Pembahasan Lapsus Tenggelam

download Pembahasan Lapsus Tenggelam

of 22

Embed Size (px)

description

OIU

Transcript of Pembahasan Lapsus Tenggelam

LAPORAN KASUS KORBAN MATITENGGELAMOLEH: AKBAR YUNUS, ISRADI FEBRIANTO, RAHMAWATI

BAB IPENDAHULUANBerdasarkan World Health Organization (WHO), 0,7% kematian didunia atau 500.000 kematian setiap tahunnya disebabkan oleh tenggelam. Tenggelam merupakan penyebab utama kematian didunia diantara anak laki-laki berusia 5-14 tahun. Di amerika serikat, tenggelammerupakan penyebab kedua kematian yang disebabkan oleh kecelakaan diantara anak-anak usia 1 sampai 4 tahun, dengan angka kematian rata-rata 3 per 1000 orang. Berdasarkan definisi terbaru dari WHO pada tahun 2002, tenggelam merupakan suatu proses gangguan respirasi yang disebabkan subumersi atau imersi oleh cairan. Sebagian besar korban tenggelam hanya mengisap sebagian kecil air dan akan baik dengan sendirinya. Kurang dari 6 % dari korban tenggelam membutuhkan perawatan medis dirumah sakit. Jika korban tenggelam diselamatkan secepatnya maka proses tenggelam selanjutnya dapat dicegah yang berarti tidak akan menjadi fatal.1Tenggelam merupakan salah satu kematian yang disebabkan oleh asfiksia. Kematian karena asfiksia sering terjadi, baik secara wajar maupun tidak wajar, sehingga tidak jarang dokter diminta bantuannya oleh pihak polisi/penyidik untuk membantu memecahkan kasus-kasus kematian karena aspiksia terutama bila ada kecurigaan kematian tidak wajar. Tenggelam merupakan kematian tipe asfiksia yang disebabkan adanya air yang menutup. Jalan saluran pernapasan sampai ke paru-paru. Keadaan ini merupakan penyebab kematian jika kematian terjadi dalam waktu 24 jam dan jika bertahan lebih dari 24 jam setelah tenggelam memperlihatkan adanya pemulihan telah terjadi ini disebut near drowning. Penelitian pada akhir tahun 1940-an hingga awal 1950-an menjelaskan bahwa kematian disebabkan adanya gangguan elekrolit atau terjadinya hipoksia dan asidosis yang menyebabkan aritmia jantung akibat masuknya air dengan volume besar ke dalam sirkulasi melalui paru-paru. 2,3Tenggelam pada umumnya merupakan kecelakaan, baik kecelakaan secara langsung maupun tenggelam yang terjadi oleh karena korban dalam keadaan mabuk, berada di bawah pengaruh obat atau pada mereka yang terserang epilepsi. Pembunuhan dengan cara menenggelamkan jarang terjadi, korban biasanya bayi atau anak-anak. Pada orang dewasa dapat terjadi tanpa sengaja, yaitu korban sebelumnya dianiaya, disangka sudah mati, padahal hanya pingsan. Untuk menghilangkan jejak korban dibuang ke sungai, sehingga mati karena tenggelam. Bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri juga merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Korban sering memberati dirinya dengan batu atau besi, baru kemudian terjun ke air. 4a. DefenisiTenggelam adalah bentuk kematian akibat asfiksia karena terhalangnya udara masuk ke dalam saluran pernafasan disebabkan tersumbatnya oleh cairan. Terhalangnya udara masuk ke paru-paru tidak perlu orang harus terbenam ke air, tetapi tertutup saluran nafas atas oleh cairan cukup untuk membuatnya mati tenggelam.5b. Proses tenggelamTenggelam dapat terjadi pada orang yang tidak bisa berenang maupun pandai berenang (bila ia sampai ke tingkat kehabisan tenaga atau keadaan lain).Proses tenggelam dimulai pada waktu orang masuk ke air karena panik atau kekelahan, maka sebagian air masuk ke mulut dan saluran pernafasan. Ini akan menimbulkan reflek batuk yang menyebabkan korban perlu menghirup udara lagi dengan berusaha menggapai ke permukaan, namun akibatnya lebih banyak lagi air yang masuk menggantikan udara, ini terjadi berulang kali, akhirnya korban tenggelam. Setelah terjadi proses pembusukan, beberapa hari kemudian korban terapung kembali karena gas pembusukan yang berkumpul dalam rongga perut dan dada, maka korban akan muncul ke permukaan air, kecuali korban tersangkut di dalam air atau dimakan binatang. Bila gas pembusukan ini akhirnya keluar dari tubuh, maka korban kembali tenggelam. Proses ini perlu diketahui dalam pencarian korban tenggelam.5,6

