PEMBINAAN AKHLAK MELALUI TARI TOPENG DI...

Click here to load reader

  • date post

    07-Sep-2020
  • Category

    Documents

  • view

    7
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PEMBINAAN AKHLAK MELALUI TARI TOPENG DI...

  • PEMBINAAN AKHLAK MELALUI TARI TOPENG

    DI SANGGAR WIJAYA KUSUMA CIREBON

    Skripsi

    Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

    Gelar Sarjana Sosial (S.Sos.)

    Oleh

    Silmi Solihah

    NIM 11150520000001

    PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM

    FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    1441 H. / 2020 M.

  • ABSTRAK

    Silmi Solihah, NIM 11150520000001, Pembinaan Akhlak

    melalui Tari Topeng di Sanggar Wijaya Kusuma Cirebon, di

    bawah bimbingan Drs. Azwar Chatib, M.Si.

    Pembinaan akhlak menjadi perhatian utama dalam Islam,

    sebagaimana tujuan daripada diutusnya Nabi Muhammad Saw.

    ke bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak. Dalam membina

    akhlak tentunya banyak sekali cara yang dapat dilakukan

    sehingga mampu membentuk akhlak yang baik atau mulia, salah

    satunya melalui kesenian Tari Topeng Cirebon khususnya

    Rumyang. Dalam tari Rumyang, termuat nilai-nilai akhlak yang

    terdapat dalam unsur tari topeng, yakni gerak, iringan tari, dan

    busana tari.

    Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis pembinaan

    akhlak (2) menganalisis muatan nilai-nilai akhlak yang terdapat

    pada Tari Topeng Cirebon (3) menganalisis faktor yang

    mempengaruhi proses pelaksanaan pembinaan akhlak melalui

    Tari Topeng di sanggar Wijaya Kusuma Cirebon.

    Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian

    ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi.

    Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara,

    observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah

    deskriptif naratif dari Miles and Huberman yang terdiri dari

    reduksi data, penyajian data, dan penarikan

    kesimpulan/verifikasi.

    Hasil penelitian menjelaskan bahwa: (1) pelaksanaan

    pembinaan akhlak dilakukan bersamaan dengan pelatihan tari (2)

    muatan nilai-nilai akhlak yang termuat di dalam tari topeng

    adalah akhlak kepada Allah, diri sendiri, dan sesama manusia (3)

    faktor yang mempengaruhi proses pembinaan akhlak melalui Tari

    Topeng di sanggar Wijaya Kusuma Cirebon adalah terdiri dari

    dua faktor, yakni pertama faktor umum, ini berdasarkan dari

    tingkat semangat dari anak-anak. Kedua, yaitu faktor khusus

    diukur dari waktu anak belajar tari.

    Kata Kunci : Pembinaan Akhlak, Tari Topeng, Rumyang

  • i

    KATA PENGANTAR

    Bismillahirrahmanirrahim

    Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan

    limpahan nikmat serta anugerah-Nya, sehingga atas izin-Nya saya

    dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Pembinaan Akhlak

    melalui Tari Topeng di Sanggar Wijaya Kusuma Cirebon”.

    Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi

    Muhammad Saw. semoga kita menjadi umatnya yang terbaik

    sehingga kelak mendapat syafaatnya di hari kiamat. Amin.

    Penulis senantiasa mengucap syukur atas banyaknya tahapan

    yang telah dilewati dalam penyusunan skripsi hingga selesai.

    Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa masih

    terdapat banyak keterbatasan dan kekurangan dalam penulisan,

    maka dari itu penulis menerima berbagai saran dan kritik yang

    membangun.

    Selama penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak

    sekali dukungan dan bantuan dari banyak pihak. Untuk itu,

    penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua yang

    membantu dalam penyelesaian skripsi ini :

    1. Suparto, M.Ed, Ph.D. Selaku Dekan sekaligus selaku Dosen

    Penasihat Akademik Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan

    Islam A angkatan 2015 yang selalu mendorong kami untuk

    semangat dalam menyelesaikan perkuliahan dan tugas akhir.

    Dr. Siti Nafsiyah, S.Ag, BSW, MSW. selaku Wakil Dekan

    Akademik, Dr. Sihabuddin N, M.Ag. selaku Wakil Dekan

    Bidang Administrasi Umum, Cecep Castrawijaya, M.A.

  • ii

    selaku Wakil Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Dakwah

    dan Ilmu Komunikasi.

    2. Ir. Noor Bekti Negoro, SE., M.Si. selaku Ketua Program

    Studi serta Artiarini Puspita Arwan, M.Psi. selaku Sekretaris

    Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam.

    3. Drs. Azwar Chotib, M.Si. selaku pembimbing skripsi penulis

    yang selalu membantu, membimbing, dan sabar kepada

    penulis selama proses penyusunan skripsi.

    4. Seluruh dosen dan staff di lingkungan Fakultas Ilmu Dakwah

    dan Ilmu Komunikasi yang telah membantu penulis selama

    proses belajar di kampus

    5. Pimpinan dan karyawan Perpustakaan Pusat dan Perpustakaan

    Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

    memfasilitasi penulis untuk mencari referensi dalam

    penyusunan skripsi.

    6. Ketiga orang tua penulis, bapak Syafrudin (Alm), Mamah

    Nina Nurhasanah, dan Ayah Latip yang selalu memenjatkan

    do’a untuk penulis dan tidak hentinya memberikan semangat

    dan dukungan kepada penulis. Serta Aa Idris Nur Iskandar

    dan Adek Ahmad Dafi Al-Bukhori yang selalu membuat

    penulis tersenyum.

    7. Sanggar Wijaya Kusuma, khususnya Mas Inu Kertapati dan

    Ibu Eti yang telah mengizinkan dan membantu penulis dalam

    melakukan penelitian. Serta Febi, Mas Surya, Silvi, dan

    Triyana yang telah membantu penulis selama proses

    penelitian.

    8. Kepada sahabat karib Khaerul Anwar, Aisyah Nur Firdausi

    S.K., Mutiah Rabi’ah Al-Adawiyah, Vidia Himawan,

  • iii

    Sahvilla Meutia Sari, dan Sa’dulloh Amin yang senantiasa

    membantu dan menyemangati penulis dalam penyusunan

    skripsi. Serta kepada seluruh teman-teman BPI 2015 yang

    selalu memberikan semangat dan do’a serta bantuannya

    kepada penulis.

    9. Kepada kakak-kakak penulis Abdul Muiz, Millah Robi’atul

    Muthmainnah, Nur Alfi Laeli, Abidah, Khudzaefah,

    Firokhmatillah, Dewi Rohmayanti, Munawaroh, Fiqih

    Sampurna, dan Mubarok yang selalu memberikan motivasi

    dan membimbing penulis selama proses penyusunan skripsi.

    10. Kepada Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati

    Jabodetabek dan Himpunan Mahasiswa Cirebon Jakarta Raya

    yang telah menjadi separuh kehidupan penulis selama masa

    studi penulis di universitas.

    11. Serta seluruh pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu

    persatu.

    Terimakasih atas segala bantuan yang telah diberikan, semoga

    Allah membalas dengan yang lebih. Amin.

    Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat

    banyak kekurangan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik

    dan saran yang membangun dan semoga skripsi ini bisa

    memberikan manfaat bagi keilmuan BPI dan setiap pembaca.

    Jakarta, 31 Januari 2020

    Penulis,

    Silmi Solihah

  • iv

    DAFTAR ISI

    LEMBAR JUDUL

    LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING

    LEMBAR PENGESAHAN

    PENYATAAN

    ABSTRAK

    KATA PENGANTAR …………………………………… i

    DAFTAR ISI ………….………………………………….. iv

    DAFTAR TABEL ……………….……………………….. vii

    DAFTAR GAMBAR ………………………………….…. viii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ………..………………. 1

    B. Fokus masalah ………………………… 10

    C. Rumusan masalah …………………….. 11

    D. Tujuan dan Manfaat Penelitian .………. 11

    E. Tinjauan Kajian Terdahulu .................... 12

    F. Metodologi Penelitian ………………… 21

    G. Sistematika Penulisan ………………… 28

    BAB II KAJIAN PUSTAKA

    A. Landasan Teori Pembinaan Akhlak .….. 31

    1. Pengertian Pembinaan …….………. 31

    2. Fungsi Pembinaan ………………… 32

    3. Pengertian Akhlak ………………… 33

    4. Pembinaan Akhlak ………………... 37

    5. Ruang Lingkup Akhlak …………… 38

    6. Metode Pembinaan Akhlak ………. 53

  • v

    B. Landasan Teori Tari Topeng …………… 55

    1. Pengertian Tari Topeng ……...……… 55

    2. Fungsi Tari …………………….......... 57

    3. Unsur-Unsur Tari …………………… 58

    4. Unsur Tari Topeng Rumyang ……….. 60

    C. Kerangka Berpikir ……….…….…….…. 60

    BAB III GAMBARAN LATAR PENELITIAN

    A. Sejarah Sanggar Wijaya Kusuma ….….. 63

    B. Letak Geografis ……………….….…… 64

    C. Visi dan Misi………………..………..... 64

    D. Struktur Organisasi ……………….…... 64

    E. Pagelaran yang pernah diikuti…….…… 65

    F. Jadwal Kegiatan ….…………………… 68

    G. Sarana dan Prasarana ….…….….….….. 69

    BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

    A. Deskripsi Informan…………………….. 71

    B. Pelaksanaan Pembinaan Akhlak melalui

    Tari Topeng di Sanggar Wijaya Kusuma 78

    C. Metode Pembinaan Akhlak ..………..… 84

    D. Tari Topeng Cirebon …..…………….... 85

    E. Unsur Tari Topeng Rumyang …….…… 89

    BAB V PEMBAHASAN

    A. Analisis Pelaksanaan Pembinaan Akhlak

    melalui Tari Topeng di Sanggar Wijaya

    Kusuma Cirebon …...…………………. 123

  • vi

    B. Analisis Nilai Akhlak pada Tari Topeng

    Rumyang ……………………………… 124

    C. Analisis Faktor yang Mempengaruhi

    Pembinaan Akhlak melalui Tari Topeng

    Cirebon …………………….………….. 144

    BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

    A. Simpulan …………………………….…. 147

    B. Implikasi …………………………….…. 148

    C. Saran …………………………………… 148

    DAFTAR PUSTAKA …………………………………….. 151

    LAMPIRAN

  • vii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1 Jadwal Mingguan …………….…………. 68

    Tabel 3.2 Sarana Prasarana Sanggar Seni Wijaya

    Kusuma ……………………………….… 69

  • viii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1 Kerangka Berpikir …………………… 60

