Pengantar Redaksi

Click here to load reader

download Pengantar Redaksi

of 148

  • date post

    20-Dec-2016
  • Category

    Documents

  • view

    243
  • download

    10

Embed Size (px)

Transcript of Pengantar Redaksi

  • 1

    Pengantar Redaksi

    Menjelang penghujung tahun 2010 ini, Jurnal Kajian menerbitkan tulisan-

    tulisan yang beberapa di antaranya berada dalam ruang lingkup bidang keilmuan yang

    sama. Publikasi beberapa tulisan ini dilakukan, setelah melalui proses seleksi dan

    pertimbangan berdasarkan keputusan Rapat Redaksi. Meskipun demikian, diharapkan

    edisi Kajian ini tidak berkurang signifikansi tampilannya sebagai jurnal ilmiah yang

    mempunyai ciri tersendiri sebagaimana lazim selama ini, yaitu selalu memuat

    permasalahan dan kajiannya yang bersifat lintas bidang keilmuan. Ruang lingkup

    tulisan dan bidang masalah yag ditampilkan pada Kajian kali ini meliputi sebagai

    berikut:

    Pertama, tulisan dari Riris Katharina Panjaitan dengan judul Netralitas

    Birokrasi Dalam Pemilu Legislatif 2009 (Studi di Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera

    Utara). Tulisan ini menyoroti persoalan netralitas birokasi yang selalu menjadi

    persoalan crusial dalam pemilu. Analisis persoalan tentang masalah tersebut dengan

    beranjak dari kerangka pemikiran mengenai good governance. Netralitas birokrasi

    terhadap politik mengalami dinamika pasang surut yang tinggi. Catatan sejarah di

    Indonesia telah menunjukkan bahwa pusat kekuasaan pemerintahan, kehidupan

    kepartaian dan jajaran birokrasi adalah beberapa komponen yang saling berhubungan

    satu sama lain terkait proses pengambilan kebijakan publik. Meskipun saling

    berhubungan, profesionalisme birokasi adalah sesuatu hal yang tidak dapat ditawar-

    tawar lagi keberadaannya. Pada tingkat daerah di saat pemilu, birokrasi justru menjadi

    ajang yang menarik untuk diperebutkan resources nya bagi setiap partai politik dan

    politisi yang saling bersaing. Hasil penelitian di Kabupaten Labuhan Batu, justru

    menunjukkan birokrasi setempat dalam pemilu legislatif 2009 masih bersikap tidak

    netral dan cenderung memihak pada kekuatan politik tertentu.

    Kedua, tulisan Handirini Ardiyanti, berjudul Pengaturan Rahasia Negara:

    Sebuah Kebijakan Komunikasi Dari Perspektif Hubungan Negara Dengan Industri

    Media Massa. Pada hakekatnya, pengaturan tentang rahasia negara merupakan suatu

    kebijakan komunikasi yang terkait persoalan sangat luas. Kebijakan tentang rahasia

    negara tidak saja terkait masalah kedaulatan negara, melainkan juga bersentuhan erat

    dengan konteks hubungan antara negara dengan industri media massa. Tulisan ini

    menguraikan persoalan tentang rahasia negara sebagai suatu kebijakan komunikasi

    antara negara dengan media massa. Dalam permasalahan ini, dianalisis faktor-faktor

    yang bersifat mendasar dan dianggap dapat menimbulkan resistensi media massa

    terhadap pengaturan rahasia negara.

    Ketiga, tulisan Achmad Sani Alhusain berjudul Analisa Potensi Sektor Usaha

    Strategis Daerah Sebagai Pertimbangan Kebijakan Pembentukan Badan Usaha Milik

    Daerah (BUMD). Setelah Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang

    Pemerintahan Daerah diberlakukan, pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam

    mencari sumber-sumber pendapatan daerah yang salah satunya adalah melalui

    pembentukan BUMD. Dalam realitas, banyak perusahaan daerah yang dibentuk

    kurang memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah. Daerah

    cenderung kurang mempertimbangkan potensi sektor usaha strategis yang dimiliki

    dalam rangka proses pengembangannya lebih lanjut. Meskipun sebagian besar BUMD

    telah mempertimbangkan beberapa potensi sektor usaha strategis, sayangnya masih

    banyak potensi lokal setempat yang belum dimanfaatkan atau dikelola dalam rangka

    peningkatan pendapatan daerah.

    Keempat, tulisan Mandala Harefa, berjudul Implementasi Transfer Dana

    Perimbangan dan Implikasinya. Desentralisasi fiskal melalui perimbangan keuangan

  • 2

    pusat dan daerah, telah berjalan sejak otonomi daerah diberlakukan. Bahkan, undang-

    undang terkait pelaksanaan kebijakan tersebut sudah mengalami pembenahannya

    lebih lanjut. Pembenahan yang dilakukan, dalam rangka mengurangi ketimpangan

    pembangunan antar daerah, terutama antara daerah kaya terhadap daerah miskin

    sumber daya alam (SDA). Kasus di Provinsi Kaltim, menujukkan bahwa, dalam

    pelaksanaan kebijakan DAU, DAK, DBH atau dana transfer, mayoritas berasal dari

    hasil sektor pertambangan dan hutan. Persoalannya, dana transfer yang besar nilai

    nominalnya selama ini belum mampu memberikan efek bagi peningkatan

    kesejahteraan rakyat. Hal ini indikasinya terlihat dari pertumbuhan ekonomi dan

    pendapatan perkapita, jumlah penduduk yang miskin, dan tingkat pengangguran serta

    pelayanan publik. Ketimpangan ini semakin diperburuk oleh sejumlah temuan

    pelanggaran dalam hal penggunaan anggaran.