c. Tipe tenggelamKematian karena tenggelam bisa melalui berbagai proses, maka tenggelam dibedakan atas berbagai tipe:1. Dry drowning, mati tenggelam tanpa ada air di saluran pernafasan. Mungkin karena spasme laring atau inhibisi vagal yang mengakibatkan jantung berhenti berdenyut sebelum korban tenggelam. Ini dikenal sebagai Drowning type 1.2. Wet drowning, tenggelam dalam pengertian sehari-hari baik di air tawar (Drowning type 2a) maupun air asin (Drowning type 2b).3. Immersion syndrome, mati tenggelam karena masuk ke air dingin yang menyebabkan inhibisi vagal.4. Secondary drowning, tidak sesungguhnya mati tenggelam, tetapi mati sesudah dirawat akibat tenggelam. Tetapi ada hubungan nya dengan kelainan paru akibat tenggelam (infeksi atau oedem).Ada 2 jenis mati tenggelam (drowning) berdasarkan posisi mayat, yaitu : 51. Submerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk ke dalam air, seperti bagian kepala mayat.2. Immerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke dalam air.d. Tenggelam basah (Wet drowning)Perlu dikenal proses kematian karena tenggelam basah dalam pengertian sehari-hari:1. Air tawarAir masuk ke paru-paru sampai ke alveoli. Karena konsentrasi darah lebih tinggi dari air, maka cairan di paru-paru masuk ke dalam sirkulasi darah, terjadi hemodilusi yang diikuti dengan hemolisis, akibatnya kadar ion K dalam serum darah meningkat dan kadar ion Na turun dan disertai peningkatan volume darah, beban jantung bertambah berat, terjadi keadaan hipoksia dan fibrilasi ventrikel, berakhir terjadi kematian akibat anoksia otak. Dalam penelitian didapati penambahan volume darah bisa sampai 72%. Kadar ion Chlor di jantung kiri turun sampai 50%. 2. Air lautAir laut yang masuk ke dalam paru lebih hipertonik sehingga dapat menarik air dari pembuluh darah. Akibatnya terjadi oedem paru, darah menjadi hemokonsentrasi. Kadar ion Chlor jantung kiri meningkat 30-40%, kadar ion Mg dalam darah meningkat, RBC meningkat dan di bawah mikroskop butir darah tampak mengkerut. Terjadi hipoksia. Kematian terjadi karena oedem paru.(1,2)

