarkan wawancara dari 10 orang didapatkan

    (70%) tidak mengetahui bahwa pengetahuan gizi dapat mempengaruhi status gizi

    dan perkembangan balita .

    Menurut Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan Bogor Trintrin Tjukani

    menemukan sebuah konsep bagaimana menanggulangi masalah kekurangan gizi

    pada anak balita atau enam langkah membuat status gizi balita meningkat yang

    diuji cobakan melalui sebuah penelitian di Kabupaten Pandeglang

    Banten.Pertama, pengorganisasian masyarakat. Kedua, pelatihan. Ketiga,

    penimbangan balita. Keempat, penyuluhan gizi. Kelima, pemberian makanan

    tambahan. Dan keenam, penggalangan dana ( Republika, 27 September 2001).

    Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan

    penelitian yang berjudul pengaruh peyuluhan gizi terhadap status gizi,

    perkembangan fisik dan perkembangan psikososial Balita (usia 2 5 tahun) di

    Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur

    Tahun 2010 .

    B. IDENTIFIKASI MASALAH

    Pertumbuhan dan perkembangan balita dipengaruhi oleh dua faktor antara

    lain faktor genetik dan faktor lingkungan (Aziz Alimul, 2005). Penilaian

    pertumbuhan dan perkembangan anak sangat bermanfaat, baik secara klinik

    maupun di lapangan. Cara penilaiannya meliputi anamnesa, pemeriksaan

    antropometrik, gejala klinis, pemeriksaan laboratorium dan radiologik sesuai

    dengan kebutuhan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    4

    C. PEMBATASAN MASALAH

    Penelitian ini dibatasi pada pengaruh penyuluhan gizi terhadap status gizi,

    perkembangan fisik dan perkembangan psikososial Balita (usia 2 5 tahun) di

    Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur

    Tahun 2010.

    D. RUMUSAN MASALAH

    Berdasarkan pada latar belakang masalah maka rumusan masalah yang

    dapat di kemukakan adalah sebagai berikut :

    1. Adakah pengaruh penyuluhan gizi terhadap status gizi Balita (usia 2 5

    tahun)?

    2. Adakah pengaruh penyuluhan gizi terhadap perkembangan fisik Balita (usia 2

    5 tahun) ?

    3. Adakah pengaruh penyuluhan gizi terhadap perkembangan psikososial Balita

    (usia 2 5 tahun) ?

    E. TUJUAN PENELITIAN

    1. Mengetahui pengaruh penyuluhan gizi terhadap status gizi Balita (usia 2 5

    tahun).

    2. Mengetahui pengaruh penyuluhan gizi terhadap perkembangan fisik Balita

    (usia 2 5 tahun ).

    3. Mengetahui pengaruh penyuluhan gizi terhadap perkembangan psikososial

    Balita (usia 2-5 tahun).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    5

    F. MANFAAT PENELITIAN

    1. Manfaat Teoritis

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti-bukti

    empiris tentang teori bahwa perkembangan psikomotor dan perkembangan

    fisik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Penyuluhan gizi dan

    Status Gizi termasuk dalam faktor eksternal yang berpengaruh terhadap

    perkembangan fisik dan psikomotor tersebut.

    2. Manfaat Praktis

    a. Dinas Kesehatan

    Penelitian ini dapat digunakan untuk membantu pemerintah

    dalam bidang kesehatan untuk menjalankan program-program kesehatan

    yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak sehingga dapat dicapai

    derajat kesehatan anak yang optimal.

    b. Tempat penelitian

    Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi pemerintah

    desa untuk meningkatkan program kesehatan Balita sehingga kwalitas

    Balita di desa sama dengan kwalitas Balita yang di kota.

    c. Ibu Balita Desa Penatarsewu

    Penelitian ini dapat menambah pengetahuan ibu Balita tentang

    cara meningkatkan status gizi bagi balitanya sehingga perkembangan fisik

    dan psikososial anak di masa depan lebih baik.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    6

    BAB II

    KAJIAN TEORI

    A. KAJIAN TEORI

    1. Konsep Dasar Penyuluhan

    a. Pengertian penyuluhan

    Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan

    dengan cara menyebarkan pesan, sehingga masyarakat tidak saja sadar,

    tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang

    ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan kesehatan adalah

    gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-

    prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga,

    kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, atau

    bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara

    perseorangan maupun secara kelompok dan meminta pertolongan (Nasrul

    effendy dalam Eli dan Neil, 2008 ).

    Menurut Azrul Anwar, penyuluhan kesehatan adalah kegiatan

    pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan ,menanamkan

    keyakinan sehingga masyarakat tidak saja sadar ,tahu dan mengerti ,tetapi

    juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungan nya

    dengan kesehatan.

    Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri

    seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan

    individu, dan masyarakat. Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan

    kepada seseorang oleh orang lain, bukan seperangkat prosedur yang harus

    dilaksanakan atau suatu prdoduk yang harus dicapai, tetapi sesungguhnya

    suatu proses perkembangan yang berubah secara dinamis, yang di

    dalamnya seseorang menerima atau menolak informasi, sikap maupun

    praktek baru, yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat (Suliha, 2002)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    7

    b. Tujuan pendidikan kesehatan adalah (Nasrul Effendy dalam Eli dan Neil,

    2008):

    1) Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat

    dalam membina dan memelihara perilaku hidup sehat dan

    lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan

    derajat yang optimal.

    2) Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga kelompok dan

    masyarakat sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan

    sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian.

    3) Menurut WHO tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk mengubah

    perilaku perseorangan dan atau masyarakat dalam bidang kesehatan.

    c. Faktor-faktor yang diperhatikan terhadap sasaran dalam keberhasilan

    penyuluhan kesehatan adalah:

    1) Tingkat pendidikan

    Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang

    terhadap informasi baru yang diterimanya. Maka dapat dikatakan

    bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin mudah seseorang

    menerima informasi yang didapatnya.

    2) Tingkat sosial ekonomi

    Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin

    mudah pula dalam menerima informasi baru.

    3) Adat istiadat

    Pengaruh adat istiadat dalam menerima informasi baru

    merupakan hal yang tidak dapat diabaikan, karena masyarakat kita

    masih sangat menghargai dan menganggap sesuatu yang tidak boleh

    diabaikan.

    4) Kepercayaan masyarakat

    Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang

    disampaikan oleh orang-orang yang sudah mereka kenal, karena

    sudah timbul kepercayaan masyarakat dengan penyampai informasi.

    5) Ketersediaan waktu di masyarakat

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    8

    Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat

    aktivitas masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran masyarakat

    dalam penyuluhan.

    d. Metode Penyuluhan

    Menurut Notoatmodjo (2003:105), metode yang dapat

    dipergunakan dalam memberikan penyuluhan kesehatan adalah:

    1) Metode ceramah

    Merupakan suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan

    suatu ide, pengertian atau pesan secara lisan kepada sekelompok

    sasaran, sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan.

    2) Metode diskusi kelompok.

