PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DALAM MEMBINA ...repository.uinjambi.ac.id/4126/1/skripsi dany...

of 91 /91
i PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DALAM MEMBINA AKHLAK SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH NURURRODHIYAH KOTA JAMBI SKRIPSI MUHAMMAD DANY KUSNADI NIM. TP. 161 519 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI 2020

Embed Size (px)

Transcript of PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DALAM MEMBINA ...repository.uinjambi.ac.id/4126/1/skripsi dany...

  • i

    PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DALAM MEMBINA AKHLAK

    SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH NURURRODHIYAH

    KOTA JAMBI

    SKRIPSI

    MUHAMMAD DANY KUSNADI

    NIM. TP. 161 519

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SULTHAN THAHA SAIFUDDIN

    JAMBI

    2020

  • ii

  • iii

  • iv

  • v

  • vi

    ABSTRAK

    Nama : Muhammad Dany Kusnadi

    Jurusan/Fakultas : Pendidikan Agama Islam/Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

    Keguruan

    Judul : Pembelajaran Aqidah Akhlak dalam membina Akhlak

    Siswa di Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah Kota

    Jambi.

    Skripsi ini membahas tentang pembelajaran Aqidah akhlak dalam membina

    akhlak siswa di Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah Kota Jambi. Penelitian ini

    bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran Aqidah akhlak di MTs

    Nururrodhiyah ini dapat membina akhlak siswa-siswinya. Dan fokus kajian

    penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Aqidah akhlak

    dalam membina akhlak siswa. Penulis dalam penelitian ini menggunakan

    penelitian kualitatif dan dalam pengambilan subjek penelitian menggunakan

    metode purposive sampling. Banyak hal yang dilakukan oleh peneliti dilapangan

    untuk mengumpulkan data mulai dari observasi, wawancara dan dokumentasi

    yang dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah Kota Jambi.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran Aqidah

    terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan penutup. Guru menggunakan metode

    ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Dengan adanya pembelajaran Aqidah

    akhlak mampu membentuk perilaku siswa dalam berinteraksi terhadap sang

    pencipta, lingkungan, maupun terhadap sesama manusia. Adapun kendala yang

    dihadapi guru aqidah akhlak dalam membina akhlak siswa yaitu dari pihak guru

    kurang menguasai teknologi seperti laptop dan infocus, dari pihak sekolah yaitu

    penyediaan sarana dan prasarana yang masih terbatas, dari pihak siswa yaitu

    peserta didiknya juga masih belum memperhatikan pembelajaran ataupun

    perlengkapan lain yang menunjang proses pembelajaran. Solusi untuk mengatasi

    kendala tersebut yaitu guru aqidah akhlak berusaha terus mempelajari tehnologi

    agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman, dari pihak sekolah berusaha

    melengkapi fasilitas yang belum memadai guna menunjang lancarnya proses

    pembelajaran, serta guru aqidah akhlak memberikan teguran terhadap siswa yang

    tidak mengikuti proses pembelajaran dengan baik yang kemudian jika masih

    belum ada perubahan maka akan diserahkan kepada waka kesiswaan untuk

    kemudian ditindak lanjuti.

    Kata kunci: Pembelajaran Aqidah Akhlak, Membina akhlak, Siswa

  • vii

    ABSTRACT

    Name : Muhammad Dany kusnadi

    Major/Faculty : Education of Islamic Study/Faculty of Education and

    Teacher Training

    Title : Aqidah Learning in Fostering The Morals of students

    in Islamic Junior High School Nururrodhiyah Jambi

    This thesis discusses the learning of aqedah morals in fostering the morals of

    students in Islamic junior high school Nururrodhiyah Jambi city. This study aims

    to determine wheather the learning of moral aqeedah in Islamic junior high school

    Nururrodhiyah can foster the morals of the student. And the focus of this research

    study is to determine the implementation of the learning of aqeedah morals in

    fostering student morals. The writerin this study uses qualitative research and in

    taking research subjects using purposive sampling method. Many things are done

    by researchers in the field to collect data starting from interview observation and

    documentation conducted in islamic junior high school.

    The result of this study indicate that the implementation of aqedah learning

    consist of initial activities, core activities and closing, and assignments. With the

    learning of moral aqedah able to shape student behavior in interacting with the

    creator, the environment, and with fellow human beighs.as for the obtacles

    possessed by the techear aqedah morals in fostering the moral of student that is

    the teacher lacks mastering technology such as laptops and infocus. From the

    student , the student, they also still do not pay attention to learning or other

    equipment that support the learning process. The solution to overcome these

    obstacles is that the aqidah morality teacher tries to continue to study technology

    so as not to be left behind by the times, that the school tries to complete

    inadequate facilities to support the smooth learning process, and the aqedah

    teacher gives a reprimand tu student who do not follow the learning process well

    then if theree is still no change it will be handed over the student waka for later

    follewed up.

    Keywords : learning aqidah morals, fostering morality. students

  • viii

    MOTTO

    Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun

    perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan

    Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya

    akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih

    baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(Q.S. An-Nahl : 97)

    (Anonim, Al-qur’an dan Terjemahan, 2010)

  • ix

    PERSEMBAHAN

    Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyanyang.

    Dengan rasa syukur dan bahagia kupersembahkan skripsi ini untuk

    Ayahanda Kusnadi dan Ibunda R.Endang sudarno

    dengan selalu memperjuangkan hidupku dengan penuh kesabaran,

    cinta dan kasih sayang, sebagai bukti dan rasa banggaku,

    selalu ada do’a agar beliau diberikan kesehatan,

    umur panjang dan terutama selalu ta’at beribadah pada Allah SWT.

    Dengan didikan dan pengorbanan yang tak terhingga kepadaku,

    sehingga aku bisa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, Berguna

    bagi Agama, Bangsa dan terlebih mampu dalam menjalani kehidupan

    dimasyarakat

    untuk sahabatku Fahma Syariati yang terus memotivasi hidupku, Kuucapkan

    terima kasih yang tak terhingga atas segala yang telah diberikan dan perjalan

    hidupku

    Juga untuk teman-teman seperjuanganku yang selalu

    mendukung dan memotivasi, memberi arahan serta masukan

    sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

    Dan semoga Allah memberikan berkah dan ridho-Nya kepada kita semua.

    Aaamiiin ya Robbal’alamin.

  • x

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan yang maha ‘Alim

    yang kita tidak mengetahui kecuali apa yang diajarkannya, atas iradahnya hingga

    skripsi ini dapat dirampungkan. Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad Saw

    pembawa risalah pencerahan bagi manusia.

    Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat

    akademik guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Tarbiyah

    dan Keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Penulis menyadari

    sepenuhnya bahwa penyelesaian skripsi ini banyak melibatkan pihak yang telah

    memberikan motivasi, baik moril maupun materil. Untuk itu, melalui kolom ini

    Penulis ingin menyampaikan terimah kasih dan penghargaan kepada:

    1. Bapak Prof. Dr. H. Su’aidi Asy’ari, MA, Ph.D selaku Rektor UIN Sulthan

    Thaha Saifuddin Jambi.

    2. Ibu Dr. Hj. Fadhlilah, M. Pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

    Keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

    3. Bapak Dr.H.Lukman Hakim Dan Bapak Habib Muhammad S.Ag M.Ag selaku

    Dosen pembimbing I dan II yang telah meluangkan waktu dan mencurahkan

    pemikirannya demi mengarahkan Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

    4. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah rela

    mengorbankan waktu, tenaga dan pemikirannya untuk setia mendidik dan

    membimbing kami dari semester 1 hingga menjadi sarjana dan para karyawan

    dan staf yang berada di ruang lingkup Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan.

    5. Bapak Kepala Sekolah, beserta guru dan siswa di MTs Nururrodhiyah Kota

    Jambi yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam memperoleh

    data dilapangan.

    6. Sahabat-sahabat mahasiswa seperjuangan yang telah menjadi pathner diskusi

    dalam penyusunan skripsi ini.

  • xi

    Akhirnya semoga Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan dan

    amal semua pihak yang telah membantu. Semoga skirpsi ini bermanfaat bagi

    pengembangan ilmu pengetahuan. Aaamiiin.

    Jambi, April 2020

    Penulis

    Muhammad Dany k

    NIM. TP. 161 519

  • xii

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

    NOTA DINAS ................................................................................................. ii

    PENGESAHAN............................................................................................... iii

    PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................................ iv

    ABSTRAK ...................................................................................................... v

    ABSTRACT ..................................................................................................... vi

    MOTTO.... ...................................................................................................... vii

    PERSEMBAHAN ........................................................................................... viii

    KATA PENGANTAR .................................................................................... ix

    DAFTAR ISI ................................................................................................... xi

    DAFTAR BAGAN…………………………………………………………. . xiii

    DAFTAR TABEL........................................................................................... xiv

    DIX .......................................................................................................

