PENDAHVL VAN

download PENDAHVL VAN

of 22

  • date post

    12-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    217
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of PENDAHVL VAN

  • EVALUASI PEMANFAATAN BUNGKIL INTI SAWIT YANG DIFERMENTASI ASPERGILLUS NIGER HIDROLISAT TEPUNG

    BULU AYAM DAN SUPLEMENTASI MINERAL Zn DALAM RANSUM AYAM PEDAGING

    ZULFIKAR SIREGAR

    EDHI MIRWANDHONO

    Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    PENDAHULUAN

    Sub sektor peternakan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di bidang sektor pertanian. Namun krisis moneter dan ekonomi yang berlangsung sejak 1997 membawa dampak yang merugikan bagi dunia peternakan khususnya peternakan unggas, sehingga menimbulkan kegagalan pembangunan industri peternakan nasional.

    Memasuki abad XXI dan milenium III kita dihadapkan kepada perubahan lingkungan strategis yang dinamis di segala bidang. Dengan arus globalisasi yang ditandai dengan adanya hubungan perdagangan bebas, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, hubungan antar negara yang hampir tidak ada batas maupun meningkatnya intensitas kerja sama sekaligus timbulnya persaingan bisnis secara bebas tanpa ada proteksi dan monopoli.

    Era glohalisasi saat ini mendorong usaha peternakan terhadap orientasi pasar dengan pola agribisnis yang berupaya untuk mendapatkan hasil dan pendapatan bagi peternak. Disamping itu industri ternak unggas harus mampu memanfaatkan dan menggunakan sumber daya yang dimiliki secara optimal dengan menerapkan bioteknologi yang terpusat pada penggunaan mikroorganisme dan penggunaan dari bahan baku lokal dengan sentuhan teknologi tepat guna. Produksi ternak unggas yang dihasilkan harus memiliki daya saing tinggi serta memenuhi standar mutu internasional.

    Kendala utama yang dihadapi salam pengembangan temak unggas di Indonesia adalah tingginya harga ransum. Pada usaha peternakan unggas khususnya ayam pedaging biaya ransum merupakan biaya produksi terbesar yaitu 60 - 70 %. Selama ini bahan baku ransum masih ada yang harus diimpor yaitu tepung ikan dan bungkil kedelai, sehingga ketersediaannya sering menimbulkan masalah, harganya tinggi dan selalu berfluktuasi.

    Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam produksi hasil unggas, terutama ayam pedaging, karena didukung oleh sumber daya alam basil pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dengan limbah yang dihasilkannya sangat berlimpah. Hal ini akan mendukung berkembangnya agribisnis penunggasan, karena limbah tersebut memiliki nilai tambah yang besar ditunjang dengan hasil-hasil penelitian yang menggunakan bahan baku lokal.

    Salah satu cara menekan biaya ransum adalah menggunakan bahan baku lokal, harganya murah, tersedia sepanjang tahun dalam jumlah besar dan tidak bersaing dengan manusia. Altematif penggunaan limbah yang dalam konteks ini bungkil inti sawit dan tepung bulu ayam disamping limbah lain merupakan hal yang positif, karena jika tidak dimanfaatkan akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Penggunaan limbah sebagai bagan ransum ayam pedaging akan memberikan

    2004 Digitized by USU digital library 1

  • keuntungan ganda yaitu menambah variasi dan persediaan bahan baku ransum serta mengurangi pencemaran lingkungan.

    Bertitik tolak dari kenyataan yang dihadapi sekarang ini dimana melonjaknya harga bahan baku ransum, terutama yang diimpor sampai 300 %, maka perlu dilakukan kajian lebih mendalam mengenai evaluasi penggunaan bahan baku lokal yaitu bungkil inti sawit dengan fermentasi Aspergillus niger, tepung bulu ayam dihidrolisa dengan asam chlorida (HCI) dan suplementasi Zn (seng) dalam menunjang kinerja pertumbuhan ayam pedaging serta mendukung pengembangan perunggasan di Indonesia. PERUMUSAN MASALAH

    Ransum merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan unggas khususnya ayam pedaging, Karena biaya yang diinvestasikan pada ransum sekitar 70 % dari total biaya produksi. Harga ransum ayam pedaging cukup tinggi. Hal ini dikarenakan sebagian dari bahan baku penyusun ransum harus diimpor seperti tepung ikan dan bungkil kedelai, sehingga harganya tinggi dan ketersediaannya sering menimbulkan permasalahan.

    Untuk mengatasi permasalahan ini, ransum ayam pedaging harus diformulasikan dengan menggunakan bahan baku lokal yang dimiliki yaitu limbah pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan dengan sentuhan teknologi tepat guna, sehingga dihasilkan satu ransum yang sesuai untuk pertumbuhan ayam pedaging.

    TINJAUAN PUSTAKA 1.Ayam Broiler AACP- 707

    Broiler adalah istilah untuk menyebutkan strain ayam pedaging hasil rekayasa genetik dengan ciri pertumbuhan sangat cepat, karkas tinggi dan konversi ransum baik. Umur potong sangat singkat dengan hasil daging berkualitas baik (Murtidjo, 1990). Sulaksono (1970) menyatakan broiler adalah ayam yang seluruh fase hidupnya ditentukan oleh manusia, dipelihara dengan tujuan sebagai penghasil daging. Ayam broiler dipasarkan pada umur 35 - 42 hari dengan bobot hidup 1,3 - 1,6 kg/ekor. Daya hidup strain AACP- 707 sebesar 95 - 100 %, bobot hidup umur 6 minggu 1,56 kg dan konversi ransum 1,93 (Rasyaf, 1994). 2. Ransum Ayam Broiler

    Tujuan utama pemberian ransum pada ayam adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan. Untuk mendapatkan produksi yang maksimum, pemberian ransum dalam jumlah yang cukup, baik kuantitas maupun kualitas perlu dilakukan. Ransum broiler harus seimbang antara kandungan protein dan energi dalam ransum. Di samping itu kebutuhan vitamin dan mineral juga harus diperhatikan (Kartadisastra, 1994).

