PENERAPAN HERMENEUTIKA HUKUM DI PENGADILAN AGAMA

Click here to load reader

  • date post

    19-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of PENERAPAN HERMENEUTIKA HUKUM DI PENGADILAN AGAMA

DALAM PENYELESAIAN SENGKETA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)
Oleh :
SAFIRA MAHARANI NIM. 1111044100045
K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
Safira Maharani. NIM 1111044100045. Penerapan Hermeneutika Hukum Di Pengadilan Agama Dalam Penyelesaian Sengketa (Studi Analisis Putusan Pengadilan Agama Bekasi Tentang Harta Bersama). Konsentrasi Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1436 H/ 2015 M. xii + 102 halaman + 61 lampiran.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dasar hukum dalam menerapkan
hermeneutika hukum pada putusan perkara harta bersama, serta mengetahui apakah yang menjadi alasan hakim dalam memutus perkara harta bersama tanpa merujuk pada Kompilasi Hukum Islam.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang menekankan pada kualitas dengan pemahaman deskriptif pada putusan pengadilan tersebut. Pendekatan yang penulis lakukan menggunakan pedekatan empiris yang mana pengetahuan didasarkan atas berbagai fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi. Sumber data diperoleh melalui studi kepustakaan yang didukung dengan wawancara kepada hakim Pengadilan Agama Jakarta Timur. Adapun pengelolaan bahan hukum dilakukan dengan cara deduktif yaitu menarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan yang kongkret yang dihadapi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Hakim dalam memutus perkara harta bersama telah menerapkan teori hermenutika hukum sebagai salah satu alternatif dalam pertimbangan hukumnya, hal ini didukung dengan hakim sebagai penafsir harus dapat memahami tiga trilogy pemahaman hermeneutika hukum yaitu teks, konteks, dan kontekstualisasi. Oleh karena itu ketika hakim melihat dan memahami perkara tersebut sudah tidak relevan dengan ketentuan pada teks Undang-undang, maka dalam hal ini hakim boleh melakukan interpretasi terhadap teks, artinya hakim tidak hanya memahami hukum secara tekstual namun juga lebih mempertimbangkan aspek kontekstual yang bersifat sosiologis. Dan menjunjung tinggi agar setiap putusan yang ditetapkan dapat terpenuhinya tujuan hukum (Kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan) bagi para pihak.
Kata Kunci : Penerapan Hermeneutika Hukum. Penyelesaian Sengketa Harta Bersama Perkara Nomor: 1006/Pdt.G/2008/PA.Bks
Pembimbing : Dr. Asep Saepudin Jahar, MA. Daftar Pustaka : Tahun 1958 sampai Tahun 2012
vi
Bismillahirrahmaanirrahim
Puji Syukur Penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta memberikan segala petunjuk dan
kemudahan kepada penulis. Sehingga atas karunia pertolongan-Nya lah penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam penulis panjatkan kepada
Nabi Agung Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan para umat-Nya.
Skripsi ini penulis persembahkan untuk motivator terbesar sepanjang
perjalanan hidup penulis, terkhusus kedua orang tua tercinta, Ayahanda Drs.
Ahmad Zawawi, MH. dan Ibunda Sahlah Zulfikah beserta adik-adikku terkasih
dan tercinta Muthia Rahmah dan Saiful Umam yang tiada lelah dan bosan
memberikan motivasi, bimbingan, kasih sayangnya serta do’a, begitu juga
keluangan waktu dan senyumannya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan
rahmat dan kasih sayang kepada mereka semua.
Dalam penulisan skripsi ini, sedikit banyaknya hambatan dan kesulitan
yang penulis hadapi, akan tetapi syukur Alhamdulillah berkat rahmat dan inayah-
Nya, kesungguhan, serta dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, baik
langsung maupun tidak langsung segala hambatan dapat diatasi, sehingga pada
akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Dengan demikian, sudah
sepatutnya pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sedalam-dalamnya kepada:
1. Dr. Asep Saepudin Jahar, MA. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidaytullah Jakarta.
vii
2. H. Kamarusdiana, S.Ag., MH., dan Ibu Sri Hidayati, M.Ag., selaku Ketua
Program Studi dan Sekretaris Program Studi Ahwal al-Syakhshiyah Fakultas
Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Jakarta.
