Pend. Nasional

download Pend. Nasional

of 38

  • date post

    11-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    139
  • download

    14

Embed Size (px)

Transcript of Pend. Nasional

Pendidikan AntikorupsiMarch 4, 2007 at 2:52 am (Pendidikan Nasional) Oleh Mochtar Buchori Pendidik http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/21/opini/3316225.htm ===================== Tanggal 8 Februari 2007 lalu saya seharusnya ikut diskusi tentang pendidikan untuk membasmi korupsi. Diskusi ini diselenggarakan oleh Indonesian Corruption Watch. Namun karena hujan dan saya berada dalam pengungsian, keinginan itu terpaksa dibatalkan. Ada tiga gagasan yang ingin saya sampaikan. Pertama, korupsi hanya dapat dihapuskan dari kehidupan kita secara berangsur-angsur. Kedua, pendidikan untuk membasmi korupsi sebaiknya berupa persilangan (intersection) antara pendidikan watak dan pendidikan kewarganegaraan. Ketiga, pendidikan untuk mengurangi korupsi harus berupa pendidikan nilai, yaitu pendidikan untuk mendorong setiap generasi menyusun kembali sistem nilai yang diwarisi. Kemajuan bangsa Banyak di antara kita yang habis kesabaran saat menyaksikan berbagai usaha menghapus korupsi tidak menunjukkan kemajuan berarti. Kita seperti lari di tempat; secepat apa pun larinya, kita selalu menemukan diri di tempat yang sama. Perlu disadari, di mana pun di dunia ini korupsi tidak pernah bisa dihapus secara mendadak. Penyusutan, pemudaran, dan pelumpuhan korupsi dari suatu bangsa selalu berangsur-angsur. Dalam kasus Indonesia, mungkin diperlukan 15-20 tahun sebelum kita bisa merasakan, korupsi benar-benar terkendalikan dalam kehidupan kita. Mengapa? Karena korupsi bukan suatu bahaya di luar diri kita. Benihbenih korupsi ada dalam tubuh kita sebagai bangsa. Bangsa adalah keseluruhan, dari lapisan-lapisan generasi yang ada pada suatu waktu. Generasi tua menurun ke generasi dewasa, generasi hampir dewasa, generasi remaja, sampai ke generasi muda. Dengan demikian, mengendalikan atau mengurangi korupsi bagi suatu bangsa adalah keseluruhan upaya untuk melahirkan generasi baru yang mampu mengembangkan sistem nilai yang menolak korupsi secara lebih tegas, lebih definitif daripada yang kita lakukan kini. Apa yang dilakukan generasi sekarang terhadap korupsi? Secara lahiriah, mencela dan mengutuk, tetapi dalam hati membiarkan dan memaafkan korupsi. Dengan sikap batin seperti ini, kita tidak akan pernah tegas mampu menolak godaan-godaan untuk berkorupsi. Dilihat dalam konteks pendidikan, tindakan untuk mengendalikan atau mengurangi korupsi adalah keseluruhan upaya untuk mendorong generasigenerasi mendatang mengembangkan sikap menolak secara tegas setiap