    Gambar 4.1 Topeng atau Kedok ……….…….….... 89

    Gambar 4.1 Gerak Lembeyan Alon ……………….. 91

    Gambar 4.2 Gerak Mincig ………………………… 92

    Gambar 4.3 Gerak Buang Sumping ……………….. 93

    Gambar 4.4 Gerak Banting Tangan …………...….. 94

    Gambar 4.5 Gerak Incek Meneng …………………. 94

    Gambar 4.6 Gerak Ngelarap ………………………. 95

    Gambar 4.7 Gerak Incek Miring Banting Tangan … 96

    Gambar 4.8 Gerak Ayun Tangan ………………….. 97

    Gambar 4.9 Gerak Incek Meneng Nengok ………… 98

    Gambar 4.10 Gerak Kenyut ……………………….. 99

    Gambar 4.11 Gerak Tindak Tiga Maju Mundur ….. 99

    Gambar 4.12 Gerak Sepak Soder ………………… 100

    Gambar4.13 Gerak Pak Bang …………………….. 101

    Gambar 4.14 Gerak Lembeyan Dua Tangan ……. 102

    Gambar4.15 Gerak Godeg ...……………………… 102

    Gambar 4.16 Gerak Incek Ngolah Sumping ………. 103

    Gambar 4.17 Gerak Godeg Iya ……………………. 104

    Gambar 4.18 Gerak Buka Topeng dan Salam ……... 105

    Gambar 4.20 Kostum Penari Topeng ……………....106

    Gambar 4.22 Sobra …………………………………106

  • ix

    Gambar 4.23 Kutang Penopengan .………………... 107

    Gambar 4.24 Kain Lancar …………………………. 108

    Gambar 4.25 Soder ………………………………... 108

    Gambar 4.26 Kerodong ……………………………. 109

    Gambar 4.27 Kace ……………………………….. 109

    Gambar 4.28 Badong ……………………………… 110

    Gambar 4.29 Tutup Prasa …………………………. 111

    Gambar 4.30 Dasi …………………………………. 111

    Gambar 4.31 Gelang ………………………………. 112

    Gambar 4.32 Keris ………………………………… 112

    Gambar 4.33 Alat Musik Saron …………………… 114

    Gambar 4.34 Alat Musik Kenong dan Jengglong …. 115

    Gambar 4.35 Alat Musik Penerus …….…………… 116

    Gambar 4.36 Alat Musik Geblug ………………….. 117

    Gambar 4.37 Alat Musik Kecrek ………………….. 118

    Gambar 4.38 Alat Musik Kendang ………………... 118

    Gambar 4.39 Alat Musik Bonang …………………. 119

    Gambar 4.40 Alat Musik Gong ……………………. 120

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Akhlak merupakan sifat yang tumbuh dan menyatu di

    dalam diri seseorang. Dari sifat yang ada itulah terpancar sikap

    dan tingkah laku perbuatan seseorang seperti sifat sabar, kasih

    sayang, atau sebaliknya pemarah, benci karena dendam, iri,

    dan dengki, sehingga memutuskan tali silaturahmi.1 Sedangkan

    menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah sifat yang tertanam

    dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa

    melakukan pemikiran dan pertimbangan atau akhlak adalah

    suatu sikap yang digerakkan oleh jiwa yang menimbulkan

    tindakan dan perbuatan manusia baik terhadap Tuhan, sesama

    manusia, atau diri sendiri.2

    Menurut Mustofa, akhlak menurut bahasa ialah bentuk

    jamak dari kata khuluq (khuluqun) yang berarti budi pekerti,

    perangai, tingkah laku, atau tabi’at. Akhlak disamakan dengan

    kesusilaan, sopan santun. Khuluq merupakan gambaran sifat

    batin manusia, gambaran bentuk lahiriah manusia, seperti

    wajah, gerak anggota badan dan seluruh tubuh. Dalam bahasa

    Yunani pengertian khuluq ini disamakan dengan kata ethicos

    atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan batin,

    1 KH Abdullah Salim, Akhlaq Islam (Jakarta: Media Dakwah, 1994)

    Cet. Ke-4, h.5 2 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta: Salemba

    Diniyah, 2018) h.13

  • 2

    kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos

    kemudian berubah menjadi etika.3

    Berbicara mengenai akhlak, tak lepas dari pembahasan

    etika, moral, dan susila. Etika berasal dari bahasa Yunani yakni

    ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Etika menurut

    istilah yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara adalah

    ilmu yang mempelajari soal kebaikan (dan keburukan) di

    dalam hidup mausia semuanya, teristimewa yang mengenai

    gerak gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan

    pertimbangan dan perasaan sampai mengenainya tujuannya

    yang dapat merupakan perbuatan.4

    Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin, mores yaitu

    jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Selanjutnya moral

    dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk

    menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak,

    pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan

    benar, salah, baik, atau buruk.5 Selanjutnya, susila atau

    kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapatkan awalan

    ke dan akhiran an. Kata tersebut berasal dari bahsa Sansekerta,

    yaitu su dan sila. Su berarti baik, bagus, dan sila berarti dasar,

    prinsip, peraturan hidup atau normal. Kata susila selanjutnya

    digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik.

    Orang yang susila adalah orang yang berkelakuan baik,

    3 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Persepektif Alquran

    (Jakarta: Amzah, 2007) h.2 4 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.88 5 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.90

  • 3

    sedangkan orang yang a susila adalah orang yang berkelakuan

    buruk. Para pelaku zina misalnya sering diberi gelar sebagai

    tuna susila.6

    Berdasarkan fungsinya, dapat dikatakan bahwa etika,

    moral, susila, dan akhlak memiliki kesamaan, yaitu

    menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang

    dilakukan manusia untuk ditentukan baik dan buruknya.

    Perbedaan diantaranya adalah terletak pada sumber yang

    dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika

    dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal

    pikiran, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang

    berlaku umum di masyarakat, maka pada akhlak aturan yang

    digunakan untuk menentukan baik dan buruk itu adalah al-

    qur’an dan hadis. Perbedaan selanjutnya terletak pada sifat dan

    kawasan pembahasannya. Jika etika lebih banyak bersifat

    teoritis, maka pada moral dan susila lebih banyak bersifat

    praktis. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum,

    sedangkan moral dan susila bersifat lokal dan individual. Etika

    menjelaskan ukuran baik buruk, sedangkan moral dan susila

    menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan.

    Selanjutnya, etika, moral, dan susila berasal dari produk rasio

    dan budaya masyarakat, sedangan akhlak berasal dari Tuhan

    (wahyu). Berdasarkan sifatnya, wahyu bersifat mutlak, absolut

    6 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.94

  • 4

    dan tidak dapat diubah, sementara etika, moral, dan susila

    sifatnya terbatas dan dapat diubah.7

    Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa

    antara etika, moral, susila, dan akhlak memiliki kesamaan

    objek yakni perbuatan manusia. Juga memiliki perbedaan

    berdasarkan, sumber penilaian, sifat, dan kawasan

    pembahasan. Terlepas dari itu semua, istilah tersebut memiliki

    tujuan yang sama yakni untuk membentuk pribadi manusia

    yang baik dan mulia. Bersamaan dengan tujuan tersebut,

    ternyata Islam sudah lebih konsen terhadap pembentukan

    pribadi manusia yang baik dan mulia, tercantum dalam hadis

    bahwa Islam turun ke bumi dengan tujuan untuk

    menyempurnakan akhlak manusia dengan diutusnya Nabi

    Muhammad Saw. Secara umum, akhlak terbagi menjadi dua

    yaitu akhlak mulia (akhlaqul karimah) dan akhlak tercela

    (akhlaqul madzmumah), yang menjadi tujuan dari diutusnya

    Nabi Muhammad adalah akhlak mulia. Seperti pada hadis

    berikut :

    ِق )رواه البيهقي عن ابو هريرة(َ

    َلْخَ ْاِرَم اْل

    ََم َمك ِ

    م َتُُت ِِل

    َْما ُبِعث ِانَّ

    Artinya: ”Sesunggunya aku diutus tidak lain adalah untuk

    menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Baihaqi dari Abu

    Hurairah)8

    7 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.94-95 8 KH Abdullah Salim, Akhlaq Islam (Jakarta: Media Dakwah, 1994)

    Cet. Ke-4, h.4

  • 5

    Ini menandakan bahwa Islam sangat serius dalam persoalan

    akhlak, karena akhlak adalah pondasi kaum muslim. Akhlak

    sendiri menempati kedudukan yang penting dalam kehidupan

    manusia sebagai individu atau masyarakat dan bangsa, sebab

    jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung kepada

    bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka

    sejahteralah lahir dan batinnya, apabila akhlaknya rusak, maka

    rusaklah lahir dan batinnya.9

    Untuk mencapai akhlak yang mulia, Allah telah berfirman

    dalam Al-Qur’an bahwasannya Nabi Muhammad Saw. adalah

    suri tauladan yang baik. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an

    surat Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi :

    ِخَر ٰ َْيْوَم اِل

    َْه َوال

    ّٰاَن َيْرُجوا الل

    ََمْن ك

    ِلٌ َحَسَنة

    ٌْسَوة

    ُِه ا

    ّْٰم ِفْي َرُسْوِل الل

    ُكَاَن ل

    َْد ك

    َقَ ل

    ِۗثْيًرا

    ََه ك

    َّٰر الل

    َكَ ١٢ -َوذ

    Artinya : “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri

    teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap

    (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang

    banyak mengingat Allah. ” (Q.S. Al-Ahzab: 21)10

    Kemudian Allah memuji akhlak nabi Muhammad Saw.

    dalam surat Al-Qalam ayat 4 yang berbunyi :

    ٍق َعِظْيٍم ُلُى خ

    َٰعل

    ََك ل ٤ –َوِانَّ

    9 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Persepektif Alquran

    (Jakarta: Amzah, 2007) h.1 10 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.420

  • 6

    Artinya : “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-

    benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S.Al-Qalam:4)11

    Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis di atas, kita dapat

    menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai role model umat

    muslim untuk menuju akhlak yang mulia atau yang baik.

    Tetapi, pada faktanya sampai saat ini umat Islam masih

    mengalami krisis akhlak, khususnya remaja. Tak jarang sering

    terjadi tawuran antar remaja sekolah, pergaulan bebas,

    narkoba, kriminalitas dan sebagainya yang menandakan bahwa

    masih minimnya akhlak remaja muslim, serta pengaruh dari

    perkembangan zaman yang semakin tak menentu membuat

    pengaruh buruk dapat dengan mudah merasuki para remaja

    dengan mudahnya akses internet yang bisa diakses kapanpun

    dan dimanapun.

    Masa remaja merupakan sebuah fase peralihan dari masa

    anak-anak ke masa dewasa. Saat di mana mereka mulai

    mencari jati diri dan mencoba berbagai hal yang baru.