3. Dr. Asep Saepudin Jahar, MA. selaku dosen pembimbing yang telah
meluangkan waktu, tenaga, pikiran untuk mengarahkan dan memotivasi
selama membimbing penulis.
4. Segenap Bapak dan Ibu Dosen terutama bapak Arip Purkon, S.HI., MA., Dr.
Mamat S. Burhanuddin, MA. Dan Ibu Dr. Hj. Azizah, MA. Yang telah
meluangkan waktu untuk berbagi ilmu pengetahuan mengenai hermeneutika
hukum. Beserta Staf pengajar pada lingkungan Program Studi Ahwal al-
Syakhshiyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuannya kepada
penulis dari awal bangku kuliah sampai pada akhirnya penulis bisa
menyelesaikan skripsi ini.
5. Segenap jajaran Staf dan karyawan akademik Perpustakaan Fakultas Syariah
dan Hukum dan Perpustakaan Utama terutama yang telah membantu penulis
dalam pengadaan referensi-referensi sebagai bahan rujukan skripsi.
6. Dr. Drs. H. Chazim Maksalina, MH., selaku Wakil Ketua Pengadilan Agama
Jakarta Timur yang telah membantu dan membimbing penulis selama
melakukan wawancara. Serta Drs. Jajat Sudrajat, SH., MH., selaku hakim
Pengadilan Agama Jakarta Timur yang memutus perkara yang penulis rintis,
yang senantiasa telah memberikan waktu untuk bisa diwawancarai dan
viii
wawancara.
7. Kasih sayang dan kebersamaan penulis sampaikan kepada kedua sahabat
seperjuangan saudari Epi Yulianti dan Lilis Sumiyati yang senantiasa
memberikan semangat, canda dan tawanya melewati suka duka selama
dibangku perkuliahan serta kesabaran dan kesetiannya menemani dari awal
bertemu sampai pada penulis dapat menyelesaikan skripsi.
8. Sahabat-sahabat seperjuangan penulis di Peradilan Agama Tahun 2011
lainnya, Andi Asyraf Rahman, Ahmad Farhan, Hendrawan, M. Nazir, M.
Saekhoni, Rahmatullah Tiflen, M. Fathin, Burhanatud Dyana, Arisa, Azizah,
Nadia NS, Kamelia Sari, Mujahidah, Triana Aprianita, Juniati Harahap, Vemi
Zauhara, Gusti Fajrina, Robi’ah yang terus memberikan motivasi dan
semangat kepada penulis.
9. Kawan-kawan seatap (kost bungong jumpo) Nailil Farohah, Yonita Syukra,
Aini Yunianingtias yang memberikan support, hiburan dan saran keilmuan
selama penulisan skripsi ini.
10. Sahabat-sahabat seperjuangan Double Degree Ilmu Hukum Tahun 2014 yang
sudah senantiasa menjadi tempat berbagi ilmu dan waktunya.
11. Semua teman-teman Peradilan Agama Angkatan 2011 dan KKN LEBAH
2014 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan
semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, serta kenangan
indah penulis yang tidak dapat terlupakan bersama kalian semuanya.
ix
Tidak ada yang dapat penulis berikan atas balas jasa dan dukungannya,
hanya doa semoga amal baik mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan
yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelsaikan skripsi ini.
Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang membangun senantiasa penulis harapkan untuk kesempatan skripsi ini.
