pemicu kegawatdaruratan

download pemicu kegawatdaruratan

of 71

  • date post

    25-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    41
  • download

    9

Embed Size (px)

description

pemicu ini sangat penting untuk dibaca dan diresapi karena memiliki ilmu yang sangat penting tentang ilmu kegawatdaruratan. lebih mudah belajar menggunakan presentasi yang telah diringkas.

Transcript of pemicu kegawatdaruratan

  • Anakku KlojotanPemicu 1 Blok KegawatdaruratanFalkutas Kedokteran Universitas Tarumanagara 2010Tutor : dr. Wiryani Pambudi, Sp. AKELOMPOK 3

  • In GrouP 3

    405070038REINECIA ANGGOTA405070056RIODIAN S.ANGGOTA405070062FORSALINA T.ANGGOTA405070063ALINE C.ANGGOTA405070066MAILAN J.ANGGOTA405070128SUSANTI L.ANGGOTA405070129ANDRUW T.SEKRETARIS405070134GRISELDA T.KETUA405070137CHRISTIE CINDYANGGOTA405070148HOSANA T.ANGGOTA405070153DANIEL Z.ANGGOTA405070163EMELIA W.PENULIS

  • SkenarioSeorang anak laki laki berusia 3 tahun diantar ke IGD dalam keadaan kejang. Menurut ibunya kejang timbul mendadak saat anak tidur, sekitar 5 menit sebelum tiba di IGD. Riwayat sakit sebelumnya hanya demam ringan (38C), dialami pasien setelah jatuh terbentur ayunan di sekolah 2 hari yang lalu. Ia mengeluh nyeri kepala dan muntah setiap dicoba makan/minum. Dokter jaga segera melakukan pengamanan jalan napas, memberikan oksigenasi dan obat per rektal. Karena kejang tidak juga berhenti, obat per rektal diberikan sekali lagi. Anak ini tetap menunjukkan gerakan kejang tonik-klonik, mata terbelalak ke atas, napas cepat dengan kesadaran menurun. Sampai 15 menit, kejang masih terus berlangsungApa yang dapat anda pelajari dari kasus ini?

  • Learning ObjectiveMengetahui dan menjelaskan TriageMengetahui dan menjelaskan Survey primer (ABC)Mengetahui dan menjelaskan Survey sekunder (Dx. Kerja)Mengetahui dan menjelaskan Kejang (definisi, etiologi, patofisiologi, tanda, fase)Mengetahui dan menjelaskan tanda kegawatdaruratan kejangMengetahui dan menjelaskan Tindak lanjut dalam kegawatdaruratan kejang

  • TriagePengelompokan korban/pasien berdasarkan berat ringannya trauma atau penyakit serta kecepatan penanganan atau pemindahan.Tujuan : Dapat menangani korban/pasien dengan cepat, cermat dan tepat sesuai dengan sumber daya yang adaMacam-macam korban :Korban masal : > 1 orang harus ditolong > 1 penolong, bukan bencana Korban bencana : korban > korban masal

  • Prinsip-prinsip TriageTime Saving is Life Saving, The Right Patient, to The Right Place at The Right Time dengan seleksi korban berdasarkan :Ancaman jiwa mematikan dalam hitungan menit Dapat mati dalam hitungan jam Trauma ringan Sudah meninggal Dari yang hidup dibuat prioritas penentuan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan dan pemindahan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul

  • Triage

    Prioritas I (prioritas tertinggi) merah beratbiru sangat beratMengancam jiwa atau fungsi vital, perlu resusitasi dan tindakan bedah segera, mempunyai kesempatan hidup yang besar. Penanganan dan pemindahan bersifat segera yaitu gangguan pada jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Contoh : sumbatan jalan nafas, tension pneumothorak, syok hemoragik, luka terpotong pada tangan dan kaki, combutio (luka bakar) tingkat II dan III > 25%

  • Prioritas II (medium) kuningPotensial mengancam nyawa atau fungsi vital bila tidak segera ditangani dalam jangka waktu singkat. Penanganan dan pemindahan bersifat jangan terlambat. Contoh : patah tulang besar, combutio (luka bakar) tingkat II dan III < 25 %, trauma thorak/abdomen, laserasi luas, trauma bola mata.Prioritas III (rendah) hijauPerlu penanganan seperti pelayanan biasa, tidak perlu segera. Penanganan dan pemindahan bersifat terakhir.Contoh : luka superficial, luka-luka ringanPrioritas 0 hitamKemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat parah. Hanya perlu terapi suportif. Contoh : henti jantung kritis, trauma kepala kritis.

  • TriagePenilaian dalam triagePrimary survey (A,B,C,D,E) untuk menghasilkan prioritas I dan seterusnya Secondary survey (Head to Toe) untuk menghasilkan prioritas I, II, III,0 dan selanjutnya Monitoring korban akan kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan pada A, B, C, derajat kesadaran dan tanda vital lainnya. Perubahan prioritas karena perubahan kondisi korban

  • TriagePerencanaan triage :Persiapan sebelum bencana Pengorganisasian personal (bentuk tim triage) Pengorganisasian ruang/tempat Pengorganisasian sarana/peralatan Pengorganisasian suplai Pelatihan KomunikasiPemimpin triage, hanya melakukan :Primary survey Menentukan prioritas Menentukan pertolongan yang harus diberikan

  • TriageKeputusan triage harus dihargai. Diskusi setelah tindakan. Hindari untuk tidak memutuskan sesuatu. Pemimpin triage tidak harus dokter, perawat pun bisa atau orang yang terlatih tergantung sumber daya manusia di tempat kejadian.Tim triage, bertanggung jawab :Mencegah kerusakan berlanjut atau semakin parahPilah dan pilih korbanMemberi perlindungan kepada korban.