e. Sebab kematian Seperti dijelaskan ada berbagai tipe tenggelam, maka sebab kematian tenggelam juga terjadi karena berbagai bentuk:1. Asfiksia, karena spasme laring.2. Fibrilasi, ventrikuler karena tenggelam di air tawar.3. Oedem paru, karena tenggelam di air asin.4. Inhibisi vagal, karena reflex.Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning, yaitu :1. Spasme laring (menimbulkan asfiksia).2. Vagal reflex / cardiac arrest / kolaps sirkulasi.Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning, yaitu :1. Asfiksia.2. Fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar.3. Edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut).Ada 4 cara kematian pada kasus tenggelam (drowning), yaitu :1. Kecelakaan (paling sering).2. Undeterminated.3. Pembunuhan.4. Bunuh diri.Ada 2 kejadian kecelakaan pada kasus mati tenggelam (drowning) yang dapat kita jumpai, yaitu : 1. Kapal tenggelam. 2. Serangan asma datang saat korban sedang berenang.Penyebab mati tenggelam (drowning) yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita ketahui cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air.5,7f. Tanda-tanda post-mortemMenentukan identitas korban dengan memeriksa antara lain: Pakaian dan benda-benda milik korban Warna dan distribusi rambut dan identitas lain. Kelainan atau deformitas dan jaringan parut Sidik jari Pemeriksaan gigi Teknik identifikasi laina. Pemeriksaan luarTanda-tanda asfiksia seperti sianose pada kuku, bibir. Mata merah karena perdarahan subconjuctiva, dari mulut dan hidung terdapat buih halus yang sukar pecah, kadang menjulur seperti lidah. Lebam mayat lebih banyak di bagian kepala, muka dan leher (karena posisi kepala di air lebih rendah). Bila didapati kejang mayat (cadaveric spasme) tangan menggenggam rumput/kayu merupakan bukti kuat korban masih hidup waktu masuk ke air. Bila korban lama di dalam air bisa didapati telapak tangan dan kaki putih mengkerut seperti tukang cuci (washer womans hand). Kadang didapati kulit kasar seperti kulit bebek (cutis anserine), tapi tidak patognomosis karena itu terbentuk akibat kontraksi m.errector pilli karena dingin atau proses kaku mayat. Adanya lumpur di badan, tangan korban, di bawah kuku atau pakaian penting diperhatikan. Pastikan juga adanya luka-luka post mortem apalagi bila korban terseret arus di sungai atau gigitan ikan dan binatang lainnya. Luka post mortem oleh batu-batuan di sungai didapati di tubuh bagian luar. b. Pemeriksaan dalamPenting memeriksa adanya lumpur, pasir halus dan benda asing lainnya dalam mulut dan saluran nafas, lumen laring, trachea dan bronchus sampai ke cabang-cabangnya. Pada rongga mulut dan saluran pernafasan berisi buih halus yang mungkin bercampur dengan lumpur. Paru-paru tampak lebih besar voluminous dan oedematous apalagi tenggelam di air laut, dengan cetakan iga di permukaan paru. Pada perabaan kenyal ada pitting oedema, bila dipotong dan diperas tampak banyak buih. Darah lebih gelap dan encer. Jantung kanan berisi darah dan di bagian kiri kosong . Oesofagus dan lambung bisa terisi cairan sesuai tempat di mana korban tenggelam mungkin mengandung lumpur, pasir dan lain-lain. Ini petunjuk penting karena korban menelan air waktu kelelap dalam air, apalagi bila didapati di duodenum yang menunjukkan ada passage melewati pylorus.Harus diingat bahwa pada dry drowning tidak didapati air atau kelainan di paru maupun di lambung.Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati tenggelam (drowning), yaitu :1. Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya.2. Kita dapat temukan suicide note.3. Kedua tangan / kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban.4. Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat.5,7g. PemeriksaanPemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan adanya diatome dapat dilakukan dengan tes destruksi. Begitu juga bilas paru untuk mendapatkan adanya pasir atau telur cacing bila air dikontaminasi dengan faeses, ini dilakukan bila pembuktian secara makroskopis meragukan. Pemeriksaan kimia darah dapat dilakukan tetapi memerlukan fasilitas dan biaya.Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam (drowning), yaitu :1. Percobaan getah paru (lonset proef).2. Pemeriksaan diatome (destruction test).3. Penentuan berat jenis (BD) plasma.4. Pemeriksaan kimia darah (gettler test).5. Pemeriksaan Histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot.5,7h. Diagnosis tenggelamBila mayat masih segar (belum terdapat pembusukan), maka diagnosis kematian akibat tenggelam dapat dengan mudah ditegakkan melalui pemeriksaan yang teliti dari: Pemeriksaan luar Pemeriksaan dalam Pemeriksaan laboratorium berupa histologi jaringan, destruksi jaringan dan berat jenis serta kadar elektrolit darah.Bila mayat sudah membusuk, maka diagnosis kematian akibat tenggelam dibuat berdasarkan adanya diatom yang cukup banyak pada paru-paru yang bila disokong oleh penemuan diatom pada ginjal, otot skelet atau diatom pada sumsum tulang, maka diagnosis akan menjadi pasti.5i. MedikolegalSecara medikolegal kematian karena tenggelam umumnya karena kecelakaan apalagi di musim hujan dan banjir. Bunuh diri dengan tenggelam bukan hal yang jarang terjadi. Biasanya korban memilih tempat yang tinggi untuk melonjat dan biasanya di tempat yang sering dilewati orang. Penting sekali menentukan apakah korban mati karena tenggelam atau sudah mati baru ditenggelamkan. Pemeriksaan menjadi sulit bila korban telah mengalami pembusukan atau pembusukan lanjut. Perlu diperhatikan bahwa korban yang diangkat dari air, mengalami pembusukan lebih cepat dari biasa. Oleh karena itu penundaan pemeriksaan akan mempersulit pemeriksaan, selain bau yang akan dihadapi pemeriksa. 5