Jakarta, 25 Mei 2015
B. Identifikasi Masalah .................................................................... 6
E. Review Studi Terdahulu .............................................................. 9
F. Metode Penelitian ..................................................................... 11
G. Sistematika Penulisan ............................................................... 14
A. Pengertian Hermeneutika Hukum .............................................. 16
B. Hermeneutika Hukum Sebagai Alternatif Metode Penemuan
Hukum ...................................................................................... 19
D. Kedudukan Hakim .................................................................... 39
PENGADILAN AGAMA
Pada Putusan Pengadilan Agama .............................................. 57
1. Putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur Perkara Nomor:
1159/Pdt.G/2013/PA.JT ...................................................... 57
1934/Pdt.G/2013/PAJT ........................................................ 59
Penerapan Hermeneutika Hukum .............................................. 61
BAB IV IMPLEMENTASI HERMENEUTIKA HUKUM PADA PUTUSAN
HARTA BERSAMA PERKARA NO. 1006/Pdt.G/2008/PA.Bks
A. Penerapan Hermeneutika Hukum
1. Duduk Perkara .................................................................... 68
2. Pertimbangan Hukum ........................................................... 77
3. Amar Putusan ....................................................................... 83
B. Analisis Penulis ......................................................................... 84
2. Surat Permohonan Data Wawancara Ke PA Bekasi
3. Surat Permohonan Data Wawancara Ke PA Jakarta Timur
4. Surat Keterangan Telah Melakukan Wawancara dari PA Jak-Tim
5. Hasil Wawancara dengan Hakim PA Jak-Tim
6. Hasil Wawancara dengan Wakil Ketua PA Jak-Tim
7. Hasil Wawancara dengan Dosen dan Sekretaris Program Studi Ilmu
Hukum
9. Putusan Nomor 1006/Pdt.G/2008/PA.Bks
1
semakin hari semakin kontemporer, sehingga tidak mungkin tercangkup
dalam suatu peraturan perundang-undangan secara tuntas dan jelas. Karena
pada hakikatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan mempunyai
kemampuan yang terbatas sehingga undang-undang yang dibuatnya
tidaklah lengkap dan tidak sempurna untuk mencakup keseluruhan
permasalahan manusia dalam kehidupannya. Untuk itu, tidak ada
peraturan perundang-undangan yang lengkap selengkap-lengkapnya atau
jelas sejelas-jelasnya.1
abstrak, tidak dapat diterapkan begitu saja secara langsung pada peristiwa
konkret. Oleh karena itu, ketentuan undang-undang harus diberi arti,
dijelaskan atau ditafsirkan dan disesuaikan dengan peristiwanya untuk
diterapkan pada peristiwa itu. Peristiwa hukumnya harus dicari terlebih
1 Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Liberty,
2010), h. 48
untuk dapat diterapkan.2
perkembangan kemasyarakatan sehingga menimbulkan ruang kosong yang
perlu diisi. Tugas mengisi ruang kosong itulah, dibebankan kepada para
hakim dengan melakukan penemuan hukum melalui metode interpretasi
atau konstruksi dengan syarat bahwa dalam menjalankan tugasnya
tersebut, tidak boleh mendistorsi maksud dan jiwa undang-undang atau
tidak boleh bersikap sewenang-wenang.3 Dikarenakan dalam Undang-
undang tidak lengkap, maka dari itu harus dicari dan diketemukan
hukumnya dengan memberikan penjelasan, penafsiran atau melengkapi
peraturan perundang-undangannya.4
kondisi kekinian, maka dengan demikian muncullah beberapa alternative
metode penemuan hukum oleh hakim berupa interpretasi hukum dan
konstruksi hukum, pada prinsipnya masih relevan digunakan hakim hingga
saat ini. Akan tetapi, perlu diketahui terdapat suatu penemuan hukum yang
lain yang bisa dipergunakan hakim dalam praktik peradilan sehari-hari,
2 Sudikno Mertokusumo dan A. Pilto, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2005), h. 12
3 Andi Zainal Abidin, Asas-Asas Hukum Pidana Bagian Pertama, (Bandung: Alumni, 2006), h. 33
4 Pontang Moerad, B.M., Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan, (Bandung:
Alumni, 2006) h. 86
alternative metode penemuan hukum baru oleh hakim yang berdasarkan
pada interpretasi teks hukum.