  • TriageDokumentasi/rekam medis triageInformasi dasar : nama, umur, jenis kelamin, cedera, penyebab cedera, pertolongan pertama yang telah diberikanTanda-tanda vital : tensi, nadi, respirasi, kesadaranDiagnosis singkat tapi lengkapKategori triageUrutan tindakan preoperatif secara lengkapPerhatian :Jika fasilitas kurang memadai maka lebih diutamakan yang potensial selamat. Contoh : jika korban label merah lebih potensial selamat maka label biru dapat berubah menjadi label hitam Dalam keadaan bencana, lebih baik memberi bantuan lebih daripada kurang Pikirkan kemungkinan yang paling buruk sehingga dapat mempersiapkan lebih baik.

  • KejangKejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermiten dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik dan otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik di neuron otak.

  • Klasifikasi kejang Kejang parsialKejang fokal sederhanaKejang parsial kompleksKejang parsial yang menjadi umumKejang umumAbsens Mioklonik KlonikTonikTonik-klonikatonik

  • Etiologi Kejang demam sederhana Infeksi:- infeksi intrakranial:meningitis, ensefalitis- ShigellosisKeracunan:- Alkohol-theofilin -kokainLain-lain :- Ensefalopati hipertensi-Tumor otak- IdiopatikGangguan metabolikHipoglikemiHiponatremiHipoksemiaHipokalsemiaGangguan elektrolit atau dehidrasiDefisiensi piridoksinGagal ginjalGagal hatiGangguan metabolik bawaanPenghentian obat anti epilepsiTrauma kepala:-Trauma langsung-Luka goncangan

  • Patofisiologi Eksitasi neurotransmitter asam amino (glutamat, aspartat) bekerja pada reseptor tertentu secara berurutan merangsang sel neuron lain secara bersama-sama melepaskan muatan listriknya kejangDaerah kematian neuron (hematoma, gliosis, glioma) perkembangan sinaps hipereksitabel baru kejangBayi otak kurang berkembang rentan kejangBerkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gamma amino butirat (GABA) kejang

  • Status Epileptikus / Status Konvulsif

  • Status Epileptikus Definisi:Kejang yang berlangsung selama lebih dari 30 menit atau episode kejang yang berselang tanpa kesadaran.

  • Gejala KlinisTidak responsifKejang jelas terlihat tonik, klonik, tonik-klonikKadang manifestasi klinis samar twitching movements pada wajah, tangan, dan kaki Myoclonic status epilepticus krn anoksia berkepanjangan atau gangguan metabolik berlangsung sangat singkat, gerakan tiba-tiba yang dapat dirangsang oleh stimulus eksternal.

  • Proses akut yang bisa menimbulkan status epileptikus :Gangguan metabolik (gangguan elektrolit, gagal ginjal, sepsis)Infeksi SSPStrokeTrauma kepalaToksisitas obatHipoksia

  • Proses kronis yang bisa menimbulkan status epileptikus :Preexisting epilepsyPenghentian obat OAE Tumor atau stroke

  • Survey primerDefinisiDeteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang mengancamTujuanUntuk mengetahui kondisi pasien yang mengancam jiwa dan kemudian dilakukan tindakan life saving.

  • Sistematika prioritas survei primer :Airway : Patensi jalan nafasCervical controlBreathing : menjamin proses ventilasi (fungsi paru)Circulation :Fungsi pompa (jantung)Kontinuitas pembuluh darahIsi (volume darah)Disability : gangguan fungsi neurologiExposure : Thermal (hipotermi,luka thermal-kimia)Intoksikasi (kontak dengan zat racun)

  • AIRWAY-BREATHINGTanda jalan napas dan pernapasan normal :LOOK : gerakan napas pada dada-perut yg normal, dilakukan tanpa usaha yg berlebih atau frekwensi berlebihLISTEN : suara napas nyaris tak terdengar (jernih), tidak boleh ada bunyi tambahan (mendengkur, berkumur, suara sesak)FEEL : aliran udara napas dapat dirasakan normal

  • Pasien trauma resiko tinggi gangguan AB :Tidak sadar (GCS < 8)Adanya muntahan darah dalam mulutTrauma facial mandibulaTrauma leherTrauma thorak

  • Pemeriksaan :Pasien sadar : ajukan pertanyaan gangguan menjawab ?Pasien tidak sadar = nilai Look-Listen-Feel Pasien dalam posisi terlentang (supinasi)

  • AIRWAY Pasien tidak sadar, jika ada gangguan napas karena lidah jatuh ke belakangSegera buka jalan napas dengan triple airway manuver :Head tilt dan chin liftJaw thrust terutama cedera servikal

  • Benda asing obstruksi jalan napas :Obstruksi parsialObstruksi totalPenanganan evakuasi benda asing

    Teknik penanganan obstruksi jalan napas pada dewasa anak :Finger sweep jika benda asing tampakAbdominal thrust Chest thrust untuk hamil tua, obesitas

  • Teknik penanganan obstruksi jalan napas pada infant (bayi) kombinasi back flow dan chest thrustTeknik penanganan obstruksi jalan napas pada neonatus hanya boleh finger sweep / suction

  • Penanganan jalan napas akut :Pipa oro-faring/naso-faringSuctionNeedle-cricothyrotomy hanya untuk sementaraLaryngal Mask Airway (LMA)Jalan napas definitif :Intubasi endotrakealOperative cricothyrotomy / tracheostomy

  • TindakanTanpa alat1) Membuka jalan nafasChin Lift maneuver (mengangkat dagu) jari tengah dan telunjuk memegang tulang dagu pasien kemudian angkatJaw thrust maneuver (mengangkat sudut rahang bawah) dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atasHead Tilt maneuver (menekan dahi)