    Sehingga sangat diperlukan bekal ilmu agama yang bisa

    memberikan pengetahuan tentang hal baik dan buruk, terutama

    pembinaan akhlak untuk membentengi mereka dari berbagai

    masalah di atas.

    Dalam melakukan pembinaan akhlak, banyak sekali cara

    yang dilakukan, seperti di lingkungan keluarga, masyarakat

    dan di sekolah. Tetapi pembinaan akhlak juga bisa dilakukan

    dalam ruang lingkup seni. Seperti yang dilakukan oleh sanggar

    11Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi Tahun

    2005. Bandung: CV Penerbit J-ART. h.564

  • 7

    tari Wijaya Kusuma yang melakukan kegiatan pembinaan

    akhlak melalui seni tari topeng.

    Sanggar tari Wijaya Kusuma tidak hanya mengajarkan tari,

    namun sanggar ini melakukan kegiatan pembinaan akhlak

    melalui pemaknaan Tarian Topeng yang diajarkan. Sehingga

    anak binaan di sanggarnya tidak hanya bisa menari tapi bisa

    menerapkan nilai-nilai akhlak sebagai bekal berkehidupan

    nanti serta menghadapi siklus perkembangan zaman yang

    semakin tak menentu arah.

    Tari topeng merupakan seni tari yang diciptakan untuk

    penyebaran agama Islam oleh Sunan Gunung Djati dan Sunan

    Kalijaga, sehingga tari topeng ini lekat dengan nilai-nilai

    akhlak. Tidak seperti seni tari lainnya, banyak seni tari yang

    tidak memperhatikan muatan akhlak dalam tariannya.

    Sehingga para pelaku kesenian hanya mendapat keterampilan

    menari saja. Seni tari seharusnya tidak hanya memberikan

    keterampilan menari kepada para pelakunya, tetapi haruslah

    termuat di dalamnya nilai-nilai akhlak. Sehingga seni tari

    sebagai bagian dari budaya tidak hanya menari tetapi juga

    terdapat pembinaan akhlak bagi para pelaku seni tersebut.

    Dalam dunia seni atau estetika, dikenal paham bahwa

    estetika memberikan kebebasan seutuhnya kepada pelaku seni

    untuk berkeskpresi sedemikian rupa tanpa adanya batasan nilai

    maupun norma yang artinya estetika bebas dari agama dan

    tanpa memperdulikan agama.12 Estetika cenderung kepada anti

    12 Tri Yuliana Wijayanti, “Seni Tari dalam Pandangan Islam”. IAIN

    Batusangkar: Jurnal Al-Fuad 2, no.2 (2018): 243.

  • 8

    norma dan kesopanan, sedangkan agama cenderung kepada

    moralitas dan kesopanan.

    Tetapi tari topeng hadir dengan perbedaan, dalam seni tari

    topeng estetik dihadirkan berlandaskan nilai maupun norma,

    juga tak bebas dari agama, sehingga terdapat pertemuan antara

    estetik dan agama yang termanifestasikan ke dalam gerakan

    tari yang indah dan makna dari tarian tersebut.

    Karena itulah Tari Topeng memiliki makna-makna yang

    mengandung ajaran Islam, sehingga tarian ini sarat akan

    makna. Tari topeng, menurut Pitutur (cerita orang terdahulu)

    adalah sebuah kesenian yang benar-benar diciptakan untuk

    membantu syiar Islam yang dipelopori oleh Sunan Kali Jaga

    dan Sunan Gunung Djati. Pemilihan kesenian tari sebagai

    media syiar utama pada masa itu adalah melihat atas dasar

    masyarakat Cirebon terdahulu sangat menyukai kesenian dan

    hal-hal yang menarik, maka dibuatlah kesenian tari topeng

    yang dilandasi atas makna filosofi tahap kehidupan, agama,

    sosial, dan karakter manusia yang harapannya melalui tari

    topeng ini agama Islam dapat diterima dengan baik oleh warga

    Cirebon.13

    Tari topeng yang terdiri dari lima macam tarian, yaitu

    Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung dan Klana yang apabila

    dilihat dari filosofi karakter manusia memiliki makna

    tersendiri. Iringan gamelan dan gerakan tari yang sangat

    13 Hasil wawancara dengan Inu Kertapati pada 01 Maret 2019

  • 9

    berbeda mencerminkan keadiluhungan tari yang biasa ditonton

    kalangan bangsawan keraton di masa lalu.14

    Sosok yang sangat angkuh dan serakah digambarkan pada

    tarian tersebut. Selain penggambaran karakter, kelima tarian

    tersebut juga memiliki filosofi perkembangan hidup manusia.

    Dimulai dari tarian pertama yaitu Panji yang menggambarkan

    sosok manusia yang baru lahir ke dunia sampai Kelana yang

    menggambarkan sosok manula yang kembali lagi ke masa

    anak-anak yang lebih sensitif.15

    Salah satu jenis tari topeng yang idenik dengan remaja

    adalah Rumyang, yakni tarian yang memang menggambarkan

    karakter seorang remaja yang cenderung labil dan sedang

    mencari jati diri. Sehingga Rumyang menjadi fokus pada

    penelitian ini.

    Banyak juga diperdebatkan oleh kalangan muslim tentang

    menari, khususnya untuk perempuan yang menari karena

    sebaiknya dihindari, tetapi Islam sebenarnya menghidupkan

    rasa keindahan dan mendukung kesenian, namun dengan

    syarat-syarat tertentu, yakni jika kesenian itu membawa

    perbaikan dan tidak merusak atau menghancurkan, tetapi

    membangun.16

    14 M.Noer Nurdin, Menusa Cerbon (Cirebon: Dinas Pemuda Olahraga

    Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, 2009) h.35 15 Hasil wawancara dengan Inu Kertapati pada 01 Maret 2019 16 Nur Aminah Nasution, “Seni Islam sebagai Media Dakwah” Studi

    Kasus: Kesenian Tari Badui di Dusun Semampir, Desa Tambakrejo, Kecamatan

    Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol.

    1 No. 2 (2017) ISSN 2580-8311. h.301

  • 10

    Atas dasar uraian di atas, bisa diketahui bahwa seni Tari

    Topeng di Sanggar Wijaya Kusuma ini menyangkut

    pembinaan akhlak atau tidak karena ini menyangkut sebuah

    hasil produk yang nantinya akan dipilih oleh masyarakat

    sebagai pilihan sanggar tari yang memuat pembinaan akhlak,

    sehingga remaja yang masuk ke sanggar tari tersebut dapat

    memiliki keterampilan tari sekaligus akhlak yang baik. Jika

    tidak diteliti, maka akan banyak anak remaja yang masuk ke

    sanggar tari yang tidak memuat pembinaan akhlak, sehingga

    anak remaja tersebut hanya memiliki keterampilan tari tanpa

    mendapatkan pembinaan akhlak yang membuatnya berpotensi

    untuk berakhlak buruk.

    Berdasarkan itulah maka penulis bermaksud melakukan

    penelitian lebih lanjut sekaligus dijadikan judul skripsi, yaitu :

    “Pembinaan Akhlak melalui Tari Topeng di

    Sanggar Wijaya Kusuma Cirebon”.

    B. Fokus Masalah

    Penulis memfokuskan permasalahan penelitian tentang

    pembinaan akhlak pada keikutsertaan kegiatan seni dan budaya

    seperti kesenian tari topeng di Sanggar Wijaya Kusuma

    Cirebon. Adapun keterangan lebih lanjutnya adalah pertama,

    pembinaan akhlak yang dimaksud adalah kegiatan yang

    bertujuan untuk membina akhlak anak-anak binaan di Sanggar

    Wijaya Kusuma melalui kegiatan Tari Topeng.

    Kedua, Tari Topeng yang di maksud adalah kesenian tari

    tradisional yang berasal dari Cirebon, jenis tari yang menjadi

    fokus adalah Tari Rumyang. Dalam kesenian Tari Topeng

  • 11

    didapati beberapa unsur, yakni gerakan tari, musik, topeng, dan

    pakaian.

    C. Rumusan Masalah

    Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana

    pembinaan akhlak melalui Tari Topeng di Sanggar Wijaya

    Kusuma. Adapun turunan dari rumusan masalah adalah

    sebagai berikut :

    a. Bagaimana pelaksanaan pembinaan akhlak di Sanggar

    Wijaya Kusuma Cirebon ?

    b. Apa saja nilai akhlak yang terdapat pada Tari Topeng

    Cirebon ?

    c. Apa faktor yang mempengaruhi selama proses pelaksanaan

    pembinaan akhlak di Sanggar Wijaya Kusuma Cirebon ?

    D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

    bagaimana pembinaan akhlak melalui tari topeng di

    Sanggar Wijaya Kusuma Cirebon. Adapun turunan dari

    tujuan penelitian ini adalah :

    a. Untuk menganalisis pelaksanaan pembinaan akhlak di

    Sanggar Wijaya Kusuma Cirebon;

    b. Untuk menganalisis nilai akhlak yang terdapat pada

    Tari Topeng Cirebon;

    c. Untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi selama

    proses pelaksanaan pembinaan akhlak di Sanggar

    Wijaya Kusuma Cirebon.

  • 12

    2. Manfaat Penelitian

    a. Teoritis

    Untuk menambah wawasan keilmuan Bimbingan

    Penyuluhan Islam.

    b. Empiris

    Untuk menambah informasi bagi orang tua, guru,

    dan siapapun dalam upaya pembinaan akhlak.

    E. Tinjauan Kajian Terdahulu

    Tinjauan kajian terdahulu diperlukan untuk untuk dijadikan

    rujukan penulis dalam penelitian, yakni bisa berupa skripsi

    yang memiliki kemiripan dengan penelitian penulis. Namun

    terdapat perbedaan dari segi objek dan subjek penelitian yang

    menjadikan pembeda antara penelitian sebelumnya dengan

    penelitian penulis. Berikut tinjauan kajian terdahulu yang

    dipakai oleh penulis :

    1. Judul : “Pembinaan Akhlak Terhadap Anak di

    Yayasan Nanda Dian Nusantara

    Ciputat Tangerang Selatan”

    Nama : Zulkifli

    NIM : 108052000020

    Fakultas : Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi

    Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Tahun : 2014

    Skripsi ini membahas tentang pelaksanaan

    pembinaan akhlak, metode yang digunakan, serta faktor

    yang menghambat dalam pembinaan akhlak terhadap anak

  • 13

    di Yayasan Nanda Dian Nusantara. Dalam skripsi ini

    diungkapkan bahwa permasalahan yang ada adalah

    terkikisnya akhlak manusia di zaman modern ini yang

    diawali dengan adanya pergeseran nilai baik dan buruk di

    masyarakat, sehingga munculnya rasa kekhawatiran penulis

    terhadap perubahan standar etika baik dan buruk yang

    dianut manusia.