metode interpretasi teks hukum atau metode memahami sesuatu terhadap
suatu naskah normatif.5
dibicarakan dalam filsafat abad XX, hal ini berawal dari perhubungan
penafsiran kitab suci orang Yahudi dan Kristen sebelum akhirnya
berkembang menjadi sebuah kajian filsafat. Apalagi keyakinan teologis
umat Kristen mengenai Bibel, mereka menyakini bahwa Bibel mempunyai
beberapa penulis yang mendapat inspirasi dari roh kudus seperti Markus,
Yohannes, Matius dan sebagainya. Kenyataan ini kemudian
mempengaruhi struktur keimanan umat Kristen untuk tidak mengatakan
Bibel sebagai Kalam Tuhan, maka dari itu para teolog Kristen memerlukan
hermeneutika untuk memehami teks.
merupakan hal yang baru dalam tradisi keilmuan Islam, praktek
hermeneutika dapat dilihat dari maraknya kegiatan interpretasi dalam
wacana keilmuan Islam di bawah payung disiplin ilmu yang juga dikenal
dengan Ilmu Tafsir. Lain hal dengan penjelasan dari Hasan Hanafi yang
mengatakan bahwa hermeneutika tidak hanya berusaha menyelami
5Ahmad Rifa’i, Metode Penemuan Hukum Yang Sesuai dengan Karakteristik, (Jakarta,
Sinar Grafika, 2011), h. 88
4
kandungan makna literal sebuah teks tetapi juga berusaha menggali makna
yang tersembunyi dibalik teks dengan mempertimbangkan horizon yang
melingkupi teks, pengarang dan pembaca.6
Di Indonesia praktik peradilan, untuk metode hermeneutika hukum
tidak banyak atau jarang sekali digunakan sebagai metode penemuan
hukum, hal ini disebabkan begitu dominannya metode interpretasi dan
konstruksi hukum yang sangat legalistik formal, sebagai metode penemuan
hukum yang telah mengakar cukup lama dalam system peradilan di
Indonesia. Atau dapat pula sebagian besar hakim belum familiar dengan
metode ini, sehingga jarang atau sama sekali tidak menggunakannya
dalam praktik peradilan, padahal esensi hermeneutika hukum terletak pada
pertimbangan triangle hukumnya, yaitu suatu metode menginterpretasikan
teks hukum yang tidak semata-mata melihat teksnya saja semata, tetapi
juga konteks hukum itu dilahirkan, serta bagaimanakah kontekstualisasi
atau penerapan hukumnya di masa kini dan masa mendatang.7
Dan dari banyaknya perkara yang ditangani Pengadilan pada
kenyataannya tidak sedikit ada beberapa hakim yang sudah berani untuk
menggunakan hermeneutika hukum dalam putusannya dan salah satunya
mengenai penerapan harta bersama yang dikolerasikan dengan
hermeneutika hukum di dalamnya, dikarenakan dalam realita sering
6 Hasan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, terj. Tim Pustaka Firdaus, (Jakarta: Tim
Pustaka Firdaus, 1991), h. 1
7 Ahmad Rifa’i, Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Persfektif Hukum Progresif, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), h.89
5
tidak sedikit berujung pada putusan perceraian di Pengadilan dan tidak
diherankan pada saat atau telah berakhirnya sebuah perkawinan yang
sering disengketakan tidak jauh dari permasalahan harta bersama yang
biasa juga dikenal dengan harta gono gini, maka dari itu ada beberapa
yang perlu terlebih dahulu diketahui yaitu dapat membedakan antara harta
bawaan dan harta bersama yang sering kali disalah mengertikan oleh
masyarakat yang awam atas hukum, harta bersama adalah harta kekayaan
yang diperoleh selama perkawinan diluar hadiah atau warisan, maksudnya
adalah harta yang didapat atas usaha mereka sendiri selama masa ikatan
perkawinan.8
definisi bahwa harta bersama (gono-gini) adalah harta milik bersama dari
suami istri yang diperoleh keduanya selama berlangsungnya perkawinan
dimana keduanya bekerja untuk kepentingan hidup berumah tangga. Dan
harta bersama dapat juga diqiyaskan sebagai syirkah karena dapat
dipahami bahwa istri juga dapat dihitung pasangan (kongsi) yang bekerja,
meskipun tidak ikut bekerja dalam pengertian yang sesungguhnya. Yang
dimaksudkan adalah pekerjaan istri seperti mengurus rumah tangga,
memasak, mencuci, mengasuh anak dan keperluan lainnya.
