PEMELIHARAAN SATWA LIAR DILINDUNGI SECARA EX-SITU …digilib.unila.ac.id/29449/3/SKRIPSI TANPA BAB...

of 73/73
PEMELIHARAAN SATWA LIAR DILINDUNGI SECARA EX-SITU DI TAMAN SATWA LEMBAH HIJAU BANDAR LAMPUNG (Skripsi) Oleh NABILA ALFALASIFA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2017
  • date post

    23-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    310
  • download

    13

Embed Size (px)

Transcript of PEMELIHARAAN SATWA LIAR DILINDUNGI SECARA EX-SITU …digilib.unila.ac.id/29449/3/SKRIPSI TANPA BAB...

PEMELIHARAAN SATWA LIAR DILINDUNGI SECARA EX-SITU DITAMAN SATWA LEMBAH HIJAU BANDAR LAMPUNG

(Skripsi)

Oleh

NABILA ALFALASIFA

FAKULTAS PERTANIANUNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG2017

Nabila Alfalasifa

ABSTRAK

PEMELIHARAAN SATWA LIAR DILINDUNGI SECARA EX-SITU DITAMAN SATWA LEMBAH HIJAU BANDAR LAMPUNG

Oleh

Nabila Alfalasifa

Konservasi ex-situ adalah upaya yang dilakukan untuk melindungi jenis - jenis

tumbuhan dan hewan di luar habitat asli. Taman Satwa Lembah Hijau Bandar

Lampung (TSLHBL) adalah salah satu lembaga konservasi non pemerintah yang

mengembangkan konservasi ex-situ di Bandar Lampung. Penelitian ini bertujuan

mengetahui kesesuaian kandang, tempat bermain, dan jumlah pakan yang diberikan.

Penelitian ini menggunakan metode observasi dan metode wawancara dengan lokasi

penelitian di TSLHBL November Desember 2016. Data diolah dengan metode

perbandingan evaluatif dengan indikator kesesuaian kesejahteraan satwa liar menurut

PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia, 2009) dan ISAW (Indonesian

Society for Animal Welfare, 2015). Hasil penelitian kesesuaian kandang dan tempat

bermain satwa dari dua puluh lima kandang ditemukan 44% kandang yang belum

sesuai menurut PKBSI (2009) dan ISAW (2015) yaitu: owa jawa (Hylobates moloch),

owa sumatera (Hylobates agilis), merak hijau (Pavo muticus), rusa timor (Cervus

timorensis), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang brontok (Nisaetus cirrhatus),

elang bondol (Haliastur indus), beo (Gracula religiosa), bangau tong-tong

Nabila Alfalasifa(Leptoptilos javanicus), binturung (Arctictis binturong), buaya muara (Crocodylus

porosus), dan buaya irian (Crocodylus novaeguineae). Dari dua puluh enam jenis

satwa, hanya satwa jenis burung merak hijau (Pavo muticus) yang jumlah pakannya

tidak sesuai dengan jumlah pakan yang seharusnya diberikan. Upaya pelestarian

satwa yaitu satwa yang menghasilkan keturunan hanya satu ekor rusa timor (Cervus

timorensis) pada tahun 2016, sedangkan satwa yang lain belum memiliki keturunan.

Pemanfaatan satwa liar yang dilakukan di TSLHBL yaitu untuk kegiatan penelitian,

berfoto, peraga, dan atraksi satwa.

Kata kunci: konservasi ex-situ, pelestarian satwa liar, Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung

Nabila Alfalasifa

ABSTRACT

PRESERVATION OF WILDLIFE CONSERVATION PROTECTED BYEX-SITU AT TAMAN SATWA LEMBAH HIJAU BANDAR LAMPUNG

By

Nabila Alfalasifa

Conservation ex-situ was an effort to protect the species plant and animal, outside

their natural habitat. Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung (TSLHBL) is one

of non-governmental organizations that developed ex-situ conservation in Bandar

Lampung. The aims of this research are to know suitability of cage, playground, and

the amount of feed. This research used observation and interview methods in

TSLHBL from November to December 2016. The data processing used evaluative

comparison method through a suitability indicator of prosperity wildlife according to

PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia, 2009) and ISAW (Indonesian

Society for Animal Welfare, 2015). The research finding based on suitability of cage

and playground found that 44% from twenty-five cages are not belong to appropriate

cages according to PKBSI (2009) and ISAW (2015) such as: java gibbon (Hylobates

moloch), sumatra gibbon (Hylobates agilis), green peacock (Pavo muticus), timor

deer (Cervus timorensis), black eagle (Ictinaetus malayensis), brontok eagle

(Nisaetus cirrhatus), bondol eagle (Haliastur indus), beo (Gracula religiosa), tong-

Nabila Alfalasifatong stork (Leptoptilos javanicus), binturong (Arctictis binturong), saltwater

crocodile (Crocodylus porosus), and the new guinea crocodile (Crocodylus

novaeguineae). From the twenty-six animal species, just only one species of green

peacock (Pavo muticus) which the amount of feed is not appropriate with the amount

of feed that should be given. The wildlife conservation efforts is only one timor deer

(Cervus timorensis) in 2016, meanwhile the other animals have not an offspring. The

advantage of animal wildlife conservation in TSLHBL consists of some activities,

such as: research, take picture, visual aid, and animal attraction.

Keywords: ex-situ conservation, wildlife conservation, Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung

PEMELIHARAAN SATWA LIAR DILINDUNGI SECARA EX-SITU DI

TAMAN SATWA LEMBAH HIJAU BANDAR LAMPUNG

Oleh

NABILA ALFALASIFA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar

SARJANA KEHUTANAN

Pada

Jurusan Kehutanan

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

2017

RIWAYAT HIDUP

Dengan rahmat Allah SWT. penulis dilahirkan di Pringsewu

Timur Kabupaten Pringsewu pada tanggal 8 Maret 1991. Penulis

merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak

Drs.Sarbini, MA. M. Kom. I dan Ibu RR. Kusbandiah Zulaikha,

B.sc.

Penulis menyelesaikan pendidikan Taman kanak-kanak di TK Aisyiyah 1 Pringsewu

pada tahun 1997, kemudian menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD

Muhammadiyah Pringsewu 2003. Pada tahun 2007 penulis menyelesaikan

pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 2 Pringsewu, kemudian

melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Pagelaran hingga

tahun 2010. Pada tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikan Jurusan Kehutanan,

Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur (SNMPTN).

Selama kuliah penulis telah melaksanakan Kuliah Lapangan Kehutanan (KLK) di

Bogor, Jawa Barat tahun 2012. Pada tahun 2013 penulis melaksanakan Praktek

Umum (PU) di RPH Cileles BKPH Rangkas bitung KPH Banten Perum Perhutani

Unit III Jawa Barat dan Banten. Kemudian tahun 2014 penulis melaksanakan Kuliah

Kerja Nyata (KKN) Tematik di desa Kamilin Kecamatan Pagelaran Utara Kabupaten

Pringsewu.

Penulis juga mengikuti organisasi Himasylva (Himpunan Mahasiswa Kehutanan)

Universitas Lampung sebagai anggota utama. Sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, penulis melakukan kegiatan penelitian dengan

judul Pemeliharaan Satwa Liar Dilindungi Secara Ex-Situ Di Taman Satwa Lembah

Hijau Bandar Lampung.

Kupersembahkan karya ini untuk Papa dan Mama yang telah

memberikan semua kasih sayang, semangat dan doa kepadaku

Saudara-saudaraku angkatan 2010 (Sylvaten) yang telah memberikan

semua semangat, motivasi, doa, canda, tawa, persahabatan, dan

kenangan manis yang tidak akan pernah saya lupakan.

iii

SANWACANA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan karunia-

Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul Pemeliharaan Satwa Liar

Dilindungi Secara Ex-Situ di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung

skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada

Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

konstruktif atau membangun dari semua pihak agar penulisan skripsi ini menjadi

lebih baik, tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak sebagai

berikut.

1. Ibu Dr. Hj. Bainah Sari Dewi, S.Hut., M.P., selaku pembimbing tunggal

sekaligus dosen pembimbing akademik yang telah meluangkan waktunya dan

bersedia memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian

skripsi ini.

2. Bapak Dr. Ir Agus Setiawan, M.Si., selaku penguji yang telah memberikan

masukan dan saran-saran perbaikan dalam penyusunan skripsi ini.

iii3. Ibu Dr. Melya Riniarti, S.P., M.Si., selaku Ketua Jurusan Kehutanan Fakultas

Pertanian Universitas Lampung.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian

Universitas Lampung.

5. Bapak Ir. M. Erwin Nasution, selaku Direktur PT. LEMBAH HIJAU yang telah

memberikan izin penelitian.

6. Bapak Rasyid Ibransyah, S. K. H., selaku Dokter Hewan di Taman Satwa

Lembah Hijau Bandar Lampung yang telah membantu memberikan ilmu,

informasi, dan data.

7. Kedua orang tuaku, Papa dan Mama, Drs.Sarbini, MA. M. Kom. I dan RR.

Kusbandiah Zulaikha, B.sc. yang telah memberikan kasih sayangnya dan

semangat kepada penulis.

8. Afrian Andrianto, Ardiyansah Dwi Saputra, Frans Hamonangan Nainggolan,

Wawan Septiawan, Willy Pratama, M. Zazuli, Dina Farida Utami, yang telah

membantu menyelesaikan penulisan, kebersamaan dan motivasinya yang telah

diberikan kepada saya.

9. Teman-teman KHT Angkatan 2010 (SYLVATEN) yang telah memberikan

masukan dan doa bagi penulis sehingga bisa menyelesaikan skripsi.