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

    B. Fokus Penelitian ............................................................................ 6

    C. Rumusan Masalah ......................................................................... 6

    D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian................................................... 6

    BAB II PEMBAHASAN

    A. LandasanTeori ............................................................................... 8

    B. Studi Relevan ................................................................................ 25

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    A. Metode dan Desain Penelitian ....................................................... 25

    B. Setting dan Subjek Penelitian ........................................................ 29

    C. Jenis dan Sumber Data ................................................................... 29

    D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 30

  • xiii

    E. Teknik Analisis Data ..................................................................... 32

    F. Uji keterpercayaan Data ................................................................ 35

    G. Jadwal Penelitian........................................................................ ... 37

    BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN

    A. Temuan Umum .............................................................................. 38

    B. Temuan Khusus dan Pembahasan.............................................. ... 46

    1. Keadaan akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah ............................ 46

    2. Pelaksanaan pembelajaran aqidah akhlak dalam membina akhlak

    siswa di MTs Nururrodhiyah .................................................... 51

    3. Kendala yang di hadapi guru aqidah akhlak dalam membina akhlak

    siswa di MTs Nururrodhiyah......................................... .......... 56

    4. Solusi dalam menghadapi kendala yang terjadi.......................... 57

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ................................................................................... 59

    B. Saran .............................................................................................. 60

    C. Kata Penutup ................................................................................. 61

    DAFTAR PUSTAKA

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • xiv

    DAFTAR BAGAN

    4.1 Daftar Struktur organisasi MTs Nururrodhiyah........................... 32

  • xv

    DAFTAR TABEL

    3.1 Jadwal Penelitian .................................................................................... 37

    4.1 Nama-nama Kepala Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah................. . 39

    4.2 Struktur organisasi badan pelaksanaan pendidikan.............................. .. 39

    4.3 Daftar nama-nama guru MTs Nururrodhiyah......................................... 42

    4.4 Daftar nama guru wali kelas................................................................... 43

    4.5 Daftar keadaan siswa MTs Nururrodhiyah............................................. 44

    4.6 Keadaan gedung MTs Nururrodhiyah.................................................... 45

    4.7 Keadaan sarana dan prasarana MTs Nururrodhiyah............................. .. 45

  • 1 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Dalam proses pembelajaran banyak ditemukan problem di dalamnya,

    baik itu dari guru, siswa, maupun dari materi pembelajarannya.

    Pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan. Di dalamnya terjadi

    interaksi antara berbagai komponen, yaitu guru, siswa, danmateri pelajaran

    atau sumber belajar. Interkasi antara tiga komponen utama ini melibatkan

    sarana dan prasarana seperti metode, media, dan penataan lingkungan

    tempat belajar, sehingga tercipta suatu proses pembelajaran yang

    memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan.(Heri Gunawan,

    2014, hal. 116)

    Kurikulum 2013 mengisyaratkan bahwa pembelajaran merupakan

    proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk

    mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama

    semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang

    diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta

    berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Oleh karena itu,

    kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi

    pesera didik menjadi kompetensi yang diharapkan.(Asis Saefudin, 2016,

    hal.8)

    Pada hakikatnya pendidikan adalah suatu lembaga baik formal

    maupun non formal yang dapat memberikan latihan dan segala hal yang

    memperluas pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan tentang dunia

    tempat mereka hidup, pendidikan juga merupakan suatu proses

    membimbing manusia dari kegelapan, kebodohan, dan pencerahan

    pengetahuan. (M. Yatimin Abdullah, 2007, hal.21)

    Di sekolah yang bernaung di bawah Kementerian Agama, aqidah

    akhlak merupakan sebuah mata pelajaran khusus yang wajib untuk

    dipelajari. Dengan tujuan agar siswa memiliki pengetahuan dan keyakinan

  • 2

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    yang benar terhadap hal-hal yang harus diimani. Serta mempunyai akhlak

    yang mulia, sopan santun dan menjadi muslim sejati yang mengikuti

    akhlaknya Rasulullah Saw. Berdasarkan firman Allah Swt :

    Artinya :“Sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti

    yang luhur” (Q.S Al-Qalam: 4)

    Pendidikan akhlak Islam diartikan sebagai latihan mental dan fisik

    yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas

    kewajiban dan tanggung jawab dalam masyarakat selaku hamba Allah.

    (Beni Ahmad Saebani, 2010, hal. 16) Imam Al-Ghazali dalam Ihya

    Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak ialah daya kekuatan (sifat) yang

    tertanam dalam jiwa dan mendorong perbuatan-perbuatan spontan tanpa

    memerlukan pertimbangan pikiran. Jadi, akhlak merupakan sikap yang

    melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah

    laku dan perbuatan.(Rosihon Anwar, 2008, hal.206)

    Dalam kehidupan sehari-hari akhlak merupakan hal yang sangat

    penting dalam bertingkah laku. Dengan akhlak yang baik seseorang tidak

    akan terpengaruh pada hal-hal yang negatif. Akhlak merupakan salah satu

    khazanah intelektual muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin

    dirasakan (Alim, 2011, hal. 149)

    Problem-problem akhlak adalah permasalahan yang sedang dihadapi

    dikalangan remaja, sekolah, dan lingkungan masyarakat yang mana

    pengaruh berakhlak itu sering datang pengaruh dari dalam maupun

    pengaruh dari luar sehingga siswa sering terjerumus kedalam pergaulan

    yang tidak diinginkan sehingga akhlaknya rusak dan tidak memiliki akhlak

    yang islami. Problem-problem akhlak itu disebabkan oleh pergulan,

    pengaruh lingkungan, kurangnya perhatian orang tua dan lain sebagainya.

    Karena perhatian orang tua sangat berperan yaitu untuk menjadikan anak

    yang baik dan bermoral, salaras dengan tujuan pendidikan islam, serta

    sekolah merupakan salah satu tempat membina, mempersiapkan siswa dan

  • 3

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    tempat siswa bergaul dengan teman sebaya serta tempat berkumpul para

    guru. Pembinaan adalah proses perbuatan, cara, penyempurnaan, usaha,

    tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdayaguna untuk

    memperoleh hasil yang lebih baik. Pembinaan dan pengajaran merupakan

    aspek penting bagi kehidupan manusia, untuk itu eksistensi pendidikan

    sangat diperlukan karena pendidikan akan bertanggung jawab dalam

    pembentukan pribadi anak.

    Oleh karena itu sangat penting sekali jika pembelajaran akhlak itu

    dilakuan dimadrasah, disamping dalam kehidupan keluarga, karena dalam

    pembelajaran aqidah akhlak banyak memuat materi-materi yang

    mengarahkan siswa untuk selalu bersikap terpuji serta menjauhi perbuatan

    yang tercela. Namun, banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk

    meningkatkan mutu dalam proses pembelajaran seperti penyampaian materi

    dari sumber belajar yang diberikan oleh guru dan diterima oleh peserta

    didik. Dari proses penerimaan tersebut diharapkan peserta didik mampu

    menangkap materi yang diberikan oleh guru serta mampu memahaminya.

    Akan tetapi masalah akan timbul apabila peserta didik kurang

    memahaminya. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor

    diantaranya yaitu kurang meresponnya peserta didik terhadap materi yang

    disampaikan oleh guru, guru yang tidak mampu memahami peserta didik

    atau pelajaran yang sulit dipahami oleh peserta didik. Maka dari itu, hal ini

    tidak boleh dibiarkan begitu saja, perlu adanya upaya yang dilakukan baik

    guru maupun pihak sekolah untuk mengatasinya.

    Pembinaan aqidah dan akhlak menjadi sangat penting mengingat

    perkembangan zaman, oleh karena itu penanaman nilai-nilai keislaman

    harus dilakukan sejak dini. Untuk membina akhlak yang baik dan berbudi

    pekerti yang luhur, menurut prof. Dr. H Abudin Nata M.A ada beberapa

    cara dalam memberikan pengetahuan agama dalam pembinaan akhlak anak

    yaitu, melalui pembiasaan, melalui paksaan dan melalui keteladanan.

    (Abudin Nata, 2014,hlm. 141) Peserta didik disekolah akan memiliki akhlak

    yang baik apabila guru mampu memberikan contoh yang baik, sebab guru

  • 4

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    adalah orang yang mampu mempengaruhi kepribadian anak didik. Anak

    penerus bangsa harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tua,

    masyarakat maupun sekolah. Salah satu cara untuk membentuk aqidah dan

    akhlak anak supaya menjadi lebih baik yaitu melalui pembelajaran aqidah

    akhlak di sekolah.

    Dalam pelaksanaannya kegiatan pembelajaran aqidah akhlak meliputi

    tiga hal yaitu pertama kegiatan pendahuluan, dalam kegiatan pendaahuluan,

    guru melakukan kegiatan membuka pelajaran, membuka pelajaran

    merupakan kegiatan awal yang dilakukan guru dalam kegiatan belajar

    mengajar, untuk mengkondisikan peserta didik agar perhatian dan

    motivasinya tumbuh sehingga baik secara fisik maupun psikis memiliki

    kesiapan untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Kedua, kegiatan inti

    dalam kegiatan inti guru menyampaikan beberapa materi pelajaran dengan

    menggunakan media serta metode yang susuai dengan materi pelajaran. Dan

    yang ketiga kegiatan penutup dalam kegiatan penutup guru memberikan

    beberapa kesimpulan mengenai pelajaran yang telah dijelaskan serta

    menutup pelajaran tersebut.(Rusman, hal. 81)

    Eksistensi guru sangat menentukan dalam membina akhlak peserta

    didik, karena disamping guru berperan sebagai pengajar, guru juga berperan

    sebagai pengarah yang mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala

    sesuatu yang terjadi terhadap diri peserta didik disekolah. Dengan demikian

    para guru hendaknya memahami prinsip-prinsip bimbingan dan menerapkan

    dalam proses belajar mengajar dan seorang guru hendaknya selalu

    memberikan atau mengarahkan anak didiknya kepada hal-hal yang sesuai

    dengan ajaran agama Islam. Pembinaan akhlak pada dasarnya menuntut

    seseorang agar memberi petunjuk agar peserta didik dapat berbuat baik dan

    meninggalkan yang buruk maka sangat penting diadakannya pembinaan

    akhlak.

    Berdasarkan wawancara dan observasi awal yang dilakukan peneliti,

    diperoleh gambaran tentang pembelajaran aqidah akhlak dalam membina

  • 5

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    akhlak peserta didik, sebagaimana pernyataan dari Ibu Eni Fauziah selaku

    guru mata pelajaran aqidah akhlak, mengatakan :

    “saya sebagai guru aqidah akhlak telah melakukan berbagai

    pembelajaran dalam mebina akhlak siswa, diantaranya adalah

    memberikan contoh perbuatan yang baik terhadap peserta didik,

    menanamkan nilai-nilai agama, membiasakan bersikap yang

    baik, menegur siswa yang melakukan kesalahan, dan

    mengadakan kegiatan keagamaan”(Wawancara, 16 November

    2019)

    Berdasarkan keterangan tersebut terlihat bahwa guru aqidah akhlak di

    MTs Nururrodhiyah telah melakukan berbagai kegiatan pembelajaran dalam

    pembinaan siswa, adapun kegiatan pembelajaran tersebut yaitu

    pembelajaran mengenai akhlak terpuji terhadap Allah Swt meliputi

    melaksanakan shalat zuhur berjamaah, mengadakan berbagai kegiatan

    keagamaan, membiasakan membaca doa sebelum pelajaran dimulai. Dan

    kegiatan akhlak terpuji terhadap sesama manusia meliputi membiasakan

    salam terhadap guru, memberikan teguran terhadap siswa yang bersalah,

    dan memberikan contoh serta teladan yang baik dari segi ucapan, pakaian

    maupun perbuatan terhadap siswa.