8 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, Cet.-3,
1998), h. 200.
Di berbagai daerah di tanah air sebenarnya juga dikenal istilah-
istilah lain yang sepadan dengan pengertian harta gono-gini (di Jawa).
Hanya, diistilahkan secara beragam dalam hukum adat yang berlaku di
masing-masing daerah. Misalnya di Aceh, harta gono-gini diistilahkan
dengan haeruta sihareukat; di Minangkabau masih dinamakan
harta suarang nan babagi; di Madura dinamakan guna ghana; di Sunda
digunakan istilah guna-kaya; di Bali disebut dengan druwe gabro; dan di
Kalimantan digunakan istilah barang perpantangan.9
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, penulis
mendeskripsikan sebagai permasalahan yang menarik untuk dibahas lebih
meneliti agar ada kolerasi antara yang terjadi dalam lapangan ataupun
dilihat dari segi kepustakaannya, oleh karena itu penulis mengangkat ini
sebagai sebuah penelitian dengan judul “PENERAPAN
HERMENEUTIKA HUKUM DI PENGADILAN AGAMA DALAM
PENYELESAIAN SENGKETA” (Studi Analisis Putusan Pengadilan
Agama Bekasi Tentang Harta Bersama).
A. Identifikasi Masalah
dengan judul yang sedang dibahas. Masalah-masalah yang sudah tertuang
pada subbab latar belakang diatas, maka dari itu penulis memaparkan
9 Ismail Muhammad Syah, Pencaharian Bersama Suami Istri, (Jakarta: Bulan bintang,
1965), h. 18.
belakang penelitian ini, diantaranya adalah:
1. Bagaimana konstribusi hermeneutika hukum dalam
penyelesaian harta bersama akibat perceraian pada putusan di
Pengadilan Agama Bekasi?
Penngadilan Agama Bekasi dalam suatu putusan perkara?
3. Apa yang menjadi acuan tinjauan yurisprudensi dalam
permasalahan perkara harta bersama?
hermeneutika hukum pada putusan yang dihadapi?
5. Bagaimanakah kelebihan dan kekurangan hermeneutika hukum
sebagai alternatif metode penemuan hukum baru dalam putusan
di Penngadilan Agama Bekasi?
1. Pembatasan Masalah
adalah:
terhadap Kompilasi Hukum Islam.
b. Pengadilan Agama dibatasi pada kota Bekasi di Jalan Ahmad
Yani No. 10 dan Pengadilan Agama Jakarta Timur di Jalan
Raya PKP No. 24 Kelapa Dua Wetan, Ciracas.
c. Perkara Nomor 1006/Pdt.G/2008/PA.Bks. dibatasi dengan
permasalahan mengenai sengketa harta bersama akibat
perceraian. Antara Trileya Noverisda Binti Rivai Risma
sebagai Penggugat dan Mochsirsyah Bin Mochtarudin sebagai
Tergugat. Dan beberapa sample putusan yang menerapkan
hermeneutika
d. Data yang di teliti dibatasi pada data tahun 2008 dan 2013.
2. Perumusan Masalah
hukum pada putusan perkara harta bersama?
2. Bagaimana alasan hakim dalam putusan perkara penyelesaian
sengketa harta bersama tanpa merujuk kepada Kompilasi
Hukum Islam ?
1. Tujuan Penelitian
sebagai berikut :
hukum pada putusan perkara harta bersama
9
Islam.
kepentingan pihak-pihak, di antaranya:
1. Bagi para akademisi, agar penelitian ini dapat bermanfaat sebagai
bahan tambahan khazanah ilmu pengetahuan.
