PENANGANAN KASUS KORUPSI DANA REHABILITASI DAN ...digilib.uin-suka.ac.id/9337/1/BAB I, V, DAFTAR...

of 46/46
PENANGANAN KASUS KORUPSI DANA REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCA GEMPA TAHUN 2006 DI KABUPATEN BANTUL (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BANTUL NO. 222/Pid.Sus/2010/PN.Btl) SKRIPSI DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN DARI SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM OLEH: AMALIA HIDAYATI NIM: 09340029 PEMBIMBING: 1. UDIYO BASUKI, S.H., M.Hum. 2. FAISAL LUQMAN HAKIM, S.H., M.Hum. ILMU HUKUM FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2013
  • date post

    05-Jun-2019
  • Category

    Documents

  • view

    223
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENANGANAN KASUS KORUPSI DANA REHABILITASI DAN ...digilib.uin-suka.ac.id/9337/1/BAB I, V, DAFTAR...

PENANGANAN KASUS KORUPSI DANA REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCA GEMPA

TAHUN 2006 DI KABUPATEN BANTUL (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BANTUL

NO. 222/Pid.Sus/2010/PN.Btl)

SKRIPSI

DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN DARI SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU

DALAM ILMU HUKUM

OLEH:

AMALIA HIDAYATI NIM: 09340029

PEMBIMBING: 1. UDIYO BASUKI, S.H., M.Hum. 2. FAISAL LUQMAN HAKIM, S.H., M.Hum.

ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

2013

ii

ABSTRAK

Bencana gempa bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 lalu telah meninggalkan penderitaan luar biasa bagi masyarakat baik fisik maupun psikologis. Kabupaten Bantul adalah salah satu kabupaten yang mengalami kerusakan yang cukup parah di berbagai sektor dikarenakan letak titik pusat gempa bumi. Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa di DIY pada dasarnya hanya sebagai langkah awal masyarakat dalam rangka melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi serta perbaikan rumah bagi masyarakat yang rumahnya rusak akibat terkena gempa bumi. Namun di dalam pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi terdapat penyalahgunaan dana bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa tahun 2006 di kabupaten bantul oleh penyelenggara pemerintah yaitu pemerintah desa. Dari latar belakang tersebut diperoleh rumusan permasalahan yaitu bagaimana penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa di Kabupaten Bantul.

Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang obyeknya langsung berasal dari Kejaksaan Negeri Bantul yang berupa data dengan dokumen-dokumen serta arsip-arsip yang ada di Pengadilan Bantul. Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan undang-undang (statute approarch) dan pendekatan kasus (case approarch).

Hasil studi kasus terhadap perkara putusan No. 222/Pid.Sus/2010/PN.Btl adalah tindak pidana korupsi yang terbukti di dalam putusan telah melanggar pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP, upaya penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa yaitu dengan tahapan penyidikan, penyelidikan, penuntutan dan pemidanaan yang dilakukan oleh penegak hukum yaitu Kejaksanaan sebagai institusi terkait. Dalam wawancara dengan jaksa penanganan kasus korupsi menurut beliau yaitu dengan perbaikan sumber daya manusia dengan menanamkan pengetahuan tentang korupsi dan penerapan sanksi pidana maksimal yang dilakukan oleh penegak hukum harus konsisten atau menerapkan sanksi pidana mati untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku korupsi tanpa pandang bulu.

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : AMALIA HIDA Y A TI

NIM : 09340029

Jurusan : Ilmu Hukum

Fakultas : Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul "Penanganan Kasus

Korupsi Dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa Tahun 2006 di

Kabupaten Bantu) (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Bantu) No.

222/Pid.SusI2010/PN.Btl)" dan seluruh isinya adalah benar-benar karya saya

sendiri, kecuali pad a bagian-bagian tertentu, yang telah saya lakukan dengan

tindakan yang sesuai dengan etika keilmuan.

Y ogyakalia, 21 Juni 2013

Yang Menyatakan

AMALIA HIDAYATI

NIM: 09340029

111

Q(J Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta FM-UlNSK-BM-05-03/RO

SURA T PERSETUJUAN SKRIPSI

Hal: Surat Persetujuan Skripsi Saudari Amalia Hidayati

Kepada:

Yth. Oekan Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Oi Y ogyakarta

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Setelah membaca, meneliti dan memeriksa serta memberikan bimbingan dan

mengadakan perbaikan seperlunya, maka kami berpendapat bahwa skripsi

Sauda6;

Nama : Amalia Hidayati

NIM : 09340029 Judul Skripsi : Penanganan Kasus Korupsi Dana Rehabilitasi dan

Rekonstruksi Pasca Gempa Tahun 2006 di Kabupaten Bantu] (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Bantu] No. 222IPid.Sus/2010IPN.Btl)

Sudah dapat kembaJi diajukan kepada Fakultas Syari ' ah dan Hukum Program

Studi llmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai salah satu syarat memperoJeh gelar sarjana strata satu dalam I1mu Hukum.

Dengan ini mengharap skripsi atau tugas akhir tersebut di atas agar dapat

segera diajukan ke sidang munaqasyah. Demikian untuk dimaklumi atas

perhatiannya diucapkan terima kasih.

Wassalamu 'alaikum wr. wb

Yogyakarta, 11 Sya'ban 1434 H

21 Juni2013

iv

l:lI(J Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta FM-UINSK-BM-OS-03/RO

SURA T PERSETUJUAN SKRlPSI

Hal: Surat Persetujuan Skripsi Saudari Amalia Hidayati

Kepada:

Yth. Oekan Fakultas Syari 'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Oi Yogyakarta

Assalamu 'alaikum Wr. Wh.

Setelah membaca, meneliti dan memeriksa serta memberikan bimbingan dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka kami berpendapat bahwa skripsi Saudari: Nama : Amalia Hidayati NIM : 09340029 Judul Skripsi : Penanganan Kasus Korupsi Dana Rehabilitasi dan

Rekonstruksi Pasca Gempa Tahun 2006 di Kabupaten Bantu) (Studi Kasus Putusan PengadiJan Negeri Bantu) No. 222IPid.Su s/201 OIPN.Btl)

Sudah dapat kembali diajukan kepada Fakultas Syari'ah dan Hukum Program Studi IImu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana strata satu dalam Ilmu Hukuill.

Dengan ini mengharap skripsi atau tugas akhir tersebut di atas agar dapat segera diajukan ke sidang munaqasyah. Demikian untuk dimaklumi atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Wassalamu 'alaikum Wr. Wh

Yogyakarta, 11 Sya'ban 1434 H 21 Juni 2013

man Hakim S.H. M.Hum. NIP : 19790719 200801 1 012

v

http:222IPid.Su

OlD Universitas Islam Negeri SUDan Kalijaga Yogyakarta FM-mNSK-BM-05-07/RO

PENGESAHAN SKRlPSI

Nomor: UIN.02/K.IH-SKRJPP.OO.9/041 /2013

Skripsi dengan Judul : PENANGANAN KASUS KORUPSI DANA REHABILIT ASI DAN REKONSTRUKSI P ASCA GEMPA TAHUN 2006 DI KABUPATEN BANTUL (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BANTUL NO. 222IPID.SDSI2010IPN.BTL)

Yang dipersiapkan dan disusun oleh:

Nama : AMALIA HIDA Y ATI NIM : 09340029 Telah di Munaqosyahkan pada : 26 Juni 2013 Nilai Munaqasyah : A

dan dinyatakan telah diterima oleh Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tim Munaqasyah

Udiyo as " S.H., M.Hum.