    Teori yang digunakan adalah teori Pembinaan dari

    Hendiyat Soetopo, Zakiyah Drajdat, Dr. M. Abdullah Daraz,

    Abdullah Amin, Soegarda Poerbakawatja, Hamzah Yaqub,

    Farid Ma’ruf, Ibnu Miskawaih, dan Imam Al-Ghazali.

    Adapun hasil yang didapat dalam penelitian ini

    adalah metode yang digunakan adalah metode ceramah,

    keteladanan, tanya jawab, pengawasan, pembiasaan, dan

    metode teguran atau hukuman. Materi yang disampaikan

    yaitu pelajaran Al-Qur’an dan fiqh. Sedangkan faktor yang

    mengahambat proses pembinaan akhlak meliputi dua aspek,

    yakni internal dan eksternal. Skripsi tersebut memiliki

    kesamaan dengan penelitian ini, yakni sama membahas

    tentang pembinaan akhlak. Namun terdapat perbedaan,

    yaitu pada penelitian di atas pembinaan akhlak dilakukan

    melalui metode ceramah, keteladanan, tanya jawab,

    pengawasan, pembiasaan, dan metode teguran atau

    hukuman, sedangkan penelitian penulis pembinaan

    akhlaknya melalui kesenian tari topeng.

    2. Judul : “Efektivitas Metode Bimbingan Agama

    dalam Membina Akhlak Remaja di

  • 14

    Pondok Pesantren Nurul Hidayah

    Pusat Leuwisadeng Bogor”

    Nama : Fajriah Septiani

    NIM : 1111052000022

    Fakultas : Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi

    Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Tahun : 2015

    Skripsi ini mendeskripsikan tentang tingkat

    efektifitas metode bimbingan agama dalam membina

    akhlak remaja. Dalam skripsi ini diungkapkan bahwa

    permasalahan yang ada adalah banyaknya kasus

    penyimpangan moral yang dilakukan oleh remaja yang

    disebabkan beberapa faktor, diantaranya lingkungan

    masyarakat dan keluarga yang berdampak pada hilangnya

    rasa empati terhadap orang lain, berkurangnya rasa hormat

    terhadap orang tua, tidak mempunyai rasa toleransi, kurang

    kontrol diri, dan tidak baik hati serta tidak adil dalam suatu

    hal.

    Teori yang digunakan adalah teori Metode

    Bimbingan agama dari H. M. Arifin dan teori akhlak dari

    Zakiyah Dradjat dan Al-Ghazali.

    Hasil yang didapatkan adalah metode bimbingan

    sebagai metode yang digunakan untuk membina akhlak

    remaja di pondok pesantren Nurul Hidayah Pusat dinilai

    efektif. Persamaan yang didapati dengan penelitian ini

    adalah sama mebahas pembinaan akhlak, sedangkan

  • 15

    perbedaannya penelitian di atas menitikberatkan tentang

    efektifitas metode pembinaan yang digunakan, sedangkan

    penelitian penulis menitikberatkan pada bagaimana

    pembinaan akhlak melalui Tari Topeng.

    3. Judul : “Tari Topeng Cirebon Kesenian yang

    Diislamkan”

    Nama : Nurul Fitri

    NIM : 07120027

    Fakultas : Adab dan Ilmu Budaya

    Universitas : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan

    Kalijaga Yogyakarta

    Tahun : 2013

    Dalam skripsi ini menjelaskan tentang sejarah tari

    topeng, fungsi Tari Topeng di masyarakat Cirebon, dan

    nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya.

    Permasalahan yang diangkat di dalam skripsi ini adalah

    bagimana perkembangan sejarah Tari Topeng Cirebon,

    apakah fungsi Tari Topeng Cirebon, dan adakah nilai—nilai

    Islam pada kesenian Tari Topeng Cirebon.

    Teori yang digunakan dalam skripsi tersebut adalah teori

    akulturasi dengan pendekatan Antropologi budaya.

    Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah kesenian

    Tari Topeng yang merupakan sebuah kesenian daerah yang

    berkembang di Jawa Timur yang biasa digunakan sebagai

    seni pertunjukan rakyat, lalu dimodifikasi oleh Sunan

    Kalijaga dengan memasukan nilai-nilai Islam di dalamnya

    dan menjadikan Tari Topeng sebagai media dakwah dalam

  • 16

    penyebaran ajaran agama Islam. Fungsi Tari Topeng di

    masyarakat Cirebon adalah sebagai sarana media dakwah,

    komunikasi, dan ekkonomis. Tari topeng juga memiliki

    muatan nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya,

    mulai dari gerakan dan pakaian.

    4. Judul : “Ritus Penari Topeng Cirebon dalam

    Membangun Identitas Sosial”

    Nama : Ghina Amaliyah Sholihah

    NIM : 12540008

    Fakultas : Ushuluddin dan Pemikiran Islam

    Universitas : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan

    Kalijaga Yogyakarta

    Tahun : 2015

    Dalam Skripsi ini menjelaskan tentang bagaimana ritus

    penari topeng Cirebon dalam membangun identitas sosial.

    Permasalahan yang diungkap dalam skripsi ini adalah apa

    makna ritual dalam pementasan tari topeng Cirebon dan

    bagaimana penari topeng Cirebon mementuk identitasnya

    sehari-hari.

    Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa

    pertama, terdapat dua macam ritual dalam pertunjukkan tari

    topeng Cirebon, yaitu ritual fisik yang dimaknai sebagai

    bentuk penghormatan kepada benda kuno dengan memberi

    makan benda-benda yang disakralkan untuk mengeluarkan

    energi lama dan digantikan dengan energi baru (mupuk).

    Dan ritual batin yang dimaknai sebagai upaya untuk

    memperoleh keselamatan sebagai bentuk pengosongan diri

  • 17

    melalui tirakat-tirakat yang dijalankan agar penari topeng

    selalu memiliki sifat ikhlas (menep) dan dilatih untuk

    belajar prihatin agar penari selalu mendapatkan

    keselamatan. Kedua, penari topeng keturunan dan non

    keturunan memiliki identitas yang berbeda, penari topeng

    keturunan lebih dikenal dengan mistiknya dibandingkan

    dengan penari non keturunan. Perbedaan identitas tersebut

    dapat dilihat dari motifnya menjadi penari, nilai historisnya,

    dan nilai estetik dalam menyampaikan makna-makna

    filosofis tari topeng. Penari topeng keturunan terikat oleh

    syarat-syarat dan ritual khusus dari keturunannya, hal ini

    sebagai bentuk untuk memelihara identitas kelompok penari

    topeng Cirebon keturunan, berbeda dengan penari topeng

    non keturunan yang tidak terikat oleh syarat-syarat dan

    ritual khusus, identitas penari topeng non keturunan hanya

    sebagai bentuk hiburan, menyalurkan hobi dan pelestarian

    budaya.

    5. Judul : “Peran Rumah Singgah Cahaya Anak

    Negeri dalam Meningkatkan Akhlak

    Anak Jalanan.”

    Nama : Muhamad Sirojudin

    NIM : 1110052000001

    Fakultas : Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi

    Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Tahun : 2015

  • 18

    Dalam skripsi ini, mendeskripsikan tentang bagaimana

    peran rumah singgah Cahaya Anak Negeri dalam

    meningkatkan Akhlak Anak Jalanan. Permasalahan yang

    diungkap pada skripsi ini adalah tentang anak jalanan yang

    tak kunjung henti, bahkan bertambah kompleks dan perlu

    perhatian semua pihak. Pada kenyataannya banyak pendapat

    yang menyatakan bahwa anak jalanan adalah sampah

    masyarakat. Selain itu anak jalanan sering meresahkan

    warga, karena dengan sikap mereka yang bebas dan tanpa

    aturan. Kurangnya penanganan terhadap permasalahan anak

    jalanan terutama kurangnya pembinaan akhlak bagi anak

    jalanan.

    Teori yang digunakan teori peran dari Wirawan

    Sarwono serta teori akhlak dari Abudin Nata. Hasil dari

    penelitian tersebut adalah bahwa peran rumah singgah

    tersebut sangat memiliki peranan yang sangat penting

    terhadap upaya membina akhlak anak jalanan, dengan cara

    mebaur dengan mereka, sehingga lebih mudah dalam

    pelaksanaannya. Kesamaan yang ada pada penelitian ini

    adalah sama-sama menggunakan pembahasan akhlak,

    namun perbedaannya adalah bahwa penelitian ini

    dilaksanakan di sebuah sanggar tari.

    6. Judul : “Peran Pembimbing Agama dalam

    Membina Akhlak Remaja di Rumah

    Yatim Arrohman Cilandak Jakarta

    Selatan”

    Nama : Muhammad Dhano Purwanto

  • 19

    NIM : 1080520000017

    Fakultas : Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi

    Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Tahun : 2015

    Dalam skripsi ini penulis mendeskripsikan mengenai

    bagaimana peran pembimbing agama dalam membina

    akhlak remaja di rumah yatim. Permasalahan yang

    diungkap pada skripsi ini bahwa tidak semua anak

    mendapatkan keberuntungan masih memiliki orang tua

    yang lengkap, beberapa ada yang dalam kondisi yatim.

    Namun, anak yatim bukan berarti tidak berhak

    mendapatkan pembinaan akhlak.

    Teori yang digunakan adalah teori peran dari Soerjono

    Soekanto, Kun Maryati, David Berry, Sarlito Sarwono,

    Abu Ahmadi. Sedangkan untuk teori metode bimbingan

    agama menggunakan teori dari M. Lutfi. Serta teori akhlak

    dari Asep Usman Ismail, dan Asmaran As.

    Adapun hasil yang didapat adalah bahwa peran

    pembimbing agama dalam membina akhlak remaja di

    Rumah Yatim Arrohman Cilandak Jakarta adalah berjalan

    dengan baik dan memuaskan. Persamaan dengan penelitian

    ini adalah sama-sama membahas tentang akhlak.

    Perbedaannya, skripsi tersebut menitikberatkan pada peran

    seorang pembimbing agama, sedangkan skripsi penulis

    meitikberatkan pada pembinaan akhlak melalui Tari

    Topeng Cirebon.