    Merupakan pembicaraan yang direncanakan dan telah

    dipersiapkan. tentang suatu topik pembicaraan diantara 5-20 peserta

    (sasaran) dengan seorang pemimpin diskusi yang telah ditunjuk.

    3) Metode curah pendapat.

    Merupakan suatu bentuk pemecahan masalah di mana setiap

    anggota mengusulkan semua kemungkinan pemecahan masalah yang

    terpikirkan oleh masing-masing peserta, dan evaluasi atas pendapat-

    pendapat tadi dilakukan kemudian.

    4) Metode panel.

    Merupakan pembicaraan yang telah direncanakan di depan

    pengunjung atau peserta tentang sebuah topik, diperlukan 3 orang atau

    lebih panelis dengan seorang pemimpin.

    5) Metode bermain peran.

    Merupakan memerankan sebuah situasi dalam kehidupan

    manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua orang atau

    lebih untuk dipakai sebagai bahan pemikiran oleh kelompok.

    6) Metode demonstrasi.

    Merupakan suatu cara untuk menunjukkan pengertian, ide dan

    prosedur tentang sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti

    untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan,

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    9

    adegan dengan menggunakan alat peraga. Metode ini digunakan

    terhadap kelompok yang tidak terlalu besar jumlahnya.

    7) Metode simposium.

    Merupakan serangkaian ceramah yang diberikan oleh 2 sampai

    5 orang dengan topik yang berlebihan tetapi saling berhubungan erat.

    8) Metode seminar.

    Merupakan suatu cara di mana sekelompok orang berkumpul

    untuk membahas suatu masalah di bawah bimbingan seorang ahli

    yang menguasai bidangnya.

    e. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan kesehatan :

    1) Masukan sendiri juga metode materi atau pesan nya

    2) Pendidik atau petugas yang melakukannya

    3) Alat-alat bantu atau alat peraga pendidikan (Notoadmodjo,2003:103)

    f. Tujuan pendidikan kesehatan :

    1) Mengubah pengetahuan/pengertian ,pendapat dan konsep konsep

    2) Mengubah sikap dan persepsi

    3) Menanamkan tingkah laku atau kebisaan yng baru (Notoadmodjo,

    2003:113)

    Di bawah ini akan diuraikan beberapa metode pendidikan

    individual, kelompok dan massa:

    a) Metode pendidikan Individual (Perorangan)

    Metode pendidikan yang bersifat individual digunakan untuk

    membina perilaku baru ,atau seseorang yang mulai tertarik kepda

    sesuatu perubahan perilaku atau inovasi, hal ini disebapkan

    karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-

    beda sehubungan dengan penerimaa atau perilaku baru.

    Bentuk dari pendekatan ini ,antara lain :

    (1) Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling)

    Dengan cara ini kontak antara klien dengn petugas

    kesehatan lebih intensif setiap masalah yang dihadapi oleh

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    10

    klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaianya

    (Notoadmojo,2003:104)

    (2) Interview (wawancara)

    Cara ini merupakan bagian dari bimbingan dan

    penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan

    klien untuk mengali informasi mengapa ia tidak mau atau

    belum menerima perubahaan.ia tertarik atau belum menerima

    prubahan untuk megtahui pakah perilaku yang sudah atau yang

    akan diabdosi itu mempunyai dasar pengrtian dan kesadaran

    yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih

    mendalam lagi (Notoadmodjo;2003:104)

    b) Metode Pendidikan Kelompok

    Dalam memilih metode pendidikan kelompok harus

    mengingat besanya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan

    formal pada sasaran.Unuk keompok yang besar, metodenya akan

    lain dengan kelompok kecil .Efektivitas suatu metode akan

    tergatung pula pada besarnya sasaran pendidikan.

    (1) Kelompok Besar

    Yang dimaksud kelompok besar apabila peserta

    penyuluhan lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk

    kelompok besar antara lain :

    (a) Ceramah: Metode ini baik untuk sasaran yang

    berpendidikan tinggi maupun rendah

    Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam menggunakan

    metode ceramah :

    i) Persiapan

    Ceramah yang berhasil apabila penceramah

    menguasai materi yang akan diceramahkan .Untuk itu

    penceramah harus mempersiapkaan diri dengan:

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    11

    (i) Mempelajari materi dengan sistematik yang baik

    ,lebih baik lagi kalau disusun dalam diagram atau

    skema.

    (ii) Menyiapkan alat-alat bantu pengajaran.

    ii) Pelaksana

    Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah

    adalah apabila penceramah dapat menguasai sasaran

    ceramah untuk dapat menguasai sasaran penceramah

    dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :

    (i) Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh

    ragu-ragu dan gelisah.

    (ii) Suara hendaknya cukup keras dan jelas.

    (iii) Pandangan harus tertuju keseluruh peserta ceramah.

    (Notoadmodjo, 2003:105).

    (b) Seminar

    Metode ini hanya cook unuk sasaran kelompok besar

    dengan pendidikan menengah ke atas.Seminar adalah suatu

    penyajian dari satu satu ahli atau beberapa ahli tentang

    suatu topik yang di anggap penting dan biasanya di anggap

    hangat di masyarakat(Notoadmodjo,2003:106)

    (2) Kelompok Kecil

    Apabila pesrta kegiatan kurang dari 15 orang biasanya

    disebut kelompok kecil.Metode metode yang cocok untuk

    kelompok kecil,antara lain:

    (a) Diskusi kelompok

    Dalam diskusi kelompok semua anggota bebas

    berpartisipasi dalam diskusi,maka formasi duduk para

    peserta diatur sedemikian rupa sehingga dapat berhadap-

    hadapan atau saling memandang satu sama lain.Untuk

    memulai diskusi,harus memberi pancingan berupa

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    12

    pertanyaan atau kasus sehubungan dengn topic yang di

    bahasa.

    (b) Curah pendapat (Brain Storming)

    Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi

    kelompok.Prinsipnya sama metode diskusi kelompok

    memancing dengan satu masalah kemudian tiap peserta

    memberikan jawaban-jawaban atau tanggapan(cara

    pendapat). Tanggapan atau Jawaban-jawaban tersebut

    ditampung dan di tulis dalam flipchart atau papan

    tulis.Sebelum semua peserta mencurahkan

    pendapatnya,tidak boleh diberi komentar oleh siapapun.

    (c) Bola Salju (Snow Balling)

    Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1

    pasang 2 orang). Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan

    atau masalah,setelah ebih kurang 5 menit tiap 2 pasang

    bergabung menjadi satu.Mereka tetep mendiskusikan

    masalah terebut dan mencari kesimpulan.Kemdian tiap dua

    pasang yang sudah beranggotakan 4 orang bergabung

    dengan pasangan lainya dan sedemikian akhirnya terjadi

    diskusi seluruh kelas.

    (d) Kelompok Kecil-kecil ( Bruzz group)

    Kelompok langsung di bagi menjadi kelompok

    kecil-kecil (buzz group) kemudian dilontarkan suatu

    pemasalahan-permasalahan sama atau tidak dengan

    kelompok lainya dan masing-masing kelompok

    mendiskusikan masalah tersebut.