KEPOLISIAN DAERAH SULAWESI SELATANBIDANG KEDOKTERAN DAN KESEHATANRUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSARJl. Letjen Pol Mappaoudang No. 63 Makassar - 90223PRO JUSTITIAVISUM ET REPERTUMNomor :A.901/ 400 / VII /2014/ReskrimPada hari Rabutanggal duaJulidua ribu empatbelas,pukulsebelas lewat lima puluh menitWaktu IndonesiaBagian Tengah. Saya dokterAKP dr. MauluddinMansyur, S.Sos, MH, Sp.F, M.Kes, dokter ahli Forensik pada Rumah Sakit Bhayangkara Makassar bertempat di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar atas penunjukan ini sesuai dengan surat permintaaan Visum et Repertum dariKEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH SULAWESI SELATAN RESORT MAROS, tertanggalsatu Juli dua ribu empat belas, maka dengan ini telah memeriksa satu mayat laki-lakiyang menurut surat tersebut Nama:Mr.X-----------------------------------------------------------------------------Umur: Sekitar dua puluhan tahun---------------------------------------------------Jenis Kelamin: Laki-laki------------------------------------------------------------------------Agama::Tidak diketahui-----------------------------------------------------------------Warga Negara:Tidak diketahui ---------------------------------------------------------------Alamat:Tidak diketahui----------------------------------------------------------------

Mayat tersebut ditemukan di bawah jembatan Maros Kel.Pettuadae Kec. Turikale Kab.Maros.----I. ANAMNESISJenazah diantar oleh polisi dalam kondisi tak bernyawa, menurut keterangan, jenazah ditemukan di bawah jembatan Maros Kel.Pettuadae Kec. Turikale Kab.Maros pada hari selasa satu Juli dua ribu empat belas jam tujuh lewat nol nol Waktu Indonesia bagian Tengah dan langsung dibawa ke kantor polisi Resort Maros lalu kemudian di antarkan ke RS Bhayangkara Makassar dan tiba pada pukul enam belas nol nol Waktu Indonesia bagian Tengah.