10. Saudara dan sahabat Himasylva FP Unila, atas persahabatan, kebersamaan dan

kerjasamanya.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan Program Studi Jurusan

Kehutanan di masa yang akan datang dan dapat bermanfaat bagi saya khususnya bagi

iiipara pembaca. Saya ucapkan terimakasih atas semua bantuannya semoga Allah SWT

memberikan balasan yang setimpal atas kebaikannya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, 22 November 2017

Nabila Alfalasifa

iv

DAFTAR ISI

HalamanDAFTAR ISI.............................................................................................. v

DAFTAR TABEL ..................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................. ix

I. PENDAHULUAN................................................................................ 1A. Latar Belakang................................................................................. 1B. Perumusan Masalah ...................................................................... 3C. Tujuan Penelitian.............................................................................. 4D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 4E. Kerangka Pemikiran...................................................................... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 8A. Satwa Liar .................................................................................... 8B. Konservasi Satwa Liar Secara Ex-situ.......................................... 10C. Taman Wisata ........................................................................ ...... 11D. Lingkungan Terkontrol (Captive Breeding) ................................. 12E. Prinsip Kesejahteraan Satwa Menurut Perhimpunan Kebun

Binatang Se-Indonesia.................................................................... 13F. Pakan Satwa. 16G. Ekologi Satwa Liar... 17

III. METODE PENELITIAN .................................................................. 29A. Waktu dan Tempat Penelitian....................................................... 29B. Alat dan Objek .............................................................................. 29C. Batasan Penelitian......................................................................... 30D. Jenis Data ...................................................................................... 30

1. Data Primer ............................................................................ 302. Data Sekunder........................................................................ 31

E. Metode Pengumpulan Data........................................................... 311. Data Primer ............................................................................ 312. Data Sekunder........................................................................ 32

F. Pengolahan Data dan Analisis Data.............................................. 32

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ............................. 33A. Letak Lokasi Penelitian................................................................. 33B. Sejarah BerdirinyaTaman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung 34

viV. HASIL DAN PEMBAHASAN 39

A. Pelestarian Satwa Dilindungi di Taman Satwa Lembah Hijau BandarLampung ....................................................................................... 39

B. Kandang Satwa di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung 42C. Pakan Satwa Di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung . . 53D. Kesehatan Satwa Dilindungi di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar

Lampung ............................................................................................... 56E. Pemanfaatan Satwa di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung 92F. Pelestarian Satwa di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung...... 92

VI. KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 92A. Kesimpulan ................................................................................... 92B. Saran ............................................................................................. 93

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 94

LAMPIRAN.............................................................................................. 105

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman1. Ekologi Satwa Liar Dilindungi di Taman Satwa Lembah Hijau

Bandar Lampung................................................................................ 18

2. Ekologi Satwa Liar Tidak Dilindungi di Taman Satwa LembahHijau Bandar Lampung...................................................................... 26

3. Daftar Satwa Mamalia Dilindungi di Taman Satwa LembahHijauBandarLampung............. 41

4. Daftar Satwa Aves Dilindungi di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung................................................................................ 41

5. Daftar Satwa Reptil Dilindungi di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung................................................................................ 42

6. Daftar Satwa Primata Dilindungi di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung................................................................................ 42

7. Pemberian pakan burung merak di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung................................................................................ 55

8. Komposisi dan perbandingan bahan pakan kering dan basahuntuk sepasang burung merak hijau (Pavo muticus)di penangkaran TB TMII 2012.. ........................................................ 56

9. Penanganan satwa yang sakit di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung................................................................................ 62

10. Program Departemen Zoo di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung............................................................................ 63

11. Kesejahteraan Satwa Liar dilihat dari Makanan dan Minumandi Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung............................. 64

12. Kesejahteraan Satwa Liar dilihat dari Manajemen Kandangdi Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung............................. 70

viiiTabel Halaman13. Kesejahteraan Satwa Liar dilihat dari Kesehatan dan Perilaku

Satwa di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung .................. 79

14. Perkembangan Jumlah Satwa Liar di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung................................................................................ 115

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman1. Skema Kerangka Pemikiran Kesesuaian Teknis Konservasi Satwa

Liar Secara Ex-Situ di Lembah Hijau Bandar Lampung 2016 ........... 7

2. Peta Lokasi Penelitian Taman Satwa Lembah Hijau,BandarLampung 2016 ..................................................................................... 32

3. Struktur Organisasi Lembaga Konservasi Lembah Hijau BandarLampung ............................................................................................. 37

4. Posisi kandang satwa di Taman Satwa Lembah Hijau BandarLampung . ............................................................................................ 38

5. Kandang Merak Hijau di Taman Satwa Lembah Hijau BandarLampung. ............................................................................................. 43

6. Kandang Merak Hijau di TMR ............................................................ 43

7. Kandang buaya di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung..... 44

8. Vitamin dan obat untuk satwa jenis burung di Taman Satwa LembahHijau Bandar Lampung........................................................................ 60

9. Vitamin untuk satwa jenis primata di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung.................................................................................. 61

10. Vitamin untuk satwa jenis mamalia di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung.................................................................................. 61

11. Kandang jepit untuk suntik Beruang madu (Helarctos malayanus)di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung............................... 62

12. Kandang burung Undan Kacamata (Pelecanus conspicillatus)di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung............................... 106

13. Kandang Beruang Madu (Helarctos malayanus) di Taman SatwaLembah Hijau Bandar Lampung.......................................................... 106

xGambar Halaman14. Kandang Owa Jawa (Hylobates moloch) di Taman Satwa Lembah

Hijau Bandar Lampung........................................................................ 107

15. Kandang Nuri Kabare / Kasturi Raja (Psittrichas fulgidus) di TamanSatwa Lembah Hijau Bandar Lampung ............................................... 107

16. Kandang Kakaktua Tanimbar (Cacatua goffiniana) di Taman SatwaLembah Hijau Bandar Lampung.......................................................... 108

17. Kandang Cenderawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda) di TamanSatwa Lembah Hijau Bandar Lampung............................................... 108

18. Kandang Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) dan Elang Hitam(Ictinaetus malayensis) di Taman Satwa Lembah Hijau BandarLampung .............................................................................................. 109

19. Kandang Elang bondol (Haliastur indus) di Taman Satwa LembahHijau Bandar Lampung........................................................................ 109

20. Kandang Siamang (Sympalangus syndactylus) ) di Taman SatwaLembah Hijau Bandar Lampung.......................................................... 110

21. Kandang Beo (Gracula religiosa) di Taman Satwa Lembah HijauBandar Lampung.................................................................................. 110

22. Kandang Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) di Taman SatwaLembah Hijau Bandar Lampung.......................................................... 111

23. Kandang Owa Sumatera (Hylobates agilis) di Taman Satwa LembahHijau Bandar Lampung........................................................................ 111

24. Kandang Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Taman SatwaLembah Hijau Bandar Lampung.......................................................... 112

25. Kandang Bangau Tong-tong (Leptoptilos javanicus) di Taman SatwaLembah Hijau Bandar Lampung.......................................................... 112

26. Kandang Kakaktua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) danKakaktua Seram (Cacatua moluccensis) di Taman Satwa LembahHijau Bandar Lampung........................................................................ 113

27. Kandang Binturung (Arctictis binturong) di Taman Satwa LembahHijau Bandar Lampung........................................................................ 113

xGambar Halaman28. Satwa - satwa hasil ofsetan ) di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar

Lampung .............................................................................................. 114

29. Wawancara dengan dokter hewan di Taman Satwa Lembah Hijau BandarLampung .............................................................................................. 114

xi

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia dikenal sebagai negara Megacenter of biodiversity (Mac Kinnon, 1992

dalam Astirin, 2000), karena negara Indonesia memiliki keanekaragaman jenis

satwa dan tumbuhan yang cukup tinggi. Indonesia diperkirakan memiliki

300.000 spesies satwa atau 17% satwa di dunia (Pro Fauna Indonesia, 2007;

Warsito, 2010) atau 350.000 satwa (Mc Neely dkk. 1990 dalam Astirin, 2000).

Kekayaan jenis satwa yang dimiliki Indonesia antara lain 515 spesies mamalia

(Mc Neely dkk. 1990 dalam Astirin, 2000), 1.539 spesies burung, 45% dari

jumlah spesies ikan di dunia ada di Indonesia (Pro Fauna Indonesia, 2007;

Warsito, 2010; Sudjatnika, 1995; Supriyadi, 2009 dalam Mangi, 2013), 16%

spesies reptil, 15% spesies serangga yang ada di dunia juga terdapat di Indonesia

(Mc Neely dkk. 1990 dalam Astirin, 2000). Dan Indonesia memiliki beberapa

jenis satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Republik

Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa,

70 spesies mamalia, 93 spesies burung, 29 spesies reptile, 20 spesies serangga,

dan 7 spesies ikan. Satwa-satwa tersebut dapat terancam punah apabila tidak

dilakukan penyelamatan, salah satunya dengan cara konservasi satwa liar diluar

2habitatnya (ex-situ), baik berupa lembaga pemerintah maupun lembaga non

pemerintah seperti kebun binatang, museum zoology, taman satwa khusus, pusat

latihan satwa khusus, dan kebun botani.

Satwa liar adalah sumber daya alam yang dapat di perbaharui atau dapat diisi

kembali dan tidak akan habis (renewable resource) (Rahmawaty, 2004) di dalam

pengelolaan satwa liar diterapkan tiga aspek konservasi dunia yaitu :

perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan.

Konservasi ex-situ adalah proses melindungi spesies tumbuhan dan hewan

(langka) dengan mengambilnya dari habitat yang tidak aman atau terancam dan

menempatkannya atau bagiannya di bawah perlindungan manusia (Ngabekti,

2013).

Fungsi utama dari konservasi ex-situ (Departement Kehutanan, 2007; Suhandi,

2015) adalah melakukan usaha perawatan dan penangkaran berbagai jenis satwa

untuk membentuk dan mengembangkan habitat baru sebagai sarana

perlindungan dan pelestarian alam yang di manfaatkan untuk pengembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi serta untuk sarana rekreasi alam yang sehat.

Lembaga konservasi hewan seperti kebun binatang merupakan wadah interaksi

antara pengunjung dengan hewan yang tidak mungkin kita temui dalam

kehidupan sehari-hari; sebuah tempat dimana manusia dapat merasa berkaitan

dengan alam (Sue Tunnicliffr, 2010 dalam Anugrah, 2015). Salah satu lembaga

non pemerintah yang mengembangkan konservasi ex-situ adalah Taman Wisata

3Lembah Hijau, Bandar Lampung. Informasi belum di ketahui lebih lanjut

mengenai kesesuaian upaya konservasi yang sesuai dengan Peraturan Menteri

Kehutanan Nomor: P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan

Satwa Liar dan indikator yang harus dipenuhi oleh kebun binatang di dalam

mengelola satwa (Departement Kehutanan, 2005). Untuk mengetahui kesesuaian

upaya kelestarian satwa liar di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung

maka dilakukan penelitian tentang kesesuaian teknis konservasi satwa liar secara

ex-situ di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung.

B. Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kesesuaian kandang, tempat bermain, dan jumlah pakan yang

diberikan di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung dalam upaya

perlindungan satwa liar.

2. Bagaimana upaya pelestarian satwa liar di Taman Satwa Lembah Hijau,

Bandar Lampung.

3. Bagaimana pemanfaatan satwa liar di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar

Lampung.