NIP. 19730825 199903 1 004

Penguji I

Ratnasari Fajariya Abidin, S.H., M.H. M.Mis NIP. 19761018200801 2009 NI .19780212201101 1 002

VI

vii

MOTTO

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai

dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain dan hanya

kepada Tuhan-Mu lah hendaknya kamu berharap (Q.S. Alam Nasyrah 6-8)

Dengan ilmu Dengan ilmu Dengan ilmu Dengan ilmu maka kehidupan terasa menyenangkan, dengan seni maka maka kehidupan terasa menyenangkan, dengan seni maka maka kehidupan terasa menyenangkan, dengan seni maka maka kehidupan terasa menyenangkan, dengan seni maka

kehidupan menjadi halus, dan dengan agama maka kehidupan menjadi kehidupan menjadi halus, dan dengan agama maka kehidupan menjadi kehidupan menjadi halus, dan dengan agama maka kehidupan menjadi kehidupan menjadi halus, dan dengan agama maka kehidupan menjadi

sempurna, terarah dan bermaknasempurna, terarah dan bermaknasempurna, terarah dan bermaknasempurna, terarah dan bermakna

(Nasihat Ulama)(Nasihat Ulama)(Nasihat Ulama)(Nasihat Ulama)

viii

HALAMAN PERSEMBAHAN

Tugas Akhir ini Penyusun Persembahkan

kepada:

Ayahanda Drs. H. Abdul Mujib M.Pd.I, Ibunda

Suningsih BA, kakakku Anisa Latifah, Simbah

Hj. Soetilah Busro dan Nenek Hj. Nursiah

tercinta yang selalu berdoa untuk

kesuksesanku dan selalu mendukungku. Juga

untuk seseorang yang selalu dekat dan selalu

ada dihatiku Catur Setyo Nugroho, karena

tiada sesuatu yang berharga daripada suatu

karya ilmiah pada masa kebahagiaanku

bergelimang buku dan teman-teman kuliah

dikampusku.

ix

KATA PENGANTAR

!"# $ % " &

Puji syukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang telah memberikan taufik

dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

Penanganan Kasus Korupsi Dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa

Tahun 2006 di Kabupaten Bantul (Studi Putusan Pengadilan Negeri Bantul No.

222/Pid.Sus/2010/PN.Btl). Tak lupa, shalawat serta salam semoga selalu tercurah

kepada kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, yang telah

membawa rahmat kasih sayang bagi semesta alam dan selalu dinantikan syafaatnya di

yaumil qiyamah nanti.

Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi dan melengkapi

persyaratan guna mencapai gelar Sarjana Hukum pada Program Studi Ilmu Hukum

Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Penyusun menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin terwujud sebagaimana yang

diharapkan, tanpa bimbingan dan bantuan serta tersedianya fasilitas-fasilitas yang

diberikan oleh beberapa pihak. Oleh karena itu, penyusun ingin mempergunakan

kesempatan ini untuk menyampaikan rasa terima kasih dan rasa hormat kepada :

x

1. Bapak Prof. Dr. H. Musa Asyarie, selaku Rektor Universitas Islam Negeri

Sunan Kalijaga Yogyakarta.

2. Bapak Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D., selaku Dekan Fakultas

Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

3. Bapak Udiyo Basuki, S.H., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu

Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan

Kalijaga Yogyakarta.

4. Bapak Ach. Tahir, S.H.I., LL.M., M.A., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu

Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan

Kalijaga Yogyakarta.

5. Bapak Udiyo Basuki, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing I skripsi dan

sekaligus selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah tulus ikhlas

meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan pengarahan,

memberikan motivasi, dukungan, masukan serta kritik-kritik yang

membangun selama proses penyusunan skripsi ini sehingga penyusun dapat

menyelesaikan studi di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan

Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

6. Bapak Faisal Luqman Hakim, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II

skripsi yang telah tulus ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam

memberikan pengarahan, dukungan, masukan serta kritik-kritik yang

membangun selama proses penyusunan skripsi ini.

xi

7. Ibu Heni Indri Astuti, S.H., selaku Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bantul.

Beserta Staf Pegawai pada Kejaksaan Negeri Bantul yang telah membantu

penyusun untuk menyelesaikan riset penulisan skripsi ini.

8. Seluruh Bapak dan Ibu Staf Pengajar/Dosen yang telah dengan tulus ikhlas

membekali dan membimbing penyusun untuk memperoleh ilmu yang

bermanfaat sehingga penyusun dapat menyelesaikan studi di Program Studi

Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan

Kalijaga Yogyakarta.

9. Ayah dan Ibu yang selalu penyusun cintai dan banggakan, Ayahanda Drs. H.

Abdul Mujib M.Pd.I dan Ibunda Suningsih B.A., yang tiada henti untuk selalu

mendoakan, mencurahkan cinta dan kasih sayangnya, memberikan semangat

dan pengorbanan yang tulus ikhlas agar penulis dapat menyelesaikan studi di

Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam

Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

10. Kakakku Anisa Latifah yang selalu penyusun cintai dan banggakan, Simbah

Hj. Soetilah Busro dan Nenek Hj. Nursiah yang selalu memberikan nasehat,

mendoakan, memotivasi, dan menyayangi penyusun.

11. Sahabat-sahabat terdekat, Catur Setyo Nugroho, Farrah Syamala Rosyda, dan

Fauzizah Hanum yang selalu memberikan semangat dan selalu menemani di

setiap suka dan duka.

12. Sahabat-sahabat terbaik, Ramadani Ajeng Saputri, M. Lukman Hakim, M.

Sawung Ranggraita, Yustisiana Normalita Sari, Atika, Desi Vikaningsih,

xii

Mahmudi, Andi M. Fuad, Rifqi Akbar Cahyawan, Rizal Fawaid yang selalu

memberikan warna dalam persahabatan.

13. Teman-teman seperjuangan, Fitri Atur Arum, Zainal Muhtar, Bagus Anwar,

Abd. Rohim, Nisrokhah, Ingga Dewi, dan semuanya yang tak bisa penyusun

sebut satu persatu.

14. Keluarga KKN Tematik Posdaya Brosot I, Diah Wakhyuni Nur Istiqomah,

Dwi Listyaningsih, Fitrianatsany, Reni Riswanti, Arthalian Favourlana, M.

Imdad Akbar, Maikal Azhar, Syafaat Syareh Syifa dan Nafdin Ali Chandera.

15. Semua pihak yang telah membantu penyusun dalam penyusunan skripsi ini

baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penyusun

sebutkan satu persatu.

Meskipun skripsi ini merupakan hasil kerja maksimal dari penyusun, namun

penyusun menyadari akan ketidaksempurnaan dari skripsi ini. Maka penyusun

dengan kerendahan hati sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari

pembaca sekalian. Penyusun berharap semoga penyusunan skripsi ini dapat

memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan

pada umumnya dan untuk perkembangan hukum pidana dan hukum acara pidana

pada khususnya.

Yogyakarta, 11 Syaban 1434 H 21 Juni 2013

Amalia Hidayati

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i

ABSTRAK ................................................................................................................. ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ..................................................................... iii

SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI ......................................................................... iv

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................... vi

MOTTO ..................................................................................................................... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................ viii

KATA PENGANTAR ............................................................................................... ix

DAFTAR ISI ............................................................................................................. xiii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 10

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ..................................................................... 11

D. Telaah Pustaka ................................................................................................ 12

E. Kerangka Teolitik ............................................................................................ 13

F. Metode Penelitian ............................................................................................ 17

G. Sistematika Pembahasan .................................................................................. 22

BAB II TINJAUAN TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM

PROGRAM REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCA GEMPA ............ 24

A. Tindak Pidana Korupsi .................................................................................... 24

1. Pengertian Tindak Pidana .......................................................................... 24

2. Pengertian Korupsi ................................................................................... 27

3. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi .................................. 31

xiv

4. Penanganan Korupsi .................................................................................. 40

B. Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa ...................................... 50

1. Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi ...................................................... 52

2. Pelaksanaan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi .................................. 59

a. Strategi Pelaksanaan Program Dasar Rehabilitasi dan Rekonstruksi ..... 60

b. Pengorganisasian Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi .................... 61

c. Langkah-langkah Pelaksanaan Program ............................................... 65

d. Pembayaran dan Penyaluran Dana ....................................................... 70

BAB III KASUS KORUPSI DANA REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI

PASCA GEMPA DI KABUPATEN BANTUL ........................................................ 76

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................... 76

B. Kronologis Kasus Korupsi Dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca

Gempa ....................................................................................................... 85

1. Posisi Kasus ......................................................................................... 86

2. Penyidikan ........................................................................................... 86

3. Penyelidikan ....................................................................................... 92

4. Penuntutan ........................................................................................... 113

a. Dakwaan Penuntut Umum .............................................................. 113

b. Tuntutan Penuntut Umum .............................................................. 114

c. Dakwaan ....................................................................................... 116

5. Pemidanaan ......................................................................................... 151

a. Pertimbangan Pengadilan Negeri membebaskan Terdakwa ............ 151

b. Putusan Majelis Hakim .................................................................. 152

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................... 154

A. Penanganan Kasus Putusan Nomor: 222/Pid.Sus/2010/PN.Btl ......................... 154

xv

B. Analisis terhadap Putusan Hakim .................................................................... 160

BAB V PENUTUP ..................................................................................................... 183

A. Kesimpulan ..................................................................................................... 183

B. Saran-saran ...................................................................................................... 183

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 185

LAMPIRAN-LAMPIRAN

A. Surat Ijin Penelitian

B. Putusan Pengadilan Negeri Bantul No. 222/Pid.Sus/2010/PN.Btl

C. Curriculum Vitae

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Akhir-akhir ini gempa bumi merupakan salah satu momok yang paling

menakutkan bagi seluruh masyarakat, karena gempa bumi dapat mengakibatkan

hancurnya infrastruktur yang ada seperti merobohkan rumah penduduk,

menghancurkan sarana dan prasarana umum serta pemerintahan, menjatuhkan

ratusan ribu jiwa dan menyebabkan ribuan orang luka-luka.

Bencana gempa bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan

Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 27 Mei 2006 lalu telah meninggalkan

penderitaan luar biasa bagi masyarakat baik fisik maupun psikologis. Dampak

dari bencana tersebut adalah jatuhnya ribuan korban jiwa dan hancurnya fisik

lingkungan termasuk rumah, fasilitas umum, ekonomi dan sosial.

Kabupaten Bantul adalah salah satu kabupaten yang mengalami kerusakan

yang cukup parah di berbagai sektor dikarenakan letak titik pusat gempa bumi

terdapat di kabupaten Bantul. Gempa bumi yang terjadi mengakibatkan ribuan

keluarga kehilangan tempat tinggal, sebagian berada di dalam tenda-tenda

pengungsian, sebagian lainnya mondok di rumah-rumah kerabat, di samping itu

mengakibatkan kegiatan pemerintahan, perekonomian dan kegiatan sosial

mengalami banyak hambatan. Selain menghancurkan dan meluluhlantakkan

sarana dan prasarana yang ada, gempa bumi juga mengakibatkan dampak

2

psikologis bagi masyarakat. Secara umum mereka berada dalam situasi beban

sosial dan ekonomi yang berat.

Berdasarkan data di Kabupaten Bantul tercatat sekitar 4983 korban

meninggal dunia dan sebanyak 3080 jiwa berasal dari Kabupaten Bantul. Sekitar

3900 rumah roboh dan rusak berat, serta rumah rusak sedang dan ringan, dan

kriteria rumah roboh dan rusak berat sekitar 3500 paling banyak berada di

Kabupaten Bantul. Belum termasuk prasarana lingkungan, sekolah, kantor

pemerintahan dan prasarana lainnya.

Keppres Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Tim Koordinasi Rehabilitasi

Rekonstruksi Wilayah Pasca Gempa Bumi di Provinsi DIY dan Jawa Tengah

telah ditindaklanjuti dengan membentuk Tim Pelaksana Rehabilitasi dan

Rekonstruksi Wilayah Pasca Gempa Bumi di Provinsi DIY dengan Keputusan

Gubernur Nomor 20/TIM/2006, dengan Gubernur DIY sebagai Ketua Tim

Pelaksana.

Pemerintah bermaksud melaksanakan pemberian Bantuan Langsung

Masyarakat (BLM) untuk membantu masyarakat merehabilitasi atau membangun

atau memperbaiki rumahnya yang rusak berat atau roboh, rusak sedang maupun

rusak ringan.

Beberapa dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembagian bantuan

langsung masyarakat (BLM) antara lain adalah munculnya konflik horizontal

antar masyarakat setempat dan disintegrasi sosial yang disebabkan oleh

keputusan-keputusan yang mungkin kurang tepat atau dirasa kurang adil,

3

misalnya pemberian bantuan yang berbeda, perebutan aset, pertentangan

kepentingan.

Dampak lainnya yang mungkin terjadi dan perlu diantisipasi adalah

adanya pihak-pihak tertentu yang justru akan memanfaatkan situasi ini untuk

kepentingan pribadi atau kepentingan golongan, sebagai contoh: memanipulasi

anggaran bantuan gempa bumi dengan dalih untuk kepentingan administrasi dan

kearifan lokal yang jika diteliti justru hanya pemotongan dana korban gempa

bumi untuk kepentingan pribadi sehingga perbuatan tersebut termasuk tindak

pidana korupsi.1

Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa di DIY pada

dasarnya hanya sebagai langkah awal masyarakat dalam rangka melaksanakan

rehabilitasi dan rekonstruksi serta perbaikan rumah bagi masyarakat yang

rumahnya rusak. Pemerintah bermaksud melakukan upaya Rehabilitasi dan

Rekonstruksi Rumah di wilayah bencana yang rusak akibat terkena gempa bumi,

sehingga rumah warga yang terkena bencana tersebut layak untuk ditempati

secara normal. Langkah cepat untuk rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya

aspek sosial dan ekonomi tetapi tidak kalah pentingnya juga aspek perumahan,

khususnya pemberian bantuan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

Penentuan penerima bantuan di wilayah Kecamatan, Desa/Kelurahan,

Dusun, dan masyarakat yang mendapatkan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi

rumah diserahkan sepenuhnya kepada Bupati/Walikota.

1Petunjuk Operasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Provinsi DIY (Tahun Anggaran

2007 DIPA NOMOR : 0224.0/069-03.0/-/2007)

4

Program rehabilitasi dan rekonstruksi rumah pasca gempa bumi di DIY

khususnya bagi rumah yang roboh/rusak berat adalah terbangunnya kembali

rumah yang layak huni dan tahan gempa dengan dilengkapi dokumen perijinan

pembangunan rumah korban bencana gempa di DIY, yang secara rinci dapat

diuraikan sebagai berikut:

a. Tumbuhnya wadah pemersatu masyarakat untuk menggalang

kebersamaan, Masyarakat sebagai perencana dan pelaksana rehabilitasi

dan rekonstruksi rumah tahan gempa.

b. Masyarakat dapat bermukim kembali ke rumah/tanah asalnya dan atau

relokasi atas kehendak sendiri secara bertahap setelah rehabilitasi dan

rekonstruksi.

Untuk rumah yang rusak sedang adalah penambahan dan perbaikan kekuatan

struktur rumah agar tetap layak huni dan tahan gempa. Sedangkan bagi rumah

rusak ringan adalah perbaikan kecil dari non struktur yang rusak agar fungsi

rumah kembali sempurna.

Prinsip dasar pemberian bantuan dana ini bukanlah sebagai kompensasi

terhadap kerusakan akibat bencana, melainkan untuk membantu mempercepat

pemulihan kondisi rumah masyarakat yang mengalami rusak berat/roboh, rusak

sedang maupun rusak ringan.

Berangkat dari maksud tersebut di atas maka satu-satunya cara agar upaya

Rehabilitasi dan Rekonstruksi rumah di DIY dapat dilaksanakan secara efektif dan

bermanfaat bagi warga masyarakat adalah dengan terlebih dahulu dilakukan

proses penyiapan pengorganisasian masyarakat di wilayah yang akan menerima

5

bantuan sehingga bantuan tersebut tepat sasaran dan tidak ada penyimpangan-

penyimpangan di dalamnya. Salah satu penyimpangan yang terjadi adalah tindak

pidana korupsi mulai dari tingkat atas (pemerintah) sampai tingkat bawah

(warga).