bentuk tindak korupsi. Perubahan dari sikap membiarkan dan menerima ke sikap tegas menolak korupsi, tidak pernah terjadi jika kita tidak secara sadar membina kemampuan generasi mendatang untuk memperbarui sistem nilai yang dirwarisi, sesuai dengan tuntutan yang muncul dalam setiap tahap perjalanan bangsa. Sistem nilai adalah keseluruhan norma-norma etika yang dijadikan pedoman oleh bangsa untuk mengatur perilakunya. Perubahan dari sikap membiarkan, memahami, dan memaafkan korupsi ke sikap menolak korupsi secara tegas hanya akan terjadi setelah lahir generasi yang mampu mengidentifikasi berbagai kelemahan dalam sistem nilai yang mereka warisi dan mampu memperbarui sistem nilai warisan itu berdasar situasi-situasi baru. Pada gilirannya, hal ini baru akan terjadi jika di masyarakat telah lahir generasi-generasi yang benar-benar memahami berbagai hubungan sebab-akibat antara perjalanan nasib bangsa selama kurun waktu tertentu dengan aneka tindakan yang secara sadar dilakukannya sebelumnya atau selama kurun waktu yang hampir bersamaan. Pada dasarnya sistem nilai yang lebih baik, yang lebih dewasa, datang dari berbagai pengalaman nyata yang bersifat dramatis atau dari tilikan-tilikan yang lahir dari kontemplasi mendalam mengenai makna aneka peristiwa kehidupan yang dijumpainya selama suatu kurun waktu. Keduanya merupakan hal langka. Berbagai peristiwa dramatis merupakan hal langka, dan pengungkapan makna baru dari aneka peristiwa dalam kehidupan bangsa juga merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Dengan demikian, yang akhirnya terjadi ialah perubahan sistem nilai bangsa berlangsung lambat, lebih lambat dari berbagai perubahan nyata dalam kehidupan. Sikap ragu-ragu yang kini kita perlihatkan merupakan gejala yang mengkhawatirkan! Korupsi yang dibiarkan terus berlangsung menjadi penghambat kemampuan bangsa membangun diri. Korupsi merupakan suatu kekuatan destruktif, sedangkan kemajuan bangsa memerlukan kekuatan konstruktif. Jadi, jika kita sebagai bangsa ingin maju, yang harus dilakukan ialah menjaga agar kekuatan konstruktif bangsa selalu lebih besar daripada kekuatan destruktif. Dalam konteks pendidikan, mencabut korupsi sampai ke akar-akarnya berarti melakukan rangkaian usaha untuk melahirkan generasi yang tidak bersedia menerima dan memaafkan suatu perbuatan korupsi yang telah terjadi. Harus dilakukan usaha-usaha untuk melahirkan perubahan radikal dalam sikap bangsa terhadap korupsi. Dapatkah dilakukan? Pendidikan seperti apa yang dapat menimbulkan sikap seperti ini pada generasi mendatang? Pendidikan watak Korupsi dapat dipandang sebagai hasil persilangan antara keserakahan dan ketidakpedulian sosial. Yang tega melakukan korupsi adalah mereka yang tidak dapat mengendalikan keserakahan dan tidak peduli atas dampak dari perbuatannya terhadap bangsa dan negara.

Dengan demikian, pendidikan yang akan melahirkan sikap tegas menolak korupsi mau-tidak-mau harus berupa program yang mengandung unsurunsur pendidikan watak dan pendidikan kewarganegaraan. Ini kedengaran sepele, tetapi jika diletakkan dalam bingkai tradisi pendidikan yang ada selama ini, akan segera terlihat, masalah ini merupakan suatu persoalan cukup berat. Selama ini tradisi pendidikan kita memandang pendidikan watak sebagai suatu program indoktrinasi, dan pendidikan kewarganegaraan sebagai program untuk menjinakkan dan menyeragamkan masyarakat. Masyarakat dengan jiwa pembaruan, masyarakat yang berani dan mampu memperbarui sistem nilai yang ada tidak pernah jinak dan seragam. Dan juga tidak berpikir secara doktriner. Jadi, pelaksanaan program pendidikan yang bermaksud mendorong lahirnya generasi yang mampu memperbarui sistem nilai harus berjalan melawan beberapa arus yang kini ada dalam sistem pendidikan kita. Pendidikan antikorupsi segera saja menjadi pendidikan nilai. Pendidikan antikorupsi dan pendidikan watak jelas-jelas merupakan pendidikan nilai. Sedangkan pendidikan kewarganegaraan mengandung segmen pendidikan nilai yang cukup besar. Dalam konteks pendidikan antikorupsi ini yang penting untuk ditekankan ialah tujuan pendidikan nilai bukan memupuk kemaniran beretorika tentang nilai-nilai atau tentang suatu ideologi. Yang jauh lebih penting ialah menggunakan pengetahuan tentang dan ketaatan terhadap nilai-nilai untuk memupuk kemampuan membimbing bangsa ke pembaruan cara hidup (way of life), sesuai realitas yang ada serta aspirasi tentang masa depan yang masih hidup dalam diri bangsa. Pendidikan nilai tidak berhenti pada pengenalan nilai-nilai. Ia masih harus berlanjut ke pemahaman nilai-nilai, ke penghayatan nilai-nilai, dan ke pengamalan nilai-nilai. Hanya dengan siklus yang bulat seperti ini dapat diharapkan, pendidikan nilai akan dapat membawa bangsa ke kemampuan memperbarui diri. Untuk ini, dibutuhkan suatu transforming leadership, suatu jenis kepemimpinan yang dapat mengajak seluruh bangsa memperbarui dirinya. 1 Comment