    Mutu ransum ditentukan oleh protein dan energi. Protein ditentukan oleh susunan kandungan asam ,amino esensialnya. Bila ransum defisiensi salah satu asam amino esensial maka pertumbuhan broiler lambat dan produksi akan terganggu. Ransum ayam broiler pada periode starter dan finisher tertera pada Tabel 1.

    2004 Digitized by USU digital library 2

  • Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Broiler Umur 0 - 6 Minggu.

    Zat Nutrisi Starter Finisher

    Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Calsium (%) Phospor (%) Energi Metabolis (kkal/kg)

    23 4

    3-5 1

    0,45 3200,0

    20 3-4 3-6 0,9 0,4

    3200,0

    Sumber : National Reseach Council (1984) 3. Baban Baku Lokal Penyusun Ransum a. Bungkil Inti Sawit

    Devendra (1977) menyatakan bahwa bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan dari pengolahan minyak inti sawit. Bahan ini mempunyai beberapa kelemahan sebagai bahan ransum unggas yaitu palatabilitas dan kecernaan rendah dan serat kasar tinggi.

    Siregar (1995) melaporkan bahwa bungkil inti sawit yang disuplementasi dengan enzim selulase dapat diberikan sebesar 15 % dalam ransum broiler kandungan nutrisi bungkil inti sawit tertera pada Tabel 2.

    Tabel 2. Kandungan Nutrisi Bungkil Inri Sawit

    Zat Nutrisi Kandungan Nutrisi

    Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Calsium (%) Phospor (%) Energi Metabolis (kkal/kg)

    16,5 7,8 15,5 0,58 0,31 1670

    Sumber : Siregar (1995) b. Tepung Bulu Ayam

    Sebagai bahan pakan ternak, bulu ayam terlebih dahulu dibuat tepung. Kandungan protein bulu ayam cukup tinggi lebih tinggi dari protein tepung ikan. Kelemahan tepung bulu sebagai bahan pakan ternak antara lain adanya keratin (sejenis protein yang tergolong protein fibrous) yang sulit dicerna, kelemahan lainnya adalah rendahnya kandungan beberapa asam-asam amino esensial yaitu metionin, triptopan dan histidin, namun kandungan leusin, isoleusin dan valiD cukup tinggi berturut-turut 4,88, 3,12, dan 4,54. Komponen zat nutrisi tepung bulu ayam tertera pada Tabel 3.

    2004 Digitized by USU digital library 3

  • Tabel 3 . Kandungan Nutrisi Tepung Bulu Ayam Zat Nutrisi Kandungan Zat Nutrisi

    Bahan Kering (%) Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Abu (%) TDN (%) Calsium (%) Phospor (%) Zn (%) Energi Metabolis (kkal/kg) Valin (%) Leusin (%) Isoleusin (%)

    91,37a

    79,88a

    3,77a

    0,32a

    4,10b

    45,00b

    0,28b

    0,71b

    74,31b

    2360b

    4,54c

    4,88c

    3,12c

    Sumber : a. Laboratorium Nutrisi Jurusan Peternakan FP (USU) b. Hartardi (1980) d. Tepung Jagung Kuning

    Penggunaan tepung jagung sangat luas. Tepung jagung dapat digunakan sebagai sumber energi, karena kandungan serat kasarnya rendah, sebagai sumber xanthophyl dan lemak yang baik. Kekurangannya sebagai bahan ransum adalah kandungan protein rendah yaitu 8,9 %, kandungan energi metabolisnya 3370 kkal/kg. Dilihat dari kandungan asam amino, jelas bahwa tepung jagung tidak dapat diandalkan sebagai sumber protein. Pada ransum broiler dapat digunakan sebesar 50 %. e. Ampas Tabu

    Ampas tahu merupakan hasil ikutan pada pabrik pembuatan tahu yang berbaban biji kedelai. Pada ransum broiler dapat diberikan sebesar 10 - 15 %. Kandungan nutrisi ampas tabu tertera pada Tabel 4.

    Tabel 4. Kandungan Nutrisi Ampas Tahu Zat Nutrisi Kandungan Nutrisi

    Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Calsium (%) Phospor (%) Energi Metabolis (kkal/kg)

    22,1 10,6 2,74 0,1 0,92 2400

    Sumber: Rasaf(1990)

    f. Dedak Halus Dedak halus merupakan limbah ikutan (by-product) penggilingan padi dan merupakan sumber energi bagi ternak ayam. Kandungan nutrisinya cukup baik, namun kandungan serat kasarnya tinggi (Rasyaf, 1994). Kandungan zat nutrisi dedak halus tertera pada,Tabel 5.

    2004 Digitized by USU digital library 4

  • Tabel 5. Kandungan Nutrisi Dedak Halus

    Zat Nutrisi Kandungan Nutrisi Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Calsium (%) Phospor (%) Energi Metabolis (kkal/kg)

    13 0.6 13 0.1 1.7

    1890 Sumber : Rasyaf (1990) g. Tepung Keong Mas

    Melihat