Pen Gala Man Ikut Asuransi Prudential

download Pen Gala Man Ikut Asuransi Prudential

of 99

  • date post

    25-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    966
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Pen Gala Man Ikut Asuransi Prudential

Pengalaman Ikut Asuransi PrudentialJumat, 02-03-2007 13:28:44 oleh: Kanal: Suara Konsumenaloysius weha

Saya ikut dua asuransi yang berbeda. Kebetulan ada penawaran asuransi lagi yang membuat saya tertarik. Akhirnya, jadilah asuransi ketiga di tangan saya. Prosesnya gampang dan tidak ribet. Asuransi yang ditawarkan ke saya yang terakhir ini adalah Prudential (www.prudential.co.id). Setelah beberapa kali kontak telepon, akhirnya ia datang ke rumah dan menjelaskan program asuransi yang ditawarkan, lengkap dengan contoh-contoh yang dimaksud. Yang membuat saya tertarik adalah fasilitas Pru-Med, di mana asuransi akan menanggung biaya rumah sakit bila si pemegang polis mendapatkan rawat inap 2x24 jam. Bila harus menjalani pembedahan, ada itungitungan yang juga akan dibayarkan. Demikian juga bila masuk ICU. Saya tertarik dengan fasilitas ini karena Prudential mengijinkan salinan kuitansi yang dilegalisir pihak RS untuk mengajukan klaim. Saya memilihnya karena kantor tempat saya bekerja memberikan jaminan kesehatan yang terhitung penuh, meskipun dengan plafon-plafon tertentu. Saya tidak ingin "membisniskan" sakit atau tidak ingin dirawat di RS, tapi setidaknya memberikan perlindungan jika terjadi apa-apa dengan kesehatan saya. Terhitung tidak sampai satu minggu, proses penjelasan dan interview sudah kelar dan kini saya tinggal menunggu polisnya keluar.

Pengalaman Menjadi Nasabah PT Prudential Life Assurance (2)Minggu, 03-08-2008 15:49:52 oleh: Kanal: Suara KonsumenLie Tjie Pouw

Setelah beberapa lama saya menulis artikel tentang Pengalaman Menjadi Nasabah PT Prudential Life Assurance di Wikimu dan mendapatkan komentar-komentar baik yang mendukung, bersimpati sampai komentar yang antipati, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan berdasarkan inti dari isi komentar-komentar tersebut. 1. Teliti sebelum membeli / bertanya dengan kritis Ya memang ini adalah salah satu cara untuk menghindari masalah dikemudian hari. Lalu sebenarnya seberapa telitikah dan seberapa kritiskah seharusnya kita bertanya? Apa patokannya bahwa apakah kita sudah teliti dan kritis atau belum? Bagaimana kalau toh kalau menurut saya, saya sudah sangat teliti dan sangat kritis bertanya, ternyata masih saja ada celah yang bisa membawa malapetaka dikemudian hari, apakah nanti akan ada orang lagi yang akan berkomentar anda kurang teliti dan kurang kritis bertanya.