    Namun, meskipun telah dilakukan berbagai pembinaan dalam

    pelajaran aqidah akhlak, masih ada saja siswa yang melakukan akhlak

    tercela seperti ribut didalam kelas, tidak menghargai guru, berbicara dengan

    nada yang tinggi terhadap guru, mengganggu teman, berkelahi, saling

    mengejek satu sama lain, membolos sekolah, dan melanggar tata tertib

    sekolah. Dalam hal ini harus dilakukan berbagai pembinaan dalam

    pembelajaran aqidah akhlak demi menciptakan akhlak peserta didik yang

    baik dan jauh dari kata buruk.

    Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, peneliti tertarik

    untuk melakukan penelitian dengan judul “PEMBELAJARAN AQIDAH

    AKHLAK DALAM MEMBINA AKHLAK SISWA DI MADRASAH

    TSANAWIYAH NURURRODHIYAH KOTA JAMBI”

  • 6

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    B. Fokus penelitian

    Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus, dan menghindari

    pembahasan menjadi terlalu luas, maka penulis perlu membatasinya.

    Adapun fokus penelitian ini yaitu dikelas VII C karena banyaknya siswa

    yang bermasalah itu berasal dari kelas VII C. Selanjutnya penulis

    membatasi penelitian di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi.

    C. Rumusan Masalah

    1. Bagaimanakah Akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi?

    2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran Aqidah akhlak dalam

    membina akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi?

    3. Apakah kendala yang dihadapi guru aqidah akhlak dalam membina

    akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi?

    4. Bagaimana solusi untuk mengatasi kendala yang terjadi dalam

    membina akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi.

    D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah

    diatas, tujuan penelitian ini adalah:

    a. Dapat mengetahui akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi

    b. Dapat mengetahui pembelajaran akidah akhlak dalam membina

    akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi

    c. Dapat mengetahui kendala yang dihadapi guru akidah akhlak dalam

    membina akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi

    d. Dapat mengetahui solusi untuk mengatasi kendala yang dihadapi

    guru akidah akhlak dalam membina akhlak siswa di MTs

    Nururrodhiyah Kota Jambi

    2. Dengan melaksanakan penelitian ini diharapkan dapat memberikan

    manfaat sebagai berikut:

    a. Kegunaan yang bersifat teoritis : Hasil peneliti diharapkan dapat

    dijadikan input atau sumbungan pengetahuan bagi pengembangan

  • 7

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    ilmu pengetahuan khususnya dalam pembelajaran aqidah akhlak

    di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi

    b. Kegunaan yang bersifat praktis: hasil penelitian ini dapat

    dijadikan masukan bagi para praktisi atau tenaga kependidikan

    dalam menyelenggarakan pengolahan sekolah/madrasah

    khususnya bagi: Guru bidang studi aqidah akhlak dapat

    menjadikan pembelajaran aqidah akhlak untuk membentuk

    akhlakul karimah.

    c. Bagi siswa, dapat memberikan dorongan atau motivasi dalam

    belajar, bertanggung jawab pada setiap tugas-tugasnya serta dapat

    memberikan bekal untuk dapat bekerja sama dengan orang lain

    dalam konteks akhlak yang mulia.

    d. Bagi peneliti, mendapatkan pengetahuan, memperkaya wawasan

    berikut praktiknya dilapangan yang berguna bagi pilihan profesi

    peneliti di masa yang akan datang.

  • 8 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    BAB II

    LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELAVAN

    A. Landasan Teori

    1. Pembelajaran Aqidah Akhlak

    a. Pengertian pembelajaran

    Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan

    pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

    Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar

    dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan,

    penguasaan kemahiran dan tabiat serta pembentukan sikap dan

    kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran

    adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar

    dengan baik.

    Pembelajaran juga bisa diartikan sebagai upaya

    membelajarkan siswa membantu para siswa memperoleh

    informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk

    mengekspresikan diri, dan cara-cara bagaimana belajar (Rahyubi,

    2016, hal. 7)

    Menurut corey yang dikutip oleh sagala dalam buku

    pendidikan islam pembelajaran merupakan suatu proses dimana

    lingkungan seseorang secara disengaja di kelola untuk

    memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam

    kondisi-kondisi khusus, atau menghasilkan respon dalam kondisi

    tertentu. Pada dasarnya pembelajaran adalah kegiatan terencana

    yang mengondisikan atau merangsang seseorang bisa belajar

    dengan baik agar tercapai tujuan pembelajaran yang telah

    dirumuskan. Maka kegiatan pembelajaran menurut zayadi dan

    majid akan bermuara pada dua kegiatan utama: pertama,

    bagaimana orang melakukan tindakan perubahan tingkah laku

    melalui kegiatan belajar, dan kedua, bagaimana orang melakukan

  • 9

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan

    mengajar. (Gunawan, 2014, hal. 117)

    b. Pengertian Aqidah akhlak

    Menurut bahasaa aqidah berasal dari bahasa arab ‘Aqada-ya

    qidu-uqdatan-wa ‘aqidatan. Artinya ikatan atau perjanjian

    maksudnya sesuatu yang menjadi tempat bagi hati dan hati nurani

    terikat kepadanya. Aqidah adalah kepercayaan yang mantap

    kepada allah para malaikat kitab-kitab para rasul, hari akhir, qadar

    yang baik dan yang buruk serta seluruh muatan alquran dan as-

    sunnah. Aqidah islam adalah pokok-pokok kepercayaan yg harus

    di yakini kebenaran nya oleh setiap muslim. (Anwar, 2008, hal.

    14)

    Dasar aqidah islam :

    Artinya : “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan

    kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang

    yang beriman. semuanya beriman kepada Allah,

    malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-

    rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak

    membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang

    lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan:

    "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa):

    "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada

    Engkaulah tempat kembali." (Q.S Al-Baqarah: 285)

    (indonesia, 2007)

    Menurut bahasa Akhlak berasal dari kata akhlaqun, bentuk

    jamak sedangkan bentuk tunggalnya khuluq yang berarti perangai

    atau kelakuan, budi pekerti atau moral, dan kebiasaan atau tabiat.

  • 10

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    Menurut istilah akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa

    yang timbul dari perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa

    memerlukan pertimbangan dan pikiran sehingga keadaan itu

    menjadi kebiasaan (Hadhiri, 2015, hal. 14)

    Akhlak dapat diartikan dengan budi pekerti, perangai,

    tingkah laku atau tabiat, tata krama, sopan santun, adab, dan

    tindakan. Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat

    dalam jiwa seseorang sehingga menjadi kepribadian. (Beni ahmad

    saebani, 2010, hal. 14)

    Aqidah adalah gudang akhlak yang kokoh. Ia mampu

    menciptakan kesadaran diri bagi manusia untuk berpegang teguh

    kepada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur. Islam

    menggabungkan agama yang hak dan akhlak, menurut teori ini

    agama menganjurkan setiap individu untuk berakhlak mulia dan

    menjadikannya sebagia kewajiban (taklif) diatas pundaknya yang

    dapat mendatangkan pahala atau siksa baginya, jelaslah bahwa

    akhlak yang baik emerupakan mata rantai dari keimanan

    seseorang. Seorang beriman akan merasa malu untuk melakukan

    kejahatan karena seperti yang ditegaskan oleh nabi bahwa malu

    merupakan cabang dari keimanan, sebaliknya akhlak yang

    dipandang buruk adalah akhlak yang menyalahi prinsip-prinsip

    keimanan. Hubungan antara aqidah dan akhlak ini tercermin

    dalam pernyataan Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan

    oleh Abu Hurairah r.a yang artinya: Dari Abu Hurairah,

    Rasulullah SAW. Bersabda, orang mukmin yang sempurna

    imannya ialah yang terbaik budi pekertinya (H.R At-Tirmidzi)

    (Anwar, 2008, hal. 202)

    c. Pokok-pokok pembahasan ilmu Akhlak

    Pokok pembahasan ilmu akhlak ialah tingkah laku manusia

    untuk menetapkan nilainya, baik atau buruk. J.H.Muirhead

    Menyebutkan bahwa pokok pembahasan ilmu akhlak ialah

  • 11

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    penyelidikan tentang tingkah laku dan sifat manusia. Al-Ghazali

    mengatakan bahwa pokok-pokok pembahasan ilmu akhlak

    meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu

    (perseorangan) maupun kelompok (masyarakat) dilihat dari aspek

    kehidupan manusia maka perbuatan manusia dapat di kategorikan

    menjadi dua yaitu perbuatan yang lahir dengan kehendak dan di

    sengaja, perbuatan yang lahir tanpa kehendak dan tidak disengaja.

    (abdullah, 2007, hal. 11)

    d. Tujuan Pembelajaran Aqidah Akhlak

    Tujuan Pembelajaran Aqidah Akhlak Pada zaman modern

    seperti sekarang ini, Aqidah Akhlak merupakan sebuah disiplin

    ilmu yang sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang

    baik dan berakhlaqul karimah, Karena dengan mempelajarinya

    diharapkan siswa dapat memahami, meyakini dan mengamalkan

    ajaran yang terkandung didalamnya secara benar dan dapat

    menerapkan dalam kehidupannya sehari hari dalam berinteraksi

    dengan masyarakat dan alam disekitarnya. Serta beriman kepada

    Allah SWT dan tunduk patuh kepada-Nya. Sebagaimana firman

    Allah SWT di dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyat ayat : 56

    (indonesia, 2007, hal. 523).