    (e) Role play (Memainkan Peranan)

    Dalam metode ini beberapa anggota ditunjuk

    sebagai pemenang peranan tertentu untuk memainkan

    peranan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    13

    (f) Permainan Simulasi (Simulation Game)

    Gambaran antara role play dengan diskusi

    kelompok,pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa

    bentuk permainan seperti permainan monopoli.

    c) Metode Pendidikan Massa (public)

    Metode pendidikan massa untuk mengkomunikasikan

    pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang

    sifat nya massa atau public.Sasaran pendidikan bersifat umum

    dalam arti tidak membedakan golongan umur,jenis kelamin

    pekerjaan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan maka pesan

    kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang demikian rupa.

    Contoh metode melalui media massa:

    (1) Ceramah umum

    Pada acara tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan

    Nasional Menteri Kesehatan atau pejabat kesehatan lainya

    bepidato di hadapan masa rakyat untuk menyampaikan pesan -

    pesan kesehatan Safari KB juga merupakan salah satu bentuk

    pendekatan massa.

    (2) Pidato-pidato diskusi tenang kesehatan melalui media

    elektronik baik TV maupun radio

    (3) Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas

    kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah

    kesehatan tentang suatu penyakit atau mlah kesehtan melaui

    TV atau rdio.

    (4) Sinetron Dokter Sartikadi dalam acara TV juga merupakan

    pendekatan pendidikan kesehatan massa.

    (5) Tulisan di majalah atau koran baik dalam bentuk artikel

    maupun tanya jawab tentang kesehatan

    (Notoadmodjo,2003:18)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    14

    d) Alat Bantu dan Media Pendidikan kesehatan

    (1) Alat Bantu (Peraga)

    Yang dimakud alat bantu pendidikan adalah alat-alat

    yan di gunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan

    pendidikan atau pengajaran.Alat bantu ini lebih sering dsebut

    alat peragakarena berfungsi untuk membantu dan meragakan

    sesuatu dalam proses pendidikan pengajaran

    (Notoadmodjo,2003:108).

    (2) Media Pendidikan Kesehatan

    Alat yang digunakan untuk mempermudah penerimaan

    pesan-pesan kesehatan bagi msyarakat atau

    klien.Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan

    kesehatan (media),media ini di bagi menjadi 3 yaitu :

    (a) Media cetak

    Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan

    pesan-pesan kesehatan sangat bervariasi antara lain :

    i) Booklet adalah suatu media untuk mnyampaikan pesan

    kesehatan dan bentuk buku,baik tulisan maupun gambar

    ii) Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi atau

    pesan-pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat

    iii) Flyer (selebaran) adalah seperti leaflet tetapi tidk dalam

    bentuk selebaran

    iv) Flip chart(lembar balik) adalah media penyampaian

    pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk lembar

    balik

    v) Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau

    majalah

    vi) Poster adalah bentukmedia cetakberisi pesan-pesan atau

    informasi kesehatan

    vii) Foto yang mengungkapkan informsi kesehatan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    15

    (b) Media elektronik

    Media elektronik sebagai sasaran untuk

    menyampaikan pesan atau informasi kesehatan jenisnya

    beda-beda,antara lain :

    i) Televisi adalah penyampaian pesan atau informasi

    kesehatan melalui media televisi

    ii) Radio adalah penyampaian informasi atau pesan

    kesehatan melalui radio

    iii) Video adalah penyampaian informasi atau pesan

    kesehatan dapat melalui video

    iv) Slide :slide juga dapat digunakan untuk menyampaikan

    pesan atau infomasi kesehatan

    v) Film stripe juga dapat digunakan untuk menyampaikan

    pesan kesehatan

    vi) Media papan (bill board)

    Papan (bill board) yang dipasang ditempat umum

    untuk dipakai diisi dengan pesan atau informasi

    kesehatan.Media papan disini juga mencakup pesan-

    pesan yang di tulis pada lembaran seng yang ditempel

    pada kendaraan umum (bus atau taksi).

    g. Penyuluhan gizi

    Pengetahuan yang kurang tentang gizi dan kesehatan akan

    menyebabkan asupan makanan yang tidak cukup serta meningkatnya

    risiko penyakit infeksi diantaranya Diare dan ISPA. Peningkatan

    pengetahuan dapat dilakukan dengan penyuluhan. Penyuluhan terdiri dari

    beberapa model diantaranya adalah pendampingan dengan fokus

    pemberdayaan keluarga ( Amir, Aswita & Muis, Siti Fatimah &

    Suyatno,2008).

    Berbagai program perbaikan gizi yang dalam beberapa tahun

    terakhir dijalankan pemerintah, dinilai belum berjalan optimal. "Program

    perbaikan gizi belum berjalan optimal, ini bisa kita lihat dari kegiatan yang

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    16

    dilakukan di tingkat terbawah, di posyandu," kata Guru Besar Pangan dan

    Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Ali Khomsan di Jakarta. Menurut

    beliau, sebagian besar posyandu di desa-desa sekadar melakukan kegiatan

    penimbangan balita dan pada saat-saat tertentu imunisasi. Sementara

    fungsi-fungsi pokok posyandu yang lain, seperti sebagai pembawa pesan

    kesehatan dan pelaku utama upaya perbaikan gizi balita belum berjalan

    dengan baik. "Penyuluhan gizi, yang merupakan bagian penting dalam

    upaya perbaikan gizi, belum sepenuhnya jalan," katanya. Ia mengatakan

    hal itu antara lain terjadi karena program pembangkitan kembali

    (revitalisasi) peran posyandu yang dicanangkan pemerintah pada 2005

    hingga kini belum berjalan dengan baik. "Saat ini ada sekitar 240 ribu

    posyandu di Indonesia, tapi bagaimana kualitasnya? Meski kita dengar

    revitalisasi posyandu dilakukan sejak beberapa tahun lalu, tapi bagaimana

    kondisinya di desa-desa sekarang, seharusnya dicek sudah benar-benar

    jalan atau belum,"jelasnya. Kondisi dan kegiatan posyandu, jelas dia,

    mesti dipantau, dievaluasi, dan optimalkan untuk memastikan fungsinya

    sebagai ujung tombak berbagai upaya kesehatan, utamanya dalam upaya

    perbaikan gizi balita, berjalan sesuaitarget.