II. PEMERIKSAAN LUAR

1. Terdapat satu kantong berwarna kuning dengan tulisan DITJEN BINA PELAYANAN MEDIK DEPARTEMEN KESEHATAN RI, Lambang Bakti Husada. Bahan pembungkus terbuat dari plastik dengan bau yang sangat menyengat. Pada saat kantong dibuka, terdapat seorang mayat berjenis kelamin laki-laki yang tidak mengenakan pakaian dan terdapat selimut dengan motif bergaris yang menutupi dada dan kaki. Kaki terikat dengan kasa putih yang menyatukan jari ibu kaki kanan dan kiri pada pergelangan kaki, dan pada daerah bawah lutut.------------------------------2. Rambut lurus dan berwarna hitam, padat, mudah dicabut, warna kulit kehitaman, panjang badan seratus tujuh puluh dua sentimeter.------------3. Tidak ada kaku mayat pada seluruh persendian tubuh, Ada lebam mayat berwarna merah keunguan pada daerah wajah, lengan kiri atas, dan seluruh bagian belakang, dan terdapat tanda-tanda pembusukan mayat.---4. Kepala bagian berambut :Tidak tampak kelainan.---------------------------5. Wajah : tampak lebam mayat berwarna merah keunguan, tidak hilang dengan penekanan. --------------------------------------6. Mata kiri dan kanan: Kedua bola mata menonjol, keluar cairan berwarna merah.-------------------------------------------------------------------7. Hidung :Simetris, tampak cairan berwarna merah keluar dari lubang hidung--8. Telinga kiri dan kanan : kedua telinga menempel, tampak darah keluar dari lubang telinga dan sedikit busa, ada anting-anting silver berbentuk bulat pada telinga kanan--------------------------------------------------9. Mulut : bibir atas dan bawah ada robekan dan keluar cairan berwarna merah disertai sedikit busa, lidah terjulur keluar, bibir terbuka satu koma tujuh sentimeter-----10. Gigi geligi : tidak ada gigi yang hilang, gigi Molar tiga belum erupsi, Susunan gigi teratur. Tidak ada kelainan khas yang ditemukan.11. Leher :Tidak tampak luka atau kelainan lainnya------------------------------12. Dada :Tidak tampak luka atau kelaianan lainnya.terdapat kulit yang mengelupas pada dada.------------------------------------------------------------13. Perut:Tidak tampak luka, Tampak perut sedikit membengkak, terdapat kulit yang mengelupas pada perut ------------------14. Punggung :Tidak tampak luka atau kelainan lainnya. Terdapat kulit yang mengelupas, berwarna sedikit hitam kehijauan dan tampak : tampak lebam mayat berwarna merah keunguan, tidak hilang dengan penekanan.----------------15. Kemaluan : penis telah disunat scrotum tampak membesar-----------------16. Lubang pelepasan (anus) :keluar kotoran berwarna kekuningan dari dubur-------17. Anggota gerak atas : tidak tampak luka atau kelainan lainnya. Tampak lebam mayat berwarna merah keunguan, tidak hilang dengan penekanan.---------------------------------------18. Anggota gerak bawah: Tidak tampak luka atau kelainan lain.19. Lain-lain : panjang rambut kepala sembilan koma lima sentimeter, panjang alis mata satu sentimeter, panjang bulu mata nol koma lima sentimeter. Kulit telapak kaki dan kanan tampak keriput dan kebiruan.II. PEMERIKSAAN DALAM------------------------------------------------------------1. Jaringan lemak di bawah kulit berwarna kuning, daerah dada setebal nol koma lima sentimeter dan perut satu sentimeter. Otot-otot berwarna merah kecoklatan dengan tebal tiga koma lima sentimeter. Sekat rongga badan kanan setinggi sela iga kelima, kiri setinggi sela iga ke lima. Tulang dada utuh, iga-iga utuh. Bagian jantung yang tidak ditutupi paru Sembilan sentimeter.--------------------------------------------------------------2. Selaput dinding perut putih mengkilat, otot dinding perut merah dan tebal nol koma lima sentimeter.------------------------------------------------3. Kerongkongan tidak terdapat benda asing, selaput lender licin, tidak terdapat benda asing maupun kelainan lainnya-------------4. Pada dinding dada ditemukan lebam mayat warna merah gelap tidak hilang dengan penekanan, tidak ditemukan darah dalam rongga dada, tidak ada resapan darah pada otot dinding dada, Tidak ada tulang dada yang patah.5. Jantung sebesar (ukuran) empat belas kali tiga belas sentimeter, berwarna merah, berat dua ratus lima puluh gram.---------------------------6. Paru kanan terdiri atas tiga lobus, berwarna merah kecoklatan, pada perabaan kenyal, penampang berwarna merah, pada pemijatan tidak ada yang keluar air, berat dua ratus dua puluh lima gram, panjang dua puluh sentimeter, lebar lima belas sentimeter, tinggi tiga sentimeter. Paru kiri terdiri atas dua lobus berwarna merah kecoklatan perabaan kenyal penampang berwarna merah, pada pemijatan tidak ada yang keluar, berat dua ratus gram, panjang delapan belas sentimeter,dua belas sentimeter dan tinggi dua sentimeter.--------7. Lambung: permukaan licin, tepi rata, perabaan kenyal, panjang lengkung besar empat puluh lima sentimeter, panjang lengkung kecil dua puluh sentimeter. Berat dua ratus lima puluh gram dan tidak terdapat benda asing pada lambung.8. Pada tulang tengkorak tidak ada resapan darah dan tidak ada patah tulang tulang yang patah, Tidak ditemukan resapan darah pada kulit kepala,Tidak terdapat perdarahan di atas selaput keras otak maupun Selaput lunak otak dan Tidak ada kelainan lainnya.

KESIMPULAN---------------------------------------------------------------------Berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas, maka disimpulkan telah dilakukan pemeriksaan luar pada mayat seorang laki-laki umur sekitar dua puluhan tahun. Dari hasil pemeriksaan luar yang telah dilakukan didapatkan kedua bola mata menonjol, keluar cairan berwarna merah, tampak cairan berwarna merah keluar dari lubang hidung, kedua telinga menempel, tampak darah keluar dari lubang telinga disertai sedikit busa, ada anting-anting silver berbentuk bulat pada telinga kanan, bibir atas dan bawah ada robekan dan keluar cairan berwarna merah, lidah terjulur keluar, bibir terbuka satu koma tujuh sentimeter, akumulasi livor mortis pada wajah, tangan dan punggung. kulit yang mengelupas pada dada, perut dan punggung. Scrotum dan perut tampak membesar. Kulit telapak kaki dan kanan tampak keriput dan kebiruan. Pada pemeriksaan dalam tidak ditemukan tanda-tanda pembunuhan. Penyebab kematian disebabkan karena tenggelam----------------------------------------------------------------------------PENUTUP-------------------------------------------------------------------------Demikian visum et Repertum ini dibuat dengan penguraian yang sejujur-jujurnya dan menggunakan pengetahuan yang sebaik-baiknya serta mengingat sumpah saat menerima jabatan sebagai dokter dan sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). ---------------------------