    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan

    supaya mereka mengabdi kepada-Ku”(QS. Adz-Dzariyat

    :56)

    e. Indikator Akhlak yang Baik Beberapa karakter mulia (Marzuki, 2019, hal.97-101) yang

    dimaksud adalah sebagai berikut :

    1) Taat kepada Allah SWT, yaitu tunduk dan patuh kepada

    Allah SWT dengan berusaha menjalankan perintah-

    perintahnya dan menjauhi segala larangan-larangannya.

    2) Syukur, yaitu berterima kasih atau memuji yang telah

    memberi kenikamatan atas kebaikan yang telah dilakukan,

  • 12

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    seperti bersyukur kepada Allah, atau berterimakasih kepada

    orang lain.

    3) Iklas, yaitu melakukan perbuatan tanpa pamrih apapun, selain

    hanya mengaharap ridho Allah SWT.

    4) Sabar, yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang tidak

    disukai karena mengharap ridha Allah SWT

    5) Tawakal, yaitu berserah diri kepada kehendak Allah, dan

    percaya dengan sepenuh hati atas keputusan-Nya.

    6) Qana’ah yaitu rela atau suka menerima apa saja yang

    diberikan kepadanya.

    7) Percaya diri, yaitu merasa yakin dengan kemampuan yang

    dimilikinya

    8) Rasional, yaitu berfikir dengan penuh pertimbangan dan

    alasan yang logis.

    9) Kritis, yaitu tidak mudah percaya tetapi berusaha menemukan

    kesalahan atau kekurangan yang ada.

    10) Kreatif, yaitu memiliki kemampuan untuk menciptakan

    sesuatu yang baik (daya cipta)

    11) Inovatif, yaitu berusaha menemukan atau memperkenalkan

    sesuatu yang baru.

    12) Mandiri, yaitu mampu berdiri sendiri dan tidak bergantung

    kepada orang lain

    13) Bertanggung jawab, yaitu melaksanakan tugas secara

    bersungguh sungguh serta berani menanggung konsekuensi

    dari sikap, perkataan dan perilakunya

    14) Cinta ilmu, yaitu memiliki kegemaran untuk menambah dan

    memperdalam ilmu

    15) Hidup sehat, yaitu berusaha untuk dapat hidup sehat dan

    terhindar dari berbagai penyakit

    16) Berhati-hati, yaitu melakukan segala perbuatan dengan teliti,

    cermat, serta penuh pertimbangan dan perhitungan

  • 13

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    17) Rela berkorban,yaitu mau melakukan atau memberikan

    sesuatu sebagai pernyataan kebaktian dan kesetiaan kepada

    Allah, atau kepada manusia.

    18) Pemberani, yaitu memiliki keberanian dalam melakukan

    kegiatan-kegiatan yang mulia

    19) Dapat dipercaya, yaitu melakukan sesuatu dengan penuh

    kejujuran dan kepercayaan

    20) Jujur, yaitu menyampaikan sesuatu secara terbuka, apa

    adanya dan sesuai dengan hati nurani

    21) Menepati janji, yaitu selalu melaksanakan apa yang telah

    menjadi janjinya.

    22) Adil, yaitu menempatkan sesuatu pada temoat yang

    semestinya

    23) Rendah hati, yaitu berperilaku yang mencerminkan sifat yang

    berlawanan dengan kesombongan.

    24) Malu berbuat salah, yaitu merasa malu untuk melakukan

    perbuatan-perbuatan salah dan tercela

    25) Pemaaf, yaitu mau memberi maaf terhadap kesalahan orang

    lain

    26) Berhati lembut, yaitu memiliki sifat dan sikap yang penuh

    dengan kelembutan dan kasih sayang

    27) Berkerja keras, yaitu melakukan perkerjaannya secara

    optimal

    28) Tekun yaitu rajin, keras hati dan bersungguh-sungguh dalam

    menyelesaikan suatu perbuatan.

    29) Disiplin yaitu taat pada peraturan atau tata tertib yang berlaku

    30) Bersemangat, yaitu melakukan semangat tinggi untuk

    melakukan perbuatan yang baik

    31) Dinamis yaitu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri

    dengan keadaan.

  • 14

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    32) Ramah yaitu suka bergaul dan menyenangkan dalam

    pergaulan

    33) Sportif yaitu bersifat ksatria dan jujur

    34) Tabah yaitu tetap kuat hati dalam menghadapi kesulitan.

    35) Terbuka yaitu tidak menutup-nutupi apa yang semestinya

    disampaikan kepada orang lain.

    36) Tertib yaitu teratur menurut aturan yang ada

    37) Taat peraturan yaitu mentaati peraturan yang berlaku

    2. Membina akhlak siswa

    a. Pengertian Membina Akhlak

    Berbicara tentang pembinaan akhlak sama dengan berbicara

    pada tujuan pendidikan islam. Akhlak dan kepribadian manusia

    tentun dapat ditingkatkan dan dibina. Pembinaan akhlak dan

    kepribadian manusia dapat dilakukan dengan cara menyucikan diri

    atau disebut dengan takziyah al-nafs, takziyah berarti penyucian

    sedangkan al-nafs berarti pribadi. Jadi takziyah al-nafs berarti

    penyucian pribadi. Al-Ghazali menekankan takziyah al-nafs sebagai

    pembinaan akhlak manusia, menurutnya pribadi yang sehat

    bersumber dari akhlak yang terpuji serta memutuskan segala

    hubungan yang dapat merugikan kesempurnaan pribadi. Ia menilai

    bahwa kualitas pribadi seseorang dapat dilihat dari penampilan

    akhlaknya. Orang yang baik akhlaknya menandakan bahwa orang itu

    sehat pribadinya, ia memiliki kedudukan yang paling mulia disisi-

    Nya. Sebaliknya orang yang buruk akhlaknya adalah orang yang

    menyimpang dari hakikat kemanusiaannya. Terbentuknya akhlak

    yang baik dibutuhkan metode yang tepat yaitu mujahadat

    (kesungguhan) dan riyadah al-nafs (latihan kepribadian), kedua

    metode ini bila diganbungkan mengandung arti menahan diri dan

    melatih diri yakni berupaya melatih diri untuk melakukan amal

    perbuatan yang memberikan akhlak yang baik sehingga menjadi

  • 15

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    kebiasaan bahkan menjadi kebiasaan bahkan menjadi sesuatu yang

    menyenangkan (gunawan, 2017, hal. 82)

    Usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai macam metode

    terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu

    dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa

    terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat

    kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada ibu-bapak, sayang

    kepada sesama makhluk Tuhan dan seterusnya.

    Sebagaimana Firman Allah SWT (indonesia, 2007) :

    Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)

    kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah

    mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-

    tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah

    kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya

    kepada-Kulah kembalimu. ( QS. Al-Lukman: 14 )

    Sebaliknya, keadaan menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak

    dibina akhlaknya, atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan, dan

    pendidikan, ternyata menjadi anak-anak yang nakal, mengganggu

    masyarakat, melakukan berbagai perbuatan tercela dan seterusnya.

    Ini menunjukkan bahwa akhlak perlu dibina (nata, 2010, hal. 158)

    Pembentukan atau pembinaan akhlak dapat diartikan sebagai

    usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan

    menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram

    dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan

    konsisiten. Pembentukan akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi

    bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan

    sendirinya. Potensi rohaniah yang ada pada diri manusia, termasuk

    dalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, nurani,

  • 16

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    dan intuisi dibina secara optimal dengan cara dan pendekatan yang

    tepat (abuddin, 2014, hal. 135)

    b. Tujuan pembinaan akhlak

    Islam menginginkan suatu masyarakat yang berakhlak mulia.

    Akhlak yang mulia ini sangat ditekankan karena disamping akan

    membawa kebahagiaan bagi individu, juga sekaligus membawa

    kebahagiaan masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain bahwa

    akhlak utama yang ditampilkan seseorang, tujuannya adalah untuk

    mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Azmi, 2006, hal.

    54)

    Para ahli pendidikan Islam berpendapat bahwa tujuan

    pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah

    Al-Abrasy mengatakan pembinaan akhlak dalam Islam adalah untuk

    membentuk orang-orang yang bermoral baik, sopan dalam berbicara

    dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku, bersifat bijaksana, sopan

    dan beradab. Jiwa dari pendidikan Islam pembinaan moral atau

    akhlak. Ibnu Maskawaih merumuskan tujuan pembinaan akhlak

    yaitu terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara

    spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik,

    sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan

    sejati dan sempura dalam arti yang sempurna. Tujuan pembinaan

    akhlak bersifat menyeluruh yakni mencakup kebahagiaan hidup

    manusia dalam arti yang seluas-luasnya. Allah SWT

    menggambarkan dalam Al-Qur‟an tentang janji-Nya terhadap orang

    yang senantiasa berakhlak baik, diantaranya QS. an-Nahl : 97

    (indonesia, 2007)

  • 17

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    Artinya :“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki

    maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka

    Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan

    yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan

    kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa

    yang telah mereka kerjakan” ( Q.S An-Nahl : 97 )

    Dalam hal ini salah satu contoh dari misi kerasullan SAW. Yang

    utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

    c. Metode pembinaan akhlak

    Adapun beberapa metode pembinaan akhlak yaitu :

    1) Pembiasaan

    Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan

    dan pembentukan peserta didik. M, Mujib merumuskan tiga

    pokok metode(Abdul kosim, 2018, hal.176) :

    a) Adanya relevansi dengan kecenderungan dan watak peserta

    didik baik aspek intelegensi, social, ekonomi, dan status

    keberadaan orang tua.

    b) Memelihara prinsip umum diantaranya berangsur-angsur dari

    yang mudah menuju ke yang sulit dari yang terperinci

    menuju ke yang terstruktur

    c) Memperhatikan perbedaan individual misalnya nilai

    keimanan tidak begitu saja hadir dalam jiwa seseorang tetapi

    perlu ia tanamkan, diarahkan dan menjadi motivasi semangat

    dan control terhadap pola tingkah laku.

