PENGARUH FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL .tingkat bunga jangka pendek dan jangka panjang, dan perbedaan

download PENGARUH FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL .tingkat bunga jangka pendek dan jangka panjang, dan perbedaan

of 14

  • date post

    17-Sep-2018
  • Category

    Documents

  • view

    216
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENGARUH FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL .tingkat bunga jangka pendek dan jangka panjang, dan perbedaan

  • Handoko AH. & Endra J.Juni 17EfEktif Jurnal Bisnis dan EkonomiVol. 2, No. 1, Juni 2011, 17 - 30

    PENDAHULUAN1. Latar Belakang

    Keputusan investasi yang diambil investor diharapkan dapat memberikan hasil maksimal dengan risiko tertentu atau hasil tertentu dengan risiko yang minimal (Abidin, 2009). Harga saham di pasar modal ditentukan oleh kekuatan mekanisme pasar berdasarkan kinerja perusahaan. Dalam menganalisa suatu saham, investor perlu landasan, sehingga digunakan konsep analisis fundamental keuangan dan risiko sistematik yang menunjukkan sensitivitas pergerakan saham. Menurut Indra (2006) dan Abidin (2009) analisis fundamental dan risiko sistematik dapat membantu para investor dan calon investor mengetahui mahal atau terlalu murah harga saham.

    PENGARUH FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL KEUANGAN DAN RISIKO SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM

    PERUSAHAAN YANG TERGABUNG DALAM JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII)

    Handoko A.HasthoroFakultas Ekonomi Universitas Janabadra

    Endra JepriyantoAlumnus Fakultas Ekonomi Universitas Janabadra

    ABSTRAKSIPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti secara empiris pengaruh faktor-

    faktor fundamental keuangan yang terdiri dari return on assets (ROA), return on equity (ROE), debt to total assets ratio (DTA), debt to equity ratio (DTE), dan risiko sistematik terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII). Obyek penelitian ini adalah 46 perusahaan yang diambil secara purposive sampling dari tahun 2005 sampai dengan 2008. Hasil perhitungan, pengujian, dan pembahasan membuktikan bahwa faktor-faktor fundamental keuangan memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index. Beta saham sebagai risiko sistematik tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index.

    Kata kunci : Faktor Fundamental Keuangan, Risiko Sistematik, Harga saham

    Statemen keuangan memberikan ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan, dimana neraca dan statemen laba rugi mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama suatu periode tertentu yang biasanya meliputi periode satu tahun (Riyanto, 2001:327). Publikasi statemen keuangan perusahaan merupakan salah satu hal penting dan ditunggu para investor di pasar modal, karena dari publikasi tersebut investor dapat mengetahui perkembangan perusahaan.

    Penelitian Nguyen dalam Abidin (2009) menunjukkan bahwa analisis fundamental dapat membantu pengem-balian saham dimasa yang akan datang dan menjelaskan momentum harga-harga saham. Beberapa penelitian terhadap analisa fundamental keuangan

  • EfEktif Jurnal Bisnis dan Ekonomi Juni18

    diantaranya Natarsyah (2000), Setiawan (2003), Anastasia et al. (2003), Indra (2006), Kartikasari (2007). Aruzzi dan Bandi (2003) mengatakan bahwa parameter penting dalam menilai risiko suatu saham syariah antara lain adalah tingkat suku bunga, rasio profitabilitas, dan beta akuntansi.

    Penelitian Setiawan (2003) dengan menggunakan proksi assets growth, leverage, likuiditas, total assets turn over dan return on investment sebagai variabel fundamental menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap beta saham. Penelitian Abidin (2009) menunjukkan bahwa ada beberapa rasio keuangan seperti return on investmen (ROI), earning per share (EPS), operating profit margin (OPM), book value (BV) dan beta saham sebagai risiko sistematik yang berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan consumer goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

    Penelitian ini memfokuskan pada perusahaan yang masuk dalam perhitungan Jakarta Islamic Index (JII) dimana indeks ini merupakan saham-saham syariah. Saham-saham di JII di satu sisi merupakan saham yang diperdagangkan sebagaimana saham biasa, tetapi di lain pihak saham tersebut merupakan ethical investment karena telah memenuhi beberapa kriteria ekonomi islam (Hanafi, 2007). Ethical investment merupakan bentuk investasi yang mengaitkan dengan ajaran ataupun nilai-nilai tertentu. Kriteria syariah yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional terhadap saham-saham di JII merupakan saham yang berlabel halal.

    Hubungan yang terjadi antara tingkat kembalian (return) dan risiko terhadap saham yang berlabel halal yaitu adanya harapan hasil investasi yang baik dan tidak melanggar asas-asas dalam ekonomi islam. Saham syariah menunjukkan

    perkembangan yang cenderung naik dan memiliki prospek yang baik sampai tahun 2007 (Nafik, 2009:264).

    Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan Setiawan (2003), Anastasia et al (2003), dan Abidin (2009). Perbedaan dari penelitian sebelumnya adalah pada periode dan sampel penelitian yang digunakan yaitu dari tahun 2005 sampai dengan 2008 yang terbatas pada perusahaan yang masuk dalam Jakarta Islamic Index dan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini juga menggunakan variable debt to total assets ratio (DTA) dan debt to equity ratio (DTE) untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar utangnya dengan assets dan equity yang dimilikinya. Selain itu, variabel kinerja perusahaan menggunakan rasio return on equity (ROE) digunakan dalam penelitian ini.

    2. Perumusan PermasalahanBerdasarkan latar belakang di atas,

    maka pertanyaan penelitian adalah: apakah faktor-faktor fundamental keuangan dan risiko sistematik berpengaruh terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII) ?

    KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTE-SIS1. Investasi Syariah di Pasar Modal

    IndonesiaDalam perekonomian yang semakin

    modern, peran bursa efek semakin penting khususnya di dunia investasi. Perkembangan bursa efek konvensional yang sangat pesat menjadi daya tarik tersendiri bagi investor terutama yang biasa berspekulasi dalam investasi (Nafik, 2009). Industri pasar modal Indonesia mulai melirik pengembangan penerapan prinsip-prinsip syariah islam sebagai

  • Handoko AH. & Endra J.Juni 19

    alternatif instrumen investasi dalam kegiatan pasar modal di Indonesia.

    Sejak secara resmi Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) meluncurkan prinsip pasar modal syariah pada tanggal 14 dan 15 Maret 2003 dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara BAPEPAM dengan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), maka dalam perjalanannya perkembangan dan pertumbuhan transaksi efek syariah di pasar modal Indonesia terus meningkat. Kendala yang dihadapi adalah selain masih belum meratanya pemahaman dan pengetahuan masyarakat Indonesia tentang investasi di pasar modal yang berbasis syariah. Kendala lainnya belum ditunjangnya dengan peraturan yang memadai tentang investasi syariah di pasar modal Indonesia serta adanya anggapan bahwa untuk melakukan investasi di pasar modal syariah dibutuhkan biaya yang relatif lebih mahal apabila dibandingkan dengan investasi pada sektor keuangan lainnya.

    Perbedaan secara umum antara pasar modal konvensional dengan pasar modal syariah dapat dilihat pada instrumen dan mekanisme transaksinya, sedangkan perbedaan nilai indeks saham syariah dengan nilai indeks saham konvensional terletak pada kriteria saham emiten yang harus memenuhi prinsip-prinsip dasar syariah. Secara umum konsep pasar modal syariah dengan pasar modal konvensional tidak jauh berbeda meskipun dalam konsep pasar modal syariah disebutkan bahwa saham yang diperdagangkan harus berasal dari perusahaan yang bergerak dalam sektor yang memenuhi kriteria syariah dan terbebas dari unsur ribawi, serta transaksi saham dilakukan dengan menghindarkan berbagai praktik spekulasi.

    2. Jakarta Islamic IndexIndeks syariah atau biasa dikenal

    dengan Jakarta Islamic Index (JII) merupakan kumpulan indeks saham beberapa perusahaan yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah. Indeks ini diperkenalkan oleh Bursa Efek Jakarta (BEJ) bekerja sama dengan PT Danareksa Investment Management (DIM) pada tanggal 3 Juli 2000. JII ini diharapkan menjadi tolok ukur kinerja saham-saham yang berbasis syariah serta untuk lebih mengembangkan pasar modal syariah di Indonesia.

    Saham dalam JII terdiri atas 30 saham yang keanggotaannya akan terus ditinjau secara berkala berdasarkan kinerja transaksi di perdagangan bursa, rasio-rasio keuangannya, dan ketaatannya pada prinsip-prinsip syariah (Nafik, 2009:260). Seiring perkembangan pasar, tugas pemilihan saham-saham dalam JII dilakukan oleh BAPEPAM-LK bekerja sama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN). Kriteria yang digunakan untuk menentukan saham-saham yang masuk dalam perhitungan JII adalah: a. Memilih kumpulan saham dengan

    jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah1 dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan (kecuali bila termasuk di dalam saham-saham 10 berkapitalisasi besar).

    b. Saham yang berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun memiliki rasio kewajiban terhadap aktiva maksimal sebesar 30%.

    c. Memilih 60 saham dari susunan diatas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar terbesar selama satu tahun terakhir.

    d. Kemudian dipilih dari 30 saham dengan urutan tingkat likuiditas rata-

    1 Prinsip-prinsip syariah adalah (1) Emiten tidak menjalankan usaha perjudian/permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang, (2) bukan merupakan lembaga keuangan konvensional, (3) emiten tidak memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan makanan dan minuman haram, (4) emiten bukan usaha yang memproduksi, mendistribusikan, dan menyediakan barang/jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.

  • EfEktif Jurnal Bisnis dan Ekonomi Juni20

    rata nilai perdagangan reguler selama satu tahun terakhir.

    Kinerja saham-saham syariah yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) mengalami perkembangan yang cukup baik, hal ini terlihat dari kenaikan indeks JII seb