2. Bagi masyarakat, supaya penelitian ini dapat memberikan
pengetahuan baru dan terpenuhinya rasa keadilan.
3. Bagi para hakim agar lebih berani dan mau lebih melakukan
hermeneutika dalam penemuan hukum yang baru namun juga
tidak sewenang-wenang.
Perceraian Perspektif Hukum Islam (Studi Putusan Nomor:
393/Pdt.G/PA.Tng), prodi SAS, 2009. Skripsi ini membahas
pertimbangan Majelis hakim pada putusan ini hanya menerapkan
apa yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam sepanjang
sudah dijelaskan atau disesuaikan dengan kasus dan baru
kemudian hakim menafsirkan pasal tersebut. Perbedaannya
dalam penulisan skripsi penulis ialah penulis mengungkapkan
bagaimana penerapan suatu hermeneutika hukum di Pengadilan
10
perceraian pada putusan yang terkait.
2. Skripsi M. Beni Kurniawan, Pembagian Harta Bersama
Berdasarkan Konstribusi Dalam Perkawinan (Analisis Putusan
Nomor: 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt), prodi SAS, 2014. Skripsi ini
membahas pembagian harta bersama berdasarkan konstribusi
adalah pembagian harta bersama dengan menilai besaran
konstribusi para pihak. Dalam arti jika pihak isteri mempunyai
jasa atau konstribusi yang lebih banyak dari suami maka ia
berhak mendapatkan 2/3 dari harta bersama dan pihak suami
hanya mendapat 1/3 dari harta bersama. Dan hakim dalam
putusan ini mengesampingkan ketentuan pasal 97 KHI,
perbedaannya dengan penulisan skripsi penulis adalah dalam
penulisan ini lebih menitikberatkan pada penerapan penyelesaian
sengketa harta bersama menggunakan metode penemuan hukum
baru yaitu hermeneutika hukum.
Skripsi ini membahas mengenai penyelesaian yang dilakukan
hakim dalam memeriksa gugatan harta bersama pasca perceraian
di Pengadilan Agama Jakarta Selatan dan dalam
pertimbangannya hakim tetap menyesuaikan dengan peraturan
yang termuat yaitu Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam, yaitu
11
membagi sama rata harta bersama antara bekas suami dan istri
selama masa perkawinan. Sedangkan berbeda halnya dalam
penulisan penulis yaitu membahas tindakan hakim dalam berani
menerapkan suatu putusan menggunakan terobosan hermeneutika
hukum tanpa merujuk KHI, dan ini digunakan sebagian hakim
untuk mengesampingkan ketetapan Undang-undang yang telah
ada.
dilakukan terhadap permasalahan. Metode penelitian dianggap paling
penting dalam menilai kualitas hasil penelitian. Hal ini wajib harus ada
dan tidak dapat dipisahkan lagi dari apa yang dinamakan keabsahan
penelitian. Maka dari itu dipergunakan untuk membuat terang suatu
penelitian secara lengkap.
sebagai berikut:
dari hasil penelitian dan observasi.10
10 Yayan Sopyan, Pengantar Metode Penelitian, (Jakarta, 2010), h.19
12
metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode
deskriptif ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang
baik, jelas, dan dapat memberikan data seteliti mungkin
tentang obyek yang diteliti.11
Jenis - jenis data dalam penulisan skripsi ini yaitu kualitatif
dan terbagi menjadi dua yaitu :
a. Data Primer
menangani putusan perkara Nomor 1006/Pdt.G/2008/PA.Bks
b. Data Sekunder
peraturan perundang-undangan13, Al-Qur’an, Hadis, data-data
resmi dari instansi pemerintah yang berwenang, buku-buku
11 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press,1986), h. 43
12 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008) h. 35
13 Johny Ibrahim, Teori dan Metedologi Penelitian Hukum Normatif, Edisi Revisi Cet 4, (Malang : Bayumedia Publishing, 2008), h. 302
13
bacaan lain yang berkaitan dengan judul penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
menyajikan bahan-bahan yang diperlukan, maka dilakukan
pengumpulan data dengan cara sebagai berikut:
a. Observasi
melakukan observasi pada objek yang dimaksudkan yaitu pada
Pengadilan Agama Bekasi yang terletak di Jalan Ahmad Yani
No. 10.
