Pemungut PPN

download Pemungut PPN

of 33

  • date post

    27-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    30
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Pemungut PPN

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul Pemungut PPN dan Pengisian Faktur Pajak. Dalam pembuatan makalah ini, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Richard Eddy Tampubolon, S.E., Ak., M.B.A., M.M. yang telah memberikan kesempatan dan memberi fasilitas sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Serta kedua orang tua kami yang telah memberikan bantuan materiil maupun doanya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan kami khususnya. Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharap saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan ke arah kesempurnaan. Akhir kata kami menyampaikan terimakasih.

Tangerang Selatan, 7 Juli 2014

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTARiDAFTAR ISIiiBAB I2PENDAHULUAN2BAB II4PEMBAHASAN4A.Prinsip Dasar Pengreditan Pajak Masukan4B.Pengreditan Pajak Masukan dalam Masa Pajak yang Tidak Sama7C.Kriteria Pajak Masukan yang Dapat Dikreditkan8D.Kriteria Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan8E.Ketentuan Mengenai Gagal Berproduksi121.PKP Dan Mekanisme PK dan PM122.Belum Berproduksi Dan Barang Modal133.Pengertian Gagal Berproduksi144.Tata Cara Pengembalian155.Pengkreditan Setelah Batas Waktu Gagal Produksi156.Tata Cara Pengembalian Setelah Batas Waktu Gagal Produksi167.Gagal Produksi Akibat Bencana Alam168.Sanksi Bunga179.Tindakan Pemeriksaan dan Pencabutan PKP17BAB III19PENUTUP19DAFTAR PUSTAKA20

28

A.

BAB IPENDAHULUAN

Latar Belakang Dalam peraturan sebelumnya yaitu KMK Nomor 563/KMK.03/2003 tanggal 24 Desember 2003 pada Pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara ditetapkan sebagai Pemungut PPN. Pada Pasal 2 ayat (2) disebutkan bahwa Pemungut PPN sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) yang melakukan pembayaran atas penyerahan barang kena pajak dan/atau jasa kena pajak oleh pengusaha kena pajak rekanan pemerintah atas nama pengusaha kena pajak rekanan pemerintah wajibmemungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang. Keputusan Menteri Keuangan ini menggantikan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 549/KMK.04/2000 tanggal 22 Desember 2000.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 85/PMK.03/2012 tanggal 06 Juni 2012 tentang Penunjukan Badan Usaha Milik Negara sebagai Pemungut PPN untuk memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah ini mulai berlaku efektif tanggal 01 Juli 2012. Peraturan Menteri Keuangan ini dikeluarkan dengan tujuan untuk memudahkan pemungutan PPN atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak oleh rekanan kepada BUMN. Pasal 2 menyebutkan bahwa Badan Usaha Milik Negara ditunjuk sebagai pemungut PPNatau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Dalam Pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak oleh rekanan kepada BUMN dipungut, disetor, dan dilaporkan oleh BUMN. Pasal 3 ayat (2) menyebutkan bahwa rekanan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) merupakan pengusaha kena pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak kepada BUMN. Selanjutnya mengenai jumlah pungutan pajak yang wajib dipungut, disetorkan dan dilaporkan oleh BUMN sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 4 ayat (1) adalah sebesar 10% (sepuluh persen) dikalikan dengan dasar pengenaan pajak (DPP). Dalam Pasal 4 ayat (2) disebutkan bahwa dalam hal atas penyerahan Barang Kena Pajak selain terutang Pajak Pertambahan Nilai juga terutang Pajak Penjualan atas Barang Mewah maka jumlah yang harus dipungut oleh BUMN adalah sebesar tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang berlaku dikalikan dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP).

Rumusan Masalah A. Pengertian Pemungut PPNB. Macam-macam pemungut Pajak dan kaitannya dengan pengisian Faktur Pajak

BAB IIPEMBAHASAN

Pengertian Pemungut PajakPemungut PPN adalah Bendaharawan Pemerintah, Badan, atau Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk memungut, menyetor dan melaporkan pajak yang terutang oleh PKP atas penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP kepada bendaharawan pemerintah, badan, atau instansi pemerintah tersebut.(Pasal 1 angka 27 UU PPN).Mekanisme pemungutan PPN pada dasarnya dilakukan oleh si penjual atau penerima uang, namun dalam hal untuk mengamankan dan mempercepat pemasukan ke kas negara maka dilakukan sistem pemungutan dan penyetoran PPN oleh PUT PPN.Oleh karena itu, Pemerintah menentukan Badan-Badan atau Instansi yang harus melakukan pemungutan dan penyetoran PPN.Contoh :PKP XYZ melakukan penjualan berupa komputer kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Bendahara Pemerintahnya. Karena PKP XYZ melakukan penyerahan BKP kepada bendahara pemerintah Pemda Kota Tangsel, maka Bendahara Pemda Kota Tangsel wajib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN yang terutang atas transaksi tersebut.Mengingat PPN Pajak Keluaran telah disetor dan dilaporkan oleh PUT PPN, makapenjual yang bukanPUT PPN tidak perlu lagi melakukan pemungutan dan penyetoran PPN, akan tetapi tetap melakukan pelaporan dalam SPt Masa PPN Formulir 1107-A.Pemungut PPN dan atau PPnBM berdasarkan Keppres 56 tahun 1988 telah dicabut denganKeppres 180 tahun 2000. Kemudianditunjuk kembali dengan KMK No.547/KMK.04/2000.