    2) Paksaan

    Dalam tahap-tahap tertentu pembinaan akhlak, khususnya

    akhlak lahiriah dapat pula dilakukan dengan cara paksaan yang

    lama-kelamaan tidak lagi terasa dipaksa. Seseorang yang ingin

    menulis dan mengatakan kata-kata yang bagus misalnya pada

    mulanya ia harus memaksakan tangan dan mulutnya menuliskan

    atau mengatakan kata-kata dan huruf yang bagus. Apabila

    pembinaan ini sudah berlangsung lama, maka paksaan tersebut

  • 18

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    sudah tidak terasa lagi sebagai paksaan(Abuddin Nata, 2017,

    hal.141)

    3) Keteladanan

    Akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan

    pelajaran, instruksi dan larangan. Sebab tabiat jiwa untuk

    menerima keutamaan itu tidak cukup dengan hanya seorang guru

    mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu. Menanamkan

    sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada

    pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukses

    melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang

    baik dan nyata. (Abuddin Nata, 2017, hal.141) Cara yang

    demikian itu telah dilakukan oleh Rasulullah SAW, keadaan ini

    dinyatakan dalam ayat yang berbunyi :

    Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri

    teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang

    mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari

    kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(Q.S Al- Ahzab

    :21) (Qur’an, 2013)

    4) Melihat kekurangan diri sendiri

    Dalam hubungan ini, Ibnu Sina mengatakan jika seseorang

    menghendaki dirinya berakhlak hendaknya ia lebih dahulu

    mengetahui kekurangan dan cacat yang ada dalam dirinya. Dan

    membatasi sejauh mungkin untuk tidak berbuat kesalahan,

    sehingga kecacatannya itu tidak terwujud dalam

    kenyataan.(Abuddin Nata, 2017, hal. 141

    5) Memperhatikan factor kejiwaan sasaran yang akan dibina

  • 19

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula dilakukan dengan

    memperhatikan factor kejiwaan sasaran yang akan dibina,

    menurut hasil penelitian para psikolog bahwa kejiwaan manusia

    berbeda-beda menurut perbedaan tingkat usia. (Abuddin Nata,

    2017, hal. 141)

    d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak (putri, 2017,

    hal. 54)

    1) Agama

    Agama dalam membina akhlak manusia dikaitkan dengan

    ketentuan hukum agama yang sifatnya pasti dan jelas, misalnya

    wajib, mubah, makruh dan haram, pembinaan tersebut dijelaskan

    secara rinci oleh agama, maka dari itu pembinaan akhlak tidak

    dapat dipisahkan dari agama.

    2) Tingakah laku

    Tingkah laku manusia ialah sikap seseorang yang

    dimanifestasikan kedalam perbuatan.

    3) Nafsu

    Nafsu dapat mendorong manusia berbuat buruk ataupun baik

    nafsu dapat menyingkirkan semua pertimbangan akal,

    mempengaruhi hati nurani dan menyingkirkan hasrat baik yang

    lainnya.

    4) Adat istiadat

    Kebiasaan terjadi sejak lahir, lingkungan yang baik

    mendukung kebiasaan yang baik pula, lingkungan dapat

    mengubah kepribadian seseorang. Lingkungan yang tidak baik

    dapat menolak adanya sikap disiplin dan pendidikan. Kebiasaan

    buruk mendorong kepada hal-hal yang lebih rendah, yaitu

    kembali kepada adat kebiasaan yang masih primitif.

    5) Lingkungan

    Lingkungan mampu mempengaruhi aklak manusia,

    lingkungan dapat menjadi pendorong terhadap perkembangan

  • 20

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    kecerdasan, dan sebaliknya lingkungan juga dapat menghambat

    perkembangan seseorang sehingga tidak dapat mengambil

    manfaat dari kecerdasan yang diwarisi.

    e. Macam-macam akhlak

    Ulama akhlak mengatakan bahwa akhlak yang baik merupakan

    sifat para nabi dan orang-orang ,siddiq, sedangkan akhlak yang

    buruk merupakan sifat syaitan dan orang yang tercela.maka pada

    dasarnya, akhlak itu menjadi dua macam jenis;

    1) Akhlak baik atau terpuji (Al-Akhlaqu al-Mahmud’ah) yaitu

    perbuatan baik terhadap tuhan, sesama manusia dan makhluk-

    makhluk yang lain(Mahjuddin,2009, hal.10). Akhlak baik

    terhadap tuhan yang meliputi antara lain:

    a) Bertaubat (Al-Taubah) yaitu suatu sikap yang menyesali

    perbuatan buruk yang pernah dilakukan dan berusaha

    menjauhinya, serta melakukan perbuatan baik.

    b) Bersabar (Al-Sabru) yaitu suatu sikap yang betah atau dapat

    menahan diri pada kesulitan yang dihadapinya. Tetapi tidak

    berarti bahwa sabar itu langsung menyerah tanpa upaya

    melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapi oleh manusia.

    maka sabar yang dimaksud adalah sikap yang diawali

    dengan ikhtiyar, lalu diakhiri dengan sikap menerima dan

    ikhlas ,bila seseorang dilanda suatu cobaan dari tuhan.

    c) Besyukur ( Al-Shukru) yaitu suatu sikap yang selalu ingin

    memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, nikmat yang telah

    diberikan oleh allah swt. Baik yang bersifat fisik maupun

    non fisik. Lalu disertai dengan peningkatan pendekatan diri

    kepada yang memberi nikmat, yaitu allah swt.

    d) Bertawakal. (Al-Tawakkul) yaitu menyerahkan segala

    urusan kepada allah setelah berbuat semaksimal mungkin,

    untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkannya, harus

    lebih dahulu berupaya sekuat tenaga, lalu menyerahkan

  • 21

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    ketentuannya kepada allah swt. Maka dengan cara yang

    demikian itu manusia dapat meraih kesuksesan dalam

    hidupnya.

    e) Ikhlas (Al-Ikhlas) yaitu sikap menjauhkan diri dari riya’

    (menunjuk-nunjukkan kepada orang lain) ketika

    mengerjakan amal baik. Maka amalan seseorang dapat

    dikatakan jernih, bila dikerjakan dengan ikhlas.

    f) Raja’ (Al-Raja’) yaitu sikap jiwa yang sedang menunggu

    (mengharapkan) sesuatu yang disenangi oleh allah swt.

    Setelah melakukan hal-hal yang menyebabkan yang terjadi

    sesuatu yang diharapkannya. Oleh karena itu bila tidak

    mengerjakan penyebabnya, lalu menunggu sesuatu yang

    diharapkan, maka hal itu disebut “tamanni” atau hayalan.

    g) Bersikap takut (Al-Khauf) yaitu suatu sikap jiwa yang

    sedang menunggu sesuatu yang tidak disenangi dari allah

    swt. Maka manusia perlu berupaya agar apa yang

    ditakutkan itu, tidak akan terjadi.

    2) Akhlak buruk atau tercela (Al-Akhlaqul Al- Mahmud’ah) yaitu

    perbuatan buruk terhadap tuhan, sesama manusia dan makhluk-

    makhluk lainnya.(Mahjuddin,2009,hal.17) akhlak buruk

    terhadap tuhan yang meliputi antara lain:

    a) Takabbur (Al- Kibru) yaitu suatu sikap yang

    menyombongkan diri, sehingga tidak mau mengakui

    kekuaaan allah di alam ini, termasuk mengingkari nikmat

    allah yang ada padanya.

    b) Musyrik (Al-Isyrak) yaitu suatu sikap yang

    mempersekutukan allah dengan makhluknya, dengan cara

    mengnggap bahwa ada suatu makhluk yang menyamai

    kekuasaannya.

    c) Murtad (Al-Riddah) yaitu sikap yang meninggalkan atau

    keluar dari agama islam, untuk menjadi kafir.

  • 22

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    d) Munafiq (Al-NIfaq) yaitu suatu sikap yang menampilkan

    dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya dalam

    kehidupan beragama.

    e) Riya’ (Al-Riya) yaitu suatu sikap yang menunjuk-

    nunjukkan sikap baik yang dilakukannya. Maka dia berbuat

    bukan karena allah , melainkan hanya ingin di puji sesama

    manusia. Jadi perbuatan ini kebalikan dari sikap ikhlas.

    f) Boros atau berfoya-foya (Al-Israf) yaitu perbuatan yang

    selalu melampaui batas-batas ketentuan agama. Tuhan

    melarang bersikap boros, karena hal itu dapat melakukan

    dosa terhadapnya., merusak perekonomian manusia,

    merusak hubungan social, serta merusak diri sendiri.

    g) Rakus atau Tamak (Al-Hirsu atau Al-Tama’u) yaitu suatu

    sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga, selalu

    ingin menambah apa yang seharus nya ia mliki, tanpa

    memperhatikan hak-hak orang lain. Hal ini, termasuk

    kebalikan dari rasa cukup Al-Qona’ah) dan merupakan

    akhlak buruk terhadap allah swt, karena melanggar

    ketentuan larangan-larangan nya.

    f. Unsur-unsur pembinaan

    Berhasil tidaknya suatu pembinaan ditentukan oleh para

    pelakunya, dalam halii ada tiga unsur (putri, 2017, hal. 55)yakni

    guru, siswa dan sekolah.

    1) Guru

    Tugas dari guru atau pendidik adalah sebagai media agar

    anak didik mencapai tujuan yang dirumuskan. Tanpa pendidik,

    tujuan pendidikan tidak akan tercapai, oleh sebab itu diperlukan

    guru yang profesional, karena guru yang profesional tentu akan

    lebih mampu dan lebih menguasai teori pelajaran yang akan

    diberikan dan tentu lebih berhasil pula sebagai guru untuk

    membina dan mengembangkan kemampuan siswa.