Dalam beberapa kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca

gempa yang terjadi di Kabupaten Bantul banyak penyelenggara pemerintah yaitu

Lurah yang terjerat kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa.

Lurah dalam hal ini bertugas sebagai Penanggung Jawab Pelaksana (PJP) kriteria

rumah roboh/rusak berat dalam Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah

Pasca Gempa mempunyai kewenangan langsung untuk mendata calon warga yang

mendapatkan bantuan.

Terdapat kurang lebih sekitar 10 kasus korupsi dana rehabilitasi dan

rekonstruksi pasca gempa di Kabupaten Bantul dimana kasus-kasus tersebut

mempunyai modus yang sama yaitu pemotongan dana rehabilitasi dan

rekonstruksi pasca gempa dengan dalih kearifan lokal, aktor atau pelaku yang

terjerat dari beberapa kasus juga kebanyakan adalah Lurah selaku Penanggung

Jawab Pelaksana (PJP). Seperti kasus korupsi Lurah Desa Mangunan, Lurah Desa

Panjangrejo, Lurah Desa Terong, Lurah Desa Muntuk, Lurah Desa Dlingo dari

semua kasus ke seluruhan menjerat penyelenggara pemerintah yaitu Lurah desa

dimana dari sekian kasus terdapat modus yang sama yaitu pemotongan dana

rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa dengan dalih kearifan lokal.

Hingga saat ini Kejaksaan Negeri Bantul masih melakukan proses

persidangan atas kasus-kasus serupa dan Kejaksaan Negeri Bantul mendapatkan

6

laporan dari warga masyarakat tentang adanya dugaan penyelewenagan atau

pemotongan dana rehabilitasi dan rekonstruksi oleh penyelenggara pemerintah

namun dengan kriteria rusak sedang ataupun rusak ringan.

Dalam kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi Putusan Nomor :

222/Pid.Sus/2010/PN.Btl Bahwa dalam pokok perkaranya, Terdakwa I adalah M.

SUKRO NURHARJONO Lurah/Kepala Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri,

Kabupaten Bantul yang diangkat sebagai Lurah/Kepala Desa berdasarkan Surat

Keputusan Bupati Bantul Nomor: 148 Tahun 2008 tanggal 10 Juni 2002 dan

sebagai Penanggung Jawab Pelaksana (yang selanjutnya disebut PJP) Program

Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi di Kabupaten Bantul di

Desa Selopamioro berdasarkan SK Bupati Bantul No.273 Tahun 2006 tanggal 11

September 2006. Terdakwa II adalah H. SIGIT HERRY SAPUTRO selaku Kabag

Keuangan Desa Selopamioro Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul berdasarkan

Surat Keputusan (SK) Bupati Bantul Nomor 426/A/Kep/Bt/2001 tanggal 30

Oktober 2001 dan selaku Fasos (Fasilitator Sosial) untuk Dusun Siluk I dan

Dusun Kajor Kulon berdasarkan Surat Keputusan (SK) secara Kolektif yang

nomor dan tanggal sudah tidak dapat diingat lagi yang ditanda-tangani oleh: KMK

(Konsultan Management Kabupaten). Terdakwa III adalah SUDIYONO Bin

KROMOWIYONO selaku staf Ekbang Desa Selopamioro berdasarkan Surat

Keputusan (SK) tahun 1969 yang ditanda tangani oleh Lurah Desa Selopamioro

dan diperbaharui pada tahun 1987 yang ditanda tangani oleh Bupati Bantul, yang

diberi tugas oleh Terdakwa I M. SUKRO NURHARJONO untuk menghimpun

7

dana potongan rekonstruksi di Desa Selopamioro Kecamatan Imogiri Kabupaten

Bantul.

Desa Selopamioro Kab. Bantul terdiri dari 18 (delapan belas) dusun yaitu

dusun Lanteng I, Lanteng II, Lemah rubuh, Jetis, Kedungjati, Nogosari,

Nawungan I, Nawungan II Kajor wetan, Kajor kulon, Siluk I, Siluk II,

Pelemantung, Putat, Kalidadap I, Kalidadap II, Srunggo I dan dusun Srunggo II

dengan jumlah kepala keluarga (KK) seluruhnya kurang lebih 4250 (empat ribu

dua ratus lima puluh) KK yang terdiri dari penerima bantuan rusak berat kurang

lebih sebanyak 1.400 (seribu empat ratus) KK, penerima bantuan rusak sedang

kurang lebih sebanyak 1.086 ( seribu delapan puluh enam) KK dan penerima

bantuan rusak ringan kurang lebih sebanyak 1.764 (seribu tujuh ratus enam puluh

empat) KK. Penerima bantuan rusak berat sebanyak kurang lebih 1.400 (seribu

empat ratus) KK tersebut telah dibentuk Pokmas-pokmas yang berjumlah 95

(sembilan puluh lima) Pokmas lama dan 38 (tiga puluh delapan) Pokmas susulan.

Untuk menghimpun dana potongan rekonstruksi di Desa Selopamioro,

pada tanggal 1 Oktober 2006 sampai dengan tanggal 1 September 2007 atau

setidak-tidaknya pada tahun 2006 sampai tahun 2007, bertempat di Desa

Selopamioro Kec. Imogiri Kabupaten Bantul, atau setidak-tidaknya pada suatu

tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Bantul, Terdakwa

I didakwa telah melakukan yang menyuruh melakukan atau turut melakukan

perbuatan, beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga

harus dipandang sebagai suatu perbuatan berlanjut, secara melawan hukum

melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu

8

korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara,

dengan melakukan pemotongan, pengurangan atau penyunatan Dana Bantuan

Rehabilitasi dan Rekontruksi Pasca Gempa Bumi Di Provinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta tahun 2006-2007.

Dari penyisihan Dana Bantuan Rehabilitasi dan Rekontruksi Pasca Gempa

Bumi Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2006-2007 tersebut Rp.

791.100.000,- (tujuh ratus sembilan puluh satu juta seratus ribu rupiah). Terdakwa

I selaku Penanggung Jawab Pelaksana (PJP) memerintahkan agar tidak

menyalurkan seluruh dana rekonstruksi kepada anggotanya dan sebelum dana

dibagikan kepada warga pokmas dana bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk

dilakukan pemotongan dengan dalih kearifan lokal.

Pembangunan nasional bertujuan mewujudkan manusia dan masyarakat

Indonesia seutuhnya yang adil, makmur, sejahtera dan tertib berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar tahun 1945. Untuk mewujudkan hal tersebut

terus ditingkatkan usaha pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pada

umumnya serta tindak pidana korupsi pada khususnya. Di tengah upaya

pembangunan nasional di berbagai bidang, aspirasi masyarakat untuk

memberantas korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya makin meningkat, karena

dalam kenyataannya adanya tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan

negara atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional.

Perkembangan korupsi yang terjadi dan jumlah kerugian negara maupun dari segi

9

kualitas tindak pidana korupsi yang dilakukan semakin sistematis serta memasuki

seluruh aspek kehidupan masyarakat, sehingga harus diberantas.2

Korupsi adalah suatu masalah sosial, sehingga penjelasan mengenainya

dapat dilakukan melalui berbagai macam pendekatan ilmu sosial. Selain masalah

pendekatan, fenomena masalah korupsi yang tidak kalah penting ialah masalah

bagaimana cara pemberantasannya. Masalah tindak pidana korupsi di Indonesia

telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang

Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi.

Korupsi telah banyak terjadi di banyak bidang dalam proses

pembangunan, karena seiring dengan pesatnya pembangunan yang semakin maju,

terasa pula semakin meningkatnya kebocoran-kebocoran dana tenaga

pembangunan, terbukti dalam kasus korupsi Dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi

pasca gempa di Kabupaten Bantul merugikan sampai milyar rupiah.

