Pemeriksaan Pap Smear

Click here to load reader

  • date post

    24-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    206
  • download

    4

Embed Size (px)

description

sss

Transcript of Pemeriksaan Pap Smear

PEMERIKSAAN PAP SMEAR

PEMERIKSAAN PAP SMEARDika Ardiansyah08310076Fauzan Rahman08310111Shella Sucy Yanti 08310284Triyani Retno Pamungkas08310311

BAB IPENDAHULUANKanker serviks menjadi pembunuh nomor dua. Insiden kanker serviks telah menurun, hal ini karena adanya peningkatan jumlah skrining yang dilakukan dengan metode sitologi serviks. Skrining kanker serviks yang utama dilakukan adalah tes papaniculou atau lebih dikenal sebagai Pap test atau Pap smear. Dari sel -sel tersebut dicari tanda-tanda dini lesi-lesi kanker atau keganasan.

Sejauh ini banyak bukti menunjukkan bahwa 99% dari kanker serviks disebabkan oleh virus human papillomavirus (HPV). HPV merupakan keluarga virus DNA sirkular berantai ganda yang menginfeksi sel-sel kulit dan sel-sel mukosa , terutama di daerah kelamin-anus dan rongga mulut yang sangat mudah ditularkan melalui hubungan seksual atau kontak langsung.

BAB IITINJAUAN PUSTAKADefinisi Tes Pap Smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat adanya perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio (displasia) sebagai tanda awal keganasan serviks atau prakanker.

Pap Smear merupakan suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pap Smear merupakan tes yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim.

Tujuan Tujuan tes pap smear adalah:Menemukan sel-sel yang tidak normal dan dapat berkembang menjadi kanker serviks.Alat untuk mendeteksi adanya gejala prakanker leher rahim Untuk mengetahui kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel kanker leherrahim.Mengetahui tingkat keganasan kanker serviks.

Manfaat Pemeriksaan Pap Smear berguna sebagai pemeriksaan penyaring (skrining) dan pelacak adanya perubahan sel ke arah keganasan secara dini sehingga kelainan prakanker dapat terdeteksi serta pengobatannya menjadi lebih murah dan mudah.

Evaluasi sitohormonalPenilaian hormonal pada seorang wanita dapat dievaluasi melalui pemeriksaan pap smear yang bahan pemeriksaanya adalah secret vagina yang berasal dari dinding lateral vagina sepertiga bagian atas.

Mendiagnosis peradanganPeradangan pada vagina dan servik pada umumnya dapat didiagnosa dengan pemeriksaan pap smear . Baik peradangan akut maupun kronis.

Identifikasi organisme penyebab peradanganPada umumnya organisme penyebab peradangan pada vagina dan serviks, sulit diidentifikasi dengan pap smear, sehingga berdasarkan perubahan yang ada pada sel tersebut, dapat diperkirakan organisme penyebabnya.

Mendiagnosis kelainan prakanker (displasia) leher rahim dan kanker leher rahim dini atau lanjut (karsinoma/invasif)

Memantau hasil terapi

Indikasi Wanita yang dianjurkan untuk melakukan tes Pap smear :

Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berusia muda sudah menikah aktivitas seksualnya sangat tinggi.Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berganti ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HIV atau kutil kelamin.Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun.

Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB.Pap smear setahun sekali bagi wanita antara umur 40-60 tahun.Sudah 2 kali pap smear (-) dengan interval 3 tahun dengan catatan bahwa wanita resiko tinggi harus lebih sering menjalankan pap smear.Jika hasil pap smear menunjukkan abnormal sesering mungkin pap smear setelah penilaian dan pengobatan prakanker maupun kanker serviks.