  • 23

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    2) Siswa

    Siswa adalah orang yang belajar atau menerima

    bimbingan dari guru dalam kegiatan pendidikan, antara guru dan

    siswa merupakan dua faktor yang tidak dapat dipisahkan dan

    tidak bisa berdiri sendiri, dimana guru sebagai pemberi pelajaran

    dan siswa sebagai penerima pembelajaran, keduanya harus aktif,

    bukan guru saja tetapi siswa dalam menerima pelajaran harus

    dengan perhatian dan minat yang besar oleh sebab itu, anak

    didik harus diperhatikan dalam kegiatan pendidikan.

    3) Sekolah

    Sekolah merupakan tempat dimana anak mendapatkan

    pendidikan agama yang membentuk perilaku seseorang agar

    menjadi lebih sempurna secara moral sehingga hidupnya

    senantiasa melakukan kebaikan. Sekolah juga merupakan

    lembaga pendidikan formal yang secara teatur dan terencana

    melakukan pembinaan terhadap generasi muda dan guru adalah

    contoh tauladan dalam pembinaan akhlak bagi peserta didik.

    g. Pengertian siswa atau peserta didik

    Murid merupakan bentuk isim fail dari kata “arada-yuridu-

    iradatan-muridun” yang berarti orang yang menginginkan, istilah

    murid ini juga mengandung arti kesungguhan dalam belajar,

    memuliakan guru. Murid mengandung pengertian orang yang sedang

    belajar, menyucikan diri dan sedang berjalan menuju Allah.

    (Gunawan, 2014, hal. 207)

    3. Pelaksanaan Pembelajaran Aqidah Akhlak

    Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari rencana

    pelaksanaan pembelajaran dalam tahan ini, guru harus aktif menciptakan

    dan menumbuhkan kegiatan belajar sesuai dengan rencana yang telah

    disusun. Disamping teori belajar mengajar dan pengetahuan tentang

  • 24

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    peserta didik, diperlukan kemahiran dan keterampilan teknik belajar,

    misalnya prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran,

    penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar

    peserta didik.

    Pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak meliputi tiga kegiatan,

    yaitu:

    a. Kegiatan pendahuluan

    Kegiatan pendahuluan, (Rusman, 2014, hal.81). Guru

    melakukan kegiatan membuka pelajaran. Menurut Abimanyu,

    membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk

    menciptakan kondisi atau suasana siap mental dan menimbulkan

    perhatian peserta didik terfokus pada hal-hal yang akan dipelajari.

    Kegiatan membuka pelajaran merupakan kegiatan yang sangat

    penting dilakukan guru, karena dengan pemulaan yang baik akan

    memengaruhui jalannya kegiatan belajar selanjutnya. Bila berhasil

    melakukan kegiatan pembukaan, maka sangat di mungkinkan

    kegiatan inti dan penutup akan berhasil.

    Menurut permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang standar

    proses satuan pendidikan dasar dan menengah menjelaskan bahwa

    yang dilakukan guru dalam kegiatan pendahuluan adalah:

    1) Menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti

    proses pembelajaran.

    2) Melakukan apersepsi, yaitu mengaitkan pengetahuan

    sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.

    3) Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang

    akan dicapai

    4) Menyampaikan cakupan materi dari penjelasan uraian kegiatan

    sesuai dengan silabus dan RPP.

    b. Kegiatan inti

    Tugas guru yang utama adalah mengajar, mengajar merupakan

    proses penyampaian ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Disini

  • 25

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    guru dituntut untuk mampu menjelaskan materi pelajaran kepada

    peserta didik secara profesional. Dalam pelaksanaannya, guru dapat

    menggunakan metode pembelajaran, dan sumber-sumber belajar

    yang relevan dengan pembelajaran dan sumber-sumber belajar yang

    relavan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

    1) Pengelolaan kelas

    Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk

    menciptakan dan memelihara kondisi pembelajaran yang

    optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam

    proses pembelajaran, seperti penghentian perilaku siswa yang

    memindahkan perhatian kelas, memberikan ganjaran bagi siswa

    yang tepat waktu dalam menyelesaikan tugas atau penetapan

    norma kelompok yang produktif. (Rusman, 2014, hal. 90)

    Komponen-komponen dalam mengelola kelas yang pertama

    yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan

    pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, seperti menunjukkan

    sikap tanggap, memberikan perhatian, memusatkan perhatian

    kelompok, memberikan petunjuk yang jelaas, menegur siswa

    melakukan tindakan menyimpang, memberikan penguatan

    (reinforcement). Keterampilan yang berhubungan dengan

    pengembalian kondisi belajar yang optimal, yaitu berkaitan

    dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang

    berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat melakukan

    tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang

    optimal. Guru dapat menggunakan strategi: (a) modifikasi

    tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa

    yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha

    memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan

    pemberian penguatan secara sistematis. (b) guru menggunakana

    pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara

    memperlancar tugas-tugas melalui kerja sama diantara siswa dan

  • 26

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    memelihara kegiatan-kegiatan kelompok (c) menemukan dan

    memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

    Kegiatan mengelola kelas menyangkut kegiatan sebagai berikut:

    (a) mengatur tata ruang kelas misalnya mengatur meja dan

    tempat duduk, menempatkan papan tulis dan sebagainya. (b)

    menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi, dalam arti guru

    harus mampu menangani dan mengarahkan tingkah laku anak

    didik agar tidak merusak suasana kelas.(Suryosubroto, 2013,

    hal.41)

    2) Penggunaan metode pembelajaran

    Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat

    untuk mencapai tujuan, makin tepat metodenya diharapkan

    makin efektif pula pencapaian tujuan tersebut. Ada beberapa

    faktor yang ikut berperan dalam menentukan efektifnya metode

    mengajar antara lain adalah faktor guru itu sendiri, faktor anak

    dan faktor situasi (lingkungan belajar).(Suryosubroto, 2013,

    hal.141)

    3) Penggunaan Media dan sumber belajar

    Hal lain yang harus di monitor dalam pelaksanaan

    pembelajaran adalah penggunaan media dan sumber belajar

    yang di gunakan oleh guru dalam melaksanakan proses

    pembelajaran. Dalam komponen kurikulum, maka kedudukan

    media ini bisa sejajar dengan metode, karena metode yang di

    pakai dalam suatu proses pembelajaran biasanya menuntut

    media apa yang bisa diintegrasikan dan diadaptasikan dengan

    kondisi yang dihadapi. Oleh karena itu kedudukan media dalam

    suatu pembelajaran sangatlah penting. Pemilihan sumber belajar

    secara umum terdiri atas dua macam ukuran, yaitu kriteria

    umum dan kriteria berdasarkan tujuan yang hendak di capai.

    Kedua kriteria pemilihan sumber belajar tersebut berlaku baik

    untuk sumber belajar yang dirancang, maupun sumber belajar

  • 27

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    yang di manfaatkan. Penggunaan media dalam pelaksanaan

    pembelajaran dapat divariasikan kedalam penggunaan media

    visual, media audio dan media audio visual.

    a) Media visual yaitu media yang hanya dapat dilihat,

    contohnya seperti gambar-gambar, poster, bagan, kartun

    dan alin sebagainya.

    b) Media audio yaitu media yang mengandung pesan dalam

    bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat

    merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan

    siswa untuk belajar, contohnya radio

    c) Media audio visual yaitu gabungan antara media audio dan

    media visual atau biasa disebut media pandang dengar.

    Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan sebagai

    penyampai materi karena penyajian materi bisa diganti oleh

    media. (Rusman, 2014, hal. 275)

    c. Kegiatan Penutup

    Yang dimaksud dengan menutup pelajaran adalah kegiatan yang

    dilakukan oleh guru untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran,

    kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh

    tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa, mengetahui tingkat

    pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses

    pembelajaran. Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar

    proses satuan pendidikan dasar dan menengah menjelaskan bahwa

    yang dilakukan guru dalam kegiatan penutupan(Rusman, 2014, hal.

    92) adalah :

    1) Bersama-sama dengan siswa atau sendiri membuat kesimpulan

    pembelajaran

    2) Melakukan penilaian atau refleksi terhadap kegiatan yang telah

    dilaksanakan secara konsisten dan terprogram

    3) Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil

    pembelajaran

  • 28

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    4) Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk

    pembelajaran remedial, pengayaan, layanan bimbingan,

    memberikan tugas baik individu maupun kelompok.

    5) Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan

    berikutnya.