  • 20

    7. Judul : “Peran Pembimbing Agama dalam

    Pembinaan Akhlak Santri Remaja di

    Pesantren Yatim Nurul Amanah

    Jagakarsa Jakarta Selatan”

    Nama : Sadam Husen

    NIM : 1090520000006

    Fakultas : Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi

    Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Tahun : 2015

    Dalam skripsi ini penulis mendeskripsikan mengenai

    bagaimana peran pembimbing agama dalam membina

    akhlak remaja di Pesantren Yatim Nurul Amanah Jagakarsa

    Jakarta Selatan. Permasalahan yang diungkap pada skripsi

    ini bahwa seiring majunya perkembangan zaman serta

    majunya ilmu pengetahuan dan teknologi tak sedikit

    dampak yang ditimbulkan bagi manusia, salah satunya

    dampak yang paling berbahaya adalah menjadikan dunia

    sebagai satu-satunya tujuan dari kebahagiaan hidup yang

    diukur dengan nilai material yang dimiliki, sehingga sedikit

    demi sedikit meninggalkan nilai-nilai spiritual yang

    sebenarnya berfungsi untuk memelihara dan

    mengendalikan akhlak manusia. serta kasus-kasus

    kenaklan remaja yang kian tumbuh disebabkan oleh tidak

    mengetahui bahkan mengenal persoalan akhlak. Teori yang

    digunakan adalah teori peran dari Biddle & Thomas, Sarlito

    Sarwono, dan Abu Hamdani.

  • 21

    Adapun hasil yang dideskripsikan adalah bahwa peran

    pembimbing agama dalam membina akhlak remaja di

    Pesantren memiliki peran yang sangat penting. Persamaan

    yang didapat dalam penelitian ini adalah sama-sama

    menggunakan akhlak sebagai bahasan. Perbedaannya,

    skripsi tersebut menitikberatkan pada peran seorang

    pembimbing agama, sedangkan skripsi penulis

    meitikberatkan pada pembinaan akhlak melalui Tari

    Topeng Cirebon.

    F. Metodologi Penelitian

    1. Metode Penelitian

    Menurut Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif

    merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah

    dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan

    dilakuakan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang

    ada dengan berbagai karakteristik khas yang dimiliki,

    penelitian kualitatif memiliki keunikan tersendiri sehingga

    berbeda dengan penelitian kuantitatif.17

    Metode yang digunakan adalah studi fenomenologi.

    Menurut Jhon W. Creswell, studi fenomenologi yakni

    mencoba mencari arti pengalaman dalam kehidupan.

    Peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep,

    pendapat, pendirian, sikap, penilaian, dan pemberian

    makna terhadap situasi atau pengalaman dalam kehidupan.

    Tujuan dari pendekatan ini adalah mencari atau

    17 Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian

    Kualitatif, (Bandung: CV Alfabeta, 2013) cet. Ke-5, h.21-22

  • 22

    menemukan makna dari hal-hal yang esensial atau

    mendasar dari pengalaman hidup.18

    2. Lokasi dan Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilakukan di Sanggar Wijaya Kusuma

    yang beralamat di Desa Bulak, Kecamatan Arjawinangun,

    Kabupaten Cirebon. Adapun pengambilan data lapangan

    dilakukan pada bulan 18 Oktober 2019 – 05 Januari 2020.

    Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian ini berdasarkan

    pertimbangan sebagai berikut :

    a. Setelah melakukan survei di beberapa sanggar di

    Kabupaten Indramayu dan Cirebon, didapatkan

    hasil bahwa hanya sanggar Wijaya Kusuma yang

    melakukan pembinaan akhlak, sedangkan sanggar

    lainnya hanya melakukan kegiatan pembelajaran

    tari seperti pada umumnya;

    b. Melihat dari kredibilitas pelatih tari, yaitu Inu

    Kertapati (Inusi) yang merupakan titisan langsung

    dari kakeknya yang merupakan seniman gaya

    slangit, serta diberi kepercayaan oleh keraton

    kasepuhan, kanoman, dan objek wisata Goa

    Sunyaragi untuk menjadi pelatih Tari Topeng.

    3. Subjek dan Objek Penelitian

    a. Subjek Penelitian

    Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai

    subjek penelitian adalah ketua sekaligus pelatih

    18 M. Djunaidi Ghony & Fauzan Almanshur, Metodologi Penelitian

    Kualitatif, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) h.57

  • 23

    sanggar, pengelola sanggar, dan anak-anak binaan

    di sanggar Wijaya Kusuma.

    b. Objek Penelitian

    Dalam penelitian ini yang dijadikan objek

    penelitian adalah pembinaan akhlak melalui Tari

    Topeng di Sanggar Wijaya Kusuma Cirebon.

    4. Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data menurut Sugiyono dapat

    dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview

    (wawancara), kuesioner (angket), dokumentasi dan

    triangulasi/gabungan. 19

    a. Observasi

    Menurut Arikunto dalam Imam Gunawan

    (2013) observasi merupakan suatu teknik

    pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

    mengadakan penelitian secara teliti, serta

    pencatatan secara sistematis.20

    Dalam penelitian ini peneliti melakukan

    observasi dengan mengikuti berbagai kegiatan yang

    ada di sanggar Wijaya Kusuma untuk mengetahui

    aktivitas yang dilakukan oleh subjek penelitian dan

    lebih mendalami penelitian, serta melakukan

    pencatatan secara sistematis mengenai apa yang

    dilihat dan didapatkan di setiap kegiatan observasi.

    19 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D,

    (Bandung: CV Alfabeta, 2009) cet. Ke 8, h.225 20 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik,

    (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013) h.143

  • 24

    Seperti kegiatan harian pembinaan akhlak yang

    sekaligus pelatihan tari, latihan gabungan, serta

    ujian tari.

    b. Wawancara/Interview

    Menurut Setyadin, wawancara adalah suatu

    percakapan yang diarahkan pada suatu masalah

    tertentu dan merupakan proses tanya jawab lisan

    dimana dua orang atau lebih berhadapan secara

    fisik.21

    Dalam melakukan penelitian, peneliti

    menggunakan wawancara sebagai teknik

    pengumpulan data utama yang dilakukan secara

    face to face dengan informan. Jenis wawancara

    yang digunakan adalah wawancara terstruktur,

    sehingga peneliti sudah menyiapkan daftar

    pertanyaan. Juga peneliti menambahkan

    pertanyaan-pertanyaan baru selama di lapangan

    yang bertujuan untuk menggali informasi lebih

    dalam.

    c. Teknik pengumpulan data dengan dokumen

    Menurut Sugiyono, dokumen merupakan

    peristiwa yang sudah berlalu yang berbentuk

    tulisan, gambar, atau karya monumental dari

    seseorang. Studi dokumen merupakan pelengkap

    dari penggunaan metode observasi dan wawancara.

    21 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik,

    (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013) h.160

  • 25

    Teknik dokumentasi digunakan untuk

    mengumpulkan data dari sumber noninsani.

    Sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. 22

    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan

    teknik dokumentasi sebagai alat instrumen dalam

    pengumpulan sumber data, yang terdiri dari buku

    seperti tentang akhlak dan tari, rekaman

    wawancara, foto kegiatan sanggar, dan video

    kegiatan sanggar dan tari topeng Rumyang.

    d. Triangulasi

    Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi

    diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang

    bersifat menggabungkan ketiga teknik di atas,

    yakni wawancara, observasi, dan dokumentasi.

    Apabila peneliti menggunakan triangulasi dalam

    pengumpulan data dalam penelitian, maka ia

    mengumpulkan data sekaligus menguji

    kredibilitas data. Triangulasi teknik adalah teknik

    yang dilakukan dengan menggunakan teknik

    pengumpulan data yang berbeda-beda untuk

    mendapatkan data dari sumber yang sama. 23

    Pada teknik triangulasi ini, yang dilakukan

    peneliti adalah triangulasi data, yakni peneliti

    22 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik,

    (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013) h.176 23 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D,

    (Bandung: CV Alfabeta, 2009) cet. Ke 8, h.236

  • 26

    menggali sumber data dari satu informan, tetapi

    dalam proses pengambilan data di lapangan

    peneliti menggunakan teknik wawancara,

    observasi dan dokumentasi. Dari ketiga teknik

    tersebut peneliti dapat mengetahui data mana yang

    valid.

    5. Sumber Data

    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua

    sumber data, yaitu :

    a. Primer

    Sumber data primer dalam penelitian ini meliputi

    kepala sanggar, pelatih, dan anak binaan di Sanggar

    Wijaya Kusuma Cirebon.

    b. Sekunder

    Sumber data sekunder dalam penelitian ini

    meliputi dokumentasi, buku, jurnal atau yang lainnya

    yang berkaitan dengan penelitian ini.

    6. Teknik Analisis Data

    Analisis data menurut Sugiyono adalah proses mencari

    dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari

    wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan

    cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,

    menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa,

    menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan

    yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga

  • 27

    mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

    Analisis data kualitatif bersifat induktif.24

    Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif

    naratif. Miles and Huberman (1984) mengemukakan

    bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan

    secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus

    sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas

    dalam analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan

    penarikan kesimpulan/verifikasi.25

    a. Reduksi Data (Data Reduction)

    Data yang penulis dapatkan di lapangan

    jumlahnya cukup banyak, mulai dari buku rujukan,

    observasi, dan data wawancara yang berasal dari

    rekaman peneliti. Lalu penulis melakukan

    pencatatan secara teliti dan rinci untuk dilakukan

    analisis data melalui reduksi data dengan

    merangkum dan memfilter data mana saja yang

    diperlukan dan sesuai dengan penelitian. Dengan

    demikian terlihat mana data yang diperlukan dan

    mana yang tidak.

    b. Penyajian data (Data Display)

    Setelah melakukan reduksi data yang

    bersumber dari buku, observasi, dan rekaman

    wawancara, penulis melakukan display data yaitu

    24 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D,

    (Bandung: CV Alfabeta, 2009) cet. Ke 8, h.244-245 25 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D,

    (Bandung: CV Alfabeta, 2009) cet. Ke 8, h.218-220

  • 28

    memindahkan hasil rangkuman ke dalam tulisan

    dengan menggunakan bahasa yang mudah

    dipahami.

    c. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion

    Drawing/Verification)

    Langkah ketiga yang penulis lakukan adalah

    penarikan kesimpulan/verifikasi. Penarikan

    kesimpulan ini berdasarkan data yang sudah

    didapatkan oleh penulis. Lalu penulis melakukan

    verifikasi data yakni mencocokan kembali dengan

    hasil data awal dan melakukan verifikasi terhadap

    subjek penelitian.

    G. Sistematika Penulisan

    Dalam penelitian skripsi ini, penulis mengacu pada

    pedoman penulisan karya ilmiah berdasarkan Keputusan

    Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor 507 Tahun

    2017 Tanggal 14 Juni 2017 yang terdiri dari :

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    B. Fokus Masalah

    C. Rumusan Masalah

    D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    E. Tinjauan Kajian Terdahulu

    F. Metodologi Penelitian

    G. Sistematika Penulisan

  • 29

    BAB II KAJIAN PUSTAKA

    A. Landasan Teori Pembinaan Akhlak

    Pengertian Pembinaan, Fungsi Pembinaan,

    Pengertian Akhlak, Pembinaan Akhlak, Ruang

    Lingkup Akhlak, dan Metode Pembinaan

    Akhlak.