4C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui kesesuaian kandang, tempat bermain, dan jumlah pakan yang

diberikan di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung dalam upaya

perlindungan satwa liar.

2. Mengetahui upaya pelestarian satwa liar di Taman Satwa Lembah Hijau,

Bandar Lampung.

3. Mengetahui pemanfaatan satwa liar di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar

Lampung.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebagai bahan pertimbangan bagi pihak pengelola Taman Satwa Lembah

Hijau, Bandar Lampung di dalam mengelola satwa liar khususnya satwa liar

yang dilindungi di Indonesia.

2. Memberikan saran kepada Pemerintah dalam hal ini adalah Balai Konservasi

Sumberdaya Alam Provinsi Lampung di dalam mengambil keputusan atau

kebijakan perijinan untuk upaya konservasi satwa liar secara ex-situ.

3. Sebagai bahan referensi dan informasi bagi peneliti yang akan melakukan

penelitian lebih lanjut di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung atau

lembaga sejenisnya.

5E. Kerangka Penelitian

Konservasi satwa liar secara ex-situ adalah kegiatan yang mencakup aspek

perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan dengan melakukan perawatan dan

penangkaran untuk berbagai jenis satwa liar dalam membentuk dan

mengembangkan habitat baru. Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung,

belum diketahui informasi lebih lanjut mengenai kesesuaian upaya konservasi

yang sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.19/Menhut-II/2005

tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar (Departement Kehutanan, 2005)

dan indikator yang harus dipenuhi oleh kebun binatang di dalam mengelola

satwa, menurut Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) untuk

mempertahankan kelestarian satwa liar (Perhimpunan Kebun Binatang Se-

Indonesia, 2009).

Maka perlu dilakukan penelitian mengenai kesesuaian teknis konservasi secara

ex-situ di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung.

Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu metode observasi dan wawancara

langsung dengan pihak pengelola Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar

Lampung.

Data hasil observasi dan wawancara kemudian diolah dengan metode

perbandingan evaluatif. Metode perbandingan evaluatif adalah metode yang

membandingkan praktek pengelolaan satwa liar yang dilakukan Taman Satwa

Lembah Hijau, Bandar Lampung dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor:

6P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar

(Departement Kehutanan, 2005) dan indikator kesesuaian kesejahteraan satwa

liar menurut PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia, 2009).

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan referensi yang

bermanfaat untuk pengembangan potensi di dalam melindungi kelestarian satwa

liar yang dilindungi di Indonesia yang ada di Taman Satwa Lembah Hijau,

Bandar Lampung. Skema kerangka pemikiran di deskripsikan dengan lebih jelas

dalam Gambar 1.

7

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Kesesuaian Teknis Konservasi SatwaLiar Secara Ex-Situ di Lembah Hijau Bandar Lampung 2016.

Konservasi satwaliar secara ex-situ

Aspekperlindungan

Aspekpemanfaatan

Aspekpelestarian

Satwa yang dilindungisesuai dengan PP.Nomor 7Tahun 1999

Upaya konservasi satwa liar secaraex-situ sesuai dengan P. 19/Menhut-II/2005 dan indikator prinsipkesejahteraan satwa liar menurutPKBSI

Ukuran kandang Ukuran tempat

bermain

Jumlah Pakan

Jenis-jenissatwa liar

Statuskonservasisatwa liar

Upayapelestarian

Upayapemanfaatan

Metode Obsevasi Metode Wawancara

Kesesuaian Teknis Konservasi Satwa Liar

8

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Satwa Liar

Satwa liar menurut UU Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya

alam hayati dan ekosistemnya adalah semua binatang yang hidup di darat, dan

atau di air, dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang

hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.Satwa liar adalah hewan yang

hidup liar, berasosiasi dengan lingkungan dan atau hidup di dalam suatu

ekosistem alam (Departemen Kehutanan, 1990). Pengertian satwa liar berkaitan

dengan adanya asosiasi dengan lingkungan secara alamiah, dimana satwa liar

melakukan evolusi.Di dalam lingkungan ini spesies yang bersangkutan dapat

melakukan adaptasi dan memanfaatkan lingkungan ini untuk memenuhi segala

keperluan hidupnya (Alikodra, 2010 dalam Yurestika, 2012).

Pasal 1 ayat (2) Peraturan Perburuan Jawa dan Madura 1940, satwa liar dibagi

dalam lima kelompok (Departemen Kehutanan, 1940), yaitu sebagai berikut:

1. Binatang liar yang elok: banteng (Bos Javanicus), kerbau air (Barbulus

bubalus), jenis-jenis rusa (Cervus spp), kijang (Muntiacus muntjak), dan

burung merak (Pavo muticus).

92. Binatang liar yang kecil: jenis-jenis kancil (Tragulus spp), kelinci (Lepus

nigricollis), tekukur, perkutut, dederuk, katik, walik, punai, pergam, kedanca,

dan sebangsanya (Fam. Colombidae), kecuali burung junai (Caleonas

nicobarica); jenis ayam hutan, puyuh dan lainnya (Fam. Phasianidae), kecuali

burung merak; pelung blekek kembang,mandar, tikusan dan lain-lain; belibis,

meliwis, bebenjut dan lain-lain (Fam. Anatidae).

3. Binatang liar yang berpindah-pindah;burung trulek, terik, trinil, gajahan biru

laut dan sebagainya (jenis-jenis Glareola, Charadrius, Limosa, Numenius,

Tringa, dan lain-lain); (Rostratula capensis); sejenis burung mandar, careo,

burung blekek (jenis-jenis Gallinago); ayam-ayaman (Gallicrex cinerea).

4. Binatang liar yang merugikan: babi hutan, celeng, (jenis Sus); harimau, macan

(Felis tigris); macan tutul, macan kumbang (Felis pardus); buaya laut (jenis-

jenis Crocodillus).

5. Binatang liar yang merugikan: kera abu-abu atau monyet (Macaca irus); kera

hitam, lutung (Presbitys pyrhus); kalong, bangsa pemakan buah-buahan (jenis

Pteropus, dan lain-lain); ajag (Cuon javanicus); luwak (Paradoxurus

hermaphroditus); garangan (Herpestes javanicus); dedes, rasse (Viverricula

malaccensis); anjing air, anjing laut, sero (jenis-jenis Lutra); tikus (Rattus

spp); tupai, bajing (Sciuridae dan lain-lain); landak (Hysteric); pecuk, pecuk

ular (Palacrocorax spp.dan Anhinga spp.); betet (Psittacula alexandri);

gagak, gaok, (jenis-jenis Corvus); burung cabe (Dicaedae); gelatik, emprit,

peking, bondol, dan sejenisnya (jenis-jenis Munia, Lonchura, dan lain-lain)

kecuali bondol ijo (Erythura) dan emprit benggala, using, menjiring

10(Amandava); manyar, burung tempua (jenis-jenis Plocerus); dan burung

gereja (Passer montanus) (Jachtverordening Java en Madura, 1940; Alikodra,

2010 dalam Yurestika, 2012).

Berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan

Satwa (Departemen Kehutanan, 1999) yaitu suatu jenis tumbuhan dan satwa

wajib ditetapkan dalam golongan yang dilindungi apabila telah memenuhi

kriteria:

1. Mempunyai populasi yang kecil;

2. Adanya penurunan yang tajam pada jumlah individu dialam;

3. Daerah penyebaran yang terbatas (endemik).

B. Konservasi Satwa Liar Secara Ex-situ

Konservasi sumberdaya alam menurut (Alikodra, 1989 dalam Yurestika, 2012)

adalah kegiatan yang meliputi perlindungan, pengawetan, pemeliharaan,

rehabilitasi, introduksi, pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan satwa liar.

Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.19/Menhut-II/2005 konservasi

tumbuhan dan satwa di luar habitatnya (ex-situ), baik berupa lembaga

pemerintah maupun lembaga non pemerintah yang dapat berbentuk kebun

binatang, museum zoology, taman satwa khusus, pusat latihan satwa khusus,

kebun botani, herbarium dan tanaman tumbuhan khusus (Departemen

Kehutanan, 2005).

11Berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan

satwa (Departemen Kehutanan, 1999) pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa

diluar habitatnya (ex-situ) dilakukan dalam bentuk kegiatan:

1. Pemeliharaan;

2. Pengembangbiakan;

3. Pengkajian;

4. Rehabilitasi satwa;

5. Penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa;

Pengembangbiakan jenis diluar habitatnya wajib memenuhi syarat:

1. Menjaga kemurnian jenis;

2. Menjaga keanekaragaman genetik;

3. Melakukan penandaan dan sertifikasi;

4. Membuat buku daftar silsilah (Studbook).

C. Taman Wisata

Taman wisata menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya

alam hayati dan ekosistemnya adalah kawasan pelestarian alam yang

dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam (Departement Kehutanan,

1990).Taman satwa adalah kebun binatang yang melakukan upaya perawatan dan

pengembangbiakan terhadap jenis satwa yang dipelihara berdasarkan etika dan

kaidah kesejahteraan satwa sebagai sarana perlindungan dan pelestarian alam dan

dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu

12pengetahuan dan teknologi serta sarana rekreasi yang sehat (Departemen

Kehutanan, 2006).

Fungsi taman satwa sesuai dengan peraturan Menteri Kehutanan Nomor:

P.53/Menhut-II/2006 adalah:

1. Pengembangbiakan dan atau penyelamatan satwa dengan tetap

mempertahankan kemurnian jenisnya.

2. Sebagai tempat pendidikan, peragaan, penelitian, pengembangan ilmu

pengetahuan, sarana perlindungan dan pelestarian jenis serta rekreasi yang

sehat.

D. Lingkungan Terkontrol (Captive Breeding)

Lingkungan Terkontrol adalah lingkungan yang dibuat diluar habitat alaminya,

yang dikelola untuk tujuan menghasilkan jenis-jenis satwa tertentu dengan

membuat batas-batas yang jelas untuk mencegah keluar masuknya satwa, telur

atau gamet, baik berupa kandang, kolam dan sangkar maupun lingkungan semi

alami. Lingkungan terkontrol berupa kandang, kolam dan sangkar untuk

pengembangbiakan satwa dengan syarat sebagaimana dideskripsikan dalam

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.19/Menhut-II/2005 antara lain:

1. Adanya fasilitas yang berbeda untuk penempatan spesimen yang sakit;

2. Adanya pembuangan limbah, fasilitas kesehatan, perlindungan dari predator

dan penyediaan pakan;

133. Memberikan kenyamanan, keamanan dan kebersihan lingkungan sesuai

dengan kebutuhan spesimen yang ditangkarkan (Departement Kehutanan,

2005).

Berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan

satwa (Departemen Kehutanan, 1999) pemeliharaan jenis diluar habitat wajib

memenuhi syarat:

1. Memenuhi standar kesehatan tumbuhan, dan satwa;

2. Tempat yang cukup luas, aman dan nyaman;

3. Mempunyai dan mempekerjakan tenaga ahli dalam bidang medis dan

pemeliharaan.

E. Prinsip Kesejahteraan Satwa Menurut Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia

Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) adalah organisasiyang

berazaskan pancasila dan berdiri pada tanggal 5 November 1969 di Balaikota

Jakarta oleh para tokoh kebun binatang di Indonesia (Perhimpunan Kebun

Binatang Se-Indonesia, 2009). Pada saat ini PKBSI memiliki empat puluh empat

anggota dan calon anggota yang terdiri atas; dua puluh enam kebun binatang,

empat taman burung, tiga taman aquarium, enam taman reptil, dan tiga taman

kupu-kupu; yang berlokasi di Pulau Jawa dua puluh dua tempat, Pulau Bali enam

tempat, Pulau Sumatera sepuluh tempat, dua tempat di Kalimantan dan empat

14tempat di Sulawesi (Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia, 2009 dalam

Yurestika, 2012).

PKBSI juga membina anggota anggotanya, dan berkerja sama dengan instansi

terkait dalam menyusun peraturan perundangan undangan yang mengatur

keberadaan taman satwa dan pedoman pendirian yang tercantum di dalam

Inmendagri nomor 35 Tahun 1997 (Departemen Dalam Negeri, 1997) dan SK

Menhutbun nomor 479/Kpts-II/1998 (Departemen Kehutanan dan Perkebunan,

1998), serta memberikan penyuluhan dan pelatihan bagi para pengelola taman

satwa. PKBSI juga mengevaluasi hasil pembinaan dan kerja keras para pengelola

melalui penilaian akreditasi taman satwa pada tahun 2001. (Perhimpunan Kebun

Binatang Se-Indonesia, 2009 dalam Yurestika, 2012).

Prinsip kesejahteraan hewan yang harus diketahui ada lima, sebagai pengetahuan

dasar untuk konservasi ex-situ yaitu:

1. Bebas rasa lapar dan haus dimaksudkan sebagai kemudahan akses akan air

minum dan makanan yang dapat mempertahankan kesehatan dan tenaga.

Dalam hal ini adalah penyediaan pakan yang sesuai dengan species dan

keseimbangan gizi. Apabila keadaan ini gagal dipenuhi maka akan memicu

timbulnya penyakit dan penderitaan.

2. Bebas rasa tidak nyaman dipenuhi dengan penyediaan lingkungan yang layak

termasuk shelter dan areal istirahat yang nyaman. Apabila keadaan ini gagal

dipenuhi maka akan menimbulkan penderitaan dan rasa sakit secara mental

yang akan berdampak pada kondisi fisik dan psikologi hewan.

153. Bebas dari sakit, luka dan penyakit meliputi upaya pencegahan penyakit atau

diagnosa dan treatmen yang cepat. Kondisi ini dipenuhi melalui penerapan

pemeriksaan medis yang reguler. Apabila kondisi ini terabaikan maka akan

memicu timbulnya penyakit dan ancaman transmisi penyakit baik pada hewan

lain maupun manusia. Contohnya: penyakit Hepatitis dan TBC pada

orangutan yang direhabilitasi.

4. Bebas mengekspresikan perilaku normal adalah penyediaan ruang yang

cukup, fasilitas yang tepat dan adanya teman dari jenis yang sama. Apabila

keadaan ini tidak terpenuhi maka akan muncul perilaku abnormal seperti

stereotype, dan berakhir dengan gangguan fisik lainnya.

5. Bebas dari rasa takut dan tertekan yaitu memberikan kondisi dan perlakuan

yang mencegah penderitaan mental. Stress umumnya diartikan sebagai

antithesis daripada sejahtera. Distress merupakan kondisi lanjutan dari stress

yang mengakibatkan perubahan patologis. Lebih lanjut kondisi ini terlihat

pada respon perilaku seperti menghindar dari stressor (contoh: menghindar

dari temperatur dingin ke tempat yang lebih hangat dan sebaliknya),

menunjukkan perilaku displacement (contoh; menunjukkan perilaku display

yang tidak relevan terhadap situasi konflik dimana tidak ada fungsi nyata),

dan bila tidak ditangani akan muncul perilaku stereotipik yang merupakan

gerakan pengulangan dan secara relatif kelangsungan gerakan tidak bervariasi

dan tidak punya tujuan jelas. (Hamka dan Isthiyama, 2013).

16F. Pakan Satwa

Pakan satwa adalah segala sesuatu yang dapat diberikan kepada satwa yang dapat

dicerna tanpa mengganggu kesehatan satwa.Zat pakan adalah bagian dari bahan

pakan yang dapat dicerna, dan dapat diserap serta bermanfaat bagi tubuh. Ada

enam jenis zat pakan yaitu : air, karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan

vitamin. Pakan berdasarkan asalnya adalah nabati dan hewani,sedangkan pakan

berdasarkan sifatnya adalah hijauan dan konsentrat, kemudian pakan berdasarkan

sumber zat gizinya,yaitu sumber protein,mineral dan energi.

Peran pakan hendaknya memiliki sekurang-kurangnya tiga peran yaitu :

1. Peran sosial,seperti ketika ayam jago mendapatkan makanan maka ayam

akan memanggil ayam betina.

2. Peran psikologis,pakan yang diberikan harus sesuai karena satwa memiliki

kebiasaan untuk mengendus-endus pakannya sebelum akhirnya

memakannya.

3. Peran fisiologis,yaitu dapat menyediakan energi untuk melangsungkan

beberapa proses dalam tubuh. Menyediakan bahan-bahan untuk membangun

dan memperbaharui jaringan tubuh yang aus atau terpakai,serta mengatur

kelestarian proses-proses dalam tubuh dan kondisi lingkungan dalam tubuh

(Sunarso dan Christyanto, 2011).

17G. Ekologi Satwa Liar

Satwa liar memiliki perilaku alami yang berbeda-beda.Perbedaan tersebut dapat

dilihat darihabitat satwa liar, makanan, dan perilaku satwa liar tersebut.Perilaku

alami satwa liar dapat dijelaskan dalam Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1. Ekologi Satwa Liar Dilindungi di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makanan Status Konservasi1. Beruang madu

(Helarctosmalayanus)

Hutan primer,sekunder

Membutuhkandaerah jelajahyang luas

Berada di atas pohon 2-7m Soliter Nokturnal Dalam 1 hari rata-rata berjalan

8 km untuk mencari makan

Omnivora (buah,serangga, madu danburung kecil)

Status di lindungi di dalam :No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini rentan didalam IUCN 2008

2. Bangau tong-tong(Leptoptilosjavanicus)

Hidup di daerahperairan (rawa-rawa,tambak, persawahandan dekat pantai)

Biasanya hidup berpasangan Membuat sarang dari cabang-

cabang kayu yang kasar dansarang diletakkan di atas cabang-cabang kayu yang besar dantinggi

Ikan-ikan kecil, danserangga

Status di lindungi di dalam :UU No. 5/1990 dan No.7/1999

Satwa ini tidak terdaftardalam CITES 2012

Status satwa ini rentan didalam IUCN 2013

3. Buaya irian(Crocodylusnovaeguineae)

Hidup di perairanair tawar(sungai,danau, dan rawa)

Soliter Teritorial

Ikan, reptile danmamalia

Status di lindungi di dalam :No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini resikorendah di dalam IUCN 1996

4. Siamang(Sympalangussyndactylus)

Hidup diatas pohon Takut air

Aktif disiang hari Berkelompok kecil

Omnivora, 75 %makanannya adalahbuah, daun, biji-bijian,bunga, kulit kayu,serangga, telurburung, dan burungkecil

Status di lindungi di dalam :No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini terancam didalam IUCN 2008

18

Tabel 1. (lanjutan)

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makanan Status Konservasi5. Kakaktua jambul

kuning (Cacatuasulphurea)

Hutan primer dansekunder

Memiliki sarang di lubang pohon Biji-bijian dan buah Status di lindungi di dalam :No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini kritis didalam IUCN 2013

6. Jalak bali(Leucopsarrothschildi)

Hutan mangrove,hutan musim, hutanhujan dataranrendah

Musim kawin dari bulanOktober-Januari

Jantan dan betina membuatsarang bersama-sama, sarangyang di buat pada lubang alamipohon atau bekas sarang burungpelatuk

Serangga, larvaserangga, cacing, danbuah-buahan

Status di lindungi di dalam :Surat Kepmen. PertanianNomor 421/kpts/Um/70 danPP No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini kritis didalam IUCN 2013

7. Kakaktua tanimbar(Cacatuagoffiniana)

Hutan primer dansekunder padadaerah dataranrendah sertakawasan pertaniandi sekitar hutan

Terbang sendirian Hidup berpasangan

Biji-bijian, dan buah-buahan

Status di lindungi di dalam :No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini hampirterancam di dalam IUCN2012

8. Kakaktua seram(Cacatuamoluccensis)

Hutan primer dansekunder dataranrendah

Terbang sendirian Hidup berpasangan Hidup berkelompok yang terdiri

dari 16 ekor

Biji-bijian, kacangdan aneka buah-buahan

Status di lindungi di dalam :No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini rentan didalam IUCN 2013

19

Tabel 1. (lanjutan)

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makanan Status Konservasi9. Cenderawasih

kuning besar(Paradisaeaapoda)

Hutan dataranrendah dan bukit dibarat daya pulauIrian dan pulau Aru,Indonesia

Poligami Jantan memperagakan diri secara

komunal dengan cara tradisionaldi kanopi pohon di kanopi pohon

Buah-buahan, bijiserta serangga kecil

Status di lindungi di dalam :PP No. 7/1999 dan PP No.8/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 2012

10. Beo (Graculareligiosa)

Hidup di hutan-hutan basah,terutama di bukit-bukit dataran rendahsampai daerahketinggian 1000-2000 m di ataspermukaan laut

Hidup berpasangan Betina dapat bertelur 2-3 butir

setiap musim bertelur

Buah-buahan danserangga

Status di lindungi di dalam :No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 2012

11. Nuri bayan(Eclectus roratus)

Hutan dataranrendah, savana,hutan bakau danperkebunan kelapa

Hidup berpasangan Membuat sarang di lubang

pohon

Buah-buahan, kacangdan biji-bijian

Status di lindungi di dalam :UU No. 5/1990 dan PP No.7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 2012

12. Nuri kepala hitam(Lorius lory)

Hutan hujan primer,tepian hutan,wilayah berawa, danhutan kering

Hidup berpasangan Hidup berkelompok yang terdiri

dari 10 ekor atau lebih

Nektar, bunga, buah,dan serangga

Status di lindungi di dalam :Keputusan Menteri PertanianNo.421/Kpts/Um/8/1970 danPP No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 2012

20

Tabel 1. (lanjutan)

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makanan Status Konservasi13. Nuri kabare /

kasturi raja(Psittrichasfulgidus)

Hutan dataran tinggiPapua denganelevasi 100-1.800mdpl.