Perkembangan masalah korupsi sudah sedemikian parahnya dan dianjurkan suatu

tindakan tegas, sehingga timbul ketakutan untuk melakukan tindak pidana

korupsi.

Korupsi merupakan kejahatan yang sangat luar biasa (ekstra ordinary

crime)3, dan tindakan korupsi termasuk penyakit masyarakat yang sama dengan

kejahatan lain seperti pencurian, penipuan dan semacamnya. Korupsi telah

2 Pustaka Pelajar, Undang-Undang Republik Indonesia No. 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Lembaran negara Republik Indonesia Tahun 1999 nomor

140. tambahan Lembaran Republik Indonesia 387 3 Romli Atma Sasmita, Sekitar Masalah Korupsi Aspek Nasional dan Aspek

Internasional, (Bandung Cetakan I: Mandar Maju, 2004), hlm. 48.

10

menjadi sebuah ancaman bagi bangsa dan harus dilawan sebagai sesuatu yang

mendesak4.

Korupsi telah menjadi kejahatan yang dianggap merusak sendi- sendi

kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kerugian negara yang diakibatkan oleh

tindak pidana korupsi sudah masuk dalam katagori membahayakan.5 Korupsi di

Indonesia merupakan persoalan bangsa yang bersifat recurrent dan darurat yang

telah dihadapi bangsa Indonesia dari masa ke masa dalam rentang waktu relatif

lama sehingga pengadilan khusus korupsi diharapkan dapat membantu

menyelesaikan sejumlah kejahatan korupsi masa lalu agar mengembalikan harta

kekayaan yang hilang.

Berkaitan dengan permasalahan hukum yang timbul akibat tindak pidana

korupsi, maka menjadi sangat menarik bila permasalahan hukum yang berkaitan

dengan terjadinya tindak pidana korupsi diangkat dan diteliti dengan judul

Penanganan Kasus Korupsi Dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa

Tahun 2006 di Kabupaten Bantul (Studi Putusan Pengadilan Negeri Bantul No.

222/Pid.Sus/2010/PN.Btl).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka yang

menjadi pokok permasalahan adalah bagaimana penanganan kasus korupsi dana

rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa di Kabupaten Bantul

4 Jeremi Pope, Strategi memberantas korupsi Elemen Sistem Integritas Nasional, alih

bahasa masri maris, (Jakarta: Yayasan Obor, Cetakan I, 2003) hlm. 1. 5 Efi Laila Kholis, Pembayaran Uang Pengganti dalam Perkara Korupsi, (Jakarta: Solusi

Publishing, 2010), hlm. 5.

11

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan maka tujuan dari

penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penanganan kasus

korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa di kabupaten

Bantul

2. Kegunaan Penelitian

Dalam penelitian ini sangat diharapkan kegunaan yang dapat diambil

dari penelitian tersebut. Adapun kegunaan yang dapat diambil dari

penelitian ini adalah:

a. Kegunaan Ilmiah atau Akademik

1) Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran di bidang Hukum Pidana, khususnya melalui kajian

tentang Penanganan Kasus Korupsi Dana Rehabilitasi dan

Rekonstruksi Pasca Gempa Tahun 2006 di Kabupaten Bantul.

2) Diharapkan dapat menambah bahan referensi di bidang karya ilmiah

serta bahan masukan bagi penelitian sejenis di masa yang akan

datang.

b. Kegunaan Aplikatif atau Terapan

1) Untuk mengembangkan daya pikir dan analisis yang akan

membentuk pola pikir dinamis, sekaligus untuk mencocokkan

bidang keilmuan yang selama ini diperoleh dalam teori dan praktek.

2) Dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang sedang diteliti.

12

D. Telaah Pustaka

Setelah melakukan penelusuran terhadap literatur yang ada, adanya karya-

karya ilmiah yang membahas tentang Tindak Pidana Korupsi baik secara umum

maupun secara khusus yang penyusun ketahui adalah:

Skripsi Nurul Khoiriyah Darmawati, Tinjauan hukum Islam terhadap UU

NO 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi6. Skripsi

Nurul Khoiriyah Darmawati hanya membahas tentang pidana korupsi dari segi

jarimahnya saja salah satunya adalah suap-menyuap yang akhir-akhir ini terjadi di

Indonesia bahkan terjadi di kalangan aparat penegak hukum itu sendiri skripsi

tidak dijelaskan secara rinci perbuatan yang terkait dengan pemotongan harta

orang lain sedangkan skripsi penyusun menjelaskan pemotongan dana rehabilitasi

dan rekonstruksi pasca gempa secara lebih rinci.

Skripsi Alfan Ali Yafi, Pemotongan Dana Rekonstruksi Korban Gempa

27 Mei di Kelurahan Srimartani Kecamatan Piyungan Bantul Yogyakarta

Persepektif Hukum Islam7. Skripsi Alfan Ali Yafi hanya membahas tentang

pemotongan dana rekonstruksi di Desa Srimartani saja dengan menganalisis dari

segi akad sedangkan skripsi penyusun menjelaskan penanganan kasus korupsi

dana rekonstruksi pasca gempa dan menganalisis dari pelaksanaan program

rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa.

6 Nurul Khoiriyah Darmawati, Tinjauan hukum islam terhadap UU NO 31 tahun 1999

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 1999

7 Alfan Ali Yafi, Pemotongan Dana Rekontruksi Korban Gempa 27 Mei di Kelurahan Srimartani Kecamatan Piyungan Bantul Yogyakarta Persepektif Hukum Islam, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 2009

13

Skripsi Sutresno, Partisipasi Pokmas Dalam Rehabilitasi dan

Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi Tanggal 27 Mei 2006 di Desa

Wirokerten Banguntapan Bantul DIY8. Skripsinya menjelaskan peranan pokmas

dalam rehabilitasi dan rekonstruksi rumah pasca gempa bumi di Desa Wirokerten

Banguntapan Bantul dan menganalisa data terhadap dampak gempa bumi,

perbedaan dengan skripsi penyusun adalah penyusun lebih menganalisi mengenai

penanganan korupsi dana bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa.

Skripsi Handriawan Nugroho, Tinjauan Yuridis Penerapan Sanksi Pidana

Dalam Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus Korupsi Dana Purna Tugas DPRD

Kota Yogyakarta)9. Skripsi Handriawan Nugroho hanya menjelaskan tinjauan

yuridis penerapan sanksi dalam tindak pidana korupsi sedangkan skripsi penyusun

membahas tinjauan umum tindak pidana korupsi dalam program rehabilitasi dan

rekonstruksi pasca gempa.

E. Kerangka Teoritik

Tindak pidana korupsi yang populer didefinisikan sebagai penyalahgunaan

kekuasaan (publik) untuk keuntungan pribadi, pada dasarnya merupakan

ketidakadilan sosial. Salah satu unsur penting dari teori keadilan sosial adalah

bahwa kesejahteraan umum masyarakat tidak boleh dilanggar, maksudnya adalah

bahwa kesejahteraan umum tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan pribadi.

8 Sutresno, Partisipasi Pokmas Dalam Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca

Gempa Bumi Tanggal 27 Mei 2006 di Desa Wirokerten Banguntapan Bantul DIY, Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 2007

9 Handriawan Nugroho, Tinjauan Yuridis Penerapan Sanksi Pidana Dalam Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus Korupsi Dana Purna Tugas DPRD Kota Yogyakarta), Fakultas Hukum Universitas Janabadra, Yogyakarta. 2009

14

Tindakan yang mengancam kesejahteraan umum merupakan ketidakadilan sosial.

Tindak pidana korupsi adalah tindak pidana yang dimotivasi oleh kepentingan

pribadi dan mengakibatkan tidak terwujudnya kesejahteraan umum. Sudah

menjadi kesepakatan umum bahwa tindak pidana korupsi mengancam

pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial, konsolidasi demokrasi dan moral

bangsa.