    Kelima, tulisan Puteri Hikmawati berjudul Relevansi Pelaksanaan Hukum

    Pidana Adat di Kalimantan Barat Dengan Hukum Pidana Nasional. Bangsa

    Indonesia memiliki keberagaman suku, agama, ras, agama dan adat kebiasaan yang

    tersebar di banyak daerah. Banyak suku di Indonesia mempunyai hukum adat dan

    menerapkannnya terhadap pelaku kejahatan dan pelanggaran hukum adat. Sementara

    itu, KUHP menganut asas legalitas, bahwa tiada suatu perbuatan dapat dipidana,

    kecuali berdasarkan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada

    sebelumnya. Kajian ini terkait relevansi hukum pidana adat Dayak di Kalimantan

    Barat terhadap hukum pidana nasional. Hukum pidana adat ada yang bersifat tertulis

    dan tidak tertulis. Dalam pelaksanaan hukum adat, pihak yang menjalankannya adalah

    lembaga adat. Hukum pidana adat tidak didokumentasikan secara memadai oleh

    masyarakat, dan hanya dilakukan berdasar kesepakatan dan berlaku hingga turun

    temurun.

    Keenam, tulisan Ronny Sautma Hotma Bako, berjudul Permasalahan Hukum

    Atas Badan Hukum Pada Badan Usaha Milik Daerah. Pada umumnya, pemerintah

    daerah memiliki badan usaha milik daerah (BUMD) sebagai sumber penambah

    pendapatan asli daerah (PAD) dan mempunyai fungsi sosial. Terdapat dua bentuk

    badan hukum pada BUMD, yaitu Perusahaan Daerah dan Perseroan Terbatas. Adanya

    dua bentuk badan hukum mempunyai implkasi hukum yang berbeda dan pemerintah

    daerah menyadari konsekuensi atas pembentukan BUMD tersebut. Terdapat

    ketidakkonsistenan dalam masalah ini, salah satu faktor penyebabnya adalah belum

    lahirnya Undang-Undang yang secara khusus mengatur keberadaan BUMD secara

    komprehensif.

    Beberapa tulisan yang ditampilkan oleh Jurnal Ilmiah Kajian edisi kali ini,

    tentu masih jauh dari sempurna dari segi substansi dan teknis penyajiannya. Untuk

    itu, Redaksi membuka ruang bagi adanya diskusi lebih lanjut. Ruang diskusi ini

    merupakan sarana yang tepat untuk memperoleh masukan berupa kritik dan saran

    secara luas. Masukan-masukan tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas Jurnal

    Ilmiah Kajian baik secara akademis keilmuan maupun terhadap relevansi

    kegunaannya dalam proses pembuatan kebijakan oleh DPR.

    Jakarta, Desember 2010

    Redaksi

  • 1

    NETRALITAS BIROKRASI DALAM PEMILU LEGISLATIF 2009 (Studi di Kabupaten Labuhan Batu)

    Riris Katharina

    *

    Abstract

    The issue of neutrality of bureaucracy in the general election always becomes problematic. The Indonesian bureaucracy remains to be seen unneutral. Several legal frameworks have so far been made to maintain the neutrality of bureaucracy in Indonesia. This research was conducted to see the neutrality of bureaucracy following the passage of the Law No. 10/2008 on the Election of the House of Representatives, the Regional Representative Council and the Regional House of Representatives. The issue is approached through a theoritical thinking of the neutrality of bureaucracy and its relations to the need of good governance. The technique used to collect data is through interviews and information gathered from the text books, journals, papers and internet sites. This research using qualitative approach and descriptively analysed secondary data concluded that the bureaucracy has not been neutral in the legislative general election of 2009.

    Abstrak

    Netralitas birokrasi dalam pemilihan umum selalu menjadi persoalan. Birokrasi Indonesia selalu dinilai tidak netral. Berbagai peraturan telah dibuat untuk menciptakan netralitas birokrasi di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk melihat netralitas birokrasi setelah UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR, DPD, dan DPRD diundangkan. Permasalahan didekati dari kerangka pemikiran netralitas birokrasi dan kaitannya dengan pemerintahan yang baik. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara dan memperoleh informasi dari buku, majalah ilmiah, kliping, jurnal, makalah, dan situs internet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sedangkan hasil wawancara dan data sekunder dianalisa dengan metode deskriptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa birokrasi dalam Pemilu Legislatif 2009 masih bersikap tidak netral.

    * Penulis adalah Peneliti Madya bidang Administrasi Negara.

  • 2

    Kata Kunci: Netralitas Birokrasi, Pemilu Legislatif 2009.

    I. Pendahuluan A. Latar Belakang

    Penelitian ini dilatarbelakangi sejarah birokrasi di Indonesia yang

    dikaitkan dengan pelaksanaan netralitas birokrasi. Netralitas birokrasi semakin terasa kembali gaungnya ketika Indonesia mulai membuka diri bagi lahirnya partai politik baru pa