Aktif di siang hari (diurnal) Hidup berpasangan Hidup berkelompok yang terdiri

dari 8-20 ekor dan mendiami 1-3pohon tinggi yang letaknyaberdekatan

Biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, bungan dannektar

Status di lindungi di dalam :PP No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini rentan didalam IUCN 2012

14. Elang hitam(Ictinaetusmalayensis)

Hidup di dataranrendah, hutanperbukitan hinggawilayah yangbergunung-gunungpada ketinggiansekitar 1.400 - 3.000mdpl.

Cakarnya yang tajamterspesialisasi untuk menyambardan mencengkeram mengsanyadengan efektif.

Sarang berukuran besar terbuatdari ranting-ranting dandedaunan yang tersusun tebal,diletakkan pada cabang pohonyang tinggi di hutan yang lebat.

Aneka jenis mamaliakecil, kadal, burungdan terutama telur.

Status di lindungi di dalam :UU No. 5/1990, PP No.7/1999 dan PP No. 8/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 2012

15. Owa sumatera(Hylobates agilis)

Hidup di hutanprimer dataranrendah dan hutanrawa. Selain itumereka juga seringditemukan di daerahbatas antara hutanrawa dan tanahkering.

Aktif pada pagi dan sore hari(diurnal).

Berpindah-pindah dengan carabergelantungan atau berayun daridahan satu kedahan lainnya

Dapat berjalan menggunakankedua kakinya (bipedal)

Buah, daun , bungadan beberapa jenisserangga kecil

Status di lindungi di dalam :No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini terancam didalam IUCN 2008

16. Owa jawa(Hylobatesmoloch)

Hutan-hutan dataranrendah dan hutanpegunungan bawah.

Aktif di siang hari (diurnal) Hidup di atas tajuk pepohonan

(arboreal)

Buah-buahan, daundan bunga-bungaan

Status di lindungi di dalam :No. 7/1999 dan PP No.8/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini terancam didalam IUCN 2008

21

Tabel 1. (lanjutan)

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makanan Status Konservasi17. Elang brontok

(Nisaetuscirrhatus)

Habitat mulai daripadang rumput,hutan, kebun,sumber air yangdikelilingi pohon,perkebunan teh,hutan dekatperkampungan,bahkan hingga dipinggir perkotaan.

Hidup di daerahberketinggian dibawah 1.500 m-2.200 m dpl.

Hidup sendiri Berpasangan hanya di musim

berbiak saja yaitu dari bulanApril sampai sekitar Agustusatau Oktober.

Reptil, burung, hinggamamalia kecil

Status di lindungi di dalam :UU No. 5/1990, PP No.8/1999 dan PP No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 201

18. Orangutankalimantan (Pongopygmaeus)

Hutan di daerahdataran rendahhingga daerahpegunungan denganketinggian 1.500meter dpl.

Aktif di siang hari (diurnal). Hidup semi-soliter, jantan

biasanya ditemukan sendiriandan betina biasanya ditemanioleh beberapa anaknya

Buah, dedaunan, kulitpohon, bunga, telurburung, serangga, danvertebrata kecillainnya.

Status di lindungi di dalam :UU No. 5/1990, PP No.7/1999 dan PP No. 8/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix I CITES 2012

Status satwa ini terancam didalam IUCN 2008

19. Elang bondol(Haliastur indus)

Hidup area tepi lautyang berlumpurseperti hutanmangrove, muarasungai, dan pesisirpantai. Burung inijuga dapatditemukan di lahanbasah seperti sawahdan rawa.

Mencari makan di atas tanah dandi atas permukaan air, burung initerbang di ketinggian 20 - 50meter di atas permukaan

Menangkap mangsanya di ataspermukaan air dengan cakarnya,burung ini tidak menyelam kedalam air

Ikan, kepiting, kerang,katak, pengerat, reptil,dan bahkan serangga.

Status di lindungi di dalam :PP No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 2012

22

Tabel 1. (lanjutan)

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makanan Status Konservasi20. Binturung

(Arctictisbinturong)

Hidup di hutantropik dansubtropika, semakbelukar dan pohon-pohon.

Nokturnal Pada siang hari tidur di dalam

lubang pohon

Memakan buah-buahan, serangga,ikan, burung, tikus.

Status di lindungi di dalam :PP No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix III CITES 2012

Status satwa ini rentan didalam IUCN 2008

21. Rangkong badak(Bucerosrhinoceros)

Hidup di hutanhujan tropis

Hidup berpasangan danberkelompok

Membuat sarang di lubangpohon yang ditutupi kotoran,dengan betina didalamnya

Buah-buahan danserangga

Status di lindungi di dalam :UU No. 5/1990 dan PP No.7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini hampirterancam di dalam IUCN2012

22. Kasuari gelambirganda (Casuariuscasuarius)

Hidup di hutandataran rendah

Soliter Aktif di siang hari

Memakan buah-buahan, biji, ubi, dandaun dari beberapajenis tumbuhan.

Status di lindungi di dalam :PP No. 7/1999

Satwa ini tidak terdaftardalam CITES 2012

Status satwa ini rentan didalam IUCN 2012

23. Merak Hijau (Pavomuticus)

Hidup di hutanterbuka denganpadang rumput

Poligami Jantan memamerkan bulu

ekornya yang berbentuk kipas,dengan bintik berbentuk mataberwarna biru di depan betina.

Memakan aneka biji-bijian, pucuk rumputdan dedaunan, anekaserangga, cacing,laba-laba dan kadalkecil

Status di lindungi di dalam :UU No. 5/1990 dan No.7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2012

Status satwa ini terancam didalam IUCN 2013

23

Tabel 1. (lanjutan)

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makanan Status Konservasi24. Undan kacamata

(Pelecanusconspicillatus)

Hidup di daerahperairan, sepertidekat pantai, sungaidan tambak.

Pada saat kawin jantan mengejarbetina di udara, di darat, atau diair dengan saling menunjuk ataumenyentuhkan paruh merekasatu sama lain.

Memakan ikan,amfibi, crustasea

Status di lindungi di dalam :UU No. 5/1990 dan No.7/1999

Satwa ini tidak terdaftardalam CITES 2012

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 2012

25. Rusa timor(Cervustimorensis)

Hidup di tepi-tepihutan atau kawasanyang terbuka, hutansavana dan padangrumput.

Nokturnal Menandai daerah teritorinya

dengan menggosok-gosokkantanduk atau badannya padapohon, terkadang mereka jugamengencingi suatu pohon untukmenandai batas teritorinya.

Memakan berbagaibagian tumbuhanmulai dari pucuk,daun muda, daun tua,maupun batang mudadan berbagai macambuah-buahan.

Status di lindungi di dalam:UU No. 7/1999

Satwa ini tidak terdaftardalam CITES 2012

Status satwa ini rentan didalam IUCN 2015

26. Buaya muara(Crocodylusporosus)

Hidup di daerahsungai dan muarasungai.

Soliter Memiliki wilayah teritori yang

luas Mampu melompat keluar dari air

untuk menyerang mangsanya.

Makanannya adalahIkan, amfibi, reptilia,burung, dan mamalia(termasuk mamaliabesar).

Status di lindungi di dalam:UU No. 7/1999

Satwa ini terdaftar dalamAppendix II CITES 2004

Status satwa ini risiko rendahdi dalam IUCN 2016

Sumber : International Union for Concervation of Nature and Natural Resources, 1996; Convention on International Trade inEndangered Species of Wild Fauna and Flora, 2004; International Union for Concervation of Nature and NaturalResources, 2008; Jayanti, 2009; Hariyanto, 2009; Wikipedia, 2009; Dany, 2010; Mackinnon, 2010; Wulansari, 2010;Alamendah, 2011; Yayasan WWF Indonesia, 2011; Convention on International Trade in Endangered Species of WildFauna and Flora, 2012; International Union for Concervation of Nature and Natural Resources, 2012; Badan KonservasiSumber Daya Alam Papua, 2013; Fauziah, 2013; International Union for Concervation of Nature and NaturalResources, 2013; Khayasar, 2013; Kutilang Indonesia, 2013; Syaka, 2013; Wikipedia, 2013; Kidnesia, 2014; Wikipedia,

24

2014; Omkicau, 2014; Pecinta Hewan, 2015; Gembira Loka Zoo. 2015; Gondo dan Sugiarto, 2015; Wikipedia, 2015;International Union for Concervation of Nature and Natural Resources, 2015; Kabangnga, 2016; Gembira Loka Zoo.2016.

25

Tabel 2. Ekologi Satwa Liar Tidak Dilindungi di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makan Status Konservasi1. Macau biru emas

(Ara ararauna) Hidup di hutan hujan dan

berawa Hidup berpasangan Hidup berkelompok Memiliki sarang di lubang

pohon

Memakan biji-bijian,rumput, padi-padian,dan buah-buahan

Satwa ini terdaftardi dalam AppendixII CITES 2012

Status satwa inirisiko rendah didalam IUCN 2012

2. Macau merah (Aramacao)

Hidup di hutan hujandataran tinggi denganelevasi 1000 m dpl

Hidup berpasangan Hidup berkelompok

Memakan biji-bijian,kacang-kacangan, buah,madu dan bunga

Satwa ini terdaftardalam Appendix ICITES 2012

Status satwa inirisiko rendah didalam IUCN 2012

3. Antelop (Antilopecervicapra)

Hidup diwilayah terbuka,dan di wilayah yang lebihrindang seperti pinggiranhutan

Hidup berkelompok Diurnal

Memakan rumputpendek dan beberapatanaman budidaya.

Satwa ini terdaftardalam Appendix IIICITES 2012

Status satwa inihampir terancam didalam IUCN 2008

4. Sitatunga(Tragelaphus spekii)

Hidup di daerah rawa-rawa

Nokturnal Diurnal

Memakan daun, buah,alang-alang, danrumput.