Berbicara tentang hukum pidana tidak akan lepas dari masalah pokok yang

menjadi titik perhatiannya. Masalah pokok dalam hukum pidana tersebut

meliputi masalah tindak pidana (perbuatan jahat), kesalahan dan pidana serta

korban.10

Tindak pidana sering juga disebut dengan kata delik. Dalam Kamus

Besar Bahasa Indonesia, arti delik diberi batasan sebagai berikut: Perbuatan yang

dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-

undang tindak pidana.11

Sebagai obyek dalam ilmu hukum pidana masalah perbuatan jahat perlu

dibedakan dalam:

1. Perbuatan jahat sebagai gejala masyarakat dipandang secara konkret

sebagaimana terwujud dalam masyarakat, yaitu perbuatan manusia yang

memperkosa/menyalahi norma-norma dasar masyarakat secara kongkre.

Ini adalah pengertian perbuatan jahat dalam arti kriminologis.

10 Iswanto, Materi Pelengkap Hukum Pidana I, (Malang: UMM Press, 1995), hlm. 35. 11 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai/

Pustaka, 2001

15

2. Perbuatan jahat dalam arti hukum pidana. Perbuatan jahat di sini adalah

perbuatan jahat sebagaimana terwujud dalam peraturan-peraturan pidana.12

Pengertian tindak pidana dalam KUHP disebut dengan istilah straafbaarfeit,

oleh pakar hukum pidana sering digunakan istilah delik pidana, sedangkan oleh

para pembuat undang-undang dipakai istilah perbuatan tindak pidana. Dewasa ini

istilah yang sering digunakan adalah tindak pidana, tetapi di dalam undang-

undang tidak memberikan penjelasan secara rinci mengenai straafbaarfeit

tersebut.13

Penegakan hukum pidana tidak dapat dipisahkan dalam upaya pemberantasan

korupsi maupun upaya penjatuhan terhadap pelaku tindak pidana korupsi.

Korupsi berasal dari kata Latin corruptio atau corruptus yang kemudian muncul

dalam bahasa Inggris dan Perancis corruption, dalam bahasa Belanda korruptie

dan selanjutnya dalam bahasa Indonesia dengan sebutan Korupsi.14

Korupsi secara harafiah berarti jahat atau busuk, sedangkan Kramer

menerjemahkannya sebagi busuk, rusak atau dapat disuapi. Oleh kareana itu,

tindak pidana korupsi berarti suatu delik akibat perbuatan buruk, busuk, jahat,

rusak atau suap.15

Istilah korupsi pertama kali hadir dalam khasanah hukum Indonesia dalam

Peraturan Penguasa Perang Nomor Prt/Perpu/013/1958 tentang Peraturan

Pemberantasan Korupsi, kemudian dimasukkan juga dalam Undang-Undang

12 Fuad Usfa dan Tongat, Pengantar Hukum Pidana, (Malang: UMM Press, 2004), hlm.

32-33 13 Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 5. 14 Andi Hamzah, Delik-delik Tersebar di Luar KUHP, (Jakarta: Pradnya Pramita, 1998),

hal 143. 15 Darwan Prints, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: PT. Cipta Aditya

Bakti, 2002), hlm. 1.

16

Nomor 24/Prp/1960 tentang Pengusutan Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak

Pidana Korupsi. Undang-undang ini kemudian dicabut dan digantikan oleh

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi, yang kemudian sejak tanggal 16 Agustus 1999 digantikan oleh Undang-

undang Nomor 31 Tahun 1999 dan akan mulai berlaku efktif paling lambat 2

(dua) tahun kemudian (16 agustus 2001) dan kemudian diubah dengan Undang-

undang Nomor 20 Tahun 2001 tanggal 21 November 2001.16

Memperhatikan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang

Nomor 20 Tahun 2001, maka tindak pidana korupsi dapat dilihat dari dua segi,

yaitu korupsi aktif dan korupsi pasif17.

Korupsi aktif adalah secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau

orang lain atau korporasi, yang dapat merugikan keuangan Negara atau

perekonomian Negara, dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain

atau suatu korporasi menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang

ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan

Negara atau perekonomian Negara.

Korupsi pasif adalah Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang

menerima pemberian atau janji karena berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam

jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya, Hakim atau Advokat yang

menerima pemberian atau janji untuk mempengaruhi putusan perkara yang

diserahkan kepadanya untuk diadili atau untuk mempengaruhi nasihat atau

16 Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), hlm 8. 17Jeremi Pope, Strategi Memberantas Korupsi, Yayasan Obor Indonesia, (Jakarta: 2003),

hlm. 9.

17

pendapat yang diberikan berhubungan dengan perkara yang diserahkan kepada

pengadilan untuk diadili.

Walaupun peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai

pemberantasan tindak pidana telah lengkap dari yang mengatur delik materiel

sampai dengan delik formil, dari penanganan biasa menurut KUHAP sampai

dengan penanganan secara khusus (hukum pidana formil khusus), namun semua

peraturan di atas belum sepenuhnya mampu diterapkan untuk memberantas dan

menangani perkara tindak pidana korupsi.

F. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara utama yang digunakan seorang peneliti

untuk mencapai suatu tujuan atau rumusan tertentu yang secara sistematis, cara

tersebut digunakan setelah peneliti memperhitungkan kelayakannya ditinjau dari

tujuan situasi penelitian.18

Dalam mengadakan penelitian, penyusun menggunakan metode atau cara

untuk mempermudah mengumpulan data. Sebagaimana yang dikemukakan oleh

Winarno Surachmad sebagai berikut : Metode penelitian adalah cara utama yang

dipergunakan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan teknik tertentu. Cara

itu setelah penyusun memperhitungkan kewajaran ditinjau dari tujuan

penyelidikan19

Untuk mencapai apa yang diharapkan dengan tepat dan terarah dalam

penelitian, maka penyusun menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

18 Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah 9 Dasar Metode Teknik, (Bandung: Tarsito, 1990), hal. 191.

19 Winarno Surachmad, Dasar dan Tenaga Research, (Bandung: Tarsito, 1978), hal. 131.

18

1. Jenis Penelitian

Penelitian secara umum dapat digolongkan dalam beberapa jenis, dan

pemilihaan tersebut tergantung pada perumusan masalah yang ditentukan.

Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian

lapangan (field research)20, yaitu penelitian yang obyeknya langsung berasal

dari Kejaksaan Negeri Bantul yang berupa data yang didapat melalui

wawancara serta diperkuat dengan dokumen-dokumen serta arsip-arsip yang

ada di Kejaksaan Negeri Bantul.

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah deskriptif analitik,

yaitu penelitian untuk menyelesaikan masalah dengan cara mendeskripsikan

masalah melalui pengumpulan data, kemudian dijelaskan dan selanjutnya

diberi penilaian.21 Dalam penelitian ini penyusun memaparkan dan

menjelaskan tentang penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan

rekosntruksi pasca gempa di Kabupaten Bantul dengan solusi yang tepat,

guna melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi, kemudian menganalisa putusan hakim Pengadilan Tindak

Pidana Korupsi Yogyakarta terhadap kasus korupsi dana rehabilitasi dan

rekonstruksi pasca gempa di Kabupaten Bantul.

20Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jember: Raja Grafindo Persada, 1996),

hlm. 37. 21Rianto, Adi, Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, (Jakarta: Grannit, 2004),

hlm.128.

19

3. Pendekatan Penelitian

Terdapat beberapa pendekatan yang dikenal dalam penelitian yaitu

pendekatan undang-undang (statute approarch), pendekatan kasus (case

approarch), pendekatan sejarah (history approarch), pendekatan komparatif

(comparativ approarch), dan pendekatan konseptual (conceptual

approarch)22. Penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan, di mana

dengan pendekatan-pendekatan tersebut akan mendapat informasi dari

berbagai aspek mengenai penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan

rekonstruksi pasca gempa. Pendekatan masalah yang digunakan dalam

penelitian ini adalah pendekatan undang-undang (statute approarch) dan

pendekatan kasus (case approarch).

