Pemilihan Presiden dalam sistem Ketatanegaraan Indonesia

download Pemilihan Presiden dalam sistem Ketatanegaraan Indonesia

of 70

  • date post

    27-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    782
  • download

    1

Embed Size (px)

description

Melihat sistem katatanegaraan indonesia dalam pilpres

Transcript of Pemilihan Presiden dalam sistem Ketatanegaraan Indonesia

TUGAS HUKUM TATA NEGARA PEMILIHAN PRESIDEN DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SURABAYA 2009-2010

1

BAB I PENDAHULUAN1.1 Sejarah Sistem Ketatanegaraan Indonesia Sistem ketatanegaraan di Indonesia mempunyai sejarah yang panjang. Sejarah ketatanegaraan Indonesia dapat ditemui pada konstitusi atau undangundang dasar dari negara Indonesia, yakni Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Itu disebabkan oleh di dalam konstitusi atau undang-undang dasar negara indonesia itulah diatur mengenai sistem ketatanegaraan dari negara Indonesia. Mengetahui sistem ketatanegaraan Indonesia itu penting, sebab dari berbagai pengalaman sejarah di bidang ketatanegaraan yang pernah terjadi di Indonesia, maka hal itu akan dapat digunakan sebagai landasan untuk menata kehidupan ketatanegaraan di masa yang akan datang. Selain itu, kita dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya suatu kegagalan penyelenggaraan ketatanegaraan yang lalu, serta dapat mengetahui apa yang menjadi latar belakang pengaturan sesuatu hal di dalam konstitusi itu menjadi ketentuan ketatanegaraan. Di samping itu, di Indonesia pernah berlaku beberapa konstitusi, di mana berlakunya beberapa konstitusi tersebut memiliki sistem ketatanegaraan yang berbeda satu sama lain, yakni :a. Berlakunya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945. Dengan berlakunya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka menempatkan presiden selain sebagai kepala negara, juga sebagai kepala pemerintahan. Dengan demikian, sistem pemerintahan yang dianut yakni sistem pemerintahan presidensiil. Sistem pemerintahan presidensiil itu ialah sebuah sistem pemerintahan di mana kepala pemerintahannya dipegang oleh presiden.b. Berlakunya Konstitusi Republik Indonesia Serikat Tahun 1949.

2

Ketika berlakunya Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949, bentuk atau susunan negaranya adalah federasi. Dalam sebuah negara yang susunan negaranya adalah federasi, negara Republik Indonesia Serikat menggunakan sistem pemerintahan yang parlementer, yang menempatkan presiden sebagai seorang kepala negara, sedangkan kepala pemerintahannya dipegang oleh seorang Perdana Menteri. Namun, pada dasarnya tidak semua negara yang menggunakan susunan federasi itu menggunakan sistem pemerintahan parlementer. Kebetulan negara Republik Indonesia Serikat dengan Konstitusi Republik Indonesia Serikat Tahun 1949 sistem pemerintahannya yaitu parlementer. Konstitusi ini hanya bertahan selama 1 (satu) tahun.c. Berlakunya Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950.

Dengan berlakunya undang-undang dasar tersebut, maka bentuk negara Indonesia kembali menjadi negara dengan bentuk kesatuan. Namun, sistem pemerintahan yang digunakan yakni sistem pemerintahan yang parlementer. Di antara sistem pemerintahan parlementer pada saat Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950, terdapat perbedaan peraturan, sistem pertanggungjawabannya berbeda.d. Kembali berlakunya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945. Pemberlakuan kembali Undang-Undang Dasar Tahun 1945 di Indonesia tersebut berdasarkan dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. Dekrit tersebut dikeluarkan sebab konstituante yang ditugaskan untuk menyusun dan menetapkan undang-undang dasar yang baru untuk menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara 1950, tidak mampu. Konstituante itu tidak mampu merespon ajakan presiden untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945, bahkan mau berhenti untuk tidak mengadakan sidang konstituante. Dengan berlakunya konstitusi tersebut, maka menggunakan sistem pemerintahan yang presidensiil. Undang-Undang Dasar ini telah