Satwa ini tidakterdaftar di dalamCITES

Status satwa inirisiko rendah didalam IUCN 2008

5. Cucak rawa(Pycnonotuszeylanicus)

Hidup di paya-paya danrawa-rawa di sekitarsungai, atau di tepi hutan

Sering bersembunyi di balikdedaunan dan hanya terdengarsuaranya yang khas

Memakan anekaserangga, siput air, danberbagai buah-buahanyang lunak seperti buahjenis-jenis beringin.

Satwa ini terdaftardalam Appendix IICITES 2012

Status satwa inirentan di dalamIUCN 2012

26

Tabel 2. (lanjutan)

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makan Status Konservasi6. Merak biru (Pavo

cristatus) Hidup di hutan terbuka

dengan padang rumput Poligami Jantan memamerkan bulu

ekornya yang berbentuk kipas,dengan bintik berbentuk mataberwarna biru di depan betina

Memakan aneka biji-bijian, pucuk rumputdan dedaunan, anekaserangga, cacing, laba-laba dan kadal kecil

Satwa ini tidakterdaftar dalamCITES

Status satwa inirisiko rendah didalam IUCN 2012

7. Rusa tutul (Axis axis) Hidup di padang rumput,semak, pada batas hutanyang ada sumber airminum

Hidup berkelompok (2-6ekor/kelompok)

Aktif pada siang hari

Memakan rumput, daun,bunga dan biji-bijiantertentu.

Satwa ini tidakterdaftar dalamCITES 2012

Status satwa inirisiko rendah didalam IUCN 2008

8. Luwak (Paradoxurushermaphroditus)

Hidup di hutan, semak-semak, hutan sekunder,perkebunan, dan di sekitarpemukiman manusia

Nokturnal Arboreal (hidup di pepohonan)

Memakan buah-buahanlembek seperti buahkopi, mangga, pepaya,rambutan, telur,serangga, burung danmamalia kecil

Satwa ini terdaftardalam Appendix IIICITES 2012

Status satwa inirisiko rendah didalam IUCN 2008

9. Burung perkutut(Geopelia striata)

Hidup di dataran rendahhingga ketinggian 900 mdpl, menyukai di tepianhutan, ladang, dan sawah.

Jantan akan menunjukkanperilaku seksual yang khasdalam melakukan pendekatanpada jenis betina yaitu denganmengeluarkan bunyi sambilmengangguk-anggukkan kepaladi dekat seekor betina.

Memakan biji-bijianyang seperti jewawut,millet, gabah kecil danlain-lain.

Satwa ini tidakterdaftar di dalamCITES 2012

Status satwa inirisiko rendah didalam IUCN 2012

10. Berang-berang(Aonyx cinerea)

Hidup di lahan basahperairan tawar, misalnyasungai atau rawa-rawa

Aktif pada siang hari (diurnal) Dapat menyelam selama 6-8

menit

Memakan invertebratakecil seperti kepiting,crustacea, mollusca,amfibi dan pisces (ikan).

Satwa ini terdaftardalam Appendix IICITES 2012

Status satwa inirentan di dalamIUCN 2008

27

Tabel 2. (lanjutan)

No. Nama Satwa Habitat Perilaku Makan Status Konservasi11. Love bird (Agapornis

fischeri) Hutan terbuka, daerah

rawa, sampaipengunungan diketinggian 1.500 m dpl

Hidup Berkelompok Membuat sarang di lubang-

lubang pohon

Memakan pucuk daun,biji-bijian, buah, nektarbunga, serangga, danulat daun.

Satwa ini terdaftardalam Appendix IICITES 2012

Status satwa inihampir terancam didalam IUCN 2012

12. Cangak merah(Ardea purpurea)

Hidup di lahan basahtidak terbatas di pesisir,mangrove, sawah, danau,aliran air, kadangperbukitan.

Berkembang biak pada bulanDesember-Maret dan Februari-Agustus

Memakan ikan, katak,reptil, larva serangga,dan krustasea

Satwa ini tidakterdaftar dalamCITES 2012

Status satwa inirisiko rendah didalam IUCN 2012

13. Kakatua putih(Cacatua alba)

Hutan primer dansekunder

Hidup berpasangan Hidup berkelompok Dalam

jumlah kecil

Buah.buahan, biji.bijian.sayuran. serangga danlarvanya.

Satwa ini terdaftardalam Appendix IICITES 2012

Status satwa inirentan di dalamIUCN 2013

Sumber : Huffman, 2004; Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora, 2012;International Union for Concervation of Nature and Natural Resources, 2012; Nurhudda, 2011; Pratiwi, 2012;International Union for Concervation of Nature and Natural Resources, 2013; Khayasar, 2013; Wikipedia, 2013;Satwapedia, 2015; Wikipedia, 2014; Wikipedia, 2015; Gembira Loka Zoo, 2015.

28

29

III.METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2016 di Taman Satwa

Lembah Hijau,Bandar Lampung.

B. Alat dan Objek

Alat-alat yang di perlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Alat tulis

2. Kamera digital

3. Laptop

Objek dari penelitian ini adalah :

1. Satwa liar yang ada di Lembah Hijau Bandar Lampung.

2. Upaya konservasi yaitu perlindungan, pemanfaatan dan pelestarian satwa liar

yang ada di Lembah Hijau Bandar Lampung.

30C. Batasan Penelitian

Batasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Satwa liar yang akan di jadikan objek penelitian adalah satwa yang masuk

kedalam kategori satwa yang dilindungi di Indonesia.

2. Makanan satwa liar adalah makanan yang diberikan oleh pihak pengelola

Lembah Hijau.

D. Jenis Data

Jenis jenis data yang akan di gunakan adalah data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

Data primer adalah data yang di peroleh secara langsung di lapangan, data

primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :

a. Jenis jenis satwa liar dan jumlah satwa liar dilindungi di Indonesia yang

ada di Taman Satwa Lembah Hijau,Bandar Lampung.

b. Upaya upaya konservasi satwa liar secara ex-situ, seperti :

1. Upaya perlindungan yang meliputi: ukuran kandang,tempat bermain,

dan jumlah pakan yang diberikan, di Taman Satwa Lembah Hijau,

Bandar Lampung.

2. Upaya pemanfaatan di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung.

3. Upaya pelestarian di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung.

312. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang sifatnya mendukung data primer, data

sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :

a. Gambaran umum lokasi penelitian,

b. Data satwa liar yang ada di Taman Satwa Lembah Hijau,Bandar

Lampung dan dilindungi di Indonesia

c. Kebijakan - kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kesesuaian

teknis konservasi satwa liar secara ex-situ :

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 Tentang

Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (Departemen Kehutanan,

1990).

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang

Kehutanan (Departemen Kehutanan, 1999a).

3. Dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 Tentang

Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar (Departemen

Kehutanan, 1999b).

E. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Data Primer

a. Data mengenai jenis, jumlah, dan upaya perlindungan satwa liar

32Data mengenai jenis, jumlah, dan upaya perlindungan satwa liar diperoleh

dengan metode observasi di wilayah Taman Satwa Lembah Hijau,Bandar

Lampung. Observasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung objek

penelitian kemudian dicatat dan ditabulasikan.

b. Data mengenai pemanfaatan dan pelestarian satwa liar

Data mengenai pemanfaatan dan pelestarian satwa liar di peroleh melalui

metode wawancara dengan pihak pengelola Taman Satwa Lembah

Hijau,Bandar Lampung.

2. Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi pustaka. Metode ini

digunakan untuk mencari, mengumpulkan, dan menganalisis data penunjang

yang terdapat dalam dokumen resmi dengan mempelajari buku-buku, skripsi,

dan literature lainnya yang dipakai sebagai bahan referensi.

F. Pengolahan Data dan Analisis Data

Data yang di peroleh dari observasi lapangan ditabulasikan,kemudian dianalisis

menggunakan perbandingan evaluatif antara data dari hasil pengamatan langsung

di lapangan dengan peraturan menteri kehutanan Nomor: P.19/Menhut-II/2005

(Departemen Kehutanan, 2005), tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar

dan Indikator kesejahteraan satwa liar menurut PKBSI kemudian di

deskriptifkan.

33

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Letak Lokasi Penelitian

Taman Satwa Lembah Hijau terletak di Jalan Raden Imba Kesuma Ratu Kelurahan

Sukadana Ham Tanjung Karang Barat Bandar Lampung. Lokasi penelitian dapat dilihat

pada Gambar 2.

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Taman Satwa Lembah Hijau,Bandar Lampung

2016.

34B. Sejarah Berdirinya Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung

Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung didirikan oleh bapak M. Irwan

Nasution pada tanggal 14 April 2007. Tanggal 18 Agustus 2010 mendapat izin

sebagai lembaga konservasi dalam bentuk taman satwa dan tertulis di dalam

Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.463/Menhut-II/2010.

Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung memiliki visi dan misi di dalam

menjalankan tugasnya sebagai lembaga yang bergerak di bidang konservasi,

yaitu sebagai berikut:

a. Visi

Menjadi Taman Satwa yang mengedepankan pelestarian dan penyelamatan

satwa sekaligus taman rekreasi yang natural,nyaman dan edukatif.

b. Misi

Menyelamatkan satwa yang terancam punah karena kerusakan

habitatnya.

Melaksanakan pengelolaan satwa sesuai kaidah konservasi.

Melaksanakan usaha jasa pariwisata yang memberikan kepuasan

kepada pengguna jasa melalui pengelolaan secara professional dan

didukung sumberdaya manusia yang memadai.

Memiliki unit yang mendukung taman satwa untuk meningkatkan

keuntungan serta menghasilkan pendapatan tambahan dari unit taman

satwa.

35 Terciptanya kemitraan dengan pemerintah, swasta, sesama lembaga

konservasi, organisasai pecinta satwa dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Dasar-dasar hukum yang digunakan dalam pengelolaan Taman Satwa Lembah

Hijau Bandar Lampung adalah sebagai berikut:

1. Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam

Hayati dan Ekosistemnya.

2. Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis

Tumbuhan dan Satwa Liar.

3. Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis

Tumbuhan dan Satwa Liar.

4. Undang-undang No. 41 tahun 1991 tentang Kehutanan.

5. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.19/Menhut-II/2005 tentang

Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.

6. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.53/Menhut-II/2006 tentang

lembaga konservasi.

Pada umumnya satwa satwa yang ada di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar

Lampung berasal dari Kebun Binatang Surabaya dan Badan Konservasi Sumber

Daya Alam yang berasal dari berbagai daerah seperti Provinsi Lampung,

Provinsi Sumatera Selatan, Dan Provinsi DKI Jakarta.

Taman Satwa Lembah Hijau adalah lembaga swasta yang bergerak di bidang

konservasi, dan memiliki susunan organisasi di dalam mengelola taman satwa.