4. Sumber Data

Yang dimaksud dalam sumber data dalam penelitian ini adalah sumber di

mana data diperoleh. Berdasarkan jenis datanya, yaitu data sekunder maka

yang menjadi sumber data sekunder dalam penelitian ini yaitu:

a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, terdiri

dari:

1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 perubahan atas Undang-

Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi.

2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang

Hukum Acara Pidana.

22

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 22.

20

b. Bahan Hukum Sekunder23, yaitu bahan hukum yang memberikan

penjelasan mengenai sejumlah keterangan atau fakta dengan cara

mempelajari bahan-bahan pustaka yang berupa buku-buku, dokumen-

dokumen, laporan-laporan, majalah, peraturan perundang-undangan, surat

kabar dan sumber-sumber lain yang memberi penjelasan akan masalah

yang diteliti yaitu tentang penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan

rekonstruksi pasca gempa tahun 2006 di Kabupaten Bantul.

c. Bahan Hukum Tersier24, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk

maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum

sekunder, seperti bahan dari internet, kamus, ensiklopedia, indeks

kumulatif dan sebagainya yang memberi penjelasan akan permasalahan

yang diteliti yaitu penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan

rekonstruksi pasca gempa tahun 2006 di Kabupaten Bantul.

5. Teknik Pengumpulan Data

Suatu penelitian pasti menggunakan data yang lengkap, dalam hal ini

dimaksudkan agar data yang terkumpul benar-benar memiliki validitas dan

reabilitas yang cukup tinggi. Didalam penelitian lazimnya dikenal paling

sedikit tiga jenis teknik pengumpulan data yaitu25:

a. Wawancara (interview) yaitu cara memperoleh data atau informasi dan

keterangan-keterangan melalui wawancara yang berlandaskan pada

23

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 2006), hlm.19.

24 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press,

2006), hlm.20. 25 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press,

2006), hlm.21.

21

tujuan penelitian.26 Dalam interview ini penyusun mempersiapkan

terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan melalui

pedoman wawancara (interview guide). Dalam hal ini proses data atau

keterangan diperoleh melalui tanya jawab dengan jaksa di kantor

Kejaksaan Negeri Bantul.

b. Observasi, yaitu suatu pengamatan yang khusus serta pencatatan yang

sistematis yang ditujukan pada satu atau beberapa fase masalah dalam

rangka penelitian, dengan maksud untuk mendapatkan data yang

diperlukan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Penggunaan

metode ini diharapkan mendapat gambaran secara objektif keadaan yang

diteliti yaitu langsung dari Kejaksaan Negeri Bantul.

c. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data-data dan bahan-bahan berupa

dokumen. Data-data tersebut berupa arsip-arsip yang ada di Kejaksaan

Negeri Bantul dan juga buku-buku tentang pendapat, teori, hukum-

hukum serta hal-hal yang sifatnya mendukung dalam penyusunan skripsi

ini.

6. Analisis Data

Analisa data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang

lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Penyusun menggunakan metode

analisa kualitatif, yakni memperkuat analisa dengan melihat kualitas data

yang diperoleh. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisa menggunakan

metode deduktif, yaitu cara berfikir yang berangkat dari teori atau kaidah

26 Sutrisno Hadi, Metodologi Research untuk penulisan Paper, Thesis dan Disertasi, cet

ke XXI. (Yogyakarta: Andi Offset, 1992)

22

yang ada. Metode ini digunakan untuk menganalisa bagaimana

penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa

tahun 2006 di Kabupaten Bantul.

G. Sistematika Pembahasan

Sistematika penulisan skripsi ini untuk memudahkan pembahasan agar

dapat diuraikan secara tepat, serta mendapat kesimpulan yang benar, maka

penyusun membagi rencana skripsi ini menjadi beberapa bab. Adapun sistematika

yang telah penulis susun adalah sebagai berikut:

Bab pertama, dimulai dengan pendahuluan yang mencakup latar belakang

masalah dengan mengungkapkan landasan-landasan pemikiran, sehingga dapat

diperoleh beberapa pokok permasalahan, tujuan dan kegunaan diadakannya

penelitian, telaah pustaka yaitu untuk menelusuri penelitian terdahulu tentang

tindak pidana korupsi sehingga diketahui perbedaan dari penelitian penyusun,

kerangka teoritik yaitu menjelaskan teori-teori yang digunakan untuk

menganalisis permasalahan dalam penelitian, metode penelitian dan sistematika

pembahasan.

Bab kedua, gambaran umum tentang tindak pidana korupsi dalam program

rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa yang merupakan konsep dasar yang

berkenaan dengan pokok masalah penelitian untuk mengetahui secara jelas akan

permasalahan yang diangkat, penyusun menjelaskan mulai dari pengertian tindak

pidana korupsi secara menyeluruh dan menguraikan faktor-faktor yang

menyebabkan terjadinya korupsi, menjelaskan penanganan korupsi, menjelaskan

23

program rehabilitasi, menjelaskan penanganan korupsi, menguraikan proses

penyaluran dana bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi serta memaparkan

pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi.

Bab ketiga, membahas obyek penelitian. Dalam bab ini menguraikan

gambaran umum wilayah penelitian yaitu kabupaten bantul, pengadilan negeri

bantul dan kronologis kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca

gempa di kabupaten Bantul.

Bab keempat merupakan inti pembahasan yang merupakan jawaban dari

penelitian yang dibahas dalam skripsi ini, yaitu dengan menganalisa hasil

penelitian tentang bagaimana penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan

rekonstruksi pasca gempa di Kabupaten Bantul.

Bab kelima, bab ini merupakan bab terakhir berupa kesimpulan yang

merupakan jawaban dari pokok masalah yang ada dan telah dianalisis pada bab

sebelumnya dan saran-saran yang berguna untuk kemajuan ilmu hukum.

183

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai

berikut:

1) Bahwa upaya penangaan kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi

pasca gempa yaitu dengan tahapan penyidikan, penyelidikan, penuntutan dan

pemidanaan yang dilakukan oleh penegak hukum yaitu Kejaksanaan sebagai

institusi terkait.

2) Bahwa penanganan kasus korupsi dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca

gempa dapat dilakukan dengan perbaikan Sumber Daya Manusia itu sendiri

terutama untuk nilai dan moral manusia, perbaikan tersebut harus dimulai dari

usia muda. Misalnya dengan memasukkan pendidikan tentang korupsi dalam

kurikulum sekolah, melalui media pendidikan akan diharapkan menciptakan

budaya antikorupsi sejak usia muda. Dan cara merekrut aparat lembaga

pengawasan tindak pidana korupsi harus disaring melalui rekruitmen dengan

sistem TPA (Trasnsparan, Partisipatif, Akuntabel).

B. Saran-saran

1. Hukuman yang hanya berupa pidana penjara atau kurungan ditambah denda

dan uang pengganti yang diberikan oleh peraturan yang ada saat ini menurut

penyusun kurang memberikan efek jera kepada terdakwa, karena adanya

184

kemungkinan terdakwa masih akan mengulangi perbuatan yang sifatnya

melanggar hukum. Hal tersebut akan lebih efektif jika terdakwa menyatakan

bahwa sudah jera dan berjanji tidak akan mengulangi tindak pidana korupsi

lagi, dan para penegak hukum dalam memutuskan perkara korupsi,

menggunakan sanksi pidana maksimal dimana jaksa menuntut dengan

tuntutan yang maksimal. Aparat penegak hukum seharusnya meminimalisir

terjadinya sebuah penyelewengan dengan cara transparansi data-data untuk

kepentingan umum sehingga masyarakat juga ikut ambil bagian.