3

mengalami satu kali perubahan dalam 4 (empat) tahap pada era reformasi. Jadi, mengetahui ketatanegaraan di Indonesia itu penting untuk menata kehidupan ketatanegaraan yang akan datang. Seperti halnya perubahan yang dilakukan pada ketentuan pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketentuan pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebelum perubahan, kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, diubah menjadi kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar Semula yang menjadi landasan pemikiran yang mengatur pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni kedaulatan rakyat dilaksanakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, sebab negara Indonesia menganut paham kedaulatan rakyat (Demokrasi). Kedaulatan itu ialah kekuasaan yang tertinggi dalam suatu negara, dan ada pada rakyat, rakyatlah yang berdaulat. Rakyat itulah yang akan menentukan ke arah mana negara ini akan dibawa. Dalam pemahaman mengenai kedaulatan rakyat (Demokrasi), dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, terdapat pemikiran dari para pembentuk (pendiri) negara bahwa tidak mungkin rakyat itu dapat terlibat secara menyeluruh dalam pemerintahan suatu negara. Oleh karena itu, sejalan dengan berkembangnya pemahaman mengenai Demokrasi, maka dianggap negara Indonesia perlu suatu badan untuk merepresentasikan kedaulatan rakyat itu. Badan itu harus betul-betul mewakili seluruh rakyat Indonesia, maka perwakilannya yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. Badan perwakilan itu merepresentasikan kedaulatan rakyat dan mencerminkan seluruh aspirasi, kepentingan rakyat Indonesia. Menurut Prof. Iklaso Amal, hendaknya lembaga pemegang kedaulatan rakyat itu seharusnya lembaga perwakilan mikro kosmik, di mana sebagai organ mikro biologi dia terdiri dari partikel-partikel kecil di dalam organ tersebut. Lembaga yang betul-betul di dalamnya terdiri dari semua komponen

4

terkecil manapun, supaya badan tersebut dapat menjadi sebagai pemegang kedaulatan rakyat Indonesia. Akhirnya dirumuskan ketentuan pasal 2 ayat (1), bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat itu terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat, utusan daerah, dan utusan golongan yang ditetapkan oleh undangundang. Yang menjadi landasan pemikirannya yakni diharapkan Dewan Perwakilan Rakyat akan mewakili utusan golongan politik, di mana keanggotaannya ditentukan oleh partai politik dan dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia. Utusan daerah mewakili territorial, wilayah administratif, sedangkan utusan golongan mewakili golongan-golongan fungsional, misalnya: keagamaan, kekaryaan, ekonomi. Setelah ditetapkan seperti itu, maka Majelis Permusyawaratan Rakyat menjadi pemegang dan pelaksana kedaulatan rakyat, bahkan ditempatkan sebagai Lembaga Tertinggi Negara dengan segala kewenangan yang dimilikinya. Kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat, yakni :1. Menurut ketentuan pasal 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945 sebelum perubahan, yakni diberi wewenang untuk menentukan undang-undang dasar dan garis-garis besar daripada haluan negara.2. Menurut ketentuan pasal 6 Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945 sebelum perubahan, Majelis Permusyawaratan Rakyat mempunyai wewenang untuk memilih presiden dna wakil presiden.3. Menurut ketentuan padal 37 Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945 sebelum perubahan, wewenangnya untuk mengubah undang-undang dasar. Sebagai pemegang dan pelaksana kedaulatan rakyat, Majelis Permusyawaratan Rakyat harus memahami betul aspirasi seluruh rakyat Indonesia, serta harus ada kesehatian pada jiwa Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan jiwa denyut nadinya rakyat Indonesia, artinya apa yang dipikirkan Majelis Permusyawaratan Rakyat harus bersumber dari pikiran rakyat, begitu juga yang diputuskan harus bersumber dari keinginan rakyat.

5

Tetapi, ternyata tidak sejalan dengan apa yang diinginkan rakyat Indonesia. Bahkan, boleh dikatakan yang diputuskan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat itu senantiasa bertentangan dengan rakyat Indonesia. Akhirnya, Majelis Permusyawaratan Rakyat merasa dirinya tidak mampu sebagai pemegang dan pelaksana kedaulatan rakyat. Ketidakmampuan Majelis Permusyawaratan Rakyat itu dapat dilihat pada pemilihan umum tahun 1998. Menurut suara yang didapat PDI P yang diwakili oleh Megawati, seharusnya ia yang terpilih sebagai presiden, tetapi yang terjadi Majelis Permusyawaratan Rakyat memilih Gus Dur, padahal waktu itu suara yang didapat PKB sedikit. Kemudian, pada tahun 1999 diubahlah ketentuan pasal 1 ayat (2) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi, Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, menjadi Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar. Dalam memahami sejarah sistem ketatanegaraan Indonesia, dapat dimulai dari saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Secara normatif dalam pemahaman Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (pemahman normatif konstitusional), memang pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, belum terdapat sistem ketatanegaraan. Tetapi kita harus tahu, bahwa Proklamasi Kemerdekaan itu adalah norma hukum yang utama, bukan yang lain. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan itu adalah norma dasar. Diakatakan sebagai norma dasar sebab Proklamasi akan dijadikan sebagai dasar bagi pembentukan norma-norma hukum lainnya. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dibuat dengan dasar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Atas dasar itu, maka dapat dimaklumi jika sistem ketatanegaraan Indonesia itu dimulai dari Proklamasi Kemerdekaan. Hal tersebut dipertegas dalam teks Proklamasi, di mana menunjukkan adanya sistem ketatanegaraan, yakni : . . . hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain . . . Makna kata-kata pemindahan kekuasaan maksudnya terjadi pemindahan kekuasaan dari rezim kolonial ke pemerintahan baru yang akan dibentuk.

6

Jika bicara tentang pemindahan kekuasaan, maka kekuasaan itu selalu berkorelasi dengan kekuasaan