36Bentuk susunan organisasi pengelolaan Taman Satwa Lembah Hijau Bandar

Lampung dan letak posisi kandang satwa disajikan melalui Gambar 3 dan

Gambar 4.

STRUKTUR ORGANISASI LEMBAGA KONSERVASI LEMBAH HIJAU BANDAR LAMPUNG

Dewan Pembina / PenasehatHi. M. Ridwan Nasution , SH.

KomisarisM. Irwan Nasution

DirekturIr. M. Erwin Nasution

BendaharaLiza Safitri, SE. Ak

SekretarisTerdiri dari :Keamanan

BachtiarHumasTiodora

KepegawaianDrs. Syamsu Gani

Seksi SatwaTerdiri dari :

Koleksi dan PerkandanganFarid Indra Cahya

KesehatanRasyid Ibransyah, S. K. H.

PakanIr. Dharma Andarini

Kepper Satwa

Gambar 3. Struktur Organisasi Lembaga Konservasi Lembah Hijau Bandar Lampung

37

Gambar 4. Posisi kandang satwa di Taman Satwa Lembah Hijau Bandar Lampung.

38

92

VI. SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

Simpulan dari penelitian ini adalah.

1. Kesesuaian kandang dan tempat bermain satwa dari dua puluh enam

kandang ditemukan sebelas kandang yang tidak memenuhi standar untuk

kesejahteraan satwa menurut PKBSI dan ISAW yaitu : (1.) Owa Jawa

(Hylobates moloch), (2.) Owa Sumatera (Hylobates agilis), (3.) Merak

Hijau (Pavo muticus), (4.) Rusa Timor (Cervus timorensis), (5.) Elang

hitam (Ictinaetus malayensis), (6.) Elang brontok (Nisaetus cirrhatus), (7.)

Elang bondol (Haliastur indus), (8.) Beo (Gracula religiosa), (9.) Bangau

Tong-tong (Leptoptilos javanicus), (10.) Binturung (Arctictis binturong),

(11.)Buaya Muara (Crocodylus porosus), dan Buaya Irian (Crocodylus

novaeguineae). Dari dua puluh enam jenis satwa, hanya satwa jenis burung

merak hijau (Pavo muticus) yang jumlah pakannya tidak sesuai dengan

jumlah pakan yang seharusnya diberikan.

2. Upaya pelestarian satwa yaitu satwa yang menghasilkan keturunan hanya

satu ekor rusa pada tahun 2016, sedangkan satwa yang lain belum memiliki

keturunan.

933. Pemanfaatan satwa liar di Taman Satwa Lembah Hijau yaitu untuk

penelitian, berfoto, peraga, dan atraksi satwa.

6.2 Saran

1. Perhatikan keselamatan pengunjung pada kandang buaya, karena akses

pintu kandang buaya yang terbuka dan satwa mudah dijangkau, dapat

membahayakan pengunjung.

2. Waktu pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan perilaku alami

satwa.

3. Kandang satwa yang rusak sebaiknya segera diperbaiki, dan disesuaikan

dengan ukuran tubuh satwa ditambah fasilitas fasilitas yang dapat

membantu satwa didalam mengekspresikan perilaku alami satwa.

4. Satwa yang belum memiliki keturunan karena tidak memiliki pasangan atau

pasangannya belum mencapai fase dewasa untuk menghasikan keturunan,

sebaiknya dicarikan pasangan dengan berkerjasama dengan lembaga-

lembaga yang bergerak dibidang konservasi satwa liar.

DAFTAR PUSTAKA

94

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, F. 2014. Biosolamine Penguat Otot dan Transportasi. http://obathewan17.blogspot.co.id/2014/12/biosolamine-penguat-otot-dan.html.Diakses pada tanggal 8 April 2016.

Agus. 2016. Super N. http://kicaukan.blogspot.co.id/2014/11/super-n-ampuh-sembuhkan-burung-sakit.html. Diakses pada tanggal 18 Maret 2016.

Alamendah. 2011. Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) Burung Rajawali.http://alamendah.org/2011/07/28/elang-brontok-nisaetus-cirrhatus-burung-rajawali/. Diakses pada tanggal 10 Februari 2015.

Alamendah. 2014. Kakatua Tanimbar Jenis Kakatua Terkecil. http://alamendah.org/2014/08/03/kakatua-tanimbar-jenis-kakatua-terkecil/. Diakses pada tanggal13 Februari 2015.

Anggraini, D. M. 2016. Perilaku harian burung Salmon-Crested Cockatoo (CacatuaMoluccensis) di penangkaran Eco Green Park Kota Batu propinsi JawaTimur. Jurnal Ilmu Hayati 1(1): 1 14.

Animal and Plant Health Inspection Service. 2005. Cleaning and Disinfection ofPremises. https://www.aphis.usda.gov/emergency_response/tools/cleaning/htdocs/images/Annex09_Cleaning.pdf. Diakses pada tanggal 25 Maret2016.

Anugrah , A.P. 2014. Produk observasi interaktif untuk sarana introduksi hewan dikebun binatang. Jurnal Tingkat Sarjana Seni Rupa Dan Desain, 3(1): 376.

Anugerah Poultry Shop. 2016. Vita Plex Drop 30 Ml, Larutan Vitamin BKompleks. https://www.bukalapak.com/p/hobi/pet-food-stuff/ijux6-jual-vita-plex-drop-30-ml-larutan-vitamin-b-kompleks. Diakses pada tanggal 18Maret 2016.

Astirin, O.P. 2000. Permasalahan pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia.Jurnal Biodiversitas. 1(1): 36 40.

95Azis, A. S. 2013. Teknik Penangkaran Dan Aktivitas Harian Jalak Bali (Leucopsar

Rotschildii Stresemann 1912) Di Penangkaran Ud Anugrah, Kediri JawaTimur. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 95 p.

Badan Konservasi Sumber Daya Alam Papua. 2013. Panduan Jenis Cenderawasih.http://bbksdapapua.dephut.go.id/?p=315. Diakses pada tanggal 7 Januari2015.

Bahtiar, D. H. 2014. Keanekaragaman jenis ektoparasit pada burung paruh bengkokfamili psittacidae di taman margasatwa semarang. Unnes Journal of LifeScience. 3(2): 139 147.

Cita, K. D. 2016. Upaya konservasi cendrawasih kecil (Paradisaea Minor Shaw,1809) yang dilakukan oleh taman burung TMII dan MBOF. MediaKonservasi. 21 (1): 27 35.

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora.2004. Crocodylus porosus. https://cites.org/eng/node/16013. Diakses padatanggal 17 Febuari 2016.

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora.2012. Appendices I, II, III. www.wwf.ru/data/woodtool/e-2012-09-25.pdf.Diakses pada tanggal 7 April 2015.

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora.2012. Appendices I, II, III. www.cites.org/eng/resources/qoutas/2000/suriname.html. Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

Dany. 2010. Laporan Pengamatan Primata Di Pusat Primata Scmutzer TamanMarga Satwa Ragunan. http://ridernature.blogspot.com/2011/09/laporan-pengamatan-primata-di-pusat.html. Diakses pada tanggal 13Februari 2015.

Departemen Kehutanan. 1990. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 5Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati danEkosistemnya. 31 p.

Departemen Dalam Negeri. 1997. Intruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 35 Tahun1997 tentang Pembinaan dan Pengelolaan Taman Flora Fauna di Daerah.

Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 1998. Surat Keputusan MenteriKehutanan dan Perkebunan No. 479/Kpts II/1998 tentang LembagaKonservasi Tumbuhan dan Satwa Liar.

96Departemen Kehutanan. 1999a. Peraturan pemerintah No.41 Tahun 1999 tentang

Kehutanan. 55 p.

Departemen Kehutanan. 1999b. Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentangPengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. 16 p.

Departemen Kehutanan. 2005. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.19/Menhut-II/2005 Tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa. 39 p.

Departemen Kehutanan. 2006. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.53/Menhut-II/2006 Tentang Lembaga Konservasi. 22 p.

Departemen Kehutanan. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi OrangutanIndonesia 2007-2017. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan danKonservasi Alam Departemen Kehutanan. 64 p.

Dominicus, D. 2009. Intermectin Anti Ektoparasit dan Endoparasi.http://ivermectin darryl.blogspot.co.id/. Diakses pada tanggal 8 April 2016.

Fauziah, A. 2013. Klasifikasi Merak Jawa Hijau. http://asmaulfauziah98.blogspot.com/2013/10/biologi-klasifikasi-merak-jawa-hijau.html. Diakses padatanggal 15 Februari 2015.

Firdilasari, I. 2016. Kajian perilaku dan analisis kandungan gizi pakan drop inberuang madu (Helarctos Malayanus) di Taman Agro Satwa dan WisataBumi Kedaton. Jurnal Sylva Lestari. 4(1): 97 106.

Gembira Loka Zoo. 2015. Nuri Kabare. http://gembiralokazoo.com/collection/nuri-kabarekasturi-raja.html. Diakses pada tanggal 12 Februari 2015.

Gembira Loka Zoo. 2015. Binturong. http://gembiralokazoo.com/collection/binturong.html. Diakses pada tanggal 15 Februari 2015.

Gembira Loka Zoo. 2015. Orangutan Kalimantan. http://gembiralokazoo.com/collection/orangutan-kalimantan.html. Diakses pada tanggal 15 Februari2015.

Gembira Loka Zoo. 2015. Macau Biru Emas. http://gembiralokazoo.com/collection/macau-biru-emas.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2015.

Gembira Loka Zoo. 2015. Macau Merah. http://gembiralokazoo.com/collection/macau-merah.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2015.

97Gembira Loka Zoo. 2015. Berang-berang. http://gembiralokazoo.com/collection/

linsangberang-berang.html. Diakses pada tanggal 4 Maret 2015.

Gembira Loka Zoo. 2016. Rusa Timor. http://gembiralokazoo.com/collection/rusa-timor.html. Diakses pada tanggal 23 Maret 2016.

Gitta, A. 2012. Aktivitas harian dan perilaku makan burung kakatua-kecil jambulkuning (Cacatua Sulphurea Sulphurea Gmelin, 1788) di penangkaran.Jurnal Media Konservasi. 17(1): 23 26.

Gomumu. 2014. Pengertian Tentang Satwa Liar. http://gomumu.blogspot.co.id/2014/06/apa-itu-satwaliar.html. Diakses pada tanggal 12 Februari 2015.

Gondo dan Sugiarto. 2015. Dinamika Populasi Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)Di Habitatnya. http://www.tnbalibarat.com/?p=116. Diakses pada tanggal 12Februari 2015.