    B. Landasan Teori

    Pengertian Tari Topeng, Fungsi Tari, Unsur

    Unsur Tari, dan Unsur Tari Topeng.

    C. Kerangka Berpikir

    BAB III GAMBARAN UMUM LATAR BELAKANG

    PENELITIAN

    A. Sejarah Sanggar Wijaya Kusuma

    B. Letak Geografis

    C. Visi dan Misi

    D. Struktur Organisasi

    E. Pagelaran yang Pernah Diikuti

    F. Jadwal Kegiatan

    G. Sarana dan Prasarana

    BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

    A. Deskripsi Informan

    B. Pelaksanaan Pembinaan Akhlak melalui Tari

    Topeng di Sanggar Wijaya Kusuma

    C. Metode pembinaan akhlak melalui Tari

    Topeng di Sanggar Wijaya Kusuma

    D. Tari Topeng Cirebon

    E. Unsur Tari Topeng Rumyang

  • 30

    BAB V PEMBAHASAN

    A. Analisis Pelaksanaan Pembinaan Akhlak

    melalui Tari Topeng di Sanggar Wijaya

    Kusuma Cirebon.

    B. Analisis Nilai Akhlak yang Termuat pada

    Unsur Tari Topeng Rumyang.

    C. Analisis faktor yang mempengaruhi pembinaan

    akhlak melalui tari topeng di sanggar Wijaya

    Kusuma Cirebon.

    BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

    A. Simpulan

    B. Implikasi

    C. Saran

  • 31

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    A. Landasan Teori Pembinaan Akhlak

    1. Pengertian Pembinaan

    Pembinaan merupakan proses, perbuatan, cara

    membina, pembaharuan, penyempurnaan, usaha, tindakan,

    dan kegiatan yang dilakukan secara efesien untuk

    mendapatkan hasil yang lebih baik.26

    Menurut Maolani pembinaan didefinisikan sebagai

    upaya pendidikan baik formal maupun nonformal yang

    dilaksanakan secra sadar, berencana, terarah, dan

    bertanggung jawab dalam rangka menumbuhkan,

    membimbing, dan mengembangkan dasar-dasar

    kepribadian yang seimbang, utuh, dan selaras pengetahuan

    dan keterampilan sesuai bakat serta kemampuan-

    kemampuannya sebagai bekal untuk selanjutnya atas

    prakarsa sendiri untuk menambah, meningkatkan, dan

    mengembangkan dirinya, sesamanya maupun

    lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu, dan

    kemampuan manusiawi yang optimal dan pribadi

    mandiri.27

    Dalam melakukan kegiatan pembinaan, perlu adanya

    pendekatan yang harus diperhatikan oleh seorang pembina,

    yakni :

    26Muhammad Azmi, Pembinaan Akhlak Anak Usia Pra Sekolah,

    (Yogyakarta: Belukar, 2006) h.54 27 Syaepul Manan, “Pembinaan Akhlak Mulia Melalui Keteladanan dan

    Pembiasaan”. Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam 15, no.1 (2017): 522

  • 32

    a. Informative Approach (Pendektan Informatif)

    Adalah cara pendekatan program dengan

    menyampaikan informasi kepada peserta didik.

    Dlam hal ini, peserta didik dianggap belum

    mengetahui hal apapun terkait kegiatan pembinaan.

    b. Participative Approach (Pendekatan Partisipatif)

    Adalah peserta didik dimanfaatkan sehingga

    lebih ke situasi belajar bersama.

    c. Experienciel Approach (Pendekatan Eksperiensial)

    Adalah menempatkan peserta didik langsung

    terlibat di dalam pembinaan, ini disebut sebagai

    belajar yang sejati, karena pengalaman pribadi dan

    langsung terlibat dalam situasi tersebut.28

    Jadi, pembinaan adalah sebuah proses membina yang

    dilakukan secara sistematis yang bertujuan untuk

    membimbing dan mengembangkan pengetahuan atau ilmu

    yang sudah ada sehingga dapat mencapai hasil yang

    diharapkan.

    2. Fungsi Pembinaan

    Fungsi pembinaan menurut Atina Mutsla adalah untuk

    memelihara agar sumber daya manusia dalam organisasi

    taat asas dan konsisten dalam melakukan rangkaian

    kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

    Fungsi pembinaan ini mencakup tiga subfungsi, yaitu

    28 Mangunhadjana, Pembinaan, Arti, dan Metodenya, (Yogyakarta:

    Kanimus, 1986) h.17

  • 33

    pengawasan (controling), penyeliaan (supervising), dan

    pemantauan (monitoring).29

    Djudju Sudjana menjelaskan tentang subfungsi dari

    pembinaan, yaitu ;

    a. Pengawasan, pada umumnya dilakukan terhadap

    lembaga penyelenggara program;

    b. Penyeliaan, dilakukan terhadap pelaksana kegiatan;

    c. Pemantauan, dilakukan terhadap proses pelaksanaan

    program.

    Dengan demikian, fungsi pembinaan bertujuan untuk

    memelihara dan menjamin bahwa pelaksana program

    dilakukan secara konsisten sebagaimana direncanakan.30

    3. Pengertian Akhlak

    Menurut Al-Ghazali akhlak adalah sifat yang tertanam

    dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan dengan mudah

    tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan,

    sedangkan menurut Ibnu Miskawaih akhlak adalah sifat

    yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk

    melakukan perbuatan tanpa melakukan pemikiran dan

    pertimbangan atau akhlak adalah suatu sikap yang

    digerakkan oleh jiwa yang menimbulkan tindakan dan

    perbuatan manusia baik terhadap Tuhan, sesama manusia,

    atau diri sendiri.31

    29 Atna Mutsla “Manajemen Pembinaan Akhlak Narapidana di Rumah

    Tahanan (Rutan) Kelas II B Boyolali” (Tesis, IAIN Surakarta, 2018) h.28 30 Djudju Sudjana, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah

    (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2008) h.218 31 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta: Salemba

    Diniyah, 2018) h.13

  • 34

    Nurcholis Madjid menjelaskan tentang akhlak bahwa

    kata akhlak atau khuluq merupakan akar yang sama dengan

    khalq, khaliq, dan makhluq, di mana semuanya mengacu

    dalam pandangan dasar Islam mengenai penciptaan

    manusia, yaitu manusia diciptakan dalam kebaikan,

    kesucian, dan kemuliaan (ahsan at-taqwim). Manusia akan

    terbimbing ke arah akhlak yang mulia jika beriman kepada

    Allah Swt. dengan syarat mereka menerjemahkan imannya

    menjadi tingkah laku yang bertanggung jawab terhadap

    sesama manusia.32

    Menurut Jamil Shaliba dalam buku Prof. Dr. H.

    Abudinn Nata, M.A. yang berjudul Akhlak Tasawuf,

    terdapat dua pendekatan dalam mendefinisikan akhlak,

    yaitu linguistik (kebahasaan) dan terminologik

    (peristilahan). Berdasarkan pendekatan kebahasaan, akhlak

    berasal dari bahasa Arab yaitu isim mashdar (bentuk

    infinitif) dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai

    dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu,

    if’alan yang memiliki arti al-saliyah (perangai), ath-

    thabi’ah (kelakuan. Tabi’at, watak dasar), al-‘adat

    (kebiasaan, kelaziman) al-maru’ah (peradaban yang baik),

    dan al-din (agama)33

    Namun, menurut Abuddin Nata, pengertian di atas

    terasa kurang tepat. Dilihat dari isim mashdar dari kata

    32 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta: Salemba

    Diniyah, 2018) h.14 33 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.1

  • 35

    akhlaqa bukanlah akhlaq, tetapi ikhlaq. Berdasarkan hal

    itu, maka terdapat pendapat yang mengatakan bahwa

    secara linguistik kata akhlaq merupakan isim jamid atau

    isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar

    kata, melainkan kata yang benar adanya. Kata akhlaq

    adalah jamak dari kata khilqun atau khuluqun yang

    memiliki arti yang sama dengan menjelasan sebelumnya.

    Kedua kata tersebut dapat kita jumpai di dalam al-Qu’an

    maupun haidts, contohnya :

    ٍق َعِظيٍم ُلُٰى خ

    ََعل

    ََك ل َوِإنَّ

    Artinya : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi

    pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam,68:4) 34

    ِليَن وََّ ُْق اْل

    ُلُ خ

    َّا ِإِل

    َذٰ ِإْن َه

    Artinya : “(Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat

    kebiasaan yang dahulu.” (Q.S. Al-Syu’ara,26:137) 35

    ًقاُلُْحَسُنُهْم خ

    َِمِنْيَن ِإْيَماًنا أ

    ُْمؤ

    َْمُل ال

    ْكَ أ

    Artinya : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya

    adalah yang terbaik akhlaknya” (HR At-Tirmidzi no

    1162)36

    Menurut Abudin Nata, terdapat lima ciri yang termuat

    dalam perbuatan akhlak, yakni:

    34 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.564 35 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.373

  • 36

    a. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah

    tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah

    menjadi kepribadiannya;

    b. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan

    dengan mudah dan tanpa pemikiran;

    c. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari

    dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada

    paksaan atau tekana dari luar;

    d. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan

    dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena

    bersandiwara;

    e. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan

    karena ikhlas semata-mata karena Allah Swt. bukan

    karena ingin dipuji orang atau karena ingin

    mendapatkan suatu pujian.37

    Dalam pengertian umum, akhlak merupakan sebuah

    sistem lengkap yang terdiri atas karakteristik-karakteristik

    akal atau tingkah laku yang membuat orang menjadi

    istimewa. Karakteristik tersebut membentuk kerangka

    psikologi seseorang dan membuatnya berperilaku sesuai

    dengan dirinya dan nilai yang cocok dengan dirinya dalam

    kondisi yang berbeda-beda.terdapat 4 hal yang harus ada

    apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak, yaitu :

    a. Perbuatan yang baik atau buruk;

    37 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h. 4-6

  • 37

    b. Kemampuan melakukan perbuatan;

    c. Kesadaran akan melakukan perbuatan;

    d. Kondisi jiwa yang membuat kecenderungan

    melakukan suatu perbuatan.38

    4. Pembinaan Akhlak

    Pembinaan menurut Nanang Fattah adalah usaha,

    tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efesien dan

    efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik.39

    Sedangkan akhlak menurut Ibnu Miskawaih, akhlak

    adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong

    untuk melakukan perbuatan tanpa melakukan pemikiran

    dan pertimbangan atau akhlak adalah suatu sikap yang

    digerakkan oleh jiwa yang menimbulkan tindakan dan

    perbuatan manusia baik terhadap Tuhan, sesama manusia,

    atau diri sendiri.40

    Pembinaan akhlak merupakan perhatian utama dalam

    Islam, sebagaimana dari tujuan Nabi Muhammad Saw.

    diutus oleh Allah Swt. untuk menyempurnakan akhlak.