pihak-pihak yang terkait dan majelis hakim yang menyidangi
perkara putusan Nomor 1006/Pdt.G/2008/PA.Bks. dengan
Ketua Majelis Hakim Drs. Jajat Sudrajat, SH,. MH. dan Wakil
Ketua Pengadilan Agama Jakarta Timur Drs. H. Chazim
Maksalina, MH, dan para dosen. Wawancara ini menggunakan
metode bebas dan terstruktur kemudian penulis kaji dan penulis
jadikan referensi untuk memperkuat data.
c. Studi Dokumentasi (document research)
Melalui studi ini untuk dapat menelaah bahan-bahan atau
data-data yang diambil dari dokumentasi dan berkas yang
14
harta bersama pada putusan perkara Nomor:
1006/Pdt.G/2008/PA.Bks.
Melalui studi pustaka ini dikumpulkan data yang
berhubungan dengan penulisan skripsi ini yaitu dari Kompilasi
Hukum Islam, Undang-undang No. 1 Tahun 1974, Undang-
Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan
Kehakiman. Pengelohan data studi pustaka dilakukan dengan
cara dibaca, dikaji dan dikelompokkan sesuai dengan pokok
masalah yang terdapat dalam skripsi ini.
F. Sistematika Penulisan
dari penulisan yang dibuat agar pembahasan teratur dan terarah pada
pokok permasalahan yang sedang dibahas. Untuk itu penulisan ini akan
dibagi ke dalam 5 (lima) bab yaitu :
BAB I Berisi pendahuluan yang memuat latar belakang,
identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, studi review, metode
penelitian, metode analisis data, sistematika penulisan.
BAB II Penulis menguraikan tentang pengertian hermeneutika
hukum, hermeneutika hukum sebagai alternatif metode
15
kedudukan hakim, kemudian kedudukan mujtahid
BAB III Penulis membahas mengenai penerapan hermeneutika
hukum pada putusan di Pengadilan Agama, kemudian
penulis juga melakukan analisis terhadap putusan-putusan
Pengadilan Agama yang menggunakan hermeneutika
hukum.
BAB IV Dalam bab ini penulis akan memaparkan duduk perkara,
pertimbangan hukum beserta amar putusan tekait Perkara
Nomor 1006/Pdt.G/2008/PA.Bks pada penerapan
bersama dan terakhir penulis akan menganalisis putusan
tersebut.
BAB V Pada bab akhir ini penulis akan memberikan kesimpulan
yang disertai dengan saran-saran. Demikianlah sistematika
penulisan ini, mudah-mudahan penulisan ini dapat
dimengerti dan bermanfaat.
A. Pengertian Hermeneutika Hukum
berarti “interpretasi” dan perkataan hermeneutika adalah pengindonesiaan dari
kata bahasa inggris hermeneutics. Kata ini aslinya berasal dari bahasa
Yunani, yakni dari kata kerja hermeneuein yang mempunyai tiga bentuk
makna dasar. Ketiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari
hermeneuein. Pertama, mengungkapkan kata-kata, kedua, menjelaskan
sebuah situasi dan ketiga, menerjemahkan. Dari ketiga pengertian diatas
dimaksudkan bahwa hermeneutika merupakan usaha untuk beralih dari
sesuatu yang gelap ke sesuatu yang lebih terang.14
Dalam ilmu hukum, Henry Cambell Black mengartikan hermeneutika
sebagai “The science of art of consrtruction and interpretation. By the phrase
“legal hermeneutic” is understood the systematic body of rules which are
14 Richard E. Palmer, Hermeneutic, Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey,
Heidegger, and Gadamer, (Evanston: Northwestern University Press, 1969), diterjemahkan oleh: Masnur Hery & Damanhuri Muhammad, Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 14-15…