Berikut ini adalah petunjuk melakukan skrining dengan Pap smear yang dianjurkan oleh lembaga-lemabaga kanker Amerika (American cancer society / ACS) tahun 2012.ParameterRekomendasi ACSUsia mulai skriningMulai skrining dengan sitologi pada usia 21 tahun, tidak memandang riwayat kehidupan seksualnya

Interval skrining untuk kelompok usia 21-29 tahun

Skrining cukup dengan sitologi saja tiap 3 tahun. * Test HPV sebaiknya tidak dilakukan pada kelompok usia ini

Interval skrining untuk kelompok usia 30-65 tahun

Skrining dengan kombinasi sitologi dan tes HPV setiap 5 tahun (dianjurkan) atau cukup sitologi saja tiap 3 tahun. Skrining dengan hanya test HPV saja tidak dianjurkan.

Usia berhenti skriningUsia 65 tahun jika sang wanita memiliki riwayat hasil skrining negatif yang cukup memadai sehingga dianggap tidak beresiko tingi terkena kanker serviks.

Skrining setelah histerektomi

Tidak dianjurkan dilakukan skrining untuk wanita yang sudah tidak memiliki serviks lagi (post histerektomi total) dan tanpa riwayat lesi-lesi prekanker (CIN2 atau CIN3) maupun kanker serviks itu sendiri dalam 20 tahun belakangan.

Wanita yang mendapat vaksin anti HPV

Anjuran / rekomendasi Skrining tetap dilakukan sama seperti pada wanita yang tidak mendapatkan vaksin anti HPV (mulai usia 21 tahun)

Syarat Sebaiknya datang di luar menstruasi. Lebih baik pada 2 minggu setelah hari pertama menstruasiSelama 24 jam sebelum pemerikasaan tidak diperkenankan melakukan pencucian atau pembilasan vagina dan memakai bahan-bahan antiseptik pada vagina.Penderita paska bersalin, paska operasi rahim, paska radiasi sebaiknya datang 6-8 minggu kemudian.Penderita yang mendapatkan pengobatan lokal seperti vagina supostoria atau ovula sebaiknya dihentikan 1 minggu sebelum pap smear.Tidak melakukan hubungan seksual selama 24 jam sebelum pemeriksaan.Tidak menggunakan tamponProsedur Persiapan pasien :Melakukan informent concentMenyiapkan tempat tidur ginekologi dan lampu sorotMenganjurkan pasien membuka pakaian bawahMenganjurkan pasien berbaring di tempat tidur ginekologi dengan posisi litotomi

Persiapan alat :Menyiapkan perlengkapan/bahan yang diperlukan seperti hanscun, speculum cocor bebek, spatula ayre yang telah dimodifikasi, lidi kapas atau cytobrush, kaca objek glass, botol khusus berisi alkohol 95%, cytocrep atau hair spray, tampon tang, kasa steril pada tempatnya, waskom berisi larutan klorin 0,5%, tempat sampah.

Pelaksanaan :Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan metode tujuh langkah dan mengeringkan dengan handuk kering dan bersih.Menggunakan hanscun steril.Melakukan vulva higyene.Memperhatikan vulva dan vagina apakah ada tanda-tanda infeksi.Memasang speculum dalam vagina.

Masukkan spatula ayre kedalam mulut rahim, dengan ujung spatula yang berbentuk lonjong, apus sekret dari seluruh permukaan porsio serviks dengan sedikit tekanan dengan mengerakkan spatel ayre searah jarum jam, diputar melingkar 360.

Ulaskan secret yang telah diperoleh pada kaca object glass secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.

Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cara :

Fiksasi BasahFiksasi basah dibuat setelah sediaan diambil, sewaktu secret masih segar dimasukkan kedalam alkohol 95%. Setelah difiksasi selama 30 menit, sediaan dapat diangkat dan dikeringkan serta dikirim dalam keadaan kering terfiksasi atau dapat pula sediaan dikirim dalam keadaan terendam cairan fiksasi didalam botol.Fiksasi keringFiksasi kering dibuat setelah sediaan selesai diambil, sewaktu secretmasih segar disemprotkan cytocrep atau hair spray pada object glass yang mengandung asupan secret tersebut dengan jarak 10-15 cm dari kaca object glass, sebanyak 2-4 kali semprotkan. Kemudian keringkan sediaan dengan membiarkannya diudara terbuka selama 5-10 menit. Setelah kering sediaan siap dikirimkan ke laboratorium sitologi untuk diperiksa bersamaan dengan formulir permintaan.