    Lebih lanjut dia menjelaskan, upaya perbaikan gizi balita melalui

    pembagian Makanan Pendamping ASI bagi balita dari keluarga kurang

    mampu pun masih tanggung. Atas persetujuan DPR, kata dia, pemerintah

    telah menyediakan dana Rp300 miliar per tahun untuk penyediaan

    Makanan Pendamping ASI bagi balita dari keluarga kurang mampu namun

    upaya itu hanya mampu menjangkau 15% balita di desa-desa. "Kader di

    daerah selalu bilang bahwa itu hanya cukup untuk 15 persen anak kita,

    artinya dari 100 balita di desa hanya 15 anak yang dapat MP ASI. Dana

    Rp300 miliar itu jadi tidak besar karena saking banyaknya balita Indonesia

    yang butuh bantuan," jelasnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, guna

    mencegah terjadinya masalah gizi buruk pada balita pada masa mendatang

    pemerintah harus mulai memadukan dan mengoptimalkan program-

    program perbaikan gizi yang dijalankan. Penyuluhan gizi, pemberian

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    17

    makanan tambahan, fortifikasi bahan pangan dan program yang lainnya,

    kata dia, harus dipastikan berjalan dengan baik dan dievaluasi secara

    berkala. "Dan tentunya kemiskinan harus terus dikurangi, karena ini

    adalah faktor kunci munculnya masalah gizi," demikian Ali Khomsan

    (2008).

    2. Kosep Dasar Status Gizi

    a. Pengertian Gizi

    Gizi berasal dari bahasa Arab, gizzah, yang artinya zat

    makanan sehat (Irianto dan Waluyo, 2004).

    Gizi adalah suatu proses orgenisme menggunakan makanan yang

    dikonsumsi secara normal melalui prosepsi, digesti, absorsi, transportasi,

    penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat zat yang tidak

    digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi

    normal dari organ organ, serta menghasilkan energi (Supariasa,

    2002:17)

    b. Pengertian Status Gizi

    Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi

    makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2003).

    Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam

    bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk

    variabel tertentu (Supariasa 2001).

    c. Faktor -faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

    Pada prinsipnya ada dua faktor yang mempengaruhi status gizi

    balita, yaitu:

    1) Faktor Langsung

    Faktor langsung yang berpengaruh adalah :

    a) Asupan makanan

    Menurut Worthington Roberts (1993) dalam Bobak

    (2004) pemberian ASI Eksklusif memiliki banyak manfaat,

    salah satunya yaitu bayi akan mendapat imunologi untuk

    melindunginya dari banyak penyakit dan infeksi. ASI Eksklusif

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    18

    adalah pemberian ASI saja tanpa makanan atau minuman

    lainnya selama 6 bulan pertama usia bayi (Dinkes, JATIM

    2005).

    Anak yang belum dipersiapkan secara baik untuk

    menerima makanan pengganti ASI yang kadang-kadang mutu

    gizi makanan tersebut juga sangat rendah, dengan penghentian

    pemberian ASI karena produksi ASI berhenti, akan lebih cepat

    mendorong anak ke jurang malapetaka yang menderita gizi

    buruk, yang apabila tidak segera diperbaiki maka akan

    menyebabkan kematian. Selain itu dapat pula mempengaruhi

    status gizi pada usia balita akibat adanya penyakit pada masa

    bayi (Setiawan, 2008).

    Menyapih adalah proses berhentinya menyusui secara

    berangsur-angsur atau sekaligus. Anak usia 1-5 tahun dapat pula

    dikatakan mulai disapih atau selepas menyusu sampai dengan

    prasekolah. Sesuai dengan pertumbuhan badan dan

    perkembangan kecerdasannya, faal tubuhnya juga mengalami

    perkembangan sehingga jenis makanan dan cara pemberiannya

    juga harus disesuaikan dengan keadaannya (Setiawan, 2008).

    b) Tingkat kebutuhan gizi

    c) Faktor kesehatan (misalnya penyakit infeksi, penyakit

    metabolisme, paska operasi).

    Penyakit infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa

    lapar dan tidak mau makan sehingga dapat mempengaruhi status

    gizi anak (Harsono, 2008).

    2) Faktor Tidak Langsung

    Faktor tidak langsung yang berpengaruh adalah :

    a) Tingkat kemiskinan

    Penyebab utama kurang gizi pada balita adalah

    kemiskinan sehingga akses pangan anak terganggu (Khomsan,

    2008). Bekerja adalah kebutuhan yang harus dilakukan terutama

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    19

    untuk menunjang kebutuhan dan kehidupan keluarga (Nursalam

    dan Pariani, 2001).

    b) Tingkat pendidikan orang tua

    Menurut teori Koentjoroningrat (1997) dalam Nursalam

    (2001) mengatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan

    seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin

    banyak pengetahuan yang dimiliki.

    c) Budaya

    Adat-istiadat, norma, dan sesuatu yamg tabu dalam

    masyarakat akan berpengaruh terhadap perkembangan anak.

    Misalnya pada kebudayaan orang Bali sering diadakan upacara

    sehingga tersedia banyak makanan dan buah-buahan. Maka

    jarang terdapat anak yang gizi buruk karena pada saat upacara

    tersebut akan dimakan bersama saat selamatan (Soetjiningsih,

    2004).

    d. Penilaian Status Gizi

    Menurut Supariasa (2001), penilaian status gizi dapat dilakukan

    secara langsung dan tidak langsung.

    1) Penilaian Secara Langsung

    Dibagi menjadi empat penilaian yaitu:

    a) Antropometri

    Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia.

    Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam

    pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai

    tingkat umur dan tingkat gizi. Secara umum digunakan untuk

    melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi yang terlihat

    pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh sepserti

    lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    20

    b) Klinis

    Pemeriksaan klinis merupakan metode penting untuk

    menilai status gizi yang didasarkan atas perubahan-perubahan yang

    terjadi dan dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini

    dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, dan

    mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan

    tubuh seperti kelenjar tiroid. Penggunaan metode ini umumnya

    untuk survei klinis secara cepat. Survei ini dirancang untuk

    mendeteksi sacara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan

    salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk

    mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan

    pemeriksaan fisik yaitu tanda dan gejala atau riwayat penyakit.

    c) Biokimia

    Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan

    spesimen yang diuji secara labolatoris yang dilakukan pada

    berbagai macam anggota tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan

    antara lain: darah, urin, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh

    seperti hati dan otot. Penggunaan metode ini digunakan untuk

    suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan

    malnutrisi yang lebih parah lagi. Penentuan kimia faali dapat lebih

    banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang

    spesifik.

    d) Biofisik

    Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode

    penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi

    (khusunya jaringan) dan melihat perubahan struktur jaringan.

    Umumnya digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta

    senja epidemik. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    21

    2) Penilaian Secara Tidak Langsung

    a) Survei Konsumsi makanan

    Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status

    gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi

    yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat

    memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada

    masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini dapat

    mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.

    b) Statistik Vital

    Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan

    menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka

    kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat

    penyebab tertentudan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.

    Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator

    tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.

    c) Faktor Ekologi

    Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan

    masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik,

    biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia

    sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi

    dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting

    untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai

    dasar untuk melakukan program intervensi gizi.

    e. Indeks Antropometri Gizi

    Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status

    gizi adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut

    umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Indeks

    BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air, lemak, tulang

    dam otot. Indeks berat badan menurut umur adalah pertumbuhan linier

    dan LLA adalah pengukuran terhadap otot, lemak dan tulang pada area

    yang diukur.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    22

    Berat Badan menurut Umur (BB/U) merupakan indikator yang

    paling umum digunakan sejak tahun 1972 dan dianjurkan juga

    menggunakan indeks TB/U dan BB/TB untuk membedakan kekurangan

    gizi terjadi kronis atau akut.

