Pencegahaan Ok

download Pencegahaan Ok

of 44

  • date post

    10-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    229
  • download

    0

Embed Size (px)

description

pencegahan

Transcript of Pencegahaan Ok

1. PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangPenyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. (Nelson, 2000). Penyakit ini dominan menyerang anak-anak dan ditandai dengan timbulnya lesi yang khas disebabkan oleh cytotoxin spesifik yang dilepas oleh bakteri. Difteri mempunyai gejala demam, suhu tubuh meningkat sampai 38,9 derajat Celcius, batuk dan pilek yang ringan. Sakit dan pembengkakan pada tenggorokan, mual, muntah, sakit kepala. Difteri merupakan penyakit sangat menular, jumlah kasus dan kematian cenderung meningkat. Cara penularan Difteri bisa menular dengan cara kontak langsung maupun tidak langsung (Guilfoile, 2009).Difteri merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya. Penyakit ini mudah menular dan menyerang terutama daerah saluran pernafasan bagian atas. Penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat dan bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. Difteri tersebar di seluruh dunia, tetapi insiden penyakit ini menurun secara drastis setelah penggunaan vaksin difteri secara meluas. Insiden tergantung kekebalan individu, lingkungan, dan akses pelayanan kesehatan. Serangan difteri sering terjadi dikalangan penduduk miskin yang tinggal di tempat berdesakan, memperoleh fasilitas pelayanan kesehatan terbatas, dan mempunyai pengetahuan serta pendidikan rendah. Kematian umumnya terjadi pada individu yang belum mendapat imunisasi (Guilfoile, 2009). Vaksin imunisasi bakteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin akan lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan dengan anak yang mendapatkan vaksin (Shabrina, 2013).Obstruksi saluran nafas atas karena difteri adalah suatu keadaan darurat yang harus segera diatasi untuk mencegah kematian. Gejala obstruksi jalan nafas yang tampak adalah sesak nafas, disfoni sampai afoni, stridor inspirasi, retraksi otot di suprasternal, supraklavikula, epigastrial, dan interkostal, dan apabila tidak mendapat terapi yang adekuat pasien akan gelisah dan sianosis karena hipoksia (Joedgreat, 2007).Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring/ tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita (Garna, 2002).Difteri merupakan suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tonsil, faring, laring, hidung dan banyak faktor yang mempengaruhi, penyakit difteri mempunyai tanda gejala sangat bervariasi, tergantung golongan umur mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (immunologis). Selain itu kebijakan nasional imunisasi rutin tentang pelaksanaan backlog fighting/BLF (penyulaman) bagi desa/kelurahan 2 tahun berturut-turut tidak dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota, sehingga dari tahun ke tahun terjadi penggelembungan jumlah anak yang belum kebal terhadap infeksi difteri. Secara umum dikenal 3 tipe utama C. diphtheriae yaitu tipe garvis, intermedius dan mistis namun dipandang dari sudut antigenitas sebenarnya basil ini merupakan spesies yang bersifat heterogen dan mempunyai banyak tipe serologik. Hal ini mungkin bias menerangkan mengapa pada seorang pasien biasa mempunyai kolonisasi lebih dari satu jenis C.diphtheriae.Biaya pengobatan difteri sangat tinggi, ADS (Antui Difteri Serum) sangat mahal dan sulit dicari demikian juga dengan Eritromisin. Pengobatan profilaksis sangat lama (7-10 hari) dengan dosis yang tinggi (50mg/KgBB/hari) dibagi dalam 4 dosis Efek samping eritromisin seperti perih, mual, muntah dan diare menajdi tingginya angka DO (Drop out) pengobatan profilaksis pada kontak erat penderita, Belum tersedianya Ruang Isolasi khusus penyakit menular (difteri) yang memadai di setiap RSUD Kab/Kota untuk merawat penderita agar tidak terjadi Nosokomial infeksi. Terbatasnya stock ADS dan Eritromisin di tingkat Propinsi sehingga kebutuhan logistik tersebut masih sering di supplay dari Kemenkes. Kebutuhan ADS dan Eritromisin untuk difteri sangat banyak dan belum semua Kab/Kota menyediakan sendiri Depkes RI, 2005). Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang masuk dalam tubuh melalui Kontak langsung dengan orang terinfeksi atau barang terkontaminasi. Ikut aliran sistemik dalam tubuh, terus inkubasi pada tubuh 2 sampai 4 hari, terus mengeluarkan toksin atau racun yang menyerang Tonsil, Faringeal, Laring. Menurut (Depkes, 2007) 60% penderita difteri diakibatkan karena penularan. Difteri ini akan berlanjut menimbulkan Komplikasi lain adalah gangguan pernapasan, kerusakan otot jantung, dan nafas. Difteri adalah suatu penyakit infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh karena toxin dari bakteri dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan atau mukosa dan penyebarannya melalui udara. Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium Diphteriae, dimana manusia merupakan salah satu reservoir dari bakteri ini. Infeksi biasanya terdapat pada faring, laring, hidung dan kadang pada kulit, konjugtiva, genitalia dan telinga. Infeksi ini menyebabkan gejala -gejala lokal dan sistemik,efeksistemik terutama karena eksotoksin yang dikeluarkan oleh mikroorganisme pada tempat infeksi. Masa inkubasi kuman ini antara 2 - 5 hari, penularan terjadi melalui kontak dengan penderita maupun carrier. Difteri merupakan penyakit yang harus didiagnosa dan diterapi dengan segera. Bayi baru lahir biasanya membawa antibody secara pasif dari ibunya yang biasanya akan hilang pada usia 6 bulan, oleh karena itu bayi-bayi diwajibkan di vaksinasi, yang mana vaksinasi ini telah terbukti mengurangi insidensi penyakit tersebut (Depkes RI, 2007).Walaupun difteri sudah jarang di berbagai tempat di dunia, tetapi kadang-kadang masih ada yang terkena oleh penyakit tersebut. Di Indonesia difteri banyak terdapat di daerah berpenduduk padat dan keadaan lingkungan yang buruk dengan angka kematian yang cukup tinggi, 50% penderita difteri meninggal dengan gagal jantung. Kejadian luar biasa ini dapat terjadi terutama pada golongan umur rentan yaitu bayi dan anak. Tapi akhir-akhir ini berkat adanya Program Pengembangan Imunisasi (PPI) maka angka kesakitan dan kematian menurun secara drastis.Untuk mencegah penularan difteri diperlukan suatu pengetahuan sehingga akan membentuk suatu perilaku dan kesadaran. Untuk meningkatkan perilaku ibu tentang penularan difteri diperlukan suatu penyuluhan tentang pencegahan penularan penyakit difteri diantaranya Memberikan kekebalan pada anak-anak dengan cara: Imunisasi DPT untuk anak bayi. Imunisasi di berikan sebanyak 3 kali yaitu pada saat usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan, menghindari kontak dengan penderita secara langsung. Menjaga kebersihan diri, Menjaga stamina tubuh dengan makan makanan yang bergizi dan berolahraga cuci tangan sebelum makan, Melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Bila mempunyai keluhan sakit saat menelan segera memeriksakan ke Unit Pelayanan Kesehatan terdekat (Depkes RI. 2007)Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Makassar, jumlah penderita Difteri pada tahun 2010 sebanyak 3 orang penderita yang tersebar di tiga kecamatan dan tiga kelurahan dan tidak ditemukan adanya kematian akibat Difteri. Di tahun 2011 mengalami penurunan kasus dimana terdapat 2 kasus difteri yang tersebar di dua kecamatan dan tidak ditemukan adanya kematian dan mengalami peningkatan kasus di tahun 2012 sebanyak 7 kasus diantaranya terdapat 1 kematian.