    B. PENELITIAN YANG RELAVAN

    Sebelum penulis mengadakan penelitian, terlebih dahulu melakukan studi

    relavan yaitu identifikasi sumber-sumber dalam bentuk hasil penelitian yang

    telah ada dan relevansinya dengan penelitian yang akan dilakukan dengan

    tujuan agar tidak terjadi kesamaan dalam penelitian baik dari sisi materi

    penelitian, subjek dan hasil temuan penelitian. Ada beberapa hasil penelitian

    yang relevan antara lain adalah:

    Malika Hasanah: (2017). Dengan Judul skripsi‘’ Efektifitas

    pembelajaran Aqidah Akhak dalam membina Akhlaqul karimah siswa kelas

    VIII MTs Al-Muslimun NW Tegal Desa Meninting Kecamatan Batulayar

    Lobar’’. Berdasarkan Hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan

    bahwa efektifitas pembelajaran aqidah akhlak dalam membina akhlakul

    karimah siswa mempunyai pengaruh yang besar dalam praktik hidup sehari-

    hari, hal tersebut terlihat dari besarnya pengaruh pembelajaran aqidah akhlak

    terhadap praktik hidup siswa sehari-hari yaitu mampu membentuk siswa-

    siswi yang berakhlak mulia kepada Allah, mampu membentuk siswa-siswi

    yang berakhlak mulia terhadap diri sendiri serta mampu membentuk akhlak

    siswa-siswi yang berakhlak mulia terhadap lingkungan. Dalam penelitian ini

    terdapat perbedaan dan persamaan, perbedaannya yaitu jika penulis meneliti

    mengenai pembelajaran aqidah akhlak dalam membina akhlak siswa

    sedangkan jika saudari Malika mengenai keefektifan pembelajaran aqidah

    tersebut. Lokasi yang penulis pilih di Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah

    Kota Jambi sedangkan dalam penelitian saudari Malika hasanah di MTs Al-

    Muslimun Tegal. Adapun persamaannya yaitu sama-sama meneliti mengenai

    pembelajaran akidah akhlak sehingga dapat membawa perubahan terhadap

    akhlak siswa. (hasanah, 2017)

  • 29

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    Juwita Putri: (2017). Dengan judul skripsi “ Peran guru Akidah akhlak

    dalam membina akhlak peserta didik di MIN 2 Teluk Betung Bandar

    Lampung” dapat digambarkan bahwa yang menyebabkan kurang baiknya

    akhlak siswa bukan dari kirang baiknya ajaran guru disekolah akan tetapi

    terdapat faktor diluar lingkungan sekolah yang sangat berpengaruh besar

    terhadap perkembangan akhlak siswa, peneliti ini menggunakan metode

    deskriptif kualitatif, adapun teknik pengumpulan datanya dengan wawancara,

    observasi dan dokumentasi . Dalam penelitian tersebut terdapat persamaan

    dan perbedaan, diantara perbedaan tersebut yaitu jika penulis meneliti

    mengenai pembelajar akidah akhlak apakah telah terlaksana dengan baik

    dalam membina akhlak siswa sedangkan dalam skripsi ini meneliti tentang

    peran seorang guru akidah akhlak dalam merubah akhlak siswa. Selain itu

    lokasi yang penulis pilih yaitu Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah Kota

    Jambi sedangkan penelitian saudari juwita di Madrasah Ibtidaiyah 2 Teluk

    Betung. Sedangkan persamaannya yaitu sama-sama menelitu mengenai

    pembinaan akhlakul karimah siswa. (putri, 2017)

    Indah Dwi Pratiwi “Upaya guru akidah akhlak dalam membina akhlak

    siswa di MTs Darussalam Tanggerang Selatan” dapat digambarkan bahwa

    upaya yang dilakukan guru pendidikan agama islamadalah dengan menyusun

    kebijakan serta program-program pembinaan akhlak siswa, setelah itu

    mengawasi atau memantau program tersebut lalu mengevaluasi apakah

    program tersebut berjalan lancar atau tidak. Dalam penelitin ini terdapat

    perbedaan dan persamaan, adapun perbedaannya yaitu jika peneliti lebih

    fokus kepada upaya atau cara guru akidah akhlak dalam memperbaiki akhlak

    siswa melalui program kegiatan pembinaan akhlak, sedangkan penulis

    meneliti mengenai pembelajaran akidah akhlak dalam membina akhlak siswa.

    Sedangkan persamaannya yaitu sama-sama membahas mengenai pembinaan

    akhlakul karimah siswa. (Pratiwi, 2019)

  • 30 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Pendekatan penelitian

    Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif ,

    dan sering juga disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya

    dilakukan pada kondisi yang alamiah (sugiyono, 2018, hal. 8) Dalam

    penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrumen yaitu

    peneliti itu sendiri. Untuk mendapat menjadi instrumen, maka peneliti harus

    memiliki bekal teori dan wawasan yang luas sehingga mampu bertanya,

    menganalisis, memotret, dan mengkonstruksi situasi sosial yang di teliti

    menjadi lebih jelas dan bermakna. Dalam pengambilan sampel sumber data

    di lakukan secara purposive yaitu dimana peneliti telah menentukan

    pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai

    dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab

    permasalahan penelitian. Selain itu, teknik pengumpulan datanya bersifat

    trianggulasi yaitu menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara

    gabungan. Dan analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan

    fakta-fakta yang ditemukan dilapangan.

    Dengan metode ini di harapkan dapat di peroleh pemahaman dan

    penafsiran yang mendalam dan memadai mengenai makna dari kenyataan

    dan fakta yang relevan terhadap apa yang terjadi sebenarnnya di lapangan.

    Metode kualitatif dapat di gunakan untuk mengungkap dan memahami

    sesuatu di balik fenomena yang sedikit pun belum di ketahui. Metode ini

    juga dapat di gunakan untuk mendapatkan wawasan tentang sesuatu yang

    baru sedikit di ketahui.

    Metode Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang di gunakan

    untuk meneliti pada kondisi alamiah, (sebagai lawannya adalah ekperimen)

    di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci, penelitian dengan

    penektan kualitatif menekankan analisis dari proses berfikir secara induktif

  • 31

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    yang berkaitan dengan dinamika hubungan antara fenomena yang di Amati,

    senantiasa menggunakan logika alamiah (gunawan I. , 2013, hal. 80)

    Penelitian kualitatif di ibaratkan oleh bogdan, seperti orang mau

    piknik, sehingga ia baru tau tempat yang akan di tuju, tetapi belum tau pasti

    apa yang terjadi di tempat itu. Ia akan tau setelah mamasuki obyek, dengan

    cara membaca berbagai informasi tertulis, gambar- gambar, melihat obyek

    dan aktivitas orang yang ada di sekelilingnya. Setelah memasuki obyek,

    peneliti kualitatif akan melihat segala sesuatu yang ada di tempat itu, yang

    masih bersifat umum.

    B. Setting dan subjek penelitian

    1. Lokasi penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di MADRASAH TSANAWIYAH

    NURURRODHIYAH KOTA JAMBI karena di sekolah tersebut

    terdapat permasalahan yang di jadikan fokus penelitian.

    2. Subyek penelitian

    Adapun yang menjadi subyek penelitian disini adalah guru mata

    pelajaran aqidah akhlak kelas VII . Key informan dalam penelitian ini

    adalah guru aqidah akhlak yang berkewajiban membentuk moral dan

    akhlak siswa, informan tambahan yaitu kepala sekolah MTs

    Nururrodhiyah Kota Jambi, serta yang dimaksud dengan responden

    dalam penelitian ini adalah seseorang yang diminta untuk memberikan

    jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti

    yaitu siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi.

    C. Jenis data dan sumber data

    pengambilan dan pengumpulan data di gunakan dua jenis data, yakni:

    1. Data primer

    Data primer adalah data yang diambil langsung dari peneliti kepada

    sumbernya, tanpa adanya perantara. Yakni data yang diperoleh secara

    langsung melalui wawancara dan pengamatan (observasi) kepada para

    informan yaitu guru akidah akhlak dan kepala sekolah MTs

    Nururrodhiyah Kota Jambi. Data tentang pembelajaran aqidah akhlak

  • 32

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    dalam membina akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah kota Jambi,

    khususnya mengenai:

    a. Bentuk perilaku siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi

    b. Proses pembelajaran aqidah akhlak dalam membina akhlak siswa di

    MTs Nururrodhiyah Kota Jambi

    c. Kendala dan solusi yang dihadapi guru aqidah akhlak dalam

    membina akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi.

    2. Data skunder

    Data skunder adalah data dari sejumlah sumber pribadi mencakup

    banyak sekali macam bahan, beberapa di antaranya di pakai secara

    berkala oleh peneliti. Pertama, di antara jenis data skunder pribadi

    adalah dokumen pribadi. Dan data skunder yang lain juga termasuk

    yaitu data yang di peroleh dari pihak kedua sebagai perantara dan data

    ini bersifat sebagai penunjang dalam suatu penelitian yang meliputi :

    a. Historis dan Geografis

    b. Keadaan dan jumlah kelas

    c. Struktur organisasi

    d. Situasi di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi

    D. Teknik pengumpulan data

    Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara,

    dokumentasi.

    1. Observasi

    Observasi diartikan sebagai pengamatan sebagai suatu objek yang

    diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh

    data yang harus dikumpulkan dalam penelitian. Observasi dilakukan

    dengan menggunakan dan membantu peneliti dalam memperoleh data,

    panduan tersebut dikembangkan dan diperbaharui selama penulis

    berada di lokasi penelitian. Metode observasi yang peneliti gunakan

    yaitu metode observasi tidak terstruktur yaitu observasi yang tidak

    dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi, hal

    ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang

  • 33

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak

    menggunakan istrument yang telah baku tetapi hanya berupa rambu-

    rambu pengamatan. (sugiyono, 2018, hal. 228)

    2. Wawanacara

    Wawancara dilakukan untuk mendapat informasi secara langsung,

    wawancara terstruktur akan dilakukan kepada kepala sekolah dan guru

    aqidah akhlak. Tujuan utama wawancara adalah berguna untuk

    mengetahui pengetahuan, informasi, pemikiran, sikap prilaku,

    kepercayaan, dan interprestasi. Wawancara dilakukan tersruktur sesuai

    pertanyaan penelitian. Namun wawancara juga dilakukan dengan cara

    unscheduled, non directive conversational yaitu wawancara pertemuan

    orang-dengan orang dengan salah satu mencari informasi yang lain

    (sirozi, 2004, hal. 99)

    Menurut prosedurnya wawancara yang dilakukan, maka

    wawancara dapat dibedakan atas wawancara berstruktur dan wawancara

    tidak berstruktur. Dikatakan wawancara berstruktur apabila pertanyaan-

    pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara tersebut telah disusun

    dalam suatu catatan secara jelas dan terinci. Dikatakan wawancara tidak

    berstruktur apabila pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dalam

    wawancara tersebut tidak disusun secara rinci. Catatan pertanyaan-

    pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara tersebut dijadikan

    pegangan oleh penginterviu dalam melaksanakan interviu. Dilihat dari

    pengertian dan jenis wawancara ini peneliti menggunakan jenis

    wawancara yang terstruktur yaitu peneliti telah mengetahui dengan

    pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Peneliti telah

    menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan

    tertulis yang alternatifnya pun telah disiapkan. Penulis melakukan

    wawancara dengan pihak yang terkait dalam penelitian ini.