    Tahun 1978, WHO lebih mengajurkan penggunaan BB/TB, karena

    menghilangkan faktor umur yang menurut pengalaman sulit didapat

    secara benar, khususnya di daerah terpencil dimana terdapat masalah

    tentang pencatatan kelahiran anak. Indeks BB/TB juga menggambarkan

    keadaan kurang gizi akut waktu sekarang, walaupun tidak dapat

    menggambarkan keadaan gizi waktu lampau.

    Dari berbagai jenis indeks bias, untuk menginterpretasikannya

    dibutuhkan ambang batas. Ambang batas dapat disajikan kedalam tiga

    cara yaitu:

    1) Persen Terhadap Median

    Median adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam

    antropometri median sama dengan persentil 50. Nilai median ini

    dinyatakan sama dengan 100% (untuk standar). Setelah itu dihitung

    presentase terhadap nilai median untuk mendapatkan ambang batas

    Tabel 2.1 Status gizi berdasarkan Indeks Antropometri

    Status Gizi Indeks

    BB/U TB/U BB/TB Gizi Baik

    Gizi Sedang Gizi Kurang Gizi Buruk

    > 80% 71% - 80%

    61% - 70%

    60%

    > 90% 81% - 90%

    71% - 80%

    70%

    > 90% 81% - 90%

    71% - 80%

    70% Sumber:Supariasa(2001)

    Indeks antropometri lainnya seperti TB/U dan BB/TB dapat

    pula dihitung berdasarkan persen terhadap median.

    2) Persentil

    Para pakar merasa kurang puas dengan menggunakan persen

    terhasap median untuk menentukan ambang batas sehingga mereka

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    23

    memilih cara persentil. Persentil 50 sama dengan median atau nilai

    tengah dari jumlah populasi berada diatasnya dan setengahnya berada

    dibawahnya. National Center for Health Statistics (NCHS)

    merekomendasikan persentil ke 5 sebagai batas gizi baik dan kurang,

    serta persentil 95 sebagai batas gizi lebih dan gizi baik.

    3) Standart Deviasi Unit

    Standar deviasi unit disebut juga Z-skor. WHO menyarankan

    menggunakan cara ini untuk meneliti dan untuk memantau

    pertumbuhan.

    a) 1 SD unit (1 Z-Skor) kurang lebih sama dengan 11% dari median

    BB/U.

    b) 1 SD unit (1 Z-Skor) kira-kira 10% dari median BB/TB.

    c) 1 SD unit (1 Z-Skor) kira-kira 5% dari median TB/U.

    Waterlow juga merekomendasikan penggunaan SD untuk

    menyatakan hasil pengukuran pertumbuhan. WHO memberikan

    gambaran perhitungan SD unit terhadap baku NCHS. Pertumbuhan

    nasional untuk suatu populasi dinyatakan dalam positif dan negatif

    2 SD unit (Z-Skor) dari median, yang termasuk hampir 98% dari

    orang-orang yang diukur yang berasal dari referens populasi.

    Dibawah median -2 SD unit dinyatakan sebagai kurang gizi yang

    ekuivalen dengan :

    (1) 78% dari median untuk BB/U ( 3 persentil)

    (2) 80% median untuk BB/TB

    (3) 90% median untuk TB/U

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    24

    Rumus menghitung status gizi dengan cara Z-skor adalah :

    a. Bila nilai riel hasil pengukuran >= nilai median, BB/umur

    rumusnya :

    b. Bila nilai riel hasil pengukuran < nilai median BB/umur

    rumusnya :

    c. Cara menghitung status gizi dengan cara prosen terhadap

    median rumusnya :

    3. Konsep Dasar Balita

    a. Pengertian Balita

    Balita atau anak bawah lima tahun adalah anak usia kurang dari

    lima tahun sehingga bayi usia dibawah satu tahun juga termasuk dalam

    golongan ini (Setiawan, 2008).

    Balita merupakan singkatan bawah lima tahun, salah satu periode

    usia manusia dengan rentang usia dua hingga lima tahun., Ada juga yang

    menyebut dengan periode usia prasekolah. Pada fase ini, anak berkembang

    dengan sangat pesat (AnneAhira, 2008).

    b. Perkembangan Balita Usia 2 5 Tahun ( Riyadi dan Sukarmin, 2009 )

    1) Perkembangan fisik

    a) Umur 24 bulan ( 2 tahun)

    (1) Motorik Kasar

    Berlari sudah baik, dapat naik tangga sendiri dengan

    kedua kaki tiap tahap.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    25

    (2) Motorik Halus

    Sudah bisa membuka pintu, membuka kunci,

    menggunting sederhana, minum dengan menggunakan gelas

    atau cangkir, sudah dapat memggunakan sendok dengan baik

    b) Umur 36 bulan (3 tahun)

    (1) Motorik Kasar

    Sudah bisa naik turun tangga tanpa bantuan, memakai

    baju dengan bantuan, mulai bisa naik sepeda roda tiga.

    (2) Motorik Halus

    Bisa menggambar lingkaran, mencuci tangannya

    sendiri, menggosok gigi.

    c) Umur 4 tahun

    (1) Motorik Kasar

    Berjalan berjinjit, melompat, melompat dengan satu

    kaki.

    (2) Motorik Halus

    Sudah bisa menggunakan gunting dengan lancar,

    sudah bisa menggambar kotak, menggambar garis vertikal

    maupun horizontal, belajar membuka dan memasang kancing

    baju.

    d) Umur 5 tahun

    (1) Motorik Kasar

    Berjalan mundur sambil berjinjit, sudah dapat

    menangkap dan melempar bola dengan baik, sudah dapat

    melompat dengan kaki secara bergantian.

    (2) Motorik Halus

    Menulis dengan angka-angka, menulis dengan huruf,

    menulis dengan kata-kata, belajar menulis nama, belajar

    mengikat tali sepatu.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    26

    (3) Sosial emosional

    Bermain sendiri mulai berkurang, sering berkumpul

    dengan teman sebaya, interaksi sosial selama bermain

    meningkat, sudah siap untuk menggunakan alat-alat bermain.