    Fakta di lapangan, pembinaan akhlak telah dilakukan di

    berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam

    metode yang digunakan. Ini menegaskan bahwa akhlak

    haruslah dibina dan pembinaan ini ternyata membawa hasil

    38 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta:Salemba

    Diniyah, 2018) h.11 39 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa

    Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), cet.III, h. 152. 40 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta:Salemba

    Diniyah, 2018) h.13

  • 38

    berupa terbentuknya pribadi muslim yang berakhlak mulia,

    taqwa kepada Allah Swt. dan taat kepada Rasul-Nya.41

    Sehingga dapat dipahami bahwa pembinaan akhlak

    adalah upaya yang dilakukan secara efesien dan efektif

    untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam hal akhlak.

    Pembinaan akhlak juga dapat dikatakan sebagai usaha

    untuk membentuk akhlak menjadi akhlak mulia, yang bisa

    menjadikan yang dibina menjadi lebih baik lagi.

    Dalam Pancasila sila ke-2 yang berbunyi

    “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, sejalan dengan

    tujuan dilaksanakannya pembinaan akhlak yakni

    membentuk manusia yang berbudi luhur, beradab, atau

    berakhlak mulia.

    5. Ruang Lingkup Akhlak

    Akhlak Islam adalah sama dengan ajaran ruang lingkup

    ajaran Islam itu sendiri yang mencakup berbagai aspek,

    yaitu dimulai dari akhlak terhadap Allah, sesama manusia,

    dan lingkungan.42 Ketiga aspek tersebut diuraikan sebagai

    berikut :

    a. Akhlak terhadap Allah

    Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai

    sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan

    41 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.163-164. 42 Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan,1998) h.261

  • 39

    oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan

    sebagai khalik.43

    Bentuk-bentuk perbuatan yang termasuk dalam

    berakhlakul karimah ke pada Allah diantaraya

    mencintai Allah, bertaubat, mensyukuri nikmat-

    Nya, ridha dan ikhalas terhadap segala keputusan-

    Nya, selalu berdo’a kepada-Nya, beribadah,

    meniru-niru sifat-Nya, dan berusaha mencari

    keridhaan-Nya dan sebagainya.44

    Quraish Shihab menyatakan bahwa tolak ukur

    berkahlak terhadap Allah adalah terwujud ke dalam

    bentuk pengakuan dan kesadaran bahwa tidak ada

    Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat terpuji,

    demikian agung sifat itu, jangankan manusia,

    malaikatpun tidak akan mampu menjangkau

    hakikat-Nya. Berkanaan dengan akhlak terhadap

    Allah dilakukan dengan banyak cara memuji-Nya,

    dilanjutkan dengan senantiasa bertawakal kepada

    Allah yakni menjadikan Tuhan sebagai satu-

    satunya yang menguasai diri manusia.45

    Menurut Veithzal dkk, menyatakan bahwa

    bahwa di antara akhlak yang harus dimiliki seorang

    43 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.149 44 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.262 45Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.151

  • 40

    hamba ketika bermuamalah dengan Rabbnya antara

    lain :

    1) Ikhlas ketika beribadah kepada Allah

    Dalam satu hadis disebutkan bahwa nabi

    Muhammad SAW bersabda, dari sahabat

    Mu’adz bin Jabal, berkata: “Suatu hari aku

    dibonceng Rasulullah di atas keledai,beliau

    berkata kepadaku: ‘Wahai Mu’adz, tahukah

    kamu apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa

    hak hamba atas Allah?’ Akupun berkata: ‘Allah

    dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Maka

    beliaupun berkata: ‘Hak Allah atas hamban-

    Nya adalah agar mereka beribadah hanya

    kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya

    dengan sesuatu apapun. Hak hamba atas Allah

    adalah Dia tidak akan mengazab orang yang

    tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu

    apapun.” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi). Lalu Allah

    Swt. menjanjikan kepada para Hamba-Nya

    yang bertauhid (memurnikan ibadah hanya

    kepada Allah Swt.) berupa kenikmatan surga.

    Rasulullah Saw. besabda: “Barang siapa yang

    berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak

    berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatupun,

  • 41

    maka dia akan masuk al-jannah” (HR. Muslim,

    dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah).46

    Karena kita manusia memang diciptakan untuk

    beribadah kepada Allah, seperti firman Allah

    sebagai berikut:

    ِلَيْعُبُدْوِن َّ

    َس ِاِلْن ِْ

    ِجنَّ َواِلْْقُت ال

    َلَ٦٥ -َوَما خ

    Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan

    manusia melainkan agar mereka beribadah

    kepada-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat: 56)47

    2) Menjauhi Perbuatan Syirik

    Syirik merupakan salah satu dosa besar dan

    tidak mengampuni dosa syirik, menjauhi

    perbuatan syirik adalah hal yang wajib

    dilakukan oleh umat muslim. Ganjaran bagi

    umat islam yang berbuat syirik dapat

    menghapus amal kebaikan yang telah

    dikerjakan.48 Allah Swt. berfirman:

    نَّ ََيْحَبط

    ََت ل

    َْرك

    ْش

    َْن ا ىِٕ

    َ ل

    َْۚبِلَك

    َِذْيَن ِمْن ق

    َّى ال

    َْيَك َوِال

    َْوِحَي ِال

    ُْد ا

    َقَ َول

    َك ُِسِرْيَن َعَمل

    ٰخ

    ْنَّ ِمَن ال

    َْون

    َُتك

    َ ٥٦ -َول

    Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan

    kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang

    sebelummu, ‘Sungguh jika kamu

    mempersekutukan (Allah), niscaya akan

    46 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta: Salemba

    Diniyah, 2018) h.259 47 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.523 48 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta: Salemba

    Diniyah, 2018) h.259

  • 42

    hapuslah amalmu dan tentulah engkau

    termasuk orang yang rugi.” (Q.S. Az-Zumar:

    65)49

    3) Bersukur kepada Allah

    Bersyukur kepada Allah bisa dilakukan dengan

    cara memperbanyak ibadah dan sebagainya.

    Dalam Al-Qur’an, Alah Swt. berfirman tentang

    orang yang bersyukur,

    اَْم ِانَّ َعذ

    ُْرت

    َفَْن ك ىِٕ

    َْم َول

    ُك ِزْيَدنَّ

    َ َْم ِل

    ُْرت

    َك

    َْن ش ىِٕ

    َْم ل

    ُك َن َربُّ

    َّذَاَ تْ َوِاذ

    ِدْيٌد َش

    َ ٧ –ِبْي ل

    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu

    memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu

    bersyukur, niscaya Aku akan menambah

    (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu

    mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku

    sangat berat.” (Q.S. Ibrahim:7)50

    4) Bersabar karena Allah

    Sabar terdiri dri tiga macam, yaitu sabar dlam

    menjalankan ketaatan pada Allah Swt. sabar

    dalam meninggalkan larangan Allah Swt. sabar

    dalam menghadapi takdir Allah Swt. Allah

    sudah menjanjikan pahala yang besar dan tidak

    terbatas bagi orang yang bersabar. Allah

    menyebutkan tetang sabar di sembilan puluh

    tempat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya ada

    49 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.465 50 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.265

  • 43

    tiga ayat yang menyatakan bahwa sabar

    termasuk ‘azmul umur, yakni perkara yang

    sangat dianjurkan dan ditekankan oleh Allah

    Swt.51 Salah satu dari tiga itu adalah:

    واُْوتُِذْيَن ا

    َّْسَمُعنَّ ِمَن ال

    َتَ َول

    ْۗم

    ُُفِسك

    ْنَْم َوا

    ُْمَواِلك

    َ آْ ِفْي

    ُونََُّتْبل

    َ ل

    ْم ُْبِلك

    َِكٰتَب ِمْن ق

    ْ ال

    َُرك

    ْش

    َِذْيَن ا

    َِّثْيًراۗ َوِاْن َوِمَن ال

    َى ك

    ًذَا ا

    ْٓ ْو

    ُمْوِر ُ ِْلَك ِمْن َعْزِم اِل

    ِٰانَّ ذ

    َُقْوا ف تَّ

    َْصِبُرْوا َوت

    َ ٢٨٥ -ت

    Artinya: “Kamu pasti akan diuji dengan

    hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan

    mendengar banyak hal yang sangat

    menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi

    Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang

    musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa,

    maka sesungguhnya yang demikian itu

    termasuk urusan yang (patut) diutamakan.”

    (Q.S. Ali Imran:186)52

    5) Bertaubat

    Seorang muslim yang baik adalah yang selalu

    melihat dan mengoreksi dirinya. Ketika melihat

    dirinya telah berbuat kesalahan atau dosa, maka

    diapun segera bertaubat dan meminta ampun

    kepada Allah Swt. Begitulah perintah

    Rasulullah Saw. kepada umatnya sebagaimana

    dalam sabdanya. Dari sahabat al-Aghar bin

    Yasar al-Muzani berkata: “Rasulullah Saw.

    51 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta:Salemba

    Diniyah, 2018) h.265 52 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.74

  • 44

    bersabda: ‘Wahai kaum muslimin, bertaubatlah

    kalian kepada Allah dan minta ampun kepada-

    Nya seratus kali dalam sehari’”(HR. Muslim)53

    Juga Allah berfirman dalam surat at-Tahrim

    ayat 8 yang berbunyi:

    َمُنوْ ِٰذْيَن ا

    ََّها ال يُّ

    َآْْم ٰي

    ُك ى َربُّ َعس ٰ

    ُۗصْوًحا نَّ

    ًْوَبة

    َِه ت

    ّٰى الل

    َا ِال

    ْْٓوُبْو

    ُ ا ت

    ْحِتَهاَْجِرْي ِمْن ت

    ٍَت ت ْم َجنّٰ

    ُكَْم َوُيْدِخل

    ُِتك

    ٰا ِْم َسي

    َُر َعْنك ِ

    ف َك ْن يُّ

    َ ا

    ْوُرُهْم ُ نَمُنْوا َمَعه َۚ

    ِٰذْيَن ا

    َِّبيَّ َوال ُه النَّ

    ِّٰزى الل

    ْ ُيخ

    َ َيْوَم ِل

    ُْۙنٰهُر

    َ ْ اِل

    ا َيْسٰعى بَ َْوَرن

    َُنا ن

    َِمْم ل

    ْتَ آَْنا ْوَن َربَّ

    ُْيَماِنِهْم َيُقْول

    َْيِدْيِهْم َوِبا

    َ ْيَن ا

    ِدْيٌر َْيٍء ق

    َِ ش

    ل ُى ك

    َٰك َعل ِانَّ

    ََۚناَِفْر ل

    ْ ٨ -َواغ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman!

    Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang

    semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan

    kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu

    dan memasukkan kamu ke dalam surga yang

    mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada

    hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan

    orang-orang yang beriman bersama

    dengannya; sedang cahaya mereka memancar

    di hadapan dan di sebelah kanan mereka,

    sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami,

    sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan

    ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa

    atas segala sesuatu.” (Q.S. At-Tahrim:8)54

    b. Akhlak terhadap Sesama Manusia

    Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-

    Qur’an berkaitan dengan perlakuakn terhadap

    53 Veithzal Rivai Zainal, dkk, Manajemen Akhlak (Jakarta:Salemba

    Diniyah, 2018) h.265 54 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.561

  • 45

    sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan

    hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal

    negatif seperti membunuh, meyakiti badan, atau

    mengambil harta dengan alasan yang tidak benar,

    melainkan juga sampai kepada menyakiti hati

    dengan jalan menceritakan aib seseorang di

    belakangnya, tidak peduli aib itu benar atau salah,

    walaupun sambil memberikan materi kepada yang

    disakiti hatinya itu.55

    c. Akhlak terhadap lingkungan

    Yang dimaksud dengan lingkungan di sini

    adalah segala sesuatu yang berada di sekitar

    manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan,

    maupun benda-benda tak bernyawa. Mereka

    semuanya diciptakan oleh Allah Swt. dan menjadi

    milik-Nya, semuanya memiliki ketergantungan

    kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang

    muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah

    “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara

    wajar dan baik.56

    d. Akhlak kepada diri sendiri

    Selain ketiga ruang lingkup di atas, terdapat

    akhlak terhadap diri. Dalam Islam, kita diwajibkan

    55 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.151 56 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rahagrafindo Persada,

    2011) h.152

  • 46

    berakhlak yang baik terhadap diri sendiri.57 Karena

    berbuat baik terhadap diri sendiri adalah salah satu

    tanda kita mensyukri nikmat yang telah Allah Swt.

    limpahkan kepada diri kita.

    Wujud berakhlak kapada diri sendiri adalah

    dengan memberinya hak-hak diri dan tidak

    mengebirinya. Seperti memberinya makanan yang

    halal dan baik, menjauhkannya dari makanan dan

    minuman yang haram dan membawa mudharat,

    serta menikah apabila sudah mampu. Ada hak diri

    yang lebih penting, yaitu membiasakan untuk selalu

    melkaukan kebagikan dan tidak menganiaya

    denganb erbuat keburukan ataupun kemaksiatan.

    Sebab, seseorang dikatakan telah berbuat ihsan

    kepada dirinya sendiri apabila mampu

    mengendalikan dan mengarahkan untuk ketaatan

    kepada Allah dan Rasul-Nya.

    ىهَ َما َسوّٰ ( قَدْ اَْفلََح َمنْ ٨( فَاَْلَهَمَها فُُجْوَرَها َوتَْقٰوىَهۖا )٧ۖا )َونَْفٍس وَّ

    (٠١( َوقَدْ َخاَب َمْن دَسّٰىَهۗا )٩َزكّٰىَهۖا )

    Artinya: “demi jiwa serta penyempurnaan

    (ciptaan)nya,maka Dia mengilhamkan kepadanya

    (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh

    beruntung orang yang menyucikannya (jiwa

    itu),dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

    (Q.S. Asy-Syams:7-10)58

    57 Ummu Ihsan dan Abu Ihsan Al-Atsari, Aktualisasi Akhlak Muslim,

    (Jakarta: PT. Pustaka Imam Asy-Syafii, 2014) Cet. ke-3, h.384 58 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi Tahun

    2005. Bandung: CV Penerbit J-ART. h.595

  • 47

    ـُْٔوا ِخَرةِ ِليَس ۤ اِْن اَْحَسْنتُْم اَْحَسْنتُْم ِِلَْنفُِسُكْم َۗواِْن اََسأْتُْم فَلََهۗا فَِاذَا َجۤاَء َوْعدُ اِْلٰ

    ِليُتَب ُِرْوا َما َعلَْوا تَتْبِْيًرا ُوُجْوَهُكْم َوِليَدُْخلُوا ةٍ وَّ َل َمرَّ اْلَمْسِجدَ َكَما دََخلُْوهُ اَوَّ

    (٧)

    Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu

    berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu

    berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk

    dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman

    (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan

    musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu

    mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa),

    sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama

    kali dan mereka membinasakan apa saja yang

    mereka kuasai.” (Q.S.Al-Isra:7)59

    Menurut KH. Abdullah Salim, akhlak terhadap

    diri sendiri meliputi:

    1) Hindarkan minum racun

    Setiap muslim yang menjaga dirinya sebai

    suatu kewajiban, untuk tidak meacuni dirinya

    dnegan minum alkohol, narkotika atau

    kebiasaan buruk klainnya yang merugikan diri

    sendiri dan bersifat merusak.

    2) Hindarkan perbuatan yang tidak baik

    Merupakan akhlak seorang muslim untuk

    tidak menganjurkan melakukan sesuatu yang

    taidak baik, tetapi dirinya sendiri tidak bersedia

    melaksanakan apa yang dianjurkannya.

    ْوَن ُْفَعل

    َ ت

    َْوا َما ِل

    ُُقْول

    َْن ت

    َِه ا

    ُّٰبَر َمْقًتا ِعْنَد الل

    َ ٣ -ك

    59 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.262

  • 48

    Artinya: “(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah

    jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak

    kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaff:3)60

    3) Pelihara kesucian jiwa

    Pembersihan dan pensucian diri dilakukan

    secara terus menerus sebagai landasan amal

    soleh mereka. Untuk keperluan memelihara

    kebersihan diri dan kesucian jiwa secara teratur,

    tersedia pelembagaan sebagai berikut :

    a) Taubat

    Senantiasa menyadari apabila seseorang

    telah melakukan suatu kesalahan dan

    merasa menyesal atas perbuatan yang salah,

    karena telah melakukan pelanggaran

    ketentuan ilahi, maka ia harus bertaubat.

    Selanjutnya ia berjanji kepada dirinya untuk

    tidak melakukan lagi kesalahan tersebut,

    selama sisa umurnya.

    Taubat pada hakikatnya adalah

    dimaknai “kembali”. Kata taba berarti

    kembali, maka tobat maknanya juga

    kembali. Artinya kembali dari sesuatu yang

    60 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.551

  • 49

    dicela dalam syari’at menuju sesuatu yang

    dipuji dalam syari’at.61

    b) Muroqabah

    Usaha pendekatan diri kepada Allah

    Swt. senantiasa mengingat-Nya dalam tiap

    detik kehidupannya sampai ia mencapai

    suatu keyakinan bahwa Allah Swt. selalu

    mengawasi dan menjaganya, memenuhi

    segala keperluannya, mengetahui segala

    rahasia dan membimbingnya dalam

    pelaksanaan kewajiban amaliyah. Dengan

    keyakinan tersebut ia akan tiba pada

    menyadari kebesaran, keagungan,

    kemurahan Allah yang Rahman dan Rahim.

    c) Muhasabah

    Selalu mengadakan perhitungan laba

    dan rugi mengenai jalan hidupnya, dengan

    mempergunakan norma-norma yang tetap

    abadi dan azali, sesuai dengan petunjuk

    agama.

    d) Mujahadah

    Sikap jihad, yaitu bekerja keras dengan

    sungguh-sungguh adalah suatu sikap yang

    harus selalu mengiringi tindak lkau

    61 Abul Qasim Abdul Karim Hazawin Al-Qusyairi An-Naisaburi, Ar-

    Risalatul Qusyairiyah fi ‘ilmi Tashawwuf, diterjemahkan oleh Umar Faruq,

    (Jakarta: Pustaka Amani, 2007) h.115

  • 50

    perbuatan seorang muslim. Ia sadar bahwa

    musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri,

    hawa nafsunya yang selalu cenderung

    kepada perbuatan buruk yang tidak terpuji.

    َما َرِحَم َّ

    ِء ِاِلْْۤو ۢ ِبالسُّ

    ٌاَرة مَّ

    َ َْفَس ِل ْيَۚ ِانَّ النَّ ْفس ِ

    َُِئ ن

    َبر ُ آْ َوَما

    ِحْيٌم ُفْوٌر رََّْي غ ِ

    ِانَّ َرب ْيۗ ِ (٦٣) –َرب

    Artinya : “Dan aku tidak (menyatakan)

    diriku bebas (dari kesalahan), karena

    sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong

    kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang

    diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya

    Tuhanku Maha Pengampun, Maha

    Penyayang” (Q.S. Yusuf:53)62

    e) Taat beribadah

    Tiap kesempatan seorang muslim harus

    memacu dirinya untuk berbuat sesuatu

    dengan petunjuk dan bimbingan Allah dan

    Rasul-Nya, bukan menurutkan dorongan

    selera dan hasrat nafsunya.

    َمَع ََه ل

    ّٰ َوِانَّ الل

    َۗناَُهْم ُسُبل َنْهِدَينَّ

    َِذْيَن َجاَهُدْوا ِفْيَنا ل

    َّ َوال

    ْحِسِنْيَن ُ ْ ٥٦ - ࣖاْل

    Artinya : “Dan orang-orang yang berjihad

    untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan

    tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.

    Dan sungguh, Allah beserta orang-orang

    yang berbuat baik.” (Q.S. Al-

    Ankabut:69)63

    62 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.242 63 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV

    Penerbit J-ART, 2005) h.404

  • 51

    4) Pemaaf dan memohon maaf

    Menjadi umat yang pemaaf adalah mudah,

    tetapi untuk minta maaf apabila seseorang

    melakukan kekhilafan terhadap orang lain

    sungguh sangat sukar, karena merasa malu.

    Memberi maaf dan mohon maaf hanya ada pada

    sifat umat yang berjiwa besar dan ikhlas.

    اَن ََه ك

    ِّٰانَّ الل

    ٍَء ف

    ْْۤعُفْوا َعْن ُسْو

    َْو ت

    َُفْوُه ا

    ْخ

    ُْو ت

    َْيًرا ا

    َْبُدْوا خ

    ُ ِاْن ت

    ِدْيًرا َا ق ٢٤٦ –َعُفوًّ

    Artinya : “Jika kamu menyatakan sesuatu

    kebajikan, menyembunyikannya atau

    memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka

    sungguh, Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa.”

    (Q.S.Annisa :149)64

    5) Sikap sederhana dan jujur