Bersihkan porsio dan dinding vagina dengan kasa steril dengan menggunakan tampon tang.Keluarkan speculum dari vagina secara perlahan-lahan.Beritahu ibu bahwa pemeriksaan telah selesai dilakukan.Rendam alat-alat dan melepaskan sarung tangan (merendam dalam larutan clorin 0,5%).Mencatat hasil tindakan.

Interpretasi Terdapat banyak sistem dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan Pap Smear, sistem Papanicolaou, sistem Cervical Intraepithelial Neoplasma (CIN), dan sistem Bethesda. Klasifikasi Papanicolaou membagi hasil pemeriksaan menjadi 5kelas yaitu : Kelas I: tidak ada sel abnormal (normal) Kelas II: terdapat gambaran sitologi atipik, namun tidak ada indikasi adanya keganasan.Kelas III: gambaran sitologi yang dicurigai keganasan dysplasia ringan sampai sedang Kelas IV: gambaran sitologi dijumpai displasia berat. kanker insitu, dimana telah terdapat sel kanker tapi belum mencapai lapisan terdalam jaringanKelas V: dugaan kanker invasif yang dapat menginfiltrasi dan merusak jaringan sekitar (keganasan).

Sistem CIN pertama kali dipublikasikan oleh Richart RM tahun 1973 di Amerika Serikat pada sistem ini, pengelompokan hasil uji Pap Smear terdiri dari :CIN I merupakan displasia ringan dimana ditemukan sel neoplasma pada kurang dari sepertiga lapisan epitelium. CIN II merupakan displasia sedang dimana melibatkan dua pertiga epitelium. CIN III merupakan displasia berat atau karsinoma in situ yang dimana telah melibatkan sampai ke basement membrane dari epitelium.

Klasifikasi Bethesda pertama kali diperkenalkan pada tahun 1988. Setelah melalui beberapa kali pembaharuan, maka saat ini digunakan klasifikasi Bethesda 2001, sebagai berikut :Negatif dari lesi intraepitel dan malignansi Kelainan sel epitel :

Sel skuamosa : Sel skuamosa atipikal (ASC) yang tidak terdeterminasi secara signifikan (ASC-US) atau sel skuamosa atipikal yang tidak menyingkirkan HSIL (ASC-H) Lesi intraepitelial skuamosa derajat rendah (LSIL), termasuk human papillomavirus (HPV), displasia ringan dan CIN 1Lesi intraepitelial derajat tingggi (HSIL), termasuk displasia derajat sedangan hingga berat, karsinoma in situ, CIN 2 dan CIN 3Karsinoma sel skuamosa

Sel Glandular : Sel glandular atipikal, spesifik endoservikal, endometrial atau yang tidak terspesifikasikan (Not otherwise specified/NOS) Sel endoservikal atipikal, cenderung neoplastik, spesifik endoservikal ataupun NOSAdenokarsinoma endocervical in situ (AIS) Adenokarsinoma

FaktorFaktor-faktor yang mempengaruhi pap smear :1. Pasien a. UmurPerubahan sel-sel abnormal pada leher rahim paling sering ditemukan pada usia 35-55 tahun dan memiliki resiko 2-3 kali lipat untuk menderita kanker leher ra b. Sosial ekonomi Karena ketidak mampuan melakukan pap smear secara rutin.ParitasParitas adalah seseorang yang sudah pernah melahirkan. Paritas dengan jumlah anak lebih dari 2 orang atau jarak persalinan terlampau dekat mempunyai resiko terhadap timbulnya perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim. Usia wanita saat nikahUsia menikah