Makassar, 02 Juli 2014DOKTER PEMERIKSA

PEMBAHASAN

Jenazah diantar oleh polisi dalam kondisi tak bernyawa, menurut keterangan, jenazah ditemukan di bawah jembatan Maros Kel.Pettuadae Kec. Turikale Kab.Maros pada hari selasa pada 2 juli 2014 jam 07.00 WITA dan langsung dibawa ke kantor polisi Resort Maros lalu kemudian di antarkan ke RS Bhayangkara Makassar dan tiba pada pukul 16.00 WITAPada kasus ini, terdapat SPV berarti syarat pembuatan VER terpenuhi dimana dokter wajib membantu kepada pihak penyidik sesuai pasal 179 KUHAP dan Dasar hukum pengadaannya sesuai pasal 133 KUHAP. Kewajiban Dokter Membantu PeradilanPasal 133 KUHAP1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seseorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakmian atau dokter dan atau ahli lainnya2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan kepada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayatDasar hukum pengadaannya sesuai pasal 133 KUHAP. 1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketetuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.Dari hasil pemeriksaan luar yang telah dilakukan didapatkan Tidak ada yang patognomonis untuk drowning. Hanya beberapa penemuan memperkuat diagnosis drowning, antara lain : kulit basah, dingin dan pucat. Lebam mayat biasanya sianosis, kecuali bila air sangat dingin maka lebam mayat akan berwarna merah muda. Buih putih halus pada telinga dan mulut, sifatnya lekat (cairan kental dan berbuih) Bila berada cukup lama dalam air, kulit telapak tangan dan kaki mengeriput (washer womens hands) dan pucat (bleached). Adanya tanda-tanda pembusukan Kedua bola mata menonjol, keluar cairan berwarna merah Tampak cairan berwarna merah keluar dari lubang hidung Bibir atas dan bawah ada robekan dan keluar cairan berwarna merah, lidah terjulur keluar, bibir terbuka satu koma tujuh sentimeter Akumulasi livor mortis pada wajah, tangan dan punggung. Kulit yang mengelupas pada dada, perut dan punggung. Scrotum dan perut tampak membesar. Bila jenazah sudah beberapa hari berada dalam air maka terjadi bleaching dan terjadi pembusukan dimana kulit ari banyak yang terkelupas. Pembusukan terjadi dalam 2 hari setelah tenggelam dalam iklim yang panas. Pada iklim yang dingin dapat tahan sampai 1 minggu. Pembusukan dimulai pada bagian kepala dan atas tubuh, karena dalam air kepala mempunyai kecenderungan lebih rendah letaknya oleh karena lebih berat.5 Pada kasus ini, korban ditemukan terapung di sungai karena telah terjadi pembusukan yang merata di seluruh tubuh akibat timbunan gas (disebut sebagai Floater) terutama gas yang berkumpul dalam rongga perut dan dada, hal ini sesuai dengan yang ditemukan pada korban yakni telah terjadi bleaching dan pembusukan. Keadaan tersebut terjadi karena enzim proteolitik dan mikroorganisme dan umumnya proses pembusukan dimulai 18 sampai 24 jam setelah seseorang meninggal. Pembusukan tubuh pada lingkungan yang berair terjadi kira-kira setengah kecepatan pembusukan di udara karena temperatur air yang dingin menghambat aktivitas bakteri dan serangga. Ketika tubuh mulai diangkat dari permukaan air maka terjadi percepatan proses pembusukan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pembusukan diantaranya, temperatur dari air, kadar garam dalam air, jumlah bakteri yang tersedia didalam air,dan juga luka antemortem dan post mortem yang dapat menjadi jalan masuk bakteri.8 Mata menonjol juga dapat disebabkan karena adanya gas pembusukan Mata merah karena perdarahan subconjuctiva.. Pada jenazah juga ditemukan adanya busa halus berwarna putih yang keluar dari kedua lubang hidung dan mulut. Busa dihasilkan dari campuran udara, mukus dan cairan aspirasi yang terkocok-kocok saat adanya upaya pernapasan yang hebat. Hal ini menjadi penanda bahwa korban masih hidup waktu berada dalam air.9,10Pada pemeriksaan luar tanda-tanda asfiksia ditemukan selaput lendir bibir dan jaringan di bawah kuku jari-jari tangan dan kaki tampak kebiruan menunjukkan terjadinya sianosis yang menandakan adanya hipoksia pada jaringan.Bila korban lama di dalam air bisa didapati telapak tangan dan kaki putih mengkerut seperti tukang cuci (washer womans hand). Adanya luka-luka post mortem yang ada di bibir dapat disebabkan karena terseret arus di sungai (akibat gesekan benda-benda dalam air) gigitan ikan dan binatang lainnya Temuan-temuan pada pemeriksaan luar korban sesuai dengan teori di atas. Pada pemeriksaan luar korban didapatkan hampir seluruh bagian tubuh (dari wajah hingga ekstrimitas bawah) mengalami pembengkakan, kulit pada telapak tangan dan kaki mengeriput (washer womens hands), pucat (bleaching) dan dua buah luka pada kepala serta adanya lebam mayat.