Macam-macam Pemungut Pajak dan Kaitannya dengan Pengisian Faktur Pajak

Pemungut PPN adalah sebagai berikut :1. KPKN (Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara), sekarang menjadi KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara);2. Bendaharawan Pemerintah Pusat dan Daerah baik Propinsi, Kabupaten atau Kota;3. Pertamina;4. Kontraktor Kontrak Bagi Hasil dan Kontrak Karya dibidang Minyak, Gas Bumi,Panas Bumi dan pertambangan umum lainnya;5. Badan Usaha Milik Negara (BUMN); / Badan Usaha Milik Daerah (BUMD);6. Bank Milik Negara; / Bank Milik Daerah;7. Bank Indonesia;Namun, seiring dengan penyederhanaan sistem pemungutan PPN, sejak1 Januari 2004sesuai KMK No.563/KMK.03/2003, pemungut PPN hanyalah Bendaharawan Pemerintah dan KPKN(sekarang menjadi KPPN Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara). Kemudian diatur lebih lanjut tentang penunjukan Pemungut PPN untuk KPS Migas sejak1 Januari 2005sesuai PMK No.11/PMK.03/2005dan berdasarkan PMK No.73 Tahun 2010menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi dan kontraktor atau Pemegang Kuasa/Pemegang Izin Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi.Dan sekarang berdasarkan PMK No. 85/PMK.03/2012 jo. PMK No.136/PMK.03/2012 BUMN kembali ditunjuk sebagai pemungut PPN.PKP RekananDalam ranah pemungutan Pajak Pertambahan Nilai, dikenal pula istilah PKP Rekanan. Yang dimaksud dengan PKP Rekanan adalah Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak kepada Pemungut PPN. PKP Rekanan yang melakukan transaksi penyerahan BKP dan/atau JKP kepada Pemungut PPN Bendaharawan Pemerintah / Bendaharawan KPPN dinamakan PKP Rekanan Pemerintah.Contoh 3 : PKP ABC melakukan penyerahan BKP kepada Bendahara Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Dalam transaksi ini, PKP ABC bertindak selaku PKP Rekanan Pemerintah.Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut PPN dan atau PPnBMDiatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 548/KMK.04/2000 Jo. KMK No.563/KMK.03/2003 jis Lampiran I Kep-DJP No.382/PJ./2002.Praktiknya, bendaharawan pemerintah di Satuan Kerja (Satker) tertentu akan langsung meminta membuat SSP dari rekanan atau penyedia barang dan jasa. SSP dibuat oleh penyedia barang dan jasa saat (bersamaan) dengan pembuatan faktur tagihan ke bendaharawan. Nanti atas PPN tersebut disetorkan oleh bendaharawan melalui Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPPN).Tata cara Pemungutan, penyetoran dan pelaporan PPN dan atau PPnBM oleh Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut PPN.a. Bendaharawan Pemerintah adalah Bendaharawan atau Pejabat yang melakukan pembayaran yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.b. PPN dan PPNBM yang terutang atas penyerahan BKP dan atau JKP oleh PKP Rekanan Pemerintah yang pembayarannya melalui Bendaharawan Pemerintah, dipungut, disetor dan dilaporkan oleh Bendaharawan Pemerintahatas nama PKP Rekanan Pemerintah.c. Penyerahan JKP oleh instansi pemerintah yang pembayarannya melalui KPKN/KPPN atau Bendaharawan Pemerintah tidak dipungut PPN sepanjang pembayaran tersebut berasal dari APBN / APBD dan Instansi Pemerintah yang menyerahkan JKP memasukkan pembayaran yang diterima ke dalam mata anggaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Instansi Pemerintah tersebut.PPN dan PPnBMtidak dipungutoleh Bendaharawan Pemerintah dalam hal :1.Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp.1.000.000 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah (termasuk PPN dan PPnBM).2.Pembayaran untuk pembebasan tanah, kecuali pembayaran atas penyerahan tanah oleh real estate atau industrial estat.3.Pembayaran atas penyerahan BKP dan atau JKP yang menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku mendapat fasilitas PPN tidak dipungut dan atau dibebaskan dari pengenaan PPN antara lain: Pembayaran atas penyerahan BKP dan atau JKP yang dibebaskan dari PPN berdasarkan PP No. 146 tahun 2000 tentang Impor dan atau Penyerahan BKP / JKP Tertentu. Pembayaran atas penyerahan BKP dan atau JKP yang dibebaskan dari PPN berdasarkan PP No. 12 tahun 2001 jo. PP No.43 tahun 2002 tentang Impor dan atau Penyerahan BKP Tertentu yang bersifat strategis. Pembayaran atas penyerahan BKP dan atau JKP yang PPN-nya tidak dipungut berdasarkan