Untuk bisa teliti dan kritis, si calon nasabah sebelumnya harus mengerti luar dalam isi polis, yang mana pada waktu penawaran produk asuransi, polis tersebut belum dibuat, belum exist di bumi ini. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui misalnya, bahwa kalau kita memutuskan untuk keluar dari Prudential pada tahun pertama, maka si nasabah otomatis berhutang sejumlah uang kepada PT Prudential Life Assurance atau ketika dipromosikan bahwa, jika si nasabah mendapat serangan jantung maka si nasabah akan dicover oleh PRUCrisis Cover, tapi darimana si calon nasabah mengetahui bahwa, klaim akan dikabulkan kalau serangan jantung tersebut menyebabkankerusakan pada jantung si nasabah, jika tidak ada kerusakan pada jantung, maka klaim akan ditolak. Dari dua contoh diatas, timbul pertanyaan darimana si calon nasabah mengetahui hal-hal tersebut atau bisa berinisiatif bertanya apakah jantung saya harus mengalami kerusakan dulu supaya klaim saya dikabulkan? dan kalau si nasabah tidak mengetahui hal ini, maka ini dibilang100% kesalahan si nasabah, karena tidak kritis dan tidak teliti sebelum membeli. Dan kenyataan bahwa klausal-klausal di polis itu sendiri terkesan menjebak, seakan-akan tidak menjadi faktor yang perlu diperdebatkan, karena sekali lagi kalau anda teliti dan kritis maka anda tidak akan terjebak oleh klausal-klausal tersebut! Nah! Bagaimana kalau saya balikkan masalah ini kepada Perusahaan Asuransinya (PA), dalam hal ini Prudential, dimana sebagai pelaku usaha wajib (yang memang secara hukum pelaku usaha diwajibkan) menjelaskan semua syarat dan ketentuan yang benar, jelas dan jujur, terlepas apakah si calon nasabah bertanya secara kritis dan teliti atau tidak. 2. Cari Agen yang profesional dan dapat dipercaya Pertanyaan pertama yang terlintas di kepala saya adalah, apa sih ciri-ciri/ kriteria agen Prudential yang profesional dan dapat dipercaya? - Yang cantik atau ganteng? - Yang kelihatan necis dan selalu berpenampilan bak Presiden Direktur perusahaan multinasional? - Yang menceritakan panjang lebar tentang kelebihan produk-produk Prudential? - Yang membuai calon nasabah dengan janji-janji surga? - Yang sudah lulus AAJI dan bertitel paling tidak S1? - Yang menceritakan semua kelebihan dan kekurangan produk-produk Prudential? Dan kalaupun memang sang agen tersebut dibilang sudah menjelaskan semua kelebihan dan kekurangan produk-produk Prudential, darimana si calon nasabah mengetahui dengan pasti bahwa itu tuhbenarbenar sudah semuanya? Tidak ada yang tertinggal dan tersembunyi sebelum polis diterbitkan?

Pertanyaan terakhir, seberapa banyak agen Prudential, dari yang paling junior sampai yang paling senior, yang benar-benar pernah menjelaskan semua kelebihan dan kekurangan dari produk-produk Prudential? Apakah memang benar ada agen yang seperti itu? Kalau agen yang dapat dipercaya itu adalah cuma agen-agen yang mempunyai hubungan keluarga atau teman sangat dekat sekali, saya kembalikan pertanyaan ini kepada semua agen, apakah para agen Prudential cuma mempunyai nasabah dari kalangan keluarga dan teman terdekat saja? Dan menolak semua SPAJ dari calon nasabah yang tidak mempunyai hubungan keluarga dan pertemanan yang sangat dekat. Rasanya tidak mungkin deh Lalu apa? Apakah ciri-ciri mahluk yang disebut sebagai Agen Prudential yang profesionalitu? Seperti apa rupanya? Dari mana calon nasabah yang awam di bisnis asuransi bisa mengetahui apakah si agen A atau agen B ini profesional atau tidak, bagaimana caranya? Bagaimana? Ada yang bisa memberikan petunjuk atau tidak? Bagaimana, oh bagaimana How? 3. Sales Representative / Agen tidak profesional Sales Representative (SR) yang tidak profesional akan selalu ada, terlepas PA-nya bagus atau tidak. Berharap semua (100%) SR sadar dengan sendirinya untuk menjadi Agen yang profesional, rasanya tidak mungkin, harus ada mekanisme kontrol dari Prudential, yang bisa mamantau apakah betul Agen-Agennya selalu bekerja secara profesional, adakah mekanisme seperti itu?. Yang menurut saya relevan dipertanyakan disini adalah: - Apa yang dilakukan Prudential untuk menanggulangi masalah agent tidak profesional ini? Dan apa konsekuensi untuk para agen yang ketahuan bekerja dengan tidak profesional? - Apa tolok ukur penilaian Prudential bahwa SR-nya sudah melakukan tugasnya dengan baik, benar dan profesional atau tidak? Kalau memang tolok ukur itu ada. - Bagaimana Prudential mengetahui bahwa si calon nasabah telah diberikan informasi yang benar, jelas dan jujur dan juga profesional oleh SR-nya sebelum Prudential menerbitkan buku polis? Dan apa buktinya? Kalau Prudential sudah menerbitkan buku polis, sebelum memastikan apakah si calon nasabahnya sudah benar-benar mendapatkan informasi yang benar, jelas dan jujur dari agen atau tidak, maka seharusnya Prudential juga ikut bersalah dalam hal ini. Bukankah yang melatih agen-agen tersebut adalah Prudential sendiri? Kalau agen-agen tersebut sudah dibolehkan menjual produk-produk Prudential, logikanya atas restu Prudential donk ya? Artinya Prudential menganggap agen-agen tersebut sudah cukup qualified untuk menjadiRepresentative-nya Prudential, lalu kenapa kalau ada agen yang