Lebam mayat lebih banyak di bagian kepala, muka dan leher anggota gerak atas (tangan) dan tubuh bagian belakang/punggung yang berwarna merah keunguan (karena posisi kepala di air lebih rendah). Lebam mayat (hipostasis postmortem) adalah perubahan warna merah keunguan pada daerah tubuh yang terjadi karena akumulasi darah dari pembuluh darah kecil yang dipengaruhi oleh gravitasi. Lebam mayat biasanya muncul antara 30 menit sampai 2 jam setelah kematian, biasanya mencapai perubahan warna yang maksimal dan menetap dalam 8-12 jam. Pada pemeriksaan dalam organ paru-paru ditemukan adanya bercak-bercak pendarahan permukaan depan lobus bawah, bercak-bercak kemerahan berbentuk bulat pada permukaan bawah paru kiru; serta ditemukan adanya bintik pendarahan pada sela antar lobus, bercak-bercak pendarahan pada permukaan depan lobus bawah, bercak-bercak kemerahan berbentuk bulat pada permukaan bawah baga bawah pada paru kiri. Bercak-bercak ini disebut sebagai bercak paltauf, bercak pendarahan yang terjadi akibat peningkatan tekanan yang menyebabkan pecahnya dinding alveolar, ditemukan paling sering di permukaan anterior dan batas dari paru tetapi dapat pula ditemukan di subpleura apabila telah terjadi perembesan atau ruptur yang lebih lanjut.7,8 Setelah dilakukan penimbangan, berat paru kanan 220 gram dan paru kiri sebesar 200 gram. Umumnya massa paru korban tenggelam antara 700-1000 gram akibat edema dan kongesti paru yang berat dimana berat paru normal sekitar 250-300 gramMasuknya cairan selama proses tenggelam meningkatkan tekanan dijalan nafas dan menyebabkan edema pulmonum. Gabungan antara air dengan cairan edema paru, sekresi dari bronkus dan surfaktan dari paru-paru menghasilkan buih yang dimana karena usaha bernafas saat tenggelam dapat mencapai saluran nafas bagian atas dan keluar melalui hidung dan mulut. Pleura dapat berwarna kemerahan dan terdapat bintik bintik perdarahan yang terjadi karena adanya kompresi terhadap septum interalveolar atau oleh terjadinya fase konvulsi akibat kekurangan oksigen. Paru-paru tampak membesar, memenuhi seluruh rongga paru-paru sehingga tampak impresi dari iga-iga pada paru-parunya Aspirasi cairan kedalam paru-paru memberikan efek dari gradien osmotik yang menyebabkan kerusakan integritas membran alveoli kapiler sehingga meningkatkan permeabilitas dan eksaserbasi cairan, plasma dan elektrolit, hal ini menyebabkan terjadinya edema pulmonum sehingga menurunkan pertukaran gas didalam paru-paru. Air tawar akan dengan cepat diserap dalam jumlah besar sehingga akan terjadi hemodilusi yang hebat sampai 72% yang berakibat terjadinya hemolisis. Hemodilusi menyebabkan cairan dalam pembuluh darah dan sirkulasi berlebihan, terjadi penurunan tekanan sistole dan dalam waktu beberapa saat terjadi fibrilasi ventrikel.