2. Diperlukan adanya partisipasi dari masyarakat umum untuk ikut mengamati

jalannya proses pemerintahan, terutama masalah dana sebagai bentuk

keperdulian terhadap upaya pencegahan korupsi. Nilai-nilai budaya seperti

gotong-royong, tepo seliro, sikap sopan santun yang berakar dalam struktur

budaya di daerah, perlu diaktualisasikan dalam membangun sistem demokrasi

yang sehat, melalui budaya politik yang tidak terjebak dengan konflik

kepentingan golongan yang sektoral sehingga dalam penegakan hukum

terhadap tindak pidana korupsi, masyarakat diharapkan dapat menumbuh-

kembangkan sistem pengamanan sendiri serta ikut berpartisipasi dalam upaya

penegakan hukum terhadap masyarakat

3. Penyelenggara pemerintah yang dimaksud dalam hal ini adalah Lurah, dalam

menggunakan kekuasaannya harus sesuai kode etik, sesuai dengan tugasnya

untuk mengayomi masyarakat dan jangan menyalahgunakan kewenangan

(abuse of power) untuk kepentingan pribadi.

185

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

AAGN, Ari Dwipayana, Pembaharuan Sitem yang Koruptif, Yogyakarta:

Kedaulatan Rakyat, 2006.

Alatas, Korupsi, Sifat, Sebab dan Fungsi, Jakarta: LP3ES, 1987.

Arief, B.N., Beberapa Pokok Pemikiran Kebijakan Penanggulangan Tindak

Pidana Korupsi, Semarang, 1997.

Atmasasmita, Romli, Sekitar Masalah Korupsi Aspek Nasional dan Aspek

Internasional, Bandung: Mandar Maju, Cetakan I: 2004

Atutas, Syed Hussein, sosiologi Korupsi, Surabaya: Tiga Serangkai, 1991,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Balai/ Pustaka, 2001

Dirjosisworo, Soedjono, Fungsi Perundang-Undangan Pidana dalam

Penanggulangan Korupsi di Indonesia, Bandung: PT. Sinar Baru,

Fuad Usfa dan Tongat, Pengantar Hukum Pidana, Malang: UMM Press,

2004.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research untuk penulisan Paper, Thesis dan

Disertasi, cet ke XXI. Yogyakarta: Andi Offset, 1992.

Hamzah, Andi, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Cipta Rineka, 1994.

Hamzah, Andi, Delik-delik Tersebar di Luar KUHP, Jakarta: Pradnya

Pramita, 1998.

186

Hamzah, Andi, Korupsi di Indonesia, Masalah dan Pemecahannya, Jakarta:

PT. Gramedia, 1996.

Hamzah, Andi, Pemberantasan Pidana Korupsi Nasional dan Internasional,

Jakarta: PT. Raya Grafika Persada, 2005.

Hartanti, Evi, Tindak Pidana Korupsi, Jakarta: Sinar Grafika, 2008.

Iswanto, Materi Pelengkap Hukum Pidana I, Malang: UMM Press, 1995.

Kholis, Efi Laila, Pembayaran Uang Pengganti dalam Perkara Korupsi,

Jakarta: Solusi Publishing, 2010.

K. Wantjik Saleh, Tindak Pidana Korupsi dan Supa, Jakarta: Ghalia

Indonesia, 1971.

Lamintang S.H., Drs. PAF. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung:

Sinar Baru, 1984.

Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,

1997.

Marpaung, Leden, Tindak Pidana Korupsi, Jakarta: Djambatan, 2001.

Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jember: Raja Grafindo Persada,

1996.

Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2009.

Moelyanto, S.H., Prof. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. Jakarta: PT. Bina

Aksara, 1985.

Mulyadi, Lilik, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Normatif, Teoritis,

Praktik, dan Masalahnya, Bandung: PT. Alumni, 2007.

187

Nurdjana, I.G.M., Wewenang Polri Dalam Penindakan KKN, Yogyakarta,

2003.

Poernomo, Bambang, Asas-asas Hukum Pidana, Dahlia Indonesia, Jakarta,

1997.

Poernomo, Bambang, Pertumbuhan Hukum Penyimpangan Diluar Kodifikasi

Hukum Pidana, Yogyakarta: Liberty, 1988.

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,

1986.

Pope, J., Strategi Memberantas Korupsi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,

2003.

Pope, Jeremi, Strategi memberantas korupsi Elemen Sistem Integritas

Nasional, alih bahasa masri maris, Jakarta: Yayasan Obor, Cetakan I:

2003.

Prints, Darwan, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Bandung: PT. Cipta

Aditya Bakti, 2002.

Prodjohamidjojo, M., Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi

(UU No. 31 Tahun 1999), Bandung: Mandar Maju, Cetakan 1: 2001.

Rianto, Adi, Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta: Grannit, 2004.

Salim, Peter, Dictionary English Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 1995.

Smith, Teodore, Korupsi, Tradisi dan Perubahan, Jakarta: Gramedia, 1981.

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta:

UI Press, 2006.

Surachmad, Winarno, Dasar dan Tenaga Research, Bandung: Tarsito, 1978.

188

Surachmad, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah 9 Dasar Metode Teknik,

Bandung: Tarsito, 1990.

Syamsuddin, Aziz, Tindak Pidana Khusus, Jakarta: Sinar Grafika, 2011.

Tirtaamidjadja M.H., Mr. Pokok-pokok Hukum Pidana, Jakarta: Fasco, 1955.

B. Skripsi-skripsi

Alfan Ali, Yafi, Pemotongan Dana Rekontruksi Korban Gempa 27 Mei di

Kelurahan Srimartani Kecamatan Piyungan Bantul Yogyakarta

Persepektif Hukum Islam. Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan

Kalijaga, Yogyakarta, 2009.

Darmawati, Nurul Khoiriyah, Tinjauan hukum islam terhadap UU NO 31

tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Fakultas

Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1999.

Nugroho, Handriawan, Tinjauan Yuridis Penerapan Sanksi Pidana Dalam

Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus Korupsi Dana Purna Tugas

DPRD Kota Yogyakarta). Fakultas Hukum Universitas Janabadra,

Yogyakarta, 2009.

Sutresno, Partisipasi Pokmas Dalam Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah

Pasca Gempa Bumi Tanggal 27 Mei 2006 di Desa Wirokerten

Banguntapan Bantul DIY. Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga,

Yogyakarta, 2007.

189

C. Lain-lain

Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001, tentang

Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Petunjuk Operasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Provinsi DIY (Tahun

Anggaran 2007 DIPA NOMOR : 0224.0/069-03.0/-/2007)

Pustaka Pelajar, Undang-Undang Republik Indonesia No. 31 Tahun 1999

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Lembaran negara

Republik Indonesia Tahun 1999 nomor 140. tambahan Lembaran

Republik Indonesia 387

CURRICULUM VITAE

Nama : Amalia Hidayati

Tempat, Tanggal Lahir : Bantul, 29 September 1991

Agama : Islam

Nama Ayah : Drs. H. Abdul Mujib, M.Pd.I.,

Nama Ibu : Suningsih B.A.,

Alamat : Jalan Imogiri Timur Km. 10 Dusun Wonokromo I Rt

04 Desa Wonokromo Kec. Pleret Kab. Bantul Prov.

Daerah Istimewa Yogyakarta

Riwayat Pendidikan :

1. SD Muhammadiyah Wonokromo (1997-2003)

2. MTs N Wonokromo (2003-2006)

3. SMA N 1 Sewon (2006-2009)

4. Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas

Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (2009-Sekarang)

5. Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta (2010-Sekarang)

HALAMAN JUDULABSTRAKSURAT PERNYATAAN KEASLIANSURAT PERSETUJUAN SKRIPSIPENGESAHAN SKRlPSIMOTTOHALAMAN PERSEMBAHANKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahB. Rumusan MasalahC. Tujuan dan Kegunaan PenelitianD. Telaah PustakaE. Kerangka TeoritikF. Metode PenelitianG. Sistematika Pembahasan

BAB V PENUTUPA. KesimpulanB. Saran-saran

DAFTAR PUSTAKACURRICULUM VITAE