tidak profesional Prudential langsung lepas tangan? Alih-alih bertanggung jawab, malah melempar tanggung jawab ke agen-agen tersebut. 4. Nasabah tidak jujur dalam pengisian SPAJ Ini adalah komentar yang pertama kali yang saya terima. Para komentator merasa tidak perlu mengerti persoalan yang saya utarakan sebelum memberikan komentar. Seakan-akan ini sudah menjadi SOP agent dalam menanggapi protes nasabah yang klaimnya ditolak. Dengan alasan, Prudential Perusahaan Asuransi yang the best of the best sekian tahun berturut-turut menurut majalah X Y Z, tidak mungkin tidak mampu membayar klaim, masalahnya bukan tidak mampu bung, masalahnya mau atau tidak! Mampu itu belum tentu mau! Kalau memang Prudential menganggap penting keabsahan informasi kesehatan calon nasabahnya, kenapa calon nasabah tidak diwajibkan untuk melakukan medical check up? Bagaimana kalau si calon nasabah tidak mengetahui bahwa ia telah mengidap, misalnya kanker stadium dini, sebelum menjadi nasabah Prudential, lalu setelah beberapa tahun ketahuan bahwa kanker yang sudah di stadium akhir sudah ada sebelum nasabah tersebut membeli polis Prudential, nah pasti klaim si nasabah ini ditolak mentah-mentah dan si nasabah yang malang ini akan dicap sebagai penipu. Malangnya nasabah Prudential. Pada kasus saya ini, sang Agen bisa melihat saya memakai kacamata pada waktu pengisian SPAJ dan sudah dipastikan bahwa saya memiliki rabun jauh, kalau agen tersebut tidak mencantumkan informasi tersebut di SPAJ bahwa saya memiliki rabun jauh, kenapa si nasabah yang harus menanggung akibatnya? Apakah Prudential sudah mentraining agen dengan seksama? Sudah cukup qualified? Lalu pertanyaan saya mengenai penjelasan alasan penolakan klaim saya yang terkesan dibuat-buat dan dipaksakan, tetap tidak pernah disinggung-singgung oleh para komentator yang antipati, bahkan pertanyaan-pertanyaan saya yang bobotnya lebih rendah sekalipun, sejauh pertanyaan tersebut mengenai kekurangan produk Prudential, tidak pernah terjawab. Kenapa? Tanya kenapa? 5. Black Campaign / usaha menjatuhkan nama baik Prudential Ya, silakan di cross check saja, kepada Prudential langsung. Tidak usah didebat panjang lebar. Akhir kata, apa tetap masih Always Listening and Always Understanding?

Tag/Labelasuransi, agen, nasabah, klaim Penilaian anda

Biasa Lumayan Warta terkait

Menarik

Berguna

Sayang Keluarga, Milikilah Asuransi Persiapkan Pensiun dari Sekarang ! Lagi-lagi Pr