Hamka dan Isthiyama, F. 2013. Konsep Animal Welfare dan Beberapa Pemikiran.http://abahmandar.blogspot.com/2013/05/konsep-animal-welfare-dan-beberapa.html. Diakses pada tanggal 14 Februari 2015.

Hariyanto. 2009. Burung bayan (Eclectus roratus). http://blogmhariyanto.blogspot.com/2009/12/burung-bayan-eclectus-roratus.html. Diakses pada tanggal 12Februari 2015.

Huffman, B. 2004. Tragelaphus spekii. http://www.ultimateungulate.com/artiodactyla/tragelaphus_spekii.html. Diakses pada tanggal 8 Maret 2015.

Imbang. 2016. Penghapus hamaan (Dekontaminasi) dan Deisinfeksi Kandang sertaPeralatan. http://imbang.staff.umm.ac.id/?p=31. Diakses pada tanggal 26Maret 2016.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Agapornis fischeri. http://www.iucnredlist.org/details/22685346/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012. Araararauna. http://www.iucnredlist.org/details/22685539/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012. Aramacao. http://www.iucnredlist.org/details/22685563/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

98International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.

Antilope cervicapra. http://www.iucnredlist.org/details/1681/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.Aonyx cinerea. http://www.iucnredlist.org/details/44166/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.Arctictis binturong. http://www.iucnredlist.org/details/41690/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012. Ardeapurpurea. http://www.iucnredlist.org/details/22697031/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2013. Axiskuhlii. http://www.iucnredlist.org/details/2447/0. Diakses pada tanggal 12Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Buceros rhinoceros. http://www.iucnredlist.org/details/22682450/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2013.Cacatua alba. http://www.iucnredlist.org/details/22684789/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Cacatua goffiniana. http://www.iucnredlist.org/details/22684800/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2013.Cacatua moluccensis. http://www.iucnredlist.org/details/22684784/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2013.Cacatua sulphurea. http://www.iucnredlist.org/details/22684777/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Casuarius casuarius. http://www.iucnredlist.org/details/22678108/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

99International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 1996.

Crocodylus novaeguineae. http://www.iucnredlist.org/details/46591/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 1996.Crocodylus porosus. http://www.iucnredlist.org/details/5668/0. Diaksespada tanggal 17 Febuari 2016.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Eclectus roratus. http://www.iucnredlist.org/details/22685022/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Geopelia striata. http://www.iucnredlist.org/details/22690708/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Gracula religiosa. http://www.iucnredlist.org/details/22710993/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Haliastur indus. http://www.iucnredlist.org/details/22695094/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.Helarctos malayanus. http://www.iucnredlist.org/details/9760/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.Hylobates agilis. http://www.iucnredlist.org/details/10543/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.Hylobates moloch. http://www.iucnredlist.org/details/10550/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Ictinaetus malaiensis. http://www.iucnredlist.org/details/ 22696019/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2013.Leptoptilos javanicus. http://www.iucnredlist.org/details/ 22697713/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

100International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2013.

Leucopsar rothschildi. http://www.iucnredlist.org/details/22710912/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Lorius lory. http://www.iucnredlist.org/details/22684594/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2013.Nisaetus cirrhatus. http://www.iucnredlist.org/details/22732090/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Paradisaea apoda. http://www.iucnredlist.org/details/22706249/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.Paradoxurus hermaphroditus. http://www.iucnredlist.org/details/ 41693/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012. Pavocristatus. http://www.iucnredlist.org/details/22679435/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2013. Pavomuticus. http://www.iucnredlist.org/details/22679440/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Pelecanus conspicillatus. http://www.iucnredlist.org/details/22697608/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.Pongo pygmaeus. http://www.iucnredlist.org/details/17975/0. Diakses padatanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Psittrichas fulgidus. http://www.iucnredlist.org/details/22685025/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2012.Pycnonotus zeylanicus. http://www.iucnredlist.org/details/22712603/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

101International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.

Symphalangus syndactylus. http://www.iucnredlist.org/details/39779/0.Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

International Union for Concervation of Nature and Natural Resources. 2008.Tragelaphus spekii. http://www.iucnredlist.org/details/22050/0. Diaksespada tanggal 12 Mei 2015.

Indonesian Society for Animal Welfare. 2015. http://www.isaw.or.id/standar-dasar-praktek-kebun-binatang/. Diakses pada tanggal 12 Mei 2015.

Indrawan, M., Primack, R.B., dan Supriatna, J. 2007. Biologi Konservasi. YayasanObor Indonesia. Jakarta. 505 p.

Kabangnga, Y. 2013. Buaya Muara (Crocodylus porosus Schneider). http://borneo-wildlife.blogspot.co.id/2013/04/buaya-muara-crocodylus-porosus-schneider_2.html. Diakses pada tanggal 17 Febuari 2016.

Khayasar. 2013. Bangau Tong-tong. https://khayasar.wordpress.com/2013/11/18/bangau-tong-tong/. Diakses pada tanggal 7 Januari 2015.

Khayasar. 2013. Siamang. https://khayasar.wordpress.com/2013/11/18/siamang/.Diakses pada tanggal 15 Februari 2015.

Khayasar. 2013. Rusa Tutul. https://khayasar.wordpress.com/2013/11/18/rusa-tutul/. Diakses pada tanggal 4 Maret 2015.

Khayasar. 2013. Burung Pelikan. https://khayasar.wordpress.com/2013/11/18/burung-pelikan/. Diakses pada tanggal 12 Maret 2015.

Kidnesia. 2014. Beruang Madu. http://www.kidnesia.com/Kidnesia2014/Dari-Nesi/Sekitar-Kita/Pengetahuan-Umum/Beruang-Madu. Diakses pada tanggal15 Februari 2015.

Mangi, H. 2013. Asosiasi burung julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) denganpohon eboni (Diospyros celebica Bakh) di Cagar Alam Pangi BinanggaDesa Pangi Kabupaten Parigi Moutong. Warta Rimba 1(1): 1 8.

Ngabekti, S. 2013. Konservasi beruang madu di KWPLH Balikpapan.Biosaintifika: Journal of Biology and Biology Education 5(2): 90 96.

Nurhudda. 2011. Nasib Musang Pandan (Luwak). http://florafaunaindonesia.blogspot.com/2011/07/nasib-musang-pandan-luwak.html. Diakses padatanggal 4 Maret 2015.

102Nuryanti, R. Y. 2013. Teknik Penangkaran Buaya Muara (Crocodylus Porosus) Di

Penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya, Serang, Bekasi, Jawa Barat.Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 81 p.

Omkicau. 2009. Beberapa Penyakit Burung dan Pengobatannya. http://omkicau.com/2009/10/14/beberapa-penyakit-burung-dan-pengobatannya/. Diaksespada tanggal 8 April 2016.

Omkicau. 2014. Yuk Menangkar Burung Beo. http://omkicau.com/2014/09/07/yuk-menangkar-burung-beo/. Diakses pada tanggal 13 Februari 2015.

Omkicau. 2015. Artikel Lengkap Paruh Bengkok. http://omkicau.com/artikel-lengkap/paruh-bengkok/. Diakses pada tanggal 5 Januari 2015.

Pecinta Hewan. 2015. Ragam Jenis Burung Beo. http://www.hewankesayangan.com/burung/ragam-jenis-burung-beo. Diakses pada tanggal 13 Februari2015.

Pratiwi, L. 2012. BurungPerkutut. http://beritane.com/2012/09/26/burungperkutut/.Diakses pada tanggal 4 Maret 2015.

PT. Lembah Hijau. 2013. Rencana Karya Pengelolaan Lembaga KonservasiTaman Satwa Lembah Hijau. Periode 2010 s/d 2039. PT. Lembah Hijau.Bandar Lampung. 31 p.

PT. Lembah Hijau. 2015. Laporan Perkembangan Pengelolaan LembagaKonservasi Taman Satwa Lembah Hijau Periode Triwulan Ke: III Tahun2015. PT. Lembah Hijau. Bandar Lampung. 24 p.

Purwaningsih, A.D. 2012. Faktor Faktor Penentu Keberhasilan PenangkaranMerak Hijau Jawa di Taman Margasatwa Ragunan dan Taman BurungTaman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Skripsi. Institut PertanianBogor. Bogor. 69 p.

Rahmawaty, S. 2004. Hutan: Fungsi dan Peranannya Bagi Masyarakat.http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/ 123456789/1028/hutan-rahmawaty6.pdf;jsessionid=81FDE1BDD36AE8BF739128AE9BEDA7E2?sequence=1. Diakses pada tanggal 6 November2017.

Ratnani B. 2007. Analisis manajemen penangkaran buaya pada PT EkanindyaKarsa di Cikande Kabupaten Serang. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.Bogor. 103 p.

103Rejanbird. 2015. Jenis Jenis Kakaktua. http://rejanbird.blogspot.com/2011/12/

jenis-jenis-kakaktua.html. Diakses pada tanggal 5 Januari 2015.

Satwapedia. 2015. Mengenal 9 Jenis Burung Lovebird. https://www.satwapedia.com/mengenal-9-jenis-burung-lovebird/. Diakses pada tanggal 8 Maret 2015.

Setio, P dan Takandjandji, M. 2007. Konservasi ex-situ burung endemik langkamelalui penangkaran. Prosiding Ekspose Hasil Hasil Penelitian.

Signaterdadie. 2009. Desinfektan. https://signaterdadie.wordpress.com/2009/10/08/desinfektan/. Diakses pada tanggal 26 April 2016.

Suhandi, A.P. 2015. Perilaku Harian Orangutan (Pongo pygmaeus Linnaeus) DalamKonservasi Ex-situ di Kebun Binatang Kasang Kulim Kecamatan SiakHulu Kabupaten Kampar Riau. Jom Faperta 2(1): 14.

Sunarso, dan Christyanto, M. 2011. Manajemen Pakan. http://nutrisi.awardspace.com/download/MANAJEMEN%20PAKAN.pdf. Diakses pada tanggal 25Maret 2016.

Susi. 2013. Taman Rekreasi Lembah Hijau Lampung. http://www.lembahhijaulampung.com/index.php?__init=p&i=1. Diakses pada tanggal 25Maret 2016.

Syaka. 2013. Artikel Burung Rangkong Badak. http://syakaskkmyblog.blogspot.com/2013/03/artikel-burung-rangkong-badak.html. Diakses pada tanggal 13Februari 2015.

Takandjandji, M. dan Mite, M. 2008. Perilaku Burung Beo Alor di penangkaranOilsonbai, Nusa Tenggara Timur. Buletin Plasma Nutfah. 14(1): 43