    2) Perkembangan psikososial anak

    Tahapan perkembangan psikososial anak:

    a) Percaya versus tidak percaya (umur 0 1 tahun)

    Komponen yang paling utama untuk berkembang pada

    seorang anak adalah rasa percaya diri. Rasa percaya diri pada anak

    harus kita bangun sejak tahun pertama kehidupan anak. Begitu

    seorang bayi lahir dan melakukan kontak dengan dunia luar maka

    ia sangat ketergantungan dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

    Rasa aman dan rasa percaya terhadap lingkungan merupakan

    kebutuhan primer. Adapun alat yang digunakan oleh bayi untuk

    berhubungan dengan dunia luar adalah mulut dan panca indera,

    sedangkan perantara yang tepat antara bayi dengan lingkungan

    adalah seorang ibu.

    b) Otonomi versus rasa malu (umur 1 3 tahun)

    Pada usia ini alat gerak dan rasa telah matang dan ada rasa

    percaya terhadap ibu dan lingkungannya. Perkembangan otonomi

    selama periode balita berfokus pada peningkatan kemampuan anak

    untuk mengontrol tubuhnya, dirinya dan lingkungannya. Anak

    menyadari bahwa ia dapat menggunakan kekuatannya untuk

    bergerak dan berbuat sesuai dengan kemauannya sendiri. Selain itu

    anak akan menggunakan kekuatan mentalnya untuk mmenolak dan

    mengambil sebuah keputusan. Rasa otonomi ini perlu

    dikembangkan karena sangat penting untuk terbentuknya rasa

    percaya diri dan harga diri di kemudian hari.

    c) Inisiatif versus rasa bersalah (umur 3 5 tahun)

    Tahap ini anak mulai belajar untuk mengendalikan diri dan

    memanipulasi lingkungan. Rasa inisiatif mulai menguasai anak,

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    27

    anak sudah mulai untuk diikutsertakan sebagai individu atau

    membantu orang tua dan lingkungan.

    3) Perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa

    a) 2 3 tahun

    Seorang anak mulai menguasai 200 300 kata dan senang

    bicara sendiri (monolog). Sewaktu ia akan memperhatikan kata-

    kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam.

    Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna,

    yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian.

    Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi.

    Mereka juga lancar bercakap-cakap meskipun pengucapannya

    belum sempurna.

    b) 3 5 tahun

    Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat

    perintah. Hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang

    kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan.

    Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih

    untuk menguasainya. Mereka menyadari bahwa dengan kata-kata

    mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya,

    bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya

    atau ibunya (Zaviera, 2008).

    c. Tes Skrining Perkembangan Menurut Denver Developmental Screening

    Test (DDST).

    1) Pengertian DDST

    DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap

    kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan merupakan tes

    diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang

    diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat

    (15 20 menit), dapat diandalkan dan menunjukkan validitas yang

    tinggi. Dari beberapa penilaian yang pernah dilakukan ternyata

    DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan antara 85 100 %

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    28

    bayi dan anak-anak pra sekolah yang mengalami keterlambatan

    perkembangan, dan pada follow-up selanjutnya ternyata 89 % dari

    kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di sekolah 5 6

    tahun kemudian.

    DDST adalah sebuah metode pengkajian yang digunakan

    secara luas untuk menilai kemajuan perkembangan anak usia 0 6

    tahun ( Heru Santoso, 2009 )

    2) Tujuan pemeriksaan Denver antara lain :

    a) Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usia

    b) Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat

    c) Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukkan

    gejala, kemungkinan adanya kelainan perkembangan

    d) Memastikan anak yang di duga mengalami kelainan

    perkembangan

    e) Memantau anak yang beresiko mengalami kelainan

    perkembangan.

    3) Sektor perkembangan yang dinilai dalam DDST

    Aspek perkembangan yang dinilai terdiri dari 125 tugas

    perkembangan. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya

    berkisar 25 30 tugas.

    Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai:

    a) Personal Social (perilaku sosial)

    Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri,

    bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

    b) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)

    Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak

    untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan

    bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil,

    tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    29

    c) Language (bahasa)

    Kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara,

    mengikuti perintah dan berbicara spontan.

    d) Gross motor (gerakan motorik kasar)

    Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap

    tubuh.

    4) Alat yang digunakan

    a) Alat peraga: benang wol merah, kismis/ manik-manik, icik icik

    dengan ganggang kecil, peralatan makan, peralatan gosok gigi,

    kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas,

    pensil, kubus dengan warna merah-kuning-hijau-biru, kertas

    warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa).

    b) Lembar formulir Denver II.

    c) Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara

    melakukan tes dan cara penilaiannya.

    5) Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:

    a) Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang

    berusia: 3-6 bulan, 9-12 bulan, 18-24 bulan, 3 tahun, 4 tahun, 5

    tahun.

    b) Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya

    hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian

    dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.

    6) Penilaian

    Jika Lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak

    mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO).

    7) Cara pemeriksaan DDST II

    a) Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak

    yang akan diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan

    dan 12 bulan untuk satu tahun.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    30

    b) Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke

    bawah, jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke

    atas.

    c) Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis

    horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST.

    d) Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P

    dan berapa yang F.

    e) Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: normal,

    abnormal, meragukan dan tidak dapat dites.

    (1) Abnormal

    (a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2

    sektor atau lebih.

    (b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau

    lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan

    1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut

    tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan

    dengan garis vertikal usia .

    (2) Meragukan

    (a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau

    lebih.

    (b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1

    keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada

    yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan

    garis vertikal usia

    (3) Tidak dapat di tes

    Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes

    menjadi abnormal atau meragukan.

    (4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di

    atas.

    Pada anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan

    hanya sampai anak usia 2 tahun.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    31

    8) Interpretasi dari nilai Denver II menurut Heru Santoso tahun 2009

    a) Lebih atau Advanced

    Nilai lebih diberikan anak dapat lulus / lewat ( L ) dari

    item tes di sebelah kanan garis usia. Anak dinilai memiliki

    kelebihan karena dapat melakukan tugas perkembangan yang

    seharusnya dikuasai oleh anak yang lebih tua.

    b) OK atau normal

    (1) Anak gagal ( G ), atau menolak ( M ) melakukan tugas untuk

    item di sebelah kanan garis usia. Kondisi ini wajar karena

    item di sebelah kanan garis usia pada dasarnya merupakan

    tugas untuk anak yang lebih tua. Dengan demikian masalah

    jika anak gagal atau menolak melakukan tugas tersebut karena

    masih banyak kesempatan bagi anak untuk melakukan tugas

    tersebut jika usianya sudah mencukupi.

    (2) Anak lulus / lewat ( L ), gagal ( G ) atau menolak ( M )

    melakukan tugas untuk item di daerah putih kotak ( daerah 25

    % - 75 % ). Jika anak lulus sudah tentu hal ini dianggap

    normal, sebab tugas tersebut memang ditujukan untuk anak di

    usia tersebut. Lalu, mengapa saat anak gagal atau menolak

    melakukan tugas masih kita simpulkan OK ? perlu kita

    ketahui, daerah putih pada kotak menandakan bahwa

    sebanyak 25 75 % anak di usia tersebut mampu atau lulus

    melakukan tugas tersebut. Dengan kata lain, masih ada

    sebagian anak di usia tersebut yang belum berhasil

    melakukannya. Jadi, jika anak gagal atau menolak melakukan

    tugas pada daerah itu, hal ini masih di anggap wajar dan anak

    masih memiliki kesempatan untuk melakukannya pada tes

    yang akan datang.

    c) Caution = C atau peringatan ( P )