2. PEMBAHASAN2.1 EtiologiSaat ini penderita penyakit difteri di Indonesia telah berkurang, namun pada tahun 2001 dan 2002 diperoleh data terjadi peningkatan kasus difteri ini dibandingkan dengan tahun 2000. Dari data-data yang diperoleh, angka kejadian penyakit difteri ini lebih tinggi dan lebih sering terjadi di negara-negara Asia daripada negara Eropa, seperti halnya di India dilaporkan pada tailun 2002 terjadi sekitar 5.472 kasus (Depkes RI, 2005).Spesies Corynebacterium Diphteriae adalah kuman batang gram-positif (basil aerob), tidak bergerak, pleomorfik, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, mati pada pemanasan 60C, tahan dalam keadaan beku dan kering. Dengan pewarnaan, kuman ini bisa terlihat dalam susunan palisade, bentuk L atu V, atau merupakan formasi mirip huruf cina. Kuman tidak bersifat selektif dalam pertumbuhannya, isolasinya dipermudah dengan media tertentu (yaitu sistin telurit agar darah) yang menghambat pertumbuhan organisme yang menyaingi, dan bila direduksi oleh C. diphteheriae akan membuat koloni menjadi abu-abu hitam, atau dapat pula dengan menggunakan media loeffler yaitu medium yang mengandung serum yang sudah dikoagulasikan dengan fosfat konsentrasi tinggi maka terjadi granul yang berwarna metakromatik dengan metilen blue, pada medium ini koloni akan berwarna krem. Pada membran mukosa manusia C. diphtheriae dapat hidup bersama-sama dengan kuman diphtheroid saprofit yang mempunyai morfologi serupa, sehingga untuk membedakan kadang-kadang diperlukan pemeriksaan khusus dengan cara fermentasi glikogen, kanji, glukosa, maltosa atau sukrosa (Joedgreat, 2007). Secara umum dikenal 3 tipe utama C. diphtheriae yaitu tipe garvis, intermedius dan mistis namun dipandang dari sudut antigenitas sebenarnya basil ini merupakan spesies yang bersifat heterogen dan mempunyai banyak tipe serologik. Hal ini mungkin bias menerangkan mengapa pada seorang pasien biasa mempunyai kolonisasi lebih dari satu jenis C.diphtheriae. Ciri khas C.diphtheriae adalah kemampuannya memproduksi eksotoksin baik in-vivo maupun in-vitro, toksin ini dapat diperagakan dengan uji netralisasi toksin in vivo pada marmut (uji kematian) atau diperagakan in vitro dengan teknik