Selain pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan Pemeriksaan tambahan yang dapat digunakan untuk memperkuat diagnosis kematian akibat tenggelam yaitu pemeriksaan diatom dan pemeriksaan darah jantung, Percobaan getah paru (lonset proef), Pemeriksaan diatome (destruction test), Penentuan berat jenis (BD) plasma, Pemeriksaan kimia darah (gettler test).Mekanisme tenggelam ada 3 macam, sebagai berikut:51. Beberapa korban begitu berhubungan dengan air yang dingin terutama leher atau jatuh horizontal, ia mengalami vagal refleks.2. Korban saat menghirup air, air yang masuk kelaring, menyebabkan laringeal spasme. Sebab kematian karena asfiksia tetapi tanda-tanda drowning pada organ dalam tidak ada oleh karena air tidak masuk3. Korban pada saat masuk kedalam air, ia berusaha untuk mencapai permukaaan sehingga panik dan menghisap air, batuk dan berusaha untuk ekspirasi. Karena kebutuhan oksigen maka ia akan bernafas sehingga air lebih banyak yang terhisap. Lama-lama korban menjadi sianotik dan tidak sadar. Selama tidak sadar korban akan terus bernafas dan akhirnya paru-paru tidak akan berfungsi sehingga pernapasan akan berhenti. Proses ini berlangsung 3-5 menit kadang-kadang 10 menit.Mekanisme Tenggelam Pada Air Tawar51. Air tawar akan dengan cepat diserap dalam jumlah besar sehingga terjadi hemodilusi yang hebat sampai 72% yang berakibat terjadinya hemolisis.2. Oleh karena terjadi perubahan biokimia yang serius, dimana kalium dalam plasma meningkat dan natrium berkurang, juga terjadi anoksia pada miokardium.3. Hemodilusi menyebabkan cairan dalam pembuluh darah dan sirkulasi berlebihan berlebihan, terjadi penurunan tekanan sistol dan dalam waktu beberapa menit terjadi fibrilasi ventrikel.4. Jantung untuk beberapa saat masih berdenyut dengan lemah, terjadi anoksia serebri yang hebat, hal ini menereangkan mengapa kematian terjadi dengan cepat.Pada keadaan air tawar akan dengan cepat diserap dalam jumlah besar terjadi absorbsi cairan masif ke dalam membran alveolus, dimana dalam waktu 3 menit dapat mencapai 72 % dari vol darah sebenarnya. Karena konsentrasi elektrolit dalam air tawar lebih rendah daripada konsentrasi dalam darah, maka akan terjadi hemodilusi darah, air masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli dan mengakibatkan pecahnya sel darah merah (hemolisis). Akibat terjadi perubahan biokimiawi yang serius yaitu pengenceran darah yang terjadi. Tubuh berusaha mengkompensasinya dengan melepaskan ion Kalium dari serabut otot jantung sehingga kadar ion dalam plasma meningkat, akibatnya terjadi perubahan keseimbangan ion K dan Ca dalam serabut otot jantung sehingga terjadi anoksia yang hebat pada mioakardium dan mendorong terjadinya fibrilasi ventrikel dan penurunan tekanan darah, jantung untuk beberapa saat masih berdenyut dengan lemah yang kemudian menimbulkan kematian akibat anoksia otak hebat,ini yang menerangkan mengapa kematian dapat terjadi dalam waktu 4-5 menit.

PENUTUP

Dari pemeriksaan yang telah dilakukan pada seorang mayat laki-laki yang ditemukan dibawah jembatan Maros Kel.Pettuadae Kec. Turikale Kab.Maros berdasarkan hasil otopsi pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar yaitu tidak ditemukan tanda-tanda pembunuhan atau kekerasan. Penyebab kematian kemungkinan disebabkan karena tegenggelam.

DAFTAR PUSTAKA

1. David Szpilman, dkk. 2012. Drowning. The New England Journal of Medicine. Acesed from http://www.nejm.org/doi/pdf/. 2. Dimaio V, Dimaio D. Death by drowning in Forensic Pathology ; Second edition. CRC press LLC. 2001. Page 395-403.3. Singh R, Kumar M, ell. Drowning Associated Diatoms. Department of Forensic Science Punjabi University. [cited 2008 Mar 5] available from : http://www.icmft.org.4. Munim A. Tenggelam. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. Binarupa Aksara.Jakarta. 1997. Hal 178-189.5. 4. Shepherd, S. Drowning. 2010. Avaible at:6. http://emedicine.medscape.com/article/772753-overview. (diunduh 16 juli 2014).7. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munin A, Sidhi, dkk. Ilmu kedokteran forensik. Ed I. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.8. DiMaio DJ, DiMaio VJ. Forensic pathology. Ed II. New York: CRC Presss LLC; 2001. 9. Wulur RA, Mallo JF, Tomuka DC. Gambaran temuan autopsi kasus tenggelam di BLU RSU Prof DR R D Kandou Manado periode Januari 2007-Desember 2011. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Sam Ratulangi Manado; 2013 10. Phiank, Khusaini H. Spasme larynx pada kasus tenggelam; Juni 2012 [diakses Desember 2013]; Diunduh dari http://www.medicimestuffs.com/2012/06/spasme-larynx-pada-kasus-tenggelam/22