Perilaku Politik, Budaya Politik, dan PendidikanMarch 4, 2007 at 2:50 am (Pendidikan Nasional) Oleh Mochtar Buchori Pendidik http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/17/opini/2643628.htm Bulan Mei kita pandang sebagai Bulan Pendidikan. Dalam bulan Mei kita berpikir dan berenung tentang pendidikan kita. Dirasakan masih banyak hal yang harus diluruskan. Selain itu, ada juga hal-hal yang kita

rasakan sebagai keberhasilan dan kecemerlangan. Jadi dunia pendidikan kita kini dihadapi dengan perasaan campur baur. Ada hal-hal yang menimbulkan rasa bangga, tetapi ada pula yang menimbulkan rasa sedih dan iba. Di tengah kesibukan menggagas pendidikan kita dikejutkan aneka peristiwa politik yang menampakkan wajah jelek dunia politik kita kini: kerusuhan dalam rangka pilkada, bupati terpilih yang digugat, kongres partai politik yang dinamakan islah, tetapi penuh percekcokan, dan pernyataan tokoh-tokoh politik yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Hari ini bilang A, beberapa hari kemudian bilang non-A. Kita menyaksikan perilaku politik Indonesia dalam format yang jelek. Lalu di antara kita ada yang bertanya, Masih adakah yang dapat dilakukan oleh dunia pendidikan guna menjamin datangnya generasi politik yang lebih santun dan lebih bertanggung jawab di masa depan yang tidak terlampau jauh? Untuk menjawab pertanyaan ini, melahirkan serangkaian diskusi dan seminar. Di antara kita ada yang berpandangan optimistis, tetapi ada pula yang berpandangan pesimistis, bahkan ada yang berpandangan sinis (cynical). Sumber perilaku politik Menurut pendapat saya, sumber perilaku politik pada dasarnya adalah budaya politik, yaitu kesepakatan antara pelaku politik tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Kesepakatan ini tidak selalu bersifat terbuka, tetapi ada pula yang bersifat tertutup. Kesepakatan untuk menerima amplop setiap kali dilakukan pembahasan RUU merupakan kesepakatan gelap (illicit agreement). Membayar uang pelicin kepada para petinggi politik untuk mendapatkan dukungan partai dalam rebutan jabatan bupati, wali kota, dan gubernur merupakan tindakan yang dianggap sah dalam budaya politik kita kini. Suatu budaya politik biasanya berlaku selama periode tertentu. Ketika datang perubahan penting dalam konstelasi politik, datang pula para pelaku baru dalam gelanggang politik, terbukalah kesempatan untuk memperbarui budaya politik. Di negara kita budaya politik para perintis kemerdekaan berbeda dari budaya politik pada zaman demokrasi parlementer, dan ini berbeda dengan budaya politik yang tumbuh dalam zaman Orde Baru. Zaman reformasi ini juga melahirkan budaya politik baru, yang