    3. Dokumentasi

    Dokumentasi ditujukan untuk memperoleh data langsung dari

    tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-

  • 34

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang

    relevan penelitian. Untuk dokumentasi penulis mengambil foto-foto

    yang berhubungan dengan proses selama penelitian berlangsung.

    Dokumentasi di gunakan untuk menemukan data tentang sejarah

    sekolah, visi misi sekolah, workshop, rapat, dan kebijakan sekolah

    khususnya mengenai cara guru dalam menanggulangi kenakalan

    remaja.

    Dalam penelitian ini yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan

    mengumpulkan data melalui sumber-sumber yang tertulis, misalnya

    dokumen-dokumen resmi, makalah-makalah penelitian dan buku-buku

    yang relavan dengan penelitian ini, studi dokumen resmi yang

    dilakukan peneliti adalah mengumpulkan data melalui pencatatan atau

    data tertulis mengenai keadaan sekolah yang diteliti yaitu MTs

    Nururrodhiyah Kota Jambi. Penulis mengambil data dokumentasi dari

    sumber sumber yang terkait.

    E. Teknik Analisis Data

    Dalam penelitian kualitatif, data yang di peroleh dari berbagai sumber,

    dengan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (trianggulasi),

    Dan di lakukan secara terus menerus samapai datanya jenuh. Dengan

    pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data tinggi

    sekali. Data yang di peroleh pada umumnya adalah data kualitatif (walaupun

    tidak menolak data kuantitif. Ide tentang trianggulasi bersumber dari ide

    tentang multiple operationisme’ yang menegaskan bahwa kesahihan

    temuan-temuan dan tingkat konfidensinya akan di pertinggi oleh pemakaian

    lebih dari satu pendekatan untuk pengumpulan data. (Branner, 2005, hal.

    88) Trianggulasi dengan sumber berarti membadingkan dan mengecek balik

    derajat kepercayaan suatu informasi yang di proleh melalui waktu dan alat

    yang berbeda dalam penelitian kualitatif hal itu dapat dicapai dengan 1.

    Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; 2.

    Membandingkan apa yang katakan orang di depan umum dengan apa yang

    di katakan-nya secara pribadi; 3. Membandingkan apa yang yang di katakan

  • 35

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya

    sepanjang waktu; 4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang

    dengan berbagai pendapat dan pandangan seperti rakyat biasa, orang yang

    berpendidikan menengah atau tinggi; 5. Membandingkan hasil wawancara

    dengan isi suatu dokumen yang berkaitan (Jmoleong, 2013, hal. 331)

    Menurut bogdan “data analysis is the process of systematically

    searching and orranging the interview transcripts, fieldnotes, and ather

    materials that you accumulate to increase your own understanding of them

    and to enable you to present what you heve discovered to other’ (sugiyono,

    metode penelitian pendidikan, 2010, hal. 334)

    Berdasarkan hal tersebut di atas dapat di kemukan di sini bahwa,

    analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data

    yang di peroleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan documentasi.

    Dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan

    kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih

    mana yang penting dan yang akan di pelajari, dan membuat kesimpulan

    sehingga muda di pahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Dalam

    penelitian ini penulis menggunakan analisis data model Miles dan

    Huberman. Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat

    pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam

    periode tertentu. Miles dan Huberman mengemukakan bahwa aktivitas

    dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung

    secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.

    (sugiyono, metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D, 2018, hal. 246)

    Adapun analisis datanya melalui langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Reduksi Data

    Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak,

    untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti yang telah

    dikemukakan, semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data

    akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera

    dilakukan analisis data melalui reduksi data. Merudksi data berarti

  • 36

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal

    yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang

    telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan

    mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

    selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. (sugiyono, metode

    penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D, 2018, hal. 247)

    Masalah yang ditemukan baik melalui observasi, wawancara, dan

    dokumentasi dalam usaha pembelajaran aqidah Akhlak dalam membina

    akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah Kota Jambi dianalisis dengan

    merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal

    yang penting, dicari tema dan polanya, dan membuang yang tidak perlu

    dan mengorganisasikan data tersebut sehingga bisa disajikan.

    2. Melaksanakan Display Data atau Penyajian Data

    Langkah selanjutnya yaitu penyajian data kepada yang telah

    diperoleh kedalam sejumlah matriks atau daftar kategori setiap data

    yang didapat. Dalam penelitian kualitatif penyajian data bisa dilakukan

    dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dengan

    mendisplay data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang

    terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah

    dipahami tersebut. (sugiyono, metode penelitian kuantitatif kualitatif

    dan R&D, 2018, hal. 249) Penyajian data mengenai usaha pembelajaran

    aqidah akhlak dalam membina akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah

    Kota Jambi yang telah direduksi melalui bab-bab yang sudah tersedia.

    3. Mengambil Kesimpulan/Verifikasi

    Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan

    Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, kesimpulan

    awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan dapat

    berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung

    pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan dalam penelitian

    kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum

    pernah ada, temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek

  • 37

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah

    diteliti menjadi jelas (sugiyono, metode penelitian kuantitatif kualitatif

    dan R&D, 2018, hal. 253). Mengambil kesimpulan merupakan analisis

    lanjutan dari reduksi data, dan display data sehingga data dapat

    disimpulkan, dan peneliti masih berpeluang untuk menerima masukan.

    Penarikan kesimpulan sementara, masih dapat diuji kembali dengan

    data di lapangan, dengan cara merefleksikan kembali, peneliti dapat

    bertukar pikiran dengan teman sejawat, trianggulasi, sehingga

    kebenaran ilmiah dapat tercapai

    Kesimpulan sementara dapat dibuat terhadap setiap data yang

    ditemukan pada saat penelitian sedang berlangsung, dan kesimpulan

    akhir dapat dibuat setelah seluruh data mengenai masalah pembelajaran

    aqidah akhlak dalam membina akhlak siswa di MTs Nururrodhiyah

    Kota Jambi dianalisis.

    4. Proses analisis data

    Analis data dalam penilitian kualitatif di lakukan semenjak sebelum

    mamasuki lapangan, selama di lapangan, dan selesai di lapangan.

    a. Analisis sebelum di lapangan

    Analisis di lakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau

    data skunder, yang Akan di gunakan untuk menentukan focus

    penelitian

    b. Analisis selama di lapangan

    Analisis di lakukan pada saat pengumpulan data berlansung

    dan setelah selesai pengumpulan data tertentu. Pada saat

    wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban

    yang di wawancarai.

    F. Uji keterpercayaan data

    Uji keabsahan data melalui triangulasi adalah pemeriksaan data yang

    sangat sering dan banyak digunakan dalam penelitian kualitaitf. Ini terjadi

    karena triangulasi memberi peluang paling besar untuk mendapatkan data

    sesuai dengan realitas sesungguhnya. Trianggualasi adalah pengamatan

  • 38

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    yang terus menerus sampai datanya jenuh. Uji keabsahan data melalui

    triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan

    sesuatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai

    pembanding terhadap data itu, teknik triangulasi yang paling banyak

    digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.

    Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik

    derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat

    yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Lexy J.Meleong, 2018, hal. 331)

    Hal itu dapat dicapai dengan jalan :

    1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara

    2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa

    yang dikatakannya secara pribadi

    3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi

    penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu

    Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai

    pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang

    berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.

    Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

    berkaitan.

  • 39

    Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    G. JADWAL PENELITIAN

    Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

    NO BENTUK KEGIATAN

    2019/2020

    JUN OKT DES JAN FEB MAR APRIL

    M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M

    3 1 3 4 2 3 4 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 ACC Judul √

    2 Pembuatan Proposal √ √ √

    3 Bimbingan Proposal √ √ √

    4 Seminar Proposal √

    5 Perbaikan Proposal √ √ √

    6 Surat Izin Riset √

    7 Penelitian √ √ √ √ √

    8 Bimbingan Skripsi √ √

    9 Perbaikan Skripsi √ √

    10 Pramunaqasyah √

    11 Munaqasyah √

  • 40 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

    BAB IV

    TEMUAN DAN PEMBAHASAN

    A. DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

    1. Sejarah berdirinya MTs Nururrodhiyah Kota Jambi

    Madrasah Nururrodhiyah berdiri pada tanggal 10 Muharram 1387

    H/1985 M. Madrasah ini pada mulanya hanya berbentuk pengajian

    anak-anak yang bertempat di masjid Darussabiqin. Karena tuntutan

    keadaan, maka dua tahun kemudian yaitu tanggal 10 muharram 1389

    H/1987 M didirikan perguruan Nururrodhiyah (PNR). Berdirinya

    Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah pada tanggal 27 Juni 1989,

    madrasah ini terbentuk setelah dibukanya Madrasah Ibtida’iyah yang

    berstatus swasta dan dikelola oleh beberapa orang tokoh yang sekaligus

    sebagai pimpinan dan penanggung jawab terhadap perkembangan

    pendidikan di Madrasah.

    Adapun tokoh-tokoh masyarakat tersebut adalah sebagai berikut :

    1. H. Abdul Rozi (Alm)

    2. Drs. H. Usman Nasution (Alm)

    3. Drs. H. Rahmat Nasution

    4. KH. Abdul Manaf (Alm)

    5. Drs. H. Firmansyah, Ar

    Adapun dana untuk mendirikan Madrasah ini didapat dari hasil

    sumbangan masyarakat setempat, para hartawan dan dermawan.

    Semejak tahun 1989 Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah telah

    memiliki gedung yang permanen. Madrasah ini perlahan lahan

    mengalami perkembangan yang baik dari segi sarana dan prasarananya

    maupun dari tenaga pengajarnya. Terutama setelah dimasukkannya

    bidang studi umum yang di sesuaikan dengan kurikulum madrasah-

    madrasah negeri. Di Madrasah Tsanawiyah Nururrodhiyah juga t