    Nilai ini diberikan jika anak gagal (G) atau menolak (M)

    melakukan tugas untuk item yang dilalui oleh garis usia pada

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    32

    daerah gelap kotak ( daerah 75 % - 90 % ). Mengapa demikian

    hasil riset menunjukkan bahwa sebanyak 75% - 90% anak diusia

    tersebut sudah berhasil ( lulus ) melakukan tugas tersebut. Dengan

    kata lain mayoritas anak sudah bisa melaksanakan tugas itu

    dengan baik. Dengan demikian jika ada anak yang ternyata belum

    lulus atau menolakmelakukan tugas tersebut, berarti anak tersebut

    ke dalam kelompok minoritas ( 10 -25 % anak belum berhasil

    melakukannya ). Perlu diperhatikan meskipun dalam hal ini anak

    masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya karena masih

    berada dalam kelompok usianya, anak tersebut tetap memerlukan

    perhatian yang lebih mengingat mayoritas teman sebayanya sudah

    berhasil. Oleh karena itu anak tersebut mendapat nilai penilaian P

    ( peringatan ). Huruf P ditulis sebelah kanan item dngan hsil

    penilaian peringatan. Peringatan sendiri terdiri atas dua macam :

    pertama peringatan karena anak mengalami kegagalan (G).

    Peringatan jenis ini memungkinkan anak mendapat interpretasi

    penilaian akhir suspect . Kedua peringatan karena anak

    menolak melaksanakan tugas (M). Peringatan jenis ini

    memungkinkan anak mendapat interpretasi penilaian akhir tidak

    dapat di uji.

    d) Terlambat (T) (D=Delayed)

    Nilai terlambat diberikan jika anak gagal (G) atau

    menolaka (M) melakukan tugas untuk item disebelah kiri garis

    usia sebab tugas tersebut memang ditujukan untuk anak yang

    lebih muda. Seorang anak seharusnya mampu melakukan tugas

    untuk kelompok usia yang lebih muda, yang tentunyaberupa tugas

    tugas yang lebh ringan. Jika tugas untuk anak yang lebih muda

    tidak dapt dilakukan atau ditolak, anak tentu akan mendapatkan

    penilaian T ( terlambat). Huruf T ditulis sebelah kanan item

    dengan hasil penilaian terlambat. Perlu diperhatikan bahwa ada

    dua macam T.Pertama terlambat karena anak mengalami

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    33

    kegagalan (G). T Jenis ini memungkinkan anak mendapat

    interpretasi penilaian akhir suspek. Kedua , terlambat karena

    anak menolak melaksanakan tugas (M). T jenis ini

    memungkinkan anak mendapat interpretasi penilaian akhir tak

    dapat di uji.

    e) Tak dapat kesempatan( no opportunity)

    Nilaitak ini tidak perlu diperhatikan dalam penilaian tes

    secara keseluruhan. Nilai tak ada kesempatan diberikan jika anak

    mendapat skor tak atau tidak ada kesempatan untuk mencoba

    atau melakukan tes

    9) Penilaian keseluruhan tes ( Heru Santoso, 2009:21).

    Hasil interpretasi untuk keseluruhan tes dikategorikan

    menjadi 3 yaitu normal, suspek dan tidak dapat diuji. Penjelasan

    mengenai ketiga kategori tersebut adalah sebagai berikut :

    a) Normal

    Interpretasi normal diberikan jika tidak ada skor terlambat

    (0 T) dan/ atau maksimal 1 peringatan (1 P).

    b) Suspek

    Interpretasi suspek diberikan jika terdapat satu atau lebih

    skor terlambat (1 T) dan/ atau dua atau lebih peringatan (2 P).

    Ingat dalam hal ini T dan P harus disebabkan oleh kegagalan (G)

    bukan oleh penolakan (M). Jika hasil ini didapat, lakukan uji

    ulang dalam 1 2 minggu mendatang untuk menghilangkan

    faktor faktor sesaat, seperti rasa takut, sakit atau kelelahan.

    c) Tidak dapat di uji

    Interpretasi tidak dapat di uji diberikan jika terdapat satu

    atau lebih skor terlambat (1 T) dan / atau dua atau lebih

    peringatan (2 P). Ingat dalam hal ini T dan P harus disebabkan

    oleh penolakan (M), bukan oleh kegagalan (G). Jika hasil ini

    didapat, lakukan uji ulang dalam 1 2 minggu mendatang.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    34

    Jika hasil tes berulang kali menunjukkan Suspek atau tidak

    dapat di uji, anak perlu menjalani sesi konsultasi dengan seorang

    ahli guna menentukan keadaan klinis anak berdasarkan :

    Profil hasil tes (item yang mendapat nilai peringatan atau

    terlambat, jumlah peringatan dan terlambat, tingkat

    perkembangan sebelumnya, perhatian klinis lainnya ( riwayat

    klinis, pemeriksaankeshatan , dll) dan sumber rujukan tersedia.

    4. Konsep Dasar Perkembangan

    a. Pengertian Perkembangan

    1) Perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang

    dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar (Aziz Alimul,

    2005).

    2) Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan dan

    struktur atau fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang

    teratur, dapat diperkirakan dan diramalkan sebagai hasil proses

    diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ organ dan sistemnya yang

    terorganisasi. (IDAI, 2002). Dengan demikian aspek perkembangan ini

    bersifat kualitatif yaitu pertambahan kematangan fungsi dari masing

    masing bagian tubuh. Hal ini diawali dengan berfungsinya jantung

    untuk memompa darah, kemampuan untuk bernafas, sampai

    kemampuan anak untuk tengkurap, duduk, berjalan, bicara, memungut

    benda benda disekelilingnya, serta kematangan emosi dan sosial

    anak. Tahap perkembangan awal akan menentukan tahap

    perkembangan selanjutnya ( Nursalam,2005:33).

    3) Pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang

    lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali.

    Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak

    dapat diputar kembali (Nursalam, 2005).

    4) Perkembangan fisik adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam

    struktur dan fungsi motorik halus dan motorik kasar.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    35

    5) Perkembangan psikososial adalah perkembangan anak yang ditinjau

    dari aspek psikososial artinya bahwa anak dalam perkembangannya

    selalu dipengaruhi oleh lingkungan sosial ( Aziz Alimul,

    2005,).Perkembangan psikososial adalah balita mulai terampil dalam

    pergerakan seperti berlari, memanjat, melompat, berguling, berjinjit,

    menggenggam, melempar yang berguna untuk mengelola

    keseimbangan tubuhnya (Anne Ahira, 2008).

    b. Ciri ciri tumbuh kembang anak

    Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang

    saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

    1) Perkembangan menimbulkan perubahan.

    Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap

    pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya

    perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai

    pertumbuhan otak dan serabut saraf.

    c. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan

    perkembangan selanjutnya.

    Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan

    sebelum ia melewati tahapan sebelumnya.

    d. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.

    Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan

    yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan

    fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.

    e. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.

    Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan juga

    demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan

    lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi

    badannya serta bertambah kepandaiannya.

    f. Perkembangan mempunyai pola yang tetap.

    Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum

    yang tetap yaitu:

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    36

    a) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju

    ke arah kaudal / anggota tubuh (pola sefalokaudal).

    b) Perkembangan terjadi terlebih dahulu di daerah proksimal (gerak

    kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang

    mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).

    c) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.

    Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur,

    berurutan dan tidak bisa terjadi terbalik.

    g. Faktorfaktor yang Mempengaruhi Kualitas Perkembangan

    ( Nursalam,2005:390)

    1) Faktor dalam (internal)

    a) Genetika

    Faktor genetis akan mempengaruhi kualitas perkembangan.

    b) Ras/etnik atau bangsa

    Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia

    tidak memiliki faktor herediter ras / bangsa Indonesia atau

    sebaliknya.

    c) Jenis kelamin

    Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang

    lebih cepat daripada laki-laki. Tetapi setelah melewati masa

    pubertas, perkembangan anak laki-laki akan lebih cepat.

    2) Faktor luar (eksternal).

    a) Faktor Prenatal

    (1) Gizi

    Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir

    kehamilan akan mempengaruhi perkembangan janin.

    (2) Mekanis

    Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan

    kelainan kongenital seperti club foot.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    37

    (3) Toksin/zat kimia

    Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin,

    Thalidomid dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti

    palatoskisis.

    (4) Radiasi

    Paparan radium dan sinar Rontgen dapat

    mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali,

    spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota

    gerak, kelainan kongential mata, kelainan jantung.

    (5) Infeksi

    Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh

    TORCH (Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes

    simpleks) dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak,

    bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung

    kongenital.

    (6) Kelainan imunologi

    Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan

    golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu

    membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin,

    kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah

    janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya

    mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kern icterus yang

    akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.

    (7) Psikologi ibu

    Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan

    salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.

    (Rusmil, 2008)

    b) Faktor Persalinan

    Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala,

    asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak (Rusmil,

    2008).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    38

    c) Faktor Paskasalin

    (1) Gizi

    Tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan

    yang adekuat.

    Psikologis

    Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang

    anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak

    yang selalu merasa tertekan, akan mengalami hambatan di

    dalam pertumbuhan dan perkembangannya ((Rusmil,

    2008).

    (2) Lingkungan pengasuhan

    Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak

    sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak (Rusmil,

    2008). Lingkungan pengasuhan juga dipengaruhi oleh

    jumlah anak. Jumlah saudara yang banyak pada keluarga

    yang keadaan sosial ekonominya cukup akan

    mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang

    yang diterima anak (Dhamayanti, 2008).

    (3) Stimulasi

    Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi

    khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat

    mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota

    keluarga lain terhadap kegiatan anak (Rusmil, 2008)

    (4) Pendidikan Ibu

    Pendidikan ibu yang baik dapat menerima informasi

    dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik,

    menjaga kesehatan, dan pendidikan yng baik pula

    (Dhamayanti, 2008).

    3) Faktor Pelayanan Kesehatan

    Adanya pelayanan kesehatan yang memadai yang ada di

    sekitar lingkungan di mana anak tumbuh dan berkembang,

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    39

    diharapkan tumbuh kembang anak dapat dipantau, sehingga apabila

    terdapat sesuatu hal yang meragukan atau terdapat keterlambatan

    dalam perkembangannya, anak dapat segera mendapatkan pelayanan

    kesehatan dan diberikan solusi pencegahannya (Riyadi dan

    Sukarmin, 2009). Ada enam langkah membuat status gizi balita

    Meningkat Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan Bogor

    menemukan sebuah konsep bagaimana menanggulangi masalah

    kekurangan gizi pada anak balita. Peneliti Puslitbang Gizi Bogor,

    Trintrin Tjukani (2001) menjelaskan, ada enam tahap dalam konsep

    yang diujicobakan melalui sebuah penelitian di Kabupaten

    PandeglangBanten.

    Pertama, pengorganisasian masyarakat. Kedua, pelatihan.

    Ketiga, penimbangan balita. Keempat, penyuluhan gizi. Kelima,

    pemberian makanan tambahan. Dan keenam, penggalangan dana.

    B. PENELITIAN YANG RELEVAN

    Kekurangan gizi pada masa balita akan berpengaruh besar pada kualitas

    seseorang nantinya. Asupan gizi yang kurang pada dua tahun pertama

    pertumbuhan, bisa menyebabkan gangguan serius pada perkembangan otak yang

    mengakibatkan tingkat kecerdasan anak terhambat (Siswono, 2009). Kurang gizi

    pada balita dapat berdampak terhadap pertumbuhan fisik maupun mentalnya.

    Anak kelihatan pendek, kurus dibandingkan dengan teman sebayanya yang lebih

    sehat. Ketika memasuki usia sekolah tidak bisa berprestasi menonjol karena

    kecerdasannya terganggu (Khomsan, 2008). Penelitian ini pernah dilakukan oleh

    Amir, Aswita, Muis, Siti Fatimah dan Suyatno, tahun 2008 dengan judul

    Pengaruh penyuluhan Model Pendampingan Terhadap Perubahan status Gizi

    Anak Usia 6 sampai 24 Bulan dalam Jurnal Gizi Indonesia . ISSN 1858-4942.

    Metode Penelitian : Desain penelitian adalah Quasi Experiment berupa non

    randomized pre post test control group. Kelompok intervensi mendapat

    penyuluhan model pendampingan oleh Tenaga Gizi Pendamping (TGP) dan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    40

    kelompok kontrol mendapat penyuluhan konvensional oleh Tenaga Gizi

    Puskesmas. Penelitian dilakukan di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.

    Wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya sebagai lokasi intervensi dan Puskesmas

    Bira sebagai lokasi kontrol. Subjek penelitian adalah anak usia 6 24 bulan

    dengan skor Z BB/U -3 sd 0 SD. Jumlah subjek untuk kelompok intervensi 32 dan

    kontrol 37 anak. Variabel yang diamati meliputi perubahan dari pengetahuan ibu,

    Tingkat Kecukupan Energi (TKE), Tingkat Kecukupan Protein (TKP), hari sakit

    (Diare dan ISPA) dan status gizi (skor Z BB/U, PB/U dan BB/PB). Analisis data

    dilakukan dengan menggunakan uji beda dan analisis multivariat dengan regresi

    linear variabel dummy.

    Penelitian lain juga pernah dilakukan di Puslitbang Gizi Bogor Trintrin

    Tjukani tahun 2001 dengan judul Enam langkah membuat Status gizi Balita

    meningkat. Hasil penelitian menjelaskan, ada enam tahap dalam konsep yang

    diujicobakan melalui sebuah penelitian di Kabupaten Pandeglang Banten.

    Pertama, pengorganisasian masyarakat. Kedua, pelatihan. Ketiga, penimbangan

    balita. Keempat, penyuluhan gizi. Kelima, pemberian makanan tambahan. Dan

    keenam, penggalangan dana.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji

    konsep tersebut. Sehingga diharapkan dapat diperoleh suatu model pemberdayaan

    masyarakat untuk menanggulangi